Custom Search
KONTEN DILINDUNGI HAK CIPTA. DILARANG KERAS MENJIPLAK, MENGEDIT DAN MEMPERBANYAK SEBAGIAN ATAU SELURUH HALAMAN SITUS INI TANPA IJIN.

RAHASIA PERINGKAT SABUK DALAM KARATE (1)

Sobat karate, sudah memegang sabuk apakah Anda sekarang di dojo? Kuning? Biru? Atau barangkali sudah sabuk hitam? Tidak perlu berkecil hati jika sobat masih belum sabuk hitam. Memang benar, sabuk hitam adalah impian banyak praktisi karate. Sekedar informasi, setiap sabuk dalam karate mempunyai makna. Setiap sabuk mewakili karakter tertentu. Sehingga jika ada yang mengatakan sabuk putih lebih baik daripada sabuk hitam, maka hal itu tidak sepenuhnya benar.  

Berbeda dengan bela diri ala barat, bela diri timur biasanya mempunyai akar filosofi yang kuat. Bukan hanya gaya atau teknik bela dirinya, bahkan untuk urusan peringkatpun juga demikian. Ini bisa dilihat dari warna sabuk atau gelar yang berbeda. Ukuran untuk menentukan dua hal diatas biasanya dari usia, kemampuan yang dimiliki praktisinya, dan tingkat kesulitan teknik yang sedang dipelajari.

Dalam bela diri Jepang seperti judo, karate, dan aikido ada dua jenis peringkat, yaitu mudansha (berarti pemula atau dibawah sabuk hitam) dan yudansha (telah memegang sabuk hitam). Praktisi pada level mudansha sering disebut kyū (dibaca: kyuu), dan sistem ini berbeda antar dojo atau aliran. Ada aliran yang mengawali dengan sabuk berwarna putih sementara di dojo yang lain menggunakan sabuk berwana putih dengan strip tertentu. Contoh lain ada dojo yang menyebut sabuk hijau berada di level Gokyū (kyū lima) tapi ada dojo yang menyebutnya diatas atau dibawah peringkat itu.   

Sebagai tambahan, di Jepang moderen penggunaan istilah kyū ini ternyata juga diterapkan di dunia pendidikan. Di sekolah menulis huruf kanji, misalnya, mereka menerapkan ujian kelulusan berbasis kyū. Para murid akan mulai dari kyū sepuluh hingga paling akhir adalah kyū satu. Kurang lebih mirip dengan ujian naik kelas di sekolah Indonesia. Saking sulitnya, bahkan ada juga ujian pre- kyū, atau test sebelum masuk level kyū.      

Seorang gadis menulis kanji di salah satu sekolah menulis kanji di Tokyo. Foto berasal dari Japan Daily Press

Nah, kembali lagi ke bela diri Jepang, peringkat kyū menggunakan sistem progresif (meningkat) dalam urutan menurun. Artinya, peserta akan mulai dari kyū terendah yaitu sepuluh, dan menempuh ujian demi ujian hingga kyū satu sebagai yang tertinggi. Semakin tinggi peringkat yang akan diraih, maka makin sulit pula ujiannya. Berikut ini adalah urutan standar baku peringkat kyū di Jepang:

Peringkat
Penulisan
Pengucapan
Kyū 1 (tertinggi)
一級
Ikkyuu
Pre Kyū 1  
準一級
Jun-Ikkyuu
Kyū 2
二級
Nikkyuu
Pre Kyū 2
準二級
Jun-Nikyuu
Kyū 3
三級
Sankyuu
Kyū 4
四級
Yonkyuu
Kyū 5
五級
Gokyuu
Kyū 6
六級
Rokyuu
Kyū 7
七級
Nanakyuu
Kyū 8
八級
Hachikyuu / Hakyuu
Kyū 9
九級
Kyuukyuu
Kyū 10
十級
Jukkyuu
Tanpa Peringkat
無級
Mukyuu
 
Lalu bagaimana dengan Shotokan? Funakoshi memang mengadopsi sistem peringkat dalam judo, namun itupun tidak sepenuhnya. Saat awal modernisasi karate di Jepang, Funakoshi hanya menerapkan tiga warna sabuk untuk Shotokan, yaitu: putih untuk kyū delapan sampai empat, coklat untuk kyū tiga sampai satu, dan tentu saja sabuk hitam. Untuk yudansha sendiri Funakoshi awalnya hanya menetapkan maksimal sampai godan (dan lima).

Setelah berakhirnya Perang Dunia II para tokoh karate di Jepang berkumpul. Mereka adalah Gichin Funakoshi (Shotokan), Tsuyoshi Chitose (Chito-ryu), Kenwa Mabuni (Shito-ryu), Gogen Yamaguchi (Goju-ryu) dan Kanken Toyama (Shudokan). Mereka mengembangkan peringkat kyū/dan menjadi lebih sistematis dan menjadi semacam norma yang baku. Walau demikian, saat itu organisasi yang berasal dari Shotokan seperti JKA dan Shotokai untuk yudansha maksimal masih tetap sampai godan.

Setelah dibentuknya Federation of All Japan Karate-Do Organizations (FAJKO) tahun 1964 dibuatlah standarisasi baru untuk sistem peringkat. Organisasi karate yang berada di bawah payung FAJKO mulai menerapkan warna yang berbeda untuk peringkat mudansha atau kyū. Urutan sabuk untuk karate Jepang dimulai dari putih sebagai paling awal dan hitam sebagai paling akhir. Kecuali putih dan hitam, warna sabuk diantaranya boleh dimodifikasi.

