Custom Search

KONTEN DILINDUNGI HAK CIPTA. DILARANG KERAS MENJIPLAK, MENGEDIT DAN MEMPERBANYAK SEBAGIAN ATAU SELURUH HALAMAN SITUS INI TANPA IJIN.

TENANG DI LUAR, KUAT DI DALAM

“Dengarkan suara dari angin dan air” bermakna bahwa dari luar kau harus terlihat tenang, akan tetapi pikiranmu selalu waspada dan siap. Angin tidak bersuara, tapi akan menimbulkan bunyi ketika menghantam sesuatu. Saat angin berhembus kencang tetap saja terdengar tenang, tapi ketika angin itu turun dan menghantam pohon atau bambu, maka akan menimbulkan gerakan dan suara.

Sama halnya dengan air yang menetes tidak meninggalkan suara. Air hanya menimbulkan bunyi ketika menghantam suatu benda. “Dengarkan suara dari angin dan air” adalah sebuah ekspresi perumpaan bagi orang yang penampilannya dari luar selalu tenang, tapi pikirannya selalu aktif. Tubuh, lengan dan kakimu memang tidak seharusnya terlihat sibuk.

Sementara itu, kau harus berhati-hati menyeimbangkan hubungan antara menyerang dan bertahan, antara bagian dalam dan luar tubuh. Mempunyai pikiran yang tenang akan memudahkanmu beralih dari “yin” (negatif) ke “yang” (positif), dan begitu pula sebaliknya. Aksi adalah “yang” dan diam adalah “yin”.

Ketika dalam dirimu berubah menjadi “yang” atau aksi, maka jadikan bagian luar tubuhmu dalam keadaan “yin” atau tenang. Sebaliknya, ketika dalam dirimu berada dalam kondisi “yin”, maka jadikan bagian luar tubuhmu “yang”. Inilah yang disebut sebagai strategi. Hal ini berhubungan dengan sifat segala sesuatu. Saat tindakanmu cenderung ingin menyerang, kau harus menjaga pikiranmu tetap tenang dan tidak membiarkannya terbawa pada arus. Dengan menjaga pikiran tetap tenang, maka kau bisa mengendalikan tindakanmu dengan lebih baik.

Jika baik tubuh dan pikiranmu aktif, maka keduanya akan sulit dikendalikan. Mengacaukan menyerang dan bertahan, aksi dan ketenangan. Mirip dengan seekor bebek yang kelihatan tenang diatas air, tapi di dalam air kakinya yang berselaput sibuk berenang. Serupa dengan seorang ahli siasat perang yang dari luar terlihat tenang tapi pikirannya selalu tajam. Tujuan dari siasat adalah mencapai kondisi pikiran yang mampu menyeimbangkan menyerang dan bertahan; aksi dan ketenangan.

Berkaitan dengan ungkapan, “Dengarkan suara dari angin dan air” Yagyu Jubei Mitsuyoshi, anak tertua dari Yagyu Munemori (admin: samurai ternama yang mendirikan aliran Yagyu Shinkage-ryu yang populer di jaman Edo), mengajarkan bahkan pada saat pertarungan pikiranmu tidak boleh disibukkan dengan lawanmu yang membuatmu tidak bisa mendengar suara angin dan air. (Indoshotokan)

Artikel ini dikutip dan diterjemahkan dari buku “Secret Tactics” yang ditulis oleh Kazumi Tabata dengan judul aslinya “Be Calm Outside, Be Rigorous Inside”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

SANG GURU: KISAH ANKOH AZATO (3)

SANG POLITIKUS PEMBAWA PERUBAHAN

Sebagai salah satu ahli bela diri terbaik di Okinawa, Azato ternyata juga seorang politikus handal. Ilmu politik dipelajari Azato karena kedekatannya dengan politikus ternama yaitu Seiei Ishado. Perkenalan dengan Ishado juga membuka jalan Azato untuk lebih dekat dengan para pejabat pemerintahan. Karena dasarnya memang orang yang cerdas, Azato cepat belajar. Tidak butuh waktu lama baginya untuk menjadi politikus yang sejajar dengan Ishado. Ini adalah hal yang cukup langka karena saat itu sangat jarang seorang ahli bela diri yang masuk ke dunia politik.

