Custom Search

KONTEN DILINDUNGI HAK CIPTA. DILARANG KERAS MENJIPLAK, MENGEDIT DAN MEMPERBANYAK SEBAGIAN ATAU SELURUH HALAMAN SITUS INI TANPA IJIN.

MENANG DENGAN MENGALAH (3)

“Baiklah,” salah satu dari mereka berbicara dengan nada yang sangat tidak sopan, “Jangan cuma berdiri disana saja seolah kau bisu dan tuli. Kau tahu apa yang kami inginkan. Katakanlah sesuatu! Misalnya, ‘Selamat malam, tuan’ dan beritahu kami betapa indahnya hari ini. Jangan buang waktu kami anak kecil, atau kau akan menyesal. Aku bersungguh-sungguh dengan hal itu.”

Semakin mereka marah, aku justru semakin merasa tenang. Melihat cara orang yang berbicara padaku mengepalkan tangannya, aku tahu dia bukanlah orang karate. Sedangkan orang satunya yang memegang tongkat pemukul jelas-jelas seorang amatir.
Aku menjawab pelan, “Apa kalian tidak salah orang. Mengira aku sebagai orang lain? Pasti ada salah paham. Kurasa jika kita membicarakannya...”

“Ah, diam kau, dasar udang kecil! Orang yang membawa pentungan itu geram, “Kau pikir sedang apa kita disini? Melawan dua orang seperti ini, tapi nasihatku untukmu sudah jelas. Tidak usah melawan. Kurasa itu tidak akan bagus untukmu, karena.....”

Orang kedua sekarang mengangkat pentungan berat yang dibawanya dari tadi.

Aku menjawab dengan cepat, “Karena jika aku belum tentu menang, aku tidak akan berkelahi. Aku tahu pasti kalah. Jadi untuk apa aku melawan. Bukankah itu masuk akal?

Setelah mendengar ucapanku itu, keduanya terlihat sedikit tenang. “Baiklah”, kata salah satu dari mereka, “Kelihatannya kau tidak ingin berkelahi. Kalau begitu berikan uangmu.”

“Aku tidak punya uang” Aku menjawab sambil menunjukkan pada mereka kantongku yang kosong.

“Kalau begitu berikan rokok saja!”

“Aku tidak merokok. Yang aku punya sekarang cuma beberapa manju. Kue ini kubawa untuk persembahan di altar rumah orang tua istriku.”
“Ini. Terimalah ini saja.” Aku berkata pada mereka.

“Hanya manju!” Nada suara mereka terdengar meremehkan. “Yah, lebih baik daripada tidak ada sama sekali.”

Seraya mengambil kue itu salah satu dari mereka berkata, “Pergilah segera, udang. Dan hati-hatilah karena jalanan ini berbahaya.” Setelah itu merekapun menghilang di balik pepohonan.

Beberapa hari kemudian aku bertemu dengan Azato dan Itosu, dan ditengah obrolan kuceritakan pada mereka kejadian tempo hari. Yang pertama memujiku adalah Master Itosu yang mengatakan bahwa aku telah bertindak dengan sangat pantas. Dia juga berkata jika waktu yang telah dihabiskannya untuk mengajariku karate tidaklah sia-sia.

Azato tersenyum sambil bertanya padaku, “Tapi, karena kau sudah tidak punya lagi kue manju, apa yang kau persembahkan di altar ayah mertuamu?”

Aku menjawab, “Karena sudah tidak punya apa-apa lagi, aku mempersembahkan sebuah doa yang tulus.”

“Ah, bagus, bagus!” begitu ucapnya. “Benar, selamat! Itulah semangat sejati dari karate. Sekarang kau mulai paham apa artinya.”

