Custom Search

KONTEN DILINDUNGI HAK CIPTA. DILARANG KERAS MENJIPLAK, MENGEDIT DAN MEMPERBANYAK SEBAGIAN ATAU SELURUH HALAMAN SITUS INI TANPA IJIN.

NILAI DARI KARATE: SEBAGAI CARA UNTUK MEMBELA DIRI

Hampir semua makhluk hidup mempunyai cara untuk mempertahankan diri, karena jika hal ini tidak ada, maka yang lemah akan dihancurkan dan punah dalam usahanya untuk bertahan hidup. Gigi taring harimau dan singa, cakar burung elang dan garuda, sengatan beracun kalajengking dan lebah, duri mawar dan tanaman Benggala (admin: sejenis tanaman pir yang beracun); tidakkah semua ini adalah persiapan untuk mempertahankan diri? Jika mamalia yang lebih kecil, burung, serangga dan tanaman masing-masing punya kemampuan khusus, tidakkah manusia sebagai makhluk yang bisa berkarya juga mempunyai kemampuan serupa?

Jawaban atas pertanyaan ini ada pada perkataan: Kita tidak boleh bermaksud menyakiti orang lain, tapi kita juga harus menjauhkan diri dari bahaya. Untuk melindungi diri, seseorang harus menemukan cara kekuatan yang lemah bisa mempertahankan diri sendiri dari lawan yang lebih kuat. Kekuatan karate saat ini sudah terkenal keampuhannya untuk mematahkan papan atau meremukkan batu tanpa alat. Dan tidaklah berlebihan untuk menegaskan bahwa orang yang terlatih dengan baik dalam bela diri ini, telah mengubah semua tubuhnya menjadi senjata dengan daya serang yang menakjubkan.

Akhirnya, walaupun karate juga mempunyai teknik bantingan, hal itu masih bergantung pada teknik pukulan, tendangan dan dorongan. Gerakan-gerakan ini lebih cepat dan bisa luput dari mata yang tidak terlatih. Jika kombinasi menahan serangan dilakukan bersamaan, maka orang yang lebih lemah, wanita dan anak-anak muda punya cukup kekuatan menghadapi lawan yang lebih kuat. Singkatnya, keuntungan karate sebagai cara untuk membela diri adalah; tidak membutuhkan senjata; orang tua, orang sakit atau wanita bisa melakukannya; orang bisa efektif mempertahankan diri sendiri meski dengan sedikit kekuatan. Hal-hal inilah yang membuat karate sebagai sebuah bela diri yang tangguh. (Indoshotokan)

Artikel ini dikutip dan diterjemahkan dari buku “Karate-Do Kyohan: The Master Text” yang ditulis oleh Gichin Funakoshi dengan judul aslinya “The Value of Karate – As Self-Defense”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

REVIEW J-DORAMA: JISHAKU OTOKO


“Di dunia ini manusia dibagi menjadi dua kelompok, utara dan selatan. Mirip seperti sebuah magnet, ketika dua orang yang berlawanan ini dipertemukan mereka akan tertarik satu sama lain.”

Oba Sosuke adalah seorang petani eksentrik yang gemar menanam sayuran dan mendengarkan musik klasik. Dia mempunyai lahan pertanian yang luas dan punya banyak pegawai. Sosuke sangat teliti dan bisa mengetahui karakter seseorang meskipun orang itu menyembunyikannya. Walau begitu, sifatnya aneh dan dia juga punya lidah yang lumayan tajam. Bicaranya ceplas ceplos dan jika ada orang yang berpura-pura dihadapannya, Sosuke tidak sungkan-sungkan “menelanjangi” orang itu dengan omongannya.

Di luar karakternya yang unik itu Sosuke mempunyai sebuah kelebihan, yaitu pandai mencomblangi mereka yang ingin menikah. Bagaimana caranya? Dia membagi tiap orang menjadi dua kelompok layaknya magnet yang punya dua kutub, yaitu utara dan selatan. Menurutnya jika dua orang yang berbeda kutub dipertemukan mereka akan cocok. Tapi jika orang dari kutub yang sama dipertemukan mereka tidak akan cocok. Teori Sosuke memang unik tapi boleh juga. Yang jelas, lahan pertaniannya menjadi terkenal sebagai tempat untuk menemukan jodoh dan bahkan pasangan menikah.    


