Custom Search

KONTEN DILINDUNGI HAK CIPTA. DILARANG KERAS MENJIPLAK, MENGEDIT DAN MEMPERBANYAK SEBAGIAN ATAU SELURUH HALAMAN SITUS INI TANPA IJIN.

REVIEW GAME DOUJIN #38: FAULT MILESTONE TWO SIDE: ABOVE

Ketika sedang meneruskan perjalanan untuk kembali ke Rughzenhaide, Selphine, Ritona dan Rune tiba-tiba dihadang oleh seorang Manakravte wanita bernama Melano. Walau sepintas tidak berbahaya, Melano adalah seorang Manakravte yang menakutkan karena bisa memusnahkan seisi benua dengan kekuatannya. Setelah sempat berkonfrontasi, Melano akhirnya melepaskan Selphine dan Ritona. Kelihatannya Melano ingin menunda pertarungan mereka demi sebuah maksud yang tersembunyi.

Perjalanan Selphine dan Ritona berlanjut ke sebuah benua baru bernama Second Pole. Disana mereka bertemu dengan seorang bocah laki-laki bernama Sol yang bersedia memandu perjalanan mereka. Selphine dan Rune tentu saja mau membawa Sol bersama mereka, walau Ritona ragu jika Sol adalah bocah yang waras. Di Second Pole jumlah energi mana berlimpah ruah, dan beberapa petunjuk juga terhubung ke Rughzenhaide. Ini berarti Selphine dan Ritona akan selangkah lebih dekat pada kampung halaman mereka.

Selphine dan Ritona berusaha mencari petunjuk dari orang yang bisa dipercaya. Ternyata di Second Pole saat itu tengah terjadi pemberontakan. Walaupun dari luarnya terlihat makmur, Second Pole menyimpan masalah yang kompleks; korupsi, kesenjangan penghasilan, diskriminasi dan lain-lain. Dalam sebuah insiden Selphine dan Rune terpisah dari Ritona. Akan tetapi ada beberapa teman baru yaitu Flora, Misha dan Riggs yang menambah kompleks alur cerita. Cerita dalam Fault Milestone Two kadang-kadang berpindah sudut pandang. Pada satu waktu mengikuti Selphine. Pada titik tertentu kembali lagi pada Ritona. Pada momen tertentu menceritakan teman-teman baru mereka. Tapi semua kisah ini akan kembali berujung pada upaya Selphine dan Ritona untuk bertahan hidup.


Fault Milestone Two Side: Above adalah chapter kedua dari petualangan putri kerajaan Rughzenhaide, Selphine dan pengawalnya, Ritona. Oleh developernya chapter kedua ini akan dibagi menjadi dua bagian dan sekuelnya adalah Fault Milestone Two Side: Below. Ending game pertamanya sengaja dibuat menggantung dan begitu pula yang kedua ini. Tapi disitulah menariknya. Proses translasi game ini terhitung cepat. Versi Jepangnya dirilis Agustus 2015 lalu dan hanya butuh waktu sebulan bagi Sekai Project untuk merilis versi Inggrisnya di Steam.

Di chapter kedua ini lebih banyak pertanyaan dan misteri ketimbang jawabannya. Ritona pada dasarnya kehabisan energi mana, tapi mengapa Melano membiarkan mereka pergi? Apa motif sebenarnya dari organisasi Zhevits dan Hyves? Lalu apa peran dari karakter sekunder seperti Rupika dan Sceatoir? Jika sobat merasa plot yang ada sangat banyak, maka ada ensiklopedi yang menjelaskan istilah yang dipakai.


Kualitas artwork tidak berbeda dengan game sebelumnya. Terlihat cantik, berwarna-warni dan yang paling menarik adalah desain kostumnya. Satu fitur baru adalah efek 3D pada sudut pandang kamera yang muncul di cutscene atau even tertentu. Fault Milestone memang hanya visual novel dengan grafis 2D ala anime, tapi efek kreatif itu memberi pengalaman bermain yang lebih baik. Belum banyak visual novel lain yang memakai efek seperti ini. Jika ingin tahu bagaimana bentuknya, maka cobalah mainkan game nya. Untuk musiknya juga lebih baik dari yang pertama. Memorable dan enak didengar. Semua musik akan terbuka pada menu extra setelah gamenya diselesaikan.

