KONTEN DILINDUNGI HAK CIPTA. DILARANG KERAS MENJIPLAK, MENGEDIT DAN MEMPERBANYAK SEBAGIAN ATAU SELURUH HALAMAN SITUS INI TANPA IJIN.

Cari Artikel

Showing posts with label POJOK KARATE. Show all posts
Showing posts with label POJOK KARATE. Show all posts

MENANG DENGAN MENGALAH (3)

“Baiklah,” salah satu dari mereka berbicara dengan nada yang sangat tidak sopan, “Jangan cuma berdiri disana saja seolah kau bisu dan tuli. Kau tahu apa yang kami inginkan. Katakanlah sesuatu! Misalnya, ‘Selamat malam, tuan’ dan beritahu kami betapa indahnya hari ini. Jangan buang waktu kami anak kecil, atau kau akan menyesal. Aku bersungguh-sungguh dengan hal itu.”

Semakin mereka marah, aku justru semakin merasa tenang. Melihat cara orang yang berbicara padaku mengepalkan tangannya, aku tahu dia bukanlah orang karate. Sedangkan orang satunya yang memegang tongkat pemukul jelas-jelas seorang amatir.
Aku menjawab pelan, “Apa kalian tidak salah orang. Mengira aku sebagai orang lain? Pasti ada salah paham. Kurasa jika kita membicarakannya...”

“Ah, diam kau, dasar udang kecil! Orang yang membawa pentungan itu geram, “Kau pikir sedang apa kita disini? Melawan dua orang seperti ini, tapi nasihatku untukmu sudah jelas. Tidak usah melawan. Kurasa itu tidak akan bagus untukmu, karena.....”

Orang kedua sekarang mengangkat pentungan berat yang dibawanya dari tadi.

Aku menjawab dengan cepat, “Karena jika aku belum tentu menang, aku tidak akan berkelahi. Aku tahu pasti kalah. Jadi untuk apa aku melawan. Bukankah itu masuk akal?

Setelah mendengar ucapanku itu, keduanya terlihat sedikit tenang. “Baiklah”, kata salah satu dari mereka, “Kelihatannya kau tidak ingin berkelahi. Kalau begitu berikan uangmu.”

“Aku tidak punya uang” Aku menjawab sambil menunjukkan pada mereka kantongku yang kosong.

“Kalau begitu berikan rokok saja!”

“Aku tidak merokok. Yang aku punya sekarang cuma beberapa manju. Kue ini kubawa untuk persembahan di altar rumah orang tua istriku.”
“Ini. Terimalah ini saja.” Aku berkata pada mereka.

“Hanya manju!” Nada suara mereka terdengar meremehkan. “Yah, lebih baik daripada tidak ada sama sekali.”

Seraya mengambil kue itu salah satu dari mereka berkata, “Pergilah segera, udang. Dan hati-hatilah karena jalanan ini berbahaya.” Setelah itu merekapun menghilang di balik pepohonan.

Beberapa hari kemudian aku bertemu dengan Azato dan Itosu, dan ditengah obrolan kuceritakan pada mereka kejadian tempo hari. Yang pertama memujiku adalah Master Itosu yang mengatakan bahwa aku telah bertindak dengan sangat pantas. Dia juga berkata jika waktu yang telah dihabiskannya untuk mengajariku karate tidaklah sia-sia.

Azato tersenyum sambil bertanya padaku, “Tapi, karena kau sudah tidak punya lagi kue manju, apa yang kau persembahkan di altar ayah mertuamu?”

Aku menjawab, “Karena sudah tidak punya apa-apa lagi, aku mempersembahkan sebuah doa yang tulus.”

“Ah, bagus, bagus!” begitu ucapnya. “Benar, selamat! Itulah semangat sejati dari karate. Sekarang kau mulai paham apa artinya.”

Kucoba menahan rasa banggaku. Walaupun kedua master ini tidak pernah memuji setiap kata yang aku kerjakan saat latihan, mereka memujiku sekarang. Dan bercampur dengan rasa bangga menjadi sebuah kegembiraan. (Tamat - Indoshotokan)

Artikel ini dikutip dan diterjemahkan dari buku “Karate-Do: My Way of Life” yang ditulis oleh Gichin Funakoshi dengan judul aslinya “Win by Losing”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

MENANG DENGAN MENGALAH (2)

Belum sempat seorangpun menjawab, kami berpapasan dengan sekelompok orang yang kelihatannya sedikit mabuk. Mereka menyanyi dengan gaduhnya ketika melalui tempat itu. Saat cukup dekat dan tahu sedang ada keributan, mereka mulai berteriak gembira karena mungkin bisa menonton perkelahian yang seru. Tapi salah satu dari mereka kemudian mengenali pemimpin kami.

“Anda Master Itosu, bukan? Dia berteriak. “Ini benar Anda, bukan? Tentu saja! Sedang ada masalah apa?” Dia lantas memutar tubuhnya menghadap ke kelompok yang akan menyerang kami.
“Apa kalian sudah gila?” dia berkata.
“Apa kalian tidak tahu siapa orang-orang ini? Itu adalah Itosu, sang master karate bersama murid-muridnya. Bahkan sepuluh atau dua puluh orang dari kalian belum tentu sanggup mengalahkan mereka semua. Sebaiknya kalian minta maaf dan lebih baik lakukanlah sekarang!”

Kenyataannya, tidak ada yang meminta maaf. Tapi untuk sesaat kelompok itu saling bergumam dengan temannya sebelum akhirnya menyingkir dengan tenang di kegelapan malam. Kemudian Itosu memberi perintah lain yang menurut kami agak aneh. Bukannya meneruskan lewat jalan yang seharusnya, dia memerintahkan kami untuk mengulangi perjalanan kembali ke Shuri melewati jalan yang lebih jauh. Sampai kami tiba di rumahnya, dia tidak berkata apapun tentang kejadian yang barusan kami alami. Dia lantas menyuruh kami berjanji untuk membicarakannya.

“Kalian sudah melakukan pekerjaan yang bagus malam ini, anak-anak.” Dia berkata. “Aku tidak ragu lagi kalian sudah menjadi karateka yang hebat. Tapi jangan menceritakan kejadian malam ini pada siapapun! Tidak seorangpun, kalian paham?”

Belakangan aku melihat anggota dari kelompok itu dengan wajah sedikit malu datang ke rumah Itosu untuk meminta maaf. Ternyata orang-orang yang tempo hari kami kira preman dan pencuri itu adalah Sanka – orang yang bekerja menyuling minuman keras Okinawa bernama Awamori. Mereka memang agak ribut, orang-orangnya keras dan kasar, bangga dengan kekuatan fisiknya. Mereka malam itu telah memilih kami sebagai sasaran untuk menguji kehebatan mereka.

Saat itu aku baru tahu betapa pandainya Master Itosu dengan menyuruh kami pulang ke Shuri melewati jalan berbeda demi menghindari pertikaian yang lebih banyak. Aku berpikir tentang arti dari karate. Aku merasa malu saat menyadari tempo hari akan menggunakan kemampuan dan kekuatanku melawan orang-orang yang tidak terlatih.

Kejadian kedua, yang sedikit mirip dengan yang pertama, berakhir dengan lebih memuaskan. Namun begitu, pertama-tama aku ingin menceritakan tentang keluarga istriku. Selama bertahun-tahun mereka telah bereksperimen dengan tanaman kentang manis, mencoba untuk mengubahnya menjadi makanan yang lebih baik. Mereka sebelumnya cukup makmur, tapi datangnya Restorasi Meiji telah membuat masa-masa menjadi sulit. Mereka lalu pindah ke sebuah desa pertanian kecil bernama Mawashi yang jauhnya dua setengah mil dari Naha.

Ayah dari istriku adalah pengikut partai garis keras dan itu membuat tingkah lakunya aneh. Ketika cuaca sedang cerah dia berada di ladang; dan ketika hujan dia berada di rumah sambil membaca; dan hanya itulah yang dikerjakannya.

Istriku sangat sayang pada ayahnya. Pada suatu festival dia pergi lebih awal dengan anak-anak demi mengunjunginya. Sore itu aku pergi meninggalkan desa, karena aku tidak ingin anak dan istriku berjalan sendirian didalam gelap.

Jalanan yang sepi menuju Mawashi harus dilalui menembus hutan cemara yang tebal. Dalam cahaya senja yang sudah memudar, aku dibuat cukup kaget ketika dua laki-laki tiba-tiba melompat dari rerimbunan pohon dan menghalangi jalanku. Seperti penjahat pada umumnya, mereka menutupi wajah dengan handuk. Itu sekaligus sudah menunjukkan bahwa mereka sengaja ingin membuat takut orang lain yang melintas. (Bersambung – Indoshotokan)

Artikel ini dikutip dan diterjemahkan dari buku “Karate-Do: My Way of Life” yang ditulis oleh Gichin Funakoshi dengan judul aslinya “Win by Losing”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

MENANG DENGAN MENGALAH (1)

Aku ingin mengingat kembali dua kejadian yang mungkin, bisa membantu para pembaca sekalian untuk memahami inti dari karate-do. Kedua peristiwa itu terjadi bertahun-tahun yang lalu di pedesaan Okinawa. Dan keduanya menunjukkan bagaimana seseorang bisa menang dengan cara mengalah.

Kejadian pertama terjadi di jalan sebelah barat daya Istana Shuri yang arahnya ke bekas vila gubernur yang diujungnya berdiri rumah untuk minum teh bergaya Nara kuno. Dengan pemandangan mengarah ke Samudera Pasifik, setelah seharian bekerja gubernur biasanya akan datang kemari untuk bersantai bersama anak dan istrinya.

Jarak dari Shuri satu mil lebih sedikit, dan jalannya dilapisi batu dengan pohon-pohon cemara yang tinggi megah berbaris di sepanjang sisinya. Di luar vila itu sudah terbuka untuk umum dan bukan lagi bagian dari rumah pribadi sang gubernur. Pernah suatu malam aku bersama Master Itosu dan setengah lusin karateka pergi kesana untuk pesta melihat bulan. Kelompok kami berkumpul menjadi satu. Kami sampai lupa waktu dan hingga larut malam bicara tentang karate sambil membaca syair.