Lain halnya dengan Okinawa. Pulau kecil tempat asal karate ini menerapkan sistem kyū/dan sekitar tahun 1956 setelah dibentuknya Okinawa Karate Association (OKF). Menurut catatan sejarah, Chosin Chibana (Shorin-ryu) dan Kanken Toyama (Shudokan) telah diakui memegang peringkat dalam karate oleh Menteri Pendidikan Jepang. Chibana banyak berperan dalam terbentuknya OKF. Sejak saat itulah ada pembagian peringkat antara murid pemula dengan yang lebih senior. (bersambung – Indoshotokan). 

SI BURUNG LAYANG-LAYANG TERBANG


Enpi atau kadang diucapkan Empi termasuk dalam golongan kata Shotokan yang dinamis. Gerakan yang bervariasi dipadu irama yang berubah-ubah menunjukkan jika kata ini mempunyai tingkat kesulitan cukup tinggi. Nama Enpi berarti burung layang-layang terbang. Sesuai dengan namanya, karakter kata ini lincah dan berubah arah dengan cepat di angkasa.

Melihat dari gerakannya, banyak orang berpikir jika Enpi lebih cocok dilakukan orang yang bertubuh kecil, tidak gemuk dan mempunyai kaki yang ringan. Sementara pendapat ini ada benarnya, yang perlu diketahui adalah Enpi boleh dilakukan dengan kekuatan. Tidak ada batasan bahwa kata ini akan selalu tampil cepat. Ada banyak praktisi Shotokan yang memberikan tenaga dalam setiap gerakannya dan mampu mengeksekusi kata ini dengan baik. Dan tahukah Anda jika Enpi versi lawas dari JKA justru tidak mengutamakan pada kecepatan?

Sebelum modernisasi nama asli Enpi adalah Wanshu. Nama ini diduga diambil dari seorang diplomat asal Tiongkok bernama Wang Ji (1621 – 1689) yang tengah bertugas di Okinawa sekitar tahun 1860-an. Oleh penduduk lokal namanya lalu disebut dengan “Wanshie” atau “Wanshu.” Saat itu memang banyak utusan asal Tiongkok yang ditempatkan di Tomari karena lokasinya di antara Naha dan pelabuhan. Sebagai diplomat tugas mereka adalah menjadi penghubung antara kekaisaran Tiongkok dengan penguasa setempat.  

Menurut legenda selama di Okinawa Wanshu kerap menunjukkan kebolehannya. Beberapa sumber mengatakan kegemarannya adalah mengalahkan lawan dengan melempar atau membanting. Gaya tinju Tiongkok dan kebiasaannya itu kemudian diadaptasi oleh penduduk lokal menjadi sebuah kata dengan nama Wanshu. Selama larangan penggunaan senjata, kata ini dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. Awal tahun 1900-an hingga Restorasi Meiji kata Wanshu baru menyebar luas ke Naha dan Shuri.

Barangkali teori yang unik dan terdengar aneh adalah kata Enpi berasal dari gaya pedang samurai ternama Sasaki Kojiro. Konon salah satu teknik Kojiro mirip dengan gerakan burung layang-layang terbang. Teori ini kurang didukung karena tidak ada bukti yang kuat. Apalagi melihat dari gerakannya, kata Enpi atau Wanshu masih berakar kuat dengan tinju Tiongkok. Di Okinawa sendiri kata Wanshu banyak digunakan dalam karate tradisional namun dengan penyebutan yang berbeda seperti Hansho, Anshu, Oushu, Washo, dsb.  

Dua versi Wanshu yang banyak berkembang saat ini jika ditelusuri berasal dari Sokon Matsumura dan Yasutsune Itosu. Versi Matsumura bergerak cepat dengan pola embusen yang berbeda dan tanpa lompatan yang menjadi ciri khas Enpi. Walau gerakannya masih terbilang mirip dengan versi Itosu, versi Matsumura lebih memfokuskan pada melempar atau membanting. Sementara itu versi Itosu yang dipelajari oleh Funakoshi adalah modifikasi dari versi Matsumura dan dapat dilihat dalam Shotokan pada hari ini. 

Kata Enpi biasanya akan diperkenalkan ketika praktisi Shotokan berada pada tingkat kyu 1 atau 2. Beberapa organisasi Shotokan bahkan ada yang terus mendalaminya hingga diatas level nidan. Kata ini sendiri dirancang agar seseorang bergerak cepat dengan menggunakan jarak yang jauh sebagai keuntungan dalam menyerang. Gerakan yang unik dengan irama yang berubah-ubah dapat membingungkan lawan.

Sayangnya, di turnamen banyak praktisi Shotokan yang hanya memikirkan kecepatan dan melakukan kata ini dengan tergesa-gesa. Mereka ingin membuat penonton berpikir bahwa mereka mempunyai kecepatan yang bagus. Padahal yang terjadi adalah mereka memotong teknik disana-sini. Akibatnya, penampilan mungkin saja memukau, tapi eksekusi teknik tetap tidak sempurna.  


Agar terhindar dari kesalahan semacam ini seseorang boleh saja cepat, tapi tetap fokus untuk timing (ketepatan waktu) yang tepat. Jangan lupa untuk memberikan jeda dan tidak perlu tergesa-tergesa. Ingat, karena cepat dan tergesa-gesa adalah dua hal yang berbeda.  

Bicara kata Enpi tidak lengkap rasanya jika tidak membahas lompatan. Selain teknik yang tajam dengan kekuatan pinggul, kata Enpi mempunyai lompatan 360 derajat yang lumayan sulit. Sekedar berbagi rahasia, lompatan yang menjadi ciri khas kata ini aslinya tidak pernah ada. Ini adalah modifikasi dari JKA agar kata Enpi terlihat bagus dengan gerakan atletiknya. Hal yang sama juga terjadi pada kata Unsu. 

