Custom Search

KONTEN DILINDUNGI HAK CIPTA. DILARANG KERAS MENJIPLAK, MENGEDIT DAN MEMPERBANYAK SEBAGIAN ATAU SELURUH HALAMAN SITUS INI TANPA IJIN.

REVIEW J-GAMES: NINJA BLADE

Ketika game berjudul Shinobi dirilis di Playstation 2 beberapa tahun silam Indoshotokan sangat kecewa karena sebagai gamer PC tidak bisa memainkannya. Hal yang sama saat Ninja Gaiden dirilis di Xbox 360 dan Playstation 3. Terima kasih pada From Software yang di tahun 2009 bersedia merilis Ninja Blade di PC selain konsol. Game action bergaya hack ‘n slash itu cukup mengobati kerinduan gamer PC yang ingin melihat ninja Jepang ala Shinobi di PC mereka. Yang menarik, Masanori Takeuchi sebagai produsernya mendesain landscape permainan berdasarkan kota Tokyo yang sebenarnya. Jadi bagi gamer Jepang tentu akan familiar dengan lokasi permainan yang dibuat sama dengan kenyataannya. Di konsol Ninja Blade cukup populer, namun sebaliknya di PC. Cukup aneh memang. Nah, di ulasan kali ini Indoshotokan akan me-review game yang cukup keren ini.

Di tahun 2015 sebuah desa kecil diserang sekelompok binatang misterius. Banyak korban berjatuhan dan mereka yang bertahan hidup kemudian dikarantina di sebuah fasilitas riset untuk diteliti. Di tengah penelitian mereka terserang penyakit aneh yang diidentifikasi berasal dari parasit bernama “Alpha Worm”. Parasit itu mulai mengubah korbannya menjadi makhluk kuat namun menakutkan. Kekacauanpun terjadi karena mereka menerobos keluar fasilitas dan membunuh para peneliti. Khawatir akan bencana yang lebih besar, pihak militer menghancurkan fasilitas penelitian itu. Makhluk-makhluk mengerikan itupun hancur berikut semua bukti yang ada. Demi mencegah kepanikan, pemerintah merahasiakan keberadaan “Alpha Worm” berikut insiden itu.


Tapi ancaman Alpha Worm rupanya belum berhenti. Tidak lama kemudian parasit berbahaya itu mewabah di Tokyo dan membuat seisi kota porak poranda. Sekelompok ninja elite yang berada dibawah komando G.U.I.D.E (Global United Infestation Detection and Elimination) diterjunkan untuk mengatasi kekacauan yang kian meluas. Salah satu ninja yang bergabung dalam operasi itu adalah Ken Ogawa bersama dengan ayahnya Kanbe Ogawa. Tapi ayah Ken sendiri ternyata juga telah terinfeksi Alpha Worm. Bertarung menyelamatkan kota dan konflik moral harus melawan ayahnya sendiri, sanggupkah Ken Ogawa melakukannya?

Jika figur ninja selalu identik dengan aksi menyelinap diam-diam, maka Ninja Blade justru sebaliknya. Pemain akan dibawa pada gameplay full action yang cepat ala Ninja Gaiden, Devil May Cry atau God of War. Dengan pedangnya Ken harus berlari, menebas musuh dengan combo yang mudah dieksekusi, dan menghancurkan obyek di sekelilingnya. Jika bertarung bukan gaya pemain, maka Ninja Blade menawarkan hal lain yaitu QTE (Quick Time Event). Dalam Ninja Blade 30% permainan berisi QTE, 40% aksi dan 30% sisanya penjelajahan. Bagaimana sih bentuknya QTE? Pada scene tertentu ada momen pemain harus menekan tombol tertentu seperti yang diminta di layar. Jika salah menekan tombol pemain harus mengulang kembali dari awal. QTE dalam Ninja Blade mirip dengan God War. Tidak begitu merepotkan, namun menjengkelkan bagi mereka yang tidak biasa.


Karena misinya sangat berbahaya, Ken dibekali dengan banyak kemampuan. Dengan kakinya yang ringan Ken bisa berlari super cepat, berlari di dinding dan memanjat lewat tepi dinding. Ada pula Ninja Vision, sebuah kemampuan yang membuat Ken bisa melihat jalur aman untuk dilaluinya. Ninja Vision sangat berguna jika pemain tersesat atau menemui jalan buntu. Yang terakhir adalah “todome”, sebuah finishing moves atau jurus pamungkas dimana Ken melakukan gerakan akrobatik untuk menghabisi boss musuh. Ketika melakukan todome, life point dari boss musuh harus tinggal sedikit. Kamera akan berubah menjadi even cinematik dan pemain dihadapkan pada QTE. Jika gagal, life point boss musuh akan terisi sedikit dan pemain harus mengulang QTE lagi untuk melakukan todome.
  
Bukan ninja namanya jika tidak punya pedang. Ken mempunyai 4 senjata; Oni Slayer Blade, sebuah pedang katana dengan kecepatan dan damage medium; Twin Falcon Knives, pedang kembar yang unggul dalam kecepatan namun damage-nya kecil. Pedang ini cocok membunuh musuh-musuh lemah yang jumlahnya sangat banyak. Twin Falcon Knives juga berguna untuk melakukan grappling ke platform yang lebih jauh; Stone Render, adalah pedang berdaya rusak tinggi namun lambat. Pedang raksasa ini bisa menghancurkan perisai musuh atau menghancurkan tembok. Ken juga mempunyai shuriken yang berisi tiga jenis magic; wind, fire dan lightning. Seluruh senjata bisa diupgrade hingga empat kali dengan cara mengumpulkan blood crystal dari musuh yang mati.


Bagi pemain yang suka game dengan cerita yang tidak rumit dan gameplay yang fun, maka Ninja Blade adalah pilihan yang bagus. Walau begitu, bukan berarti game ini tidak ada kelemahannya. Permainan tidak mempunyai fitur autosave di tengah permainan. Padahal, ada beberapa misi yang mustahil selesai dalam waktu satu jam. Belum lagi jika dalam misi itu ada QTE yang harus diulang. Jika terpaksa berhenti di tengah jalan, maka pemain harus mengulang misi dari awal lagi. Khusus untuk versi PC, game ini mempunyai trouble saat keluar ke Windows. Untuk sebuah game yang bagus, error seperti ini tentu sangat menjengkelkan. (Indoshotokan)

0 komentar :