Custom Search

KONTEN DILINDUNGI HAK CIPTA. DILARANG KERAS MENJIPLAK, MENGEDIT DAN MEMPERBANYAK SEBAGIAN ATAU SELURUH HALAMAN SITUS INI TANPA IJIN.

REVIEW GAME DOUJIN #8: KOUMAJOU DENSETSU II: YOUGEN NO CHINGONKA

Beberapa waktu setelah event dalam game pertamanya, Sakuya Izayoi sang kepala pelayan di Scarlet Devil Mansion kembali untuk memberikan sebuah buku pada majikannya. Sakuya mendapati rumah besar itu telah kosong dan Remilia tidak ada disana. Di tengah kebingungannya tiba-tiba Yukari Yakumo muncul dan mengatakan keberadaan Remilia. Mengikuti petunjuk Yukari, pencarian Sakuya dimulai dari sebuah reruntuhan istana. Lagi-lagi Remilia tidak berhasil ditemukan. Tapi Sakuya mendapatkan petunjuk lain. Tidak hanya tentang Remilia yang hilang, tapi juga rencana tersembunyi Yukari yang melibatkan Saigyou Ayakashi, sebuah pohon sakura yang terbesar di Hakyugokurou.

Koumajou Densetsu II: Yougen no Chingonka, atau yang dalam versi Inggrisnya disebut Legend of Scarlet Devil Castle II: Stranger's Requiem, adalah sekuel dari Scarlet Symphony. Game doujin berdasarkan serial Castlevania ini dirilis dalam even Comiket 79, Desember 2010 dan memberikan lebih banyak upgrade dibanding prekuelnya. Selain grafis dan artwork yang lebih bagus, Stranger’s Requiem menampilkan voice acting dari para seiyuu (pengisi suara) ternama. Ini jelas sebuah lompatan besar untuk sebuah game indie. Saat ini versi Inggris dan Perancis sudah tersedia berupa patch update untuk versi 1.02 keatas.

http://i.imgur.com/X15A1.jpg

Stranger's Requiem juga berisi banyak even yang terinspirasi dari beberapa seri Castlevania. Misalnya Komachi yang menjadi wanita pendayung perahu sama dengan pria tua di Simon's Quest, Rondo of Blood dan Symphony of the Night. Kemudian senjata spesial yang dikeluarkan para boss juga selalu ada di game aslinya; kapak (Meiling), Injil (Patchouli), air suci (Alice) dan bumerang (Reimu). Di final stage Remilia meniru mimik pose dari drakula dalam Symphony of the Night dan Aria of Sorrow. Selain itu itu masih banyak contoh lainnya dan fans sejati Castlevania mungkin bisa mengingatnya.

Gameplay Stranger's Requiem pada intinya sama dengan Castlevania klasik, hanya saja kali ini karakter utama adalah Sakuya dan bukan lagi Reimu. Gaya Sakuya hampir sama seperti Alucard dalam Castlevania: Symphony of the Night. Senjata utama Sakuya adalah pisau, dan dengan menekan tombol arah dan serangan, maka akan menghasilkan efek yang berbeda. Misalnya dengan menekan panah atas+serang, Sakuya otomatis akan menebaskan pisaunya berkali-kali (menguras ¼ MP). Dengan menekan panah bawah+serang saat di udara, maka Sakuya akan melakukan tendangan diagonal.

http://i.imgur.com/Uv7pG.jpg

Sakuya juga bisa melayang seperti Reimu di game sebelumnya, hanya saja waktunya kini lebih terbatas. Gerakan baru lainnya adalah backflip atau melompat ke belakang dengan cepat. Pada saat backflip serangan lawan tidak akan bisa mengenai Sakuya dan ini sangat berguna untuk menghindari peluru atau proyektil. Selain pisau Sakuya juga bisa membawa item spesial seperti stopwatch untuk menghentikan waktu. Sama dengan sebelumnya, para boss yang berhasil dikalahkan otomatis akan membantu Sakuya dan bisa dipanggil sewaktu-waktu jika Sakuya mempunyai soul yang cukup. Namun begitu hanya tiga item spesial yang bisa dibawa Sakuya di setiap stagenya.

