KONTEN DILINDUNGI HAK CIPTA. DILARANG KERAS MENJIPLAK, MENGEDIT DAN MEMPERBANYAK SEBAGIAN ATAU SELURUH HALAMAN SITUS INI TANPA IJIN.

Cari Artikel

Showing posts with label BUDAYA JEPANG. Show all posts
Showing posts with label BUDAYA JEPANG. Show all posts

BEHIND THE STORY OF AKB48: KISAH SUKSES GRUP IDOLA JEPANG (4 - TAMAT)


Solidaritas dan kekeluargaan yang tinggi. AKB48 bagaikan keluarga kedua bagi setiap membernya. Karena itu jika ada anggota yang terkena musibah atau mengundurkan diri, maka bisa dipastikan semua member akan menangis bersama saat upacara graduate (istilah bagi anggota yang mengundurkan diri).  Sebuah konser perpisahanpun akan diberikan khusus bagi member yang akan graduate. Konser itu dihadiri semua member AKB48 beserta managemen, dan sang chairman Yasushi Akimoto. Member yang graduate juga diberi sertifikat kelulusan layaknya sebuah sekolah. Para fans juga diberi kesempatan untuk bersalaman. Benar-benar sebuah momen yang tidak terlupakan.

Sombong adalah pantangan. Banyak member AKB48 yang sudah graduate. Sebut saja Atsuko Maeda dan Yuko Ohshima. Sebagai mantan generasi pertama, mereka berdua kini berkarir di dunia akting dan sudah bermain banyak dorama dan film. Tapi walaupun jadwal syuting tengah sibuk, ketika ada konser atau jumpa fans AKB48 mereka akan mendahulukannya. Mereka tidak pernah lupa jika keberhasilan mereka berasal dari AKB48. Sebuah sikap yang patut dipuji.


IMPRESI AKHIR

Ketika berkunjung ke Jakarta beberapa waktu lalu, Yasushi Akimoto mengatakan tidak ada member yang sempurna di AKB48. Dengan bijak Akimoto menambahkan jika semua prestasi dicapai lewat kerja keras, keringat, semangat, kemauan belajar dan air mata. Apa yang dikatakan Akimoto bukan sekedar omong kosong. Melihat member AKB48 bisa menari dengan kompak, atau mendengar lagu-lagunya yang enak di telinga, banyak fans yang tidak tahu bagaimana beratnya proses yang mereka jalani di balik panggung. Jika sobat pernah membaca atau melihat bagaimana latihan member JKT48 tentu akan paham hal ini.

JKT48 dalam sebuah konser di salah satu acara televisi.

Kebanyakan mereka yang mendaftar audisi mempunyai impian yang tinggi. Ingin terkenal, ingin punya banyak penggemar, ingin jadi artis, dsb. Tidak salah kok kalau punya impian, tapi sebelum mendaftar audisi pastikan perbaiki dulu mindset kamu. Apa itu? JKT48 adalah sebuah grup idola dan bukan selebriti. Apa sih bedanya? Selebriti adalah orang yang menghibur untuk alasan uang dan popularitas. That’s it. Tidak jarang untuk itu mereka mengumbar sensasi. Tidak peduli karya mereka jelek atau bahkan miskin karya sama sekali. Grup idola seperti JKT48 mirip dengan pekerja seni yang bergerak di entertainment. Mereka berdedikasi tinggi pada pekerjaannya sebagai entertainer, menghibur fans semata-mata karena mencintai pekerjaannya dan fans. Mereka mencari prestasi dan bukan sensasi.

Menjadi idola juga tidak semudah yang dibayangkan. Saat audisi awal saja pendaftar sudah harus bersaing dengan peserta lain yang pastinya berbakat. Pada audisi final, juri penguji adalah sang chairman sendiri, Yasushi Akimoto. Dialah yang menentukan peserta berhak menjadi trainee atau tidak. Ketika sudah masuk dan diterima di akademi, peserta juga harus melewati latihan yang berat setiap harinya. Sit-up ratusan kali sehari sudah menjadi hal biasa. Belum lagi latihan menari dan menyanyi berjam-jam dari sore hingga malam. Selain itu ada sebuah golden rule dimana seorang member dilarang untuk naksir apalagi sampai pacaran. Hmm.... Para cowok siap-siap gigit jari deh.

Tapi semua kerja keras itu sepadan dengan hasilnya. Itulah yang kini dirasakan JKT48, yang mengikuti kesuksesan AKB48. Selain iklan, beberapa membernya bahkan sudah ada yang merambah ke dunia film. Ingin mendaftar audisi? Well, mengapa tidak? Jika kamu adalah gadis remaja berusia 13 sampai 18 tahun, mempunyai niat kuat dan selalu optimis, maka siapa tahu akan beruntung. Jika tidak ada perubahan, audisi dibuka setiap tahunnya. Pastikan siapkan diri kamu, baca ketentuannya dan ikuti terus beritanya di situs resminya disini. (Tamat – Indoshotokan)

BEHIND THE STORY OF AKB48: KISAH SUKSES GRUP IDOLA JEPANG (3)


Popularitas AKB48 kian menanjak setelah mereka rajin merilis single-single barunya. Sering tampil di layar kaca dan live show, AKB48 kemudian juga mengadakan show di luar negeri. Tahun 2009 Tim A diundang sebagai tamu pada acara Japan Expo di Paris dan menyanyikan versi Inggris dari Ogoe Diamond. Masih di bulan yang sama Tim A melakoni debut mereka di Amerika. Setahun kemudian AKB48 menyanyi di Korea, Rusia dan Singapura. Tidak hanya itu, ketika Jepang dilanda gempa hebat tahun 2011 AKB48 memberikan sumbangan tidak hanya berupa uang. Sebagai kepedulian, seluruh show di teater dibatalkan dan mereka mulai menggalang dana. Para member juga pergi ke lokasi bencana dan menyanyi di sekolah dan teater mereka di sana. Keren. 


BUKAN GIRL BAND TAPI IDOL GROUP

Bagi kebanyakan orang awam, AKB48 sering disamakan dengan girl band. “Ah, mereka khan menyanyi, berkelompok, anggotanya cewek-cewek, menari di panggung....dst”. Beberapa waktu yang lalu Minami Takahashi, salah satu kapten AKB48, berkunjung ke Jakarta dan menjawab hal ini. Menurut keterangan Takahashi, AKB48 adalah sebuah idol group dan bukan girl band. Hmm... lantas dari mana ya, membedakannya? Ini dia jawabannya:

Jumlah member yang sangat banyak. Sebuah girl band biasanya terdiri antara 5 sampai 10 orang. Tapi AKB48 tercatat dalam Guinnes Book of Record sebagai idol group dengan member terbanyak yaitu 48 orang. Bagaimana cara Akimoto mengatur gadis-gadis remaja dengan kepribadian berbeda sebanyak itu? Ternyata cukup simpel. Akimoto hanya menekankan semangat, terus belajar dan pantang menyerah. Hanya dengan ketiga hal itu Akimoto bisa menyatukan semua membernya.

AKB48 dekat dengan fansnya. AKB48 berbeda dengan selebriti pada umumnya yang serba eksklusif, tertutup, sulit dijamah penggemar, gaya hidupnya mewah, dsb. Dengan konsep “Idol You Can Meet Everyday”, penggemar bisa bertemu langsung dengan idola mereka di teater. Bahkan penggemar juga bisa bercakap-cakap, berjabat tangan atau berfoto bersama. Dari sini munculah hubungan baik antara idola dan penggemar. Sudah menjadi hal biasa jika member AKB48 menyalami penggemar sebelum konser. Mereka juga tidak lupa berterima kasih pada fans yang mau datang ke teater mereka. Bahkan tidak jarang member AKB48 menjaga pintu masuk dan merobek tiket fans yang mau nonton. Mereka benar-benar membuktikan slogan “tanpa fans mereka bukan apa-apa.”

Member AKB48 paling senior Atsuko Maeda mengumumkan niatnya untuk graduate dari grup di bulan Mei 2012.

Penggemarnya sopan. Mungkin kita pernah melihat fans yang antri di bandara, berdesak-desakan, menjerit histeris dan berusaha memegang idolanya ketika muncul. Ini tidak terjadi pada Wota AKB48 (sebutan bagi fans AKB48) yang seluruhnya sopan, terpelajar, bersikap dewasa dan tertib. Mereka tidak berusaha menarik-narik apalagi sampai menyakiti idolanya ketika lewat. Inilah efek “idola yang bisa kamu temui setiap hari” yang membuat penggemar tidak sulit menemui idola mereka. Sebuah konsep yang jenius menurut saya.

Kompak dan bertalenta. Inilah ciri utama dari sebuah idol group. Semua member AKB48 biasanya mempunyai bakat yang berhubungan dengan entertainment. Tidak hanya menyanyi atau menari saja, ada member yang pernah main film atau dorama. Ada yang menjadi model majalah, bintang iklan, model video clip dan MC dalam live show atau acara TV. Dan yang luar biasa, setiap member saling mendukung satu sama lain. Ibaratnya sebuah tim sepak bola yang mustahil mengandalkan skill individu, kekurangan satu member AKB48 akan didukung member lainnya. Tidak ada yang saling menjatuhkan. Oh, ya.. di AKB48 setiap member juga dibekali kemampuan public speaking, sehingga siapapun bisa menjadi pembawa acara di panggung. 

