Custom Search

KONTEN DILINDUNGI HAK CIPTA. DILARANG KERAS MENJIPLAK, MENGEDIT DAN MEMPERBANYAK SEBAGIAN ATAU SELURUH HALAMAN SITUS INI TANPA IJIN.

KARATE SEBAGAI SEBUAH SENI BELA DIRI SPIRITUAL

Karate semakin berubah menjadi sebuah olah raga kompetisi. Ini satu alasan mengapa jumlah wanita yang berlatih karate terutama untuk membela diri kian berkurang. Namun disamping menjaga kesehatan, membela diri adalah tujuan yang sesungguhnya dan tetap menjadi sebuah hal terpenting dalam karate.

Ketika ayahku mengajar karate di Universitas Wanita Meijou, dia menemukan dua kata khusus bela diri untuk wanita. Kata yang pertama disebut Meijou yang merujuk pada nama sekolah itu yang berarti “Bintang yang Terang”. Kata yang lain disebut Aoyagi (berarti Pohon Willow Hijau) yang melambangkan keanggunan dan kelembutan. Kedua kata ini dibuat untuk pertarungan yang sesungguhnya. Keduanya mengandung teknik melawan serangan yang biasanya ditujukan pada wanita seperti merangkul dari depan atau belakang; dan pukulan yang menggunakan tenaga dari si penyerang. Tapi kedua kata ini sangat pendek dan tidak cocok untuk kompetisi, dan karena itulah sekarang tidak begitu populer.

Baru-baru ini aku membaca sebuah artikel di surat kabar Asahi Shimbun. Beritanya tentang seorang remaja SMU yang sedang berada di rumah ketika seorang pencuri masuk dan menyerangnya dengan sebilah pisau. Tapi anak itu cukup pintar dengan menghindari serangan dan berhasil kabur. Setelah itu dia berkata pada wartawan, “ Saat aku melihat pisaunya, tubuhku bereaksi spontan. Jika aku tidak berlatih karate aku akan dilumpuhkan oleh rasa takut.”

Untuk menggunakan karate sebagai bela diri, tidak cukup hanya belajar banyak teknik. Seseorang harus mengembangkan sebuah energi mental “ki” yang penting untuk menggerakkan kemampuan di saat yang dibutuhkan. Hal itu adalah ketika seseorang menghadapi bahaya yang tiba-tiba. Tidak peduli seberapa sering seseorang berlatih teknik, tanpa energi ini seseorang tidak akan bisa menggunakannya. Itulah sebabnya mengapa pendidikan mental begitu penting.

Mengembangkan “ki” begitu penting untuk semua seni bela diri, seperti pada judo, kendo dan iaido. Pendidikan mental diperlukan untuk menyingkirkan rasa gugup dan takut, sehingga bisa memfokuskan seluruh energi mental pada satu titik. Karena karate ditujukan pada kemampuan mempertahankan diri dengan tangan kosong, maka energi mental yang fleksibel sangatlah penting. Berdasarkan alasan tersebut seseorang dapat memilih karate sebagai seni bela diri untuk membentuk jiwa (ki no budo).

Tentu saja kondisi fisik juga mempengaruhi perkembangan seseorang secara umum. Dengan kata lain orang yang tidak punya kepercayaan diri atas fisiknya, juga lemah secara mental dan psikologis. Karena latihan karate mengembangkan seluruh tubuh – bahkan orang dengan kondisi lemahpun bisa mendapat fisik yang kuat setelah beberapa waktu – dan membangun dasar bagi kekuatan mental dan psikologis. (Indoshotokan)

Artikel ini diterjemahkan dari buku “Empty Hand – The Essence of Budo Karate” yang ditulis oleh Kenei Mabuni dengan judul aslinya”Karate as a Spiritual Martial Art”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

REVIEW GAME DOUJIN #34: ASTEBREED

Studio independen asal Jepang Edelweiss selalu merilis game-game berkualitas. Mereka telah sukses dengan Ether Vapor Remaster dan Fairy Bloom Freesia. December 2013 lalu Edelweiss meluncurkan titel terbaru mereka yaitu Astebreed. Sebuah game shooting dengan elemen action. Versi Inggrisnya muncul di bulan Mei 2014 lewat Playism. Ini termasuk cepat untuk sebuah game doujin yang biasanya butuh waktu minimal setahun untuk ditranslasikan. Di banyak media online Astebreed meraih nilai nyaris sempurna hingga developer membuatkan versi Playstation 4-nya. Astebreed menjadi game paling ditunggu berkat gameplay yang keren dan grafisnya yang memukau.

