Custom Search

KONTEN DILINDUNGI HAK CIPTA. DILARANG KERAS MENJIPLAK, MENGEDIT DAN MEMPERBANYAK SEBAGIAN ATAU SELURUH HALAMAN SITUS INI TANPA IJIN.

RESENSI FILM: THE TEKKEN MOVIE

Di tahun 2039 setelah Perang Dunia yang kesekian kalinya, hanya sedikit peradaban manusia yang masih bertahan. Pemerintah pun tidak lagi menjalankan kekuasaannya dan sebagai gantinya dijalankan oleh korporasi besar. Salah satu yang terkuat adalah Mishima Zaibatsu yang dipimpin Heihachi Mishima.

Seakan ingin menyebarkan doktrin yang terkuatlah yang akan bertahan hidup, Mishima Zaibatsu menggelar sebuah turnamen bela diri. Ajang persaingan pendekar terbaik itu bernama “King of Iron Fist Tournament” atau lebih populer dengan sebutan Tekken. Mereka yang sanggup berdiri hingga paling akhir akan dijanjikan kekayaan dan ketenaran seumur hidup. Iming-iming yang menggiurkan itu berhasil menarik minat para petarung dunia, meskipun sebenarnya mereka mempunyai motif masing-masing dibalik keikutsertaannya.

Salah satu petarung sekaligus sebagai tokoh utamanya adalah Jin Kazama, seorang pemuda dari Jepang yang ingin menuntut balas atas kematian ibunya. Jin sadar agar lebih dekat pada Heihachi (yang dianggapnya sebagai sang pembunuh) adalah menjuarai turnamen itu. Heihachi yang juga kakek dari Jin sebenarnya juga tengah diselidiki atas dugaan beberapa kasus pembunuhan. Heihachi ternyata juga mempunyai maksud tersembunyi dengan menggelar turnamen Tekken.

Seiring alur film berjalan, Jin menemukan bahwa dalam tubuhnya tersembunyi sebuah kekuatan yang mengerikan. Kekuatan gelap itu berasal dari benih iblis (devil gene) yang diwarisi Jin dari ayahnya yaitu Kazuya Mishima. Tidak hanya itu, sedikit demi sedikit kekuatan itu mulai menggerogoti pikiran Jin dan yang mulai merubahnya menjadi sosok mengerikan dan jahat. Bukannya membalas dendam, Jin kini berjuang menyelamatkan diri dari ayah dan kakeknya yang mempunyai niat jahat padanya.

Tekken adalah film yang dirilis berdasarkan game laris buatan Namco di konsol Playstation. Game ini sekarang telah mencapai seri ke-6 (2009) di Playstation 3 dan laris manis di luar Jepang. Namun anehnya, di Jepang sendiri nama Tekken kalah populer dengan rival terberatnya yaitu Virtua Fighter dari SEGA. Dengan dukungan fans yang mendunia, agaknya menjadi pertimbangan Dwight H. Little (sutradara) untuk mengangkatnya ke layar lebar.


Sebagai Jin Kazama diperankan oleh Jon Foo yang sebelumnya sukses membintangi beberapa film laga seperti Universal Soldier: Regeneration (2009), Tom Yum Goong (2005) dan Batman Begins (2005). Diluar kesibukannya berakting, aktor kelahiran 30 Oktober 1982 ini adalah praktisi wushu. Sedangkan Heihachi Mishima sebagai antagonis utama diperankan oleh Cary Hiroyuki Tagawa. Penikmat film laga tanah air tentu tak asing dengan wajahnya di film Mortal Kombat (1995) sebagai Shang Tsung. Di usianya yang kini hampir 60 tahun, Tagawa yang langganan kebagian peran jahat ini sudah membintangi lebih dari 95 judul film Hollywood.

Selain Jin, Heihachi dan Kazuya, sejumlah karakter original dari gamenya juga dipastikan akan tampil. Mereka adalah Bryan Fury, Steve Fox, Christie Monteiro, Marshall Law, Jun Kazama, Eddy Gordo, Nina Williams, Anna Williams, Raven, Yoshimitsu, Hwoarang, Miguel Caballero Rojo dan Lee Chaolan. Dari sekian banyak karakter, Yoshimitsu paling disukai karena kostumnya yang rumit dan lebih mendekati gamenya.

Meski banyak karakter gamenya yang dihadirkan, banyak fans Tekken justru kecewa dengan film ini. Hal ini karena tokoh yang dinilai kurang pas dengan alur ceritanya. Background film Tekken tampaknya terfokus pada game Tekken 3 saat Jin baru muncul. Sedangkan untuk karakternya, sutradara mencomot dari game seri selanjutnya. Kekecewaan fans Tekken sebenarnya masuk akal karena banyak tokoh veteran dari gamenya justru dihilangkan. 


Misalnya seperti Paul Phoenix yang rajin beraksi di gamenya justru diganti wajah baru seperti Caballero Rojo yang motifnya di Tekken tidak jelas. Belum lagi sosok Anna Williams (diperankan Marian Zapico) yang dinilai terlalu tua. Ada lagi sosok Christie Monteiro yang berkebangsaan Amerika Latin (diperankan Kelly Overton) terlihat kebarat-baratan. Lucunya, Christie lalu dikisahkan masuk kriteria cinta Jin setelah mereka berjumpa di turnamen. Diluar itu masih banyak karakter sampingan yang harusnya tidak tampil di film yang kabarnya memakan budget besar ini.

Selain pemilihan casting yang dinilai kurang pas, desain stage untuk pertarungan fim ini juga menuai kritikan. Salah satunya adalah desain stage yang dinilai amatiran dan bahkan terkesan hanya dipermak dengan aplikasi Adobe Photoshop.

Sebelum Tekken sebenarnya sudah ada film laga berbasis game lainnya. Diantaranya adalah Street Fighter (Capcom), Dead or Alive (Tecmo), Dragon Ball Z (Akira Toriyama/Bird Studio & Shueisha) dan sebelum ini ada Street Fighter: The Legend of Chun-Li. Nama besar Hollywood sebagai produsen film dunia agaknya tidak bisa jadi jaminan suksesnya film-film itu. Meski gamenya menjadi best seller, filmnya justru jeblok di pasaran. Tidak heran jika film Tekken ini belum dirilis sudah disambut rasa pesimis dari calon penonton.

Tekken dirilis terutama untuk pasar Amerika, Asia dan Eropa. Namun di Jepang sudah dirilis tanggal 20 Maret 2010 dan Inggris video premiere-nya tanggal 5 April 2010 lalu. Untuk rilis di Indonesia seharusnya tidak lama lagi. Anda yang memang fans berat Tekken tentu dapat menyisihkan anggaran untuk menonton film ini. Namun untuk para kolektor film, sebaiknya Anda menyisihkan dana untuk film lain yang lebih baik. (Indoshotokan) 

0 komentar :