Magic Points atau MP dibutuhkan pemain untuk mengeluarkan item spesial atau memanggil bantuan. MP akan berkurang setiap kali digunakan, namun dapat diisi dengan menghancurkan lilin atau membunuh musuh. Dari situ akan ada soul yang bisa dikumpulkan. Soul ini bertindak seperti kristal merah pada game pertamanya, atau hati pada serial Castlevania. Semakin kuat musuh, maka soul yang didapat juga semakin banyak. Begitu juga sebaliknya, semakin hebat item spesial, maka butuh soul semakin banyak pula. Jumlah maksimum soul yang bisa dibawa di setiap levelnya adalah 999.
  
http://i.imgur.com/m89nc.jpg

Karena tingkat kesulitan lebih tinggi, ada beberapa checkpoint di setiap stagenya. Pemain akan mengulang dari checkpoint terakhir jika Sakuya mati ditambah minimal 50 soul. Pemain juga bisa mengulang kembali stage yang sudah mereka lewati dengan memilih continue pada menu option. Jika pemain berhasil menyelesaikan permainan, maka dua mode baru yaitu Omake dan Phantasm tersedia di menu awal. Omake hanya berisi dialog singkat antar karakter dalam permainan ini. Sedangkan Phantasm sama dengan New Game Extra di game sebelumnya dimana musuh baru dan kesulitan yang lebih tinggi siap menantang pemain.
  
Untuk urusan soundtrack, Eiichiro Yanagi masih diberi kepercayaan oleh Frontier Aja. Pada game kedua ini soundtrack terdengar lebih rock dari sebelumnya, tapi tetap enak untuk didengarkan. Nah, itulah review singkat tentang Koumajou Densetsu II: Yougen no Chingonka. Indoshotokan sudah menyelesaikan game ini dan harus diakui memang kualitasnya jauh diatas game doujin rata-rata. Sobat bisa mengunjungi situs resmi gamenya disini, atau mengunduh gamenya disini. (Indoshotokan)

REVIEW GAME DOUJIN #7: KOUMAJOU DENSETSU: AKEIRO NO KOUKYOUKYOKU

Sekali lagi Gensokyo diselimuti oleh kabut merah misterius yang entah berasal dari mana. Seperti yang pernah terjadi sebelumnya, pasti ada yang tidak beres di luar sana. Reimu Hakurei, sang penjaga kuil Hakurei bergegas menuju Scarlet Devil Mansion untuk menemukan jawaban dari insiden ini. Dia tidak sendiri karena Marisa Kirisame, sang penyihir dan juga teman terbaiknya bersedia membantunya.

Koumajou Densetsu: Akeiro no Koukyoukyoku, yang dalam versi Inggrisnya berarti Legend of Scarlet Devil Castle: Scarlet Symphony, adalah sebuah game doujin yang mengadaptasi serial Castlevania dengan karakter Touhou didalamnya. Game yang dikembangkan oleh Frontier Aja ini dirilis tahun 2009 dalam Comiket 76, yang diikuti oleh versi Inggris dan Perancis berupa patch khusus untuk versi 1.03 keatas. Dengan Reimu Hakurei sebagai satu-satunya karakter yang bisa dimainkan, Scarlet Symphony dipuji karena bisa mengobati kerinduan gamer PC pada Castlevania yang tidak pernah hadir di konsol mereka.

Scarlet Symphony benar-benar mengembalikan aura Castlevania klasik ke akarnya. Para fans akan langsung mengenali kostum Reimu yang mirip dengan Richter Belmont dari Castlevania III. Begitu juga dengan cambuk legendaris vampire killer yang dalam game ini digantikan dengan jimat mantra, ayunannya terasa begitu pas. Desain level juga terinspirasi game aslinya dimana ada jurang tanpa ujung dan jebakan berduri. Karena menggunakan karakter Touhou, praktis musuh-musuh dalam game ini adalah para peri nakal. Tapi musuh seperti hantu, tengkorak, roh dan minotaur juga tidak ketinggalan.
   
http://i.imgur.com/ngEGG3r.jpg

Gameplay dalam Scarlet Symphony mirip dengan serial klasik Castlevania di konsol NES atau SNES. Pemain menjelajahi sebuah stage dalam dua dimensi, menghindari jebakan, menghancurkan musuh dan melawan boss di akhir level. Yang berbeda adalah jika boss berhasil dikalahkan, mereka akan mengikuti dan meminjamkan kekuatannya pada Reimu. Jika terjebak dalam kesulitan pemain bisa memanggil mereka sewaktu-waktu, tapi ini membutuhkan sepuluh kristal. Dalam Castlevania kristal-kristal ini adalah pengganti heart atau hati yang bisa dikumpulkan dari menghancurkan lilin atau musuh.