Adil dan setara. Tiap member AKB48 punya kesempatan yang sama untuk tampil di panggung. Nah, karena jumlah personilnya sangat banyak, maka dilakukan polling dari penggemar untuk menentukan siapa yang tampil. Sejak 2009 dilakukan kompetisi Jankenpon untuk menentukan siapa yang menjadi center dalam single berikutnya. Siapa yang menang maka namanya dimasukkan dalam single itu. Misalnya yang menang adalah Shinoda Mariko, maka single terbaru mereka akan berjudul “Ue Kara Mariko.” Selain itu fans juga bisa turut serta dalam Senbatsu, atau pemilihan anggota terfavorit untuk dimasukkan dalam single atau video klip. (Bersambung – Indoshotokan)

BEHIND THE STORY OF AKB48: KISAH SUKSES GRUP IDOLA JEPANG (2)


Demi mendapatkan penonton, para member AKB48 rela turun ke jalan. Mereka membagikan tiket pada pejalan kaki yang lalu lalang di Akihabara. Tapi orang hanya mengambil, melihat dan kemudian membuang tiket seharga 1.000 yen itu. Bahkan tidak sedikit yang membuang tiket di depan mata mereka. Ini jelas sebuah pukulan pahit bagi member AKB48. Tapi perjuangan mereka tidak hanya berhenti sampai disitu. Ketika natal tiba, mereka kembali turun ke jalan demi membagikan flyer pada pejalan kaki. Dengan wajah yang ceria para member AKB48 berusaha mendapatkan penonton. Tapi lagi-lagi mereka mendapat perlakuan yang menyakitkan. Para pejalan kaki tidak berminat dan bahkan tidak sedikit yang membuang flyer itu.

Kenyataan itu sontak membuat jiwa member AKB48 saat itu tertekan. Bahkan ada beberapa member yang menderita depresi. Ada yang kadang menangis atau berteriak di ruang make-up. Dalam kehidupan sekolah banyak teman mengejek dan kemudian menjauhi mereka. Karena tidak kuat lagi, ada beberapa member yang mengundurkan diri. Tapi itu semua bisa dimaklumi karena mereka masih remaja, pendatang baru yang mulai dari nol. Belum ada yang mengenal mereka. Ditambah lagi pasar entertainment Jepang adalah industri penuh persaingan ketat yang sulit ditembus.


SURAT DARI FANS: SEBUAH MOTIVASI

Belakangan ada beberapa fans yang tersentuh dengan kegigihan member AKB48 dan mengirim surat kepada mereka. Satu demi satu fans berdatangan ke teater dan lama kelamaan mereka mendapat pengunjung setia. Tapi hanya terkenal di teater saja jelas tidak cukup. Manajemen AKB48 lalu mempromosikan mereka di beberapa stasiun TV Jepang. Tapi semuanya tidak ada yang mau menerima mereka. Alasannya popularitas mereka belum cukup dan sulit mendapat rating yang bagus. Pil pahit ini membuat harapan para member kembali pupus. Di tengah kesulitan itu, berita bahagia datang di bulan Februari 2006 dimana tiket pertunjukan teater mereka habis terjual untuk pertama kalinya. Inilah momen awal yang merubah nasib mereka selanjutnya.

Masih di bulan yang sama AKB48 merilis single debut mereka yang berjudul “Sakura no Hanabiratachi”. Single itu berhasil menembus peringkat 10 Oricon dan terjual 22.011 keping dalam minggu pertama. Jumlah sebanyak itu sangat mengejutkan untuk artis di jalur indie. Sekitar dua minggu kemudian Akimoto berniat mengadakan audisi kedua untuk member baru. Para member lama sempat berpikir mereka telah gagal dan bakal diganti orang baru. Padahal tidak demikian. Akimoto ingin membentuk tim baru agar mereka dapat perform di tempat berbeda dalam waktu yang bersamaan.

 AKB48 dalam sebuah konser di acara Japan Expo 2009.

Sekitar 11.000 gadis remaja mendaftar untuk audisi kedua itu. Hanya 19 orang yang lolos dan mereka kemudian menjadi Tim K. Mereka mulai debut pertunjukan tanggal 1 April 2006 dengan teater yang dipenuhi oleh penonton. Tapi setelah itu pertunjukan mereka tidak seramai hari pertama. Ternyata banyak fans yang masih loyal dengan Tim A dan tidak tertarik dengan wajah baru. Walau kecewa, Tim K tidak putus asa dan berusaha lebih baik. Dengan masuknya generasi kedua, jumlah member AKB48 saat itu adalah 38 orang. Komplain muncul dari para fans yang tidak hafal dengan member-member baru. Akimoto lalu berpikir tentang seorang leader, seseorang yang menjadi ikon dari AKB48, dan yang terpilih adalah Atsuko Maeda.

Masih di tahun yang sama, tepatnya bulan Oktober 2006, Akimoto mengadakan audisi untuk generasi ketiga. Sebanyak 13 member baru akhirnya terpilih menjadi Tim B setelah menyisihkan lebih dari 12.800 peserta audisi. Dan semenjak itu Akimoto juga membentuk sister group dari AKB48. Mereka adalah SKE48 yang berbasis di Sakae, Nagoya; SDN48 sebuah group di Akihabara yang hanya tampil Sabtu dan Minggu, tapi grup ini sudah dibubarkan; NMB48 yang berbasis di Minami, Osaka; HKT48 yang berbasis di Fukuoka, Kyushu; dan yang paling membanggakan adalah JKT48 sebagai sister group pertama di luar Jepang yang berbasis di Jakarta. (Bersambung – Indoshotokan)

BEHIND THE STORY OF AKB48: KISAH SUKSES GRUP IDOLA JEPANG (1)


Tahun 2011 lalu di salah satu TV swasta lokal muncul iklan softdrink Pocari Sweat, dimana beberapa gadis remaja ala Japanese-style tengah menari di pantai. Melihat sekilas dari wajahnya saya sempat mengira mereka ini benar-benar dari negeri sakura. Apalagi background musiknya juga lagu Jepang yang kurang familiar tapi enak didengar. Sejak itu di TV lokal kadang-kadang para gadis manis itu kembali namun dengan iklan yang berbeda. Hmmmm....siapa ya, mereka? Oo...ternyata mereka adalah idol group baru bernama JKT48. Sebagai group yang sekilas mirip girl band, JKT48 adalah sister group dari AKB48 yang sudah lebih dulu populer di Jepang.

AKB48 adalah sebuah grup idola asal Jepang yang diproduseri Yasushi Akimoto. Nama AKB48 diambil dari Akihabara, sebuah lokasi di Tokyo dimana teater mereka berada. Sedangkan 48 menunjukkan jumlah membernya. Saat ini AKB48 sudah menjadi salah satu grup papan atas di Jepang dengan penjualan album yang fantastis. Tahun 2013 mereka membukukan keuntungan 128 juta dolar dan di bulan Mei 2014, grup idola ini telah menjual tidak kurang dari 28 juta keping single. Prestasi ini dimulai sejak 2010 setelah single “Beginner” dan “Heavy Rotation” masuk di urutan pertama dan kedua Oricon. Sejak saat itu single mereka berturut-turut selalu masuk daftar urutan lagu terbaik di Jepang. Beberapa single bahkan ada yang meraih penghargaan seperti “Manatsu no Sounds Good” yang memenangkan Japan Record Award.

Dengan member yang sangat banyak dan “kawaii”, lagu yang enak didengar dan fans (disebut “Wota”) yang jumlahnya ribuan, membuat AKB48 layak dinobatkan sebagai grup idola yang fenomenal. Tapi tidak banyak yang tahu jika grup ini sudah lama berdiri dan banyak melalui suka dan duka. Nah, catatan singkat ini akan mengajak pembaca menelusuri kembali semangat dan kerja keras mereka hingga menjadi idola di Jepang.


PERJALANAN MENGGAPAI MIMPI DIMULAI


Semuanya dimulai bulan Juli 2005. Saat itu Yasushi Akimoto, seorang produser rekaman dan sutradara terkenal di Jepang mempunyai sebuah proyek unik “idola yang bisa kamu temui setiap hari.” Akimoto kemudian meminta bantuan Tomonobu Togasaki (sekarang General Manager teater AKB48) untuk mencari lokasi yang cocok untuk audisi. Setelah mencari kesana kemari Togasaki akhirnya menemukan tempat yang cocok di lantai 8 gedung Don Quijote yang berlokasi di Akihabara Tokyo. Tidak lama kemudian poster undangan audisi pun disebar yang ditujukan untuk para gadis remaja di Jepang.

“Aku ingin bertemu kalian yang berkepribadian kuat.”

Begitulah kira-kira isi kalimat yang tertera di poster itu. Akimoto yang sukses mengorbitkan artis berbakat menjadi daya tarik bagi para gadis mengikuti audisi itu. Di hari terakhir pendaftaran audisi terkumpul hampir 8.000 gadis yang ingin mencoba peruntungannya. Kebanyakan dari mereka bahkan tidak punya latar belakang menyanyi atau menari. Setelah melalui seleksi yang sangat ketat, terpilih 24 orang yang akan menjadi anggota AKB48. Akan tetapi 4 orang dari mereka keluar dan satu orang lagi dikeluarkan lantaran satu kali datang terlambat. Akhirnya 20 orang sisanya menjadi generasi pertama AKB48 yang disebut Tim A. Termasuk diantaranya Atsuko Maeda, Haruna Kojima dan Minami Takahashi yang pastinya sudah tidak asing lagi di telinga para penggemar.