Filune, sebuah ras alien berbentuk mesin dari dunia lain menginvasi bumi dan berhasil menghancurkan banyak negara. Manusia yang nyaris punah terus berusaha melawan meskipun sia-sia. Ditengah ancaman kehancuran bumi manusia melakukan berbagai eksperimen demi membuat sebuah senjata yang kuat. Mereka akhirnya menemukan cara menghubungkan pikiran manusia dengan sistem persenjataan berbentuk mecha yang disebut Lucis System. Dua orang gadis remaja dengan kekuatan ajaib yaitu Fiona dan Esto terpilih menjadi subyek penelitian itu. Berkat Lucis System manusia kini mempunyai harapan baru yang bisa mengimbangi kekuatan musuh mereka.


Sayangnya, Lucis System belum sempat sempurna, ayah Fiona dan Esto yang juga pilot tempur kalah dalam perang saat melawan pasukan Filune. Lebih buruk lagi Esto juga menghilang entah kemana. Berhasil bertahan hidup, ayah Fiona menemukan sebuah robot tempur milik bangsa Filune. Walau terluka dia berhasil membawa robot itu ke markas, tapi tak lama kemudian dia tewas. Manusia kemudian memperbaiki robot itu dengan menggabungkan bersama Lucis System. Hasilnya adalah, Xbreed, sebuah robot tempur super. Pemain akan mengendalikan Roy Beckett, seorang pilot muda yang terpilih mengendarai Xbreed. Misinya adalah menghancurkan bangsa Filune dan menyatukan kembali Fiona dengan Esto.

Astebreed menggunakan genre “2.5D cinematic action shooting game”, dengan grafis yang sangat keren karena dibumbui efek-efek grafis yang flashy. Dan seperti Ether Vapor, kamera akan bergerak dinamis. Kadang horizontal, vertikal, di belakang punggung robot pemain, dan kadang zooming otomatis ketika ada even tertentu. Ini jelas memberikan pemain perasaan yang berbeda, karena permainan menjadi tidak membosankan. Agar lebih hidup, sepanjang permainan juga ada dialog antar karakter. Semuanya full voice, tapi dalam Bahasa Jepang tentu saja. 

Xbreed yang dikendarai pemain sepintas terlihat mirip Gundam. Sistem senjatanya mirip dengan Omega Force. Dalam Astebreed pemain mempunyai empat jenis senjata; Yang pertama adalah Lucis Shot, tembakan standar ala game shooter. Ada dua macam yaitu tipe menyebar dan lurus. Yang kedua ada Lucis Homing Attack, tembakan peluru yang sanggup mengunci dan mengejar target, baik missile maupun musuh. Tombol yang digunakan sama dengan Lucis Shot hanya saja pemain harus menahan beberapa saat. Ada dua pilihan; Lucis Homing Circle, peluru kejar berjarak pendek tapi mengunci target dalam radius 360 derajat. Lucis Homing Line, peluru kejar jarak jauh dan lebih cepat yang otomatis mengunci target terdekat.


Senjata ketiga adalah Blade atau pedang berdamage besar untuk duel jarak dekat. Blade juga bisa digunakan untuk bertahan karena memantulkan peluru, astroid dan proyektil berwarna ungu dan kuning. Ada dua tipe serangan; Blade Rapid, dengan menekan tombol berulang kali akan menghasilkan serangan combo jarak dekat 360 derajat yang bisa menghancurkan musuh dan proyektil. Yang kedua adalah Blade Attack Dash, sebuah serangan berdamage sangat besar jika pemain menahan tombol serangan dan arah. Saat mengeluarkan Blade Attack Dash, pemain akan menusuk sangat cepat ala Stinger milik Dante dalam Devil May Cry. Akan tetapi setelah gerakan ini selesai pemain akan terbuka untuk diserang beberapa saat kemudian. 

Serangan keempat adalah EX Attack. Semakin sering pemain menghancurkan musuh dan proyektil, maka akan mengisi EX Bar. Jika telah terisi penuh, maka bar ini akan menghilang dan robot pemain menyala berpendar keemasan, tanda EX Attack siap dikeluarkan. EX Attack adalah serangan terkuat yang bisa dilancarkan pada banyak musuh sekaligus, namun terbaik adalah saat melawan boss. Pemain bisa memilih target dengan lock-on atau membiarkan Xbreed menyerang otomatis musuh terdekat. Pada saat melakukan serangan ini robot pemain juga kebal pada serangan sekitar lima detik.


