Custom Search
KONTEN DILINDUNGI HAK CIPTA. DILARANG KERAS MENJIPLAK, MENGEDIT DAN MEMPERBANYAK SEBAGIAN ATAU SELURUH HALAMAN SITUS INI TANPA IJIN.

GICHIN FUNAKOSHI – LEBIH DEKAT DENGAN SANG MAESTRO (4)

Akhir tahun 1921 Funakoshi mendapat undangan dari Menteri Pendidikan Jepang untuk demonstrasi karate. Acara itu dilakukan di Sekolah Umum Wanita Monbasho pada awal musim panas di bulan Mei tahun 1922. Funakoshi memperagakan berbagai teknik dasar seperti kuda-kuda, gerakan kata, gerakan kaki dan tangan.

Saat demonstrasi berlangsung banyak wartawan yang mengambil foto Funakoshi dari dekat. Setelah acara selesai Funakoshi didekati oleh salah satu anggota keluarga Sho dari dinasti Shotai yang merupakan raja terakhir di Okinawa. Orang yang tidak disebutkan namanya itu menyarankan Funakoshi agar memperpanjang kunjungannya di Jepang. Funakoshi menerima saran itu dan memutuskan tinggal di Jepang selama beberapa minggu. 

Demonstrasi karate di Monbasho membuat nama Funakoshi kian terkenal di Jepang. Beritanya bahkan banyak dimuat di surat kabar Jepang. Hal itu membuat Funakoshi didatangi banyak orang yang meminta untuk diajari karate. Biarpun terbilang cukup repot, Funakoshi melakukannya dengan senang hati. Apalagi Funakoshi ingin melihat karate Okinawa dapat sejajar dengan bela diri Jepang seperti judo dan kendo.

Di awal kedatangannya di Jepang Funakoshi berjumpa dengan Shinkin Gima, seorang pemuda berbakat asal Okinawa yang kelak banyak membantu perjuangannya. Gima yang saat itu tengah menempuh pendidikan di Shoka Daigaku (sekarang Universitas Hitotsubashi) pernah belajar karate pada Yabu Kentsu dan Yasutsune Itosu.

Masih di tahun 1922, Jigoro Kano sebagai pendiri Judo tertarik dengan karate setelah membaca tulisan-tulisan Funakoshi. Di luar kesibukannya sebagai instruktur, Funakoshi memang banyak menulis artikel tentang karate di surat kabar. Kano kemudian mengundang Funakoshi ke honbu (dojo utama) miliknya yaitu Kodokan. Funakoshi memenuhi undangan itu dengan ditemani oleh Shinkin Gima.

Acara itu tidak digelar besar-besaran dan hanya disaksikan oleh sekitar seratus orang saja. Funakoshi memperagakan kata favoritnya yaitu Kushanku Dai, sedangkan Shinkin Gima memperagakan kata Naihanchi Shodan. Sebagai pelengkap mereka juga memperagakan beberapa teknik dari kihon kumite.

Kano ternyata puas dengan demonstrasi itu. Dia lalu meminta Funakoshi mengajarinya teknik karate. Tapi ketika mendengar butuh waktu setidaknya setahun untuk belajar, dia lalu hanya meminta diajari teknik dasar. 


LAHIRNYA SIMBOL “TORA NO MAKI”


Beberapa waktu kemudian Funakoshi berpikir untuk pulang ke Okinawa. Tapi niat itu harus kembali tertunda setelah seorang pelukis terkenal bernama Hoan Kosugi mendatanginya. Sebelumnya Kosugi pernah ke Okinawa untuk sebuah ekspedisi dan tidak sengaja melihat karate. Sekembalinya ke Tokyo, dia ingin belajar karate namun kesulitan menemukan buku apalagi instruktur.

Funakoshi diminta mengajar karate bagi anggota perkumpulan Tabata. Sebuah klub para pelukis dimana Kosugi adalah ketuanya. Tapi pertemuan dengan Kosugi juga membawa keberuntungan lain untuk Funakoshi. Dari tangan Kosugi simbol harimau “Tora no Maki” berhasil dilukis. Makna dari “Tora no Maki” adalah merujuk pada filsafat Cina kuno yang mengatakan bahwa seekor harimau senantiasa waspada.

Kosugi tidak pernah mengetahui kebiasaan Funakoshi di masa lalu yang kerap mendaki gunung Torao (yang berarti ekor harimau). Sehingga ketika Funakoshi melihat lukisan harimau karya Kosugi dia menganggapnya bukan sebuah kebetulan semata. Dia sangat menghargai hasil karya itu dan berniat membayarnya. Tapi Kosugi menolaknya dan lebih memilih agar Funakoshi mengajarinya karate berikut filosofi mulia didalamnya. Funakoshi merasa terharu dan merekapun menjalin pertemanan baik. 

Lukisan original "Tora no Maki" atau "Sang Harimau yang Senantiasa Waspada." Dua tanda mirip bintang di dekat ekor adalah tanda tangan Hoan Kosugi. 


AWAL PERJUANGAN DI JEPANG


Diterima di perkumpulan Tabata telah membuat Funakoshi berpikir untuk lebih serius menyebarkan karate di Jepang. Awalnya dia sempat bimbang dan kemudian mengirim surat pada istrinya. Syukurlah, istrinya mau mengerti dan bersedia mendukung keputusan suaminya. Tapi tetap saja hal itu bukan perkara mudah, apalagi saat itu di Jepang Funakoshi adalah orang asing.     

Karena tidak punya banyak uang, selama di Jepang Funakoshi tinggal di Meisei Juku, sebuah asrama untuk pelajar Okinawa di Suidobata. Funakoshi tinggal di sebuah kamar sederhana yang terletak di samping jalan masuk asrama. Siang hari ketika para murid sedang belajar di kelas Funakoshi bekerja sebagai tukang kebun dan membersihkan asrama. Di malam hari dia mengajar karate sekaligus bekerja sebagai penjaga.

“Di Meisei Juku aku diijinkan memakai aula asrama sebagai dojo sementara ketika tidak dipakai para murid. Namun demikian, uang menjadi masalah yang serius. Aku belum berpenghasilan, keluargaku di Okinawa tidak bisa mengirim uang kemari, dan saat itu aku tidak bisa menarik sponsor karena di Jepang karate masih begitu asing.”