Dalam karir politiknya Azato banyak memberi masukan pada pemerintah Okinawa. Saat Jepang berada dalam masa restorasi, Pemerintah Meiji banyak membangun jalan kereta api sebagai upaya modernisasi. Rel kereta api juga dipandang sebagai sebuah kebanggaan bagi pemerintahan saat itu karena mensejajarkan Jepang dengan negara barat. Funakoshi ingat Azato berkata padanya jika jalan lintas kereta api Siberia selesai dikerjakan, maka perang Rusia dan Jepang tidak bisa dihindari. Benar saja, tahun 1904 – 1905 perang besar antara dua negara itu terjadi dan dimenangkan oleh Jepang. Apa yang dikatakan Azato itu tidak berlebihan karena hanya berdasarkan ketajaman ilmu politiknya.

Restorasi Meiji yang disuarakan pemerintah Jepang di tahun 1868 membawa perubahan baru dalam masyarakat karena mengadopsi budaya barat. Sebagai langkah awal modernisasi budaya masa lalu yang dianggap kuno mulai dihapuskan. Akibatnya terjadilah kehebohan luar biasa baik di Jepang daratan maupun Okinawa. Salah satu kontroversi yang terkenal dalam sejarah adalah dihapuskannya “chonmage”. Model rambut ikat untuk laki-laki yang populer di jaman Edo itu menunjukkan kelas seseorang dan biasanya berhubungan dengan samurai.

Begitu dahsyatnya kontroversi dihapusnya chonmage hingga membuat masyarakat Okinawa terpecah menjadi dua golongan. Kelompok pertama yang mewakili para penentang mayoritas berasal dari golongan Shizoku yang sekelas bangsawan atau pejabat. Karena mereka mempunyai hak khusus yang menguntungkan, sudah jelas mereka menolak penghapusan. Jika aturan baru diberlakukan, mereka akan sama statusnya dengan rakyat biasa dan kehilangan hak khusus. Kelompok kedua adalah Kaika-to (berarti pencerahan) yang didukung golongan Heimin yang mayoritas berasal dari rakyat biasa. Kelompok ini mendukung aturan baru dan mendesak Menteri Pendidikan Jepang untuk menghapus chonmage selamanya.

Menteri Pendidikan berusaha menangani konflik itu namun tidak berhasil. Ternyata sangat sulit mengatasi masalah yang berhubungan dengan tradisi yang sudah berakar kuat. Dalam perkembangan selanjutnya konflik itu berimbas pada keadaan sosial masyarakat. Saat itu orang bisa ditolak bekerja di kantor pemerintah jika diketahui masih mempertahankan chonmage. Yang paling dirugikan adalah anak-anak Okinawa yang dilarang masuk ke sekolah dasar hanya karena chonmage.

Melihat situasi yang kian panas, Raja Okinawa meminta bantuan Azato dan Ishado. Mereka berperan sebagai penasihat politik raja yang membahas imbas dari kebijakan Restorasi Meiji. Azato ditunjuk sebagai penasihat karena peran pentingnya di Kodokai (sekarang menjadi lembaga parlemen). Salah satu keputusan Kodokai adalah mereka mendukung penghapusan chonmage. Tanpa peran Azato mustahil Kodokai mengeluarkan kebijakan yang seberani itu. Tidak hanya itu, jiwa pembaharu Azato diperlihatkan dengan keberaniannya memotong chonmage miliknya sendiri.

Tidak hanya masyarakat Okinawa, rekan politik Azato juga tak kalah kaget melihatnya. Seakan tidak mungkin melihat Azato sebagai golongan Shizoku berbuat senekad itu. Sebaliknya, meski sadar statusnya akan sama seperti orang biasa, Azato tampak tidak begitu mempersoalkannya. Bagi Azato perubahan pada kemajuan lebih penting ketimbang mempertahankan beberapa helai rambut. Lebih jauh Azato ingin menunjukkan bahwa sebuah negara rakyatnya tidak akan berubah manakala pemimpinnya tidak memberi contoh yang baik. Itulah sebabnya Azato memotong chonmage-nya berharap agar diikuti bangsawan Okinawa lainnya. Berkat aksinya yang pro rakyat itu membuat Azato dianggap sebagai figur pahlawan. (Bersambung – Indoshotokan)