Astebreed tidak menggunakan sistem “nyawa” atau lives seperti game shooting umumnya. Xbreed tidak akan hancur jika terkena satu atau dua serangan karena mempunyai shield (perisai). Jika pemain menerima serangan, maka shield bar akan berkurang dan akan terisi sampai penuh perlahan-lahan, asalkan pemain tidak kena serangan lagi. Xbreed hancur jika seluruh shield bar telah habis dan pemain harus mengulang permainan kembali dari checkpoint terdekat.

Astebreed adalah game yang benar-benar wajib dimainkan. Sobat bisa mengunjungi situs resmi developernya disini atau langsung mengunduh gamenya disini. (Indoshotokan)

SANG PANGLIMA MELAWAN SEEKOR LEMBU JANTAN (2)

Berhenti sebentar untuk meluruskan seragamnya, Matsumura melangkah lewat pintu masuk kandang. Para pekerja sangat kaget melihat komandan para pengawal, Matsumura yang hebat tiba-tiba muncul di kandang.

“Aku penjaga kandang ini,” orang tua itu berkata.
“Apa yang bisa kubantu, tuan?”

“Antarkan aku ke lembu jantan itu,” Matsumura memerintahkan.
“Aku ingin melihat sendiri lawanku, belajar gaya bertarungnya sebelum aku menjadi lawannya.”

“Tentu saja, Tuan Matsumura,” Penjaga kandang itu menunjuk ke sebuah kurungan di kandang belakang.
“Silahkan, tuan.”

Matsumura berjalan ke kurungan, matanya tertuju pada lembu jantan itu. “Ikat dia,” Matsumura memberi perintah. “Ikat binatang itu supaya tidak bisa bergerak.”

“Baik, tuan.” Si penjaga membentangkan dua utas tali. Satu persatu dia lingkarkan di atas kepala binatang itu dan mengikatnya dengan kuat ke balok kayu di sisi kurungan.

“Sekarang pergilah,” Matsumura memerintahkan. “Kalian semua tinggalkan tempat ini.” Orang-orangpun bergegas keluar dari kandang.

Matsumura melompat masuk ke dalam kurungan. Lembu jantan itu terikat kuat dengan tali. “Tali itu sepertinya tidak terlalu kuat.” Matsumura bicara pada dirinya sendiri. “Jika binatang itu sampai lepas, dia akan menjebakku di dalam kurungan. Rasa takut muncul dalam dirinya, perutnya seolah diputar dan dicengkeram oleh tangan yang kuat. Matsumura mengambil napas dalam-dalam dan menghadapi lembu jantan itu, melawan rasa takutnya.

“Raja memintaku untuk mengalahkanmu. Tapi kau bukan musuhku.” Matsumura mengulurkan rambut ikatnya yang disisir rapi di atas kepalanya. Dia mencabut sebuah jepit rambut dan mencoba ujungnya di sebelah jarinya yang baru tertusuk duri. Sebuah titik berdarahpun muncul. Matsumura pernah mendengar para ahli bela diri yang bisa membunuh dengan sebuah jepit rambut. Tapi dia berharap bisa menyelamatkan satu nyawa dengan jepitnya.

Matsumura mengerjakan sebuah kuda-kuda siap bertarung di depan lembu jantan itu. Lembu itu melihatnya dengan penasaran. “Maafkan aku teman,” kata Matsumura. Kemudian dari dadanya, Matsumura mengeluarkan teriakan yang menakutkan, yang dikenal sebagai kiai, dan secepat kilat menusuk hidung lembu itu dengan jepit rambutnya.

Lembu itu berteriak, meronta dan menarik tali yang mengikatnya. Matanya liar. Kepala binatang itu memberontak berusaha menusuk Matsumura dengan tanduknya. Matsumura melihat tali yang mengikatnya. Masih kuat. Untung saja. Sebisa mungkin Matsumura menunggu dengan tenang. Akhirnya lembu itu tenang. Matsumura kembali melepaskan sebuah kiai yang kuat dan menusuk hidung lembu itu dengan jepitnya. Lembu itu kembali meronta dan mencoba untuk melawan. Matsumura menunggu binatang itu berhenti meronta. Lagi, dan lagi, dan lagi – kiai, tusuk, kiai, tusuk. Beberapa menit kemudian dia keluar dari kandang menghirup segarnya udara malam.