“Aku hanya mempunyai sedikit murid dan uang yang kudapat tidak cukup untuk makan. Aku membujuk koki asrama dengan mengajarinya karate. Sebagai gantinya, dia memberiku potongan harga untuk biaya makan bulanan. Hidup saat itu benar-benar sulit, tapi bertahun-tahun kemudian saat kuingat kembali, hal itu adalah sebuah kisah yang menarik.”

Di tengah himpitan hidup, Funakoshi berhasil menyelesaikan buku pertamanya yang berjudul “Ryukyu Kenpo: Tode.” Pada sampul depannya menggunakan lukisan harimau “Tora no Maki” karya Kosugi. Dalam buku ini pula Funakoshi menuliskan huruf kanji karate dengan huruf yang berbeda dari sebelumnya.

Tindakan Funakoshi yang mengubah huruf kanji karate itu sontak memicu kontroversi. Banyak ahli karate asal Okinawa yang merasa “marah.” Hal ini sebenarnya bisa dimaklumi karena ratusan tahun sebelumnya penulisan karate memakai huruf yang bermakna Cina. Hal itu dilakukan karena masyarakat Okinawa di masa lalu menghargai budaya Cina sebagai hal yang istimewa. (bersambung – Indoshotokan)  

GICHIN FUNAKOSHI - LEBIH DEKAT DENGAN SANG MAESTRO (3)

Setelah seharian diisi dengan mengajar di sekolah dan ditambah latihan karate yang menguras tenaga, Funakoshi meluangkan waktunya mendaki gunung Torao. Gunung yang ditumbuhi banyak pohon cemara ini jika dilihat dari kejauhan seperti ekor harimau. Pada kenyataannya, nama “Torao” memang berarti “ekor harimau.”

Saat duduk melakukan meditasi di sana, Funakoshi merasakan segarnya desir angin di sela-sela daun cemara. Hal itu menumbuhkan inspirasinya dengan membubuhkan stempel bertuliskan “shoto” di akhir syair yang ditulisnya. Arti “shoto” adalah bagaikan pohon cemara yang melambai. Kebiasaan membubuhkan stempel ini sebenarnya ditiru Funakoshi dari Azato yang selalu menuliskan “rinkakusai” di akhir tulisannya.






DEMONSTRASI KARATE YANG PERTAMA


Tahun 1901 menjadi tonggak bersejarah dalam dunia karate Okinawa karena berlatih di muka umum sudah tidak dilarang lagi. Peristiwa itu diawali tahun 1902 setelah Shintaro Ogawa, salah satu pejabat pendidikan dari Jepang hadir di Okinawa. Dia hadir untuk menyaksikan demonstrasi karate yang dilakukan oleh Yasutsune Itosu bersama murid-muridnya (termasuk Funakoshi).

Acara itu berjalan sukses. Ogawa agaknya terkesan dengan karate, karena setelah itu dia melayangkan laporan pada Menteri Pendidikan Jepang. Hasilnya karate kemudian dimasukkan sebagai pelajaran wajib di sekolah. Mulanya karate tidak berdiri sendiri karena termasuk dalam pendidikan jasmani.   

Sebagai bapak karate Okinawa, Itosu kemudian menjadi instruktur karate yang pertama di sekolah dasar Shuri Jinjo. Dilanjutkan dengan sekolah menengah Dai Ichi dan sekolah umum Okinawa di tahun 1905. Funakoshi juga banyak membantu Itosu sebagai wakil instruktur. Konon untuk mempermudah cara mengajarnya, Itosu memecah kata Kushanku menjadi lima kata Pinan.

Berkat kemampuan mediasi yang baik, seni menulis kaligrafi dan ilmu filsafat Cina, Funakoshi kemudian dipilih sebagai ketua Shobukai (Asosiasi Bela Diri Okinawa). Dengan posisi ini kelak akan membuka jalan bagi Funakoshi sebagai orang yang terpilih untuk mendemonstrasikan karate di Jepang.


Sebuah foto lama halaman depan Istana Shuri sebelum dihancurkan dalam Perang Dunia II. Foto diambil oleh Kamakura Yoshitarou. Sumber foto dari Japanfocus.  


Tahun 1912 Admiral Rokuro Yashiro dari angkatan laut Jepang datang ke Okinawa. Kunjungan Yashiro itu juga dipengaruhi surat Itosu tentang Tode Jukun (10 prinsip berlatih karate) untuk Menteri Pendidikan Jepang. Yashiro menyaksikan dari dekat demonstrasi karate yang dilakukan murid-murid Funakoshi di sekolah dasar. Tampaknya dia begitu puas dengan acara itu hingga awak kapalnya diperintahkan untuk belajar karate.

Sejak kunjungan Yashiro, Okinawa banyak disinggahi utusan dari kemiliteran Jepang. Beberapa dari mereka bahkan menetap untuk sementara di asrama-asrama sekolah. Kira-kira selama seminggu mereka belajar karate sebelum kembali ke Jepang.

Tahun 1914 sampai 1915 Funakoshi bersama ahli karate lainnya disibukkan dengan demonstrasi karate di seluruh Okinawa. Upaya ini dilakukan untuk mengikis pendapat masyarakat Okinawa yang masih memandang karate sebagai hal yang tidak boleh dipamerkan. Untuk keperluan itu Funakoshi membentuk kelompok sekitar 25 orang yang diantaranya adalah tokoh karate ternama antara lain: Kenwa Mabuni dan Chotoku Kyan.


KARATE MEMASUKI JEPANG


Impian terbesar Itosu adalah memperkenalkan karate keluar Okinawa agar bisa dipelajari banyak orang. Sayang sekali hal itu tidak terwujud karena tahun 1915 Itosu meninggal dunia. Funakoshi sangat sedih dengan kematian guru kesayangannya itu. Namun demikian dia bertekad untuk meneruskan cita-cita Itosu. 

Dua tahun kemudian kesempatan itu tiba. Tahun 1917 Dai Nippon Butokukai di Kyoto mengundang wakil Okinawa untuk turut serta dalam festival bela diri bertajuk “Butoku Sai” yang diadakan di aula Butokuden. Sebagai Asosiasi Bela Diri Jepang, Butokukai adalah pusat berkumpulnya berbagai bela diri Jepang, baik dari gaya lama maupun yang baru. Gichin Funakoshi dan Shinko Matayoshi (ahli kobudo) kemudian dipilih untuk acara itu.