Akhirnya kami memutuskan sudah benar-benar waktunya untuk pulang dan bersama-sama menuju ke Shuri melalui jalanan yang ditumbuhi pepohonan cemara itu. Bulan sekarang sudah tertutup kabut tebal dan anak-anak yang lebih muda membawa lentera untuk menerangi jalan bagi para guru. Tiba-tiba pemimpin kelompok kami berteriak bahwa kami semua harus memadamkan lentera. Kami melakukannya karena tahu akan diserang. Jumlah penyerang kelihatannya sama dengan jumlah kelompok kami. Sehingga jika dilihat dari sudut pandang itu kami sebenarnya seimbang. Kecuali jika mereka juga pandai karate, maka mereka ditakdirkan untuk kalah memalukan. Malam itu sangat gelap hingga kami sulit melihat wajah siapapun.

Aku menunggu perintah Itosu, tapi dia hanya berkata, “berdirilah dengan punggung kalian menghadap ke bulan! Punggung kalian menghadap ke bulan!” Aku cukup terkejut karena sebelumnya aku yakin guru kami akan memberi kesempatan untuk menunjukkan karate kami. Dan tentu saja kami semua lebih dari sekedar siap mengatasi gerombolan penjahat ini. Tapi Itosu hanya menyuruh kami menghadapkan punggung ke arah bulan! Benar-benar tidak masuk akal.

Setelah beberapa saat, dia berbisik ke telingaku, “Funakoshi, kenapa tidak kau coba pergi kesana dan bicara dengan mereka? Mereka mungkin saja bukan orang-orang jahat. Dan jika kau katakan aku ada dalam kelompok ini, mungkin mereka akan berubah pikiran.”

Aku menerima perintah itu dan mulai berjalan mendekati gerombolan yang sedang menunggu itu. “Salah satu dari mereka datang!” Kudengar seseorang berteriak. “Satu dari mereka datang! Bersiap!” Atmosfernya kian terasa dan itu adalah awal dari mulainya sebuah pertarungan besar-besaran.

Ketika mendekat aku bisa melihat calon penyerang kami menutupi semua wajahnya dengan handuk. Sehingga mustahil untuk mengenali mereka. Seperti yang diperintahkan, aku berkata pada mereka dengan sopan jika Master Itosu ada dalam rombongan dan kami semua adalah muridnya. Aku menambahkan dengan berkata pelan pada mereka, “Mungkin kalian salah orang.”

“Itosu? Siapa dia? Salah satu dari mereka menggerutu. Aku tidak tahu siapa dia!”
Sementara yang lain begitu melihat tubuhku yang pendek lantas berteriak, “Hei, kau cuma anak-anak! Apa yang kau lakukan dengan ikut campur urusan orang dewasa! Cepat minggir sana!”
Dan bersamaan dengan itu dia menarik bajuku.

Aku menurunkan pinggulku ke kuda-kuda karate. Tapi bersamaan dengan itu kudengar suara Itosu: “Jangan bertarung, Funakoshi! Dengarkan apa yang mereka katakan. Bicaralah pada mereka.”
“Baiklah,” Aku berkata pada laki-laki di depanku, “Katakanlah, kenapa kau ingin melawan kami?” (Bersambung – Indoshotokan)

Artikel ini dikutip dan diterjemahkan dari buku “Karate-Do: My Way of Life” yang ditulis oleh Gichin Funakoshi dengan judul aslinya “Win by Losing”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

THE BULL FIGHTER: KISAH MASUTATSU OYAMA (3)

Bukan cuma belajar karate Shotokan dan mekanik pesawat terbang, Choi Young Eui juga mengambil nama Jepang untuk dirinya yaitu Masutatsu Oyama. Nama ini adalah alih bahasa Korea untuk “Baedal”, sebuah istana kuno di Korea. Nama Masutatsu Oyama sendiri berarti Gunung yang Besar. Tapi teman-temannya sering menyebutnya dengan Mas Oyama. Bukan tanpa alasan Choi Young Eui mengganti namanya. Bagi orang Jepang yang saat itu sedang ultra-nasionalis, mengetahui ada orang asing di wilayahnya adalah hal yang tidak nyaman.

Saat itu adalah sekitar tahun 1937 dan Jepang sedang berperang sengit melawan Tiongkok. Kebanyakan dojo karate milik Funakoshi tak ubahnya seperti kamp perang. Sebelumnya ada tiga dojo bela diri yang dilirik pemerintah; Goju-ryu, Shotokan dan Aikido. Pemerintah Jepang tertarik merekrut murid dari dojo milik Funakoshi karena dipandang lebih efektif di medan perang. Akibatnya latihan di dojo menjadi lebih keras dan melelahkan dari biasanya. Kumite dojo lebih condong ke bela diri yang kasar dan berdarah. Murid yang terpilih akan diberangkatkan sebagai prajurit. Oyama sebetulnya juga akan dikirim perang, tapi ternyata perang sudah lebih dulu berakhir tahun 1945.


MASA SULIT PASCA PERANG DUNIA II

Di masa-masa itulah Oyama bertemu dengan So Nei Chu, orang Korea lainnya yang juga tengah berada di Jepang. So Nei Chu adalah murid senior dari Chojun Miyagi, pendiri karate Goju-ryu. Lewat So Nei Chu, Oyama berkenalan dengan gaya Goju dan berlatih bersamanya beberapa tahun kemudian. Karena berasal dari propinsi yang sama, Oyama dan So Nei Chu berteman baik. Korea telah dikuasai oleh Jepang tahun 1910, dan pasca perang tahun 1945 kubu Korea Selatan dan Utara terlibat konflik ideologi. Oyama lalu bergabung dengan organisasi penyatuan Korea di Jepang. Tapi karena perbuatannya itu Oyama justru dihina dan menjadi target dari polisi Jepang karena dianggap mengikuti gerakan separatis.

Jepang yang kalah perang membuat wilayahnya dimasuki pasukan sekutu. Di Tokyo saat itu banyak polisi militer Amerika yang berseliweran disana-sini mencari wanita. Ada memang wanita yang sengaja menyerahkan dirinya pada pasukan penakluk itu. Tetapi sebagian besar sudah pasti menolak. Tidak jarang para pasukan sekutu itu menggoda dan mengganggu wanita. Jika Oyama kebetulan ada di tempat itu dia langsung menghajar mereka. Kemarahan Oyama juga dipicu kematian teman-temannya akibat perang. Bila dia sudah terjun dalam perkelahian, maka hanya polisi militer Jepang sajalah yang bisa melerainya.


Kadang-kadang pasukan sekutu yang lewat di sebuah kedai akan langsung mencomot makanan begitu saja tanpa membayar. Pemilik kedai terlalu takut untuk melawan. Di sebelah selatan Tokyo memang banyak kedai-kedai kecil dan Oyama sering terlihat disana di waktu malam. Walau pasukan sekutu itu membawa senjata api tapi tidak menggetarkan nyali Oyama. Manakala meletus kerusuhan, sudah pasti Oyama ada di tengah-tengahnya.

“Aku telah kehilangan begitu banyak teman selama perang. Di pagi hari saat mereka berangkat sebagai pilot Kamikaze (admin: bunuh diri), kami sarapan bersama dan di sore harinya bangku mereka telah kosong. Setelah perang berakhir, aku sangat marah. Karena itu aku berkelahi dengan pasukan Amerika sebanyak yang aku bisa, sampai fotoku ada di semua kantor polisi.”

Bagi sebagian orang, sosok Oyama adalah superman timur. Tapi bagi polisi dia tidak lebih dari sekedar pembuat onar. Beberapa teman Oyama yang masih hidup menasihatinya agar menyingkir saja dari kota itu jika masih ingin hidup lebih lama. Polisi yang sudah hafal dengannya selalu mempersulit urusannya. Belum lagi pasukan sekutu yang selalu mengincar dan ingin membunuhnya. Tubuh Oyama sudah banyak luka bekas sayatan pisau dan pedang Jepang hadiah dari perkelahian. Sudah tentu Oyama tidak ingin menambahnya dengan lubang dari peluru. Di tengah kebimbangan itu Oyama kembali pada gurunya, So Nei Chu. Oyama lalu dinasihati agar menyingkir untuk sementara waktu ke Yamanashi sampai semuanya kembali tenang. (Bersambung – Indoshotokan)

LATIHAN SELURUH TUBUH YANG IDEAL MENGGABUNGKAN PEREGANGAN OTOT DAN RELAKSASI

Orang yang mengerjakan latihan bela diri berlebih tidak hanya mengencangkan tubuh mereka. Kadang mereka menjadi keras kepala dan juga menjadi tidak terkendali. Karena itulah untuk membantu mengendurkan kondisi yang kaku ini diperlukan pemanasan yang sesuai sebelum latihan dan pendinginan sesudahnya. Di dojo, karena terbatasnya waktu, aku sungguh minta maaf karena latihan pendinginan seringkali dilupakan, yang mana hal itu benar-benar disayangkan. Idealnya, latihan didahului dengan lima belas menit pemanasan, dan diakhiri dengan tujuh sampai lima belas menit latihan pendinginan.

Bagi murid paruh baya dan yang berumur lebih tua, yang terbaik adalah berlatih dasar-dasar teknik karate di sebuah ruangan yang nyaman sekitar 30 sampai 40 menit. Ini akan memberikan latihan untuk hara (admin: perut). Dan sekalipun kita tidak punya banyak kesempatan untuk berlatih sampai berkeringat seiring kita lebih berumur, sebentar saja keringat akan mengalir dari kepala sampai kaki, dan perasaan akan lebih baik dari yang bisa dibayangkan. Rasanya lebih nikmat dibanding berendam di air panas atau masuk ke sauna.

Berbaring di atas bumi dan menyerahkan dirimu sepenuhnya ke alam mewakili bentuk keselarasan yang horizontal. Sementara berdiri tegak lurus dan menggambarkan tanaman tumbuh mewakili bentuk keselarasan yang vertikal; keduanya adalah keseimbangan. Karate menggunakan gerakan dan reaksi berdasarkan hukum fisika dan hukum alam tersebut. Itulah sebabnya hal yang terpenting diingat adalah ketika berlatih untuk memfokuskan perhatian pada titik pusat gravitasi tubuh.

