Custom Search

KONTEN DILINDUNGI HAK CIPTA. DILARANG KERAS MENJIPLAK, MENGEDIT DAN MEMPERBANYAK SEBAGIAN ATAU SELURUH HALAMAN SITUS INI TANPA IJIN.

LEDAKAN KUNGFU BA JI (1)

Sekitar tahun 90-an silam sebuah manga (komik Jepang) berjudul Kenji terbitan Elex Media Komputindo beredar di tanah air. Dibanding dengan manga seangkatannya, Kenji mampu menarik minat kalangan pecinta bela diri khususnya kungfu Cina. Manga garapan Ryuichi Matsuda dan Yoshihide Fujiwara ini memang tidak seheboh manga bergenre sejenis seperti Tekken Chinmi (Indonesia: Kungfu Boy) karya Takeshi Maekawa atau bahkan Dragon Ball Z karya mangaka besar Akira Toriyama. Manga Kenji tampil dengan sisi bela diri dan filosofi yang lebih realistis dibalut dengan nuansa historis Cina. Bagi penikmat manga veteran tentu pernah membaca yang satu ini.

Kenji menceritakan seorang remaja bernama Kenji Goh yang belajar kung fu delapan mata angin sejak kecil dari kakeknya. Antusias Kenji Goh pada latihan kungfu kemudian membawanya pada petualangan di Cina daratan demi mencari kakeknya yang hilang. Tidak sekedar kungfu Cina, dalam manga itu juga disinggung aliran bela Jepang lain yang mengadaptasi tokoh sebenarnya. Bagi praktisi Shotokan yang kebetulan membacanya tentu tidak asing dengan Hirokazu Kanazawa yang di manga itu disebut Sohachi Takayama. Selain postur fisik yang diilustrasikan persis seperti aslinya, karir karate Sohachi Takayama juga diceritakan sama dengan figur Kanazawa yang sebenarnya.

Namun ulasan kali ini bukanlah membahas manga Kenji yang sudah lewat lebih dari 15 tahun itu. Adalah kungfu delapan mata angin yang sangat menarik untuk diulas lebih dalam. Teknik dan filosofi kungfu ini ternyata ada kemiripan dengan karate Shotokan. Tidak bermaksud membandingkan, karena keduanya juga mempunyai perbedaan. Apalagi antara karate Shotokan dan kungfu delapan mata angin tentu saja tidak ada hubungannya.

Kungfu delapan mata angin nama aslinya adalah Ba Ji Quan (diucapkan Ba Ji Chuan). Nama Ba Ji mengambil dari kitab kuno I Ching yang artinya mengarah ke semua penjuru, mencakup semua hal, dan alam semesta. Disamping delapan mata angin, kungfu ini disebut juga delapan kepalan ekstrim. Di Jepang kungfu Ba Ji disebut dengan Hakkyokuken. Arti angka “delapan” adalah menggambarkan terjadinya suatu ledakan yang mengarah ke segala penjuru. Karakter kungfu ini memang tenaga yang luar biasa mirip ledakan dipadu hentakan kaki dan siku tangan sebagai senjata.

Selain itu makna angka 8 dalam kungfu Ba Ji juga berarti usaha untuk mengoptimalkan delapan anggota tubuh (kepala, bahu, siku, tangan, pantat, pinggul, lutut, kaki) sebagai senjata hingga batas maksimal. Karena itulah sebab lain mengapa diberikan nama kungfu Ba Ji adalah mengingatkan praktisinya agar senantiasa waspada.


Kungfu Ba Ji berasal dari kota Dong Nan daerah Cang yang masuk dalam propinsi Hei Bei di Cina utara. Di masa lalu daerah Cang adalah wilayah yang miskin di Cina. Tanah yang kering dan tandus banyak ditemui hingga tidak begitu baik untuk bercocok tanam. Meski jumlah pendekarnya tidak sebanyak wilayah Cina lainnya, daerah ini disebut kampung halamannya kungfu Baji dan Pi Gua Quan yang dianggap pasangan kungfu Ba Ji. Di masa lalu orang asing yang melewati wilayah Cang, pasti akan menurunkan bendera, panji-panji atau simbol apapun untuk menghormati pendekar di kota itu. Ungkapan lama menyatakan,”jika kau datang ke Cang hanya untuk mencari pertikaian sedang semua laki-laki bekerja di ladang, maka wanita disana dengan senang hati akan melawanmu.”