Aula Butokuden saat ini. Tampak beberapa praktisi kendo sedang menempuh ujian tingkat. Foto berasal dari Wikipedia


Beberapa kalangan puas dengan demonstrasi Funakoshi, tapi tidak sedikit pula yang menanggapinya dingin. Hal itu karena orang Jepang lebih berminat dengan bela diri bersenjata khas Jepang seperti kendo dan iaido sebagai penerus gaya samurai. Alasan lain adalah pandangan miring publik Jepang pada wilayah Okinawa. Masyarakat Okinawa yang umumnya petani dan nelayan dianggap tidak sebanding dengan orang Jepang yang lebih maju.

Empat tahun setelah acara itu, Pangeran Hirohito yang dalam perjalanan ke Eropa singgah di dermaga Nakagushiku Okinawa. Kunjungan itu sebenarnya atas saran Norikazu Kanna, pejabat militer Jepang asal Okinawa yang juga ikut dalam lawatan itu. Di balai utama Istana Shuri sang pangeran menyaksikan demonstrasi karate dari Gichin Funakoshi, Chojun Miyagi dan Shinko Matayoshi.

Di luar dugaan, sang pangeran ternyata sangat menikmatinya. Funakoshi mengatakan bahwa selama di Okinawa sang pangeran terpesona dengan tiga hal, yaitu: pemandangan yang indah, aliran naga dari sumber mata air di Istana Shuri, dan yang terakhir karate. Belakangan berita kunjungan itu juga dimuat di banyak surat kabar Jepang. Hal itu membuat publik Jepang yang tidak tahu demonstrasi karate Funakoshi di Kyoto kian penasaran “apa sebenarnya karate itu?” (bersambung – Indoshotokan)

GICHIN FUNAKOSHI - LEBIH DEKAT DENGAN SANG MAESTRO (2)

Rambut ikat memang mempunyai arti yang istimewa. Saat Pemerintah Meiji berusaha menghapuskannya, sontak memicu kehebohan yang luar biasa. Bagi masyarakat Okinawa ini adalah keputusan paling gila dalam sejarah. Tentu saja, protes ini umumnya berasal dari kelompok bangsawan yang jelas-jelas akan kehilangan hak khusus mereka. Sebaliknya, masyarakat biasa justru mendukung kebijakan penghapusan tersebut.

Apapun alasannya, Funakoshi sudah gagal ujian. Namun dia tidak berkecil hati dan berusaha mencari jalan yang lain. Berbekal pelajaran filsafat Cina klasik dari kakeknya, Funakoshi berhasil diterima di sebuah sekolah dasar. Usianya ketika itu baru 20 tahun dan sebagai permulaan dia menjadi asisten guru.

Di tengah ramainya kontroversi akan rambut ikat, Funakoshi lalu memutuskan memangkas rambut ikatnya sendiri. Di luar kebutuhannya akan pekerjaan, Funakoshi sadar jika Okinawa saat ini membutuhkan perubahan. Sebuah perubahan jelas butuh pengorbanan dan keberanian. Bagi Funakoshi perubahan ini akan menjembatani Jepang menuju era yang lebih baik.

Funakoshi pulang ke rumah dan berniat memberitahu kedua orang tuanya tentang pekerjaan barunya. Bukannya gembira, ayah dan ibunya justru marah bukan kepalang melihat perubahan pada rambut anak mereka.

“Ayahku tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Apa yang sudah kau lakukan? Kau anak samurai!” Ayahku benar-benar marah. Ibu bahkan jauh lebih marah darinya dan menolak bicara denganku. Dia lalu pergi ke rumah orang tuanya lewat pintu belakang. Aku bisa membayangkan keributan konyol seperti ini pasti juga dialami banyak anak muda yang lainnya.” 

Sambutan yang tidak menggembirakan itu membuat Funakoshi terdiam. Meski tidak mampu berbuat banyak, dia tidak menyesal karena yakin tidak sendirian. Anak muda Okinawa lainnya yang ingin maju pasti mengalami masalah serupa. Funakoshi memantapkan hatinya menjalani pekerjaan sebagai seorang guru. Sebuah pekerjaan yang kelak ditekuni hingga tiga puluh tahun berikutnya.


MASA BEKERJA SEBAGAI SEORANG GURU

Saat itu guru di Okinawa dibedakan menjadi empat kelompok: yaitu yang mengajar di tingkat pertama, kedua, yang bertanggung jawab pada pelatihan khusus dan yang terbawah adalah asisten.

Tidak lama setelah bekerja sebagai asisten guru Funakoshi kemudian menikah. Mereka lalu tinggal di rumah orang tua istrinya. Istri Funakoshi (tidak pernah disebutkan namanya) juga pandai karate. Demi membantu suaminya memenuhi kebutuhan hidup, di siang hari dia bekerja di ladang, sedangkan malam harinya dia bekerja di pabrik tenun. Dalam buku Karate-do Nyumon Funakoshi juga menyebutkan jika istrinya adalah seorang mediator yang pandai.    

Beberapa waktu kemudian Funakoshi lulus ujian sebagai guru di tingkat paling dasar. Dia lalu dipindahkan ke Naha yang merupakan kota pelabuhan yang ramai. Karirnya terus meningkat hingga dipekerjakan sebagai guru di tingkat yang lebih tinggi. Namun demikian promosi guru menjadi lebih sulit karena persaingan kian ketat. Ini karena makin banyaknya lulusan yang masuk ke sekolah-sekolah di Okinawa.

Kepala sekolah lalu menyarankan Funakoshi agar bertugas di tempat lain. Tentunya dengan jabatan yang lebih tinggi sebagai kepala sekolah. Funakoshi menolaknya karena itu berarti dia akan berada di pulau yang terpencil. Mustahil baginya berlatih karate karena jauh dari gurunya yaitu Azato dan Itosu. 


