Custom Search

KONTEN DILINDUNGI HAK CIPTA. DILARANG KERAS MENJIPLAK, MENGEDIT DAN MEMPERBANYAK SEBAGIAN ATAU SELURUH HALAMAN SITUS INI TANPA IJIN.

SOCHIN: PERDAMAIAN DAN KETENANGAN

Simple but powerfull, sederhana namun mematikan. Benar, pesan itulah yang muncul dari kata Sochin. Sebuah kata dengan 40 gerakan yang sering dipilih kompetitor dari Shotokan dalam turnamen. Bukan hanya tingkat kesulitannya yang tinggi, namun juga berkat keindahannya. Pada ulasan kali ini Indoshotokan mengajak sobat sekalian untuk mengenal lebih dalam kata Sochin. Tentunya versi Shotokan.  

Nama Sochin terbentuk dari dua huruf kanji. “Sou” (diucapkan agak panjang) yang berarti laki-laki, tegap, kuat, mulia, bersemangat dan kedamaian. Sedangkan “chin” berarti penekanan yang besar, menjaga perdamaian diantara pengikut. Begitu banyak arti yang bisa diambil dari namanya. Namun arti yang sering dipakai untuk Sochin adalah ketenangan hati, perdamaian, balasan yang besar (sesudah melakukan kebaikan).

Menurut sejarah Arakaki Seisho diyakini sebagai orang pertama yang memperkenalkan kata Sochin sekitar tahun 1900-an. Konon setelah itu Arakaki mengajarkannya pada Kenwa Mabuni (pendiri Shito-ryu). Namun ini bukanlah versi Shotokan karena Gichin Funakohi baru memasukkannya dalam silabus Shotokan setelah Perang Dunia II. Jika demikian, dari mana versi Shotokan berasal? Siapa yang membawanya? Jawaban atas pertanyaan ini ada bermacam-macam.  

Versi pertama menyebutkan kata Sochin diperoleh murid-murid Funakoshi setelah belajar pada Kenwa Mabuni. Namun akibat terlalu banyak yang dipelajari dalam waktu singkat membuat mereka lupa gerakan utuhnya (juga terjadi pada kata yang lain). Mereka lalu mencoba menyusun ulang dengan tidak merubah namanya.

Versi kedua nyaris tidak berbeda dengan diatas. Setelah berhasil belajar pada Kenwa Mabuni, murid-murid Funakoshi mendokumentasikan kata Sochin versi Shito-ryu tersebut. Ketika kembali ke perguruan, kata tersebut di-Shotokanisasi oleh beberapa senior (bahkan ada yang menyebut peran Funakoshi didalamnya). Sayangnya setelah itu Perang Dunia II meletus yang membuat murid Funakoshi banyak yang tewas. Akibatnya dokumentasi kata itu hilang.

Setelah perang berakhir murid Funakoshi yang tersisa berusaha menyatukan kembali memori kata Sochin. Proses itu akhirnya selesai meskipun hasilnya tidak sempurna. Sehingga kata Sochin versi Shotokan yang terlihat pada hari ini lebih pendek daripada sebelumnya.

Contoh aplikasi kata Sochin oleh Osaka (kiri) melawan Kawasoe. Foto berasal dari JKA Toulouse


Perlu diingat bahwa pendapat pertama dan kedua diatas masih diragukan kebenarannya. Memang benar, Funakoshi mengirim murid-muridnya belajar pada Mabuni. Tapi apakah kata Sochin termasuk di dalamnya masih simpang siur. Lagi pula kata hasil belajar dari Mabuni biasanya setelah di-Shotokanisasi tidak jauh beda dengan aslinya (contoh Nijushiho dan Unsu). Tapi Sochin versi Shotokan amat sangat berbeda. Sehingga banyak yang menyimpulkan Sochin versi Shotokan bukan berasal dari Mabuni. 

Versi ketiga menyebutkan Sochin masuk dalam silabus Shotokan setelah diperkenalkan Yoshitaka Funakoshi (anak ketiga Gichin Funakoshi). Dalam buku Karate-do Nyumon diceritakan bahwa ketika di Tokyo Gichin Funakoshi diundang ke Okinawa oleh seorang ahli karate yang tidak disebutkan namanya. Karena begitu sibuknya Funakoshi tidak bisa memenuhi undangan itu dan sebagai gantinya mengirimkan Yoshitaka.

Tradisi tokoh bela diri lama biasanya hanya menurunkan teknik mereka pada orang yang terpilih. Saat di Okinawa itulah Yoshitaka dipercaya mendapatkan kata yang baru. Namun dalam bukunya Funakoshi tidak pernah menyebutkan nama kata yang dimaksud. Yang jelas, sekembalinya ke Tokyo Yoshitaka memodifikasi gerakannya. Dia memasukkan Fudo dachi, sebuah kuda-kuda dengan posisi kaki yang cukup sulit. Hasil modifikasi itulah yang sekarang dikenal sebagai kata Sochin versi Shotokan.

Nama Sochin diambil dari bentuk kuda-kudanya yang khas yaitu Fudodachi atau sochindachi. Posisinya tidak lazim dan bagi yang baru belajar kata ini umumnya akan kesulitan. Dalam bukunya yang berjudul “Dynamic Karate” Masatoshi Nakayama menjelaskan tentang fudodachi.

“Fudo dachi (posisi yang solid) juga dikenal sebagai sochin dachi. Kecuali posisi kakinya, kuda-kuda ini adalah kombinasi dari zenkutsu dachi dan kiba dachi. Fudo dachi posisinya kokoh dan stabil, memberi gambaran sebuah pohon yang akarnya kuat di dalam tanah. Dengan sedikit mengubah posisi kakimu, maka akan berubah menjadi kiba dachi. Fudo dachi efektif digunakan menahan pukulan yang kuat dan melancarkan serangan balasan. Pada posisi ini tegangan kaki diarahkan keluar lutut (admin: maksudnya khusus untuk lutut kaki depan) dan berat tubuh dibagi rata antara dua kaki.”

Masatoshi Nakayama memperagakan sochin dachi. Foto diambil dari buku Dynamic Karate (1966).
  

Hirokazu Kanazawa juga memberikan penjelasan yang lebih ringkas.

“Posisikan kedua kaki selebar bahu. Dengan lutut ditekuk dan tegangan kaki mengarah keluar, berikan sedikit berat di kaki bagian depan.”

Sebagai salah satu kata Shotokan yang populer, Sochin sangat sering ditemukan dalam turnamen. Sayangnya, banyak kontestan salah kaprah menganggap kata ini harus dilakukan dengan cepat. Padahal sebagai golongan kata Shorei (berdasarkan kekuatan), Sochin dilakukan dengan penuh tenaga. Jika ada syarat lain maka itu adalah rotasi pinggul yang mendukung perpindahan kaki dan gerakan.

Untuk variasi gerakan, kata Sochin termasuk minim, bahkan bisa dibilang monoton. Mengapa bisa begitu? Ini karena tujuan kata Sochin adalah mengajak praktisinya mempunyai kuda-kuda yang kokoh, kaki yang kuat, eksekusi serangan yang powerfull, dan konsentrasi tinggi. Kata Sochin boleh saja terlihat simpel. Meski mudah mempelajari, tapi toh bukan perkara gampang untuk menguasainya.

Diluar kebutuhan untuk turnamen, standar silabus JKA menetapkan kata Sochin diajarkan pada level nidan. Peserta pada tingkat itu juga boleh memilih kata lainnya yaitu Kanku Sho, Nijushiho dan Chinte. (Indoshotokan)  

0 komentar :