REVIEW GAME DOUJIN #33: CRIMZON CLOVER: WORLD IGNITION

Game shooting dari Jepang terkenal berkat tingkat kesulitannya yang tinggi. Crimzon Clover, sebuah game shooting dari Yotsubane ini juga tidak terkecuali. Crimzon Clover meraih banyak pujian dan menjadi game paling ditunggu dalam even Comiket 2010. Setelah dirilis untuk Windows game ini sempat di-port ke arcade, tapi sayangnya hanya eksklusif di Jepang. Versi terbaru dari Crimzon Clover diberi label “World Ignition” yang hadir di Steam bulan Juni 2014 lalu, dan menjadi sebuah kabar baik karena bisa dinikmati gamer non Jepang. Nama Crimzon Clover diambil dari sejenis tanaman semanggi yang hanya tumbuh di Eropa. Tidak jelas mengapa game ini diberi nama demikian, apalagi sepanjang permainan tidak ada tanaman semanggi muncul di layar.

Ada beberapa perbedaan antara versi original dengan World Ignition. Permainan kini mendukung tujuh bahasa termasuk Inggris dan Jepang. Layar permainan juga lebih lega karena mendukung wide screen dengan beberapa pilihan resolusi. Tutorial juga diberikan tiap kali akan masuk permainan. Walaupun pemain sudah familiar dengan game shooting, melihat tutorial sangat dianjurkan karena game ini mempunyai mekanik yang berbeda. Yang lebih menarik adalah permainan mempunyai beberapa mode yang siap menantang para gamer shooting.   

Crimzon Clover tidak mempunyai jalan cerita yang spesifik, dan sebetulnya game-game seperti ini memang tidak memerlukannya. Pesawat pemain lepas landas dari sebuah dermaga dan disambut musuh-musuh yang menghujani peluru. Tugas pemain cukup simpel; hindari peluru musuh, hancurkan musuh sebanyak mungkin dan kalahkan boss di akhir level. Ada tiga jenis pilihan pesawat dan semuanya mempunyai kelebihan dan kekurangan. Dalam Crimzon Clover pemain diberikan tiga tombol serangan; rapid shot dengan peluru tidak terbatas, lock-on shot yang sanggup mengunci dan mengejar musuh, yang terakhir adalah bom yang bisa menyelamatkan jika pemain terdesak.


Tiap kali pemain menghancurkan musuh dan tidak memakai bom, maka otomatis akan mengisi “Break Gauge”, sebuah bar yang jika terisi penuh membuat pesawat pemain bisa melancarkan “Break Mode”. Saat mode ini diaktifkan pesawat pemain akan bergerak lebih lincah, membuat damage lebih besar pada musuh dan melipatgandakan skor. Yang lebih keren, saat Break Mode aktif layar permainan dipenuhi ledakan yang spektakuler dari musuh yang hancur dan bintang-bintang yang merupakan bonus skor. Tapi ini belum seberapa. Jika pemain tidak menggunakan Break Gauge yang sudah penuh dan terus menghancurkan musuh, maka “Double Break Mode” bisa diaktifkan. Pesawat pemain seolah berubah menjadi mesin penghancur yang gila-gilaan diikuti efek ledakan yang super spektakuler. Inilah yang menjadi daya tarik utama permainan.

Visual Crimzon Clover bisa dibilang perfect untuk sebuah game shooting. Animasi sprite 2D-nya yang keren, background yang atraktif dan musuh yang bervariasi menjadi selling point yang hanya bisa ditandingi game-game shooting buatan CAVE. Saat Break Mode diaktifkan dan musuh hancur berjumlah sangat banyak kadang bisa membuat pemain bingung apa yang sedang terjadi. Tapi peluru berwarna-warni yang berhamburan, efek kilauan dan ledakan yang luar biasa ramai membuat game ini selalu menarik untuk diulangi. Untuk kualitas soundtrack cukup standard tapi juga tidak jelek. Sulit percaya jika mengetahui game sebaik ini dibuat oleh satu orang remaja SMU.