MASA LATIHAN YANG MELELAHKAN

Di sela kesibukannya sebagai seorang guru, Funakoshi rajin mengunjungi rumah Azato. Karena di siang hari harus mengajar, maka latihan di rumah Azato selalu dilakukan malam hari. Biarpun sudah sangat berumur, Azato tidak pernah mengendurkan latihan untuk Funakoshi. Metode latihannya berat dan melelahkan. Dengan hanya ditemani sebuah lentera, dia terlihat serius mengamati setiap gerakan Funakoshi.

Azato selalu meminta Funakoshi mengulang gerakan kata miliknya berkali-kali. Sepintas hal itu sangat membosankan. Namun sebelum Azato benar-benar puas, Funakoshi tidak pernah berani memintanya mengajari gerakan kata yang baru.

“Setelah mengerjakan sebuah kata, aku akan menunggu keputusannya. Dia selalu berkata singkat. Jika tidak puas dengan gerakanku, dia akan berkata, “kerjakan lagi” atau, “sedikit lagi.” Begitu seringnya ulangi lagi, ulangi lagi dan ulangi lagi membuat keringatku mengucur deras dan nyaris membuat tubuhku roboh.”

“Mengerjakan kata berulang kali adalah cara Azato memberitahuku bahwa masih ada yang harus dipelajari. Jika merasa sudah puas, dia akan berkata singkat, “bagus!” Satu pujian itu adalah yang terbaik darinya. Sebelum bisa mendengar pujian itu aku tidak pernah berani memintanya mengajariku kata yang baru.”

Latihan biasanya berakhir sesaat sebelum fajar. Azato yang tadinya tegas akan berubah menjadi orang tua yang ramah. Mirip seperti seorang bapak pada anaknya. Dia akan menjelaskan esensi dari karate atau kadang bertanya tentang kehidupan Funakoshi sebagai guru.

Tidak berbeda dengan Azato, Funakoshi juga harus menjalani latihan yang berat dibawah Itosu. Bagaimana bentuk dan kapan latihan itu sayangnya tidak pernah ditulis Funakoshi dalam bukunya. Yang jelas, Funakoshi harus mengulang kelima kata Heian dan tiga kata Tekki sekitar sepuluh tahun lamanya. Hal itu tidak mengherankankan karena Itosu memegang prinsip “hito kata sannen” atau satu kata dikerjakan tiga tahun. (bersambung – Indoshotokan)  

GICHIN FUNAKOSHI - LEBIH DEKAT DENGAN SANG MAESTRO (1)

Praktisi karate mana yang tidak pernah mendengar nama Gichin Funakoshi? Benar, dia hanyalah seorang pria sederhana dan rendah hati yang berasal dari pulau terpencil Okinawa. Totalitas dalam karate dan kekuatan karakternya telah menjadikannya legenda. Tidak berlebihan jika Pemerintah Jepang lantas menganugerahinya gelar sebagai Bapak Karate Jepang.   

Hingga saat ini sebenarnya ada banyak tulisan yang menceritakan tentang Funakoshi. Sayangnya, tidak satupun yang secara lengkap menjelaskan perjalanan hidupnya. Bahkan di buku Karate-do: My Way of Life yang merupakan otobiografinya Funakoshi tidak bercerita secara utuh.   

Untuk pertama kalinya Indoshotokan menuliskan perjalanan hidup dari Gichin Funakoshi dalam format yang lebih lengkap. Seluruh tulisan dalam artikel ini diambil dan diteliti dari banyak sumber. Lewat tulisan ini Indoshotokan berharap pembaca dapat mengenal lebih dalam dan mengambil pelajaran dari sang maestro. Selamat membaca.    


AWAL KELAHIRAN

Gichin Funakoshi lahir di Yamakawa, Prefektur Shuri, Okinawa tanggal 10 November 1868. Keluarga Funakoshi masih keturunan dari salah satu bangsawan yang terpelajar di Okinawa. Kakek Funakoshi adalah guru dari anak perempuan kepala desa setempat saat itu. Berkat pekerjaannya itu, kakek Funakoshi dihadiahi sebidang tanah yang cukup luas.

Dengan status sosialnya itu keluarga Funakoshi seharusnya bisa hidup layak. Tapi sayangnya hal itu tidak terjadi. Ini karena Gisu, ayah Funakoshi, adalah seorang pemabuk berat yang gemar menghabiskan harta keluarga.

Funakoshi lahir sebagai anak yang bertubuh lemah. Kedua orang tuanya sadar jika mereka tidak melakukan sesuatu, maka umur Funakoshi tidak akan panjang. Melihat ekonomi keluarga yang tidak menggembirakan, membuat orang tua Funakoshi kemudian menitipkan anak mereka pada kakek dan neneknya.

Funakoshi sangat disayangi oleh kakek dan neneknya. Selain mendapatkan hidup yang lebih baik, Funakoshi juga belajar ilmu filsafat Konfusianis dari kakeknya. Sebuah pelajaran filsafat kuno yang penting untuk anak-anak dari golongan Shizoku. Ilmu yang dipelajari itu memang tidak gampang, namun kelak akan berguna membantu pekerjaan Funakoshi.

Saat itu masyarakat Okinawa terbagi menjadi dua kelas. Yang pertama adalah Shizoku yang sekelas bangsawan dengan beberapa hak khusus. Golongan ini masih dibagi dua, yaitu Udon sebagai yang tertinggi (sama dengan daimyo atau gubernur di Jepang) dan Tonochi yang merupakan keturunan dari pemimpin sebuah desa atau kota.

Kelas kedua setelah Shizoku adalah golongan Heimin yang berasal dari rakyat jelata. Mereka tidak punya hak khusus dan biasanya bekerja sebagai petani dan nelayan. Karena perbedaan yang sangat jauh sering menimbulkan kecemburuan sosial antara kedua kelas tersebut.


PERJUMPAAN DENGAN SANG GURU

Ketika masuk ke sekolah dasar Funakoshi berteman baik dengan anak laki-laki Yasutsune Azato. Tentu saja hal itu bukan kebetulan, karena akan mempengaruhi perjalanan hidup Funakoshi berikutnya. Belakangan atas rekomendasi dokter bernama Tokashiki, Funakoshi dibawa oleh kedua orang tuanya bertemu dengan Azato. Mereka berharap dengan belajar karate pada Azato akan memperbaiki kesehatan Funakoshi.