Sementara itu Kohinata Shion, seorang konsultan jodoh, menerima kontrak kerja dengan mantan seniornya di universitas dulu, yaitu Himura Kotaro. Kotaro ingin menjalin kontrak ekslusif dengan Sosuke dengan membuat acara bertema pertanian untuk tujuan perjodohan. Shion dipilih karena dirasa cocok untuk acara itu. Shion sebenarnya adalah wanita yang menarik. Tapi di usianya yang sudah 30 tahun jangankan kekasih, dia belum ada rencana untuk menikah. Diam-diam dia sudah lama menyukai Kotaro, dan demi membuat seniornya itu terkesan dia menerima kerjasama itu. Tapi tanpa diketahui Shion, Sosuke dengan omongan pedasnya sudah menunggu.

Jishaku Otoko yang berarti “Pria yang Menjodohkan” adalah sebuah film dorama komedi romantis yang tayang bulan Juni 2014 lalu di Jepang. Dorama ini adalah tanpatsu, yang berarti hanya satu episode saja. Jika sobat mencari cerita yang serius, maka jangan menonton dorama ini karena didalamnya banyak berisi humor para tokoh dengan kebiasaan lucunya. Contohnya adalah Shion yang wanita idealis, suka pria mapan, ganteng dan atletis. Shion sebetulnya tipikal wanita perkotaan yang enggan berkotor ria. Tapi dia mau bertahan di pertanian karena sapi kesayangan Sosuke menyukainya.


Oba Sosuke mungkin orang yang menjengkelkan, tapi di satu sisi dia orang yang fleksibel untuk urusan jodoh. Itulah sebabnya dia dianggap brilian dalam menjodohkan orang. Sementara itu, Shion memang wanita baik, sopan dan jaga image. Tapi pandangannya tentang sosok pria ideal membuatnya sulit mendapat jodoh. Pertemuan dengan Sosuke membuat Shion belajar bahwa orang boleh saja punya cita-cita, tapi ketika sudah bertemu kenyataan maka dia harus bisa menyesuaikan.   

Jishaku Otoko sepertinya menyindir gaya hidup orang Jepang moderen yang sibuk bekerja keras hingga menomor duakan urusan jodoh. Tapi karena dikemas dalam cerita yang menarik, membuat penonton akan terhibur. Singkat kata, dorama ini wajib untuk ditonton. (Indoshotokan)

REVIEW J-MOVIE: ALL-ROUND APPRAISER Q: THE EYES OF MONA LISA

Lukisan Monalisa karya seniman Renaissance Leonardo da Vinci memang fenomenal. Saking banyaknya misteri, banyak novel dan film yang mengambilnya sebagai background film. Sebut saja Monalisa Smile (2003) yang ingin menguak arti senyuman Monalisa dalam lukisan. Yang lebih gila barangkali adalah The Da Vinci Code (2006) yang kontroversial karena menduga ada kode rahasia di dalam lukisan itu. Karena dianggap memberikan banyak fakta yang berani tapi tidak akurat, The Da Vinci Code menuai kritikan tajam dari kalangan Kristiani dan gereja. Tapi toh, film dan novelnya tetap saja laris di pasaran.

Nah, di bulan Mei tahun 2014 lalu misteri lukisan Monalisa kembali diangkat ke layar kaca oleh sutradara Jepang Shinsuke Sato. Film berjudul All-Round Appraiser Q: Eyes of the Mona Lisa (Jepang: Bannou Kanteishi Q Monariza no Hitomi) ini memasang aktris cantik Haruka Ayase sebagai tokoh utamanya. Tidak tanggung-tanggung, film ini berdasarkan novel misteri laris karya Keisuke Matsuoka.  

Riko Rinda (diperankan Haruka Ayase) adalah seorang juru taksir barang-barang seni dengan kemampuan yang ajaib. Riko bukan anak yang pandai saat di sekolah, tapi dia mempunyai ingatan yang kuat. Julukannya adalah “Q sang juru taksir serba bisa” yang menawarkan jasa untuk menilai barang antik dan artifak. Berkat kekuatan analisa dan naluri yang tajam ala Sherlock Holmes membuatnya berhasil menggagalkan upaya perampokan berlian super mahal milik kliennya.