Kucoba menahan rasa banggaku. Walaupun kedua master ini tidak pernah memuji setiap kata yang aku kerjakan saat latihan, mereka memujiku sekarang. Dan bercampur dengan rasa bangga menjadi sebuah kegembiraan. (Tamat - Indoshotokan)

Artikel ini dikutip dan diterjemahkan dari buku “Karate-Do: My Way of Life” yang ditulis oleh Gichin Funakoshi dengan judul aslinya “Win by Losing”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

REVIEW GAME DOUJIN #46: FLYING RED BARREL – A DIARY OF A LITTLE AVIATOR

Jika manusia ditakdirkan untuk terbang di langit, maka Tuhan mungkin akan memberikan sepasang sayap layaknya burung. Dan hal itu bukan sekedar mimpi belaka. Manusia memang tidak punya sayap, tapi mereka bisa menciptakan kendaraan yang bisa terbang. Ketika triplane (pesawat bersayap tiga rangkap) ditemukan, langit menjadi ramai dengan manusia yang berlalu lalang. Tapi langit tidak selamanya aman. Untuk menjaga keamanan di angkasa dibentuklah sebuah pasukan penjaga bernama Blue Sky Union. Kisah dalam Fying Red Barrel menceritakan 10 tahun setelah dibentuknya Blue Sky Union. Maaru, seorang pilot pemula Blue Sky Union dengan pesawat triplane merahnya harus berpetualang membasmi kejahatan.

Game buatan developer Jepang Orange Juice selalu punya gaya yang khas, contohnya adalah serial Suguri. Lalu bagaimana dengan Flying Red Barrel? Dari cerita, game keluaran tahun 2007 (yang kemudian dirilis ulang oleh Rockin’ Android tahun 2009) ini sebetulnya tidak begitu istimewa. Yang menonjol adalah grafis permainan bergaya era 16 bit ala SNES atau Sega Mega Drive, tapi dengan cell-shaded yang lebih tajam dan tidak pixelated alias pecah-pecah. Orange Juice menggunakan warna-warni yang cerah dan memanjakan mata. Musiknya biasa saja, karena menggunakan midi jadinya lebih terkesan retro. 

Sebagai Maaru, tugas pemain adalah bertahan hidup dengan menembaki musuh sambil mengumpulkan koin-koin. Makin banyak koin dikumpulkan, pemain bisa mendapat tambahan skor, nyawa dan roket. Ketika berhenti menembak, maka koin-koin yang terdekat dengan pemain akan dikumpulkan secara otomatis. Nah, disinilah tantangannya. Ketika di layar banyak musuh dan peluru, maka pemain dihadapkan pada dua pilihan; mengumpulkan koin atau menembaki musuh. Bicara senjata, pesawat Maaru hanya punya dua senjata; senapan mesin berkekuatan standar dengan sebuah roket yang bisa menembus peluru dan meledak jika mengenai musuh. Tidak seperti game shooter lainnya, di game ini tidak ada bom yang bisa menolong pemain untuk bebas dari serbuan peluru dan musuh.


Jika Maaru hanya menggunakan pesawat triplane yang populer di jaman Perang Dunia II, maka musuh-musuhnya lebih bervariasi. Dari pesawat kecil sampai yang berukuran raksasa dengan tembakan roket yang gila-gilaan. Untuk bisa menyelesaikan seluruh permainan pemain harus sering mendapatkan tambahan nyawa dari koin yang mereka kumpulkan. Ini karena pemain tidak bisa menyimpan permainan dan jika semua nyawa habis permainan tamat alias game over. Tapi tenang saja, karena permainan ini tidak sesulit yang dibayangkan.

Flying Red Barrel adalah game shooter yang layak dimainkan, biarpun tidak begitu menonjol dalam genrenya. Idenya mungkin tidak orisinil, tapi bukan berarti gamenya buruk. Grafis yang memanjakan mata cukup membuat pemain tidak cepat merasa bosan. Silahkan mencoba Flying Red Barrel  dengan mengunduhnya disini, dan kunjungi situs resminya disini. (Indoshotokan)

REVIEW GAME DOUJIN #45: CROIXLEUR SIGMA

Sebagai publisher dari game doujin, Nyu Media memang jeli memilih game mana saja yang mereka terbitkan. Setelah sukses merilis trilogi The Tale of ALLTYNEX dan Ether Vapor Remaster, mereka memilih sebuah game aksi mirip Bloody Palace dalam Devil May Cry yang berjudul Croixleur ∑ (baca: Croixleur Sigma). Game ini adalah rilis ulang dari versi originalnya yaitu Croixleur yang dirilis di Jepang tahun 2010 lalu. Versi update ini rilis di Jepang tahun 2013 lalu dan hadir dengan beberapa fitur tambahan. Pengembang dari Croixleur Sigma adalah Souvenir Circ yang sebelumnya terkenal berkat Mai Hana Ao Makyou, sebuah game shooter Touhou yang sangat indah.