Yasutsune Azato mempunyai kedudukan penting dan sangat dihormati penduduk Okinawa. Sebagai seorang kepala militer di Okinawa membuatnya disegani bahkan oleh para daimyo di Jepang. Analisis politiknya juga tajam berkat kedekatannya dengan banyak politikus. Tidak berhenti sampai disitu, Azato juga dikenal sebagai sosok terpelajar yang juga pandai banyak ilmu bela diri seperti karate, memanah, ilmu pedang dan menunggang kuda.

Biarpun begitu, Azato tidak gampang menerima murid. Ini karena Azato menganggap bela diri adalah bela diri, bukan untuk olah raga apalagi pertunjukan. Azato akan menurunkan ilmunya hanya pada orang yang dianggapnya tepat. Dan memang dalam sejarah karate manapun tidak pernah tercatat jika Azato punya murid selain Gichin Funakoshi. Diterimanya Funakoshi menjadi murid Azato adalah sebuah keberuntungan dan takdir yang luar biasa.

Seperti orang tua pada umumnya yang kerepotan menyuruh anaknya belajar, maka begitu pula dengan Azato. Pelajaran filsafat Cina memang sulit dan membosankan, wajar jika anak Azato bermalas-malasan. Tapi untunglah ada Funakoshi yang menjadi teman bermainnya di sekolah. Azato mungkin pejabat terkenal, tapi dia tidak sungkan meminta bantuan Funakoshi untuk mengajari anaknya. Permintaan itu disanggupi oleh Funakoshi, apalagi dia juga sudah menganggap Azato seperti ayah kedua baginya.

Sebuah foto latihan karate di depan Istana Shuri sekitar tahun 1937-an dengan instruktur Shinpan Shiraoma (foto dari Wikipedia)


Perkenalan dengan Azato membawa Funakoshi pada keberuntungan yang lain. Dia bertemu dengan guru hebat lainnya yaitu Yasutsune Itosu. Pria tangguh ini menyandang gelar “meijin,” yang berarti tak terkalahkan. Baik Azato dan Itosu adalah sahabat dekat dan sudah terkenal sebagai “pasangan emas” di Okinawa berkat kekuatannya. Namun diluar kesamaan nama depannya, gaya bela diri Azato (Shorei-ryu)  berlawanan dengan Itosu (Shorin-ryu).  

Ketika Funakoshi masih anak-anak, latihan karate dilarang keras oleh pemerintah. Orang yang berani melanggar akan ditangkap dengan tuduhan melanggar hukum. Begitu ketatnya aturan itu hingga orang membicarakan karate di muka umum saja tidak berani. Akibatnya dojo karate jumlahnya sedikit dan latihan harus dilakukan malam hari dengan sembunyi-sembunyi.

Berlakunya hukum tersebut sebenarnya adalah imbas dari kejadian di masa lalu. Setelah Okinawa dijajah kaum samurai, para penduduk dilarang memegang senjata. Mereka lalu mengembangkan bela diri tangan kosong sebagai alat pertahanan diri. Berpuluh-puluh tahun kemudian setelah kaum samurai hengkang dari Okinawa, aturan seperti itu masih saja dipertahankan. 


KEGAGALAN YANG PERTAMA

Memasuki usia remaja, Funakoshi mencoba mengikuti ujian masuk ke sekolah kedokteran di Tokyo. Pemerintah Meiji saat itu menetapkan bahwa hanya mereka yang lahir tahun 1870 dan sesudahnya yang bisa mengikuti ujian. Meski karate sangat berarti baginya, Funakoshi tidak ingin menggunakannya sebagai pekerjaan. Demi mengikuti ujian itu Funakoshi lantas memalsukan catatan kelahirannya. Tapi sayang, dia harus gagal dalam ujian itu. 

Kegagalan itu sebenarnya bukan karena nilai Funakoshi tidak cukup. Saat itu laki-laki Okinawa dengan rambut ikat ala samurai dilarang ikut ujian. Bagi masyarakat Okinawa rambut ikat adalah simbol keberanian dan kejantanan. Tapi bagi pemerintah Jepang hal itu adalah simbol feodalisme. Karena Jepang masih dalam masa Restorasi Meiji, maka mereka berusaha menghapuskan segala hal yang dianggap kolot. (bersambung – Indoshotokan).   


REVIEW J-MOVIE - ICHI (2008)

Legenda samurai Jepang sepertinya tidak pernah sepi untuk diceritakan. Sukses Akira Kurosawa dengan Shichinin no Samurai (Seven Samurai, 1954) banyak diikuti oleh film bergenre serupa. Salah satunya yang fenomenal adalah Zatoichi yang dibuat dalam 26 film berbeda yang diproduksi antara tahun 1962 sampai 1989. Versi remake Zatoichi dibuat kembali tahun 2003 dibawah arahan sutradara veteran Takeshi Kitano.

Tahun 2008 sang samurai buta Zatoichi kembali ke layar lebar. Namun kali ini hadir dengan format berbeda karena si cantik Haruka Ayase yang mengisi peran utamanya. Film bergenre drama aksi ini disutradarai oleh Fumihiko Sori dan masih berdasarkan novel asli Zatoichi. Dengan dukungan cerita yang apik dan koreografi khas ala samurai, membuat film ini masuk daftar wajib ditonton.





SINOPSIS

Siapa sebenarnya Ichi? Dia adalah seorang gadis yatim piatu yang tengah mencari gurunya yaitu Zatoichi. Jauh sebelumnya, Ichi terlahir dalam keadaan buta dan ditolong oleh seorang samurai buta legendaris bernama Zatoichi. Oleh Zatoichi dia dititipkan di sebuah kelompok Goze (perkumpulan pemain shamisen yang seluruh anggotanya wanita). Tanpa sepengetahuan anggota Goze lainnya, Zatoichi diam-diam selalu mendatangi Ichi untuk mengajarinya ilmu pedang.

Seiring berjalannya tahun, Ichi tumbuh dewasa menjadi seorang wanita yang cantik sekaligus pandai bermain shamisen. Suatu hari setelah sebuah pementasan, Ichi diperkosa oleh anak pemimpin kelompok Goze yang terpikat oleh kecantikannya. Dalam dunia Goze, anggota wanita dilarang keras untuk tidur dengan pria lain apalagi sampai menikah. Mereka yang melanggar aturan itu akan diusir dari perkumpulan.