Kungfu Ba Ji yang dianggap sebagai kungfu tangguh bukanlah isapan jempol belaka. Meski Cina kaya dengan bela diri, kungfu Ba Ji sangat berbeda karena disebut mempunyai karakter sebagai pemimpin. Di masa lalu banyak pejabat dan tokoh politik Cina yang mempekerjakan pendekar Ba Ji sebagai pengawal. Sejarah mencatat pendekar Ba Ji bernama Huo Dian Ge menjadi pengawal Kaisar Pu Yi sebagai Kaisar Cina yang terakhir. Ada pula Li Chen Wu yang menjadi pengawal Mao Zedong, dan Liu Yun Qiao yang menjadi pengawal untuk faksi nasionalis Cina yaitu Kuo Min Tang. Selain itu Liu Yun Qiao juga menjadi instruktur bela diri bagi Chiang Kai Shek, tokoh nasionalis Cina yang kemudian hijrah ke pulau Formosa (sekarang Taiwan).

Meski tidak diketahui pasti siapa orang yang menciptakan kungfu ini, ada banyak nama yang mempopulerkan kungfu Ba Ji. Menurut sejarah yang paling awal adalah Wu Zhong (disebut juga Tong Yin), seorang muslim dari desa Meng, kota Dong Nan wilayah Cang. Menurut legenda suatu malam Wu Zhong sedang berlatih teknik pedangnya, tiba-tiba seseorang yang berpenampilan mirip pendeta Tao melompat dari atap rumahnya. Saat ditanya pendeta itu menolak menyebutkan namanya. Namun sejak itu mereka bertukar pikiran dalam ilmu bela diri.

Ketika Wu Zhong mengetahui teknik pendeta itu sangat asing, dirinya tertarik untuk belajar padanya. Begitulah, Wu Zhong belajar kungfu Ba Ji hingga tak terasa sepuluh tahun telah berlalu. Saat pelajaran dirasa telah cukup, pendeta Tao itu pamit pada Wu Zhong demi meneruskan perjalanan. Mengetahui gurunya akan pergi, Wu Zhong berlutut dan menangis karena selama itu dirinya berguru namun belum juga tahu nama gurunya. Pendeta itu menjawab,”siapapun yang mengenal Lai adalah muridku.” Sesaat kemudian pendeta itu segera melompat dan menghilang dari pandangan Wu Zhong.

Kira-kira 2 tahun kemudian seorang pendeta lain datang menemui Wu Zhong. Pendeta yang menurut legenda bernama Pi itu mengaku murid dari Lai, dan menyerahkan kitab rahasia kungfu Ba Ji pada Wu Zhong. Selain itu pendeta Pi juga mengajarkan ilmu tombak. Setelah pelajarannya selesai, pendeta Pi meminta Wu Zhong ke kuil Hang Zhou untuk mencoba ilmunya dengan menantang biksu kepala yang mahir bela diri Shao Lin. Wu Zhong berhasil mengalahkan biksu Shao Lin hingga membuat sang biksu terkesan.

Setelah itu Wu Zhong meneruskan perjalanannya ke Beijing demi mencari lawan tangguh sekaligus menguji ilmu tombaknya. Kesempatan itu datang setelah King Xun Qin (putra kesebelas Kaisar Kan Xi) menantangnya. Yang menarik, Wu Zhong tidak menggunakan tombak dan hanya menggunakan bambu yang ujungnya diberi kapur putih. Begitu pertandingan akan dimulai, saat keduanya saling berhadapan, tiba-tiba Wu Zhong meminta lawan memeriksa alisnya.

Betapa terkejutnya King Xun Qin karena alisnya telah putih karena serbuk kapur. Tentu saja King Xun Qin tidak terima dan menganggap Wu Zhong telah melakukan sihir. Untuk meyakinkan lawan, Wu Zhong memberi kesempatan sekali lagi. Namun ternyata hasilnya sama saja. Sadarlah King Xun Qin bahwa gerakan bambu Wu Zhong sangat cepat hingga tidak bisa ditangkap mata. Merasa kagum, diapun mulai belajar teknik tombak dari Wu Zhong. Sejak itulah nama Wu Zhong terkenal di Beijing dan mendapat julukan “Wu Zhong Si Raja Tombak”. (bersambung) (Indoshotokan)

1 komentar :

phoetr@gmail.com said...

great story...