Sebagai ungkapan terima kasih, Asahina Naoyuki (diperankan Murakami Hiroaki) sang pemilik galeri mengundang Riko ke Paris untuk ambil bagian dalam kontes antar juru taksir internasional. Sang pemenang akan dipilih sebagai kurator sementara untuk mengawal lukisan Monalisa yang akan dipamerkan ke Jepang. Pameran itu sangat besar artinya karena bertepatan 40 tahun lukisan karya Leonardo da Vinci itu datang ke Jepang. Sementara itu seorang reporter bernama Yuto Ogasawara (diperankan Tori Matsuzaka) merasa kagum dengan kemampuan yang dimiliki Riko. Dia mengikuti Riko ke Paris untuk menulis cerita tentang dirinya.

Sampai di Paris, Riko harus bersaing dengan juru taksir lain yang tidak kalah hebatnya. Lewat ujian yang sangat sulit dan melelahkan, Riko akhirnya dinyatakan sebagai pemenangnya. Riko tidak sendiri karena ada pemenang lain yang juga menjadi rivalnya yaitu Ryusenji Mika (diperankan Hatsune Eriko). Misa adalah putri dari seorang pemilik galeri seni yang telah bangkrut. Walau sebagai pemenang mereka berdua tidak bisa bersantai karena harus menjalani serangkaian latihan dan ujian lanjutan di Tokyo bersama dengan kurator Museum Louvre Richard Bret.

Setelah berminggu-minggu dalam pelatihan, Riko dan rivalnya harus mengikuti ujian final yaitu menemukan lukisan asli Monalisa diantara 12 lukisan yang sama persis. Di tengah ujian Riko tiba-tiba pingsan dan menderita halusinasi. Belakangan Yuto mendapat kabar jika Riko didiskualifikasi. Dan tidak diketahui banyak orang, sebuah konspirasi besar tengah menunggu saat lukisan Monalisa tiba di Jepang. Sanggupkah Riko menggagalkan rencana jahat itu? Akankah lukisan Monalisa terselamatkan?


Sebagai film Jepang pertama yang mempunyai akses ke Museum Louvre yang terkenal ketat, All-Round Appraiser Q: Eyes of the Mona Lisa mempunyai jalan cerita yang apik. Film bergenre thriller-misteri ini banyak mengambil lokasi syuting di Paris. Tapi yang patut diacungi jempol adalah plotnya, karena tidak melulu mengandalkan investigasi ala Sherlock Holmes. Ada banyak misteri yang ingin diungkap, tapi yang paling menarik dan sesuai judul film ini adalah: adakah rahasia di dalam mata Monalisa di lukisan itu? Ataukah ada sesuatu yang lain?

Membuat film dengan cerita yang berat seperti ini jelas bukan perkara gampang. Tapi tim produksi berhasil melakukannya dengan baik. Pemilihan karakter yang tepat dan akting yang meyakinkan membuat film ini lebih dari sekedar misteri. Jika sobat bukan penggemar genre detektif juga tidak perlu khawatir, karena meski serius film tidak akan membosankan. (Indoshotokan)

BERKUNJUNG KE DOJO HONBU SKIF DI JEPANG

Dojo Honbu SKIF terletak di sebuah tempat bernama Kugahara yang menjadi bagian dari Tokyo Ota. Di Kugahara ada sebuah stasiun kereta api kecil yang dikelilingi oleh restoran, toko makanan dan bisnis kecil milik keluarga; dan disana ada juga rumah dan apartemen. Kugahara letaknya dekat dari Tokyo sama seperti lokasi lainnya yaitu Shinjuku, Shibuya atau Roppongi. Tetapi Kugahara masih lebih dekat dibanding destinasi hiburan yang sudah disebutkan tadi.

Dojo letaknya sangat dekat dari stasiun dan bahkan kau bisa melihatnya dari peron Stasiun Kugahara. Dojo berada di bawah turunan jalan dengan beberapa apartemen diatasnya. Saat kau sudah sampai di dojo, sebuah papan nama SKIF dapat dilihat. Sedikit menuruni anak tangga, kau akan melihat ruang latihan beserta kantornya. Saat kau masuk, kantor tepat berada di sebelah kiri dan ruang latihan di sebelah kanan. Genkan (jalan masuk) dilengkapi dengan rak alas kaki di dinding, dan ini sebuah budaya di Jepang. Kau harus melepas kaki sebelum masuk ke kantor maupun ruang latihan.