Developer ALICE IN DISSONANCE dan Sekai Project telah memberikan sebuah visual novel yang bagus. Fault Milestone One tidak mengecewakan dan game keduanya ini tampil lebih impresif. Fans dijamin akan menunggu-nunggu game ketiganya. Sobat mengunjungi situs resmi developernya disini. Atau langsung mengunduh gamenya; bagian pertama disini, bagian kedua disini, dan bagian ketiga disini. Selamat berpetualang. (Indoshotokan)

THE BULL FIGHTER: KISAH MASUTATSU OYAMA (3)

Bukan cuma belajar karate Shotokan dan mekanik pesawat terbang, Choi Young Eui juga mengambil nama Jepang untuk dirinya yaitu Masutatsu Oyama. Nama ini adalah alih bahasa Korea untuk “Baedal”, sebuah istana kuno di Korea. Nama Masutatsu Oyama sendiri berarti Gunung yang Besar. Tapi teman-temannya sering menyebutnya dengan Mas Oyama. Bukan tanpa alasan Choi Young Eui mengganti namanya. Bagi orang Jepang yang saat itu sedang ultra-nasionalis, mengetahui ada orang asing di wilayahnya adalah hal yang tidak nyaman.

Saat itu adalah sekitar tahun 1937 dan Jepang sedang berperang sengit melawan Tiongkok. Kebanyakan dojo karate milik Funakoshi tak ubahnya seperti kamp perang. Sebelumnya ada tiga dojo bela diri yang dilirik pemerintah; Goju-ryu, Shotokan dan Aikido. Pemerintah Jepang tertarik merekrut murid dari dojo milik Funakoshi karena dipandang lebih efektif di medan perang. Akibatnya latihan di dojo menjadi lebih keras dan melelahkan dari biasanya. Kumite dojo lebih condong ke bela diri yang kasar dan berdarah. Murid yang terpilih akan diberangkatkan sebagai prajurit. Oyama sebetulnya juga akan dikirim perang, tapi ternyata perang sudah lebih dulu berakhir tahun 1945.


MASA SULIT PASCA PERANG DUNIA II

Di masa-masa itulah Oyama bertemu dengan So Nei Chu, orang Korea lainnya yang juga tengah berada di Jepang. So Nei Chu adalah murid senior dari Chojun Miyagi, pendiri karate Goju-ryu. Lewat So Nei Chu, Oyama berkenalan dengan gaya Goju dan berlatih bersamanya beberapa tahun kemudian. Karena berasal dari propinsi yang sama, Oyama dan So Nei Chu berteman baik. Korea telah dikuasai oleh Jepang tahun 1910, dan pasca perang tahun 1945 kubu Korea Selatan dan Utara terlibat konflik ideologi. Oyama lalu bergabung dengan organisasi penyatuan Korea di Jepang. Tapi karena perbuatannya itu Oyama justru dihina dan menjadi target dari polisi Jepang karena dianggap mengikuti gerakan separatis.

Jepang yang kalah perang membuat wilayahnya dimasuki pasukan sekutu. Di Tokyo saat itu banyak polisi militer Amerika yang berseliweran disana-sini mencari wanita. Ada memang wanita yang sengaja menyerahkan dirinya pada pasukan penakluk itu. Tetapi sebagian besar sudah pasti menolak. Tidak jarang para pasukan sekutu itu menggoda dan mengganggu wanita. Jika Oyama kebetulan ada di tempat itu dia langsung menghajar mereka. Kemarahan Oyama juga dipicu kematian teman-temannya akibat perang. Bila dia sudah terjun dalam perkelahian, maka hanya polisi militer Jepang sajalah yang bisa melerainya.


Kadang-kadang pasukan sekutu yang lewat di sebuah kedai akan langsung mencomot makanan begitu saja tanpa membayar. Pemilik kedai terlalu takut untuk melawan. Di sebelah selatan Tokyo memang banyak kedai-kedai kecil dan Oyama sering terlihat disana di waktu malam. Walau pasukan sekutu itu membawa senjata api tapi tidak menggetarkan nyali Oyama. Manakala meletus kerusuhan, sudah pasti Oyama ada di tengah-tengahnya.

“Aku telah kehilangan begitu banyak teman selama perang. Di pagi hari saat mereka berangkat sebagai pilot Kamikaze (admin: bunuh diri), kami sarapan bersama dan di sore harinya bangku mereka telah kosong. Setelah perang berakhir, aku sangat marah. Karena itu aku berkelahi dengan pasukan Amerika sebanyak yang aku bisa, sampai fotoku ada di semua kantor polisi.”