Final words, Crimzon Clover adalah sebuah game yang adiktif. Tidak perlu menjadi seorang veteran game shooting untuk menikmatinya. Sekedar informasi, begitu banyaknya penggemar game ini hingga dibuatkan DLC-nya. Apa saja isinya? Soundtrack yang diaransemen ulang oleh Locomalito yang bisa didengar saat bermain gamenya atau diluar permainan. Kemudian sebuah poster resolusi tinggi yang bisa juga dicetak untuk kabinet arcade, jika gamer memilikinya. Yang terakhir adalah video dari pemain pro Jepang dengan strategi terbaiknya. Tidak ada update baru untuk gamenya dan DLC ini agaknya lebih cocok untuk hardcore player. Situs developernya berupa Bahasa Jepang tapi sobat bisa mengunduh gamenya disini. (Indoshotokan)

FOKUS

Secara singkat, “fokus” dalam karate mengacu pada memusatkan semua tenaga dalam tubuh dengan cepat pada sebuah sasaran tertentu. Fokus tidak hanya memusatkan kekuatan fisik saja, tapi juga kekuatan mental seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Fokus hanya bisa dilakukan dalam waktu yang cepat. Karena karate yang berhasil semua bergantung pada memusatkan kekuatan tubuh, fokus sangatlah penting, dan tanpa itu karate tidak lebih dari sebuah bentuk tarian. Prinsip ini akan sering muncul pada halaman-halaman berikutnya, karena itu diperlukan pemahaman yang jelas pada prinsip tersebut. Untuk menganalisa lebih jauh tentang konsep fokus, sebagai contoh kerjakanlah sebuah teknik pukulan.

Pada pukulan yang berlawanan dengan kuda-kuda (admin: gyaku tsuki), tinju mendorong keluar dari badan bersamaan dengan pinggul yang memutar ke arah pukulan, sehingga memindahkan kekuatan dari pinggul dan tubuh bagian atas ke permukaan tinju, menambah kecepatan dan kekuatannya. Tentu saja, kecepatan dan keseimbangan harus diseimbangkan dengan hati-hati. Dengan kata lain, mengorbankan kecepatan dengan mengerahkan tenaga terlalu banyak ke tubuh dan lengan mesti dihindari. Juga, prinsip mengontrol pernapasan seperti yang dijelaskan sebelumnya berperan penting dalam usaha untuk fokus. Karena itu napas harus benar-benar dihembuskan pada momen terjadinya kontak.

Dan tentu saja, harus dilengkapi dengan sikap mental yang menunjukkan konsentrasi kekuatan tubuh yang total. Bersamaan dengan tinju yang mendekati sasaran, kecepatannya akan ditingkatkan ke titik maksimal, dan saat terjadi kontak otot di seluruh tubuh akan menegang. Efek dari hal ini adalah kecepatan diubah menjadi kekuatan, dan tenaga seluruh tubuh dipusatkan dengan cepat pada pukulan. Hal inilah, yang menjadi inti dari “fokus” dalam karate.

Yang tidak boleh dilupakan adalah pengerahan tenaga yang maksimum berlangsung cepat. Dan gerakan cepat selanjutnya adalah menarik pukulan sebagai persiapan gerakan berikutnya. Oleh karenanya otot-otot rileks, menghirup napas dan posisi tubuh disesuaikan untuk teknik yang berikutnya. Sebuah teknik karate yang tidak disertai fokus adalah tidak efektif dan membuang usaha percuma. (Indoshotokan)

Artikel ini dikutip dan diterjemahkan dari buku “Karate – The Art of Empty Hand Fighting” yang ditulis oleh Hidetaka Nishiyama dari Bagian I dengan judul aslinya “Focus (Kime)”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

REVIEW J-DORAMA: KYOU WA KAISHA YASUMIMASU


Kisah cinta segitiga memang selalu menarik untuk diikuti. Walau sudah banyak film dan drama yang mengangkat tema ini sebagai cerita, tapi penonton sepertinya tidak pernah bosan. Tahun 2013 lalu penggemar j-dorama romantis dipuaskan dengan akting Miura Haruma dan Shinohara Ryoko dalam Last Cinderella. Nah, di bulan Oktober 2014 lalu sebuah dorama yang diangkat dari manga berjudul Kyou wa Kaisha Yasumimasu (artinya “Hari ini saya akan beristirahat dari perusahaan”) ditayangkan oleh NTV di Jepang. Dorama yang alur kisahnya mirip dengan Last Cinderella ini berjumlah 10 episode dan berakhir tayang Desember lalu.

Hanae Aoishi (diperankan Haruka Ayase) adalah seorang pegawai wanita sebuah perusahaan makanan yang cukup terkenal. Dia sangat rajin bekerja, selalu datang tepat waktu di kantor dan tidak pernah sekalipun mengambil cuti. Prestasi kerjanyapun sangat memuaskan hingga boss dan rekan sekantor menaruh kepercayaan padanya. Akan tetapi untuk urusan asmara Hanae tidak begitu berhasil. Di usianya yang sudah 29 tahun dia masih saja single. Jangankan berpikir menikah, Hanae sama sekali tidak tahu bagaimana caranya menjalin hubungan yang baik dengan seorang pria. Di luar kesibukannya di kantor Hanae hanya menghabiskan waktu bersama kedua orang tua dan anjing peliharaannya.


