KONTEN DILINDUNGI HAK CIPTA. DILARANG KERAS MENJIPLAK, MENGEDIT DAN MEMPERBANYAK SEBAGIAN ATAU SELURUH HALAMAN SITUS INI TANPA IJIN.

Cari Artikel

REVIEW J-MOVIE: ALL-ROUND APPRAISER Q: THE EYES OF MONA LISA

Lukisan Monalisa karya seniman Renaissance Leonardo da Vinci memang fenomenal. Saking banyaknya misteri, banyak novel dan film yang mengambilnya sebagai background film. Sebut saja Monalisa Smile (2003) yang ingin menguak arti senyuman Monalisa dalam lukisan. Yang lebih gila barangkali adalah The Da Vinci Code (2006) yang kontroversial karena menduga ada kode rahasia di dalam lukisan itu. Karena dianggap memberikan banyak fakta yang berani tapi tidak akurat, The Da Vinci Code menuai kritikan tajam dari kalangan Kristiani dan gereja. Tapi toh, film dan novelnya tetap saja laris di pasaran.

Nah, di bulan Mei tahun 2014 lalu misteri lukisan Monalisa kembali diangkat ke layar kaca oleh sutradara Jepang Shinsuke Sato. Film berjudul All-Round Appraiser Q: Eyes of the Mona Lisa (Jepang: Bannou Kanteishi Q Monariza no Hitomi) ini memasang aktris cantik Haruka Ayase sebagai tokoh utamanya. Tidak tanggung-tanggung, film ini berdasarkan novel misteri laris karya Keisuke Matsuoka.  

Riko Rinda (diperankan Haruka Ayase) adalah seorang juru taksir barang-barang seni dengan kemampuan yang ajaib. Riko bukan anak yang pandai saat di sekolah, tapi dia mempunyai ingatan yang kuat. Julukannya adalah “Q sang juru taksir serba bisa” yang menawarkan jasa untuk menilai barang antik dan artifak. Berkat kekuatan analisa dan naluri yang tajam ala Sherlock Holmes membuatnya berhasil menggagalkan upaya perampokan berlian super mahal milik kliennya.


Sebagai ungkapan terima kasih, Asahina Naoyuki (diperankan Murakami Hiroaki) sang pemilik galeri mengundang Riko ke Paris untuk ambil bagian dalam kontes antar juru taksir internasional. Sang pemenang akan dipilih sebagai kurator sementara untuk mengawal lukisan Monalisa yang akan dipamerkan ke Jepang. Pameran itu sangat besar artinya karena bertepatan 40 tahun lukisan karya Leonardo da Vinci itu datang ke Jepang. Sementara itu seorang reporter bernama Yuto Ogasawara (diperankan Tori Matsuzaka) merasa kagum dengan kemampuan yang dimiliki Riko. Dia mengikuti Riko ke Paris untuk menulis cerita tentang dirinya.

Sampai di Paris, Riko harus bersaing dengan juru taksir lain yang tidak kalah hebatnya. Lewat ujian yang sangat sulit dan melelahkan, Riko akhirnya dinyatakan sebagai pemenangnya. Riko tidak sendiri karena ada pemenang lain yang juga menjadi rivalnya yaitu Ryusenji Mika (diperankan Hatsune Eriko). Misa adalah putri dari seorang pemilik galeri seni yang telah bangkrut. Walau sebagai pemenang mereka berdua tidak bisa bersantai karena harus menjalani serangkaian latihan dan ujian lanjutan di Tokyo bersama dengan kurator Museum Louvre Richard Bret.

Setelah berminggu-minggu dalam pelatihan, Riko dan rivalnya harus mengikuti ujian final yaitu menemukan lukisan asli Monalisa diantara 12 lukisan yang sama persis. Di tengah ujian Riko tiba-tiba pingsan dan menderita halusinasi. Belakangan Yuto mendapat kabar jika Riko didiskualifikasi. Dan tidak diketahui banyak orang, sebuah konspirasi besar tengah menunggu saat lukisan Monalisa tiba di Jepang. Sanggupkah Riko menggagalkan rencana jahat itu? Akankah lukisan Monalisa terselamatkan?


Sebagai film Jepang pertama yang mempunyai akses ke Museum Louvre yang terkenal ketat, All-Round Appraiser Q: Eyes of the Mona Lisa mempunyai jalan cerita yang apik. Film bergenre thriller-misteri ini banyak mengambil lokasi syuting di Paris. Tapi yang patut diacungi jempol adalah plotnya, karena tidak melulu mengandalkan investigasi ala Sherlock Holmes. Ada banyak misteri yang ingin diungkap, tapi yang paling menarik dan sesuai judul film ini adalah: adakah rahasia di dalam mata Monalisa di lukisan itu? Ataukah ada sesuatu yang lain?

Membuat film dengan cerita yang berat seperti ini jelas bukan perkara gampang. Tapi tim produksi berhasil melakukannya dengan baik. Pemilihan karakter yang tepat dan akting yang meyakinkan membuat film ini lebih dari sekedar misteri. Jika sobat bukan penggemar genre detektif juga tidak perlu khawatir, karena meski serius film tidak akan membosankan. (Indoshotokan)