Bagi sebagian orang, sosok Oyama adalah superman timur. Tapi bagi polisi dia tidak lebih dari sekedar pembuat onar. Beberapa teman Oyama yang masih hidup menasihatinya agar menyingkir saja dari kota itu jika masih ingin hidup lebih lama. Polisi yang sudah hafal dengannya selalu mempersulit urusannya. Belum lagi pasukan sekutu yang selalu mengincar dan ingin membunuhnya. Tubuh Oyama sudah banyak luka bekas sayatan pisau dan pedang Jepang hadiah dari perkelahian. Sudah tentu Oyama tidak ingin menambahnya dengan lubang dari peluru. Di tengah kebimbangan itu Oyama kembali pada gurunya, So Nei Chu. Oyama lalu dinasihati agar menyingkir untuk sementara waktu ke Yamanashi sampai semuanya kembali tenang. (Bersambung – Indoshotokan)

REVIEW GAME DOUJIN #37: FAULT MILESTONE ONE

Di sebuah dunia antah berantah yang jauh, tersebutlah sebuah negeri makmur bernama Rughzenhaide. Selama beberapa dekade, Rughzenhaide terkenal sebagai negeri yang damai dan jauh dari yang namanya kekerasan apalagi peperangan. Penduduknya hidup sejahtera berkat kemampuan mereka menggunakan energi sihir bernama Mana. Berbeda dengan negeri lainnya, aliran Mana di Rughzenhaide sangat kuat. Mereka yang belajar untuk memanfaatkan energi Mana disebut dengan Manakravters. Kelebihan lain seorang Manakravters adalah mereka bisa mewariskan kemampuan dan teknik mereka kepada keturunannya.

Di dunia fantasi ini Mana berperan penting, tapi siapa yang pertama kali menemukan cara untuk memanipulasinya tidak pernah diketahui. Sayangnya, tidak semua orang bisa menggunakan energi Mana. Beberapa negeri di luar Rughzenhaide tidak begitu beruntung karena aliran energi Mana-nya lebih sedikit. Mereka menjadi terisolasi dari kaum yang kaya. Untuk bertahan hidup mereka bekerja lebih keras dalam kesulitan dan kesedihan. Negeri yang miskin tadi mengumpulkan energi Mana seadanya dan mengandalkan pada ilmu pengetahuan dan obat-obatan.

Suatu malam istana Rughzenhaide tiba-tiba diserang sekelompok orang yang tidak diketahui. Mereka membakar seisi istana demi membunuh Putri Selphine, calon pewaris tahta yang berikutnya. Apa tujuan orang-orang jahat itu tidak diketahui. Diambang kekalahan, Ritona, sang pengawal Putri Selphine mengeluarkan mantra teleportasi yang menyelamatkan mereka berdua dari tempat itu. Tapi masalah belum selesai. Selphine dan Ritona kini berada di sebuah hutan belantara yang gelap. Tumbuhan disana benar-benar asing dan tidak ada energi Mana. Mereka berdua mulai berjalan demi mencari tanda-tanda kehidupan. Satu pertanyaan besar adalah mengapa Selphine akan dibunuh. Kisah pada episode pertama Fault Milestone-pun dimulai......


Fault Milestone One mulanya adalah sebuah game doujin yang dirilis oleh developer Jepang ALICE IN DISSONANCE di Comiket 86, Agustus 2014 lalu. Fault Milestone One berhasil mengumpulkan dana di Kickstarter sehingga bisa dirilis di luar Jepang oleh Sekai Project. Game ini adalah kinetic visual novel, sehingga petualangan pemain berupa membaca teks di layar. Bedanya, pemain tidak diberikan pilihan alternatif ending seperti visual novel pada umumnya. Petualangan pemain akan berakhir pada satu ending saja. Dan seperti yang terlihat pada judulnya, seri Fault Milestone akan dirilis dalam bentuk episode.

Apa yang menarik dari Fault Milestone One? Yang pertama adalah game ini mendukung dua bahasa: Inggris dan Jepang. Artwork dalam game bukan yang terbaik, tapi tetap tampil cantik. Tidak salah jika developernya merilis artbook special yang ditujukan untuk fans penyumbang dana di Kickstarter. Tidak ada voice akting dalam gamenya, tapi toh itu bukan masalah. Yang paling menonjol adalah game ini menggunakan gaya visual novel yang sinematik. Artinya, pemain tidak hanya melulu membaca teks, melihat CG dan mendengarkan musiknya saja. Pada even tertentu ada efek yang membuat grafis lebih dinamis layaknya film anime. Ini jelas sebuah terobosan dalam game visual novel indie.