Para member kemudian belajar menyanyi dan menari. Mereka hanya diberi waktu satu bulan berlatih sebelum tampil di hari pembukaan teater tanggal 1 Desember 2005. Tapi karena menurut pelatih tari kemampuan mereka masih belum cukup, penampilan merekapun diundur seminggu kemudian. Tanggal 8 Desember 2005 AKB48 akhirnya diperkenalkan secara resmi di sebuah teater kecil berkapasitas 250 orang di Akihabara. Hanya ada sedikit orang yang menonton pertunjukan perdana itu. Penonton sesungguhnya hanya ada 7 orang sementara sisanya adalah staf dan manajemen. Walau sepi mereka tetap memberikan pertunjukan setiap hari di teater. Hingga ada saat dimana tidak satupun penonton yang mau menonton pertunjukan mereka. (Bersambung – Indoshotokan)

TOUHOU PROJECT: JELAJAH DUNIA GENSOKYO YANG FENOMENAL (2)


Perlahan-lahan nama Touhou kian terkenal. Setelah ZUN merilis game kedelapannya, para fans kemudian sepakat menggelar sebuah even khusus untuk Touhou. Even itu disebut dengan Hakurei Jinja Reitaisai – sering disingkat Reitaisai – yang digelar pertama kali di bulan April 2004. Pengunjung bisa menemukan merchandise Touhou kesukaan mereka seperti game, novel, musik, komik, poster, artbook dan lain-lain. Sejak itu hingga kini even Reitaisai selalu digelar tiap tahunnya di bulan Mei. Selain Tokyo Game Show, Comiket dan Reitaisai menjadi dua even besar yang ditunggu anak muda Jepang tiap tahunnya. Ingin berkunjung kesana? Siapkan air minum yang cukup karena disana penuh sesak dengan pengunjung.

Sobat Indoshotokan tentu penasaran apa sih yang membuat game karya ZUN begitu istimewa? Pada intinya ada dua hal. Pertama, ZUN hanya menggunakan tokoh gadis remaja di semua gamenya. Lho, kok bisa? ZUN mengakui jika dia paling tidak bisa menggambar karakter laki-laki. Hal ini lalu menjadi ciri Touhou yang menggeser image game shooting yang biasanya menggunakan pesawat atau robot. Tapi ide ZUN ini bukan hal baru karena sebelumnya ada developer lain yang sudah melakukannya. Sebut saja CAVE dengan ESP Ra.De (1988) atau Psikyo dengan Sengoku Ace (1993).

Alasan kedua game ZUN sangat populer adalah danmaku. Oops, apalagi ini? Danmaku (artinya tirai peluru) adalah gaya game shooting dimana peluru-peluru musuh bertebaran memenuhi layar. Berbeda dengan game shooting klasik, dalam danmaku peluru musuh hanya mengurung dan tidak ditujukan membunuh pemain. Peluru musuh bertebaran membentuk pola tertentu yang indah, rapat dan menuntut pemain untuk ekstra hati-hati. Danmaku sendiri dipopulerkan oleh CAVE di era tahun 1990-an. ZUN kemudian mengadopsi gaya danmaku pada setiap karakter buatannya. Dalam game Touhou tiap karakter musuh mempunyai pola tertentu yang akan berubah di setiap rondenya.

 Pola danmaku dalam game Touhou Koumakyou - The Embodiment of Scarlet Devil

Tapi ZUN tidak hanya berhenti di game shooting saja. Di bulan Desember 2004 ZUN bekerja sama dengan Twilight Frontier untuk membuat game fighting berjudul Touhou Suimusou – Immaterial and Missing Power. Twilight Frontier adalah salah satu developer indie terbaik di Jepang yang sebelumnya sukses dengan Eternal Fighter Zero. Dalam game fightingnya ZUN meniru gaya Street Fighter tapi masih mempertahankan elemen game shooting dengan peluru danmaku. Game ini cukup sukses dan masih banyak dimainkan gamer dalam kompetisi online. Hingga kini ZUN dan Twilight Frontier masih menjalin kerjasama. Karya terbaru mereka adalah Urban Legend in Limbo yang dirilis pada even Reitaisai 12, bulan Mei 2015 lalu.

Nama Touhou tidak akan menjadi besar jika tidak didukung developer lain dan fans. Sejak ZUN merilis Touhou, banyak developer indie lain yang merilis game menggunakan karakter Touhou. Game itu ada yang meniru milik ZUN yaitu shooting, tapi ada juga yang ber-genre lain. Kualitasnya bahkan banyak yang diatas karya milik ZUN sendiri. Misalnya Koumajou Densetsu yang menggabungkan Castlevania dan Touhou. Ada pula Mai Hana Ao Makyou, game shooting 3D berdasarkan game keenam ZUN. Mai Hana adalah game yang sangat indah dan sobat sebaiknya memainkannya.   

Tidak hanya game, karena Touhou juga berkembang ke produk lain yaitu doujinshi. Doujinshi adalah produk turunan dari Touhou yang dibuat fans. Yang paling banyak adalah musik. Banyak sekali CD musik indie yang dibuat fans berdasarkan game Touhou. Mereka meng-aransemen ulang dan menjualnya dalam even. Sekedar informasi, dalam sebuah even ada ratusan album musik Touhou yang dijual. Jika ditotal, sampai sekarang sudah ada ribuan album musik indie Touhou. Sebuah angka yang fenomenal karena bisa mengalahkan industri musik mainstream. Kualitasnya tidak bisa diremehkan karena bisa menyaingi lagu-lagu komersial. Selain musik, Touhou juga berkembang ke pop-culture lainnya yaitu cosplay dan animasi. 

Para pengunjung memadati Tokyo Big Sight

Melihat banyak orang membuat game berdasarkan Touhou, ZUN tidak mempersoalkannya. Namun ZUN melarang game-game yang menggunakan Touhou dirilis di luar Jepang. Alasannya ini akan berlawanan dengan nama Touhou yang berarti “Timur”. ZUN juga memilih agar Touhou tetap di jalur indie dan tidak masuk ke jalur mainstream alias komersial. Menurut ZUN game komersial biasanya mengikuti keinginan pasar. Dengan tetap di jalur doujin atau indie, ZUN bisa berkarya sesuai keinginannya. Inilah sebab mengapa tidak ada game Touhou yang berbahasa Inggris. Jikapun ada, itu adalah hasil fans yang membuatkan patch. Hingga artikel ini ditulis (2015) hanya ada tiga game Touhou buatan fans yang dirilis di konsol Playstation 4.

Yap, dengan jutaan penggemar di seluruh dunia Touhou memang fenomenal. Tapi di luar itu semua Indoshotokan berharap suatu saat negara kita juga bisa menggelar even sejenis Comiket atau Reitaisai. Pasti seru melihat komikus, cosplayer dan developer indie berkumpul di sana. Semoga saja. (Tamat - Indoshotokan)

TOUHOU PROJECT: JELAJAH DUNIA GENSOKYO YANG FENOMENAL (1)


Beberapa waktu yang lalu Indoshotokan me-review game doujin bertema Touhou. Bagi penggemar J-culture istilah Touhou pastinya sudah tidak asing lagi di telinga. Tapi mungkin masih ada sobat Indoshotokan yang masih bingung apa sih Touhou itu? Mengapa Touhou begitu fenomenal? Mengapa harus Touhou? Dimana sih menariknya Touhou? Nah, untuk menjawab rasa penasaran, silakan simak terus artikel berikut ini.

Touhou Project, atau sering disingkat Touhou, awalnya adalah impian masa kecil seorang anak muda Jepang bernama Jun’ya Ota alias ZUN. Semuanya kembali ke tahun 1996. Ketika itu ZUN sudah jenuh dengan game di pasaran yang itu-itu saja sehingga dia ingin membuat game sendiri. Dengan beberapa temannya di klub komputer Universitas Tokyo Denki, ZUN membentuk sebuah developer game independen bernama Amusement Makers. Mereka berhasil membuat sebuah game shooting untuk komputer MS-DOS berjudul Touhou Reiiden – Highly Responsive to Prayers. Game paling awal dari Touhou itu grafisnya sangat sederhana dan lebih cocok disebut plesetan dari Arkanoid ketimbang game shooting.

Karakter utama dari game pertama itu adalah Hakurei Reimu, seorang gadis penjaga kuil di Jepang. Bukan tanpa alasan ZUN memilih Reimu karena sejak awal dia berpikir tentang sosok gadis penjaga kuil yang jarang diangkat ke dunia game. Hingga tahun 1998 serial Touhou dilanjutkan Zun dengan empat judul berikutnya yaitu; Story of Eastern Wonderland, Phantasmagoria of Dim Dream, Lotus Land Story, dan Mystic Square. Untuk memperkenalkan gamenya, ZUN memilih even Comic Market (Comiket), sebuah even khusus bagi developer independen untuk game, manga, musik dan merchandise lainnya. Karena teknologi belum semaju sekarang, semua game ZUN hanya beredar di Jepang.

Kuil Hakurei

Dunia Touhou adalah Gensokyo, sebuah dunia fantasi yang dihuni oleh manusia dan makhluk-makhluk dalam mitos kuno Jepang. Di Gensokyo makhluk apapun yang bukan manusia disebut dengan Youkai, dan mereka bisa berupa hantu, roh, vampir, peri, penyihir, dsb. Dan seperti halnya manusia, mereka ini ada yang baik tapi ada juga yang jahat. Berabad-abad lalu Gensokyo adalah wilayah yang angker karena banyak youkai yang meneror manusia. Beberapa manusia yang berani kemudian dikirim kesana untuk mengusir dan memusnahkan mereka. Setelah perang yang panjang manusia berhasil mengalahkan Youkai. Gensokyo kemudian ditutup dari dunia luar dengan diberi pelindung pembatas yang tidak kelihatan oleh mata.

Manusia yang terlanjur tinggal di Gensokyo tidak akan bisa meninggalkan wilayah itu. Jika mencoba keluar, saat melalui pembatas mereka akan melihat rute yang sama terus-menerus. Begitu juga sebaliknya, manusia dari luar juga tidak akan bisa masuk ke Gensokyo. Sebagai penjaga batas antara dunia manusia dengan Gensokyo adalah Kuil Hakurei. Selama ratusan tahun kuil itu dijaga gadis suci yang tugasnya memusnahkan Youkai pengganggu. Yang paling populer adalah Hakurei Reimu. Sebagai tokoh utama sejak game pertamanya, Reimu digambarkan sebagai gadis periang, optimis dan sedikit punya rasa ingin tahu. Karena mahir ilmu mantra, Reimu sering memecahkan masalah di Gensokyo. Reimu adalah tokoh Touhou yang paling banyak disukai. Terbukti dari banyak polling yang selalu menempatkannya di posisi pertama.