Selain cambuk mantra dan serangan bantuan dari para boss musuh, Reimu bisa melayang dalam waktu yang tidak terbatas. Ini menggantikan double jump atau backflip seperti yang biasa ada di game aslinya. Walau terlihat keren, ini membuat permainan menjadi tidak seimbang karena Reimu nyaris tidak terkalahkan karena sulit disentuh musuh. Tapi untuk menghindari peluru danmaku yang berhamburan, kemampuan terbang Reimu sangat berguna. Saat terbang Reimu tidak menggunakan cambuknya, tapi serangan peluru-peluru kecil ber-damage rendah.
  
http://i.imgur.com/Et2d1CT.jpg

Jika pemain berhasil menyelesaikan gamenya, maka New Game Extra akan terbuka. Rute yang dilalui pemain masih sama, tapi musuh yang ada akan lebih kuat dan bahkan ada juga musuh baru. Musuh-musuh ini juga memberikan kristal yang lebih sedikit dari biasanya. Sehingga pemain tidak bisa sembarangan menggunakan serangan spesial. Untuk penggemar game action tantangan seperti ini jelas tidak dilewatkan.

Serial Castlevania terkenal dengan soundtracknya yang megah, artistik, bergaya gothic dan klasik. Nah, Scarlet Symphony juga mempunyai soundtrack yang beraliran sama yang digarap oleh Eiichiro Yanagi. Bagi sobat gamer yang belum tahu, Yanagi adalah komposer profesional yang sudah menggarap puluhan soundtrack untuk anime dan game. Memang soundtrack dari Scarlet Symphony ini tidak semegah Castlevania, tapi aura gothic-nya masih terasa. Sobat bisa mengunjungi situs resmi gamenya disini, atau mengunduh gamenya disini. (Indoshotokan)

SANG BANGAU DI ATAS BATU

Diterangi sinar bulan purnama, di sebuah pulau yang nyaris terlupakan, seorang laki-laki duduk sendiri. Teringat kembali olehnya masa-masa berlatih karate yang begitu keras dan melelahkan bersama gurunya Sakugawa. Sendiri dalam kebisuan, matanya yang tajam mengawasi setiap sudut berharap bisa menemukan buruannya. Ah, rupanya Sokon Matsumura sang kepala pasukan tengah mengemban tugas dari raja Ryukyu.

Beberapa hari yang lalu, ganasnya ombak dan badai Ryukyu yang tersohor itu memakan korban. Kabarnya seorang pelaut dari Tiongkok selatan terdampar di pesisir pantai. Kapalnya yang karam dan upayanya untuk bertahan hidup membuatnya harus mencuri makanan dari rumah penduduk di malam hari. Demi memperbaiki kapalnya, sang pelaut malang itu juga mencuri kayu dan bahan material lainnya. Para penduduk dibuat resah dan mereka berusaha menangkapnya, tapi selalu gagal. Rupanya dia bukan pelaut biasa. Untuk menyelesaikan urusan yang satu ini Matsumura adalah orang yang tepat.

Pagi memecah dan bayangan seorang laki-laki tergambar jelas di kejauhan. Dengan keyakinan di kepalanya, Matsumura melangkah maju mendekati sang laki-laki Tiongkok itu. Dia memang target buruannya. Seperti rumor yang sudah-sudah, aura kekuatannya bahkan bisa membuat udara terasa menyesakkan. Takdir akhirnya mempertemukan mereka berdua; Matsumura dan Chinto. Berhadapan satu sama lain, keduanya bersiap untuk berduel. Sebuah pertarungan yang akan membuat sejarah karate berubah selamanya.

Matsumura menyerang lebih dulu, namun dengan mudahnya Chinto mengelak. Tidak apa-apa, hanya kebetulan, karena serangan berikutnya akan membalik keadaan. Matsumura menyerang lagi, lagi dan lagi. Tapi sebanyak itu Matsumura menyerang, sebanyak itu pula dia menelan pil pahit. Chinto sungguh licin dan mengelak dengan cara yang tidak biasa. Akhirnya, setelah sebuah serangan membuat Chinto terpojok. Berpikir akan menang, Matsumura mendaratkan pukulan terakhirnya. Sungguh ajaib, Chinto menghindar dengan memutar satu kakinya, dan sebuah tendangan sukses membuat Matsumura terjerembab mencium pasir.