Suatu hari perusahaan tempatnya bekerja mengadakan sebuah acara makan malam. Kebetulan Hanae baru saja berulang tahun ke-30, dan seperti yang sudah diduga, tidak ada satupun dari teman sekantornya yang peduli. Ketika itu di kantornya ada Tanokura Yuto (diperankan Fukushi Sota), seorang mahasiswa tampan yang sedang magang paruh waktu. Yuto mendengar tentang ulang tahun Hanae dan merayakan untuknya meskipun sangat sederhana. Setelah acara makan malam itu Hanae mabuk dan pingsan. Ketika bangun Hanae mendapati dirinya berada di sebuah hotel bersama Yuto. Bingung dengan apa yang terjadi, Hanae meninggalkan hotel tanpa memberi tahu Yuto. Karena tidak tahu bagaimana menghadapi Yuto di kantor, untuk pertama kalinya Hanae berbohong dengan berpura-pura sakit.

Walau berpura-pura tidak terjadi apa-apa, ternyata semua tidak seperti yang diharapkan. Yuto meminta Hanae untuk menjadi pacarnya. Hanae terkejut dengan permintaan itu, tapi dia tidak memberikan jawaban yang pasti untuk Yuto. Di saat yang sama, Hanae bertemu dengan Asao Yu (diperankan Tamaki Hiroshi), seorang CEO perusahaan makanan Itali yang satu gedung dengan tempat Hanae bekerja. Yu menyukai Hanae dan diam-diam dia mengamati hubungan antara Hanae dan Yuto. Tampan, dewasa dan mapan menjadikan Yu sebagai tipikal pria ideal. Tapi yang lebih penting adalah dia bisa menerima Hanae apa adanya.


Yu menyarankan Hanae supaya melihat kenyataan dan tidak terlalu memperdulikan Yuto. Apalagi Yuto jauh lebih muda darinya dan bisa saja tidak serius. Walau meyakinkan Yu bahwa antara dia dan Yuto tidak ada yang istimewa, Hanae merasa dirinya makin tertarik pada Yuto. Semuanya makin rumit karena Hanae tidak percaya diri. Disamping itu perbedaan usia yang cukup jauh yaitu 9 tahun menimbulkan bermacam-macam masalah. Belum lagi Hanae harus menerima perhatian yang tidak diinginkan dari Yu yang terus meyakinkan jika dialah pasangan yang tepat bagi Hanae.

Dari sisi cerita sebenarnya dorama ini cukup menarik meskipun endingnya sudah bisa ditebak. Interaksi antar tokohnya juga patut dipuji, walau saya sendiri kurang mantap dengan akting Fukushi Sota. Dorama ini menunjukkan dua hal yang menarik; bagaimana Hanae menjalin hubungan dengan Yuto yang lebih muda dan Yu yang lebih tua. Dengan Yuto sikap Hanae seperti anak muda yang sedang jatuh cinta. Selalu jaga image, salah tingkah, jantung berdebar-debar dan ketika pacaran selalu fun. Sebaliknya, ketika dengan Yu yang lebih tua, Hanae sering adu argumen. Tapi melihat Hanae dan Yu sebenarnya lebih menarik. Dorama ini menggambarkan bahwa pasangan yang ideal belum tentu mereka yang selalu membuat kita nyaman.


Yang sedikit agak memaksa adalah mengapa Hanae harus memilih Yuto. Padahal ketika dengan Yuto, Hanae tidak menjadi dirinya sendiri. Sedangkan ketika dengan Yu, dia menunjukkan bagaimana sifat aslinya. Hanae bisa menjadi dirinya sendiri dan yang mengecewakan mengapa dia tidak memilih Yu. Yang kurang masuk akal lagi adalah ketika Yuto pergi ke Amerika untuk melanjutkan studinya. Hanae mengatakan jika dia akan setia menunggu kepulangan Yuto setahun kemudian. Mengapa Hanae begitu percaya pada Yuto? Mengapa Yuto tidak melakukan usaha tertentu, semacam pertunangan misalnya? Padahal di awal episode dia mengatakan serius dengan Hanae. Yah, apa boleh buat, mungkin mengikuti script sutradara. Singatnya, tetap menarik dan bisa ditonton. (Indoshotokan)

REVIEW J-GAMES: CASTLEVANIA: LORDS OF SHADOW

Gamer mana yang tidak pernah mendengar serial Castlevania? Game yang menjadi ikon untuk Konami itu sudah menjadi game legendaris sejak kemunculan pertamanya di tahun 1986. Ada banyak game Castlevania tapi hanya beredar di konsol. Satu-satunya judul Castlevania di komputer adalah game pertamanya untuk sistem operasi DOS. 