Di samping genkan ada ruang ganti berukuran kecil yang dilengkapi toilet, shower dan locker untuk menyimpan barang-barangmu. Kantornya berukuran cukup, yang meliputi bagian belakang sebagai gudang, ruang utama untuk sensei yang bekerja disana full time, serta ruang duduk untuk tamu dan pengunjung. Ruangan ini juga berfungsi sebagai tempat pertemuan.

Ruang latihannya cukup luas, sekitar 1.800 kaki atau 160 meter persegi, dan cukup memuat sekitar 40 orang dewasa sekaligus, walaupun cukup padat. Di Shomen (dinding utama), ada sebuah kuil kecil tempat untuk mempersembahkan beras dan sake untuk menghormati para master Shotokan yang sudah meninggal. Disana juga ada foto Gichin Funakoshi, pendiri karate Shotokan, dan disampingnya ada rak untuk menaruh bo (tongkat panjang) dan jo (tongkat pendek).  


Di pojok paling kiri ada dua buah makiwara (sasaran pukulan terbuat dari kayu), sedang di dinding sebelah kanan terdapat cermin. Di sisi kiri dojo ada tatami (tikar) kecil terbentang yang memajang memorabilia dojo, bingkai foto, ornamen, gulungan kaligrafi dan barang-barang penting lainnya seperti dojo-kun (petunjuk dan etika moral berlatih di dojo). Di dekat pintu masuk ada bangku untuk duduk dan melihat latihan.

Lantai dojo selalu kelihatan bersih, karena setiap murid wajib membersihkan sebelum dan sesudah latihan dengan cara mengepel dengan lap basah sebagai bentuk pemanasan. Sabuk hitam, juga tidak luput dari kegiatan ini. Hanya para instruktur yang tidak perlu ikut serta dalam ritual membersihkan tersebut.

Artikel ini dikutip dan diterjemahkan dari buku “Lesson With The Master – 27 Shotokan Karate Lessons With Master Hirokazu Kanazawa” yang ditulis oleh Paul A. Walker dengan judul aslinya “The Honbu Dojo”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

REVIEW J-MOVIE: MAJO NO TAKKYUBIN

Dunia fantasi dan sihir memang cocok diangkat ke layar kaca. Jika Hollywood punya serial Harry Potter yang fenomenal, maka negeri sakura juga punya penyihir. Memang tidak seheboh film dari novel karangan penulis Inggris J. K. Rowling itu. Tapi film Jepang yang satu ini juga berdasarkan novel yang juga laris baik di Jepang dan luar negeri. Dengan genre seishun eiga (remaja), film ini cocok bagi penonton yang ingin mencari cerita yang ringan dan menghibur.

Majo no Takkyubin berarti “Layanan Antar Penyihir”, tapi di barat lebih populer disebut dengan “Kiki’s Delivery Service”. Mulanya Majo no Takkyubin adalah sebuah novel fantasi anak-anak karya Eiko Kadono. Novelnya sendiri berjumlah enam volume yang terbit tahun 1985-2009 dan telah diterjemahkan ke Bahasa Inggris, Korea, Cina, Italia dan Swedia. Popularitas novel ini membuat Studio Ghibli membuatkan seri animenya di tahun 1989. Sama dengan novelnya, animenya disukai banyak penonton dan menuai pujian. Walaupun sudah lawas, hingga kini serial animenya masih diputar di banyak stasiun TV Amerika dan Eropa.  


Bulan Maret 2014 lalu giliran live action-nya yang siap menyapa para penggemar. Sutradara movie ini adalah Takashi Shimizu yang sebelumnya terkenal berkat film horor Ju-on. Kisah dalam versi movie ini mengambil dari novel volume pertama dan kedua. Sebagai Kiki sang penyihir adalah aktris pendatang baru Koshiba Fuka yang lolos audisi dari 500 kandidat. Koshiba tepat berusia 16 tahun saat syuting film itu. Majo no Takkyubin juga menjadi debut pertamanya dalam dunia akting sekaligus sebagai peran utama. 