Pada dasarnya, teknik karate dikerjakan dengan postur yang baik, bergerak sambil mempertahankan pandangan di lantai. Selama proses ini beragam gerakan ditambahkan; termasuk bergerak maju dan mundur, ke kiri dan ke kanan, membungkuk, berputar, memutar balik dan melompat. Namun demikian, ada sebuah aturan: posisi tubuh tegak lurus sebelum dan sesudah gerakan-gerakan tersebut dilakukan. Ini akan mengijinkanmu bergerak bebas dan sesuka hati ke sembarang arah bergantung keadaan. Hanya saat pusat gravitasimu tetap dibawah kendali, yang akan memungkinkanmu melakukan sembarang gerakan tanpa keraguan. (Indoshotokan)

Artikel ini diterjemahkan dari buku “Black Belt Karate – The Intensive Course” yang ditulis oleh Hirokazu Kanazawa dengan judul aslinya”The Ideal Full Body Workout Combining Muscle Tension and Relaxation”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

THE BULL FIGHTER: KISAH MASUTATSU OYAMA (2)

Tampaknya sudah tidak ada lagi pemuda yang berani melawan si raksasa itu. Dengan sombongnya laki-laki dari selatan itu tertawa lebar merayakan kemenangannya. Tidak disangka-sangka, Tuan Li dengan tenangnya melangkah maju ke arena. Sebagian penonton menahan napas karena melihat posturnya yang kecil, jelas tidak sebanding dengan lawannya. Sementara penonton lain mentertawakannya karena akan menjadi korban berikutnya.

Tanpa basa-basi raksasa dari selatan itu menubruk tubuh Tuan Li, berharap pertarungan akan berakhir singkat seperti lawan sebelumnya. Dengan sigap Tuan Li menghindar kesamping dan segera menyarangkan sebuah pukulan ke muka lawannya. Tampaknya pukulan itu cukup keras hingga membuat tubuhnya terhuyung-huyung. Hal ini membuat si raksasa terkejut dan kali ini dia lebih berhati-hati. Dengan perlahan-lahan, dia mencari celah untuk menyerang dan berpikir agar Tuan Li membayar pukulannya tadi.

Dalam sebuah serangan dia berhasil menangkap salah satu kaki Tuan Li. Banyak orang mengira duel akan segera usai, tapi ternyata mereka keliru. Dengan sigap Tuan Li menyarangkan lututnya yang bebas di alat vital si raksasa. Wajahnya terlihat kesakitan. Saat pegangan tangannya terlepas, sebuah pukulan deras kembali menghantam wajah si juara sombong itu. Dia tersungkur mencium tanah diikuti dengan salah satu giginya yang tanggal.

Walau begitu dia belum menyerah dan bangkit kembali dengan kemarahan tergambar jelas di wajahnya. Si raksasa tiba-tiba menyeruak maju dengan kedua tangannya berusaha meraih tubuh Tuan Li. Dalam gerakan yang sangat cepat Tuan Li menghindar, kemudian meraih salah satu lengan musuhnya dan langsung mematahkannya. Bahkan  penontonpun sulit mengikuti gerakannya dengan mata. Dan ketika mereka tersadar, raksasa juara itu sudah terkapar di tanah untuk kedua kalinya. Kali ini dia benar-benar kalah dan tidak bangun lagi. Para penonton berkerumun dan mencari tahu dari dekat apa yang sebenarnya terjadi. Sementara itu yang lain berusaha mencari Tuan Li, tapi dia sudah menghilang dari tempat itu.  

Melihat kehebatan Tuan Li membuat Choi Young Eui kagum padanya. Dia seakan menemukan figur pahlawan yang baru. Karena itulah dia setiap hari merajuk pada Tuan Li agar diajari gaya berkelahinya. Dan bisa ditebak, Tuan Li menolaknya. Menurutnya Choi Young Eui yang berumur sembilan tahun masih terlalu kecil untuk belajar bela diri. Akan tetapi Choi Young Eui tidak putus asa dan selalu mendesaknya. Akhirnya Tuan Li luluh juga dan bersedia menerima si anak bandel menjadi muridnya. Begitulah, setiap sore Choi Young Eui berlatih Chabee bersama Tuan Li. Chabee adalah bela diri campuran antara tinju Tiongkok dan Korea.

Tidak terasa empat tahun sudah Oyama berlatih. Pada usia 13 tahun dia terpaksa harus pergi ke rumah bibinya di Seoul demi melanjutkan sekolah di ibu kota. Masalah barupun muncul ketika Choi Young Eui sering terlibat perkelahian dengan anak-anak nakal di jalanan. Ayahnya yang biasanya sabarpun dibuat marah bukan kepalang akibat ulahnya itu. Tidak cukup sampai disitu, polisi di ibu kotapun sering dipusingkan dengan kenakalannya. Karena itulah setahun kemudian dia memutuskan pergi ke Jepang untuk masuk ke sekolah penerbangan di Yamanashi. Choi Young Eui ingin menjadi pahlawan sebenarnya dengan menjadi pilot pesawat tempur pertama dari Korea.


BERKENALAN DENGAN KARATE JEPANG

Ketika di Yamanashi, Oyama mulai belajar karate Shotokan. Sepertinya karate begitu menarik baginya, hingga dua tahun berlatih rasanya tidak cukup. Dia lalu melanjutkan latihannya di Universitas Takushoku di Tokyo. Walaupun universitas itu dianggap sebagai yang terkuat dalam hal bela diri, tampaknya judo lebih menonjol. Oyama kemudian pindah ke dojo Shotokan di Meijiro. Di sana, dua jam setiap harinya Oyama berlatih karate dibawah Gichin Funakoshi, sang Bapak Karate Jepang yang dibantu oleh anak laki-lakinya yaitu Yoshitaka. (Bersambung – Indoshotokan)

THE BULL FIGHTER: KISAH MASUTATSU OYAMA (1)


Di sebuah malam yang panas dan pengap di kota Bangkok penonton sudah berdesakan di pinggir ring tinju. Masyarakat lokal sudah tidak sabar ingin melihat jagoan kebanggaan mereka, Black Cobra, si petarung kick boxer. Lawan Black Cobra adalah seorang karateka Jepang yang sengaja datang ke Thailand. Penonton kian ribut dan mencemooh kala melihat pemuda Jepang itu tampil dan berjalan dengan tenangnya. Sebelumnya Black Cobra berhasil merobohkan seorang karateka Jepang dalam sebuah duel. Melihat lawannya kali ini kembali seorang karateka, membuatnya berpikir duel ini hasilnya akan sama saja. Nama besar karate Jepang tampaknya akan kembali terpuruk di ring tinju.

Gong ronde pertama ditabuh. Kedua petarung keluar dari sudut dan mulai berkeliling sambil menyiapkan serangan. Saat pemuda Jepang itu berkonsentrasi mencari celah, tiba-tiba sebuah tendangan meluncur deras dari Black Cobra. Mendapat serangan mendadak, si pemuda Jepang tadi roboh dan penontonpun bersorak sorai. Wasit yang sigap segera memberikan sepuluh hitungan. Tapi alangkah terkejutnya orang-orang melihat pemuda Jepang itu bangkit kembali diatas kakinya yang goyah. Memang luar biasa tendangan Black Cobra tadi dan nama besarnya bukan isapan jempol. Pemuda Jepang itu kembali bersiap dan kali ini serangan Black Cobra tidak akan bisa menjatuhkannya.

Sobat Indoshotokan pastinya sudah pernah mendengar nama Masutatsu Oyama, bukan? Benar, sebagai salah satu maestro karate, Oyama adalah pionir dari full contact karate. Sebuah gaya karate yang mengijinkan praktisinya melancarkan serangan sekerasnya sampai mengenai lawan. Sebagai seorang Korea yang banyak menghabiskan hidupnya di Jepang, perjalanan hidup Oyama sungguh tidak mulus. Kehidupan pasca perang, ekonomi yang sulit, dan ancaman pembunuhan dari musuhnya kerap mengancam nyawa Oyama. Bagaimana perjalanan hidupnya dalam mencari pencerahan, pastinya sobat Indoshotokan penasaran, bukan? Silahkan simak terus artikel ini.


GURU YANG PERTAMA

Masutatsu Oyama, atau sering disebut Mas Oyama, lahir tanggal 27 Juli 1923 di sebuah desa di Gimje, yang jauhnya sekitar 180 mil barat daya Seoul. Terlahir dengan nama Choi Young Eui, dia adalah anak keempat dari tujuh bersaudara. Choi Young Eui terbilang beruntung dibanding anak-anak Korea lainnya karena ayahnya adalah tuan tanah yang kaya dan belakangan berhasil menjadi walikota.

Setiap hari Choi Young Eui harus pergi ke sekolah yang jaraknya lumayan jauh. Enam mil harus melewati sebuah bukit dengan jalanan yang sempit dan kotor. Di sekolah dasar tempatnya bersekolah kira-kira ada 400 anak yang hadir setiap harinya. Tapi Choi Young Eui bukanlah tipe kutu buku karena dia lebih suka berenang, memancing, dan mendaki gunung bersama teman-temannya. Dia tidak begitu suka dengan kehidupan sekolah. Sebaliknya, dia lebih bersemangat dengan sepak bola dan lintas alam.

Banyak orang yang bekerja sebagai buruh pada keluarga Choi Young Eui. Salah satunya adalah Tuan Li (sumber lain menyebutnya Yi). Tidak ada yang tahu nama lengkapnya. Tuan Li adalah seorang petani berdarah campuran setengah Korea dan Tiongkok. Tubuhnya kecil dan usianya sudah agak tua, kira-kira 40 tahun-an. Sosoknya sangat tenang dan tidak banyak bicara. Namun di mata Choi Young Eui yang saat itu berumur sembilan tahun, ada sesuatu yang menarik dalam diri Tuan Li.

Di Korea saat itu ada sebuah tradisi yaitu pertandingan gulat. Acara itu digelar setiap musim panas setelah para petani selesai menggarap lahan pertanian di musim gugur. Begitu juga dengan tahun ini dimana para lelaki kuat dari seantero negeri berbondong-bondong ke Gimje untuk memperebutkan gelar jawara untuk satu tahun. Gulat Korea ini hampir mirip dengan sumo Jepang, hanya saja pesertanya menggunakan cara memegang lawan yang berbeda.

Beberapa tahun belakangan ini pertandingan gulat selalu dijuarai oleh orang dari selatan. Tubuhnya yang besar layaknya raksasa membuatnya selalu mendominasi pertandingan. Kekuatannya yang luar biasa sanggup melibas peserta lain dengan mudahnya. Tampaknya dia akan menjadi juara lagi tahun ini. Ketika sudah tidak ada lagi pegulat yang sanggup menghalanginya, orang selatan itu mulai sombong. Dia menantang semua pemuda yang ada dihadapannya. Ketika dia menunjuk beberapa pemuda untuk melawannya, mereka segera mundur menyembunyikan dirinya di belakang orang lain. “Apakah di desa ini sudah tidak ada lagi laki-laki tangguh untuk melawanku?” (Bersambung – Indoshotokan)

KATA

Tidak akan ada habisnya membedakan bermacam-macam perguruan dan aliran karate. Sama halnya seperti judo dan kendo di masa lampau, bermacam-macam perguruan dan aliran tersebut dikenal dari nama pemilik dojo masing-masing. Dalam budo, tidak hanya karate, penafsiran seni bela diri dari mereka yang mengerjakan berbeda mengikuti penafsiran dari instruktur mereka. Lebih jauh, tidak perlu dikatakan lagi bahwa variasi dalam menampilkannya adalah ciri khas dari tiap individu.