Tepat 27 tahun penantian para gamer PC akan game ini berakhir sudah. Tahun 2010 sebuah game berjudul Castlevania: Lords of Shadow siap mengobati kerinduan fans yang ingin kembali membasmi hantu dan makhluk jahat. Pemilik Playstation 3 dan Xbox 360 boleh bergembira karena game ini hadir lebih dulu di konsol. Versi PC-nya beredar 2013 dengan label “Ultimate Edition” yang menyertakan konten tambahan atau DLC dari konsolnya.

Dikembangkan oleh developer asal Spanyol MercurySteam dan Kojima Productions, game ini adalah versi reboot dari franchisenya. Artinya, alur cerita akan berbeda walaupun menggunakan karakter yang sama. Ini sengaja dilakukan untuk menjaga legenda cerita Castlevania dan agar game ini tidak berbenturan dengan game lain yaitu Castlevania Judgment. Lords of Shadow mengambil seting abad ke-11 di sebuah tempat di Eropa Selatan.


Gabriel Belmont adalah seorang satria dari Brotherhood of Light, sebuah ordo suci yang selama berabad-abad menjaga manusia dari kekuatan jahat dan supranatural. Tahun 1046 Gabriel dikirim oleh Brotherhood of Light untuk menangkap makhluk berbahaya yang dijuluki “Raja Iblis”. Gabriel berhasil dalam misinya dengan menyegel makhluk itu setelah menggunakan darah dari tubuhnya yang terluka. Saat Gabriel pergi menjalani misi, Marie, isterinya melahirkan anak mereka yaitu Trevor. Sayangnya tidak berapa lama kemudian Marie dibunuh secara sadis oleh makhluk yang berasal dari kekuatan jahat. Lebih buruk lagi, jiwanya terperangkap diantara dunia iblis dan manusia sehingga tidak bisa masuk ke akhirat.

Sementara itu kekuatan Lords of Shadow membuat dunia dipenuhi makhluk-makhluk kegelapan yang berkeliaran dan menebar teror pada manusia. Karena sekarang Marie tidak mati dan tidak juga hidup, satu-satunya yang bisa dilakukannya adalah membimbing Gabriel menyelidiki asal dari kekuatan gelap itu. Marie kemudian mengirim pesan pada Brotherhood of Light bahwa ada cara untuk menghancurkan kekuatan gelap. Ordo suci menunjuk Gabriel untuk pergi ke Lake of Oblivion, sebuah danau terlupakan yang membuat manusia bisa berkomunikasi dengan roh mereka yang telah mati. Gabriel menerima misi itu bukan demi mendapat kekuatan baru untuk menolong manusia semata. Dia juga ingin membebaskan jiwa istrinya yang terperangkap agar bisa hidup kembali.


Gameplay Lords of Shadow adalah hack ‘n slash ala God of War atau Ninja Gaiden. Gabriel menggunakan Combat Cross sebagai senjata utamanya, sebuah cambuk dari rantai yang fungsinya mirip Vampire Killer di game originalnya. Pada pokoknya ada dua tombol serangan; direct attack yang efektif untuk menyerang musuh berjumlah tunggal, dan area attack yang jangkauannya lebih luas dan efektif jika Gabriel dikepung banyak musuh. Combat Cross dapat diupgrade dan digabungkan dengan light magic (untuk bertahan) dan dark magic (untuk menyerang). Jika cambuknya diupgrade, Gabriel bisa melancarkan serangan baru yang untuk mengeluarkannya dengan mengkombinasikan tombol serang dan lompat. Selain itu ada senjata sekunder yang juga bisa diupgrade seperti pisau dan air suci.