Menyapu pasir yang menutupi wajahnya, Matsumura melihat si pelaut Tiongkok itu hanya tertawa terkekeh-kekeh sambil menikmati kue berasnya. Melupakan pertarungan yang sudah lewat, Chinto menceritakan kisahnya pada Matsumura. Dia juga bercerita gerakan rahasianya; yang memutar, berbalik dan rumit. Gerakan tipuan yang berasal dari satu kaki terangkat itu memang sungguh asing bagi Matsumura. Tidak menyia-nyiakan kesempatan langka itu, Matsumura belajar gerakan barunya. Kini jurus rahasia Chinto diabadikan Matsumura dalam kata milik Shorin-ryu yang bernama Chinto.
 
Di masa lalu baik Tomari-te dan Shuri-te menggunakan Chinto sebagai salah satu kata dalam silabus mereka. Nama Chinto sendiri diartikan sebagai “Pertempuran Fajar” yang merujuk pada legenda duel Matsumura dengan sang pelaut Tiongkok di pagi hari. Tapi ada juga yang beranggapan bahwa Chinto adalah nama si pelaut (meskipun sumber lain menyebutnya dengan Chin Tao atau Chin Ji). Sekali lagi, semua ini hanyalah legenda dan pembaca Indoshotokan tidak perlu menyerapnya terlalu serius. Sebagai kata yang sangat tua, Chinto masih dipertahankan oleh kebanyakan karate moderen.

Dari Matsumura kata ini diajarkan pada Yasutsune Itosu yang kemudian memberikan sedikit modifikasi. Gichin Funakoshi sebagai murid dari Itosu membawa Chinto bersama 14 kata lainnya ke Jepang. Karena saat itu sentimen anti Cina sedang ramai di Jepang, Funakoshi mengubah nama Chinto menjadi Gankaku, yang berarti “Bangau di Atas Batu”. Tidak sekedar mengubah namanya, Funakoshi juga melakukan sedikit perubahan pada gerakan berikut arah embusennya sehingga tampil lebih linear. Sedangkan versi Shotokan yang terlihat sekarang ini adalah hasil modifikasi JKA dengan Yoshitaka Funakoshi.


Walaupun dalam silabus Shotokan kata ini diperkenalkan pada level shodan, Gankaku adalah kata yang sangat sulit. Agar tampil baik, seorang praktisi Shotokan bisa jadi butuh waktu yang tidak sedikit. Menjaga keseimbangan, kontrol dan koordinasi tubuh yang baik saat memutar, serangan dalam Gankaku ringan namun tajam. Dengan berdiri pada satu kaki (tsuruashi dachi), akan memberikan sebuah tantangan pada praktisinya untuk meniru seekor bangau yang berdiri pada satu kakinya.

Ada yang bilang Gankaku dibuat hanya untuk orang yang berpostur tinggi. Pendapat ini tentu saja tidak benar. Lebih tepat jika dikatakan Gankaku cocok untuk praktisi karate dengan keseimbangan yang baik, mempunyai ketenangan, kelincahan dan mampu mengeksekusi serangan dengan ringan dan cepat. Gerakan dalam Gankaku juga mengajarkan praktisinya untuk bertahan dan dalam saat bersamaan menangkis serangan lawan. Yang terakhir, Gankaku juga praktis untuk menyerang lawan dengan serangan yang menjebak disertai elakan yang unik. (Indoshotokan)

REVIEW GAME DOUJIN #6: CHERRY TREE HIGH COMEDY CLUB

Miley Verisse kini berada di tahun terakhirnya di SMU Cherry Tree High. Mimpi Miley adalah menjadi komedian ternama dan untuk itu dia ingin memulai dari sekolahnya dengan membentuk sebuah klub. Sayangnya, keinginan itu tidak berjalan mulus karena Octavia Richmond, sang ketua dewan murid, tidak mendukungnya. Octavia setuju jika setidaknya ada lima orang teman yang bersedia menjadi anggota klub. Sementara itu hanya ada Harriet, teman satu asrama Miley, yang menjadi anggota klub. Musim semi telah tiba, hanya ada waktu dua bulan bagi Miley untuk mewujudkan mimpinya. Berhasilkah usahanya?