Hari berikutnya di festival, Matsumura sang kepala pengawal raja berjalan di sepanjang pinggir arena. Dia memeriksa penjagaan di pintu masuk dan menambah dua orang di belakang arena untuk mengawasi jika ada pengacau. Dengan matanya yang berpengalaman, dia mengawasi kerumunan penonton yang bisa saja menyakiti sang raja. Dia tidak melihat seorangpun. Orang-orang Okinawa sedang ingin berpesta. Bendera yang berwarna-warni menghiasi arena, dan bau sedap ikan panggang serta makanan lain memenuhi udara. Festival ini menjadi salah satu yang terbaik tahun ini. Orang-orang menyukai demonstrasi menunggang kuda, pertarungan dan kesempatan untuk makan dan bergembira. (Bersambung – Indoshotokan)

Artikel ini diterjemahkan dari buku “Legend of the Martial Arts Master” yang ditulis oleh Susan Lynn Peterson dengan judul aslinya”The General Fights a Bull”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

REVIEW J-GAMES: METAL GEAR SOLID V: GROUND ZEROES

Menyambut ulang tahun ke-25 dari franchise Metal Gear, di bulan Maret 2014 Kojima Productions meluncurkan Metal Gear Solid V: Ground Zeroes untuk konsol dan Windows. Ground Zeroes adalah sebuah prolog atau permulaan dari game berikutnya yaitu Metal Gear Solid V: The Phantom Pain. Mulanya Kojima berniat merilis dua game itu bersamaan, namun waktu pengerjaan yang sangat panjang membuatnya menunda proyek itu. Di game ini Big Boss akan bertindak sebagai protagonis, menggantikan Solid Snake. Dan bisa ditebak, Ground Zeroes adalah sebuah prekuel dari serialnya. Dikembangkan dengan Fox Engine, Ground Zeroes memberikan gameplay yang benar-benar baru dengan grafis yang menawan.

Tahun 1975, tiga bulan setelah even dalam Peace Walker, Paz Ortega Andrade menghilang dan dianggap sudah mati. Big Boss kini bekerja dengan Militaires Sans Frontières (MSF), sebuah kelompok tentara bayaran yang dikomandani oleh Kazuhira Miller. Persiapan MSF terganggu ketika PBB menaruh curiga pada mereka atas kepemilikan senjata nuklir. MSF yakin ada keterlibatan Cipher yang berusaha menyudutkan mereka seperti yang terjadi sebelumnya dalam Peace Walker. Cipher adalah rekan lama Big Boss, keduanya pernah bekerja sama ketika era perang dingin dan Operation Snake Eater tahun 1964. Cipher nama aslinya adalah David Oh, pernah menjadi komandan FOX, sebuah kelompok pasukan khusus CIA. Setelah mendirikan The Patriots bersama Big Boss, keduanya menjalani permusuhan yang pahit.


Di tengah persiapan MSF menghadapi investigasi PBB, salah satu agen MSF di Kuba melaporkan jika Paz ternyata masih hidup dan ditahan di Camp Omega. Situasi bertambah rumit ketika Chico, seorang prajurit anak-anak tertangkap saat berusaha menyelamatkan Paz. MSF yakin jika berhasil menyelamatkan Paz mereka bisa bernegosiasi ulang dengan Cipher. Paz sebelumnya adalah mata-mata suruhan Cipher yang menyusup ke markas MSF. Paz juga satu-satunya orang yang pernah bertemu dan menerima perintah langsung dari Cipher. Untuk mendapatkan semua informasi berharga dari Paz, Big Boss dengan menggunakan kode nama “Snake” menyusup ke penjara Kuba demi menyelamatkannya.

Ground Zeroes menantang pemain menjelajahi Camp Omega dalam dunia open world. Pemain diberikan tujuan dari misi dan kemana mereka harus pergi. Tapi bagaimana untuk sampai kesana, semuanya adalah kebebasan pemain. Pemain boleh menyerang musuh secara frontal dengan senjata, menghabisi penjaga dengan serangan tiba-tiba, atau menyusup diam-diam layaknya hantu. Big Boss dipandu oleh Huey dari radio, tapi dia juga bisa mengumpulkan petunjuk dari kaset tape milik Chico yang tersebar di area. Jika masih kesulitan, pemain juga bisa menyergap penjaga dan mengorek informasi dari mereka. Jika tidak ada informasi dari penjaga, pemain diberi tiga pilihan; membuat mereka pingsan, memaksanya memanggil penjaga lain, atau bahkan membunuhnya.


