Custom Search

KONTEN DILINDUNGI HAK CIPTA. DILARANG KERAS MENJIPLAK, MENGEDIT DAN MEMPERBANYAK SEBAGIAN ATAU SELURUH HALAMAN SITUS INI TANPA IJIN.

KARATE: ANTARA MITOS DAN LEGENDA (4)

Antara pertengahan tahun 1800 sampai awal 1900-an kembali terjadi perubahan dalam dunia bela diri di Ryukyu. Sebelumnya sesama ahli bela diri nyaris tidak bertukar pikiran, dan teknik hanya terbatas dikerjakan oleh satu keluarga atau wilayah saja. Di periode ini suasana lebih terbuka dan hasilnya suatu kata tidak lagi eksklusif milik segolongan orang. Sebagian dari mereka kemudian memodifikasi gerakan kata tadi agar sesuai dengan gaya alirannya. Contohnya adalah kata Kushanku dan Passai yang mempunyai banyak versi.









KARATE DI MASA RESTORASI MEIJI
 

Tahun 1853 seorang pelaut Amerika bernama Komodor Matthew Calbraith Perry datang ke Jepang. Sebelum merapat ke dermaga Jepang, Perry lebih dulu singgah di Ryukyu sebagai antisipasi jika Jepang enggan membuka dermaganya. Sayangnya kedatangan awal Perry ini tidak membawa kesan yang baik. Baru saja kapalnya berlabuh, awak kapal Perry menerobos rumah penduduk setempat. Jika ditemukan wanita di dalamnya, mereka akan segera memperkosanya.

Saat penduduk mendengar jeritan wanita, mereka akan segera mengejar pelaku dan membunuhnya. Untuk meluapkan amarah karena perbuatan awak kapal Perry, penduduk membakar dan menenggelamkan perahu milik pelaut Amerika itu.

Kedatangan Perry ke Jepang adalah untuk memaksa negara itu membuka wilayahnya bagi negara barat. Lewat Perjanjian Kanagawa dan ancaman sebuah meriam yang siap ditembakkan ke Edo (sekarang Tokyo), Jepang terpaksa menyetujuinya. Selain perdagangan, misi utama Perry adalah agar Amerika bisa menempatkan armada perangnya di perairan Jepang.

Jepang yang telah mengisolasi diri selama ratusan tahun menganggap kedatangan Perry sebagai ancaman. Para samurai menganggap pemerintah Shogunate lemah karena tunduk pada negara barat. Perjanjian Kanagawa akhirnya memicu pemberontakan dalam Perang Boshin (1867-1868). Merasa malu, pemerintah Shogunate mengundurkan diri dan mengembalikan kekuasaan penuh pada kaisar. Inilah awal Jepang memasuki Restorasi Meiji.

Untuk menyamai kekuatan negara barat, Jepang melakukan modernisasi di segala bidang. Untuk mengantisipasi ancaman berikutnya, Ryukyu didesak berintegrasi dengan Jepang. Pertimbangan ini muncul karena letak Ryukyu yang strategis dan berbatasan dengan Cina. Dan karena itulah mempertegas garis batas wilayah oleh Jepang mutlak diperlukan. Upaya itu berhasil dan sejak tahun 1879 Ryukyu resmi menjadi bagian dari Jepang dan berganti nama menjadi Okinawa.

Para gadis Okinawa sedang berdansa di halaman istana Shuri dengan pakaian dan model rambut ala barat. Foto ini diambil tahun 1907.

Kampanye modernisasi yang disuarakan Pemerintah Meiji juga terasa di Okinawa. Pemerintah berusaha menghapus budaya apapun yang dianggap kolot. Selain itu raja Okinawa tidak lagi memegang kekuasaan karena seluruhnya dikembalikan pada Kaisar Meiji. Status bangsawan juga tidak ada lagi di Okinawa, sehingga semuanya dianggap sama sebagai rakyat biasa. Akibatnya munculah gelombang protes dari masyarakat. Sebagian mendukung perubahan, sementara yang lain ingin bertahan dalam tradisi leluhur.

Dalam hal karate Restorasi Meiji juga membawa efek yang positif. Karate mulai dimunculkan ke hadapan publik setelah Shintaro Ogawa, seorang pejabat bidang pendidikan mengundang ahli bela diri terbaik Okinawa. Ketika para tokoh pendidikan Jepang berkunjung ke Okinawa, Ogawa meminta sebuah acara demonstrasi. Yasutsune Itosu dengan dibantu beberapa murid terbaiknya terpilih mengisi acara itu.

Demonstrasi yang dilakukan Itosu menuai banyak pujian dan Ogawa melaporkan hal itu pada Menteri Pendidikan Jepang. Karate kemudian dimasukkan sebagai pelajaran wajib dalam pendidikan jasmani. Itosu diberi kepercayaan untuk mengajar di beberapa sekolah lokal Okinawa. Meski mulai banyak didemonstrasikan di muka umum, budaya merahasiakan teknik bela diri ini (bahkan hingga sekarang) masih belum hilang sepenuhnya.

Okinawa memang sudah resmi menjadi bagian dari Jepang. Tapi tetap saja karate belum diterima secara resmi. Saat itu bela diri tangan kosong yang populer di Jepang adalah judo dan aikido. Tahun 1908 Itosu mengirim surat pada Menteri Pendidikan Jepang. Surat yang disebut Tode Jukun (Sepuluh Petunjuk Berlatih Tode) itu berisi nilai-nilai positif dalam karate. Itosu berharap upayanya itu dapat membawa karate pada audiens yang lebih banyak.


KARATE MEMASUKI JEPANG
 

Harapan Itosu membuahkan hasil. Tahun 1917 Okinawa diundang oleh Dai Nippon Butokukai untuk acara festival bela diri di Kyoto. Dai Nippon Butokukai adalah sebuah badan resmi yang dibentuk di Kyoto tahun 1895 atas rekomendasi Menteri Pendidikan dan diakui oleh Kaisar Meiji. Tujuan organisasi ini adalah melakukan standarisasi dan menyatukan seluruh bela diri Jepang.
 
Hironori Ohtsuka menerima peringkat Shodan dari Gichin Funakoshi.

Tahun 1922 menjadi tahun yang baik setelah Gichin Funakoshi melakukan demonstrasi karatenya atas undangan Menteri Pendidikan Jepang. Memang penontonnya tidak begitu banyak, tapi untungnya banyak surat kabar lokal yang menulisnya. Yang jelas, sejak itu Jepang sering dikunjungi ahli karate Okinawa. Beberapa dari mereka juga teman baik Funakoshi. Bahkan ada yang sebagian menetap dan membuka dojo sendiri.

Jalan bagi karate untuk diterima sebagai bagian resmi bela diri Jepang ternyata tidak semulus itu. Ini karena Dai Nippon Butokukai ingin karate mempunyai kurikulum yang jelas, struktur peringkat, materi yang diajarkan, aturan kompetisi dsb. Organisasi ini juga menghendaki seorang instruktur karate benar-benar paham apa yang mereka ajarkan. Sayangnya, diluar sana masih banyak persaingan antar ahli karate Okinawa. Belum lagi penggunaan ideogram karate yang kental bermakna Cina, sementara Jepang sendiri tengah menggelorakan nasionalisme. Penggunaan istilah asing jelas bukan hal yang bisa diterima. (Bersambung – Indoshotokan)

0 komentar :