Seperti biasa, jika pemain menyelesaikan seluruh permainan maka akan membuka CG, musik, video, prolog dan sebuah ensiklopedia yang menjelaskan istilah yang dipakai dalam gamenya. Episode pertama game ini bisa rampung sekitar 5 sampai 6 jam jika pemain membaca semua teksnya. Ending dalam permainan terkesan menggantung, tapi memang itulah tujuan developernya. Sobat bisa mengunjungi situs resmi ALICE IN DISSONANCE disini untuk melihat update seputar gamenya. Tidak sabar segera mengikuti petualangan Selphine dan Ritona? Silahkan mengunduh bagian pertamanya disini dan bagian keduanya disini. Selamat berpetualang. (Indoshotokan)

REVIEW J-GAMES: ESCHATOS

Selama bertahun-tahun genre shooter selalu mempunyai pola yang sama. Bahkan di jaman dengan teknologi grafis kian canggih seperti sekarang, genre shooter masih bertahan. Para developer game seakan tidak kurang akal menggabungkan genre shooter dengan genre lain. Salah satu yang sukses adalah developer Jepang Qute yang membuat sebuah game shooter berjudul ESCHATOS untuk Xbox 360. Sebagai sekuel dari Judgement Silversword, ESCHATOS mempertahankan gameplay klasik dengan tambahan fitur-fitur baru. Kabar baiknya, Degica mau merilis versi PC-nya. Ini sebuah langkah tepat apalagi setelah mereka berhasil memboyong Mushihimesama ke PC.

Cerita dalam ESCHATOS sederhana saja; makhluk asing dari planet lain berupaya menginvasi bumi, dan tugas pemain adalah mempertahankan planet tercinta ini hanya dengan sebuah pesawat. Tujuan permainan adalah berusaha bertahan hidup dari terjangan peluru, misil dan laser musuh sampai ke area terakhir. Sepintas, jalan cerita dan gameplay ESCHATOS mirip dengan shooter lawas Raiden. Apalagi melihat model dan warna pesawatnya. Tapi game yang satu ini menawarkan satu kelebihan, yaitu cinematic camera angle. Pada even tertentu kamera akan bergerak dinamis. Kadang menjauh, tiba-tiba mendekati pesawat pemain atau berpindah pada musuh. Efek yang keren ini juga berpengaruh pada gameplay-nya.

Pesawat pemain dibekali dua jenis tembakan; lurus dan menyebar. Tembakan lurus bisa menjangkau sampai ujung layar, cukup kuat, tapi tidak bisa mengatasi musuh dari kedua sisi. Sebaliknya, tembakan menyebar bisa menjangkau kedua sisi, tapi tidak sampai ujung layar. Kekuatannya juga separuh dari tembakan lurus. Pesawat pemain juga dilengkapi perisai yang bisa menangkis peluru atau laser. Tiap kali digunakan perisai ini akan menurun persentasenya, tapi perlahan-lahan akan pulih. Dalam ESCHATOS bom digantikan oleh Flash item yang begitu diambil akan langsung aktif mencederai musuh di layar. Flash item ini tidak bisa dikumpulkan untuk dipakai di lain kesempatan oleh pemain.


Ada tiga mode permainan dan semuanya lewat rute yang sama. Bedanya hanya pada peraturannya. Original, sesuai namanya adalah mode standard game ini. Disini sejak dari area pertama senjata pemain sudah maksimal. Tidak ada power-up untuk mengupgrade kekuatan senjata. Bonus yang ada hanya Flash item dan nyawa tambahan jika score sudah melewati batas tertentu. Mode standard cocok bagi mereka yang baru bermain ESCHATOS. Tugas pemain disini cukup menembak, menghindari musuh dan peluru, dan menggunakan perisai.

Ingin tantangan lebih? Silahkan coba mode Advance. Disini pemain mulai dengan senjata yang lemah, tapi power-up untuk memperkuat senjata kadang-kadang muncul. Untuk mencapai senjata maksimal pemain setidaknya harus memungut power-up tujuh kali. Perisai juga lebih terbatas. Setiap kali pemain memungut power-up, maka meter untuk shield juga sedikit menurun. Ini membuat permainan lebih strategis karena pemain harus memilih; senjata maksimal tapi perisai lemah, atau senjata lemah tapi perisai lebih kuat. Masih ada lagi, di mode ini tiap kali pemain memantulkan peluru musuh dengan perisai, maka akan mendapat score tambahan.