Cherry Tree High Comedy Club (CTHCC) adalah versi Inggris dari game doujin yang berjudul “Manzai Kenkyuubu” (berarti klub pencinta komedi) atau sering disingkat “Manken”. CTHCC adalah sebuah game simulasi dengan sedikit elemen visual novel yang dikembangkan oleh seorang programmer bernama Hizume dan dipublikasikan oleh 773 (dibaca nanami) di tahun 2010. Dua tahun kemudian CTHCC diterbitkan versi Inggrisnya oleh Nyu Media dengan bantuan Capcom dan Tezuka Production sebagai penerjemahnya. Selain bahasa, tidak ada perbedaan antara kedua versinya.

Permainan dimulai tanggal 22 Maret dan berakhir 30 Mei. Satu hari dibagi dalam tiga waktu yaitu pagi, sore dan malam. Miley bisa melakukan beragam aktivitas seperti menjelajahi kota, berinteraksi dengan orang-orang, mengerjakan pekerjaan rumah, bekerja sambilan, dsb. Miley mempunyai fatigue bar sebagai indikator kelelahan. Semakin sering Miley bekerja atau mengerjakan tugas sekolahnya, maka fatigue bar ini juga akan naik. Semakin tinggi fatigue bar, maka uang yang didapat Miley juga semakin sedikit. Jika fatigue bar lebih dari 4 points, di hari itu Miley tidak akan melakukan aktivitas apapun.

http://i.imgur.com/P8WxtLe.png

Miley harus menjalin pertemanan dengan enam orang yang potensial untuk menjadi anggota klubnya. Tiap orang mempunyai hobi dan barang yang disukai atau tidak disukai. Pemain harus mengetahuinya agar sukses menjalin pertemanan. Semakin akrab Miley dengan targetnya, maka peluang mereka menjadi anggota klub juga semakin besar. Jika hubungan pertemanan mencapai level 2, maka Miley bisa mendapatkan nomor teleponnya. Jika mencapai level 5, maka mereka akan menjadi anggota klub. Nah, sebagai bocoran, inilah keenam target Miley berikut hobinya:

Target
Huge Fan
Likes
Dislikes
Neutral
Sara Croft
Pets
Video Games, Whodunits, Romance
Sports, Travel
Music, Art, History, Politics, Fashion, Cooking
Tyler Perez
Romance
Music, Video Games
Whodunits, Art
History, Politics, Fashion, Sports, Travel, cooking, Pets
Curtis Campbell
Politics, Cooking
Whodunits,
Video Games, Music, Fashion
History, Art, Romance, Sports, Travel, Pets
Vivian Bergman
History
Art, Sports
Whodunits, Politics
Music, Romance, Cooking, Pets, Travel, Video Games, Fashion
May Bonbon
Sports
Travel, Pets, History
Romance, Music
Video Games, Whodunits, Art, Politics, Fashion, Cooking
Cindy Smith
Music, Fashion
Video Games
History, Romance, Cooking



CTHCC juga mempunyai banyak lokasi yang bisa didatangi oleh Miley dimana dia bisa melakukan beragam aktivitas. Yang harus diingat pemain adalah keenam target Miley juga mempunyai lokasi favorit dan mereka biasanya selalu ada di waktu tertentu. Misalnya di Orchard Shopping Precinct Miley bisa memesan makanan (untuk memulihkan fatigue bar) dan membeli majalah. Sara dan Harriet ada disini setiap pagi sedangkan May selalu ada di sore harinya. Total ada sembilan lokasi berbeda yang bisa dikunjungi.

http://i.imgur.com/jSIS89f.png

Ada 3 ending berbeda yang bergantung dari jumlah teman yang berhasil direkrut oleh Miley. Bad ending (0-2), normal ending (3-5) dan good ending (6). Jika ingin mendapatkan ending terbaik, pemain sebetulnya cukup mengingat dan bila perlu mencatat kesukaan dan tempat favorit dari target Miley. Jika pemain berhasil menyelesaikan permainan, sebuah mode baru bernama New Game Plus. Disini pemain bisa membawa seluruh skill yang sudah ditingkatkan levelnya, repertoire dan data dari target yang akan direkrut (like, dislikes, neutral), sehingga pemain tidak perlu mengulang dari awal.