Kiki adalah gadis penyihir yang tinggal di sebuah desa bersama ibunya yang seorang tabib. Dalam tradisi keluarganya jika seorang penyihir sudah berumur 13 tahun maka dia harus meninggalkan rumah selama setahun untuk hidup mandiri. Di malam hari setelah pamit pada keluarga dan teman-temannya, Kiki berangkat bersama Jiji, kucing hitam kesayangannya yang bisa berbicara. Dengan menaiki sapu terbangnya Kiki menuju ke sebuah kota kecil di pesisir pantai. Setelah sedikit kesulitan akhirnya Kiki bertemu dengan Osono, pemilik toko roti yang mau menampungnya.


Sebelum bertemu Kiki, toko roti Osono selalu sepi pelanggan. Berkat kemampuan terbang Kiki dengan sapu terbangnya, Osono bisa mengantar pesanan ke banyak pembeli dengan mudah. Bisnis menjadi lancar dan pelanggan menyukainya karena mereka tidak perlu repot-repot pergi ke toko. Di tengah kesibukannya itu Kiki didatangi oleh Tombo, anak laki-laki di kota itu yang tergila-gila dengan dunia penerbangan. Tombo tertarik dengan Kiki setelah melihatnya naik sapu terbang.

Walaupun usil dan selalu mengejar Kiki, Tombo sebenarnya adalah anak yang baik. Selain kagum pada kemampuan Kiki dia sebenarnya juga menyukainya. Tapi teman-teman Tombo yang nakal membuat Kiki harus kehilangan kemampuan terbangnya. Tidak hanya itu, karena para penduduk kota memandang Kiki bukan anak yang normal. Mereka menganggap Kiki akan membawa masalah bagi anak-anak di kota itu. Kehilangan kekuatan dan dimusuhi banyak orang, bisakah Kiki keluar dari kesulitannya?


Berbeda dengan film live action yang biasanya kaya akan animasi CGI, Majo no Takkyubin justru sebaliknya. CGI memang digunakan namun sedikit sekali. Menurut Shimizu sang sutradara, yang paling menarik dari film ini adalah seorang gadis biasa yang bisa terbang. Kiki memang seorang penyihir tapi tidak bisa menyihir seperti penyihir pada umumnya. “Inilah hal baru bagi penonton di luar negeri.” Begitulah menurutnya.

Sementara itu Koshiba Fuka mengaku berperan sebagai Kiki adalah pengalaman baru baginya. “Ketika diberitahu lulus audisi, pikiranku tiba-tiba kosong dan aku menangis karena gembira. Kiki yang aku perankan berbeda dengan yang penonton bayangkan. Mungkin aku tidak pandai berekspresi, tapi aku akan berusaha yang terbaik memerankannya. Aku akan berusaha tidak mengecewakan penonton dan menghargai mereka yang telah mencintai Majo no Takkyubin.” (Indoshotokan)

NILAI DARI KARATE: SEBAGAI CARA UNTUK BEROLAH RAGA

Sifat dari karate adalah membutuhkan tubuh untuk bergerak ke semua arah. Berlawanan dengan, misalnya, memperkuat lengan pada olah raga dayung, atau kaki pada olah raga lompat. Tidak perlu khawatir jika karate akan berat sebelah dalam mengembangkan tubuh. Dan kenyataan bisa membentuk semua tubuh sama baiknya adalah satu satu keuntungan dari karate.

Pada umumnya, hanya perlu satu atau dua menit saja untuk menyelesaikan sebuah kata. Lebih dari itu, jika seseorang terus berlatih maka gerakannya akan semakin cepat dan kuat. Sehingga dengan begitu seseorang bisa mendapat latihan yang cukup dalam waktu yang relatif singkat. Inilah bentuk latihan yang ideal bagi orang-orang pada hari ini yang sering mengeluh ingin berlatih tapi tidak punya waktu. Karena itulah, semakin sedikit waktu yang dibutuhkan adalah menjadi keuntungan yang kedua.

Kebanyakan olah raga lain, sebut saja judo, kendo, memanah, berenang atau naik kuda, tidak bisa dikerjakan di sembarang tempat seperti karate. Kebanyakan olah raga butuh tempat yang luas, perlengkapan, atau seorang partner. Dan dalam hal ini karate adalah yang paling mudah beradaptasi. Tidak butuh tempat yang luas, perlengkapan, atau bahkan partner karena karate bisa dilakukan di kebun, ruang tamu, lorong dan tempat lain dimana seseorang ingin berlatih. Ini adalah keuntungan yang ketiga dari karate.