Yang terakhir adalah Time Attack. Mode ini menghapus nyawa dan diganti dengan waktu sebagai patokannya. Tugas pemain adalah melaju sejauh mungkin ke area permainan sampai timer menyentuh nol. Jumlah pesawat pemain tidak terbatas, sehingga mati berapa kalipun tidak masalah. Ooops tunggu dulu. Jika pemain mati maka diberi penalti berupa pengurangan waktu lima detik. Jika tingkat kesulitan default di Original dan Advance dimulai dari easy (mudah), maka di Time Attack ini pemain bisa mengaturnya sesuka hati.  Di ESCHATOS ada 26 area yang siap menantang pemain.


ESCHATOS adalah sebuah game shooter Jepang yang sangat menyenangkan. Grafis yang jauh lebih baik dengan kualitas HD dan warnanya yang cerah, jauh meninggalkan versi WonderSwan. Musik mungkin tidak terlalu memorable, tapi alunan gitar yang diaransemen bergaya techno cukup memanjakan telinga. Masih ada lagi, ESCHATOS menerapkan sistem ala RPG. Setiap kali bermain score pemain akan dijumlahkan, dan jika mencapai batas tertentu akan membuka fitur tambahan seperti wallpaper, tambahan credits, dsb. Dengan ini pemain akan mengulang permainan berkali-kali untuk membuka seluruh menu yang ada. Sobat bisa mengunjungi situs resmi developernya disini. Tidak sabar ingin segera beraksi? Silahkan mengunduh gamenya disini. (Indoshotokan)

REVIEW J-MOVIE: BAKUMAN

Remaja SMU biasanya punya impian yang besar, dan di Jepang salah satu impian yang banyak digandrungi remajanya adalah menjadi (mangaka) seniman manga yang sukses. Imbalan untuk sebuah judul manga yang terbit di majalah nasional atau dijual dalam bentuk buku sangat menggiurkan. Belum lagi fans berat yang rela antri demi berfoto atau mendapat tanda tangan dari sang mangaka adalah kepuasan yang tak ternilai. Sementara itu ada editor penerbit yang rela memohon pada si mangaka agar mau membuat karya berikutnya. Pendeknya, menjadi seorang mangaka sungguh pekerjaan yang menyenangkan.

Tapi itu tidak berlaku untuk Mashiro Moritaka (diperankan Takeru Satoh). Paman Mashiro adalah seorang mangaka yang sedang berjuang untuk sukses. Ketika karyanya akhirnya diterbitkan dalam Weekly Shonen Jump (majalah manga terbesar di Jepang), paman Mashiro meninggal dunia tidak lama kemudian karena bekerja ekstra keras. Hal inilah yang membuat Mashiro terpukul dan enggan mengikuti jejaknya menjadi mangaka. Dia lebih memilih bekerja kantoran di perusahaan besar selepas SMU dan lulus dari universitas. Padahal sebenarnya Mashiro mempunyai bakat untuk mengikuti jejak pamannya.


Bakat Mashiro itu diketahui oleh teman sekelasnya, Akito Takagi (diperankan Ryunosuke Kamiki), yang secara tidak sengaja melihat hasil corat-coret Mashiro di bukunya. Akito adalah orang yang pandai bercerita. Dia lalu mengajak Mashiro bekerja sama demi satu tujuan; menggoncang dunia mangaka profesional Jepang dengan terjun didalamnya. Caranya? Mashiro menjadi ilustrator, sedangkan Akito menjadi penulis naskah. Mendengar hal itu jelas saja Mashiro menolak dan kemudian menghindar. Tapi Akito tidak putus asa, dan mengejar Mashiro sampai mereka berdua bertemu dengan Miho Azuki.

Miho adalah gadis yang disukai oleh Mashiro. Mimpinya adalah menjadi seorang seiyuu (pengisi suara) profesional. Akito bercerita pada Miho bahwa dia dan Mashiro bercita-cita manjadi seniman manga. Akito juga bercerita jika karya mereka diadaptasi menjadi sebuah manga, akan lebih sempurna jika Miho menjadi tokoh utamanya. Mashiro yang mendadak bersemangat berkata pada Miho bahwa mereka akan menjadi mangaka sukses jika Miho mau menikah dengannya. Miho yang malu dan sedikit bingung, mengaku jika diapun menyukai Mashiro. Miho bersedia menunggu Mashiro yang bekerja keras untuk mewujudkan mimpinya itu. Seakan mendapatkan energi luar biasa, sejak hari itu Mashiro dan Akito berjuang keras membuat manga demi mencapai satu tujuan: Weekly Shonen Jump. Berhasilkah usahanya?