Overall, CTHCC adalah sebuah game yang fun dan pas bagi penggemar simulasi bergaya anime. Sobat Indoshotokan bisa mengunjungi situs resmi developernya disini atau mendownload game disini. Selamat bermain. (Indoshotokan)

REVIEW GAME DOUJIN #5: DANMAKU UNLIMITED 2

Sobat Indoshotokan pernahkah mendengar istilah danmaku? Bagi yang belum tahu, danmaku berasal dari Bahasa Jepang yang berarti tirai peluru, yaitu genre tembak menembak dalam video game dimana dalam satu layar akan dipenuhi oleh peluru musuh. Tugas pemain tentu saja menghindari peluru-peluru tadi jika ingin selamat. Di Jepang genre seperti ini sangat populer dan ada penggemarnya sendiri. Nah, pada review kali ini Indoshotokan akan mengulas sebuah game shooting berjudul Danmaku Unlimited 2.

Danmaku Unlimited 2 adalah sebuah game indie yang dibuat oleh programmer non Jepang bernama Sunny Tam. Dirilis untuk tiga platform; PC Windows, iOS dan Android, Danmaku Unlimited 2 adalah game shooting ala Jepang dalam grafis HD yang meminta pemain mengontrol pesawat, bermanuver dari hujan peluru dan membalas tembakan musuh. Game ini mempunyai ciri khas musik yang memacu adrenalin, sistem skor yang rumit dan tingkat kesulitan tinggi yang dijamin akan membuat pemain tertantang menyelesaikannya. Tidak ada jalan cerita dalam Danmaku Unlimited 2. Pemain adalah pilot yang harus menghancurkan musuh-musuh yang disebut dengan “Valkyria”.

http://i.imgur.com/BwhrKah.jpg

Pada menu awal ada dua mode permainan yang bisa dipilih, yaitu Arcade Mode dan Bonus Mode. Dalam Arcade Mode ada dua pilihan yaitu Classic Mode dan Burst Mode. Perbedaannya hanya terletak pada senjata dan skor yang didapat pemain. Dalam Classic Mode melakukan grazing (sebutan untuk menghindari peluru pada jarak yang sangat dekat) tidak melipatgandakan skor namun mengisi trance meter. Nah, trance meter ini jika penuh akan membuat pesawat pemain mampu mengeluarkan serangan dengan damage yang lebih besar untuk sementara waktu. Sedangkan skor bisa didapat dengan jalan mengumpulkan permata dari musuh yang dihancurkan.

Dalam Burst Mode melakukan grazing tetap mengisi trance meter seperti halnya Classic Mode, hanya saja disini sedikit lebih lambat. Yang berbeda, saat pemain mengumpulkan item dari musuh yang hancur, otomatis burst gauge juga akan terisi perlahan-lahan. Saat burst gauge terisi sekitar 20% pemain dapat menembakkan laser yang akan meng-cancel peluru musuh. Peluru berikut musuh yang terkena efek cancel akan berubah menjadi permata yang jika dikumpulkan akan melipatgandakan skor. Ini akan sangat berguna jika pemain dalam level hard atau extreme karena mereka dapat meng-cancel peluru yang sangat banyak jumlahnya.

Dalam Bonus Mode pemain akan diberikan dua pilihan; Boss Rush dan Free Play. Seperti namanya, Boss Rush hanya berisi duel pesawat pemain dengan boss dari semua stage. Ada juga secret boss yang bisa ditemukan jika beruntung. Free Play adalah mode training dimana pemain dapat berlatih mengasah keahlian mereka sebelum masuk ke stage permainan. Total ada 5 stage dalam Danmaku Unlimited 2.

http://i.imgur.com/ppTevIt.jpg

Tidak seperti game shooting lainnya, pesawat pemain tidak akan hancur jika terkena sekali peluru musuh. Saat pesawat menderita kerusakan, perisai akan menghilang. Jika pemain terkena peluru lagi saat perisai belum terisi penuh, maka pemain akan kehilangan satu nyawa. Yang berbahaya adalah jika pemain terkena peluru secara beruntun. Perisai akan hancur, shield meter tidak mampu terisi sampai pemain kehilangan nyawa.