Biasanya, sebuah olah raga cocok bagi laki-laki tapi tidak cocok untuk wanita. Dan olah raga kaum wanita mungkin tidak akan cocok untuk laki-laki. Begitu juga olah raga bagi mereka yang sedang memulihkan diri dari sakit mungkin tidak akan cukup bagi mereka yang sehat. Senada dengan olah raga bagi anak muda yang sehat bisa jadi terlalu berat bagi orang tua atau anak kecil. Namun demikian, karate bisa dilakukan oleh orang yang fisiknya lemah, wanita, anak-anak, dan bahkan orang tua. Dengan kata lain, setiap orang bisa menyesuaikan latihan sesuai kemampuannya. Karena setiap bagian latihan hanya perlu satu atau dua menit, tidak ada bahaya terlalu berat atau kelelahan fisik.

Lebih dari itu, seiring tubuh semakin dibangun dan teknik yang kian terampil, gerakan seseorang menjadi lebih kuat secara alamiah. Dengan begitu jumlah latihan menjadi cukup bahkan untuk anak-anak muda di masa puncaknya. Sehingga jumlah latihan meningkat seiring dengan berjalannya latihan. Inilah sebuah keuntungan yang aku sebut sebagai keunggulan keempat dari karate.  

Kenyataan jika karate bisa dikerjakan sendirian atau berkelompok adalah sebuah hal yang unik. Bahkan jika dilihat dari sudut pandang teknik praktis, masing-masing gerakan tangan dan kaki mempunyai arti. Dan banyaknya variasi di beragam gerakan kata menjadi lebih menantang untuk dipelajari. Saat menikmati dan asyik berlatih dalam keadaan ini, seseorang tanpa disadari telah mendapatkan keuntungan.

Nilai karate sebagai jalan untuk berolah raga bisa dengan mudah dibuktikan lewat uji ilmiah. Bahkan jika seseorang berlatih hanya dalam waktu setahun atau bahkan kurang, mereka bisa dengan mudah melihat peningkatan yang luar biasa pada kondisi tubuhnya dibanding sebelum latihan karate.

Guru yang kuhormati Master Shishu (di Jepang Itosu) dan Master Azato keduanya bertubuh lemah saat masih anak-anak. Tapi setelah mulai berlatih karate untuk memperbaiki kesehatannya, mereka banyak berkembang dan terlihat berbeda untuk orang tua seusianya. Bahkan di masa-masa kami mereka menjadi terkenal sebagai para master yang sudah tua.

Master Shishu berumur panjang hingga delapan puluh lima tahun, dan Master Azato sampai delapan puluh tahun. Guru dari Master Azato, yaitu Master Matsumura berumur lebih dari sembilan puluh tahun. Ahli karate jaman sekarang seperti Master Yamaguchi, Aragaki, Chibana, Nakazato, Yahiku, Tokashiki, Sakihara dan Chinen semuanya berumur lebih dari delapan puluh tahun. Semua contoh ini menunjukkan fungsi karate sebagai cara terbaik untuk memperbaiki kesehatan seseorang. (Indoshotokan)

Artikel ini dikutip dan diterjemahkan dari buku “Karate-Do Kyohan: The Master Text” yang ditulis oleh Gichin Funakoshi dengan judul aslinya “The Value of Karate – As Athletic Training”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

REVIEW J-MOVIE: THE LAST: NARUTO THE MOVIE

Memperingati perayaan lima belas tahun franchise Naruto, film ketujuh dari Naruto Shippuuden tayang di Jepang 6 Desember 2014 lalu. Film berjudul The Last: Naruto The Movie itu menjadi film pertama yang ditangani oleh sang mangaka, Masashi Kishimoto. Selain itu film ini juga sebagai salam perpisahan dari Kishimoto karena telah merampungkan seluruh episode manganya. Tapi penggemar serial ninja populer itu tidak perlu khawatir karena di tahun 2015 masih ada movie Naruto lainnya, hanya saja judul dan ceritanya masih belum ditentukan.