Cerita dalam Croixleur Sigma berkisar pada dua orang gadis remaja; Lucrezia Visconti yang selalu ceria dengan ciri khas rambut merahnya, dan Francesca Storaro yang selalu serius. Keduanya diakui sebagai gadis ajaib dari negeri Ilance yang masing-masing mewakili bangsawan dan ksatria. Sekarang keduanya menjalani sebuah ritual tradisi di negeri itu yang disebut Adjuvant Trial. Ritual yang mirip sebuah kompetisi itu menghadirkan wakil terbaik dari kaum bangsawan dan ksatria. Pemenangnya tidak hanya memegang kekuasaan militer dan politik, tapi juga menjadi pengawal kepercayaan sang ratu. Dalam Adjuvant Trial para peserta harus menjalani ujian pertarungan melawan banyak monster untuk membuktikan kekuatan mereka.


Pertama-tama, jangan tanya bagaimana mengucapkan kata “Croixleur” karena memang terbilang susah. Walau mengambil judul Bahasa Perancis, Croixleur Sigma murni menonjolkan ciri khas game Jepang kebanyakan seperti; gadis bermata besar, kostum ala seragam sekolah dan tentu saja alur cerita yang tidak masuk akal. Pemain kini bisa memilih Francesca setelah merampungkan Lucrezia. Ada 4 mode permainan dengan gaya berbeda. Dalam Story Mode pemain melawan monster dalam stage yang bercabang sebelum melaju ke level berikutnya. Dalam Score Attack pemain hanya diberi waktu tiga menit untuk mencetak skor setinggi mungkin. Dalam Survival Mode pemain harus bertahan hidup dari gelombang musuh. Terakhir, dalam Challenge Mode pemain diberi misi berupa objektif tertentu untuk diselesaikan.

Gameplay dalam Croixleur Sigma cukup simpel. Pemain punya tombol menyerang yang bisa digunakan mencetak combo maksimum tiga tebasan. Yang kedua adalah tombol dash yang membuat pemain kebal untuk sementara. Sebuah game aksi tanpa melompat jelas aneh, dan Croixleur Sigma untungnya punya gerakan ini. Yang terakhir adalah special attack yang mirip seperti bom dalam game shooter. Special attack adalah serangan berdaya rusak tinggi yang bisa membantu pemain lolos dari kepungan musuh. Fitur baru lainnya adalah “cancel system”. Disini pemain bisa membatalkan sebuah serangan untuk diganti dengan yang lain. Misalnya di tengah-tengah serangan combo pemain bisa memasukkan perintah dash atau melompat.


Tingkat kesulitan meningkat secara bertahap. Di awal level monster jumlahnya sedikit dan bisa dibunuh dengan satu dua tebasan. Tapi semakin jauh monster yang muncul makin banyak dan makin kuat. Sayangnya developer tidak menambah jenis monster. Monster yang muncul hanya ada empat macam, dan hanya dibedakan dari warnanya saja. Dalam permainan pemain diberi reward yang bergantung pada seberapa cepat mereka mengalahkan monster. Musuh yang mati akan menjatuhkan koin emas. Kumpulkan koin-koin itu dan pemain bisa mengeluarkan special attack. Di stage selanjutnya pemain juga bisa mengumpulkan senjata-senjata baru yang bisa mengeluarkan special attack berbeda.

Terlalu singkat. Itu saja kelemahan terbesar game ini. Grafis permainan bagus tapi musiknya biasa saja. Croixleur Sigma juga telah di-port ke Playstation 4 dengan tambahan karakter baru dan peningkatan grafis. Akhirnya, Croixleur Sigma tetap sebuah game yang menyenangkan biarpun masih kalah jauh dari Devil May Cry. Silahkan kunjungi situs resmi gamenya disini, atau langsung mengunduh gamenya disini. (Indoshotokan)

REVIEW GAME DOUJIN #44: CHERRY TREE HIGH I! MY! GIRLS!


Tidak salah jika Nyu Media merilis versi Inggris dari Manken! atau Cherry Tree High Comedy Club tahun 2012 lalu. Game doujin kombinasi simulasi dengan visual novel dari developer 773 itu cukup sukses di negara barat. Sejak itu fans bertanya-tanya apakah Nyu Media akan mentranslasikan sekuelnya yaitu Manken! I! My! Girls! Dan sekitar dua tahun kemudian, tepatnya bulan Nopember 2014 lalu Nyu Media merilis sekuelnya. Tapi akankah game kedua ini juga akan sebagus game pertamanya?