Selama permainan layar monitor akan dipenuhi efek-efek flashy alias terang menyilaukan dari peluru, musuh yang hancur dan teks. Sementara ini terlihat keren, efek seperti ini tidak cocok bagi pemain yang sensitif dengan cahaya yang berlebihan. Untungnya efek yang gila-gilaan ini tidak membuat permainan melambat dan pemain tidak akan kesulitan menembak target mereka. Satu lagi nilai plus dari permainan adalah mendukung tate mode, sehingga pemain dapat merubah pandangan layar menjadi vertikal ke horizontal, atau sebaliknya. Khusus untuk versi PC pemain juga dapat merubah lebar rasio layar.
 
http://i.imgur.com/xvNRM1R.jpg

Jika berhasil menyelesaikan gamenya pemain akan diberikan experience points yang bisa digunakan untuk mengkustomisasi pesawat. Pemain bisa menambah kekuatan tembakan, perisai, menambah jumlah nyawa dan continue. Dengan begitu pemain bisa menyelesaikan permainan pada tingkat kesulitan yang lebih tinggi. Pastikan juga membaca tutorial pada menu options untuk mengetahui kemampuan pesawat berikut upgradenya.

Game shooting bertema seperti ini banyak ditemukan di negeri Sakura. Tapi sayangnya di luar Jepang sangat sulit ditemukan di PC. Danmaku Unlimited 2 adalah game yang bagus dan wajib dikoleksi bagi para penggila J-style games. Sobat bisa mengunjungi situs resmi developernya disini atau mendownload gamenya disini. Tentu saja untuk versi Windows. Selamat menembak. (Indoshotokan)

EVOLUSI IDEOGRAM DAN MAKNA KARATE

Banyak orang mengira jika Gichin Funakoshi adalah orang yang merubah makna dan ideogram (huruf kanji) karate. Namun kenyataannya tidaklah demikian, karena sebelumnya sudah ada ahli karate lain yang melakukannya. Seperti diketahui, masyarakat Okinawa di masa lalu sudah mengembangkan teknik bela diri yang lazim mereka sebut dengan “te” atau “tode”. Namun karena serba dirahasiakan tidak banyak informasi yang bisa didapat. Masyarakat saat itu juga tidak menulis “karate” atau nama suatu teknik dalam ideogram yang spesifik.

Sekitar tahun 1905-an barulah muncul penulisan karate yang dilakukan oleh Chomo Hanashiro. Dalam bukunya yang berjudul “Karate Shosu Hen” Hanashiro menggunakan dua huruf yang diucapkan “tode”. Namun huruf pertamanya juga bisa dibaca “kara”. Itulah sebabnya Hanashiro dianggap sebagai pelopor penulisan huruf kanji karate. Yang perlu diingat adalah meskipun huruf yang digunakan Hanashiro bermakna “Teknik Cina” atau “Dinasti T’ang”, tidak pernah ada huruf seperti itu di kamus Tiongkok saat itu.

Tiga tahun kemudian Yasutsune Itosu, sang Bapak Karate Okinawa, mengirim surat pada Menteri Pendidikan Jepang. Dalam surat yang bertajuk Tode Jukun itu Itosu juga menggunakan ideogram yang bermakna Cina yang berbeda dengan milik Hanashiro. Sehingga dapat disimpulkan jika saat itu masih belum ada standar penulisan yang baku untuk ideogram karate.

Beberapa tahun kemudian wacana perubahan ideogram karate kembali mengemuka. Tahun 1922 dalam bukunya yang berjudul “Ryukyu Kenpo: Tode” Gichin Funakoshi memakai ideogram yang hampir sama dengan yang pernah ditulis Hanashiro. Tapi milik Funakoshi berbeda pada salah satu hurufnya. Dan karena saat itu Funakoshi tengah berusaha mempopulerkan karate di Jepang, tindakannya itu memicu gelombang protes dari ahli karate Okinawa. Sehingga ada dua perbedaan penyebutan pada buku Funakoshi saat itu. Yang pertama adalah “Ryukyu Kenpo: Tode” sedang yang kedua adalah “Ryukyu Kenpo: Karate”.


Perdebatan ideogram karate terus berlanjut. Tahun 1929 Funakoshi dan murid-muridnya di Universitas Keio membicarakan perubahan ideogram karate. Dalam diskusi itu mereka setuju merubah ideogramnya menjadi bermakna “Tangan Kosong”. Selain demi meredakan protes, Funakoshi juga berencana merangkum semua artikelnya di surat kabar menjadi sebuah buku. Rencananya buku itu diberi judul “Karate-do Kyohan”. Setelah melalui konsensus, akhirnya disepakatilah penulisan ideogram karate seperti yang lazim terlihat saat ini.

