KONTEN DILINDUNGI HAK CIPTA. DILARANG KERAS MENJIPLAK, MENGEDIT DAN MEMPERBANYAK SEBAGIAN ATAU SELURUH HALAMAN SITUS INI TANPA IJIN.

Cari Artikel

JIWA KARATE-DO – POSISI TUBUH DAN GERAKAN YANG PERTAMA (2)

Peserta tampil sangat mengesankan dengan serangan dan bertahan yang cepat, bertenaga dan tekniknya terkontrol dengan baik. Peserta kata menampilkan gerakan yang cepat dan indah. Baik kumite dan kata berhasil membuat penonton terkesan. Tak ada satupun peserta yang cedera dalam pertarungan bebas itu.

Kompetisi yang terbilang baru itu berhasil dengan sukses. Itulah awal dari pertarungan bebas yang ditampilkan dalam turnamen karate di penjuru dunia pada hari ini. Akhirnya sebuah bentuk pertarungan yang mendekati nyata tampil ke hadapan publik.

Seperti yang kau ketahui, aku berhasil mengatasi kebimbangan dengan membuat turnamen karate. Namun demikian aku masih saja khawatir tentang satu hal. Seiring makin populernya kompetisi karate, praktisinya menjadi terobsesi dalam kemenangan semata. Yang paling banyak dipikirkan adalah bagaimana meraih angka sebanyak-banyaknya, dan begitu cepatnya kompetisi tampaknya telah menghilangkan karakter sebenarnya dari karate.

Dalam hal ini, kompetisi akan menurunkan kualitas karate menjadi sekedar aksi saling pukul saja. Lebih dari itu, aku tidak mampu menyatakan apakah gagasan pertarungan bebas adalah jiwa dari karate seperti yang diajarkan oleh Master Gichin Funakoshi, pendiri dari karate-do. Seperti yang kalian ketahui, jiwa dari karatenya membutuhkan sebuah standar etika yang tinggi.


SENI ORANG YANG BERBUDI LUHUR

Master Funakoshi sering menyebutkan sebuah pepatah lama Okinawa, ”karate adalah seni dari orang-orang yang berbudi luhur.” Tidak perlu dikatakan lagi, bagi praktisi karate untuk tidak menyombongkan atau bahkan memamerkan teknik mereka dengan alasan apapun yang menentang jiwa karate-do.

Makna karate-do menjadi lebih dalam sebagai usaha untuk menguasai teknik bela diri. Tidak seperti olahraga pada umumnya, karate-do mempunyai jiwanya sendiri. Untuk menjadi seorang master yang sejati adalah untuk memahami jiwa karate-do sebagai sebuah jalan bela diri. Karate-do telah tumbuh semakin populer hari ini, dan jiwa karate-do sangat mudah diterima oleh pikiran kita. Disini aku ingin membahas tentang jiwa karate-do, kembali ke akarnya sebagai jalan bela diri.

Dikatakan bahwa karate tidak mempunyai sikap menyerang lebih dulu (sente). Hal itu menjadi sebuah peringatan bagi praktisinya untuk tidak menyerang lebih dulu. Dan secara bersamaan, sebuah larangan keras menggunakan teknik karate tanpa pertimbangan. Para master karate, terutama Master Funakoshi, benar-benar memperingatkan muridnya dengan mengulang kalimat itu berkali-kali.

Kenyataannya, hal itu memang menunjukkan jiwa dari karate-do. Dalam karate, kekuatan dari seluruh tubuh difokuskan pada satu titik, seperti tinju atau kaki, sehingga daya perusak yang besar akan hilang seketika. Karena itulah ada peringatan: Pikirkan bahwa kedua tangan dan kakimu sebagai pedang. Dalam sebuah turnamen, tinju atau tendangan dari si penyerang diarahkan pada sasaran sekitar beberapa inci dari badan lawan agar tidak mencederainya.

Diluar pertimbangan tentang daya perusak karate, ada nasihat: Tidak ada serangan lebih dulu dalam karate. Semangat itu terwujud dalam kata, bentuk kembangan yang menjadi inti latihan karate-do. Karate mempunyai dua macam latihan: kata dan kumite.

Kata adalah bentuk yang mengkombinasikan serangan dan bertahan seolah menghadapi 4 atau 8 lawan dari arah kanan, kiri, depan dan belakang. Sejauh yang kutahu, ada 40 atau 50 macam kata. Masing-masing dimulai dengan sikap bertahan (uke). Kau boleh saja mengatakan karena karate dilahirkan sebagai sebuah seni bela diri, wajar saja tidak mempunyai sikap menyerang lebih dulu.

Hal itu memang benar, namun jika kau langsung menyimpulkan dari kalimat, “karate tidak mempunyai sikap menyerang lebih dulu,” dengan kau dapat menahan serangan semaumu, kau belum memahami jiwa karate-do sepenuhnya. Makna sesungguhnya dari kalimat itu adalah lebih dalam.

Penjelasan lain dari menghindari sikap menyerang lebih dulu adalah praktisi karate tidak seharusnya menciptakan suasana yang dapat menimbulkan perselisihan. Mereka juga tidak sepantasnya mendatangi tempat-tempat dimana masalah sering terjadi. Untuk menjalani larangan itu, maka praktisi karate harus menanamkan sikap yang ramah dan berjiwa besar pada sesama.

Itulah semangat yang terkandung dalam kalimat, “karate tidak mengenal sikap menyerang lebih dulu”. Dan semangat itu menjadi jiwa karate-do. Seorang master berkata, ”karate adalah sebuah usaha untuk menghindari masalah. Kita tidak akan disakiti orang lain, dan kitapun tidak perlu menyakiti orang lain.” Sementara master yang lain mengatakan, “kedamaian mencegah perselisihan, kekerasan dan kebencian. Karena jika tidak, kau tidak dipercaya dan akan musnah.”

Di bagian paling dasar dari jiwa karate-do tersembunyi keinginan memberikan kedamaian bagi orang banyak. Kedamaian itu berdasarkan pada sopan santun. Dikatakan bahwa budaya seni bela diri Jepang dimulai dan diakhiri dengan memberi hormat. Suatu hal yang sama dengan karate-do.

Master Funakoshi telah mengumpulkan kata dari pendahulunya dan merangkumnya dalam 15 kata untuk berlatih. Salah satunya bernama Kanku, menggambarkan keinginan untuk mencapai kedamaian sebagai jiwa dari karate-do. Tidak seperti kata yang lain, Kanku dimulai sebuah gerakan yang tidak berhubungan dengan teknik menyerang atau bertahan.

Tangan diposisikan bersamaan, telapak mengarah keluar dan praktisinya melihat ke langit melalui celah segi tiga yang dibentuk ibu jari dan jari tangan lainnya. Sikap ini menggambarkan penyatuan diri dengan alam, ketenangan dan keinginan untuk mencapai kedamaian. Praktisi karate selayaknya selalu rendah hati, bersikap ramah dan keinginan mencapai kedamaian. Karate benar-benar sebuah seni dari orang-orang yang berbudi luhur.

Artikel ini diterjemahkan dari tulisan Masatoshi Nakayama yang berjudul “The Soul of Karate-do - Initial Move and Posture.” yang dimuat dalam majalah Dragon Times. Editing dan alih bahasa pertama kali oleh Bachtiar Effendi (Indoshotokan).