Bakuman adalah sebuah live action adaptasi dari serial manga populer berjudul sama karya Takeshi Obata dan Tsugumi Ohba. Bagi sobat pecinta manga pastinya sudah tidak asing lagi dengan keduanya. Benar, mereka adalah tim kreatif dibalik manga Death Note. Di versi manganya Bakuman terdiri dari 176 chapter dan terbit di Weekly Shonen Jump sejak 2008 sampai 2012. Tiga season animenya juga sempat dibuat dan baru berakhir 2013 lalu. Sedangkan untuk versi live actionnya tayang di bioskop Jepang 3 Oktober 2015. Takeru Satoh dan Ryunosuke Kamiki yang sebelumnya menjadi musuh bebuyutan dalam live action Rurouni Kenshin kembali dipertemukan sebagai partner. Di Festival Film Jepang 2015 Bakuman menjadi salah satu film terpopuler.

Bakuman ditujukan bagi para pecinta manga yang juga mengapresiasi proses pembuatannya. Sekedar informasi, Bakuman juga terinsipirasi dari real life yang dijalani oleh sang mangaka. Membuat sebuah manga yang diminati agar dimuat di Weekly Shonen Jump bukan perkara gampang. Apalagi untuk mangaka pendatang baru seperti Mashiro. Walaupun manga buatan mereka bagus bukan berarti lantas terbit begitu saja. Jika manga itu tidak populer, maka sang mangaka harus memutar otak membuat judul baru. Tidak populer bukan berarti karya mereka jelek, namun berarti pasar sulit menerima atau judul itu tidak bisa dibuatkan animenya. Di film ini juga diceritakan persaingan antara Mashiro dengan mangaka pendatang baru Eiji Nizuma yang tak kalah serunya.


Untungnya, film tidak melulu berisi jatuh bangun kerja keras Mashiro saja. Film ini juga dibumbui adegan komedi yang fresh. Misalnya ketika Mashiro dan Akito bertengkar masalah ide, mereka dibawa masuk ke dunia komik dan bertarung antar frame dengan menggunakan pena ajaib. Lucu dan orisinil idenya. Bakugan menonjolkan cerita yang dikemas sederhana, menarik, tidak ada karakter super hero dan tidak ada adegan action yang membuat tipis kantong produser. Ini semua yang membuat film ini sukses. Takeru Satoh mengaku dia sangat senang bekerja untuk sebuah film yang luar biasa, terlepas dari jumlah penontonnya. Bakugan menjadi live action tersukses kedua yang pernah dibintanginya setelah trilogi Rurouni Kenshin.

Sukses memang butuh pengorbanan dan tidak semudah saat kita membolak-balik halaman komik. Apakah sobat pecinta sejati manga? Atau justru ingin menjadi mangaka profesional? Silahkan menonton Bakuman. (Indoshotokan)

REVIEW J-MOVIE: MISONO YUNIBASU

Rasa sakit menghantam manusia dengan berbagai cara. Kadang ada yang hanya mampir sebentar lalu pergi begitu saja. Kadang menyerang begitu kuatnya seperti pukulan yang menghujam ke tubuh. Sangat menyakitkan rasanya. Kadang tanpa disangka-sangka datang menghampiri saat kita tidak sadar. Ketika kita sedang berada di titik terbawah dalam kehidupan kita, rasa sakit akan menjadi teman akrab. Apa yang kita lakukan untuk menghadapi rasa sakit itu menunjukkan jati diri kita yang sebenarnya.

Shigeo Omori (diperankan Shubaru Shibutani) adalah mantan anggota gangster yang baru dibebaskan dari penjara setelah dihukum 18 bulan lamanya. Karena tidak punya tempat tujuan, yang ada di benaknya adalah kembali menemui teman-teman lamanya. Bukannya disambut baik, Shigeo malah dihajar telak sampai tidak sadarkan diri. Ketika siuman dia tidak ingat apa-apa. Ya, Shigeo yang malang menderita amnesia setelah menerima pukulan keras tongkat baseball di kepalanya. Beruntung dia masih selamat. Berjalan dalam kebingungan, langkah Shigeo membawanya ke tengah alun-alun di kota Osaka.