Teknisnya, arah gerakan yang disebut “tomikomi” ini sama dengan lompatan Enpi. Hanya saja kita diminta memutar ke belakang tanpa merubah ketinggian pinggul dan kedua lututlah yang diangkat. Tujuannya adalah melindungi bagian tengah dan depan tubuh kita dari pukulan. Sementara itu kedua lutut yang diangkat untuk menghindari serangan bawah seperti sapuan kaki atau ayunan tongkat.    

Saat ini kata Enpi sangat populer di turnamen. Namun satu hal yang perlu diingat adalah kata ini sebetulnya mematikan. Banyak gerakan yang frontal dengan menyerang organ vital seperti mata, tenggorokan dan selangkangan. Walau sport karate adalah yang hal menarik, semoga praktisi Shotokan tidak lupa dengan esensi setiap teknik yang ada dalam kata ini. (Indoshotokan) 

GICHIN FUNAKOSHI – LEBIH DEKAT DENGAN SANG MAESTRO (8 - FINAL)

Sejak awal Funakoshi tidak pernah menyetujui perpecahan apapun dalam karatenya. Jika lantas menyetujui dibentuknya JKA, itu karena semata-mata tujuan positif yang dibawa oleh organisasi ini. Dalam pandangannya para praktisi karate di Jepang seharusnya bersatu hingga bisa memberi manfaat pada orang banyak. Meski JKA telah dibentuk tahun 1949, namun baru tanggal 10 April 1957 Menteri Pendidikan Jepang memberikan legalitas pada JKA sebagai sebuah organisasi.

Menjawab banyaknya permintaan akan instruktur karate, maka di tahun 1953 Funakoshi mengirimkan beberapa murid terbaiknya ke Amerika. Mereka yang terpilih adalah Masatoshi Nakayama, Hidetaka Nishiyama dan Tsutomu Ohshima. Sebelumnya mereka juga sukses memberikan demonstrasi karate bagi pasukan Amerika saat masih di Jepang. Rencananya selama tiga bulan mereka akan menjadi instruktur di Amerika.

Tahun 1954 seluruh tokoh bela diri Jepang merasa perlu untuk kembali melakukan demonstrasi. Acara yang digelar di Tokyo itu ditujukan untuk memulihkan kembali semangat masyarakat Jepang pasca perang. Tiga nama yang terpilih dalam acara itu adalah Mifune dari judo, Nakayama dari kendo dan Funakoshi dari karate. Di usianya yang sudah 86 tahun, tidak menghalangi Funakoshi untuk tidak memenuhi undangan itu. Demonstrasi kata dari Funakoshi mendapat apresiasi luar biasa hingga semua penonton berdiri dan bertepuk tangan untuknya.

Tanggal 26 April 1957 dunia bela diri Jepang berduka. Dalam ketenangan tidurnya Gichin Funakoshi meninggal dunia di usia 89 tahun. Sebuah upacara penghormatan terakhir untuk Funakoshi dilakukan di Ryogoku Kokugikan dan dihadiri tidak kurang dari 20.000 orang. Sebagai ucapan terima kasih dan penghormatan bagi sang maestro, Pemerintah Jepang lalu membangun sebuah memorial di Kuil Enkakuji di Kamakura. Di monumen itu tertulis sebuah kalimat, “karate ni sente nashi” yang berarti, “karate tidak mengenal sikap menyerang lebih dulu.” 


IMPRESI AKHIR


Kisah hidup Funakoshi sebagai legenda karate memang jauh dari menyenangkan. Tapi di dunia ini manusia manapun tidak pernah tahu akan takdirnya. Siapa yang menyangka anak muda yang sakit-sakitan dan diperkirakan tidak berumur panjang ini akan menjadi orang ternama? Bahkan Funakoshi sendiri tidak pernah memilih menjadi orang terkenal. Ketika Funakoshi bertemu dengan gurunya, yang dipikirkannya hanya menyukai karate dan menjadikannya sebagai bagian dari hidupnya.

Tidak ada sambutan apalagi karpet merah bagi Funakoshi saat membawa misi besar dari Okinawa ke Jepang. Tiba di Jepang Funakoshi justru menjadi tukang kebun yang harus menyapu dan mengepel setiap sudut asrama. Yang mengagumkan, Funakoshi tidak mengeluh apalagi malu dengan pekerjaannya itu. Di tengah kesulitan hidup Funakoshi senantiasa bersyukur. Jika ada yang disesalinya adalah dirinya masih serba kekurangan hingga tidak mampu mengirimkan uang pada keluarganya. 

Gichin Funakoshi bersiap dalam salah satu rangkaian demonstrasi terakhirnya di Tokyo. Foto berasal dari Shotokanmag.

Bagi sebagian orang yang pernah mengenalnya, figur Funakoshi sangat mengagumkan. Sosoknya hangat, bersahaja, rendah hati dan menyukai kebersihan. Ketika disapa Funakoshi akan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dan kemudian dia merangkul lawan bicaranya. Ketika di dojo Funakoshi selalu tersenyum dan menyapa setiap muridnya. Gaya mengajarnya memang tegas dan disiplin, namun dia akan berubah menjadi orang tua yang ramah seusai latihan.  

Umumnya seorang ahli karate akan mendemonstrasikan kebolehannya berduel dengan binatang atau lawan yang lebih kuat. Funakoshi justru sebaliknya. Cara pandang Funakoshi ini dipengaruhi oleh gurunya yaitu Azato dan Itosu. Mereka sudah terkenal mahir karate, tidak terkalahkan, tapi tetap berhati-hati dengan tekniknya. Karate adalah sebuah pilihan terakhir ketika cara lain sudah tertutup.

