Custom Search

KONTEN DILINDUNGI HAK CIPTA. DILARANG KERAS MENJIPLAK, MENGEDIT DAN MEMPERBANYAK SEBAGIAN ATAU SELURUH HALAMAN SITUS INI TANPA IJIN.

THE BULL FIGHTER: KISAH MASUTATSU OYAMA (1)


Di sebuah malam yang panas dan pengap di kota Bangkok penonton sudah berdesakan di pinggir ring tinju. Masyarakat lokal sudah tidak sabar ingin melihat jagoan kebanggaan mereka, Black Cobra, si petarung kick boxer. Lawan Black Cobra adalah seorang karateka Jepang yang sengaja datang ke Thailand. Penonton kian ribut dan mencemooh kala melihat pemuda Jepang itu tampil dan berjalan dengan tenangnya. Sebelumnya Black Cobra berhasil merobohkan seorang karateka Jepang dalam sebuah duel. Melihat lawannya kali ini kembali seorang karateka, membuatnya berpikir duel ini hasilnya akan sama saja. Nama besar karate Jepang tampaknya akan kembali terpuruk di ring tinju.

Gong ronde pertama ditabuh. Kedua petarung keluar dari sudut dan mulai berkeliling sambil menyiapkan serangan. Saat pemuda Jepang itu berkonsentrasi mencari celah, tiba-tiba sebuah tendangan meluncur deras dari Black Cobra. Mendapat serangan mendadak, si pemuda Jepang tadi roboh dan penontonpun bersorak sorai. Wasit yang sigap segera memberikan sepuluh hitungan. Tapi alangkah terkejutnya orang-orang melihat pemuda Jepang itu bangkit kembali diatas kakinya yang goyah. Memang luar biasa tendangan Black Cobra tadi dan nama besarnya bukan isapan jempol. Pemuda Jepang itu kembali bersiap dan kali ini serangan Black Cobra tidak akan bisa menjatuhkannya.

Sobat Indoshotokan pastinya sudah pernah mendengar nama Masutatsu Oyama, bukan? Benar, sebagai salah satu maestro karate, Oyama adalah pionir dari full contact karate. Sebuah gaya karate yang mengijinkan praktisinya melancarkan serangan sekerasnya sampai mengenai lawan. Sebagai seorang Korea yang banyak menghabiskan hidupnya di Jepang, perjalanan hidup Oyama sungguh tidak mulus. Kehidupan pasca perang, ekonomi yang sulit, dan ancaman pembunuhan dari musuhnya kerap mengancam nyawa Oyama. Bagaimana perjalanan hidupnya dalam mencari pencerahan, pastinya sobat Indoshotokan penasaran, bukan? Silahkan simak terus artikel ini.


GURU YANG PERTAMA

Masutatsu Oyama, atau sering disebut Mas Oyama, lahir tanggal 27 Juli 1923 di sebuah desa di Gimje, yang jauhnya sekitar 180 mil barat daya Seoul. Terlahir dengan nama Choi Young Eui, dia adalah anak keempat dari tujuh bersaudara. Choi Young Eui terbilang beruntung dibanding anak-anak Korea lainnya karena ayahnya adalah tuan tanah yang kaya dan belakangan berhasil menjadi walikota.

Setiap hari Choi Young Eui harus pergi ke sekolah yang jaraknya lumayan jauh. Enam mil harus melewati sebuah bukit dengan jalanan yang sempit dan kotor. Di sekolah dasar tempatnya bersekolah kira-kira ada 400 anak yang hadir setiap harinya. Tapi Choi Young Eui bukanlah tipe kutu buku karena dia lebih suka berenang, memancing, dan mendaki gunung bersama teman-temannya. Dia tidak begitu suka dengan kehidupan sekolah. Sebaliknya, dia lebih bersemangat dengan sepak bola dan lintas alam.

Banyak orang yang bekerja sebagai buruh pada keluarga Choi Young Eui. Salah satunya adalah Tuan Li (sumber lain menyebutnya Yi). Tidak ada yang tahu nama lengkapnya. Tuan Li adalah seorang petani berdarah campuran setengah Korea dan Tiongkok. Tubuhnya kecil dan usianya sudah agak tua, kira-kira 40 tahun-an. Sosoknya sangat tenang dan tidak banyak bicara. Namun di mata Choi Young Eui yang saat itu berumur sembilan tahun, ada sesuatu yang menarik dalam diri Tuan Li.

Di Korea saat itu ada sebuah tradisi yaitu pertandingan gulat. Acara itu digelar setiap musim panas setelah para petani selesai menggarap lahan pertanian di musim gugur. Begitu juga dengan tahun ini dimana para lelaki kuat dari seantero negeri berbondong-bondong ke Gimje untuk memperebutkan gelar jawara untuk satu tahun. Gulat Korea ini hampir mirip dengan sumo Jepang, hanya saja pesertanya menggunakan cara memegang lawan yang berbeda.

Beberapa tahun belakangan ini pertandingan gulat selalu dijuarai oleh orang dari selatan. Tubuhnya yang besar layaknya raksasa membuatnya selalu mendominasi pertandingan. Kekuatannya yang luar biasa sanggup melibas peserta lain dengan mudahnya. Tampaknya dia akan menjadi juara lagi tahun ini. Ketika sudah tidak ada lagi pegulat yang sanggup menghalanginya, orang selatan itu mulai sombong. Dia menantang semua pemuda yang ada dihadapannya. Ketika dia menunjuk beberapa pemuda untuk melawannya, mereka segera mundur menyembunyikan dirinya di belakang orang lain. “Apakah di desa ini sudah tidak ada lagi laki-laki tangguh untuk melawanku?” (Bersambung – Indoshotokan)

0 komentar :