Ichi lalu mendatangi laki-laki yang telah memperkosanya. Dia meminta laki-laki itu berbicara pada pemimpin Goze, agar dengan begitu Ichi dapat diterima kembali di kelompoknya. Bukannya menuruti, laki-laki itu justru mengejek dan berusaha kembali menyerangnya. Ichi mencabut pedangnya yang selama ini tersembunyi dalam tongkatnya dan membunuh pria itu. Karena mustahil kembali ke perkumpulan, Ichi berkelana dari satu kota ke kota lain dengan temannya dari Goze yang sebelumnya dikeluarkan karena bekerja sebagai pelacur.

Di sebuah perjalanan Ichi dan temannya diganggu oleh segerombolan perampok paling ditakuti yaitu Banki-to. Tidak sengaja ada laki-laki samurai bernama Toma Fujihira yang melihat kejadian itu. Meski seorang samurai, Toma adalah penakut. Mencabut pedangpun dia tidak mampu. Karena itu untuk menolong Ichi dan temannya dia memberikan uangnya pada perampok itu. Tapi para perampok itu tetap saja menyerang Ichi. Akhirnya Ichi sendirilah yang menghabisi mereka. Setelah itu Ichi berpisah dengan temannya demi mencari Zatoichi bersama Toma yang ingin mengikutinya.

Suatu ketika Toma dan Ichi tiba di kota kecil Bito. Disana mereka mendapatkan teman baru yaitu seorang anak bernama Kotaro yang tinggal bersama ayahnya yang pemabuk. Kota Bito dikuasai oleh Toraji yang merupakan anak dari kelompok mafia bernama Shirakawa. Kota tersebut tidak aman karena sering diganggu kelompok Banki-to. Baru saja Ichi dan Toma masuk kesana sudah diganggu lima anggota Banki-to. Tapi semuanya berhasil dibunuh oleh Ichi.


Toraji yang datang melihat kejadian itu mengira Toma-lah yang menghabisi mereka. Dia lalu menawari Toma agar mau menjadi pengawal pribadinya. Mendengar upahnya yang besar, Tomapun bersedia. Sedangkan Ichi diingatkan oleh Kotaro dan ayahnya agar ingat tujuan semula untuk mencari Zatoichi.     

Suatu ketika Ichi dan Toma berselisih paham. Toma tidak mengerti sikap Ichi yang tidak mau bekerja pada Toraji dan menolong penduduk dari ancaman Banki-to. Merasa jengkel, Toma menantang Ichi dalam duel pedang. Agar tidak berbahaya, mereka memakai pedang kayu. Diluar dugaan Toma ternyata mampu mengalahkan Ichi. Toma sebenarnya memang samurai hebat, namun di masa lalu dia membuat ibunya buta. Hal itu membuatnya terus merasa bersalah.

Sementara itu Toraji merasa aman dengan adanya Toma. Dia lalu menggelar pertunjukan untuk menyenangkan rakyatnya. Tiba-tiba gerombolan Banki-to datang dan mengacaukan acara itu. Mereka ingin menuntut balas atas kematian beberapa anggotanya. Toma berusaha menghadapinya, tapi karena masih trauma dengan pedang, dia dipukul sampai pingsan.

Toma kemudian dibawa ke markas Banki-to. Ichi datang kesana dan mengaku bahwa dialah yang sebenarnya membunuh anggota Banki-to tempo hari. Mulanya mereka tidak percaya karena melihat Ichi hanyalah wanita buta. Tapi setelah Ichi menunjukkan kehebatannya, barulah mereka yakin. Ichi kemudian dibawa ke markas Banki-to untuk bertemu dengan pemimpin mereka, yaitu Banki. Disana Ichi berduel dengan Banki, namun terluka dan kalah. Sebelum melemparkannya ke penjara, Banki mengaku dialah yang telah membunuh orang tua Ichi.


Nasib Toma tidak lebih baik. Dia dipukuli oleh anggota Shirakawa karena dianggap telah menipu. Tapi Toraji mengatakan jika Toma masih dibutuhkan untuk mengalahkan Banki-to. Toma kemudian bertemu kembali dengan Kotaro dan ayahnya. Mereka lalu menyusup ke gunung dan berhasil membebaskan Ichi. Melihat tawanannya lolos, Banki marah besar dan akan menyerang kota Bito. Para penduduk tidak gentar. Dengan pedang di tangan mereka siap mempertahankan diri.

Ichi yang masih memulihkan lukanya mengaku mencari Zatoichi untuk menemuinya yang terakhir kali sebelum melakukan bunuh diri. Untungnya Toma berhasil meyakinkan Ichi untuk mengurungkan niatnya itu. Ketika Ichi sedang tidur, diam-diam Toma meninggalkannya dan menuju ke Shirakawa untuk bertarung dengan gerombolan Banki-to. Ketika terbangun, Kotaro menceritakan apa yang terjadi

Jumlah kawanan Banki-to dua kali lipat lebih banyak dari Shirakawa. Korban berjatuhan di kedua pihak hingga tersisa beberapa orang saja. Untuk menentukan pemenang, maka kedua pemimpin harus berduel. Toma masih saja takut mencabut pedangnya. Ketika Banki memintanya maju untuk duel, Toma bersedia demi menggantikan Toraji. Dia berhasil mengatasi rasa takutnya dan membuktikan diri sebagai samurai yang hebat.


Toma dan Banki ternyata sama tangguhnya. Mereka berdua akhirnya roboh setelah sama-sama tertusuk pedang lawan. Ichi yang datang terlambat menemukan Toma sudah terluka parah. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Toma berpesan agar Ichi tidak kehilangan harapan. 

Sementara itu Banki berusaha bangkit dan menyerang kembali. Ichi mencabut pedangnya dan memberikan satu serangan terakhir. Sang pemimpin perampok akhirnya tewas dan Ichipun berhasil membalas kematian orang tuanya. Merasa ketakutan, anggota Banki-to yang tersisa kemudian melarikan diri.