Mengikuti ending terbaik dari game pertamanya, Mairu akhirnya berhasil merekrut enam anggota baru dan membuka klub komedi di Cherry Tree High. Sekarang waktunya mereka untuk memperhatikan klub dengan lebih serius. Tapi di luar sana Chitose, sang ketua dewan murid, ternyata masih belum kehabisan akal untuk menutup klub komedi Mairu. Ada pula tantangan baru dari Imari Kobayashi yang juga mempunyai klub komedi di sekolah itu. Imari adalah orang yang berbakat dalam komedi dan sering dianggap rival dari Mairu. Agar semakin buruk, klub Mairu harus bersaing dengan klub-klub lain di sekolah demi meraih gelar klub penghibur nomor satu. Berhasilkah Mairu mempertahankan klubnya?


Untuk menambah alur cerita, ada tiga karakter baru yang diperkenalkan. Yang pertama adalah Ai Fujino, seorang murid pindahan yang ingin bergabung dengan klub Mairu. Ai sebenarnya adalah seorang penyanyi terkenal yang sedang menyamar. Yang kedua adalah Imari Kobayashi, teman masa kecil Mairu dan ketua klub komedi yang sebelumnya di Cherry Tree High. Walaupun berteman, Imari ingin mengalahkan klub Mairu agar menjadi klub terbaik di sekolah. Yang terakhir adalah Utena Katakura, seorang guru di Cherry Tree High. Gayanya yang melodrama membuat orang mengira jika dia anggota grup teater terkenal.

Jika di game pertamanya pemain bisa menjelajahi kota, bicara dengan teman, menaikkan level, dan memutuskan belajar atau bermain, maka di game kedua ini gameplay-nya berubah total. I! My! Girls! ini adalah murni visual novel linear dimana satu-satunya interaksi pemain adalah lewat dialog. Sama dengan sebelumnya, dialog masih disisipi humor segar yang kadang terasa aneh karena diterjemahkan langsung dari versi Jepangnya. Ada tujuh chapter permainan dengan tambahan side story. Semua karakter lama masih akan muncul walau agak dikurangi. Cerita dalam I! My! Girls! sebenarnya lebih menyoroti Ai Fujino, dan bagaimana kedatangangannya bisa mempengaruhi klub Mairu. Tentu saja Mairu masih tampil dan berperan penting dari awal sampai akhir cerita.


Grafis permainan tidak berubah, background digambar dengan tangan sedang karakter dalam sprite 2D yang detail. Semuanya dibuat cerah dan berwarna-warni yang membuat pemain lupa jika tiga perempat grafis permainan ini diambil langsung dari game sebelumnya. Kelemahannya ada pada soundtracknya yang minim variasi. Memang ada dua musik baru dan beberapa efek, tapi karena sering diulang membuat pemain cepat merasa bosan. Agak sulit rasanya merekomendasikan game ini kecuali sobat memang penggemar game pertamanya. Cherry Tree High I! My! Girls! ini bisa dijadikan alternatif jika sobat sudah jenuh dengan visual novel mainstream.

Jika sobat ingin mengetahui kelanjutan kisah Mairu, maka bisa mengunduh game ini disini. Ingin melihat info gamenya? Boleh saja, kunjungi situs resmi gamenya disini. Selamat membaca. (Indoshotokan)

MENANG DENGAN MENGALAH (2)

Belum sempat seorangpun menjawab, kami berpapasan dengan sekelompok orang yang kelihatannya sedikit mabuk. Mereka menyanyi dengan gaduhnya ketika melalui tempat itu. Saat cukup dekat dan tahu sedang ada keributan, mereka mulai berteriak gembira karena mungkin bisa menonton perkelahian yang seru. Tapi salah satu dari mereka kemudian mengenali pemimpin kami.