Kebetulan saat itu ada grup band amatir yang sedang manggung. Suara musik yang keras dari panggung pertunjukan menarik perhatian Shigeo. Walaupun amnesia, Shigeo masih ingat beberapa lagu kesukaannya. Entah apa yang terlintas di pikirannya, dengan spontan dia menyeruak kerumunan penonton, meraih mikrofon dan langsung menyanyi. Para penonton sejenak terpaku dan heran melihat aksinya, tapi itu tidak berlangsung lama. Tampaknya pria asing ini bisa menyanyi. Penontonpun bersorak sorai dengan aksi panggung dadakan Shigeo.


Sang manajer band, Kasumi Sato (diperankan Fumi Nikaido) tertarik dengan penampilan Shigeo. Bukan tanpa alasan Kasumi melakukannya, ini karena vokalis band itu sedang cedera karena kecelakaan. Karena tidak punya tempat tujuan, Kasumi bersedia menampung Shigeo di rumahnya. Di rumah itu Kasumi tinggal dengan kakeknya yang juga mempunyai studio rekaman kecil. Kasumi menyebut Shigeo dengan “Pochi” yang diambil dari nama anjing kesayangannya. Dan begitulah, Shigeo membantu Kasumi dan band-nya dengan menjadi vokalis. Tapi masalah timbul ketika ingatannya perlahan mulai pulih dan Kasumi yang diam-diam menyelidiki masa lalunya. Shigeo dihadapkan pada pilihan sulit; akankah dia kembali ke dunia lamanya, ataukah menjalani hidupnya yang baru dengan Kasumi?

Misono Yunibasu, dalam Bahasa Inggrisnya diterjemahkan La La La At Rock Bottom, adalah sebuah film drama apik garapan sutradara Nobuhiro Yamashita. Film yang mengambil tema dunia musik ini juga menampilkan grup band Akainu yang turut menyumbangkan aktingnya. Dalam Misono Yunibasu, dua tokoh utama yaitu Kasumi dan Shigeo bersama-sama menjalani hidup mereka yang pahit dengan menggunakan musik sebagai obatnya. Ingatan terbaik Shigeo adalah lagu berjudul “Old Diary.” Sementara di sisi lain, lagu itu mengingatkan Kasumi akan pengalaman hidupnya yang menyedihkan. Dua poin ini menjadikan hubungan antara Kasumi dan Shigeo unik, tapi ada ketulusan diantara mereka.


Menonton Misono Yunibasu mengingatkan kita film Jepang lain berjudul Linda Linda Linda (2005). Film yang juga digarap oleh Nobuhiro Yamashita itu ceritanya hampir sama. Bedanya di Misono Yunibasu ini sedikit lebih suram dan ditujukan untuk audiens dewasa. Melihat dari alurnya, bukan film yang ambisius memang, tapi tetap menyenangkan untuk ditonton. Jangan heran kalau melihat Shigeo bisa menyanyi, ini karena Shubaru Shibutani sang pemerannya adalah member dari boyband Kanjani Eight. Kakek Kasumi juga menyenangkan terutama ketika dia menganggap Shigeo adalah anaknya sendiri. Ada juga Noriko yang merupakan adik dari Shigeo yang dari dialah diketahui masa lalu Shigeo dan keluarganya yang pedih.

Overall, film ini cukup seimbang antara drama dan komedi. Tema amnesia dan bagaimana kita harus move-on memang bukan barang baru, tapi ketika dipadu dengan musik jelas membuatnya berbeda. Misono Yunibasu ini sudah tayang di bioskop Jepang Februari 2015 lalu dan bisa menjadi alternatif pilihan tontonan menarik. (Indoshotokan)

REVIEW J-MOVIE: HANA TO ARISU SATSUJIN JIKEN

Tetsuko Arisugawa (atau disingkat Alice) adalah gadis remaja 14 tahun yang pindah ke pedesaan mengikuti sang ibu yang baru bercerai dengan ayahnya. Tapi semua tidak berjalan mulus seperti yang dipikirkannya. Di sekolah dia dijauhi dan kadang disakiti oleh teman-temannya. Mengapa begitu? Ketika pertama masuk kelas, oleh gurunya Tetsuko diminta duduk di bangku bekas murid yang konon sekarang sudah mati. Dulunya bangku itu milik murid laki-laki bernama Yuda Kotaro (di film ini diplesetkan dengan Judas). Merasa penasaran, Tetsuko mencari tahu mengapa orang lain menjauhinya. Tetsuko menemukan bahwa Yuda dulunya menikah secara diam-diam dengan empat gadis di sekolah itu. Tapi setelah itu tiba-tiba Yuda menghilang begitu saja. Rumor yang beredar menyebut jika salah satu dari istri Yuda meracuninya sampai mati.