Kini kota Bito telah aman. Toraji membangun kembali kota dan meneruskan posisi sebagai kepala Yakuza. Sementara itu Ichi memainkan lagu kesukaan Toma untuk terakhir kalinya. Bersama-sama dengan Kotaro, mereka menguburkan jasad Toma. Ichi berniat melanjutkan perjalanannya mencari Zatoichi. Sebelum berpisah dia memberikan lonceng kecil pada Kotaro sebagai tanda mata dan berkata jika Kotaro akan baik-baik saja. Merekapun kemudian berpisah. 


IMPRESI AKHIR

Sebagai film yang menampilkan Zatoichi versi wanita, Ichi tampil memuaskan baik untuk laga dan alur ceritanya. Pertarungan dalam film berlangsung cepat dan minim efek. Film ini memberikan pelajaran betapa pentingnya sikap all-out atau berusaha yang terbaik. Ragu-ragu atau takut (diwakili oleh Toma) dan putus asa (ditunjukkan oleh Ichi) tidak akan membawa perubahan yang lebih baik. Sebaliknya, justru akan membawa kerugian dengan jatuhnya korban yang tidak bersalah.

Sudah bosan dengan genre komedi atau romance? Ichi bisa menjadi alternatif yang bagus. Filmnya boleh jadi sudah agak lama, tapi bukan berarti tidak menarik, khan? So, selamat menonton (Indoshotokan)  

KARATE BAGI SEMUA ORANG

Salah satu kelebihan yang menonjol dari karate adalah dapat dilakukan oleh siapapun, tua, muda, kuat, lemah, laki-laki atau perempuan. Lebih jauh, seseorang bahkan tidak perlu lawan untuk tujuan berlatih. Seiring dengan meningkatnya proses belajar, tentu saja, seorang lawan dibutuhkan untuk berlatih tanding (kumite) dan bertanding bebas (jiyu kumite). Tapi lawan yang sebenarnya untuk permulaan tidaklah diperlukan.

Hal yang sama berlaku untuk pakaian/kostum khusus. Bahkan sebuah dojo sebenarnya tidak dibutuhkan. Seseorang dapat berlatih di halaman rumahnya. Tentu saja, mereka yang bertujuan menguasai bermacam-macam kata harus melakukannya di dojo yang sesuai. Tapi bagi mereka yang ingin tetap sehat, melatih pikiran dan jiwanya, maka berlatih karate sendiri adalah sudah cukup.
   
Karena beragam alasan inilah, maka kita hari ini dapat melihat lebih banyak wanita berlatih karate daripada sebelumnya. Kupikir ini sama-sama menguntungkan baik untuk para wanita dan karate-do itu sendiri. Tapi jika ada mahasiswi yang berlatih karate menyembunyikannya (admin: dari masyarakat), kupikir kita yang bertanggung jawab atas pemberitaan itu juga mesti bertanggung jawab atas gagasan bahwa karate hanya boleh dikerjakan kaum pria.

Tetapi walau masyarakat berpikir buruk tentang wanita yang memilih belajar karate, para wanita itu sendiri – seperti halnya pria – menemukan karate sebagai hal yang menarik. Menurutku ada satu sebabnya, yaitu karate mempunyai gerakan yang anggun, tapi tidak seperti yang digunakan dalam berbagai tarian.

Di televisi sekarang kita bisa melihat apa yang disebut sebagai “senam kecantikan” untuk wanita. Dan menyaksikan acara itu, aku sempat berpikir betapa efektifnya kata karate kita untuk tujuan itu. Apalagi sejak gerakan kata bisa dikerjakan dimana saja.

Sering aku ditanya, apakah seorang wanita yang belajar karate tidak akan mendominasi suaminya setelah menikah. Kenyataannya justru sebaliknya. Aku akan mengatakan bahwa seorang istri yang sudah terlatih dalam karate justru akan berusaha mematuhi suaminya. Ini karena karate dimulai dan diakhiri dengan sopan santun. Seorang istri yang sudah mengikuti karate-do tidak akan bermimpi mencoba menang dari suaminya.

Kita tahu betul jika karate dapat memperbaiki kondisi para gadis dan wanita muda. Begitu banyak orang tua yang membawa anak mereka padaku untuk diajari karate. Di banyak kesempatan, aku menerima anak-anak perempuan yang lemah fisiknya sebagai murid dan melihat mereka pulih dari sakitnya setelah kira-kira enam bulan latihan. Tapi karate tampaknya begitu bermanfaat, hingga tidak ada keinginan dari mereka untuk berhenti.  

Ada juga fakta tak terbantahkan bahwa seorang wanita dengan beberapa pengetahuan karate dapat membela diri melawan penyerang yang lebih kuat. Namun demikian, pada titik ini aku ingin menegaskan bahwa karate bukanlah – dan tidak akan pernah – sebagai bentuk pertahanan diri yang brutal.

Sebaliknya, siapapun yang benar-benar telah menguasai karate akan menjaga dirinya dengan tidak menjerumuskan diri ke tempat-tempat berbahaya yang memaksanya menggunakan seni tersebut. Sama seperti pria terlatih karate yang menghindari kekerasan, begitu juga dengan wanita yang tidak akan menempatkan dirinya dalam situasi dimana dia harus mengatasi penyerangnya.

Satu hal yang sering kukatakan pada murid-muridku yang masih muda seringkali membuat mereka kebingungan, “Kalian tidak boleh menjadi kuat, namun menjadi yang lemah.” Mereka lalu bertanya apa arti perkataanku, karena alasan mereka memilih karate adalah untuk menjadi kuat. Mereka berkata sangat sulit berlatih untuk menjadi lemah.

Aku mengulang kembali bahwa apa yang kukatakan memang benar-benar sulit dipahami. “Aku ingin kalian menemukan jawabannya dalam diri kalian masing-masing. Dan aku berjanji pada saatnya nanti kalian benar-benar akan mengerti apa yang kumaksud.”

Aku percaya hal itu akan terjadi. Aku yakin jika semua anak muda berlatih karate sepenuh hati dan jiwanya, mereka kelak akan memahami kata-kataku. Dia yang mengetahui kelemahan dirinya sendiri, akan mampu mengendalikan diri dalam berbagai situasi. Hanya mereka yang benar-benar lemahlah yang sanggup mencapai keberanian yang sejati. Tentu saja, orang yang benar-benar pandai karate lewat latihan harus senantiasa memperbaiki tekniknya demi mengetahui kelemahan dirinya sendiri.