Hakurei Reimu dalam cosplay diperagakan oleh Arisa Mizuhara 

Tahun 2002 ZUN keluar dari Amusement Makers dan mendirikan studionya sendiri yaitu Team Shanghai Alice. Uniknya, disini hanya ZUN seorang diri anggotanya. Era baru dunia digital dengan sistem operasi Windows membuat ZUN ingin mengembangkan Touhou. Masih di tahun yang sama ZUN merilis game keenamnya yakni Touhou Koumakyou – The Embodiment of Scarlet Devil. Game yang disebut sebagai perintis generasi kedua itu tampil lebih baik dalam hal grafis dan suara. Walau sudah klasik, diantara seri lainnya Touhou Koumakyou tetap dianggap yang paling fenomenal. Banyak developer lain yang membuat game Touhou berdasarkan cerita atau karakter didalamnya.

Touhou Koumakyou tetap mempertahankan Hakurei Reimu yang kini ditemani seorang penyihir yaitu Marisa Kirisame. Karakter baru juga diperkenalkan diantaranya Cirno si peri es yang bodoh, Patchouli si kutu buku, Sakuya si kepala pelayan yang mahir mengendalikan pisau, dan tentu saja Remilia sang vampir sekaligus pemilik Scarlet Devil Mansion. Untuk pertama kalinya Touhou Koumakyou menggunakan Spell Card System yang terus digunakan hingga kini. Sukses itu kemudian diikuti dengan game berikutnya yaitu Touhou Youyoumu – Perfect Cherry Blossom. Dengan karakter baru dan scoring mechanic yang unik, membuat Touhou Youyoumu tidak hanya disukai gamer Jepang, namun juga gamer barat yang membicarakannya di forum-forum internet. (Bersambung – Indoshotokan)

INI DIA 10 MAKANAN JEPANG TERPOPULER NAN LEZAT (2)

Bagaimana sobat Indoshotokan? Sudah mencoba masakan Jepang pada artikel sebelumnya? Dijamin rugi kalau belum, karena rasanya memang lezat. Nah, menyambung tulisan sebelumnya apa saja sih, lima makanan tradisional Jepang berikutnya yang diakui sebagai yang terlezat? Ok deh, silakan simak kelanjutannya.








6. YAKITORI

Yakitori adalah barbecue-nya orang Jepang. Makanan ini nyaris tidak pernah absen saat nongkrong di pub atau cafe, sehingga wajar jika dijuluki sebagai “hangout food.” Hidangan lezat ini dibuat dari daging sapi, babi atau hati ayam. Selanjutnya daging tadi ditusuk ala sate, dipanggang sampai renyah, dan kemudian dilapisi saus asam manis untuk menambah cita rasanya. Hmmmm...



7. RAMEN

Bukan hanya populer di Jepang saja, ramen adalah hidangan mie khas negeri sakura yang juga digemari di seluruh dunia. Makanan ini bisa ditemukan di warung ramen yang sangat mudah ditemukan dimana saja. Disajikan sebagai makanan ringan, pelanggan ramen kebanyakan adalah mahasiswa dan orang kantoran. Umumnya ramen disajikan dalam sebuah mangkuk besar dengan beragam topping seperti ayam, telur rebus, ikan plus sayuran. Disantap hangat-hangat, sangat cocok dimakan saat musim dingin. Anda mau?


8. TAKOYAKI

Ingin tahu street food yang paling digemari? Maka takoyaki adalah jawabannya. Jajanan ringan berbentuk bola yang ditusuk ala sate ini berasal dari Osaka dan terbuat dari adonan tepung plus irisan kecil cumi-cumi bakar sebagai ciri khasnya. Bagian luarnya crispy dan renyah, sedangkan bagian dalamnya lembut dan gurih. Untuk menambah kelezatannya, bisa dimakan dengan saus atau mayones. Selain ditemukan di kaki lima, takoyaki juga sering ambil bagian dalam festival atau perayaan tertentu.


9. MOCHI

Satu lagi makanan yang sangat populer dalam anime atau manga adalah kue mochi. Dibuat dari beras ketan, adonan ditumbuk sehingga lembut dan lengket. Di Jepang kue mochi biasanya menjadi hidangan tahun baru. Tapi bagi para penikmat kue ini tidak perlu menunggu terlalu lama. Ada banyak toko di Jepang yang menjual jajanan ini dalam banyak varian rasa.



10. TONKATSU

Sering disebut sebagai hidangan bangsawan karena kelezatan yang luar biasa. Tonkatsu yang berarti potongan daging babi ini dibuat dari daging babi yang dilapisi tepung roti kemudian digoreng lama (deep fried). Kok babi? Jangan khawatir karena sekarang ada juga kok tonkatsu daging ayam atau sapi. Setelah matang dan berwarna kecoklatan, tonkatsu biasanya disajikan bersama parutan lobak atau kobis. Selain dihidangkan sebagai single dish, tonkatsu juga bisa dinikmati bersama kari atau dijadikan isian sandwich. Nikmat.... (Indoshotokan)

INI DIA 10 MAKANAN JEPANG TERPOPULER NAN LEZAT (1)

Bukan cuma maju teknologinya, Jepang ternyata juga terkenal dengan kelezatan kulinernya. Makanan Jepang terkenal berkat cara memasaknya yang minimalis, kaya nutrisi, sehat dan lezat rasanya. Dengan kelebihan seperti itu wajar jika banyak orang yang menggemarinya. Nah, pada ulasan kali ini Indoshotokan akan berbagi 10 masakan asli Jepang yang terbaik. Ok deh langsung saja, itadakimasu....













1. SUSHI

Siapa yang tidak kenal sushi? Di Indonesia sekarang makin banyak restoran cepat saji yang menawarkan menu yang satu ini. Untuk urusan rasa buatan orang Indonesia sebetulnya sudah enak, tapi masih sulit bersaing dengan hasil racikan tangan orang Jepang sendiri. Kok bisa? Sekedar informasi, koki di Jepang membutuhkan waktu latihan yang sangat lama untuk bisa membuat sushi yang enak. Sebagai makanan yang masuk daftar 10 terbaik di dunia, sushi dibuat dari nasi sebagai dasarnya dan dicampur dengan sayatan ikan mentah (tapi tidak amis, lho), telur,


2. KARI JEPANG

Pernah nonton anime Crayon Sinchan? Pastinya sudah tahu dengan makanan ini, khan? Kari memang berasal dari India, tapi orang Jepang juga punya kari sendiri. Bedanya, jika kari India kaya bumbu dan cenderung pedas, maka kari Jepang lebih soft. Kari disajikan diatas sepiring nasi putih dengan siraman kuah kental berisi lauk ikan, daging, dsb. Saking lezatnya, makanan ini sekarang sudah menjadi kuliner nasional negara Jepang, lho.



3. NABE

Jika kebetulan pergi ke Jepang saat musim dingin, maka mungkin Anda akan menemukan makanan ini. Nabe yang berarti “panci untuk memasak” adalah semacam sup yang didalamnya berisi sayuran, ikan, daging, kepiting, mie, dsb. Dan sesuai namanya, nabe dimasak didalam panci besar berisi air panas. Bahan-bahan dan bumbu yang ada dimasukkan satu persatu ke dalam panci, direbus hingga matang dan empuk. Tidak perlu menunggu lama karena makanan ini disajikan hangat-hangat.


4. OKONOMIYAKI

Ingin tahu bagaimana rasanya pancake ala Jepang? Silahkan mencoba okonomiyaki. Nama makanan ini berasal dari Bahasa Jepang “Okono” yang berarti “yang kau sukai” dan “miyaki” yang berarti “panggang atau masak.” Nah, Okonomiyaki ini adalah makanan khas Kansai dan Hiroshima. Bahan utamanya adalah kubis dan ditaburkan diatas omelet. Sebagai campuran biasanya adalah daging, yakisoba, udon, dan sayuran lainnya. Saat ini beberapa restoran di Jepang memungkinkan pelanggan untuk memilih dan memanggang sendiri bahan yang mereka inginkan.


5. ONIGIRI

Pecinta manga atau anime mungkin pernah menjumpai makanan ini dibawa sebagai bekal anak sekolah atau pegawai kantoran. Cara membuatnya ternyata cukup mudah, yaitu dari nasi yang dicampur dengan bahan apapun yang diinginkan seperti telur asin, dan ikan. Selanjutnya nasi tadi dibentuk bola atau segitiga dengan tambahan rumput laut kering yang asin sebagai ciri khasnya. Biasanya dimakan begitu saja, tapi ada juga yang menambahkan saus agar lebih nikmat. (Indoshotokan)

9 RESEP PANJANG UMUR ALA JEPANG

Selama 25 tahun terakhir wanita Jepang telah memegang rekor dunia memiliki harapan hidup terpanjang dengan rata-rata usia 86,4 tahun. Bukan hanya wanita, pria Jepang juga memiliki harapan hidup terpanjang di antara semua pria di 192 negara di dunia. Banyak penelitian mengungkap, perbedaan ini disebabkan pola makan yang sehat.

Dalam bukunya, seorang penulis Naomi Moriyama membuat buku berjudul ‘Japanese Women Don’t Get Old or Fat‘, Moriyama membawa pembaca ke dapur ibunya di Jepang dan mengungkapkan rahasia keluarganya untuk hidup panjang umur dan tetap sehat hingga masa tua. Ternyata rahasia awet muda masyarakat Jepang cukup sederhana, selain tetap aktif dan rajin berolahraga. Intip rahasianya seperti dikutip laman Diets In Review berikut ini.

