KONTEN DILINDUNGI HAK CIPTA. DILARANG KERAS MENJIPLAK, MENGEDIT DAN MEMPERBANYAK SEBAGIAN ATAU SELURUH HALAMAN SITUS INI TANPA IJIN.

Cari Artikel

RAHASIA SUKSES ORANG JEPANG (4)

Lebih baik ambil untung sedikit daripada kehilangan pelanggan selamanya. Agaknya pendapat itu benar-benar dipegang oleh orang-orang Jepang. Para pedagang di Jepang sangat terkenal karena keramahannya pada pembeli. Pedagang negeri sakura itu sangat menghormati konsumennya dan berusaha melayani sebaik-baiknya dengan kejujuran dan keramahan.

Omong kosong ? tidak juga. Seorang rekan saya yang hidup di Jepang karena harus kuliah disana pernah menceritakan pengalaman uniknya. Suatu ketika dia membeli buah dengan harga murah yang bisa ketahuan dari labelnya. Maklum, sudah bukan rahasia lagi kalau harga kebutuhan di Jepang memang kelewat mahal terutama untuk kantong mahasiswa pendatang. Sehingga hidup ekstra hemat harus menjadi prioritas.

Ketika si pedagang tahu teman saya akan membeli buah berharga murah itu dia dengan sigap menerangkan kondisi buah yang dibelinya itu. Dia mengingatkan teman saya itu dengan bahasa yang sangat sopan kalau buah yang dibelinya itu sudah cacat dan ada goresan dibeberapa permukaannya. Dan diapun kembali mengingatkan teman saya apakah tetap membeli buah itu. Dengan kagum bercampur heran teman saya tetap mengiyakan untuk membeli buah itu dan diberitahunya si pedagang kalau dirinya tidak keberatan.

Yang lebih mengejutkan ternyata sikap demikian dimiliki oleh seluruh pedagang di Jepang. Mereka menempatkan dirinya sebagai konsumen dan bukan sebagai pedagang. Kenyataan ini sangat berbeda dengan kebanyakan pedagang baik di Eropa dan (tentu saja) Indonesia yang menempatkan dirinya sebagai penjual. Kalau penjual sudah jelas mereka pasti akan cari untung. Dengan memposisikan sebagai konsumen dan bukan penjual mereka akan berusaha memahami apa yang sebenarnya diinginkan oleh konsumen. Kalau Anda seorang konsumen tentu ingin barang yang murah, kualitas yang bagus plus pelayanan yang menyenangkan dari si empunya toko khan ? nah seperti itulah kira-kira.

Anda pernah menerima kembalian berupa permen ? Jangan khawatir karena bukan Anda saja yang mengalaminya. Sering saya mengalami ketika harus membayar dan kurang sekian ratus perak si kasir akan menggantinya dengan permen. Sepertinya ini sudah jadi “tradisi” di tanah air. Mungkin bagi beberapa orang ini hanya masalah kecil, namun sebenarnya harus diakui ini bukanlah perilaku yang terpuji karena kurang jujur dan ujung-ujungnya ada rasa tidak ikhas dari pembeli (maaf ya para pedagang).

Di Jepang Anda tidak perlu khawatir akan menerima uang kembalian yang kurang. Disana ada mesin penjual otomatis (vending machine) yang sanggup menyediakan uang recehan untuk para pedagang. Masih belum cukup sampai disitu, sistem perbankan di negeri itu juga mendukung untuk masalah uang receh ini. Sehingga Anda tidak perlu khawatir akan kurang menerima uang kembalian meski hanya satu yen pun. Yang lebih menggembirakan Anda tidak perlu “dipaksa” menerima permen pengganti kembalian.


Sebuah sudut pasar tradisional Jepang di Omicho Prefektur Kanazawa. Pasar yang terdiri dari banyak stan dan toko ini sangat tua dan telah ada sejak masa Edo. Sangat layak dikunjungi.

Kalau suatu saat Anda pergi ke Jepang coba sempatkan mampir ke supermarketnya. Disana akan Anda temukan pelayanan yang luar biasa dari pelayan tokonya. Ketika masuk supermarket Anda akan disambut ucapan selamat datang ditambah dengan senyuman ramah. Mereka dengan sigap mengantarkan pada apa yang Anda cari. Tidak cukup sampai disitu, si pelayan toko akan terus mengikuti sampai Anda sudah menemukan apa yang sedang Anda cari. Pendeknya semua demi kepuasan konsumen.

Yang mengejutkan, ternyata si penjaga toko juga merangkap sebagai kasir sekaligus petugas yang membungkus barang yang akan dibeli. Sehingga penjaga toko disana dituntut mengetahui benar-benar barang dagangannya. Pemandangan penjaga toko yang menerangkan panjang lebar pada calon pembeli tentang produk yang dijualnya telah menjadi hal lumrah, bahkan sepertinya sudah menjadi standar pelayanan.

Kalau di Indonesia Anda tidak sengaja merusakkan barang di toko tentu Anda sudah wajib mengganti. Istilahnya memecahkan berarti membeli begitulah kira-kira. Namun jangan harap yang beginian akan terjadi di Jepang. Paling tidak rekan saya pernah mengalaminya. Suatu hari ketika sedang berbelanja rekan saya membawa serta anak-anaknya. Karena terlalu gembira, anak-anak mereka menyenggol beberapa barang di etalase. Akibatnya, beberapa kotak telurpun meluncur dan pecah dilantai. Saat berniat akan mengganti telur yang pecah itu sambil menjelaskan duduk permasalahannya, rekan saya ini begitu terkejut ketika penjaga toko menolaknya dan hanya berkata “daijobu yo” (tidak apa-apa).

Tidak perlu untung besar kalo toh harus kehilangan pelanggan selamanya. Keramahan dan kejujuran menjadi hal wajib jika ingin sukses berdagang. Prinsip mereka yang sangat mengesankan ini tampaknya perlu dicontoh oleh para pedagang di tanah air. Betul khan ? (Indoshotokan)