Funakoshi lebih mementingkan kata daripada kumite. Baginya dalam kata tersimpan rahasia dari semua teknik karate. Kata juga merupakan filsafat, karena itu dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk menguasainya. Apa yang menjadi keyakinannya ini kemudian terbukti. Bahkan di usianya yang sudah lanjut Funakoshi masih mempunyai pertahanan yang hebat. Dan ini diketahui dari orang-orang yang pernah bertanding atau berlatih bersamanya.

Funakoshi menghargai apapun yang terjadi dalam hidupnya. Hancurnya dojo Shotokan, kematian murid-muridnya, kehilangan anak dan istri, tidak menyurutkan langkahnya untuk terus maju. Totalitasnya dalam karate tidak perlu diragukan lagi. Adalah hal yang wajar jika pemerintah Jepang memberikan penghormatan untuk tukang kebun yang sederhana ini. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dan manfaat dari perjalanan hidupnya. (tamat – Indoshotokan).  

GICHIN FUNAKOSHI – LEBIH DEKAT DENGAN SANG MAESTRO (7)

Yang jelas, metode berlatih karate mengalami perubahan besar. Jika sebelumnya hanya kata, maka dalam masa perang setiap harinya hanya diisi kihon dan kumite. Kihon dipilih karena gerakannya lebih sederhana sehingga dianggap lebih praktis. Yang sangat berbeda adalah kumite yang kali ini diperbolehkan kontak fisik. Latihan yang lebih pantas disebut berkelahi ini sangat keras dan menuntut semua prajurit mengeluarkan tenaga maksimal. Sehingga pemandangan pemuda yang berlatih masih dibalut perban saat itu adalah hal biasa

Karena banyak pemuda yang pergi demi mengangkat senjata, membuat dojo-dojo di universitas menjadi sepi. Funakoshi masih ingat betapa banyak muridnya yang berlutut dan berpamitan di hadapannya. Tentu saja banyak yang mati akibat perang, dan kenyataan pahit ini menyisakan kesedihan mendalam di hati Funakoshi. Masih terbayang di benak Funakoshi betapa ramai dan rajin murid-muridnya berlatih di dojo. Tapi kini hampir setiap hari Funakoshi menerima kabar kematian murid-muridnya.

Tahun 1941 menjadi awal berkobarnya Perang Dunia II. Saat itu kapal induk Amerika yaitu Pearl Harbour merapat ke perairan Jepang. Kehidupan di Jepang menjadi serba sulit, tidak terkecuali karate. Meski demikian, Funakoshi masih mampu menerbitkan bukunya yaitu “Karate-do Nyumon.” Dalam buku ini Funakoshi menulis bagian sejarah, sedangkan untuk teknik dibantu oleh Yoshitaka. Karate-do Nyumon memuat banyak kisah yang ditulis dengan gaya bahasa yang menarik dan masih dicetak ulang hingga kini.

Tahun 1945 menjadi puncak dari semua bencana akibat perang. Bulan April dojo Shotokan yang telah dibangun susah payah hancur akibat serangan bom pasukan sekutu. Banyak yang mengira latihan di dojo utama itu sudah tidak ada lagi dan karate Funakoshi sudah tamat. Belum usai satu masalah, di bulan Nopember Yoshitaka yang sudah mengidap tuberkolosis akut harus berakhir hidupnya. Yoshitaka sebelumnya telah dinyatakan dokter akan sulit bertahan dari penyakit mengerikan ini.

Setelah kematian anaknya, Funakoshi memutuskan meninggalkan Tokyo dan kembali ke Oite di Kyushu. Funakoshi berharap masih bisa menemui istrinya kembali. Mereka berpisah saat Funakoshi memutuskan untuk mengembangkan karate di Tokyo karena istrinya memilih bertahan di Shuri. Hanya dalam waktu tiga bulan saja, perang besar itu telah menewaskan tidak kurang dari 260.000 penduduk Okinawa. Ini karena pemerintah Jepang menggunakan Okinawa sebagai garis depan sebelum pasukan sekutu menembus Jepang daratan.

Banyaknya wanita dan anak-anak yang menjadi korban membuat Funakoshi cemas akan keselamatan istrinya. Penduduk Okinawa yang masih hidup kemudian mengungsi ke pulau Kyushu. Di pengungsian itulah Funakoshi berhasil bertemu kembali dengan istrinya. Funakoshi lalu memutuskan untuk menemani istrinya hingga hari kematiannya di tahun 1947.

BANGKITNYA KEMBALI KARATE


Musibah yang beruntun membuat Funakoshi tidak kuasa menahan kesedihannya. Kehidupannnya berada di titik nadir terendah, tapi Funakoshi sadar putus asa dan menyesal bukanlah jawabannya. Masih banyak orang di Tokyo yang menunggunya kembali. Selalu masih ada harapan untuk diraih dan karena itu Funakoshi memutuskan untuk berjuang kembali di Tokyo.

Dalam perjalanannya ke Tokyo di tiap stasiun kereta Funakoshi telah ditunggu oleh bekas murid-muridnya. Sebagian dari mereka bahkan sudah tidak mampu diingat oleh Funakoshi. Mereka yang disangka telah mati dalam perang kini berdiri untuk menunggunya. Diantara mereka bahkan ada yang sudah berpisah dengan Funakoshi hampir dua puluh tahun lamanya. Saat menerima ucapan belasungkawa dari murid-muridnya, Funakoshi yang biasanya tegar tidak kuasa menahan haru hingga menitikkan air mata.

Bom atom yang dijatuhkan tentara sekutu di Hiroshima dan Nagasaki tahun 1945 membuat Jepang luluh lantak. Bangunan yang hancur memang tidak terhitung namun tidak sebanding dengan trauma mental para korbannya. Bom super dahsyat itu akhirnya sukses mengubur ambisi Jepang untuk menjadi negara terkuat di Asia.     