Mengonsumsi makanan lengkap bervariasi

Bahan makanan di dapur masyarakat Jepang adalah berbagai makanan yang dimakan sederhana secara konsisten dan harian. Semua bahan makanan itu bukanlah bahan makanan mahal, namun mengandung tinggi nutrisi yang sangat dibutuhkan tubuh. Rata-rata masyarakat Jepang rajin mengonsumsi ikan, sayuran laut, sayur mayur,kedelai, beras, buah dan teh hijau.


Orang Jepang menikmati makanan rumahan yang dimasak sendiri setiap hari

Hidangan makanan tradisional Jepang biasanya terdiri dari ikan bakar, semangkuk nasi, sayuran yang direbus, sup miso, irisan buah untuk makanan penutup dan teh hijau. Orang Jepang merupakan pengonsumsi ikan tertinggi di dunia. Mereka mengonsumsi £ 150 ikan (68,04 kg) per tahun/ orang dibandingkan dengan rata-rata orang dunia hanya 35 kilogram per tahun. Seperti diketahui ikan mengandung dosis tinggi omega-3 asam lemak. Ini juga menjadi salah satu alasan mengapa mereka hidup lebih lama dan sehat. Tidak hanya Itu, fakta lain menyatakan, mereka juga rajin mengonsumsi brokoli dan sayuran lainnya. Mereka konsumsi 5 kali lebih banyak jumlah sayuran seperti brokoli, kubis, kale, kembang kol dan kubis Brussel, dibanding dengan orang Amerika.


Orang Jepang hanya memasak makanan yang segar

Penekanan cara memasak orang Jepang, hanya menggunakan bahan yang segar yang ada di musim itu. Menurut penulis Moriyama, “supermarket Jepang selalu mengutamakan kesegaran. Makanan tidak hanya diperhatikan tanggal kadaluarsanya saja, tapi wanita Jepang rata-rata juga selektif saat membeli ikan, daging, sayuran. Makanan yang disiapkan dihitung per setengah jam yang dikemas hari itu. ”


Orang Jepang makan dengan porsi kecil

Menurut Moriyama, dari masa kanak-kanak mereka diajarkan untuk makan perlahan-lahan dan belajar menikmati setiap gigitan. Dan makanan yang disajikan di atas piring hanya sepertiga ukuran peralatan makan Amerika. Moriyama mengatakan, ada tata cara dan dasar-dasar cara menyajikan hidangan makanan di Jepang. “Makanan harus segar, setiap item disajikan dalam satu piring, makanan harus dihias dan setiap item harus diatur untuk menampilkan keindahan,” katanya.


Teknik memasak di Jepang cukup ringan dan lembut

Sebagian besar pekerjaan dilakukan di atas kompor menggunakan variasi teknik seperti mengukus, memanggang di atas panci, menumis, digoreng, dan mendidihkan makanan secara cepat dalam wajan. Koki Jepang selalu menggunakan minyak khusus untuk jantung sehat dan kaldu rasa asli dari bahan alami.


Orang Jepang makan nasi bukan roti setiap makan

Ini merupakan perbedaan penting antaracara makan orang Timur dan Barat. Mereka yakin, konsumsi berlebih dari tepung terigu halus merupakan penyebab utama dari obesitas di Amerika saat ini. Jika Anda terbiasa makan roti setiap hari, coba ganti dengan ukuran porsi setengah cangkir beras merah atau gandum 1-2 kali per hari.


Di Jepang, sarapan adalah makan yang paling dianggap penting dan terbesar

Sarapan mereka terdiri dari berbagai makanan porsi kecil yang meliputi teh hijau, nasi kukus, sup miso dengan tahu dan daun bawang, lembaran kecil rumput laut nori, telur dadar atau telur ikan atau sepotong ikan.


Masyarakat Jepang hanya mengonsumsi sedikit Dessert manis

Di Jepang, makanan penutup dengan rasa manis hanya disajikan dalam porsi kecil, tidak seperti di Amerika. Namun, bukan berarti coklat, kue kering, kue-kue, es krim dan kue kacang merah tidak berharga. Sebaliknya, mereka sangat menghormati tubuh mereka, ini bisa menjadi cara melawan hawa nafsu. Mereka sadar akan merugi jika terlalu banyak mengonsumsi makanan manis berlebih.


Orang Jepang memiliki mind-set yang berbeda tentang makanan

Sementara orang Amerika prihatin dengan masalah diet dan berat badan, masyarakat Jepang justru dibangkitkan dan didorong untuk menikmati berbagai makanan yang lebih beragam tanpa masalah diet. Namun, saat ini masyarakat Jepang mulai berhati-hati, apalagi dengan diperkenalkannya gaya makan cepat ala barat, tingkat obesitas di kalangan anak muda Jepang mulai meningkat. (Sumber: Vivanews)

HEMAT TIDUR ALA JEPANG……JANGAN DITIRU!

Anda seorang pekerja keras? Atau saat ini sedang stress berat karena dikejar-kejar deadline pekerjaan kantor? Lelah melihat atasan cerewet yang hobinya memarahi Anda? Waktu istirahat yang sedikit tidak sebanding dengan jam kerja? Jika demikian, ada baiknya Anda membaca yang satu ini.

Semua orang pasti butuh tidur. Dengan tidur yang cukup dan berkualitas, tubuh dan pikiran akan siap dengan tantangan esok hari. Sebaliknya, kurang tidur mengakibatkan Anda lemas dan tidak bersemangat. Dalam jangka panjang, kualitas tidur yang buruk akan meningkatkan stress dan berujung pada resiko penyakit jantung, darah tinggi dan diabetes.

Jam tidur orang Indonesia sebenarnya termasuk cukup. Kurang dari 5% penduduk Indonesia yang tidurnya 9 jam sehari dan yang tidur 8 jam sehari jumlahnya dibawah 25%. Persentase terbesar penduduk Indonesia ternyata menggunakan waktunya untuk tidur 7 jam sehari. Artinya, orang Indonesia mestinya lebih produktif dalam bekerja. Namun melihat produktifitas negara kita yang rendah, waktu orang Indonesia sebenarnya lebih banyak digunakan untuk apa ya?

Untuk urusan kerja keras agaknya kita boleh mencontoh negara tetangga kita yaitu Jepang. Namun untuk urusan tidur, sepertinya kita benar-benar tidak bisa meniru negeri Sakura itu. Bayangkan, dalam sehari orang Jepang hanya menghabiskan waktunya 4 jam untuk tidur. Alasannya tentu saja karena mereka terbebani jam kerja yang sangat padat. Kebanyakan orang Jepang bahkan menganggap hidup hanya sekali, karena itu mereka tidak mau menghabiskan waktunya di tempat tidur.

Lalu apakah orang Jepang tidak punya waktu luang? Tentu saja ada. Dalam sehari, orang Jepang rata-rata mempunyai waktu luang sekitar 1-2 jam saja. Waktu yang singkat itu biasanya mereka gunakan untuk tidur, membaca koran atau mendengarkan radio. Hal inilah yang kemudian salah dipahami orang awam yang menganggap orang Jepang bekerja non stop alias 24 jam sehari. Yang benar adalah budaya Jepang telah berubah yaitu bekerja siang malam dan tidur hanya di waktu luang.

Jika sempat ke Jepang, cobalah naik kereta. Anda akan melihat penumpang didalamnya lebih banyak diam. Jika mereka mengobrol, itupun dengan suara yang pelan. Hebatnya, meski Jepang terbilang maju urusan teknologi, saat di kereta Anda tidak akan mendengar suara dering HP. Mengapa bisa begitu? Orang Jepang sadar bahwa jam kerja mereka sangat padat, karena itulah mereka sedapat mungkin tidur dimanapun jika sempat. Sementara penumpang yang tidak tidur berusaha lebih toleransi dengan tidak mengganggu penumpang lainnya yang tidur.

 
Baru-baru ini pemerintah Jepang menghimbau warganya agar tidur lebih cepat. Tindakan itu diambil ternyata bukan demi menurunkan tingkat stress dan bunuh diri yang tinggi. Menurut riset Kementerian Lingkungan Jepang, 20% energi perangkat listrik di Jepang dikonsumsi beberapa jam sebelum tidur. Dengan demikian memicu lonjakan emisi karbon yang berdampak pada pemanasan global. Karena itulah dengan tidur lebih awal, pemerintah Jepang berharap masalah lingkungan ini akan teratasi…Dasar orang Jepang….

Bagaimanapun bentuk budayanya, tidak dapat dibantah bahwa tidur sangat penting. Riset ilmu kesehatan menjelaskan setidaknya 6 jam sehari diperlukan manusia untuk tidur. Manusia bisa diibaratkan dengan mesin yang meskipun mampu bekerja 24 jam, tetap saja butuh istirahat yang cukup. (Indoshotokan)

DIET OKINAWA BIKIN BUGAR SAMPAI LANJUT USIA

Pola makan, gaya hidup, dan aktivitas memadai membuat di usia lanjut, manusia dapat menikmati hidup sehat, bebas dari rongrongan penyakit. Penduduk Okinawa, Jepang, mengalami hidup semacam itu berkat diet Okinawa. Pola makan yang menjadi tradisi pulau tersebut bisa kita coba dalam tahun yang baru ini.

Pengalaman berharga apa yang telah Anda peroleh pada tahun 2005? Apa pun pengalaman itu, pasti bermanfaat. Orang bijak selalu mengatakan, Pengalaman adalah guru yang terbaik.

Bila Anda merasa gagal untuk menerapkan pola makan yang baik pada tahun lalu, tidak ada salahnya mencoba lagi pada tahun 2006 ini. Anda tidak perlu kecewa berkepanjangan dan menyerah dengan keadaan.