“Anda Master Itosu, bukan? Dia berteriak. “Ini benar Anda, bukan? Tentu saja! Sedang ada masalah apa?” Dia lantas memutar tubuhnya menghadap ke kelompok yang akan menyerang kami.
“Apa kalian sudah gila?” dia berkata.
“Apa kalian tidak tahu siapa orang-orang ini? Itu adalah Itosu, sang master karate bersama murid-muridnya. Bahkan sepuluh atau dua puluh orang dari kalian belum tentu sanggup mengalahkan mereka semua. Sebaiknya kalian minta maaf dan lebih baik lakukanlah sekarang!”

Kenyataannya, tidak ada yang meminta maaf. Tapi untuk sesaat kelompok itu saling bergumam dengan temannya sebelum akhirnya menyingkir dengan tenang di kegelapan malam. Kemudian Itosu memberi perintah lain yang menurut kami agak aneh. Bukannya meneruskan lewat jalan yang seharusnya, dia memerintahkan kami untuk mengulangi perjalanan kembali ke Shuri melewati jalan yang lebih jauh. Sampai kami tiba di rumahnya, dia tidak berkata apapun tentang kejadian yang barusan kami alami. Dia lantas menyuruh kami berjanji untuk membicarakannya.

“Kalian sudah melakukan pekerjaan yang bagus malam ini, anak-anak.” Dia berkata. “Aku tidak ragu lagi kalian sudah menjadi karateka yang hebat. Tapi jangan menceritakan kejadian malam ini pada siapapun! Tidak seorangpun, kalian paham?”

Belakangan aku melihat anggota dari kelompok itu dengan wajah sedikit malu datang ke rumah Itosu untuk meminta maaf. Ternyata orang-orang yang tempo hari kami kira preman dan pencuri itu adalah Sanka – orang yang bekerja menyuling minuman keras Okinawa bernama Awamori. Mereka memang agak ribut, orang-orangnya keras dan kasar, bangga dengan kekuatan fisiknya. Mereka malam itu telah memilih kami sebagai sasaran untuk menguji kehebatan mereka.

Saat itu aku baru tahu betapa pandainya Master Itosu dengan menyuruh kami pulang ke Shuri melewati jalan berbeda demi menghindari pertikaian yang lebih banyak. Aku berpikir tentang arti dari karate. Aku merasa malu saat menyadari tempo hari akan menggunakan kemampuan dan kekuatanku melawan orang-orang yang tidak terlatih.

Kejadian kedua, yang sedikit mirip dengan yang pertama, berakhir dengan lebih memuaskan. Namun begitu, pertama-tama aku ingin menceritakan tentang keluarga istriku. Selama bertahun-tahun mereka telah bereksperimen dengan tanaman kentang manis, mencoba untuk mengubahnya menjadi makanan yang lebih baik. Mereka sebelumnya cukup makmur, tapi datangnya Restorasi Meiji telah membuat masa-masa menjadi sulit. Mereka lalu pindah ke sebuah desa pertanian kecil bernama Mawashi yang jauhnya dua setengah mil dari Naha.

Ayah dari istriku adalah pengikut partai garis keras dan itu membuat tingkah lakunya aneh. Ketika cuaca sedang cerah dia berada di ladang; dan ketika hujan dia berada di rumah sambil membaca; dan hanya itulah yang dikerjakannya.

Istriku sangat sayang pada ayahnya. Pada suatu festival dia pergi lebih awal dengan anak-anak demi mengunjunginya. Sore itu aku pergi meninggalkan desa, karena aku tidak ingin anak dan istriku berjalan sendirian didalam gelap.

Jalanan yang sepi menuju Mawashi harus dilalui menembus hutan cemara yang tebal. Dalam cahaya senja yang sudah memudar, aku dibuat cukup kaget ketika dua laki-laki tiba-tiba melompat dari rerimbunan pohon dan menghalangi jalanku. Seperti penjahat pada umumnya, mereka menutupi wajah dengan handuk. Itu sekaligus sudah menunjukkan bahwa mereka sengaja ingin membuat takut orang lain yang melintas. (Bersambung – Indoshotokan)

Artikel ini dikutip dan diterjemahkan dari buku “Karate-Do: My Way of Life” yang ditulis oleh Gichin Funakoshi dengan judul aslinya “Win by Losing”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

REVIEW GAME DOUJIN #43: EXCEED 3RD – JADE PENETRATE BLACK PACKAGE


Di sebuah dunia fantasi bernama Pandemonium, pedang dan sihir telah menjadi alat untuk bertahan hidup. Para penghuni Pandemonium selalu terlibat pertarungan demi mencapai gelar yang terkuat. Mereka yang terbaik berhak duduk sebagai salah satu penguasa dalam tujuh Cardinal Lords. Tapi kenyataannya, peluang untuk menjadi salah satu dari tujuh pemimpin tertinggi Pandemonium itu sangat sulit. Bahkan ksatria paling berani yang berjuang keraspun belum tentu berhasil. Kursi seorang Cardinal Lord hanya bisa diisi jika tidak ada yang menduduki dan memang sengaja untuk diperebutkan.

