Custom Search

KONTEN DILINDUNGI HAK CIPTA. DILARANG KERAS MENJIPLAK, MENGEDIT DAN MEMPERBANYAK SEBAGIAN ATAU SELURUH HALAMAN SITUS INI TANPA IJIN.

RESENSI J-MOVIE: RUROUNI KENSHIN: DENSETSU NO SAIGO-HEN

Sebagai penutup dari trilogi versi live actionnya, para fans Kenshin Himura akan dimanjakan dengan Rurouni Kenshin: The Legend Ends (Jepang: Rurouni Kenshin - Densetsu no Saigo-hen). Sama dengan prekuelnya yaitu Kyoto Inferno, film ketiga ini dirilis lebih dulu di Jepang tanggal 13 September 2014 dan menyusul dengan Filipina seminggu sesudahnya. The Legend Ends adalah bagian kedua dari Chapter Kyoto untuk serial manganya, atau sesudah pertarungan Kenshin melawan Soujiro Seta. Dan seperti yang sudah diperkirakan, film ini berhasil meraup sukses dengan memuncaki box office Jepang hanya dalam waktu empat hari sejak peluncurannya. 







SINOPSIS
 

Untuk menghentikan ambisi Shishio Makoto yang ingin mengambil alih Jepang, Kenshin Himura akhirnya tiba di Kyoto. Kenshin bertarung dengan pasukan Shishio, tapi Shishio sudah menjalankan rencananya yaitu masuk ke Tokyo dengan armada perangnya. Lebih buruk lagi, Kaoru yang juga berada di Kyoto berhasil ditangkap oleh Shishio. Demi mengejar Kaoru yang dilempar ke laut oleh anak buah Shishio, Kenshin mengikutinya dengan harapan bisa menyelamatkannya. Sayangnya, upaya itu gagal karena Kenshin terombang-ambing di laut dan akhirnya diapun pingsan.


Dengan menghilangnya Kenshin dan Kaoru, suasana Kyoto terasa suram dan mencekam. Mereka yang berani melawan akan ditangkap dan dihukum mati hingga membuat para penduduk ketakutan. Kakek Okina juga terluka parah akibat pertarungannya dengan Aoshi Shinomori. Tidak ada lagi orang atau kekuatan yang mampu membendung Shishio. Dengan bebasnya Shishio dan pasukan Juppongatana menebar teror di pemerintahan yang baru.

Terdampar di pantai, Kenshin kemudian ditemukan oleh Seijuro Hiko yang tidak lain adalah gurunya sendiri. Saat siuman kembali Kenshin menyadari jika dia bukanlah tandingan untuk Shishio. Hanya ada satu jalan bagi Kenshin untuk mengalahkan Shishio, yaitu dia harus menguasai Amakakeru Ryu no Hirameki (Tangkisan Naga Terbang) yang merupakan jurus tertinggi dalam aliran Hiten Mitsurugi. Tapi menguasainya bukan perkara mudah karena hanya ada dua pilihan untuk pemakai jurus itu dan lawannya yaitu hidup atau mati. Seijuro Hiko adalah sedikit dari pewaris aliran Hiten Mitsurugi yang bertahan hidup dari ujian jurus itu, dan karena itu dia bergelar Seijuro Hiko ke XIII.


Sementara itu Shishio mengetahui jika Kenshin masih hidup. Dengan menggunakan kekuatan politiknya, Shishio menekan Pemerintah Meiji untuk menangkap dan mengadili Kenshin atas dosa-dosanya di masa lalu saat bekerja sebagai pembunuh. Dengan susah payah Kenshin akhirnya memang berhasil menguasai jurus terhebatnya, namun tugas berat sudah menunggu di depan mata. Menghadapi Shishio sebagai musuh yang pantas mati, sanggupkah Kenshin bertahan pada sumpahnya? Berhasilkah Kenshin menyelamatkan Jepang dari bahaya? Bisakah dia bertemu kembali dengan Kaoru yang dicintainya?


SEBUAH AKHIR YANG MANIS
 

Inti cerita dari The Legend Ends terletak pada dua poin; yaitu bagaimana Kenshin berjumpa dengan gurunya dan belajar Hiten Mitsurugi. Sedangkan poin kedua sudah pasti pertarungannya dengan Shishio. Setelah opening film, alur cerita akan flashback sekitar setengah jam pada masa kecil Kenshin yang aslinya bernama Shinta. Penampilan Seijuro Hiko yang minim di Tokyo Inferno agaknya terbayar di film ini. Selanjutnya hampir separuh dari film yang berdurasi 135 menit ini adalah pertarungan Kenshin di Tokyo hingga pengejarannya di benteng Shishio.

Dalam versi animenya Chapter Kyoto terdiri dari 35 episode. Chapter Kyoto juga menjadi episode yang serius dan nyaris tanpa humor segar khas ala anime Jepang. Episode yang panjang dan harus muat dalam dua live action membuat penonton harus menikmati alur cerita yang agak terburu-buru. Misalnya pertarungan Kenshin dengan anggota Juppongatana yang terkuat yaitu Soujiro Seta yang seharusnya seru dan menegangkan berlangsung lebih cepat. Selain itu anggota Juppongatana juga tidak banyak tampil di layar kecuali samurai buta Usui Uonuma yang melawan Hajime Saitou dan sang biksu Budha Anji Yukyuzan yang berduel dengan Sanosuke.


Bicara efek grafis, The Legend Ends mampu tampil apik. Contohnya ketika Shishio menggunakan pedangnya yang berbalut api. Sabetan pedang yang ditambah efek debu dan abu membuat suasana duel kian dramatis. Di animenya Kenshin tampil lincah saat mengeluarkan jurus-jurusnya, dan di film ini kehebatan Kenshin sepertinya tidak berkurang berkat penggunaan efek yang pas. Hasilnya, petarungan Kenshin dengan Aoshi dan Soujiro meski singkat tetap saja memorable.

Yah, segala yang baik memang harus ada akhirnya. Banyak fans mengira film ketiga Kenshin ini adalah penutup dari triloginya. Namun Keishi Ohtomo sebagai sutradara belum mengeluarkan pernyataan resminya. Wajar jika penggemar (termasuk saya juga) berharap ada sekuel yang lain. Apalagi di manganya ada Chapter Shimabara yang mengangkat Shogo Amakusa dengan jurus yang sama dengan Kenshin sebagai musuh tangguh. Berharap boleh saja, khan? Semoga saja! (Indoshotokan).

0 komentar :