Namun demikian, jika kata akan dikelompokkan, maka akan terbagi pada Shorei-ryu dan Shorin-ryu. Orang-orang jaman dulu menekankan terutama pada pengembangan tenaga otot, fisik dan hasilnya menakjubkan dalam hal kekuatan. Sebaliknya, Shorin-ryu (Perguruan Shorin) sangat ringat dan cepat. Dengan gerakan cepat kedepan dan kebelakang bisa disamakan seperti lincahnya burung elang yang terbang. Kata Tekki, begitu juga dengan Jutte, Hangetsu, Jion, dan beberapa lainnya menjadi milik dari Shorei-ryu. Sementara Kata Heian, Bassai, Kanku, Enpi, Gankaku dan beberapa lainnya berhubungan dengan Shorin-ryu.

Benar-benar menakjubkan melihat orang berbadan besar dan berat mengerjakan kata Shorei-ryu. Memukau penonton dengan menampilkan kekuatan yang luar biasa. Namun demikian, kata Shorei-ryu sedikit mempunyai kekurangan dalam hal kecepatan. Hal yang serupa, orang tidak bisa berkata apapun kecuali sangat terkesan melihat orang berbadan ramping, dengan gerakan secepat burung terbang mengerjakan kata Shorin-ryu dengan kecepatan yang membutakan, yang mana merupakan hasil dari latihan yang intensif. Walau begitu, kedua gaya tersebut tentu saja mengembangkan pikiran dan tubuh, dan bukan berarti yang satu lebih baik dari yang lainnya.

Keduanya mempunyai kelebihan dan kekurangan, dan bagi mereka yang belajar karate wajib menyadari hal-hal ini dan mempelajarinya dengan sesuai. Sebagai tambahan dari dua jenis kata diatas, sebagai hasil penelitian selama beberapa tahun pada hal yang umum, aku telah mengembangkan dua kata; Taikyoku no Kata untuk pemula, dan Ten no Kata, untuk digunakan sebagai bentuk bertanding (kumite). Aku juga menganjurkan agar kedua kata ini dipelajari dengan tekun.

Jika seluruh kata yang bermacam-macam itu dihitung, maka jumlahnya akan sangat banyak. Namun demikian, sejak belajar kata bukan sekedar untuk mengerjakan saja, melainkan untuk menempa dan mendispilinkan diri, maka tidak perlu belajar banyak kata tanpa pandang bulu. Sudah cukup bagi seseorang untuk mengenali dan mengikuti sembilan belas kata berikut ini dan terus melatihnya. Dari kata Shorin-ryu, pemula pertama-tama wajib belajar Taikyouku Shodan, Taikyouku Nidan, Taikyouku Sandan dan diikuti dengan Heian Shodan, Nidan, Sandan, Yondan, Godan, Bassai, Kanku, Enpi dan Gankaku. Dari kata Shorei-ryu, seseorang harus belajar Tekki Shodan, Tekki Nidan, Tekki Sandan, Jutte, Hangetsu dan Jion.

Yang termasuk dalam kata yang sudah disebutkan diatas adalah Ten no Kata, sebagai bentuk latihan kumite yang harus dipelajari. Aku percaya menggunakan bentuk dan manfaat terbaik dari bermacam-macam kata. Bentuk-bentuk yang lain, karena itu, tidak akan disebutkan disini. (Indoshotokan)

Artikel ini dikutip dan diterjemahkan dari buku “Karate-Do Kyohan” yang ditulis oleh Gichin Funakoshi dengan judul aslinya “Kata”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

KEMAMPUAN UNTUK MEMBACA PIKIRAN LAWANMU (2)

Kukatakan pada mereka, jika mereka tidak percaya dengan teori ini, maka mereka harus mencobanya sendiri. Bagi para pelajar di sekolah aku berkata, “Jika kau punya keinginan pada gurumu, atau sesuatu yag harus diurus di sekolahmu, maka berdirilah dengan posisi pusar menghadap gurumu ketika kau bicara.”

Aku berkata jika mereka lakukan itu, guru mereka akan mengerti perkataan mereka, menjawab, dan memberikan bantuan yang mereka butuhkan. Dan tentu saja, tidak lama kemudian beberapa anak datang padaku sambil berkata, “Sensei Kanazawa! Nasihatmu berhasil. Aku kerjakan apa yang kau katakan, bicara pada guruku dengan pusarku menghadap ke arahnya, dan semua berjalan dengan sempurna!”

Aku bukanlah penyebab dari fenomena ini, tapi aku yakin bahwa dengan mengarahkan pusarmu pada orang yang kau ajak bicara, pusat gravitasi dan bagian bawah perutmu ikut berselaras dengan orang tersebut, memungkinkan energi masing-masing untuk menyatu.

Masih banyak kejadian di luar sana yang bisa membuktikan hal ini. Banyak hal tentang tubuh manusia yang manusia sendiripun belum memahaminya. Sementara tiap individu manusia adalah alam semesta kecil bagi dirinya sendiri, dalam alam semesta yang lebih besar, dan dalam alam semesta antar manusia yang lebih kecil, masih banyak keajaiban yang tidak terhitung yang tidak bisa kita jelaskan lewat sains moderen.

Jika sebelumnya kusebutkan alam semesta adalah kosong, maka arti sesungguhnya tidaklah demikian; disinilah sebuah ruang dimana segala sesuatu yang tidak kelihatan berubah menjadi ada; sebuah ruang yang diisi apa saja dan segalanya; menghasilkan beragam energi yang terus memancar dan mengalir. Inilah arti filosofis yang terkandung pada huruf Cina yang digunakan untuk menulis karate, yang juga digunakan untuk menulis kata Jepang untuk ruang.

Galaksi Bima Sakti, satu dari 200 milyar lebih galaksi yang membentuk alam semesta, terdiri antara 200 sampai 400 milyar bintang. Sebuah planet kecil bernama bumi melintasi satu dari bintang-bintang ini dalam tata surya kita. Dan di planet inilah kita tinggal, bersama dengan lebih dari enam milyar manusia. Sementara keberadaan kita amatlah kecil jika dilihat dari luar angkasa, 60 triliun sel yang membentuk tubuh manusia, termasuk 14 miliar sel pembentuk otak, yang mampu mewakili alam semesta yang tidak terbatas ini memiliki kekuatan yang sungguh luar biasa.

Memikirkan hal-hal seperti ini, kita tidak bisa dengan mudahnya mengabaikan fenomena ini dengan berkata kita tidak mengerti, atau fenomena itu hanyalah omong kosong. Kenyataannya, ada banyak orang yang memahami hal itu adalah benar, karena mereka bisa merasakan kekuatan semacam itu pada tingkat jasmani. (Indoshotokan)

Artikel ini diterjemahkan dari buku “Black Belt Karate – The Intensive Course” yang ditulis oleh Hirokazu Kanazawa dengan judul aslinya”The Ability to Read Your Opponent’s Mind”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

KEMAMPUAN UNTUK MEMBACA PIKIRAN LAWANMU (1)

Ada beberapa murid yang sekalipun adalah pembuat onar di masa mudanya, terus berlatih karate sampai sekarang. Karena mereka juga tumbuh secara emosional, saat mereka bertemu seseorang yang sudah bertahun-tahun tidak dilihatnya, mereka sering menyapa dengan perkataan seperti, “Kau dulu benar-benar anak yang payah. Bagaimana bisa kau sekarang tumbuh menjadi orang yang hebat?” Ini adalah hal yang sangat baik. Sepanjang pengalamanku – dan tidak hanya selama mengajar karate langsung di dojo, tapi juga dalam perjalananku ketika mengajar di banyak negara – belum pernah kulihat anak-anak muda di sekitarku yang berlatih karate berubah menjadi tidak baik.

Diantara murid-muridku yang sudah dewasa, ada beberapa yang hanya bisa sesekali datang ke dojo karena jadwal kerja mereka yang sibuk. Mereka menghargai karate karena memberikan mereka kemampuan untuk bertahan pada situasi yang paling sulit sekalipun. Banyak dari mereka juga memberitahuku jika mereka bisa mengelola hubungan dengan orang lain secara lebih mudah. Atau bahkan ketika menghadapi banyak masalah sekaligus, mereka bisa mengatasinya tanpa panik.

Ketika “K”, seorang mahasiswa, akan berlaga di turnamen karate, dia sering ditegur wasit karena tidak sabaran dan menjadi agresif, akhirnya beradu pendapat dengan wasit. Ketika sudah lulus dari universitas, anak muda ini bekerja di perusahaan properti. Dia membuat pegawai lain terkesima dengan kemampuan menjualnya yang bagus. Secara kebetulan aku bertemu dengan direktur perusahaan yang menjelaskan kemampuan “K” dengan berkata, “Lebih dari siapapun, dia mempunyai karakter yang baik.”

Selain itu, aku yakin jika “K” pasti sudah mendapatkan apa yang disebut dengan kebiasaan, atau mungkin kemampuan yang membuatnya bisa membaca, atau mengukur pikiran lawannya. Itu karena dalam karate kau berlatih menselaraskan napas, gerakan, kekuatan dan kewaspadaan dengan lawanmu. Saat berlatih karate, pertama-tama kau gunakan waktumu dengan hati-hati untuk mengamati gerakan lawanmu. Segera ketika lawan mengencangkan ototnya, kau kencangkan juga ototmu; ketika dia membuang napas, kau juga membuang napas; dan ketika dia melonggarkan ototnya, kau melakukan gerakanmu dan menyerang. Proses ini dilakukan berulang kali, namun selama melakukannya, kau melihat mata lawan.

Beberapa bulan kemudian dilalui dengan cara bagaimana bergerak lebih dekat untuk menselaraskan diri dengan lawan. Dengan melakukan itu, adalah mungkin bagi kita untuk membaca pikiran lawan hanya dengan melihat matanya. Ini bukanlah sesuatu yang bisa dijelaskan lewat kata-kata, melainkan sesuatu yang hanya bisa dipahami dan diperoleh lewat latihan dan pengalaman dalam karate.

