Custom Search

KONTEN DILINDUNGI HAK CIPTA. DILARANG KERAS MENJIPLAK, MENGEDIT DAN MEMPERBANYAK SEBAGIAN ATAU SELURUH HALAMAN SITUS INI TANPA IJIN.

THE BULL FIGHTER: KISAH MASUTATSU OYAMA (2)

Tampaknya sudah tidak ada lagi pemuda yang berani melawan si raksasa itu. Dengan sombongnya laki-laki dari selatan itu tertawa lebar merayakan kemenangannya. Tidak disangka-sangka, Tuan Li dengan tenangnya melangkah maju ke arena. Sebagian penonton menahan napas karena melihat posturnya yang kecil, jelas tidak sebanding dengan lawannya. Sementara penonton lain mentertawakannya karena akan menjadi korban berikutnya.

Tanpa basa-basi raksasa dari selatan itu menubruk tubuh Tuan Li, berharap pertarungan akan berakhir singkat seperti lawan sebelumnya. Dengan sigap Tuan Li menghindar kesamping dan segera menyarangkan sebuah pukulan ke muka lawannya. Tampaknya pukulan itu cukup keras hingga membuat tubuhnya terhuyung-huyung. Hal ini membuat si raksasa terkejut dan kali ini dia lebih berhati-hati. Dengan perlahan-lahan, dia mencari celah untuk menyerang dan berpikir agar Tuan Li membayar pukulannya tadi.

Dalam sebuah serangan dia berhasil menangkap salah satu kaki Tuan Li. Banyak orang mengira duel akan segera usai, tapi ternyata mereka keliru. Dengan sigap Tuan Li menyarangkan lututnya yang bebas di alat vital si raksasa. Wajahnya terlihat kesakitan. Saat pegangan tangannya terlepas, sebuah pukulan deras kembali menghantam wajah si juara sombong itu. Dia tersungkur mencium tanah diikuti dengan salah satu giginya yang tanggal.

Walau begitu dia belum menyerah dan bangkit kembali dengan kemarahan tergambar jelas di wajahnya. Si raksasa tiba-tiba menyeruak maju dengan kedua tangannya berusaha meraih tubuh Tuan Li. Dalam gerakan yang sangat cepat Tuan Li menghindar, kemudian meraih salah satu lengan musuhnya dan langsung mematahkannya. Bahkan  penontonpun sulit mengikuti gerakannya dengan mata. Dan ketika mereka tersadar, raksasa juara itu sudah terkapar di tanah untuk kedua kalinya. Kali ini dia benar-benar kalah dan tidak bangun lagi. Para penonton berkerumun dan mencari tahu dari dekat apa yang sebenarnya terjadi. Sementara itu yang lain berusaha mencari Tuan Li, tapi dia sudah menghilang dari tempat itu.  

Melihat kehebatan Tuan Li membuat Choi Young Eui kagum padanya. Dia seakan menemukan figur pahlawan yang baru. Karena itulah dia setiap hari merajuk pada Tuan Li agar diajari gaya berkelahinya. Dan bisa ditebak, Tuan Li menolaknya. Menurutnya Choi Young Eui yang berumur sembilan tahun masih terlalu kecil untuk belajar bela diri. Akan tetapi Choi Young Eui tidak putus asa dan selalu mendesaknya. Akhirnya Tuan Li luluh juga dan bersedia menerima si anak bandel menjadi muridnya. Begitulah, setiap sore Choi Young Eui berlatih Chabee bersama Tuan Li. Chabee adalah bela diri campuran antara tinju Tiongkok dan Korea.

Tidak terasa empat tahun sudah Oyama berlatih. Pada usia 13 tahun dia terpaksa harus pergi ke rumah bibinya di Seoul demi melanjutkan sekolah di ibu kota. Masalah barupun muncul ketika Choi Young Eui sering terlibat perkelahian dengan anak-anak nakal di jalanan. Ayahnya yang biasanya sabarpun dibuat marah bukan kepalang akibat ulahnya itu. Tidak cukup sampai disitu, polisi di ibu kotapun sering dipusingkan dengan kenakalannya. Karena itulah setahun kemudian dia memutuskan pergi ke Jepang untuk masuk ke sekolah penerbangan di Yamanashi. Choi Young Eui ingin menjadi pahlawan sebenarnya dengan menjadi pilot pesawat tempur pertama dari Korea.


BERKENALAN DENGAN KARATE JEPANG

Ketika di Yamanashi, Oyama mulai belajar karate Shotokan. Sepertinya karate begitu menarik baginya, hingga dua tahun berlatih rasanya tidak cukup. Dia lalu melanjutkan latihannya di Universitas Takushoku di Tokyo. Walaupun universitas itu dianggap sebagai yang terkuat dalam hal bela diri, tampaknya judo lebih menonjol. Oyama kemudian pindah ke dojo Shotokan di Meijiro. Di sana, dua jam setiap harinya Oyama berlatih karate dibawah Gichin Funakoshi, sang Bapak Karate Jepang yang dibantu oleh anak laki-lakinya yaitu Yoshitaka. (Bersambung – Indoshotokan)

0 komentar :