Walaupun sebuah game reboot, MercurySteam masih mempertahankan musuh-musuh yang menjadi ciri serial ini seperti vampire dan werewolf. Tapi banyak juga musuh baru seperti laba-laba raksasa, troll dan goblin. Beberapa musuh bisa ditunggangi untuk digunakan menyeberang, memanjat atau mencapai platform tertentu. Yang paling menarik adalah para boss berukuran raksasa yang butuh trik tertentu untuk mengalahkannya. Gabriel harus memanjat tubuh raksasa itu untuk mencari sumber kehidupannya untuk selanjutnya dimusnahkan. Melihat bentuk boss musuh di game ini MercurySteam sepertinya penggemar game Shadow of the Colossus.


Sepanjang permainan ada puzzle tertentu yang mesti diselesaikan untuk membuka pintu, jalan dan mematikan jebakan. Bentuk puzzle bisa berupa mendorong obyek tertentu atau menekan tombol yang letaknya terpisah. Untuk menjangkau tempat yang sulit Gabriel bisa memakai Combat Crossnya untuk berayun, memanjat dan menuruni dinding. Dengan menjelajahi setiap sudut level pemain bisa menemukan item rahasia berupa “gems” yang bisa meningkatkan salah satu dari tiga hal; life bar, light magic dan dark magic.  

Sebagai sebuah game reboot, Lords of Shadow tidak begitu mengecewakan. Namun ada beberapa poin minus seperti sudut pandang kamera yang tidak bisa diatur sehingga pemain kadang tidak bisa melihat musuh. Kelemahan terbesar adalah pada musiknya. Castlevania terkenal dengan musiknya yang megah. Musik garapan Óscar Araujo di game ini sebetulnya tidak jelek, tapi dalam permainan nyaris tidak terdengar sehingga tidak bisa membangkitkan mood pemain. Tapi untungnya game ini tidak meminta kebutuhan PC yang tinggi. Sebuah video card dengan memory 512 MB yang mendukung DirectX 9.0c sudah bisa lancar memainkannya meski dengan setting minimal. (Indoshotokan)

HUBUNGAN SAI OKINAWA DENGAN KARATE

Sekitar 400 tahun yang lalu, Jepang dengan tegas menguasai Pulau Okinawa. Salah satu peraturannya adalah memaksa masyarakat Okinawa untuk menyerahkan senjata yang mereka miliki pada orang Jepang. Satu dari sekian banyak senjata tersebut adalah sai.

Sai adalah senjata dengan tiga ujung yang digunakan baik untuk menyerang maupun bertahan (mirip pedang) dan bisa juga dilemparkan (mirip tombak). Seorang yang ahli sai biasanya membawa tiga senjata ini. Dua dipegang di tangan, dimana batang senjata posisinya memanjang di lengan bawah dan inti senjata tersembunyi di tangan. Sai ketiga digantung di sabuk sebagai cadangan jika senjata yang lain hilang ketika sedang bertarung atau dilemparkan. Bahkan ada seorang master sai yang mampu menusuk kaki musuh di tanah dengan ujung lancipnya.

Sai sangat efektif melawan serangan tongkat pemukul atau pedang samurai. Batang dari senjata ini akan sanggup mengait pedang, dan dengan putaran kuat dari pergelangan tangan, seorang yang ahli bisa mematahkan pedang menjadi dua. Bagian tengah sai digunakan menusuk saat menyerang balik, atau menyerang ke sasaran bawah dengan batang senjata juga bisa dilakukan.

Bagian bawah dari lengan yang kuat, yang dibentuk lewat latihan, bahkan bisa menggantikan batang dari sai untuk membalikkan serangan dari sebuah tongkat. Tangkisan karate bisa menggantikan sisi yang tajam dari sai untuk mengunci atau menggagalkan serangan. Jari tangan yang diperkuat akan menggantikan ujung lancip dari sai, dan tinju tangan yang dikeraskan bisa menggantikan gagang sai.

Di masa ketika sai masih digunakan di Okinawa, seorang murid yang menyempurnakan teknik sai-nya adalah dengan berlatih kata seperti yang biasa dilakukan murid karate lainnya. Sekarang, karate sudah benar-benar meninggalkan sai, tapi perguruan Uechi-ryu masih menggunakan sai yang menyilang sebagai simbol yang menunjukkan sejarah karate mereka yang unik.

Artikel ini diterjemahkan dari buku “The Way of Karate” yang ditulis oleh George E. Mattson dengan judul aslinya”The Okinawan Sai and it’s Connection with Karate”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.