Dalam Ground Zeroes musuh dibuat jauh lebih pintar dan taktis. Jika ada penjaga hilang dari posnya, ada kamera pengintai rusak, atau terdengar letusan senjata, maka pusat kontrol musuh akan memerintahkan pencarian di lokasi kejadian. Jika pemain ketahuan dan melarikan diri, maka para penjaga akan mengejarnya. Pemain bisa memilih baku tembak, tapi bukan ide yang bagus. Musuh akan terus berdatangan meski pemain berhasil membunuh mereka semua. Jika penjaga tahu persembunyian pemain, dan ada kontak senjata, mereka tidak mau mendekat begitu senjata. Mereka akan memanggil penjaga lain dan bila perlu melempar granat ke persembunyian pemain. Buruknya lagi, lemparan granat penjaga biasanya selalu tepat dan bisa membunuh pemain seketika. 

Teknik menyelinap dan bersembunyi kini berubah total. Ground Zeroes benar-benar memaksimalkan efek cahaya, sehingga pemain punya beberapa cara untuk bersembunyi. Big Boss bisa bersembunyi di dalam semak-semak, di dalam kendaraan musuh atau di sebelah material yang tidak tersorot cahaya. Untuk memudahkan aksi, pemain juga bisa menembak lampu sorot sebelum masuk ke lokasi. Bagaimana jika ketahuan penjaga? Disinilah Reflex Mode akan berperan. Jika penjaga tiba-tiba melihat pemain, maka waktu akan melambat sekitar sepuluh detik. Di saat itulah pemain harus segera mengatasi penjaga tadi, karena jika tidak dia akan membunyikan alarm atau memanggil penjaga lain.


Sebagai sebuah prolog dari game selanjutnya, pemain bisa merampungkan Ground Zeroes dalam waktu dua jam saja. Ini bisa dilakukan jika pemain sudah berpengalaman dan pernah menyelesaikan gamenya. Untuk meredam kekecewaan fans karena game yang terlalu singkat, Hideo Kojima menambahkan empat side ops; misi tambahan yang seting waktunya beberapa minggu sebelum cerita utama gamenya. Seluruh misi dalam side ops juga bertempat di Camp Omega dan obyektifnya bisa berupa membunuh target, menyelamatkan rekan atau mendapat informasi. Jika pemain berhasil merampungkan side ops, maka dua tambahan extra missions akan diberikan. (Indoshotokan)

SANG GURU: KISAH ANKOH AZATO (4 - FINAL)

DUEL ANTAR AHLI PEDANG

Di masa itu masih ada ahli bela diri lain dengan kemampuan yang sepadan dengan Azato. Yoshin Kanna adalah laki-laki terpelajar tapi juga piawai ilmu bela diri. Bahkan Kanna juga menguasai ilmu pedang layaknya Azato. Semangat bertarung dan keberaniannya sudah tersohor dimana-mana. Karena banyak kemiripan, tidak heran jika banyak orang lantas membandingkan keduanya.

Dalam budaya lama Okinawa orang seperti Azato dan Kanna disebut dengan “bun bu ryo do.” Artinya agar pantas disebut sebagai ahli bela diri maka kekuatan harus didukung kecerdasan. Perbedaan Kanna dan Azato hanya pada ukuran tubuhnya. Kanna  lebih menonjol karena bahunya lebih besar dari orang Okinawa umumnya. Selain itu otot leher dan lengannya terlihat kekar sebagai bukti kesungguhannya dalam ilmu bela diri.

Kabar kehebatan ilmu pedang Azato akhirnya sampai juga ke telinga Kanna. Yakin dengan kemampuannya, Kanna menantang Azato dalam sebuah duel. Menurutnya dengan mengalahkan Azato maka reputasinya akan meningkat. Azato yang memang gemar ilmu pedang memenuhi tantangan itu. Tapi yang mengejutkan, walau musuhnya menantang dengan pedang, Azato memilih menghadapi dengan tangan kosong. Melihat Azato tidak mengeluarkan senjata tidak menyurutkan niat Kanna. Dia akan membuat Azato menyesal karena sudah meremehkannya.