Dengan niat kuat, apa pun bisa dikerjakan. Mulailah tahun baru ini dengan semangat baru untuk menerapkan pola makan baru yang lebih rasional. Tidak ada kata terlambat dalam hidup ini. Pepatah kuno mengatakan, Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Di awal tahun ini penulis mengajak pembaca untuk menerapkan pola makan yang baik, agar tubuh tetap sehat dan bugar hingga lanjut usia. Kesehatan adalah harta yang tak ternilai harganya, tetapi seringkali hal tersebut baru disadari manakala kita telah jatuh sakit.

Banyak program pola makan yang ditawarkan para ahli gizi untuk menuju hidup sehat. Salah satu pola diet yang ingin disampaikan pada kesempatan kali ini adalah pola makan seperti yang diterapkan penduduk lanjut usia di Okinawa, Jepang.

Okinawa yang terletak di Jepang bagian selatan, memiliki jumlah penduduk berusia lebih dari 100 tahun terbanyak di dunia. Selain usia harapan hidup (life expectancy), penduduk Okinawa juga memiliki usia harapan sehat (health expectancy) tertinggi di dunia.

Harapan berusia panjang seperti yang sering diucapkan pada peringatan hari ulang tahun seseorang. tidak akan berarti banyak jika di usia lanjut tidak disertai tingkat kesehatan yang optimal. Keadaan di Okinawa sangat berbeda.

Para lanjut usia di sana memiliki kondisi fisik yang masih sangat prima, sehingga bisa mengerjakan sesuatu secara mandiri. Mereka juga tampak lebih muda dari usia sesungguhnya, didukung oleh postur tubuh yang masih tegap, gagah, dan proporsional, serta kulit yang masih mulus dan kencang.


USIA HARAPAN HIDUP TERTINGGI

Mendengar kata lanjut usia, imajinasi kita akan terbawa ke seseorang yang tua renta, keriput, bongkok, berjalan tertatih-tatih, bahkan mungkin terbaring lemas di tempat tidur.

Anggapan bahwa orang lanjut usia selalu identik dengan tempat bersarangnya berbagai penyakit, harus segera dikikis habis.

Dengan pola makan yang baik, kondisi tubuh yang sehat akan sangat mudah dicapai, tanpa batasan usia. Penduduk Okinawa telah membuktikan hal tersebut.

Para lanjut usia di Okinawa sangat sedikit yang menderita penyakit kronis akibat usia tua, seperti penyakit kardiovaskular (jantung koroner dan stroke), kanker (payudara, kolon, prostat), serta kepikunan. Rahasianya terletak pada pola makan, gaya hidup, dan aktivitas fisik yang memadai.

Dari sekitar 1,27 juta jiwa penduduk Okinawa, 427 di antaranya berusia lebih dari 100 tahun. Jumlah tersebut mencapai empat kali lipat dibandingkan kondisi di negara-negara barat. Penderita penyakit jantung, kanker, dan stroke di Okinawa terendah di dunia, sedangkan usia menopause 10 tahun lebih lambat dari penduduk di negara-negara barat.

Data tahun 1996 menunjukkan bahwa penduduk Okinawa menempati peringkat pertama dalam hal tingginya usia harapan hidup (UHH) dan rendahnya angka kematian akibat penyakit degeneratif.

UHH rata-rata penduduk Okinawa 81,2 tahun, lebih tinggi dari UHH penduduk Jepang secara keseluruhan (79,9 tahun). Kematian penduduk (per 100.000 orang) akibat berbagai penyakit degeneratif juga paling rendah, yaitu 18 orang akibat penyakit jantung koroner, 97 akibat kanker, serta 35 akibat stroke.

Peringkat ke-3 dan 4 ditempati oleh penduduk Hong Kong dan Swedia, sedangkan peringkat ke-8 dan 10 ditempati oleh penduduk Italia dan Yunani. Penduduk Amerika Serikat yang memilih pola makan buruk akibat menjamurnya fast foods dan gaya hidup kurang gerak, menempati peringkat ke- 18. Dari data tersebut jelaslah bahwa betapa buruknya pola makan ala AS, sehingga tidak perlu kita contoh.

Kehadiran restoran fast foods di berbagai lokasi di Indonesia, mulai dari kota metropolitan Jakarta hingga ke daerah-daerah di pinggiran kota, perlu dicermati secara seksama. Menu fast food umumnya ditandai oleh tingginya kandungan lemak hewani, protein hewani, tepung terolah halus, gula, dan garam serta rendahnya vitamin, mineral, dan serat pangan.
Rahasianya pada Pola Makan

Rahasia kesehatan dan umur panjang penduduk Okinawa tradisional terletak pada pola makan dan gaya hidup sehari-hari. Dalam menu hariannya, mereka umumnya mengonsumsi kacang-kacangan, sayuran, buah-buahan, ikan laut, rumput laut, dan biji-bijian. Jenis kacang yang paling banyak dikonsumsi adalah kacang kedelai, baik dalam bentuk polong rebus (edamame) maupun dalam bentuk olahan, seperti miso, tahu, dan kembang tahu (yuba). Sup miso dengan campuran bayam dan nasi merupakan ciri khas menu sarapan penduduk Okinawa.

Berbeda dengan pola makan masyarakat Jepang modern di kota-kota besar, penduduk Okinawa tradisional sangat sedikit mengonsumsi alkohol, tetapi sebaliknya banyak minum air putih dan teh, khususnya teh hijau (ocha). Penduduk Okinawa terbiasa minum air putih minimal enam gelas sehari.

Konsumsi cairan yang cukup sangat penting untuk mendukung kelancaran metabolisme dan reaksi-reaksi kimia di dalam tubuh. Penelitian di Jepang menunjukkan bahwa penduduk di daerah produsen utama teh hjau, sangat sedikit sekali yang mengalami kematian akibat kanker. Prof. Itaro Oguni dari Universitas Shizuoka, Hamamatsu College, menganjurkan minum 10 cangkir teh setiap hari secara teratur untuk mencegah timbulnya kanker.

Khasiat teh ini erat kaitannya dengan senyawa katekin dan flavonol, yaitu suatu komponen aktif yang telah diyakini berperan penting dalam pencegahan kanker. Dari 10 gram bubuk teh hijau (setara dengan 10 cangkir teh), akan diperoleh sekitar 1 gram katekin.

Teh juga dikenal sebagai sumber fluorida yang sangat baik, yaitu mineral yang dapat menguatkan email gigi dan membantu mencegah kerusakan gigi. Hasil beberapa penelitian menyimpulkan bahwa katekin dari teh dapat menahan proses pembentukan plak gigi dan mencegah timbulnya pembengkakan gusi.

Teh hijau juga kaya kalsium dan fosfor (menguatkan tulang dan gigi), mangan (membantu metabolisme gula), dan kalium (membantu menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi).

Konsumsi minyak nabati dan lemak hewani sangat terbatas. Kontribusi lemak terhadap sumbangan energi tidak lebih dari 20 persen. Jenis asam lemak yang dominan dikonsumsi adalah asam lemak tidak jenuh tunggal, seperti yang terdapat pada minyak rape seed. Selain pada rape seed, asam lemak tersebut juga dapat diperoleh pada minyak canola dari biji-bijian lainnya. Hal tersebut membebaskan tubuh dari timbunan kolesterol dan trigliserida berlebih, penyebab timbulnya berbagai penyakit.


BERENDAM AIR PANAS

Konsumsi garam penduduk Okinawa sangat rendah, rata-rata hanya tiga sendok teh sehari. Hal tersebut tentu sangat bermanfaat untuk mencegah hipertensi, salah satu penyakit yang banyak diderita oleh para lanjut usia. Kita harus menumbuhkan kesadaran untuk selalu membaca informasi yang tercantum pada label setiap kali membeli makanan. Pilihlah yang mengandung kadar sodium (natrium) rendah. Penggunaan garam rendah atau tanpa garam pada proses masak memasak di rumah tangga, sangat perlu untuk dibudayakan.

Gaya hidup lain yang juga berkontribusi terhadap tingginya usia harapan hidup di Okinawa adalah banyak beraktivitas fisik (naik sepeda dan jalan kaki), rendahnya tingkat stres, serta baiknya hubungan sosial yang terjalin di masyarakat. Berbeda dengan kehidupan masyarakat Jepang di kota-kota besar yang sangat sibuk, individualistis, serta penuh ketegangan akibat tuntutan kerja yang menggunung, kehidupan masyarakat Okinawa tradisional sangatlah damai, tenteram, dan religius.

Kehidupan damai diperoleh dengan cara banyak berjalan-jalan ke luar rumah (piknik), bercengkerama dengan teman-teman sebaya sambil minum teh, mendengarkan musik dan berkaraoke, berendam dalam air panas (hot spring atau onsen), serta kegemaran membaca dan belajar hal-hal baru yang ringan dan menyenangkan. Semua kegiatan tersebut sangat mendukung pencapaian umur panjang dan kesehatan tubuh yang optimal.


PRINSIP UTAMA, 80 PERSEN KENYANG

Prinsip utama dalam pola makan Okinawa adalah Hara Hachi Bu, yaitu makan dan minum hingga 80 persen kenyang. Bila prinsip tersebut diterapkan, kita akan terhindar dari kegemukan atau obesitas akibat kelebihan makan. Prinsip itulah yang menyebabkan orang-orang Jepang umumnya memiliki tubuh langsing, sehat, bugar, dan awet muda.

Pola makan penduduk Okinawa umumnya bertumpu pada empat pilar utama, yaitu: (1) rendah lemak, (2) tinggi sayuran dan buah-buahan, (3) tinggi ikan laut, teh hijau, dan air minum, serta (4) sedapat mungkin tidak mengonsumsi makanan olahan yang dibuat dengan penambahan bahan-bahan kimia.