Orang-orang di desa itu masih percaya dengan takhayul. Mereka percaya jika arwah Yuda masih berkeliaran. Karena Tetsuko duduk di bangkunya, dia dianggap membawa sial. Tetsuko merasa ada yang janggal. Tapi murid lain sulit diminta keterangan karena mereka percaya ada roh jahat yang duduk di bangku itu. Tetsuko ingin mengakhiri kasus ini dan diapun melakukan penyelidikan. Setelah mencari tahu kesana kemari, penyelidikannya mengarah pada seorang teman sekolah bernama Hana Arai. Sama seperti anak lainnya, Hana juga percaya roh jahat. Dia begitu ketakutan dan sudah hampir setahun tidak masuk sekolah. Dulu di kelas Hana duduk persis di belakang Yuda, dan dia sebenarnya menyukainya. Butuh usaha yang tidak gampang untuk meyakinkan Hana. Akhirnya setelah mendengar cerita Tetsuko diapun setuju membantu penyelidikannya.


Merasa familiar dengan nama “Hana dan Alice?” Tebakan sobat bisa jadi benar. Film animasi ini masih disutradarai oleh Shunji Iwai dan menjadi prekuel dari live actionnya yang menjadi hit di tahun 2004 silam. Disini diceritakan bagaimana Tetsuko dan Hana, dua sahabat karib itu pertama kali bertemu. Anne Suzuki dan Yu Aoi yang dulu memerankan tokohnya di versi live action tetap dipertahankan. Hanya saja mereka kini menjadi seiyuu alias voice actor.

Drama remaja yang diangkat ke layar animasi di Jepang bukanlah hal baru. Tapi produser film Jepang selalu melakukannya dengan baik karena ada yang ditonjolkan (kualitas visual, plot, dsb). Menonton Hana to Arisu Satsujin Jiken ini mengingatkan pada film kartun Amerika keluaran Nickelodeon tahun 90-an. Karakter yang digambar bergaya realis dengan warna pastel bisa menipu penonton seolah ini adalah anime lawas. Untuk cerita, petualangan Tetsuko dan Hana ini sebenarnya biasa saja. Tapi justru hal yang biasa itulah yang membuatnya istimewa. Misalnya ketika Tetsuko menguntit seorang pria paruh baya yang dikiranya ayah Yuda. Ternyata setelah mengintai berjam-jam tidak menghasilkan apapun. Ada lagi saat mereka ketinggalan kereta terakhir hingga harus menginap di tempat parkir dibawah mesin truk yang hangat.


Produksi filmnya cukup bagus dan berbeda dari anime Jepang umumnya. Visualnya indah karena menggunakan warna-warna pastel dipadu teknologi 3D cel-shaded dengan metode rotoscoping. Bagi sobat yang masih asing, 3D cel-shaded umumnya digunakan untuk membuat gambar kartun dua dimensi menjadi lebih hidup. Selain film, yang banyak memakainya adalah developer game yang mengadaptasi dari anime. Sedangkan rotoscoping adalah cara untuk mentransfer gerakan aktor dalam sebuah adegan film kedalam film animasi atau serentetan adegan lain. Sebagai contoh, di film ini ada adegan tokoh yang menari balet. Nah, agar lebih hidup dibutuhkan aktor yang bisa memperagakan gerakan balet. Selanjutnya gerakan aktor tadi direkam dalam komputer dan diubah dalam versi animasi. Bagaimana hasilnya? Lihat saja sendiri di filmnya.

Sebuah anime yang bagus tidak harus menonjolkan action, bukan? Hana to Arisu Satsujin Jiken ini salah satu buktinya. Cerita yang ringan, menghibur, dengan kualitas animasi setara film produksi Disney adalah poin lebihnya. Film ini ditayangkan di bioskop Jepang tanggal 20 Februari 2015 lalu. Sebuah film yang sayang untuk dilewatkan. (Indoshotokan)