Yang jelas, karate tidak lagi mengandung makna “tangan atau teknik Cina”, karena lebih filosofis. Mengikuti bela diri tradisional Jepang lainnya, Funakoshi juga menambahkan akhiran “do” yang berarti jalan. Istilah “do” juga kental dengan pengaruh Zen dan Budhisme. Dengan demikian, sejak saat itu karate lebih dari sekedar teknik bela diri untuk membunuh lawan (atau disebut karate-jutsu). Karate-do adalah seni bela diri yang mengajak praktisinya menempa fisik dan mental dengan kesempurnaan karakter sebagai tujuan akhir.

Setelah Funakoshi mempublikasikan ideogram karate-do yang baru, tahun 1936 para ahli karate Okinawa bertemu untuk membahas perubahan itu. Acara yang digagas Nakasone Genwa itu disponsori oleh Chofu Ota dari Ryukyu Shinpo, sebuah media surat kabar terkemuka di Okinawa. Meski ada yang bimbang, akhirnya mereka sepakat menerima perubahan itu. Alasannya adalah agar karate menjadi bela diri yang bebas dari unsur Cina dan bisa diterima lebih mudah di Jepang. Dan demikianlah, sejak tahun 1960 ideogram karate-do resmi distandarisasi seperti yang umum digunakan sekarang ini (Indoshotokan).

REVIEW GAME DOUJIN #4: TOUHOU HYAKKI KASSEN - KUNITORI DAI YUUGI

Sobat Indoshotokan pernah bermain Plants vs. Zombies? Game kasual yang menceritakan Dave, orang yang berjuang mempertahankan rumahnya dari serbuan mayat hidup dengan dibantu tanaman ajaibnya itu memang sangat populer. Tapi Indoshotokan kali ini tidak akan membahas Plants vs. Zombies, namun game Touhou dengan gameplay serupa yang berjudul Touhou Hyakki Kassen – Kunitori Dai Yuugi (berarti: Seratus Perang Ogre di Timur). Hmm.. judulnya panjang juga ya?

Tidak diketahui dari mana asalnya, tiba-tiba saja ratusan monster bermunculan di Gensokyo. Sebagai komandan perang, pemain harus mengatur unit-unit mereka yaitu para gadis Touhou dan mencegah agar para monster tidak menerobos ke benteng. Unit-unit dibuat dalam bentuk kartu dan di awal permainan hanya ada 3 kartu yang bisa diambil secara acak oleh pemain. Selanjutnya unit yang sudah dipilih bisa ditempatkan di kotak berukuran 5x5 dalam posisi bertahan atau menyerang.

Tiap unit mempunyai kelebihan dan kekurangan. Ada unit khusus menyerang jarak dekat (melee unit) dan ada pula yang bisa menyerang musuh dari kejauhan (ranged unit). Ada juga unit yang mempunyai efek magic tambahan. Tiap unit mempunyai health points dan akan semakin berkurang tiap kali terkena serangan. Jika health points habis, maka unit tersebut akan mati. Untungnya, pemain dapat menyembuhkan unit yang terluka. Saat pemain berhasil mengalahkan semua gelombang musuh, sebuah kartu baru dapat disimpan sebagai reward. Sangat mirip Plants vs. Zombies, bukan?

http://i.imgur.com/fewL86q.jpg

Bagian terbaiknya adalah pemain bisa membangun deck ala Yu-Gi-Oh! Setiap kali menyelesaikan sebuah stage, pemain juga akan diberikan point. Nah, point-point tadi bisa digunakan untuk membeli kartu. Tiap kartu mempunyai harga point yang berbeda, bergantung pada efek dan kekuatannya. Misalnya kartu Marisa berharga 3 point dan bukan 1 point seperti halnya kartu biasa lainnya. Jumlah kartu yang bisa dibawa pemain dalam sebuah stage akan dibatasi. Namun jumlah dan variasinya akan meningkat seiring dengan stage yang semakin sulit.
 
Permainan bergaya tower defense seperti ini memang sangat menyenangkan dan adiktif. Tapi bagi pemain yang enggan berpusing ria, mengkoleksi kartu dari permainan ini sepertinya bisa menjadi alternatif pilihan yang baik. Untuk musiknya cukup oke dan khas ala Touhou, sedangkan grafisnya game ini masih diatas Plants vs. Zombies. Sobat bisa mengunjungi situs developernya disini atau mendownload gamenya disini. (Indoshotokan)