Rata-rata pola konsumsi pangan penduduk Okinawa sehari-hari terdiri dari 0-3 sajian pemanis; 0-3 sajian daging, unggas, dan telur 1-2 sendok makan minyak dan kondimen; 1-3 sajian ikan berlemak seperti sardin, makarel, dan salmon; 2-4 sajian buah-buahan, teh, kedelai, dan kacang-kacangan lainnya; 7-13 sajian nasi, mi, roti, biji-bijian utuh, dan sayuran.

Ditulis oleh Prof. DR. Made Astawan, Ahli Teknologi Pangan dan Gizi. Dikutip langsung dari situs Departemen Kesehatan di http://depkes.go.id. Artikel tidak mengalami editing apapun, foto ditambahkan oleh Indoshotokan.

RAHASIA SUKSES ORANG JEPANG (4)

Lebih baik ambil untung sedikit daripada kehilangan pelanggan selamanya. Agaknya pendapat itu benar-benar dipegang oleh orang-orang Jepang. Para pedagang di Jepang sangat terkenal karena keramahannya pada pembeli. Pedagang negeri sakura itu sangat menghormati konsumennya dan berusaha melayani sebaik-baiknya dengan kejujuran dan keramahan.

Omong kosong ? tidak juga. Seorang rekan saya yang hidup di Jepang karena harus kuliah disana pernah menceritakan pengalaman uniknya. Suatu ketika dia membeli buah dengan harga murah yang bisa ketahuan dari labelnya. Maklum, sudah bukan rahasia lagi kalau harga kebutuhan di Jepang memang kelewat mahal terutama untuk kantong mahasiswa pendatang. Sehingga hidup ekstra hemat harus menjadi prioritas.

Ketika si pedagang tahu teman saya akan membeli buah berharga murah itu dia dengan sigap menerangkan kondisi buah yang dibelinya itu. Dia mengingatkan teman saya itu dengan bahasa yang sangat sopan kalau buah yang dibelinya itu sudah cacat dan ada goresan dibeberapa permukaannya. Dan diapun kembali mengingatkan teman saya apakah tetap membeli buah itu. Dengan kagum bercampur heran teman saya tetap mengiyakan untuk membeli buah itu dan diberitahunya si pedagang kalau dirinya tidak keberatan.

Yang lebih mengejutkan ternyata sikap demikian dimiliki oleh seluruh pedagang di Jepang. Mereka menempatkan dirinya sebagai konsumen dan bukan sebagai pedagang. Kenyataan ini sangat berbeda dengan kebanyakan pedagang baik di Eropa dan (tentu saja) Indonesia yang menempatkan dirinya sebagai penjual. Kalau penjual sudah jelas mereka pasti akan cari untung. Dengan memposisikan sebagai konsumen dan bukan penjual mereka akan berusaha memahami apa yang sebenarnya diinginkan oleh konsumen. Kalau Anda seorang konsumen tentu ingin barang yang murah, kualitas yang bagus plus pelayanan yang menyenangkan dari si empunya toko khan ? nah seperti itulah kira-kira.

Anda pernah menerima kembalian berupa permen ? Jangan khawatir karena bukan Anda saja yang mengalaminya. Sering saya mengalami ketika harus membayar dan kurang sekian ratus perak si kasir akan menggantinya dengan permen. Sepertinya ini sudah jadi “tradisi” di tanah air. Mungkin bagi beberapa orang ini hanya masalah kecil, namun sebenarnya harus diakui ini bukanlah perilaku yang terpuji karena kurang jujur dan ujung-ujungnya ada rasa tidak ikhas dari pembeli (maaf ya para pedagang).

Di Jepang Anda tidak perlu khawatir akan menerima uang kembalian yang kurang. Disana ada mesin penjual otomatis (vending machine) yang sanggup menyediakan uang recehan untuk para pedagang. Masih belum cukup sampai disitu, sistem perbankan di negeri itu juga mendukung untuk masalah uang receh ini. Sehingga Anda tidak perlu khawatir akan kurang menerima uang kembalian meski hanya satu yen pun. Yang lebih menggembirakan Anda tidak perlu “dipaksa” menerima permen pengganti kembalian.


Sebuah sudut pasar tradisional Jepang di Omicho Prefektur Kanazawa. Pasar yang terdiri dari banyak stan dan toko ini sangat tua dan telah ada sejak masa Edo. Sangat layak dikunjungi.

Kalau suatu saat Anda pergi ke Jepang coba sempatkan mampir ke supermarketnya. Disana akan Anda temukan pelayanan yang luar biasa dari pelayan tokonya. Ketika masuk supermarket Anda akan disambut ucapan selamat datang ditambah dengan senyuman ramah. Mereka dengan sigap mengantarkan pada apa yang Anda cari. Tidak cukup sampai disitu, si pelayan toko akan terus mengikuti sampai Anda sudah menemukan apa yang sedang Anda cari. Pendeknya semua demi kepuasan konsumen.

Yang mengejutkan, ternyata si penjaga toko juga merangkap sebagai kasir sekaligus petugas yang membungkus barang yang akan dibeli. Sehingga penjaga toko disana dituntut mengetahui benar-benar barang dagangannya. Pemandangan penjaga toko yang menerangkan panjang lebar pada calon pembeli tentang produk yang dijualnya telah menjadi hal lumrah, bahkan sepertinya sudah menjadi standar pelayanan.

Kalau di Indonesia Anda tidak sengaja merusakkan barang di toko tentu Anda sudah wajib mengganti. Istilahnya memecahkan berarti membeli begitulah kira-kira. Namun jangan harap yang beginian akan terjadi di Jepang. Paling tidak rekan saya pernah mengalaminya. Suatu hari ketika sedang berbelanja rekan saya membawa serta anak-anaknya. Karena terlalu gembira, anak-anak mereka menyenggol beberapa barang di etalase. Akibatnya, beberapa kotak telurpun meluncur dan pecah dilantai. Saat berniat akan mengganti telur yang pecah itu sambil menjelaskan duduk permasalahannya, rekan saya ini begitu terkejut ketika penjaga toko menolaknya dan hanya berkata “daijobu yo” (tidak apa-apa).

Tidak perlu untung besar kalo toh harus kehilangan pelanggan selamanya. Keramahan dan kejujuran menjadi hal wajib jika ingin sukses berdagang. Prinsip mereka yang sangat mengesankan ini tampaknya perlu dicontoh oleh para pedagang di tanah air. Betul khan ? (Indoshotokan)

JELAJAH KYOTO: MENIKMATI FESTIVAL JION

Jepang adalah negara yang moderen dengan banyak budaya tradisional. Meski dalam ilmu dan teknologi mereka terdepan diantara negara lain, namun budaya warisan nenek moyang tidak mereka tinggalkan. Karena itu jangan heran jika ditengah padat dan majunya kota Tokyo yang disebut salah satu kota tersibuk di dunia, masih ada ruang untuk kuil yang berusia ratusan tahun. Bangunan tradisional itu seakan tidak tergerus oleh arus modernisasi. Inilah salah satu poin lebih dari bangsa Jepang.

Salah satu kekayaan bangsa Jepang adalah beragam festival (matsuri) yang umumnya digelar setiap tahun. Perayaan itu umumnya digelar untuk memperingati momen khusus seperti musim panas, musim panen, ritual keagamaan, dan masih banyak lagi. Salah satu festival terbesar yang rutin digelar tiap tahun adalah festival Jion (ada yang menyebut Gion). Jadi ingat dengan salah satu kata Shotokan ? Anda tidak perlu heran karena masih ada hubungan dengan kata wajib Shotokan itu, meski hubungannya hanya sekedar persamaan nama. Sebenarnya ada pula biksu Budha bernama Jion, namun sangat sulit melacak kebenarannya.

Arti Jion dalam kata Shotokan sendiri bermacam-macam. Ada yang mengartikannya dengan pengampunan – lihat pada gerakan awalnya – namun ada juga yang menganggap nama kata ini berasal dari nama biksu Budha yang datang ke Okinawa. Kemudian biksu tadi mengajarkan ilmu bela dirinya pada orang-orang Okinawa, selanjutnya nama biksu tadi dijadikan sebagai nama kata. Ada juga yang menyatakan nama Jion diambil berasal dari nama kuil Budha. Dan memang, Jion adalah kata yang sarat dengan nuansa Budhisme. Bahkan dari salah satu sumber ada yang menyatakan kalau dilihat dari atas embusen (arah gerakan) kata Jion ini membentuk huruf Budha. Serba misterius memang.

Festival Jion pertama kali terjadi tahun 869 Masehi ketika bencana dan wabah penyakit melanda Kyoto. Masyarakat saat itu percaya musibah terjadi karena kemarahan dewa. Karena itu kepala pendeta Kuil Yasaka memerintahkan masyarakat untuk membuat semacam rakit kayu. Tidak sekedar membuat dan mengusung rakit kayu, masyarakat saat itu juga berdoa agar kemarahan dewa-dewa Shinto mereda. Setelah bencana berakhir, ritual itu tetap dipertahankan hingga sekarang.

 Kuil Yasaka di Kyoto

Kuil Yasaka yang sebelumnya bernama Jion san (atau kuil Jion) menjadi pusat festival tahunan ini. Kuil Yasaka terletak di Kyoto yang terkenal dangan banyaknya kuil tradisional. Tidak kurang dari 1800 kuil kuno tersebar di kota kecil ini. Jika di Indonesia Kyoto kurang lebih sama seperti Jogja. Jika tertarik sejarah Jepang dan ingin melihat Jepang di masa lalu, lebih baik mengunjungi Kyoto. Kota ini terletak sekitar 200 mil arah barat dari Tokyo. Butuh waktu sekitar tiga jam perjalanan menggunakan Tokaido Shinkansen (kereta super cepat Jepang). Momen yang sangat tepat adalah saat festival Jion yang diadakan setiap bulan Juli dari tanggal 1 sampai tanggal 31.