Dengan sigap Kanna menyerang Azato dengan beberapa sabetan teknik pedangnya. Walau diserang berkali-kali Azato tetap tenang sambil menghindar dan membaca gerakan lawannya. Ketika sudah cukup bagi Azato melihat teknik musuh, tanpa basa-basi dia membanting Kanna dengan gerakan yang cepat. Ketika lawan telah roboh barulah Azato mencabut pedang miliknya dan membuat lawan tidak bergerak.

Kalah dari Azato agaknya tidak membuat Kanna merasa jera. Rasa penasaran membuatnya ingin kembali menantang Azato. Tapi sebanyak itu Kanna menantang Azato dan sebanyak itu pula dia selalu kalah. Azato tampaknya tidak begitu terkejut dengan keberhasilannya mengalahkan Kanna berkali-kali. Menurut Azato kekalahan itu karena musuhnya terlalu percaya diri. Merasa hebat, Kanna tidak mau mengambil pelajaran. Lebih jauh Azato menegaskan bahwa untuk menang, seorang petarung harus mengenali diri sendiri dan juga lawan.

Bagi Azato tujuan ilmu bela diri yang sebenarnya adalah membangun tubuh, jiwa, pikiran dan semangat yang sama baiknya. Walau kehebatannya sudah tidak diragukan lagi, Azato senantiasa mengingatkan Funakoshi agar tidak sembarangan mengeluarkan teknik kecuali memang terdesak. Azato mengingatkan lewat nasihatnya yang terkenal, “hito no te ashi wo ken to omoe” yang berarti, “pikirkan bahwa kedua tangan dan kakimu adalah pedang yang tajam.” Oleh Funakoshi nasihat itu diabadikan dalam salah satu Shoto Niju Kun.

Di usia tuanya Azato masih mempunyai sebuah keinginan. Dia ingin menulis sebuah buku tentang bela diri setelah pensiun sebagai pejabat pemerintah. Buku itu rencananya berisi petunjuk berlatih tode dari pengalamannya selama ini. Tidak banyak yang tahu jika Azato memang gemar menulis di masa mudanya. Di setiap akhir tulisannya Azato selalu membubuhkan tanda tangan “Rinkakusai”. Sebuah kebiasaan yang kemudian diikuti oleh Funakoshi yang selalu membubuhkan tanda tangan “Shoto” di akhir puisi karangannya.

Sayang sekali, niat Azato untuk menulis buku tidak sempat terlaksana karena tahun 1906 kematian telah menjemputnya. Walau Okinawa kehilangan salah satu legenda terbaiknya, namun cita-citanya masih hidup hingga kini. Adalah Gichin Funakoshi, sebagai murid satu-satunya yang mendirikan Shotokan yang dipengaruhi Shorei-ryu dan Shorin-ryu sebagai bukti teknik Azato ada di dalamnya. (Indoshotokan)

REVIEW J-GAMES: IKARUGA

Nama besar Treasure dalam game shooting arcade sudah tidak perlu diragukan lagi. Bagi pemilik konsol pastinya sudah tidak asing dengan judul-judul keren seperti Bangai-O, Radiant Silvergun dan Guardian Heroes. Sayangnya, developer asal Jepang itu sepertinya enggan merilis game selain untuk konsol.

Kabar gembira datang bulan Februari 2014 lalu karena Treasure akhirnya merilis salah satu game shooting terbaik mereka di PC yaitu Ikaruga. Game ini sebetulnya sudah sangat lama karena pertama muncul di Arcade dan Sega Dreamcast tahun 2001 silam. Setelah itu Ikaruga dirilis di konsol lain yaitu GameCube dan Xbox Live Arcade di tahun 2008. Ikaruga adalah penerus Radiant Silvergun dan merupakan salah satu game shooting legendaris berkat gameplaynya yang revolusioner.

Cerita dalam Ikaruga bermula setelah Tenro Horai, pemimpin dari sebuah negara di benua itu menemukan sebuah artifak yang sangat kuat bernama Ubusunagami Okinokai (berarti: Kekuatan Dewa) dari dalam bumi. Tenro dan pengikutnya lalu menyebut diri mereka sebagai “Utusan Dewa” dan mulai menaklukkan negara lain satu demi satu dengan mengatasnamakan “keadilan”. Tidak ada yang mampu menghadapi kekuatannya, namun ada satu kelompok pembebasan bernama Tenkaku yang berani melawannya. Akan tetapi usaha mereka sia-sia dan kelompok kecil inipun nyaris ditumpas habis. Dalam perang itu terjadi keajaiban dimana satu pilot dari Tenkaku berhasil selamat meskipun terluka. Pilot itu bernama Shinra.

