Custom Search

KONTEN DILINDUNGI HAK CIPTA. DILARANG KERAS MENJIPLAK, MENGEDIT DAN MEMPERBANYAK SEBAGIAN ATAU SELURUH HALAMAN SITUS INI TANPA IJIN.

REVIEW J-GAMES: DMC: DEVIL MAY CRY


Sejak dirilis pertama kali tahun 2001 silam, serial Devil May Cry menjadi mesin pencetak uang bagi Capcom. Petualangan Dante sang pemburu iblis dengan gayanya yang cool menjadi tren baru dalam genre hack‘n’slash. Bahkan Devil May Cry 4 yang muncul tahun 2008 mendapatkan nilai sempurna dari sebuah majalah game terkemuka di Jepang yaitu Famitsu. Dante memang tidak lagi urakan seperti game ketiganya. Dia kelihatan lebih berumur dan kharismatik, tapi jurusnya lebih berbahaya dari semua game sebelumnya. Lima tahun sejak sukses Devil May Cry 4, Capcom ingin memberikan sesuatu yang berbeda untuk penggemarnya. Mereka me-reboot atau me-restart ulang cerita permainan. Yang menangani versi reboot adalah Ninja Theory, developer asal Inggris yang sebelumnya membuat Heavenly Sword. Hasilnya adalah DmC: Devil May Cry yang dirilis bulan Januari 2013 untuk Windows, Playstation 3 dan Xbox 360.

Di sebuah kota modern bernama Limbo City, para iblis menguasai dari balik layar dan diam-diam memperdaya manusia dengan memberikan mereka hidup yang nyaman. Hidup di daerah pinggiran yang kumuh, Dante adalah seorang remaja pemberontak. Karena perbuatannya Dante menjadi target buruan pemerintah yang menganggapnya musuh berbahaya. Berbeda dengan sebelumnya, Dante disini adalah seorang Nephilim karena ayahnya adalah iblis dan ibunya adalah malaikat. Tapi Dante tidak pernah mengetahui masa lalunya karena ingatannya terhapus sejak ibunya dibunuh oleh Mundus, sang raja iblis. Dante bisa bertahan hidup karena selain bukan manusia, ayahnya juga mewariskan sebuah pedang yang kuat yaitu Rebellion.


Dante mulai mendapatkan gambaran masa lalunya setelah bertemu dengan gadis bernama Kat yang bergabung dengan organisasi “The Order”. Misi organisasi rahasia ini adalah membebaskan manusia dari perangkap iblis. Dante juga mendapati bahwa pemimpin dari The Order ternyata saudara kembarnya sendiri yaitu Vergil. Belakangan terkuak jika ayah mereka yaitu Sparda adalah pemimpin pasukan iblis Mundus ketika perang melawan malaikat. Tapi Sparda mengkhianati Mundus dan jatuh cinta pada Eva. Ketika Dante dan Vergil masih anak-anak tiba-tiba Mundus menyerang mereka. Eva terbunuh dan demi menyelamatkan kedua anaknya, Sparda menghapus ingatan mereka. Mundus yang murka lalu memenjarakan dan menyiksa Sparda. Dante memutuskan membantu Vergil membunuh Mundus karena hanya Nephilim sajalah yang bisa membunuh sang raja iblis.

Gameplay dalam DmC: Devil May Cry masih sama dengan game originalnya. Dante menggunakan pedang Rebellion untuk pertarungan jarak dekat dan dua pistol Ebony Ivory untuk jarak jauh. Kini pemain tidak perlu kesulitan mengeluarkan jurus-jurus Dante karena semuanya dibuat lebih mudah. Yang baru adalah Dante kini bisa memilih antara Angel Mode atau Devil Mode. Dalam Angel Mode pedang Dante akan berubah menjadi sebuah scythe yang sangat cepat gerakannya. Dante juga bisa terbang sesaat dan membuatnya mendekati musuh yang dipilih. Sebaliknya, dalam Devil Mode pedang Dante berubah menjadi arbiter, sebuah kapak raksasa yang lambat tapi powerful. Dante juga bisa menarik musuh atau objek tertentu untuk didekatkan.


Ranking pemain ditentukan dari combo yang dilakukan. Semakin stylish dan gila-gilaan maka ranking juga makin tinggi. Dante juga bisa mengaktifkan Devil Trigger, dimana dia akan berubah wujud dan menjadi lebih berbahaya. Saat Devil Trigger aktif, Dante akan membuat musuhnya melayang di udara. Pemain bisa lebih leluasa menghajar musuh karena mereka tidak bisa melawan. Tapi jika musuh kembali menyentuh tanah mereka bisa menyerang Dante meskipun Devil Trigger masih aktif. Walau animasinya keren, wujud Devil Trigger Dante disini masih kalah sangar dengan game sebelumnya. Sama seperti game sebelumnya, Dante bisa mengumpulkan soul untuk mengupgrade semua kemampuannya.

Bagi penggila game action tingkat kesulitan adalah tantangan tersendiri. Dalam DmC: Devil May Cry mode tersulit adalah Dante Must Die. Sayang sekali mode Legendary Dark Knight harus absen. Mungkin karena Ninja Theory menyesuaikan dengan alur cerita dimana Dante belum menjadi seorang pemburu iblis. Bagaimana dengan Bloody Palace? Di dua game sebelumnya mode spesial itu otomatis dibuka jika pemain menamatkan permainan. Nah, dalam DmC: Devil May Cry mode Bloody Palace tersedia sebagai DLC. Sayang sekali memang, karena pemain harus membayar lagi untuk mode permainan yang sebelumnya gratis.


DmC: Devil May Cry sebetulnya tidak mengecewakan. Tapi karakter dan gamenya yang dibuat kebarat-baratan mungkin membuat fans sedikit kecewa. Masih ada lagi, game ini diberi rating dewasa. Kini pemain akan sering mendengar Dante atau musuhnya mengejek, mengumpat dengan bahasa yang sangat kasar. Beberapa adegan juga kurang pas jika ditonton pemain dibawah umur. Ada yang kurang? Barangkali link download? Jangan khawatir, Indoshotokan akan berbagi game yang keren ini. Dapatkan linknya disini, tapi sebelumnya pastikan sobat punya koneksi yang cepat karena game ini lumayan besar. Selamat memburu iblis (Indoshotokan)

0 komentar :