Dua tahun setelah bencana dalam Perang Dunia Ninja Keempat, bulan berbentuk meteor mendekat dan akan menghantam bumi. Krisis itu terjadi akibat ulah dari Toneri Outsutsuki, keturunan dari Hamura Outsutsuki (muncul di chapter 670. Selama berabad-abad keturunan Outsutsuki menyegel mata mereka di kuil Tenseigan karena mempunyai chakra yang dahsyat. Chakra itu hanya akan keluar dan “menghukum manusia” jika setelah milenium ada ninja yang menyalahgunakan kekuatan chakra. Sebagai keturunan terakhir dari klannya, Toneri ingin memenuhi takdir yang dibebankan pada klannya sejak ratusan tahun yang lalu; membangkitkan chakra yang disegel dan menghancurkan manusia.


Untuk memuluskan aksinya, Toneri muncul di Konohagakure demi menculik Hinata Hyuuga. Kebetulan saat itu Hinata akan memberikan syal merah yang dirajutnya sendiri untuk Naruto. Karena gagal, dia lalu menculik adik Hinata yaitu Hanabi dan membawanya pergi. Hokage Kelima lalu mengirim Naruto, Hinata, Sakura, Sai dan Shikamaru untuk mengejar Toneri. Hokage juga memberikan Shikamaru sebuah jam yang menghitung mundur waktu mereka. Bulan semakin mendekat dan bumi diambang kiamat. Para ninja harus berpacu dengan waktu. Untungnya Sasuke muncul kembali dan menghalau pecahan meteor di Konohagakure.

Di tengah pengejaran itu Naruto mulai mengerti akan perasaan cinta Hinata padanya. Sementara itu Toneri mencuri kekuatan Byakugan dengan jalan mengimplan mata Hanabi di matanya. Dengan Byakugan Toneri berhasil membangkitkan Tenseigan yang disegel oleh leluhurnya. Naruto dan kawan-kawan berhasil menemukan Toneri, tapi mereka dikalahkan dengan mudah. Diam-diam Toneri ternyata mencintai Hinata dan berhasil menculiknya. Untuk menyelamatkan Naruto yang depresi akibat kekalahannya, Hinata bersedia menerima permintaan Toneri untuk menikah.


Tiga hari kemudian Naruto berhasil pulih. Ketika siuman Naruto melihat Sakura yang kelelahan karena menyelamatkan nyawanya. Sakura berkata pada Naruto jika Hinata sungguh-sungguh mencintainya. Bangkit dengan semangat baru, Naruto dan kelompoknya bergegas menuju ke persembunyian Toneri. Toneri minta dibuatkan syal merah yang sama seperti yang dirajut Hinata untuk Naruto. Melihat ini kesempatan untuk menghancurkan Tenseigan, Hinata menurutinya. Sayangya, Toneri mengetahui rencana itu dan saat Hinata berusaha lari Toneri mengurungnya di sebuah sangkar.

Tiba disana Naruto membagi kelompoknya, Shikamaru dan Sai menolong Hinata. Toneri membangkitkan mode Chakra Tenseigan yang membuatnya sanggup membelah bulan. Naruto mengimbanginya dengan membangkitkan kekuatan chakra kyuubi. Setelah duel yang dahsyat, Naruto berhasil memojokkan Toneri. Dengan selembar syal merah Hinata untuknya yang masih tersisa, Naruto mengenggamnya dan memberikan tinju terakhir untuk Toneri. Hinata menggunakan kesempatan itu untuk mengambil kembali Byakugan milik Hanabi. Bumi akhirnya terselamatkan. Di akhir cerita Naruto mengungkapkan cintanya pada Hinata. Keduanya berpelukan dan diikuti sebuah gambaran akan masa depan mereka.


The Last: Naruto The Movie masih berhubungan dengan alur cerita serialnya yaitu antara chapter 698 dan 700 dimana Naruto akhirnya menjadi Hokage ke-7. Di Jepang para penggemar sempat kecewa karena ceritanya hanya fokus pada hubungan Naruto dan Hinata. Sementara itu Kakashi dan Sasuke yang muncul saat promosi filmnya justru sangat sedikit tampil. Padahal keduanya mempunyai fanbase yang sangat banyak. Sempat beredar poster yang menjelaskan film ini akan tayang di bioskop Indonesia Januari 2015. Tapi maraknya download ilegal membuat rencana itu sepertinya dibatalkan produsernya. Ah, sayang sekali. (Indoshotokan)