Tubuh Shinra ditemukan oleh para penduduk dan dibawa ke sebuah desa yang bernama Ikaruga. Desa yang hanya berisi orang tua itu telah ditaklukkan oleh Tenro Horai. Setelah luka-lukanya sembuh, Shinra bersumpah akan kembali menuntut membalas Tenro Horai. Para tetua di desa itu mempercayakan padanya sebuah pesawat rahasia yang mereka buat sendiri bernama Ikaruga. Bukan sekedar pesawat biasa karena Ikaruga sanggup menggabungkan dua energi sekaligus; kegelapan dan cahaya. Shinra tidak sendirian karena bersamanya ada pilot lain yaitu Kagari. Sebelumnya Kagari adalah pasukan Tenro Horai yang berhasil dikalahkan oleh Shinra. Setelah Shinra mengampuni nyawanya dia memutuskan untuk bergabung sebagai pasukan pemberontak. Pesawat Kagari adalah Ginkei dan telah dimodifikasi oleh para tetua hingga mempunyai kekuatan yang sama dengan Ikaruga.


Inti permainan Ikaruga terletak pada sistem polaritas (Polarity Mechanics). Sepanjang permainan apapun bentuk musuhnya hanya ada dua warna; hitam dan putih. Pesawat pemain bisa berubah warna menyesuaikan dengan warna musuh. Peluru dari musuh yang warnanya sama dengan pemain bisa diserap dan tidak akan menghancurkan pesawat pemain. Misalnya, jika pesawat pemain sedang berwarna hitam maka peluru hitam musuh akan diserap, sedangkan warna putih harus dihindari. Tapi untuk damage pada musuh adalah sebaliknya. Serangan pemain akan memberi damage lebih besar pada musuh dengan warna yang sebaliknya. Misalnya, jika pesawat pemain sedang berwarna hitam, maka lebih cepat menghancurkan musuh yang berwarna putih. Dan begitu pula sebaliknya.

Ada tiga level permainan; easy, normal dan hard. Pada easy mode atau mudah, pesawat musuh yang ditembak hancur tidak akan membalas dengan peluru. Pada normal mode hanya pesawat musuh yang warnanya sama dengan pemain yang membalas ketika ditembak hancur. Sedangkan pada hard mode semua musuh yang ditembak hancur pasti akan membalas dengan peluru sesuai warna mereka. Bergantung situasi, kadang-kadang easy mode tidak selalu mudah. Karena pada mode ini jumlah peluru musuh yang diserap akan lebih sedikit, sehingga untuk mengisi special attack bar jelas lebih lama. Special attack kurang lebih sama dengan bom yang akan menghancurkan musuh dan peluru di layar.


Selain sistem polaritas satu lagi keunggulan Ikaruga adalah “Chains” yang artinya berantai. Sistem ini tidak wajib dikuasai dan diperuntukkan bagi pemain yang sangat ahli. Sebuah “Chains” terjadi jika pemain menghancurkan sekaligus tiga pesawat musuh dengan warna tertentu. Misalnya; jika pemain menghancurkan tiga hitam, kemudian diikuti tiga hitam lagi, dan kemudian tiga putih, maka itu dihitung 3 Chains. Skor yang dihasilkan dari chains jelas lebih tinggi. Untuk mendapatkan combo chains lebih sering, pemain wajib menghafalkan pola-pola musuh yang muncul di layar di setiap levelnya.

Ikaruga untuk versi PC sebenarnya tidak jauh berbeda dengan versi konsolnya. Hanya saja karena dirilis lewat Steam, maka pemain bisa membuka beberapa trophy dan achievements. Versi PC juga hadir dengan dukungan resolusi yang lebih tinggi yang setara kualitas HD, beberapa wallpaper, online leaderboards, serta soundtrack yang lebih menggema. Sobat bisa mengunduh game Ikaruga ini disini. (Indoshotokan)

REVIEW J-DORAMA: MONDAI NO ARU RESTAURANT


Tamako Tanaka (diperankan Yoko Maki) adalah pegawai restoran yang rajin, ramah, setia dan menghargai rekan sekerjanya. Bagi teman-temannya, Tamako adalah sosok orang yang bisa diandalkan. Namun dunianya berubah ketika salah satu pegawai perempuan yaitu Kyoko, yang juga teman Tamako, berbuat kesalahan. Agar permintaan maafnya diterima oleh boss restoran, Kyoko harus berjalan telanjang di restoran. Mendengar kabar tak sedap itu Tamako mendatangi tiap orang yang sudah melecehkan temannya dan menyiramnya dengan air es. Buntutnya, Tamako kemudian ditahan polisi akibat perbuatannya itu. Untunglah dia tidak masuk penjara, tapi boss kemudian memecatnya.