Aku ingin berbagi denganmu kebenaran lainnya yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah. Salah satu kebiasaanku dalam mengajar adalah ketika menghadapi orang pada level senior, pandanglah hanya salah satu matanya dengan kedua matamu. Karena dia lebih kuat dan punya pengalaman lebih banyak, jika kau memandang kedua matanya, kau akan mudah merasa kewalahan – seperti seekor katak yang ditantang seekor ular – yang membuat sulit mengambil manfaat dari latihan bersamanya. Tapi, dengan menggunakan kedua matamu untuk memandang hanya salah satu dari matanya, maka bisa memperkecil rasa takut. Ini bisa menjadi satu sumber energi psikologis yang bisa membuatmu berlatih dengan murid senior.

Juga, sementara hal ini tidak bisa dijelaskan secara ilmiah, adalah teoriku ketika kita membicarakan hal penting dengan orang lain, kau harus selalu menghadap ke orang itu sehingga titik pusarmu berada di arahnya. Dengan melakukan itu akan membantu aliran energi spiritual mengarah padanya, dan jika energimu cukup kuat akan membuatmu bisa mengambil energinya. Pendekatan ini akan menghasilkan diskusi yang produktif dan negosiasi yang berhasil. (Bersambung – Indoshotokan)

Artikel ini diterjemahkan dari buku “Black Belt Karate – The Intensive Course” yang ditulis oleh Hirokazu Kanazawa dengan judul aslinya”The Ability to Read Your Opponent’s Mind”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

PROFIL ORGANISASI KARATE: GO-SHIN JUTSU FUNAKOSHI KARATE-DO (3)


Perguruan Funakoshi juga mempunyai materi yang disebut “dasar” tapi bukan mengarah pada pengertian kihon pada umumnya. Ada 10 gerakan dasar (atau lebih tepatnya 14), yang disebut berurutan yaitu Dasar 1, Dasar 2, Dasar 3, .... dst). Gerakan dasar berisi kombinasi kihon karate yang bentuknya sudah tetap dan tidak boleh dikombinasikan dengan gerakan lain. Seluruh gerakan dasar dilakukan dengan kuda-kuda rendah dan diulang sebanyak dua kali. Tujuannya mengkoordinasikan bagian tubuh kanan dan kiri sama baiknya. Semua gerakan dasar dalam Perguruan Funakoshi sudah ditujukan untuk membela diri. Konon hanya dengan 10 gerakan dasar ini, tanpa tambahan juruspun, seorang praktisi perguruan ini disebut sudah bisa membela diri. Semua gerakan dasar diajarkan pada sabuk putih dan akan terus diulang hingga sabuk hitam.

Materi kedua disebut dengan jurus dan menjadi inti dari Perguruan Funakoshi. Jurus berisi kombinasi gerakan yang lebih bervariasi, berbahaya dan ditujukan untuk membela diri. Ada 109 jurus yang diajarkan secara bertahap dengan tingkat kesulitan bervariasi. Setiap gerakan jurus tidak lagi berupa tipuan, dilancarkan dengan tenaga penuh dan langsung mengarah pada bagian-bagian vital tubuh manusia. Satu ciri khasnya jurus selalu dikerjakan dengan kuda-kuda kanan. Ada alasan filosofis dibalik hal ini; Orang timur selalu melakukan hal yang baik dengan tubuh bagian kanannya (makan dengan tangan kanan, memberi dengan tangan kanan, dsb). Karena itulah bagi seorang praktisi Perguruan Funakoshi membela diri hanya dikerjakan dalam keadaan sangat terdesak, didasari niat kebaikan dan cara yang pantas.

Dalam Perguruan Funakoshi kumite yang digunakan adalah full body contact. Berbeda dengan sport karate yang berdasarkan pada sundome (serangan berhenti beberapa inci sebelum sasaran), di Perguruan Funakoshi praktisinya boleh memakai tenaga penuh. Walau begitu, mereka yang melakukannya wajib menguasai diri, baik tenaga dan pikiran. Karena berbahaya, kumite yang terbilang keras ini dilakukan hanya oleh mereka yang sudah tingkat lanjut (biasanya sabuk hitam). Dalam sebuah ujian sabuk hitam seorang peserta bisa saja melawan beberapa orang sekaligus dengan tidak memakai pelindung apapun.


Antara tahun 70 hingga 80-an Perguruan Funakoshi sebenarnya telah menurunkan atlet-atlet mereka dalam kompetisi yang digelar oleh FORKI. Saat itu banyak lawan yang cedera dalam pertandingan kumite saat melawan atlet dari Perguruan Funakoshi. Kenyataan itu sontak menimbulkan semacam kengerian dari perguruan karate lain. Tapi hal ini bisa dipahami karena full body contact dan kumite sport karate adalah dua hal yang berbeda. Yang pertama bertujuan membela diri sedang yang kedua bertujuan mencari angka. Seiring tahun berjalan dan masuknya generasi baru, Perguruan Funakoshi mulai dapat menyesuaikan dengan peraturan sport karate dibawah FORKI. Mereka dapat melakukan kontrol serangan yang baik dalam kumite. Hal senada berlaku untuk kata dimana sekarang bisa dijumpai atlet-atlet kata yang mewakili perguruan ini.


IMPRESI AKHIR

Banyak opini menyatakan jika Perguruan Funakoshi adalah beraliran Shotokan. Pendapat ini mengacu pada perguruan yang menggunakan nama “Funakoshi”, Bapak Karate Jepang yang erat dengan berdirinya Shotokan. Kemudian Perguruan Funakoshi saat ini juga mengerjakan kata Shotokan dan mereka mengerjakan teknik dengan kuda-kuda rendah. Opini demikian tentunya perlu diluruskan. Mengapa begitu? Jika benar Perguruan Funakoshi beraliran Shotokan, seharusnya ada induk organisasi afiliasinya seperti beberapa perguruan Shotokan tanah air yang bernaung dibawah JKA atau SKIF. Nama Funakoshi yang dipilih pendirinya adalah sebagai apresiasi kepada Gichin Funakoshi. Sebagai rasa terima kasih bahwa Funakoshi adalah orang yang sangat berjasa dalam karate.

Kata Shotokan yang dikerjakan perguruan ini lebih banyak ditujukan untuk sport karate, karena untuk bela diri perguruan ini sudah mempunyai jurus sendiri. Bahkan jika diperhatikan ada teknik dalam perguruan ini yang mirip dengan Goju-ryu. Misalnya teknik pernapasan dan tangkisan yang awalannya mirip shuto mawashi uke yang tidak umum di aliran Shotokan. Dengan demikian Perguruan Funakoshi adalah sebuah perguruan karate independen, yang tidak berafiliasi pada organisasi internasional manapun, dengan teknik dan gaya bela diri yang orisinil dan beraliran “Go-Shin Jutsu” (bela diri). (Tamat - Indoshotokan)

PROFIL ORGANISASI KARATE: GO-SHIN JUTSU FUNAKOSHI KARATE-DO (2)


Adapun simbol Perguruan Funakoshi mempunyai arti sebagai berikut:
  • Perisai dengan garis tepi berwarna hitam, artinya ilmu bela diri hanya digunakan semata-mata untuk membela diri demi alasan kebenaran dan kejujuran, serta meningkatkan prestasi jika dipergunakan dalam olah raga.
  • Dasar simbol berwarna biru, mewakili keteguhan budi sedalam lautan.
  • Tulisan Go-Shin Jutsu, artinya perguruan ini memfokuskan pada ilmu bela diri baik secara teori dan praktik sehingga dapat dipergunakan dalam pertarungan sebenarnya maupun kumite dojo.
  • Tulisan Karate, artinya perguruan ini berdasarkan pada ilmu karate.
  • Bunga Wijaya Kusuma, artinya mereka yang belajar ilmu karate dalam perguruan ini bisa membawa manfaat dan semangat hidup baru bagi orang banyak. Sama halnya seperti Bunga Wijaya Kusuma yang dalam legenda mampu menghidupkan orang dan berkhasiat menyembuhkan banyak penyakit.
  • Mahkota bunga berjumlah 18 helai, artinya perguruan Go-Shin Jutsu Funakoshi berdiri pada tanggal delapan belas.   
  • Daun bunga berjumlah dua lembar, artinya perguruan Go-Shin Jutsu Funakoshi berdiri pada bulan Februari.
  • Ruas daun sebelah kiri berjumlah enam, ruas daun sebelah kanan berjumlah tujuh, artinya perguruan Go-Shin Jutsu Funakoshi berdiri pada tahun 1967.
  • Karateka dengan sikap tangan merendah/memberi hormat, artinya seorang karate-ka Funakoshi wajib senantiasa ingat, bersujud dan berbakti pada Tuhan Yang Maha Esa, serta menjunjung tinggi ajaran ilmu bela diri yang dipelajarinya.



Seorang praktisi Perguruan Funakoshi juga mengingat dan memegang tujuh janji:
  • Berjanji akan tunduk, patuh terhadap suatu perintah, menghindari larangan serta mentaati bimbingan guru.
  • Berjanji menjauhkan diri dari perkelahian dan tidak menggunakan ilmu bela diri ini kecuali untuk pembelaan diri atau membela orang lain yang terancam jiwanya, hanya jika sudah tidak ada pilihan yang lain.
  • Berjanji menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak pantas misalnya; menjadi tukang pukul seseorang bila diketahui yang menyuruh di pihak yang salah, sengaja berkelakuan sombong dan menonjolkan ilmu karate, dan sengaja mencari gara-gara dengan orang lain yang menimbulkan perkelahian.
  • Berjanji melakukan latihan atau pertandingan dengan cara yang sportif, sebagai karateka yang baik dan akan mempertinggi nilai dari bela diri karate ini.
  • Berjanji mematuhi semua peraturan yang dibuat oleh perguruan karate ini.
  • Berjanji akan tolong menolong, seiya-sekata dengan semua karateka di Indonesia khususnya, dan seluruh dunia umumnya, dengan dasar saling menghargai dan menghormati.
  • Berjanji akan menjaga nama baik sebagai karateka pada umumnya, dan perguruan pada khususnya dalam segala tindak tanduk.

TEKNIK PERGURUAN FUNAKOSHI

Di awal pembentukannya Perguruan Funakoshi mempunyai tiga materi wajib; kihon (dasar), jurus dan kumite yang berdasarkan full body contact. Apa saja perbedaannya dengan karate pada umumnya? Mari kita kupas satu-persatu.