Salah satu dari sekian banyak penduduk Pandemonium yang bermimpi menjadi Cardinal Lord adalah Rayne Lindwurm. Sebagai murid di akademi sihir Belphegor, Rayne adalah gadis remaja yang berbakat. Tapi ada satu rintangan yang menghalanginya. Kakaknya sendiri yaitu Celestia ternyata juga ingin menjadi Cardinal Lord. Rayne tidak pernah bisa mengungguli kakaknya dalam pertarungan sihir. Hingga suatu hari, setelah ratusan tahun lamanya, kompetisi besar dengan imbalan menjadi Cardinal Lord dibuka. Rayne yang sempat ragu akhirnya memutuskan bergabung dalam kompetisi itu. Meskipun harus mengalahkan kakaknya sendiri dia ingin mewujudkan mimpinya.  


eXceed 3rd – Jade Penetrate Black Package adalah sekuel terakhir dari trilogi eXceed. Tennen Sozai mengganti kisah gereja vs. vampire dengan dunia fantasi penyihir. Versi Black Package ini adalah update terakhir dari versi originalnya. Perbedaannya hanya terletak pada model musuh dan peluru yang ditembakkan. Soundtrack kabarnya juga diaransemen ulang oleh Saitama Saishuu Heiki, tapi tidak ada perbedaan besar. Yang terbaik dari game ketiga ini adalah grafisnya yang lebih tajam. Desain karakternya juga yang terbaik dibanding prekuelnya. Dirilis di Jepang tahun 2010 lalu, versi Inggrisnya diluncurkan oleh Nyu Media dalam paket The eXceed Collection tahun 2012.

Gameplay permainan juga dirombak. Sistem polaritas ala Ikaruga seperti di game keduanya tidak lagi digunakan. Permainan lebih fokus pada mengingat pola musuh dan pelurunya. Disini pemain juga dibekali tombol untuk fokus, dimana saat dipakai gerakan Rayne menjadi lebih lambat. Fokus sangat berguna untuk menghadapi peluru musuh yang kompleks dengan ruang gerak terbatas tapi butuh akurasi gerakan. Untuk menambah kekuatan tembakan, Rayne juga dibekali mini tiamat sebagai partner. Charge attack yang sempat absen di game keduanya telah dikembalikan. Charge attack lebih kuat dari tembakan standar tapi harus menunggu special gauge terisi penuh. Untuk mengisinya pemain cukup mengumpulkan item dari musuh yang dihancurkan. Yang terakhir adalah bom yang mencederai musuh dan menghancurkan semua peluru di layar.


eXceed 3rd – Jade Penetrate Black Package juga dilengkapi dengan full voice acting dari para seiyuu ternama. Untungnya di versi Inggris gamenya masih mempertahankan suara dari versi aslinya. Grafis benar-benar khas anime, musik keren dan gameplay yang lebih baik. Pendeknya, seri terakhir eXceed ini masuk daftar rekomendasi bagi sobat penggemar game doujin. Bantulah Rayne menjadi Lord Cardinal dengan mengunduh gamenya disini, atau luangkan waktu mengunjungi situs resmi gamenya disini. (Indoshotokan)

REVIEW GAME DOUJIN #42: EXCEED 2ND – VAMPIRE REX

Jika ditanya apa game shooter terbaik sepanjang masa, maka Ikaruga adalah jawabannya. Bicara soal grafis memang banyak game shooter lain yang lebih unggul. Tapi Ikaruga punya satu kelebihan, yaitu gameplay yang orisinil. Berkat gameplay-nya itulah banyak developer lain yang mencoba meniru Ikaruga. Salah satunya adalah developer indie Jepang FLAT yang merilis seri kedua eXceed. Game doujin ini sebenarnya sudah lawas karena dirilis tahun 2006 silam. Karena FLAT sudah tidak aktif lagi, mereka menyerahkan hak ciptanya pada Tennen Sozai yang merilis versi upgradenya yaitu eXceed 2nd – Vampire Rex tahun 2008. Versi Inggrisnya dirilis oleh Nyu Media tahun 2012 dalam satu paket bernama The eXceed Collection.