Dipecat tidak membuat Tamako berkecil hati. Apalagi sebelumnya di restoran itu dia juga mempunyai pengalaman buruk. Ketika masih bekerja Tamako membantu Makato Monji, seorang chef, untuk masuk bekerja di restoran itu. Bukan tanpa alasan Tamako membantunya. Ya, dia jatuh hati pada chef tampan itu. Selain itu restoran tempatnya bekerja memang juga didominasi kaum pria. Suatu ketika Tamako berkata pada Monji jika masakannya tidak mempunyai “hati”. Mendengar hal itu Monji tersinggung dan sejak itu dia bersikap dingin pada wanita yang sudah menolongnya. Dikhianati oleh Monji dan dimusuhi para pegawai restoran, termasuk bossnya, jelas ada tidak alasan bagi Tamako untuk bertahan di tempat itu. 


Tamako tidak dendam dengan bekas rekan sekerja yang sudah membuangnya. Dia lalu berusaha mewujudkan mimpinya sendiri, yaitu sebuah restoran yang unik dimana pelanggan merasa bahagia dengan merasakan resep-resep lezatnya. Tamako sadar tidak mungkin berusaha sendiri, karena itu dia mengajak teman perempuan lain yang tidak punya pekerjaan. Lucunya, semua teman yang diajak bergabung mempunyai problem pribadi yang unik. Berusaha bangkit demi mendapatkan hidupnya kembali, merasakan nikmatnya bekerja, dan di satu sisi menyelesaikan masalah dari teman-temannya. Kisah Tamako dengan restoran barunya dimulai.

Sepintas Mondai no Aru Restaurant berisi balas dendam atau perang antar restoran. Sama sekali tidak. Dorama ini murni komedi menyegarkan berisi usaha para wanita yang baru merintis karir di bisnis restoran. Sesuai judulnya, di setiap episodenya penonton disuguhi background cerita para member restoran milik Tamako. Tiap tokoh punya motif dan cerita yang berbeda. Yang jelas mereka mempunyai masalah dan itulah sebabnya mengapa dorama ini berjudul Mondai no Aru Restaurant (berarti “Restoran Masalah”). 

Misalnya saja Chika, dia baru bersinar di episode tiga. Tapi Tamako harus berterima kasih padanya karena dialah yang memberikan ide untuk membuka restoran sendiri. Chika adalah putri dari pemilik restoran tempat lama Tamako bekerja. Chika pula-lah yang membebaskan Tamako dari penjara setelah dia menyerang salah satu pegawai. Mengapa dia bergabung dengan Tamako? Ternyata Chika ingin membalas dendam pada ayahnya karena telah melupakannya dan membuat ibunya menderita depresi. Chika adalah gadis muda yang menderita karena orang tuanya, tapi masih bisa tersenyum. Itulah sebabnya dia belajar memasak sendiri demi menjaga ibunya. Walau akibatnya dia menjadi gadis yang jarang bergaul.


Ada pula Kyoko yang ceritanya diungkap di episode dua. Kyoko adalah teman lama Tamako di SMU. Sebelumnya Kyoko gagal dalam pernikahannya. Sang suami hanya memanfaatkannya, tapi yang lebih menyakitkan, dia juga mengambil anak mereka. Perceraian yang menguras tenaga dan emosi membuatnya lambat dalam berpikir. Demi mendapatkan anaknya kembali Kyoko bertekad dia harus mendapatkan uang sendiri. Keyakinan dan kepercayaan dirinya tumbuh kembali setelah sang anak mengatakan jika masakannya enak. Kyoko sangat pandai memasak dan karena itu dia menjadi asisten chef di restoran Tamako.

Mondai no Aru Restaurant memang dorama yang banyak menceritakan kaum hawa. Tapi bukan berarti tidak boleh ditonton para pria. Apalagi dengan cerita yang ringan, lucu dan menghibur membuatnya sayang dilewatkan. Di Jepang dorama ini ditayangkan oleh Fuji TV mulai Januari dan berakhir pertengahan Maret 2015 lalu. Cukup delapan episode saja. (Indoshotokan)