Custom Search

KONTEN DILINDUNGI HAK CIPTA. DILARANG KERAS MENJIPLAK, MENGEDIT DAN MEMPERBANYAK SEBAGIAN ATAU SELURUH HALAMAN SITUS INI TANPA IJIN.

REVIEW J-DORAMA: GREAT TEACHER ONIZUKA


Masih ingatkah Anda dengan aksi gila Takashi Sorimachi sebagai Onizuka Eikichi, sang guru bengal dalam serial Great Teacher Onizuka (GTO)? Tepat dua belas tahun sejak animenya berakhir dan empat belas tahun sejak dorama klasiknya, versi remakenya telah mengudara di Jepang. Fuji TV menyiarkan dorama dengan tersebut dalam sebelas episode plus satu edisi spesial sejak Juli hingga September 2012.

Onizuka Eikichi adalah mantan anggota geng motor paling disegani bernama Onibaku atau iblis penghancur. Karena dasarnya memang berandalan, sifat Onizuka cuek, norak, tidak tahu malu dan berotak mesum. Suatu ketika dia bekerja sambilan sebagai tukang kebun di sebuah SMU Meishu yang elit. Tidak sengaja dia melihat Yoshikawa Noboru, salah seorang murid yang kerap diganggu oleh beberapa temannya.

Tidak tinggal diam, Onizuka menyelamatkan Yoshikawa dan kemudian berteman dengannya. Mengetahui aksi Onizuka yang belum pernah dilakukan satu orangpun di sekolah itu, membuat Sakurai Yoshiko, sang kepala yayasan, mengangkatnya sebagai guru. Meski ditentang oleh kepala sekolah, tidak membuat Sakurai menarik keputusannya. Dari sinilah kisah seru dimulai. Onizuka diangkat sebagai wali kelas 2-4 yang penuh dengan siswa bermasalah.

Onizuka memecahkan masalah muridnya satu demi satu. Lucunya, cara yang dilakukannya terbilang unik. Misalnya merusak tembok rumah wali murid, menggoda orang dan memaksa salah satu muridnya mengikuti kontes kecantikan. Bahkan di episode pertama Onizuka men-suplex (membanting ala gulat) kepala sekolah! Selain dari muridnya, Onizuka juga harus menghadapi guru-guru dan wakil kepala sekolah yang berusaha mencari celah untuk mendepaknya keluar.


Sama seperti versi klasiknya (1998), GTO versi remake ini masih menawarkan humor-humor segar khas Jepang. Sebagai dorama bergenre “seishun eiga” (remaja), alur ceritanya difokuskan pada konflik antara murid, sekolah dan orang tua. Semuanya dikemas dengan ringan dan menghibur. Namun karena ada sedikit adegan ero, dorama ini sepertinya lebih cocok ditonton oleh penonton berusia 16 tahun keatas.   

Yang lebih menarik, meskipun tidak terkesan menggurui banyak pelajaran yang bisa diambil dari serial ini. Dibanding menasihati muridnya, Onizuka lebih suka beraksi langsung. Memang orang yang ditolong awalnya tidak suka. Tapi lambat laun mereka mulai menyukai Onizuka tanpa melihat latar belakangnya yang mantan berandalan. Ya, Onizuka menggunakan pendekatan psikologis. Sebuah cara yang sulit ditemukan pada guru-guru di sekolah tersebut.

Walau berlabel sekolah elit, guru-guru di SMU Meishu enggan membantu masalah muridnya. Onizuka mempunyai rasa setia kawan yang tinggi. Dia juga memperlakukan murid sebagai layaknya teman. Bagaimanapun kesulitan muridnya, dia akan berusaha keras menolongnya. Di satu episode diperlihatkan Onizuka rela datang terlambat ujian kompetensi guru yang penting demi menyelamatkan muridnya yang disekap. Berkat kedekatannya dengan murid, saat Onizuka diumumkan mengundurkan diri banyak murid yang bersedih.

Klimaks menunjukkan kepala sekolah yang melarang festival tahunan karena dianggapnya tidak berguna. Tidak rela muridnya kecewa, Onizuka diam-diam mengorganisir festival di malam hari bersama seluruh murid. Dengan begitu di pagi hari saat semua persiapan selesai kepala sekolah tidak punya pilihan selain menyetujuinya. Melihat adegan para murid yang gembira saat merancang acara itu adalah scene terbaik di serial ini. Pesan moralnya? Jika ada hal yang lebih penting dari nilai dan grade di sekolah, maka itu adalah menjalin ikatan yang kuat dengan sesama teman dan guru.


Sebagai pasangan dari Onizuka adalah Fuyutsuki Azusa. Berlawanan dengan Onisuka, ibu guru cantik yang satu ini adalah lulusan salah satu universitas terbaik di Tokyo. Pada awalnya diperlihatkan sebagai sosok yang tenang dan pemalu. Namun seiring cerita berjalan, Fuyutsuki lebih berani mengungkapkan apa yang dirasakannya. Dia sering mengkritik gaya mengajar Onizuka, namun lambat laun mulai menyukainya. Sayangnya sampai dorama ini berakhir hubungan mereka berdua masih saja menggantung. 

Sebagai Onizuka Eikichi adalah AKIRA yang merupakan anggota grup JPop EXILE. Banyak kritikus menilai AKIRA dengan rambut blondenya itu sangat pas dengan perannya. Kualitas aktingnya juga tidak kalah dengan Takashi Sorimachi yang sebelumnya memerankan Onizuka dalam live action. AKIRA yang namanya aslinya Ryohei Kurosawa ini juga terlihat sangat menikmati perannya.

“Rasanya aku tidak sadar jika dorama ini akan berakhir dalam 11 episode. Aku merasa masih belum selesai dengan karakter ini. Masih banyak ruang untuk mengembangkan karakter Onizuka Eikichi. Silahkan menanti GTO yang kian mengasyikkan.” Ujarnya seperti yang dikutip dari Tokyohive. 

Fuyutsuki Azusa diperankan oleh Takimoto Miori. Sebagai pendatang baru aktingya dalam dorama dan film layar lebar memang belum begitu banyak. Tapi melihat gaya aktingnya, karir Takimoto sepertinya menjanjikan. Apalagi dia sempat meraih penghargaan dalam Nikkan Sports Drama Grand Prix sebagai aktris terbaik lewat dorama berjudul “Ikemen desu ne” (2010). GTO ini adalah dorama kelimanya.

Di Jepang serial ini menduduki rating yang sangat tinggi. Para penggemar dorama bahkan menjuluki GTO sebagai “bapaknya dorama Jepang.” Dan memang, dorama ini sebaiknya Anda tonton. Bukan cuma remaja, orang tua dan para guru dijamin akan terhibur. So, selamat menonton. Go, Onizuka Sensei! (Indoshotokan) 

0 komentar :