Dalam Perguruan Funakoshi yang disebut kihon adalah gerakan dasar meliputi kuda-kuda, pukulan, tendangan, tangkisan, dsb. Namun ada beberapa gerakan dasar yang tidak lazim ditemukan dalam karate umumnya. Sebagai salah satu materi dasar, Perguruan Funakoshi juga memasukkan elemen ukemi yang bentuknya mirip pada judo. Ukemi adalah sebuah teknik menjatuhkan diri dengan cara tertentu untuk mengurangi potensi cedera. Praktisi perguruan ini bisa melakukan ukemi ke depan, belakang, kiri, kanan, atau bahkan roll ke depan dan belakang.

Pada tingkat yang lebih tinggi (biasanya sabuk hitam), ada gerakan lanjutan seperti lompat harimau. Seorang yang sudah mahir lompat harimau di perguruan ini bahkan mampu melompat lebih jauh dengan menghindari beberapa rintangan sekaligus. Yang mengagumkan semua gerakan ukemi, roll dan lompat harimau dikerjakan tanpa menggunakan alas atau sandaran. (Bersambung – Indoshotokan)

PROFIL ORGANISASI KARATE: GO-SHIN JUTSU FUNAKOSHI KARATE-DO (1)


Sekitar tahun 60-an beberapa mahasiswa Indonesia yang telah menyelesaikan studinya di Jepang kembali ke tanah air dengan membawa ilmu karate. Satu hal yang menggembirakan karena masyarakat kita akhirnya bisa belajar bela diri yang sarat filosofi ini. Hingga terbentuknya Persatuan Olah Raga Karate-do Indonesia (PORKI) tahun 1964, yang banyak berkembang saat itu adalah aliran Shotokan dan Goju. Tidak lama sesudah itu aliran karate baru seperti Kushin-ryu, Shito-ryu dan Kyokushinkai juga masuk ke Indonesia. Fakta itu kian menambah warna baru dalam dunia karate Indonesia. Hingga artikel ini ditulis, telah ada 28 perguruan karate yang resmi terdaftar sebagai anggota FORKI.

Dari sekian banyak perguruan karate Indonesia ada yang sangat populer karena sering tampil di panggung sport karate, didukung cabang yang tersebar di seluruh tanah air dan anggotanya mencapai ribuan. Sebaliknya, ada perguruan karate yang tidak begitu populer karena sedikit anggotanya, jarang tampil di kompetisi karate, dan daerah penyebarannya masih terbatas. Untuk menambah pengetahuan pembaca sekalian, Indoshotokan kali ini akan mengulas Go Shin Jutsu Funakoshi Karate-do (selanjutnya dalam artikel ini disebut Perguruan Funakoshi). Salah satu perguruan karate lawas yang masih terus eksis dan aktif hingga kini. Perguruan Funakoshi diklaim mempunyai teknik yang paling kompleks karena bisa mengadaptasi dengan baik gaya karate ortodok dan modern; antara karate bela diri dan sport karate.


SEJARAH SINGKAT PERGURUAN FUNAKOSHI

Pembinaan Mental dan Fisik Seni Olah Raga Beladiri Karate Funakoshi didirikan oleh alm. Sensei Soegijat Baba di Malang 18 Februari 1967. Di masa mudanya Soegijat Baba adalah anak muda yang berani dan gemar berkelahi, namun sering menderita kekalahan karena tidak punya bela diri yang cukup. Melihat hal itu orang tua Soegijat Baba mengirim anak mereka ke Jepang untuk belajar. Sekembalinya ke tanah air beberapa tahun kemudian, Soegijat Baba mulai mengembangkan karatenya. Dojo pertamanya berdiri di salah satu sudut pecinan kota Malang.

Di masa hidupnya Soegijat Baba dikenal sebagai sosok yang santun dan sederhana. Inilah salah satu sebab mengapa namanya tidak pernah ditulis dalam sejarah karate Indonesia. Tapi saat bicara kemampuan karate, namanya disegani tidak hanya oleh muridnya, tapi juga oleh banyak perguruan karate lain di masa itu. Salah satu kemampuannya adalah memecahkan benda keras seperti batu dan kemiri. Ada sebuah cerita di salah satu demonstrasi karate Soegijat Baba berniat menghancurkan kemiri dengan telapak tangannya. Sayangnya kemiri keras itu tidak hancur. Sadar nama baik perguruan sedang dipertaruhkan, Soegijat Baba mengambil kemiri itu dan meremukkan dengan jalan dikatupkan diantara kedua telapak tangannya. Kemiri itu hancur remuk walaupun tangannya sendiri harus berdarah.  

Murid-murid paling awal dari Soegijat Baba merasakan bagaimana luar biasa beratnya latihan di perguruan ini. Untuk mendapatkan sabuk hitam saat itu benar-benar sulit. Banyak peserta yang ikut, tapi hanya dua atau tiga orang saja yang lulus. Belajar ilmu karate sejatinya memang tidak mudah. Untuk itulah Soegijat Baba memberikan motivasi yang sampai sekarang masih dipegang praktisi Perguruan Funakoshi:

“Sakit jangan dirasakan sakit. Lelah jangan dirasakan lelah. Panas jangan dirasakan panas. Dingin jangan dirasakan dingin. Semuanya anggaplah teman latihan maka rasa yang mengganggu itu akan hilang.”

Sekitar tahun 1980-an sport karate sedang populer di tanah air. Sayangnya gaya full body contact yang dianut perguruan ini tidak cocok digunakan dalam kompetisi yang dinaungi FORKI. Saat itu banyak peserta dari Perguruan Funakoshi yang mencederai lawan di arena. Namun begitu perguruan ini perlahan-lahan dapat menyesuaikan, dan bahkan mereka bisa mengadakan kompetisi sport karate sendiri. Saat ini Perguruan Funakoshi banyak tersebar di Jawa Timur khususnya Malang bagian selatan. Di luar wilayah tersebut perguruan ini juga mempunyai beberapa perwakilan meskipun masih sangat terbatas.


MAKNA SIMBOL DAN FILOSOFI

Lazimnya sebuah perguruan karate yang selalu mengucapkan dojo-kun sebelum dan sesudah latihan, maka Perguruan Funakoshi juga melakukan hal serupa. Ada lima sumpah karate yang wajib diucapkan para praktisi perguruan ini;

1. Bertakwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa
2. Setia Kepada Falsafah Negara Pancasila
3. Berperikemanusiaan dan Hormat Kepada Sesama Manusia
4. Berbudi Luhur, Rendah Hati dan Berjiwa Kesatria
5. Taat dan Menjunjung Tinggi Segala Peraturan Perguruan

(Bersambung - Indoshotokan)

MELANGGAR SEBUAH ATURAN

Harus kuakui jika aku pernah melupakan peraturan yang tidak seharusnya dilanggar. Peristiwa ini terjadi beberapa tahun setelah berakhirnya Perang Pasifik.

Berumur sekitar delapan puluh tahunan saat itu, aku lebih aktif daripada yang sekarang, dan suatu hari aku pergi ke sebuah pesta membaca sajak di Tamagawa. Disana juga menjadi sebuah kesempatan yang baik untuk minum (untuk mendukung perayaan). Pesta itu berakhir larut malam, dan aku berhasil mengejar kereta pulang ke Tokyo tepat pada waktunya.

Saat itu Jepang masih dalam keadaan yang kacau sesudah perang, dan orang-orang telah diperingatkan akan bahayanya berjalan sendiri di malam hari. Tapi aku yakin tidak ada seorangpun yang mau mengganggu orang tua sepertiku. Karena itulah setelah turun dari kereta di Stasiun Otsuka aku langsung pulang ke rumah. Sebagian dari Tokyo telah hancur dan sepi. Sementara rumahku yang untungnya lolos dari serangan bom, jaraknya masih cukup jauh.

Hujan mulai turun, karena itu kutarik kerah mantelku, membuka payung dan mulai berjalan. Peristiwa yang ingin kuceritakan terjadi di sebuah tempat antara Otsuka dan Hikawashita. Kejadian itu bermula setelah seseorang yang berpakaian hitam tiba-tiba keluar dari balik sebuah tiang telepon. “Hei, Kakek!” dia berteriak sambil maju mendorong payungku.

Berpikir jika dia harus diajak berkenalan atau dihadapi dengan ramah, aku mundur dengan sopan sambil kubuka topiku dan membungkuk padanya. Tampaknya hal ini membuatnya heran. Kemudian, setelah hening beberapa saat, dia berkata dalam suara yang terdengar ragu-ragu, “Punya sebatang rokok, Kakek?” Sekarang aku baru sadar jika dia adalah seorang pencuri. Tapi aku juga bisa tahu dari nada suaranya dia masih sangat pemula – seorang pendatang baru, atau bisa dibilang mencoba berpura-pura agar terlihat kuat.

“Aku tidak merokok” aku menjawab.

Perlu kujelaskan jika aku tidak pernah membawa tas. Semuanya terbungkus dibalik furoshiki-ku yang berwarna polos gelap (admin: furoshiki adalah buntelan tradisional khas Jepang. Biasanya digunakan untuk bepergian atau membungkus hadiah). Tapi yang kupunya sekarang hanyalah kotak makan siangku yang telah kosong dan beberapa buku. 

“Kenapa harus bohong, Kakek? tanya laki-laki itu. “Kau punya beberapa batang rokok dalam furoshiki milikmu.”

“Sudah kukatakan padamu jika aku tidak merokok. Sekarang, bisakah kau ijinkan aku untuk lewat?”

“Lupakan saja!” laki-laki itu berteriak, “Buka furoshiki-mu dan tunjukkan apa isinya!”

“Tidak ada barang didalamnya yang berharga,” aku berkata.

“Itu menurutmu!” Dia langsung menyambar payung dari tanganku dan seolah ingin mencoba memukulku dengan benda itu.

Dia membuka lebar kuda-kudanya. Saat dia mengayunkan payung kearahku, aku merunduk kebawah dan tangan kananku meraih dengan kuat alat vitalnya. Aku yakin, itu sakit dan nyaris tidak tertahankan. Payung itu jatuh ke tanah dan laki-laki itu setelah menangis kesakitan, tampaknya dia pingsan.

Tidak lama setelah itu, seorang polisi patroli muncul di tempat kejadian, dan aku menyerahkan penyerangku untuk ditahan olehnya.