Gichin Funakoshi (paling kanan) tiba di Tokyo sekembalinya dari Okinawa bersama dengan Kenwa Mabuni (tengah) dan Sakio Ken (paling kiri).

Pasukan sekutu yang menduduki Jepang kemudian melarang segala bentuk latihan bela diri karena khawatir akan terjadi perlawanan lagi. Beruntung, karena hubungan baik antara Funakoshi dengan Menteri Pendidikan membuat latihan karate diijinkan. Apalagi sebelumnya karate telah dimasukkan dalam pendidikan jasmani. Sehingga latihan karate pasca perang dianggap sebagai bagian pelajaran olah raga.

Walau tidak seramai tahun-tahun sebelumnya, sedikit demi sedikit aktivitas karate mulai bergeliat. Bahkan ada juga prajurit Amerika yang ikut dalam latihan ini. Mereka sengaja mengundang beberapa instruktur bela diri Jepang yang terbaik ke Kodokan. Setelah para prajurit itu kembali ke negaranya, Funakoshi banyak menerima surat dari orang Amerika yang ingin menjadi muridnya. Hal ini kemudian mempermudah jalan bagi karate masuk ke benua Amerika dan Eropa di kemudian hari.

Tahun 1949 Isao Obata dan beberapa murid Funakoshi yang paling senior mengusulkan sebuah organisasi untuk menyatukan seluruh praktisi karate di Jepang. Asosiasi itu kemudian diberi nama Nippon Karate Kyokai (NKK) atau Japan Karate Karate Association (JKA). Dalam organisasi itu Funakoshi menjabat sebagai shuseki shihan atau guru besar. Tujuan lain JKA adalah mempromosikan semangat karate ke penjuru Jepang dan dunia. (bersambung – Indoshotokan).

GICHIN FUNAKOSHI – LEBIH DEKAT DENGAN SANG MAESTRO (6)

Dari sekian banyak orang yang membantu Funakoshi adalah Yoshitaka yang paling menonjol. Anak ketiga Funakoshi ini banyak memberikan inovasi baru dalam karate moderen. Yang paling kelihatan adalah penggunaan kuda-kuda rendah seperti apa yang terlihat dalam Shotokan pada hari ini. Selain itu adalah variasi tendangan seperti ushiro geri dan yoko geri kekomi yang sebelumnya tidak pernah ada dalam karate Okinawa. Yoshitaka juga memperkenalkan model kumite yang baru seperti kihon kumite dan jiyu kumite.   

Sebagai salah satu pendukung setia dari Funakoshi, nama Ohtsuka Hironori juga tidak bisa diabaikan. Anak muda berbakat ini sudah belajar jujitsu dan kendo sejak kecil. Sayangnya, setelah sekian lama mengikuti Funakoshi, akhirnya Ohtsuka memutuskan untuk meninggalkannya. Alasannya tidak begitu jelas, ada yang menyebut akibat pertentangan dengan cara mengajar Yoshitaka yang keras. Sementara sumber lain menyebut Ohtsuka terlalu banyak memasukkan jujitsu dalam karate.

Saat itu Ohtsuka bertindak sebagai asisten di dojo Meiseijuku. Konon karena tiap hari hanya diisi latihan kata, kebanyakan murid menjadi bosan. Untuk mengatasi masalah itu Ohtsuka memperkenalkan ippon kumite (satu teknik) dan sanbon kumite (tiga teknik). Alasan Ohtsuka adalah dia merasa ada yang hilang dari gaya karate Funakoshi dan latihan kata saja tidak cukup efektif. Sebelumnya Ohtsuka juga sempat membicarakan masalah itu dengan ahli karate lain seperti Choki Motobu dan Kenwa Mabuni.

Walau alasan dibalik mundurnya Ohtsuka masih spekulatif, yang jelas tahun 1934 dia mendirikan Wado-ryu (jalan yang selaras). Ada yang menyebut arti nama Wado-ryu menyindir perseteruan antara Ohtsuka dengan Yoshitaka. Ketika Funakoshi mengetahui keluarnya Ohtsuka, dalam salah satu bukunya dia menyatakan bahwa Ohtsuka terlalu banyak memasukkan unsur jujitsu hingga mengubah esensi dari karate. Di luar isu yang beredar, di kemudian hari Wado-ryu ternyata juga berhasil menjadi 4 besar karate Jepang.


HARAPAN BARU DARI DOJO SHOTOKAN


Meski karate telah populer di Jepang, Funakoshi masih belum mempunyai dojo sendiri. Padahal dojo utama sangat penting artinya untuk menyatukan seluruh dojo cabang. Tapi saat itu sangat sulit mengumpulkan dana bagi pembangunan dojo ini. Karena kesibukannya, tahun 1935 Funakoshi membentuk Shotokai. Panitia kecil ini bertugas mengumpulkan dana dan hal-hal lain yang berkaitan dengan rencana pembangunan dojo utama.

Di tengah kesibukan yang luar biasa, Funakoshi mampu menerbitkan bukunya yaitu “Karate-do Kyohan.” Buku yang menjadi bacaan wajib bagi praktisi Shotokan ini memuat 15 kata, teknik dasar dan bela diri. Di buku ini pula Funakoshi mengutarakan alasannya mengubah ideogram karate-do. Karate-do Kyohan adalah buku Funakoshi yang terbaik dan terlaris hingga saat ini. Funakoshi mempersembahkan buku ini juga sebagai ucapan selamat pada karate-do sebagai seni bela diri Jepang yang baru.