Artikel ini berjudul asli “Karate for Everyone” dari buku “Karate-do My Way of Life” yang ditulis Gichin Funakoshi. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

REVIEW J-DORAMA – PRICELESS ~ ARU WAKE NEDARO,N NAMON! (2012)


Apa jadinya jika kehidupan sobat berbalik 180 derajat? Sulit membayangkan jika kemarin kita kaya tapi besok tiba-tiba jatuh miskin, bukan? Paling tidak itulah yang terjadi dalam dorama terbaru Fuji TV yang berjudul “PRICELESS ~ Aru Wake Nedaro,n namon!” Dorama yang dibintangi aktor tampan Takuya Kimura ini ditayangkan oleh Fuji TV sejak 22 Oktober 2012 di Jepang. 

Kisah dibuka dengan seorang direktur dari sebuah perusahaan ternama yang terbaring lemah di rumah sakit. Merasa umurnya sudah tidak lama lagi, dia memanggil salah satu anaknya yang bernama Oyashiki. Di depan beberapa pegawai yang turut mendampinginya, sang direktur membisikkan beberapa patah kata ke telinga anaknya. Tidak lama kemudian pria tua itu meninggal. Sang anak terkejut dengan wasiat terakhir ayahnya, “Mengapa harus Fumio Kindaichi?”  

Berikutnya penonton akan diperkenalkan dengan sang pria misterius. Kindaichi (Takuya Kimura) adalah seorang pegawai kantoran yang sukses. Dia sangat populer di kantor karena mampu menyelesaikan masalah-masalah perusahaan. Sifatnya periang dan suka menolong yang membuatnya disukai rekan sekerja. Tidak hanya karir yang cermelang, Kindaichi mempunyai pacar yang baru pula. Pendeknya, bagi Kindaichi life is good.

Tanpa sepengetahuan Kindaichi, ada orang di kantor yang bersekongkol untuk menyingkirkannya. Mereka membuat Kindaichi dituduh mencuri informasi perusahaan. Dia dipecat dari perusahaan dengan tidak hormat. Teman sekantor yang awalnya suka kini berubah membencinya. Bahkan Kindaichi sempat memukul seorang teman karena tidak tahan dengan caranya memandang. Akibatnya dia harus menginap di sel tahanan polisi, namun tidak berapa lama kemudian dia dibebaskan.


Kindaichi pulang ke apartemennya. Namun kesialannya belum berhenti. Apartemennya meledak di depan mata kepalanya sendiri! Jadi, selain 30 yen di rekening bank-nya Kindaichi yang malang sudah tidak punya apa-apa lagi. Siapa yang tega melakukan semua ini? Tidak lain adalah saudara tirinya yaitu Oyashiki yang tidak ingin perusahaan dipegang oleh Kindaichi.

Sempat kesana kemari tanpa tujuan, suatu ketika Kindaichi bertemu dua anak kecil yang menangis karena kehilangan tiket keretanya. Kindaichi lalu memberikan 500 yen dari sakunya. Belakangan dia menemukan kalau kedua anak itu hanya berpura-pura. Karena tidak punya uang lagi, Kindaichi ingin meminta kembali uang 500 yen-nya. Namanya anak kecil, tentu saja mereka menolaknya. Tapi dari sanalah Kindaichi menemukan jawaban atas semua kesulitannya.

Kedua anak yang lucu itu menunjukkan pada Kindaichi tempat dimana bisa mandi dan mendapatkan makanan gratis di taman. Mereka juga mengajarinya cara mencari uang di jalanan dengan cara yang unik. Kindaichi mungkin pandai berbisnis, namun dia tidak tahu cara bertahan hidup di jalanan. Intinya, daripada memberi ikan setiap hari, kedua anak itu lebih suka mengajarinya memancing.

Karena tidak punya rumah, Kindachi dibawa oleh kedua anak tadi ke apartemen milik nenek mereka. Sewanya sangat murah, hanya 500 yen per-hari. Tapi dengan keadaannya saat itu rasanya sulit dipenuhi oleh Kindaichi. Di episode awal diperlihatkan bagaimana Kindaichi yang begitu mudahnya menghamburkan uang untuk barang yang tidak perlu. Pada akhirnya dia sadar betapa beratnya menghasilkan 500 yen untuk terus bertahan hidup.


Priceless adalah sebuah dorama komedi ringan yang menghangatkan hati. Karakter utama Fumio Kindaichi digambarkan sebagai orang yang optimis. Dia berusaha melanjutkan hidupnya lagi meski sudah mendapat musibah dan perlakuan buruk. Tidak ada niat darinya untuk membalas dendam pada Oyashiki. Daripada melakukan hal yang menghancurkan, dia memilih membalas Oyashiki dengan jalan menjadi orang yang lebih sukses dari sebelumnya.

Kindaichi boleh saja telah kehilangan seluruh teman dan hartanya, namun dia masih orang yang sama: perhatian dan suka menolong. Saat tidak punya tempat tinggal hingga harus tertidur di taman, ada orang tua yang menutupinya dengan kertas kardus. Di episode berikutnya orang tua tersebut jatuh sakit. Kindaichi menolongnya dengan obat dan makanan.

Di tengah kesulitan yang menghimpitnya, Kindaichi tidak menyerah pada keadaan. Dia juga tidak lupa untuk melakukan kebaikan. Sebagai balasan atas karma baiknya, dimanapun Kindaichi berada selalu ada yang membantunya. Belakangan apa yang dilakukan oleh Kindaichi ini justru membuat kagum orang-orang yang pernah dekat dengannya seperti mantan bos dan rekan sekerja. Dari sini dapat ditebak jika dorama ini akan berakhir dengan happy ending.

Impresi akhir? Dorama ini sebaiknya ditonton, terutama jika sobat adalah fans Takuya Kimura. Ceritanya memang simpel dan disisipi komedi ringan, tapi justru disitulah kelebihannya. Omong-omong soal ending, jika sobat tidak suka dorama dengan sad ending, maka jangan khawatir. Meskipun apartemen Kindaichi sudah terbakar habis, dorama ini akan memberikan akhir yang menyenangkan. Tapi bagi penggemar genre romance, dorama ini tidak begitu disarankan. So, selamat menonton (Indoshotokan).