Saat festival Jion masyarakat akan mengenakan yukata dan geta (pakaian tradisional Jepang yang umumnya dipakai saat festival). Mereka memadati jalanan kota Kyoto menyaksikan yama dan hoko yang diarak keliling kota. Yama adalah rakit kayu yang beratnya sekitar 1.200 s/d 1.600 kg (cukup berat!) dan didorong sekitar 12 s/d 14 orang. Sedang hoko adalah rakit kayu yang beratnya sekitar 12.000 kg (sangat berat!) setinggi kira-kira 6 meter dan diusung oleh sekitar 30 s/d 40 orang.

Festival ini mencapai puncaknya pada tanggal 17 yang disebut dengan Yamahoko Junko. Saat itu tidak kurang dari 25 yama dan 7 hoko dengan berbagai hiasan dan ornamen tradisional nan eksotik ditampilkan. Konon hiasan berwarna-warni itu diperoleh di abad ke 15 tidak hanya dari Jepang namun juga negara lain yaitu Turki, India, Belgia dan Persia. Masing-masing rakit didorong oleh pemuda Jepang yang mengenakan pakaian tradional. Mereka mendorong rakit dengan meneriakkan yel-yel yang khas. Diatas yama dan hoko ada sekelompok orang yang memainkan musik tradisional Jepang.

Apa yang paling menarik dari festival Jion ? Tentu saja Yama dan hoko super berat yang diarak keliling Kyoto. Momen yang sangat sayang untuk dilewatkan hingga masyarakat dan turis akan berdesakan di tepi jalan menyaksikannya. Walaupun sudah membayar tiket yang lumayan mahal (tidak kurang dari 3.000 yen), Anda tetap harus berangkat pagi-pagi agar mendapat tempat. Setelah Yamahoko Junko selesai kota Kyoto tidak akan sepi begitu saja. Masih banyak hal-hal unik lainnya seperti pasar tradional di Takashimaya dan Nishiki-Koji. Tempat-tempat ini menjual berbagai barang dan jajanan khas festival yang layak dibeli.

Yah, Kyoto benar-benar kota yang menarik. Dibanding Tokyo dan Osaka yang penduduknya super sibuk dan berjalan cepat karena dikejar waktu, Kyoto justru sebaliknya. Anda akan sering melihat penduduk setempat yang berjalan santai, padahal soal sibuk dengan Tokyo tidaklah berbeda. Disamping itu ada banyak kuil yang layak dikunjungi. Anda tidak perlu khawatir karena jarak tiap kuil umumnya tidak begitu jauh dan cukup ditempuh dengan berjalan kaki. Jika Anda lelah, tenaga dapat dipulihkan dengan mampir ke tachigui (warung tradisional ala Kyoto) yang menawarkan semangkuk soba atau udon (semacam mie) dengan cita rasa yang yang menggoda plus harga yang tidak mahal. Benar-benar pengalaman yang sangat sayang dilewatkan. (Indoshotokan)

RAHASIA SUKSES ORANG JEPANG (3)

Ketika pertama kali mengurus Kartu Tanda Penduduk, saya ingat betapa capeknya karena harus mengurus dari RT dulu, lalu ke RW terus lanjut ke kelurahan. Di kelurahan saya diberikan opsi mau minta yang cepat atau yang biasa. Berhubung saya belum tahu – maklum sebelumnya waktu buat KTP dibantu orang rumah - “Kalau yang biasa berapa hari, Pak ?”. Petugas kelurahan menjawab, “Paling tujuh sampai sepuluh hari Mas, soalnya kan nunggu proses di kecamatan.”. Langsung terbayang dipikiran saya, busyet lama amat !

Berhubung waktu itu KTP saya hampir habis masa berlakunya dan lagi saya perlu untuk melamar kerja ke instansi pemerintah, langsung saja saya tanya, “Kalau yang cepat berapa hari, Pak ?”.”Kalau yang cepat paling hari ini Mas, nanti siang sudah jadi. Nanti langsung saya ambilkan dari Kecamatan, Mas. Cuman ya ada biaya tambahannya.”

Tanpa pikir panjang (karena memang lagi butuh juga), langsung saja saya memilih pilihan kedua, cara yang cepat. Sambil merogoh selembar uang puluhan ribu dari saku yang langsung saya sodorkan ke petugas kelurahan. “ Wah, apa nggak kurang Mas ?” tanyanya. Kontan saya – sambil setengah menggerutu dalam hati - menambahkan selembar uang bernilai beberapa puluh ribu rupiah.


“Nanti siang bisa diambil disini Mas.” kata si petugas.

Seorang teman yang mendengar cerita itu hanya tertawa saja mendengarnya. “ Ah, kamu kaya baru pindah ke Indonesia saja.”

Yah itulah cerita beberapa tahun silam. Bukan bermaksud menjelek-jelekkan, saya hanya berpikir betapa ruwetnya birokrasi negara kita. Itu baru salah satu saya dipusingkan berurusan dengan birokrasi. Saya yakin (jika dipolling) mayoritas penduduk negara ini juga berpendapat demikian.

Mari kita lihat (lagi-lagi) Jepang yang penduduknya workaholic itu. Disana suasana kantor pelayanan publik dan pemerintah terlihat begitu serius. Mereka terlihat sibuk berseliweran kesana kemari sejak bel jam kerja dimulai sampai jam tutup kantor. Di Jepang umumnya jam kerja dimulai jam 09.00 dan berakhir jam 17.00. Kalau ada karyawan yang masuk tepat jam segitu kontan kepala kantor dan teman kerja pasti akan mengatakan si karyawan tadi tidak ada niat kerja. Umumnya mereka datang jauh sebelum jam kantor dan pulang satu atau dua jam setelah jam kantor. Dan memang jam penuhnya kereta bawah tanah akan padat sekitar pukul 20.00. menunjukkan jam segitu mereka baru pulang kantor.


Tidak ada yang berdiam diri saat jam kerja. Mereka sibuk berlari (yang ini benar-benar lari dalam arti sesungguhnya) melayani masyarakat. Pemandangan petugas yang membungkuk dalam-dalam berkali-kali sambil mengucapkan “gomennasai” (maafkan kami) diiringi dengan senyuman adalah hal lumrah di Jepang, sekalipun jelas kesalahan belum tentu di pihak mereka. 

Bagi mereka kepuasan melayani masyarakat adalah nomor satu. Itu bagi mereka yang terlibat langsung dengan masyarakat. Bagaimana dengan mereka yang tidak bertemu langsung dengan masyarakat ? Setali tiga uang, alias sama saja saja seriusnya. Bukan bermain internet atau game seperti disini, mereka begitu perhatian memandang monitor kotak yang bentuknya tidak berubah itu.

Bagaimana dengan gajinya ? ternyata tidak berlebihan. Gaji mereka sebagai aparat pemerintah sesuai dengan standar upah di Jepang. Namun mereka tetap memiliki kebanggaan sebagai aparat pemerintah, sebagai abdi negara yang melayani masyarakat.

Saya begitu terkejut – juga setelah menyaksikan dari J- Dorama - ternyata di Jepang ruang kerja antara bawahan dan atasan tidak dibuat bersekat seperti disini. Disana seluruh staf satu bagian akan duduk di satu meja melingkar yang umumnya bisa dibongkar pasang agar praktis. Sepertinya ada suatu kesan tidak tertulis yang menyatakan “kita adalah sama”. 

Lalu apakah mereka bisa bersikap tidak sopan pada atasan ? Tidak juga, toh bawahan sudah tahu itu adalah atasannya dan bagaimana mereka harus bersikap pada atasannya. Mereka sudah bersikap saling menghargai tanpa ada aturan tertulis, dan sikap “saya kan bosmu” tidak berlaku disana. Inilah budaya saling menghargai di Jepang. Otomatis mereka yang main game atau baca Koran pasti ketahuan. Sepertinya ini suatu sistem kontrol yang praktis dan benar-benar efisien.

Bagaimana dengan mengurus Kartu Tanda Penduduk dan berbagai dokumen disana ? Ternyata sangat simpel dan memuaskan. Tidak butuh pengantar dari RT, RW, Kelurahan dan tetek bengeknya seperti disini. Disana kita cukup mengisi dokumen tertentu yang dilakukan dengan lisan dan bukan ditulis seperti disini dan pakai distempel segala. Pertanyaannya cukup standar, seperti : Apakah sudah menikah, berapa jumlah keluarga, pekerjaan tetap atau sambilan. Mereka percaya suatu sistem yang baik dan dibangun berlandaskan atas kejujuran akan maju dan lebih efisien.

Kalau anda orang asing yang tidak fasih berbahasa Jepang tidak perlu kuatir karena akan dibantu dengan penerjemah, dan bila terpaksa harus mondar-mandir kesana kemari akan diantar oleh staf mereka tanpa dipungut biaya apapun. Anda bisa datang ke kantor Kecamatan (kuyakusho) atau Kantor Walikota (shiyakusho) setempat untuk urusan ini. Bagi mereka begitu Anda masuk mengurus suatu dokumen atau apapun yang berhubungan dengan birokrasi akan ada (dan harus) ada solusinya.

Pepatah “semua bisa diatur” nya orang Indonesia agaknya tidak berlaku di Jepang. Apalagi “yang mudah dipersulit” dianggap sebagai hal yang tidak pantas. Di sana berlaku “biggest for the small” – terbesar untuk yang kecil – yang maknanya pelayanan terbaik untuk semua warga sekalipun dia tidak mampu.

Saya sering membayangkan jika suatu saat negara kita akan seperti ini. Butuh keberanian memang untuk mencapai suatu modernisasi. Anda ingat keberanian bangsa Jepang melakukan modernisasi dari budaya samurai menuju budaya iptek ? Begitu banyak pemberontakan terjadi dimana-mana (dari golongan samurai), karena terjadi kegoncangan di masyarakat pasti akan terjadi.
Apakah bangsa kita seberani itu ? Ah, seandainya saja. (Indoshotokan)