Setelah melalui perjuangan yang panjang dan melelahkan, tahun 1936 dojo utama itu akhirnya rampung. Funakoshi yang sudah berusia 68 tahun berdiri di depan dojo utama dan memberikan hormat. Setahun kemudian upacara peresmian dojo baru itu dilakukan. Dojo yang terletak di kawasan Zoshigaya Tokyo itu awalnya tidak mempunyai nama. Murid-murid Funakoshi kemudian menganugerahkan nama Shotokan sebagai penghargaan bagi Funakoshi.

Sebuah foto lama dari dojo Shotokan yang diambil sebelum Perang Dunia II.

Setelah dojo utama berdiri, Funakoshi menetapkan kihon, kata dan kumite sebagai materi standar dalam karate. Di luar dugaan, kumite ternyata mendapat antusias luar biasa dari anak muda. Kumite seakan menjadi angin segar bagi mereka yang sudah jenuh dengan latihan karate yang itu-itu saja. Saat itu sering diadakan latihan kumite antar universitas. Bahkan tidak jarang sesama dojo universitas saling mengunjungi satu sama lain dan saling menampilkan teknik kata dan kumite masing-masing.


BENCANA DI MASA PERANG


Tahun 1930-an Jepang tengah berusaha menginvasi negara-negara Asia. Tercatat Jepang berhasil menguasai Manchuria (1932) dan Cina (1936). Untuk memenuhi ambisinya itu pemerintah Jepang merekrut anak-anak muda sebagai prajurit. Menjadi prajurit tidak cukup hanya nasionalis dan berani mati saja. Mereka juga harus pandai bela diri karena dipandang sebagai senjata kedua setelah bubuk mesiu. Pemerintah Jepang kemudian mencari ke banyak dojo bela diri. Dari sekian banyak aliran, akhirnya yang terpilih adalah aikido dan karate.  

Morihei Ueshiba adalah tokoh aikido yang ternama saat itu. Teknik Ueshiba sebenarnya sangat baik, namun menjadi kendala ketika muridnya gagal mengeksekusi dalam situasi yang sebenarnya. Teknik aikido juga dianggap terlalu banyak dan mustahil diserap dalam waktu singkat. Oleh pemerintah Jepang aikido dianggap tidak cocok sehingga mereka memutuskan mengambil calon prajurit dari dojo karate.  

Tiga dojo karate yang menjadi kandidat kuat adalah Goju-ryu, Wado-ryu dan Shotokan. Goju-ryu sebetulnya mempunyai teknik yang baik, tapi menekankan pada pernapasan dan Sanchin, sehingga dinilai kurang praktis. Sebaliknya, teknik Wado-ryu dianggap terlalu “ringan.” Pilihan akhirnya jatuh pada dojo Shotokan karena tekniknya yang frontal, cenderung keras dan dinilai bisa menyelesaikan lawan dengan cepat. (bersambung – Indoshotokan)


GICHIN FUNAKOSHI – LEBIH DEKAT DENGAN SANG MAESTRO (5)

Meski begitu, tidak sedikit pula orang penting yang mendukung langkah Funakoshi ini. Dari kemiliteran ada Admiral Yashiro dan Norikazu Kanna yang sebelumnya mengusulkan kunjungan Pangeran Hirohito ke Okinawa. Masih ada pula Profesor Tononno yang mewakili kalangan akademisi. Dari media surat kabar Okinawa ada Sueyoshi yang memberi dukungan dalam bentuk pemberitaan. Buku pertama Funakoshi banyak didukung karena dianggap sebagai perintis buku bertema karate pada saat itu.   

Tanggal 1 September 1923 gempa hebat melanda wilayah Kanto. Gempa yang masuk dalam sejarah Jepang sebagai salah satu yang terparah itu menimbulkan kerusakan dimana-mana. Walau dojonya di Meiseijuku masih utuh, banyak murid Funakoshi yang tewas menjadi korban gempa. Funakoshi tidak lagi bisa meneruskan pekerjaannya sebagai penjaga sekolah. Untuk menyambung hidup, Funakoshi lalu bekerja sebagai buruh di bank Daiichi Sogo di Kyobashi.   

Karena Funakoshi tidak bisa menggunakan dojonya di Meiseijuku, seorang instruktur kendo ternama yaitu Hiromichi Nakayama menawari Funakoshi untuk menggunakan dojonya ketika kosong. Tindakan Nakayama ini sebetulnya sangat terpuji, tapi saat itu mengijinkan dojo dipakai bela diri lain dianggap sebagai hal yang kurang pantas. Uniknya, selama masa sulit itu ada juga pegulat sumo yang belajar karate pada Funakoshi.


PERUBAHAN SISTEM PERINGKAT DAN NAMA KATA


Perkenalan dengan Kano rupanya menginspirasi Funakoshi untuk merubah sistem peringkat karate. Funakoshi mengadaptasi sistem Yudansha (sabuk hitam) dan Mudansha (di bawah sabuk hitam). Model baju karate yang sebelumnya masih tradisional ala Okinawa diganti dengan model baru seperti apa yang terlihat pada hari ini.  

Setelah sempat dipromosikan sebelumnya, akhirnya di bulan April 1924 Shinkin Gima menerima peringkat shodan dari Funakoshi. Upaya Funakoshi ini bukan tanpa alasan. Langkah itu adalah tahap awal penyesuaian atas permintaan Dai Nippon Butokukai (Asosiasi Bela Diri Jepang). Saat itu selain nama, setiap aliran bela diri wajib mempunyai identitas yang jelas untuk keperluan standarisasi.

