Custom Search

KONTEN DILINDUNGI HAK CIPTA. DILARANG KERAS MENJIPLAK, MENGEDIT DAN MEMPERBANYAK SEBAGIAN ATAU SELURUH HALAMAN SITUS INI TANPA IJIN.

MENANG DENGAN MENGALAH (1)

Aku ingin mengingat kembali dua kejadian yang mungkin, bisa membantu para pembaca sekalian untuk memahami inti dari karate-do. Kedua peristiwa itu terjadi bertahun-tahun yang lalu di pedesaan Okinawa. Dan keduanya menunjukkan bagaimana seseorang bisa menang dengan cara mengalah.

Kejadian pertama terjadi di jalan sebelah barat daya Istana Shuri yang arahnya ke bekas vila gubernur yang diujungnya berdiri rumah untuk minum teh bergaya Nara kuno. Dengan pemandangan mengarah ke Samudera Pasifik, setelah seharian bekerja gubernur biasanya akan datang kemari untuk bersantai bersama anak dan istrinya.

Jarak dari Shuri satu mil lebih sedikit, dan jalannya dilapisi batu dengan pohon-pohon cemara yang tinggi megah berbaris di sepanjang sisinya. Di luar vila itu sudah terbuka untuk umum dan bukan lagi bagian dari rumah pribadi sang gubernur. Pernah suatu malam aku bersama Master Itosu dan setengah lusin karateka pergi kesana untuk pesta melihat bulan. Kelompok kami berkumpul menjadi satu. Kami sampai lupa waktu dan hingga larut malam bicara tentang karate sambil membaca syair.

Akhirnya kami memutuskan sudah benar-benar waktunya untuk pulang dan bersama-sama menuju ke Shuri melalui jalanan yang ditumbuhi pepohonan cemara itu. Bulan sekarang sudah tertutup kabut tebal dan anak-anak yang lebih muda membawa lentera untuk menerangi jalan bagi para guru. Tiba-tiba pemimpin kelompok kami berteriak bahwa kami semua harus memadamkan lentera. Kami melakukannya karena tahu akan diserang. Jumlah penyerang kelihatannya sama dengan jumlah kelompok kami. Sehingga jika dilihat dari sudut pandang itu kami sebenarnya seimbang. Kecuali jika mereka juga pandai karate, maka mereka ditakdirkan untuk kalah memalukan. Malam itu sangat gelap hingga kami sulit melihat wajah siapapun.

Aku menunggu perintah Itosu, tapi dia hanya berkata, “berdirilah dengan punggung kalian menghadap ke bulan! Punggung kalian menghadap ke bulan!” Aku cukup terkejut karena sebelumnya aku yakin guru kami akan memberi kesempatan untuk menunjukkan karate kami. Dan tentu saja kami semua lebih dari sekedar siap mengatasi gerombolan penjahat ini. Tapi Itosu hanya menyuruh kami menghadapkan punggung ke arah bulan! Benar-benar tidak masuk akal.

Setelah beberapa saat, dia berbisik ke telingaku, “Funakoshi, kenapa tidak kau coba pergi kesana dan bicara dengan mereka? Mereka mungkin saja bukan orang-orang jahat. Dan jika kau katakan aku ada dalam kelompok ini, mungkin mereka akan berubah pikiran.”

Aku menerima perintah itu dan mulai berjalan mendekati gerombolan yang sedang menunggu itu. “Salah satu dari mereka datang!” Kudengar seseorang berteriak. “Satu dari mereka datang! Bersiap!” Atmosfernya kian terasa dan itu adalah awal dari mulainya sebuah pertarungan besar-besaran.

Ketika mendekat aku bisa melihat calon penyerang kami menutupi semua wajahnya dengan handuk. Sehingga mustahil untuk mengenali mereka. Seperti yang diperintahkan, aku berkata pada mereka dengan sopan jika Master Itosu ada dalam rombongan dan kami semua adalah muridnya. Aku menambahkan dengan berkata pelan pada mereka, “Mungkin kalian salah orang.”

“Itosu? Siapa dia? Salah satu dari mereka menggerutu. Aku tidak tahu siapa dia!”
Sementara yang lain begitu melihat tubuhku yang pendek lantas berteriak, “Hei, kau cuma anak-anak! Apa yang kau lakukan dengan ikut campur urusan orang dewasa! Cepat minggir sana!”
Dan bersamaan dengan itu dia menarik bajuku.

Aku menurunkan pinggulku ke kuda-kuda karate. Tapi bersamaan dengan itu kudengar suara Itosu: “Jangan bertarung, Funakoshi! Dengarkan apa yang mereka katakan. Bicaralah pada mereka.”
“Baiklah,” Aku berkata pada laki-laki di depanku, “Katakanlah, kenapa kau ingin melawan kami?” (Bersambung – Indoshotokan)

Artikel ini dikutip dan diterjemahkan dari buku “Karate-Do: My Way of Life” yang ditulis oleh Gichin Funakoshi dengan judul aslinya “Win by Losing”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

0 komentar :