Beberapa minggu telah berlalu sejak berakhirnya perang besar antara gereja dan pasukan Gun Bullet Children melawan vampir dan turunannya (disebut deviant: setengah manusia dan setengah vampir). Dua kubu yang saling berseteru sepakat untuk berdamai dalam gencatan senjata. Mereka sadar jika perang yang berlarut-larut hanya menemui jalan buntu. Sayangnya tidak semua pihak menyukai perdamaian. Setelah seorang ekstremis gereja berkuasa, dia menyerukan agar semua vampir dan deviant yang masih hidup dimusnahkan. Merasa hidupnya terancam, seluruh vampir menyatukan kekuatan demi kebebasan mereka. Ancaman perang besarpun sudah diambang mata.

Sementara itu, setelah dimusuhi oleh manusia, seorang gadis bernama Ria File menyadari kekuatannya sebagai seorang vampir. Ria sadar tidak mungkin kembali pada manusia dan sebagai seorang deviant dia memilih bergabung dengan pasukan vampir. Bersama dengan kelompoknya Ria kini harus melawan pasukan Gun Bullet Children yang sebelumnya berhasil mengalahkan bangsa vampir.


eXceed 2nd – Vampire Rex ini adalah versi update dari eXceed 2nd. Perbedaannya hanya terletak pada model musuh dan pola perluru yang mereka tembakkan. Pada versi update soundtracknya telah diremake dengan gaya techno. Ketika melawan boss, musik akan berubah lebih kencang dan memacu adrenalin. Tidak percaya? Coba saja dengarkan musik di boss stage pertama. Benar-benar keren. Seluruh musik diaransemen ulang oleh Saitama Seishu Heiki dan Shibayan Records, dua nama besar yang sudah kesohor dalam dunia doujin. Satu lagi kelebihan game ini adalah fitur full-voice. Sebelum duel melawan boss, akan ada dialog singkat antar karakter. Untungnya, di versi Inggris dialog tetap menggunakan Bahasa Jepang dan tidak didubbing.

Gameplaynya sama persis dengan Ikaruga. Sebagai Ria File, pemain bisa berganti polaritas antara kekuatan cahaya yang diwakili putih dan kegelapan yang diwakili merah. Pemain bisa menyerap peluru yang warnanya sama dengan elemen yang sedang diaktifkannya. Sebaliknya, jika terkena peluru yang tidak sama dengan elemen miliknya, maka berakibat fatal. Pendeknya, musuh berwarna putih cepat hancur jika diserang warna merah dan sebaliknya. eXceed 2nd – Vampire Rex juga mempunyai tingkat kesulitan dinamis. Jika pemain bisa terus bertahan hidup, tidak pernah mati dan terus mengumpulkan skor, maka rangking kesulitan akan naik. Sebaliknya, jika pemain mati otomatis maka akan menurunkan ranking kesulitan.


eXceed 2nd  bisa dimainkan dengan banyak cara. Pemain bisa memilih bermain aman dengan menyerap peluru dan membunuh musuh dengan polaritas yang sama. Memang sedikit lebih lama, tapi cocok untuk pemain pemula yang ingin menghindari resiko. Sebaliknya, jika ingin bermain cepat dan mencari skor tinggi, maka pemain bisa menyerang dengan polaritas yang berlawanan berkat fitur double damage pada musuh. Tapi tentu saja pemain akan lebih sibuk menghindar kesana kemari.

Kelemahan game ini adalah tidak punya replay value yang tinggi. Begitu tamat, mungkin pemain tidak akan mengulanginya lagi. Tapi itu bukan masalah besar karena eXceed 2nd – Vampire Rex ini adalah game bagus dan layak disebut salah satu game doujin terbaik. Jika ingin informasi lebih lanjut silahkan mengunjungi situs resmi gamenya disini atau langsung mengunduh gamenya disini.(Indoshotokan)