Ketika datang ke Jepang Funakoshi mengajarkan 15 kata yaitu 5 Pinan, 3 Naihanchi, Kushanku, Seishan, Passai, Wanshu, Chinto, Jitte dan Jion. Funakoshi selalu menekankan murid-muridnya untuk menguasai dasar sebelum meningkat pada teknik tingkat lanjut. Selama di Jepang Funakoshi juga membawa muridnya berlatih pada ahli karate lain (terutama Kenwa Mabuni, Shito-ryu). Dari sanalah jumlah kata dalam Shotokan sedikit demi sedikit mulai bertambah.


Gichin Funakoshi (keempat dari kiri) dalam pertemuan bersama para tokoh karate di Tokyo sekitar tahun 1930-an.

Banyak orang meyakini jika Funakoshi sebenarnya menguasai lebih dari sekedar 15 kata. Hal ini berdasarkan pengalamannya yang belajar pada banyak orang. Selain dari Azato dan Itosu, ternyata Funakoshi juga pernah belajar pada Kanryo Higashionna, seorang tokoh penting dalam Goju-ryu. Ada pula Kiyuna Peichin yang terkenal dengan pukulannya yang hebat. Yang terakhir adalah Sokon Matsumura, tokoh sentral karate yang menguasai begitu banyak kata.     

Banyak yang bertanya mengapa Funakoshi hanya mengajarkan 15 kata? Ini karena Funakoshi memilih kata yang baginya lebih condong pada bela diri. Baginya karate lebih dari sekedar memukul dan menendang. Funakoshi juga menyatakan keinginannya agar karate dapat tampil sederhana baik teknik dan filosofinya sehingga bisa dipelajari semua orang. Bagi Funakoshi rahasia karate mustahil ditemukan oleh orang yang hanya mengejar kekuatan semata. 

Sejak Funakoshi mengemukakan pendapatnya ini, konsep karate telah berubah dari “karate-jutsu” menjadi “karate-do.” Karate telah berubah dari sekedar teknik untuk mengalahkan lawan menjadi seni bela diri yang berfilosofi jalan hidup. Walau pendapatnya membawa perubahan besar, Funakosh belum mempublikasikannya secara resmi.


MASA AWAL KEEMASAN KARATE


Usaha Funakoshi untuk mengembangkan karate di Jepang ternyata disambut baik. Banyak dojo karate dibuka di sekolah hingga universitas. Bahkan ada juga pusat perbelanjaan dan perusahaan jasa kereta api di Tokyo yang membuka dojo bagi pegawainya. Begitu antusiasnya orang Jepang dengan karate sampai-sampai sulit ditemukan tempat kosong untuk berlatih.

Tahun 1924 Profesor Kasuya seorang staf pengajar Bahasa Jerman di Universitas Keio meminta Funakoshi mengajar karate bagi mahasiswanya. Permintaan itu disanggupi dan dojo di Keio berada dibawah pengawasan dari Funakoshi sendiri. Hingga kini dojo di Keio masih aktif. Tahun 1926 Universitas Tokyo juga resmi membuka dojonya. Masih di tahun yang sama, Funakoshi menerbitkan bukunya “Renten Goshin Karate Jutsu.” Buku ini sebenarnya adalah buku “Ryukyu Kenpo: Tode” yang diterbitkan ulang.

Funakoshi juga membuka dojo di Shichi Tokudo yang letaknya di barak istana. Sayangnya akibat sebuah insiden membuat Funakoshi berhenti mengajar di sana. Ini karena beberapa murid mengusulkan latihan jiyu kumite dengan memakai pelindung badan ala kendo. Funakoshi yang sejak awal menentang berbagai bentuk kompetisi tidak bisa menerima pendapat itu. Apalagi saat itu kumite dalam karate bukanlah hal yang lazim.

Tidak terasa hanya dalam waktu empat tahun saja jumlah dojo universitas kian menjamur. Karena tidak mungkin mengatasi semuanya, Funakoshi dibantu oleh Yoshitaka Funakoshi dan Shigeru Egami (kelak memimpin Shotokai). Di sela kesibukannya sebagai instruktur, Funakohi bersama murid-muridnya masih sempat melakukan demonstrasi karate di penjuru Jepang. (Indoshotokan – bersambung).

GICHIN FUNAKOSHI – LEBIH DEKAT DENGAN SANG MAESTRO (4)

Akhir tahun 1921 Funakoshi mendapat undangan dari Menteri Pendidikan Jepang untuk demonstrasi karate. Acara itu dilakukan di Sekolah Umum Wanita Monbasho pada awal musim panas di bulan Mei tahun 1922. Funakoshi memperagakan berbagai teknik dasar seperti kuda-kuda, gerakan kata, gerakan kaki dan tangan.

Saat demonstrasi berlangsung banyak wartawan yang mengambil foto Funakoshi dari dekat. Setelah acara selesai Funakoshi didekati oleh salah satu anggota keluarga Sho dari dinasti Shotai yang merupakan raja terakhir di Okinawa. Orang yang tidak disebutkan namanya itu menyarankan Funakoshi agar memperpanjang kunjungannya di Jepang. Funakoshi menerima saran itu dan memutuskan tinggal di Jepang selama beberapa minggu. 

Demonstrasi karate di Monbasho membuat nama Funakoshi kian terkenal di Jepang. Beritanya bahkan banyak dimuat di surat kabar Jepang. Hal itu membuat Funakoshi didatangi banyak orang yang meminta untuk diajari karate. Biarpun terbilang cukup repot, Funakoshi melakukannya dengan senang hati. Apalagi Funakoshi ingin melihat karate Okinawa dapat sejajar dengan bela diri Jepang seperti judo dan kendo.