Saat melanjutkan perjalanan, aku baru mengetahui jika laki-laki yang berusaha merampok tadi adalah prajurit veteran yang baru kembali dari garis depan yang jauh. Tidak punya lagi pekerjaan, dia memutuskan untuk merampok aku pada saat itu. Dan aku juga saat itu telah melakukan apa yang sering kularang pada murid-muridku yang masih muda. Aku telah menyerang. Aku tidak merasa begitu bangga pada diriku sendiri. (Indoshotokan)

Artikel ini dikutip dan diterjemahkan dari buku “Karate-Do: My Way of Life” yang ditulis oleh Gichin Funakoshi dengan judul aslinya “Violating a Rule”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

NILAI DARI KARATE-DO

Karate-do pada pokoknya adalah sebuah seni bela diri (budo), dan dengan demikian karate-do berusaha mencapai “jalan” (do) dengan “berlatih senjata” (bu). Sebagaimana seni bela diri lainnya, karate-do benar-benar membutuhkan sebuah kedisiplinan. Tubuh harus melewati latihan yang panjang dan berat selama bertahun-tahun. Hal ini tidak hanya mengembangkan badan yang kuat, tapi juga karakter yang tangguh.

Pengendalian diri tidak hanya dibutuhkan dalam hal teknik saja, tapi juga pada emosi seperti ketakutan, sakit dan kebencian. Sebagai sebuah seni untuk bertarung, karate-do melibatkan perseteruan antara dua keinginan (admin: keinginan baik dan jahat), yang mana masing-masing berusaha ingin menang. Pengendalian diri mengembangkan sifat seperti ketabahan, tapi juga rendah hati, menghargai diri sendiri dan orang lain.

Karate-do juga merupakan alat yang tangguh untuk membela diri karena tidak membutuhkan senjata khusus. Senjata yang dibutuhkan selalu tersedia. Satu hal yang cukup menguntungkan dari karate-do untuk membela diri adalah pertahanan bisa dicocokan tepat dengan serangan. Jika kau memakai senjata api untuk membela diri, kau tidak bisa melakukan apapun kecuali menembak lawanmu. Dengan karate-do kau bisa menyingkirkan lawan tanpa melukai atau bahkan membunuhnya. Sikap membela diri juga membantu seseorang untuk menghindari penyakit dan musibah dengan pendekatan yang lebih hati-hati dalam hidup sehari-hari.

Nilai fisik dari karate-do juga unik. Ini karena melibatkan aktivitas mengembangkan semua anggota badan tanpa harus cemas ada yang kurang berkembang, atau terlalu berkembang. Latihan bisa dikerjakan dimanapun. Tidak perlu kebutuhan khusus untuk tempat latihan. Latihan bisa dikerjakan sendiri tanpa seorang rekan. Ini menjadi kelebihan yang jelas dibanding kebanyakan olah raga. Setiap orang bisa berlatih karate-do dan mengambil manfaat darinya. Selalu ada cara menyesuaikan latihanmu dengan kondisi fisik maupun tujuanmu. Karate-do sekarang telah berkembang menjadi sebuah olah raga kompetisi yang sangat populer, dan hal itu bisa memenuhi kebutuhan anak-anak muda untuk menemukan jati diri mereka. (Indoshotokan)

Artikel ini diterjemahkan dari buku “Scientific Karatedo” yang ditulis oleh Masayuki Kukan Hisataka dengan judul aslinya”The Value of Karatedo”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

MELATIH BAGIAN BAWAH PERUT MEMPERBAIKI PIKIRAN

Ketika aku masih seorang pelajar, aku telah mendapatkan pengalaman sendiri tentang hara (admin: perut) dan melanjutkan penelitianku tentang hal ini. Berdasarkan pengalamanku, aku bisa memberitahu orang-orang di sekitarku bahwa melatih bagian bawah perut akan meningkatkan kecerdasan. Saat mendengar ideku itu, adikku yang baru saja menjadi seorang dokter medis berkata dengan sebuah kekhawatiran, “Kakak, sekalipun hal itu benar, orang-orang akan mentertawakanmu jika kau membuat pernyataan yang tidak didukung bukti ilmiah. Jika aku menjadi dirimu, aku tidak akan berkata pada yang lain tentang hal itu.”

Namun demikian baru-baru ini, adikku datang kembali padaku sambil menunjukkan sebuah jurnal kedokteran sambil berkata, ”Aku sungguh tidak percaya. Apa yang kau katakan dulu ternyata benar.” Dia menjelaskan padaku telah dibuktikan secara medis bahwa setelah kehidupan pertama muncul dan sepanjang evolusi manusia, sel-sel saraf usus dan sel-sel saraf otak awalnya berbagi hubungan yang sangat dekat.

Fungsi perut adalah mencerna makanan, dan usus menyerap nutrisi dari makanan yang kita makan. Usus sebagai organ imunologi terbesar di dunia, dikatakan ukurannya sekitar tujuh meter (23 kaki) dan jika diletakkan mendatar akan menutupi permukaan lapangan tenis. Ada sekitar 100 juta sel saraf di dalam usus, dan kira-kira setengah dari sel saraf berada di luar otak.

Melalui proses evolusi yang panjang manusia telah mencapai bentuknya seperti sekarang ini. Dan sel saraf di saluran usus dan batang otak (yang berfungsi mendukung kehidupan kita dan terdiri dari medulla oblongata, otak bagian tengah, penghubung medulla dan thalamus, thalamus dan hypothalamus) juga mengalami hal serupa. Sebagian sel saraf dari saluran usus bermigrasi ke atas dan berkembang lebih jauh di kepala, bergabung dengan cerebrum untuk membentuk otak yang mempermudah kecerdasan manusia.

Berkaitan dengan karate, aku telah menerima laporan yang sangat menarik dari banyak instruktur di luar negeri. Mereka memberitahuku jika para kepala sekolah di negara-negara tersebut menunjukkan ketertarikan yang besar pada karate. Alasan dibalik ini adalah kebanyakan murid dengan nilai terbaik ternyata berlatih karate.

Jauh sepuluh tahun sebelumnya, ada peningkatan yang jelas dari anak-anak yang berlatih karate. Dan tidak hanya di Jepang tapi juga di banyak negara di dunia, para pendidik penasaran mengapa anak-anak yang berlatih karate bisa mendapat nilai yang baik. Hal ini menyebabkan munculnya data yang menyoroti hubungan antara karate dan prestasi di kelas. Selama berlatih karate anak-anak belajar tentang hubungan hirarkis, sopan santun dan etika yang sesuai. Dan selama proses itu mereka belajar menghormati orang tua mereka. Yang tidak kalah pentingnya prestasi mereka di kelas juga meningkat.

Latihan karate yang berkelanjutan tidak hanya meningkatkan konsentrasi, tapi juga memperbaiki kecerdasan karena sel syaraf di saluran usus dan otak pada intinya adalah sama. Walaupun telah kudengar beberapa kepala sekolah meragukan logika ini, bagi para instruktur di luar negeri, aku menjelaskan hal ini demikian: melatih bagian bawah perut akan menghasilkan konsentrasi dan kesabaran yang lebih baik. Dan memperkuat hara juga memperkuat pikiran.

Hubungan antara Yin (negatif, gelap, wanita) dan Yang (positif, terang, pria) hadir dalam semua hal. Dan ini juga berlaku untuk hara. Kita menerima dan menyerap nutrisi dan kalori dari makanan yang kita makan yang membuat kita tumbuh. Ini adalah peran luar dari hara, aspek fisik, mewakili sisi Yang. Namun demikian di sisi sebaliknya, mewakili sisi Yin, hara menjalankan fungsi yang tidak kelihatan. Sebuah peran yang berfungsi di tahap spiritual. Adalah penting untuk mendapatkan sebuah pemahaman tentang kedua hal ini, dan berlatih yang sesuai.

Pelajar, pegawai kantoran, dan kebanyakan masyarakat moderen, dari waktu ke waktu setiap hari memenuhi kepala mereka dengan begitu banyak informasi. Mereka menghabiskan waktunya memandangi layar komputer, dan biasanya terkena beragam masalah. Akibatnya mereka merasakan kaku di bahunya yang berujung pada gaya hidup penuh stress. Untuk orang-orang seperti ini, berlatih karate memberi mereka kesempatan untuk memperbaiki postur, meregangkan tangan dan kaki, meredakan tegang di bahu mereka, dan mengkonsentrasikan kekuatan di perut, yang membantu menghindari penyakit dan mengurangi stress.

Ketika orang lelah secara mental, mereka menjadi mudah marah dan tidak punya kemampuan untuk mengelola stress dengan efektif. Sementara peran perut untuk mencerna makanan, salah satu fungsi usus adalah mencerna semua stress emosional. Inilah sebabnya tidak mengejutkan jika berlatih karate membantu mengatasi penyakit. (Indoshotokan)

Artikel ini diterjemahkan dari buku “Black Belt Karate – The Intensive Course” yang ditulis oleh Hirokazu Kanazawa dengan judul aslinya”Training the Lower Abdomen Improves the Mind”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

SANG PANGLIMA MELAWAN SEEKOR LEMBU JANTAN (3)

Matsumura melangkah ke singgasana raja. Dia memeriksa para penjaga. Semuanya siap. Ketika Matsumura akan meninggalkan tempat itu sang raja melihat dan memanggilnya. Matsumura membungkuk dengan hormat. Sambil mengunyah buah pir yang menjadi camilannya, sang raja berkata,”Kukira kau sudah siap menghadapi lembu itu?”

“Tentu saja Yang Mulia.” Jawab Matsumura.

“Aku tahu kau pasti akan melakukannya.” Raja berkata sambil memetik anggur dari mangkuk. “Kau belum pernah mengecewakanku.”

“Semoga ini bukan menjadi yang pertama.” Matsumura bicara pada dirinya sendiri seiring dia memberi hormat dan meninggalkan tempat itu. Raja yang kecewa adalah sebuah kabar buruk untuk bawahannya.

Matsumura mendengar namanya dipanggil. Dia melangkah ke tengah arena disambut sorak sorai para penonton. Dia merasa ketakutan muncul dalam dirinya. Dia mengambil napas dalam-dalam dan membuang jauh-jauh ketakutan dari pikirannya. Dia ingin melawan lembu itu dengan emosi dan pikiran yang tenang. Dia sudah mendengar suara ribut dari lembu yang merasa bosan di dalam kandang, berusaha menggedor kurungan dengan bahunya. Matsumura melihat lembu jantan itu sambil berharap rencananya akan berjalan mulus. Jika gagal, maka dia akan menanggung malu seumur hidup. 

Matsumura mengangguk pada penjaga kandang, yang kemudian membuka ikatan tali yang menahan pintunya agar tertutup. Lembu itu seolah melemparkan badannya keluar dan menyeruak tiba-tiba yang membuat para penonton terkesiap. Matsumura mengambil posisi kuda-kuda bertarung. Lembu itu melihatnya dan mulai mendekatinya. Matsumura menunggu. Lembu jantan itu berderap mengambil ancang-ancang. Matsumura tetap menunggu. Lembu itu berjalan mendekat sambil mengawasi Matsumura.

Matsumura minggir dengan cepat untuk membiarkan binatang itu lewat. Ketika bergerak, Matsumura tiba-tiba berteriak. Kiai Matsumura bergema ke udara seperti suara petir yang mengagetkan. Penonton mendadak terdiam. Lembu jantan itu memutar badannya melihat Matsumura. Untuk sesaat tidak terjadi apapun. Para penonton menahan napas. Matsumura dan lembu jantan itu saling memandang satu sama lain. Matsumura kembali mengeluarkan kiai. Wajah binatang itu menunjukkan dia kenal suara itu. Lembu itu berlari menjauh ke sisi arena. Matsumura mengikutinya. Dia kiai dan binatang itu kembali melarikan diri. Matsumurapun mengejarnya. Sorak-sorai penontonpun memecah. “Bushi! Bushi! Bushi!” Mereka berteriak. “Sang pendekar! Sang pendekar! Sang pendekar!”

Sang raja akhirnya berdiri. Dia mengangkat tangannya dan penonton perlahan kembali tenang.
“Matsumura,” sang raja berteriak. “Berdirilah di hadapanku.

Matsumura berjalan menjauh dari lembu jantan itu bersamaan dengan penjaga kandang dan pembantunya mengulurkan tali untuk mengembalikan binatang itu ke kandang. Dia berjalan ke seberang arena dimana sang raja berdiri dan diikuti dengan memberi hormat padanya.

“Matsumura,” sang raja berkata, “Kekuatanmu sungguh luar biasa. Bahkan lembu paling tangguh di negeri ini takut bertarung melawanmu. Sejak hari ini dan seterusnya kau akan dikenal sebagai ‘Bushi Matsumura.’ Sebagai penghargaan karena kau benar-benar pendekar yang tangguh.” (Indoshotokan)

Artikel ini diterjemahkan dari buku “Legend of the Martial Arts Master” yang ditulis oleh Susan Lynn Peterson dengan judul aslinya”The General Fights a Bull”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

KARATE SEBAGAI SEBUAH SENI BELA DIRI SPIRITUAL

Karate semakin berubah menjadi sebuah olah raga kompetisi. Ini satu alasan mengapa jumlah wanita yang berlatih karate terutama untuk membela diri kian berkurang. Namun disamping menjaga kesehatan, membela diri adalah tujuan yang sesungguhnya dan tetap menjadi sebuah hal terpenting dalam karate.

Ketika ayahku mengajar karate di Universitas Wanita Meijou, dia menemukan dua kata khusus bela diri untuk wanita. Kata yang pertama disebut Meijou yang merujuk pada nama sekolah itu yang berarti “Bintang yang Terang”. Kata yang lain disebut Aoyagi (berarti Pohon Willow Hijau) yang melambangkan keanggunan dan kelembutan. Kedua kata ini dibuat untuk pertarungan yang sesungguhnya. Keduanya mengandung teknik melawan serangan yang biasanya ditujukan pada wanita seperti merangkul dari depan atau belakang; dan pukulan yang menggunakan tenaga dari si penyerang. Tapi kedua kata ini sangat pendek dan tidak cocok untuk kompetisi, dan karena itulah sekarang tidak begitu populer.

Baru-baru ini aku membaca sebuah artikel di surat kabar Asahi Shimbun. Beritanya tentang seorang remaja SMU yang sedang berada di rumah ketika seorang pencuri masuk dan menyerangnya dengan sebilah pisau. Tapi anak itu cukup pintar dengan menghindari serangan dan berhasil kabur. Setelah itu dia berkata pada wartawan, “ Saat aku melihat pisaunya, tubuhku bereaksi spontan. Jika aku tidak berlatih karate aku akan dilumpuhkan oleh rasa takut.”

Untuk menggunakan karate sebagai bela diri, tidak cukup hanya belajar banyak teknik. Seseorang harus mengembangkan sebuah energi mental “ki” yang penting untuk menggerakkan kemampuan di saat yang dibutuhkan. Hal itu adalah ketika seseorang menghadapi bahaya yang tiba-tiba. Tidak peduli seberapa sering seseorang berlatih teknik, tanpa energi ini seseorang tidak akan bisa menggunakannya. Itulah sebabnya mengapa pendidikan mental begitu penting.

Mengembangkan “ki” begitu penting untuk semua seni bela diri, seperti pada judo, kendo dan iaido. Pendidikan mental diperlukan untuk menyingkirkan rasa gugup dan takut, sehingga bisa memfokuskan seluruh energi mental pada satu titik. Karena karate ditujukan pada kemampuan mempertahankan diri dengan tangan kosong, maka energi mental yang fleksibel sangatlah penting. Berdasarkan alasan tersebut seseorang dapat memilih karate sebagai seni bela diri untuk membentuk jiwa (ki no budo).

Tentu saja kondisi fisik juga mempengaruhi perkembangan seseorang secara umum. Dengan kata lain orang yang tidak punya kepercayaan diri atas fisiknya, juga lemah secara mental dan psikologis. Karena latihan karate mengembangkan seluruh tubuh – bahkan orang dengan kondisi lemahpun bisa mendapat fisik yang kuat setelah beberapa waktu – dan membangun dasar bagi kekuatan mental dan psikologis. (Indoshotokan)

Artikel ini diterjemahkan dari buku “Empty Hand – The Essence of Budo Karate” yang ditulis oleh Kenei Mabuni dengan judul aslinya”Karate as a Spiritual Martial Art”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

SANG PANGLIMA MELAWAN SEEKOR LEMBU JANTAN (2)

Berhenti sebentar untuk meluruskan seragamnya, Matsumura melangkah lewat pintu masuk kandang. Para pekerja sangat kaget melihat komandan para pengawal, Matsumura yang hebat tiba-tiba muncul di kandang.

“Aku penjaga kandang ini,” orang tua itu berkata.
“Apa yang bisa kubantu, tuan?”

“Antarkan aku ke lembu jantan itu,” Matsumura memerintahkan.
“Aku ingin melihat sendiri lawanku, belajar gaya bertarungnya sebelum aku menjadi lawannya.”

“Tentu saja, Tuan Matsumura,” Penjaga kandang itu menunjuk ke sebuah kurungan di kandang belakang.
“Silahkan, tuan.”

Matsumura berjalan ke kurungan, matanya tertuju pada lembu jantan itu. “Ikat dia,” Matsumura memberi perintah. “Ikat binatang itu supaya tidak bisa bergerak.”

“Baik, tuan.” Si penjaga membentangkan dua utas tali. Satu persatu dia lingkarkan di atas kepala binatang itu dan mengikatnya dengan kuat ke balok kayu di sisi kurungan.

“Sekarang pergilah,” Matsumura memerintahkan. “Kalian semua tinggalkan tempat ini.” Orang-orangpun bergegas keluar dari kandang.

Matsumura melompat masuk ke dalam kurungan. Lembu jantan itu terikat kuat dengan tali. “Tali itu sepertinya tidak terlalu kuat.” Matsumura bicara pada dirinya sendiri. “Jika binatang itu sampai lepas, dia akan menjebakku di dalam kurungan. Rasa takut muncul dalam dirinya, perutnya seolah diputar dan dicengkeram oleh tangan yang kuat. Matsumura mengambil napas dalam-dalam dan menghadapi lembu jantan itu, melawan rasa takutnya.

“Raja memintaku untuk mengalahkanmu. Tapi kau bukan musuhku.” Matsumura mengulurkan rambut ikatnya yang disisir rapi di atas kepalanya. Dia mencabut sebuah jepit rambut dan mencoba ujungnya di sebelah jarinya yang baru tertusuk duri. Sebuah titik berdarahpun muncul. Matsumura pernah mendengar para ahli bela diri yang bisa membunuh dengan sebuah jepit rambut. Tapi dia berharap bisa menyelamatkan satu nyawa dengan jepitnya.

Matsumura mengerjakan sebuah kuda-kuda siap bertarung di depan lembu jantan itu. Lembu itu melihatnya dengan penasaran. “Maafkan aku teman,” kata Matsumura. Kemudian dari dadanya, Matsumura mengeluarkan teriakan yang menakutkan, yang dikenal sebagai kiai, dan secepat kilat menusuk hidung lembu itu dengan jepit rambutnya.

Lembu itu berteriak, meronta dan menarik tali yang mengikatnya. Matanya liar. Kepala binatang itu memberontak berusaha menusuk Matsumura dengan tanduknya. Matsumura melihat tali yang mengikatnya. Masih kuat. Untung saja. Sebisa mungkin Matsumura menunggu dengan tenang. Akhirnya lembu itu tenang. Matsumura kembali melepaskan sebuah kiai yang kuat dan menusuk hidung lembu itu dengan jepitnya. Lembu itu kembali meronta dan mencoba untuk melawan. Matsumura menunggu binatang itu berhenti meronta. Lagi, dan lagi, dan lagi – kiai, tusuk, kiai, tusuk. Beberapa menit kemudian dia keluar dari kandang menghirup segarnya udara malam.

Hari berikutnya di festival, Matsumura sang kepala pengawal raja berjalan di sepanjang pinggir arena. Dia memeriksa penjagaan di pintu masuk dan menambah dua orang di belakang arena untuk mengawasi jika ada pengacau. Dengan matanya yang berpengalaman, dia mengawasi kerumunan penonton yang bisa saja menyakiti sang raja. Dia tidak melihat seorangpun. Orang-orang Okinawa sedang ingin berpesta. Bendera yang berwarna-warni menghiasi arena, dan bau sedap ikan panggang serta makanan lain memenuhi udara. Festival ini menjadi salah satu yang terbaik tahun ini. Orang-orang menyukai demonstrasi menunggang kuda, pertarungan dan kesempatan untuk makan dan bergembira. (Bersambung – Indoshotokan)

Artikel ini diterjemahkan dari buku “Legend of the Martial Arts Master” yang ditulis oleh Susan Lynn Peterson dengan judul aslinya”The General Fights a Bull”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.