Di awal kedatangannya di Jepang Funakoshi berjumpa dengan Shinkin Gima, seorang pemuda berbakat asal Okinawa yang kelak banyak membantu perjuangannya. Gima yang saat itu tengah menempuh pendidikan di Shoka Daigaku (sekarang Universitas Hitotsubashi) pernah belajar karate pada Yabu Kentsu dan Yasutsune Itosu.

Masih di tahun 1922, Jigoro Kano sebagai pendiri Judo tertarik dengan karate setelah membaca tulisan-tulisan Funakoshi. Di luar kesibukannya sebagai instruktur, Funakoshi memang banyak menulis artikel tentang karate di surat kabar. Kano kemudian mengundang Funakoshi ke honbu (dojo utama) miliknya yaitu Kodokan. Funakoshi memenuhi undangan itu dengan ditemani oleh Shinkin Gima.

Acara itu tidak digelar besar-besaran dan hanya disaksikan oleh sekitar seratus orang saja. Funakoshi memperagakan kata favoritnya yaitu Kushanku Dai, sedangkan Shinkin Gima memperagakan kata Naihanchi Shodan. Sebagai pelengkap mereka juga memperagakan beberapa teknik dari kihon kumite.

Kano ternyata puas dengan demonstrasi itu. Dia lalu meminta Funakoshi mengajarinya teknik karate. Tapi ketika mendengar butuh waktu setidaknya setahun untuk belajar, dia lalu hanya meminta diajari teknik dasar. 


LAHIRNYA SIMBOL “TORA NO MAKI”


Beberapa waktu kemudian Funakoshi berpikir untuk pulang ke Okinawa. Tapi niat itu harus kembali tertunda setelah seorang pelukis terkenal bernama Hoan Kosugi mendatanginya. Sebelumnya Kosugi pernah ke Okinawa untuk sebuah ekspedisi dan tidak sengaja melihat karate. Sekembalinya ke Tokyo, dia ingin belajar karate namun kesulitan menemukan buku apalagi instruktur.

Funakoshi diminta mengajar karate bagi anggota perkumpulan Tabata. Sebuah klub para pelukis dimana Kosugi adalah ketuanya. Tapi pertemuan dengan Kosugi juga membawa keberuntungan lain untuk Funakoshi. Dari tangan Kosugi simbol harimau “Tora no Maki” berhasil dilukis. Makna dari “Tora no Maki” adalah merujuk pada filsafat Cina kuno yang mengatakan bahwa seekor harimau senantiasa waspada.

Kosugi tidak pernah mengetahui kebiasaan Funakoshi di masa lalu yang kerap mendaki gunung Torao (yang berarti ekor harimau). Sehingga ketika Funakoshi melihat lukisan harimau karya Kosugi dia menganggapnya bukan sebuah kebetulan semata. Dia sangat menghargai hasil karya itu dan berniat membayarnya. Tapi Kosugi menolaknya dan lebih memilih agar Funakoshi mengajarinya karate berikut filosofi mulia didalamnya. Funakoshi merasa terharu dan merekapun menjalin pertemanan baik. 

Lukisan original "Tora no Maki" atau "Sang Harimau yang Senantiasa Waspada." Dua tanda mirip bintang di dekat ekor adalah tanda tangan Hoan Kosugi. 


AWAL PERJUANGAN DI JEPANG


Diterima di perkumpulan Tabata telah membuat Funakoshi berpikir untuk lebih serius menyebarkan karate di Jepang. Awalnya dia sempat bimbang dan kemudian mengirim surat pada istrinya. Syukurlah, istrinya mau mengerti dan bersedia mendukung keputusan suaminya. Tapi tetap saja hal itu bukan perkara mudah, apalagi saat itu di Jepang Funakoshi adalah orang asing.     

Karena tidak punya banyak uang, selama di Jepang Funakoshi tinggal di Meisei Juku, sebuah asrama untuk pelajar Okinawa di Suidobata. Funakoshi tinggal di sebuah kamar sederhana yang terletak di samping jalan masuk asrama. Siang hari ketika para murid sedang belajar di kelas Funakoshi bekerja sebagai tukang kebun dan membersihkan asrama. Di malam hari dia mengajar karate sekaligus bekerja sebagai penjaga.

“Di Meisei Juku aku diijinkan memakai aula asrama sebagai dojo sementara ketika tidak dipakai para murid. Namun demikian, uang menjadi masalah yang serius. Aku belum berpenghasilan, keluargaku di Okinawa tidak bisa mengirim uang kemari, dan saat itu aku tidak bisa menarik sponsor karena di Jepang karate masih begitu asing.”

“Aku hanya mempunyai sedikit murid dan uang yang kudapat tidak cukup untuk makan. Aku membujuk koki asrama dengan mengajarinya karate. Sebagai gantinya, dia memberiku potongan harga untuk biaya makan bulanan. Hidup saat itu benar-benar sulit, tapi bertahun-tahun kemudian saat kuingat kembali, hal itu adalah sebuah kisah yang menarik.”

Di tengah himpitan hidup, Funakoshi berhasil menyelesaikan buku pertamanya yang berjudul “Ryukyu Kenpo: Tode.” Pada sampul depannya menggunakan lukisan harimau “Tora no Maki” karya Kosugi. Dalam buku ini pula Funakoshi menuliskan huruf kanji karate dengan huruf yang berbeda dari sebelumnya.

Tindakan Funakoshi yang mengubah huruf kanji karate itu sontak memicu kontroversi. Banyak ahli karate asal Okinawa yang merasa “marah.” Hal ini sebenarnya bisa dimaklumi karena ratusan tahun sebelumnya penulisan karate memakai huruf yang bermakna Cina. Hal itu dilakukan karena masyarakat Okinawa di masa lalu menghargai budaya Cina sebagai hal yang istimewa. (bersambung – Indoshotokan)