KONTEN DILINDUNGI HAK CIPTA. DILARANG KERAS MENJIPLAK, MENGEDIT DAN MEMPERBANYAK SEBAGIAN ATAU SELURUH HALAMAN SITUS INI TANPA IJIN.

Cari Artikel

Showing posts with label RESENSI J-MOVIE. Show all posts
Showing posts with label RESENSI J-MOVIE. Show all posts

REVIEW J-MOVIE: BAKUMAN

Remaja SMU biasanya punya impian yang besar, dan di Jepang salah satu impian yang banyak digandrungi remajanya adalah menjadi (mangaka) seniman manga yang sukses. Imbalan untuk sebuah judul manga yang terbit di majalah nasional atau dijual dalam bentuk buku sangat menggiurkan. Belum lagi fans berat yang rela antri demi berfoto atau mendapat tanda tangan dari sang mangaka adalah kepuasan yang tak ternilai. Sementara itu ada editor penerbit yang rela memohon pada si mangaka agar mau membuat karya berikutnya. Pendeknya, menjadi seorang mangaka sungguh pekerjaan yang menyenangkan.

Tapi itu tidak berlaku untuk Mashiro Moritaka (diperankan Takeru Satoh). Paman Mashiro adalah seorang mangaka yang sedang berjuang untuk sukses. Ketika karyanya akhirnya diterbitkan dalam Weekly Shonen Jump (majalah manga terbesar di Jepang), paman Mashiro meninggal dunia tidak lama kemudian karena bekerja ekstra keras. Hal inilah yang membuat Mashiro terpukul dan enggan mengikuti jejaknya menjadi mangaka. Dia lebih memilih bekerja kantoran di perusahaan besar selepas SMU dan lulus dari universitas. Padahal sebenarnya Mashiro mempunyai bakat untuk mengikuti jejak pamannya.


Bakat Mashiro itu diketahui oleh teman sekelasnya, Akito Takagi (diperankan Ryunosuke Kamiki), yang secara tidak sengaja melihat hasil corat-coret Mashiro di bukunya. Akito adalah orang yang pandai bercerita. Dia lalu mengajak Mashiro bekerja sama demi satu tujuan; menggoncang dunia mangaka profesional Jepang dengan terjun didalamnya. Caranya? Mashiro menjadi ilustrator, sedangkan Akito menjadi penulis naskah. Mendengar hal itu jelas saja Mashiro menolak dan kemudian menghindar. Tapi Akito tidak putus asa, dan mengejar Mashiro sampai mereka berdua bertemu dengan Miho Azuki.

Miho adalah gadis yang disukai oleh Mashiro. Mimpinya adalah menjadi seorang seiyuu (pengisi suara) profesional. Akito bercerita pada Miho bahwa dia dan Mashiro bercita-cita manjadi seniman manga. Akito juga bercerita jika karya mereka diadaptasi menjadi sebuah manga, akan lebih sempurna jika Miho menjadi tokoh utamanya. Mashiro yang mendadak bersemangat berkata pada Miho bahwa mereka akan menjadi mangaka sukses jika Miho mau menikah dengannya. Miho yang malu dan sedikit bingung, mengaku jika diapun menyukai Mashiro. Miho bersedia menunggu Mashiro yang bekerja keras untuk mewujudkan mimpinya itu. Seakan mendapatkan energi luar biasa, sejak hari itu Mashiro dan Akito berjuang keras membuat manga demi mencapai satu tujuan: Weekly Shonen Jump. Berhasilkah usahanya?


Bakuman adalah sebuah live action adaptasi dari serial manga populer berjudul sama karya Takeshi Obata dan Tsugumi Ohba. Bagi sobat pecinta manga pastinya sudah tidak asing lagi dengan keduanya. Benar, mereka adalah tim kreatif dibalik manga Death Note. Di versi manganya Bakuman terdiri dari 176 chapter dan terbit di Weekly Shonen Jump sejak 2008 sampai 2012. Tiga season animenya juga sempat dibuat dan baru berakhir 2013 lalu. Sedangkan untuk versi live actionnya tayang di bioskop Jepang 3 Oktober 2015. Takeru Satoh dan Ryunosuke Kamiki yang sebelumnya menjadi musuh bebuyutan dalam live action Rurouni Kenshin kembali dipertemukan sebagai partner. Di Festival Film Jepang 2015 Bakuman menjadi salah satu film terpopuler.

Bakuman ditujukan bagi para pecinta manga yang juga mengapresiasi proses pembuatannya. Sekedar informasi, Bakuman juga terinsipirasi dari real life yang dijalani oleh sang mangaka. Membuat sebuah manga yang diminati agar dimuat di Weekly Shonen Jump bukan perkara gampang. Apalagi untuk mangaka pendatang baru seperti Mashiro. Walaupun manga buatan mereka bagus bukan berarti lantas terbit begitu saja. Jika manga itu tidak populer, maka sang mangaka harus memutar otak membuat judul baru. Tidak populer bukan berarti karya mereka jelek, namun berarti pasar sulit menerima atau judul itu tidak bisa dibuatkan animenya. Di film ini juga diceritakan persaingan antara Mashiro dengan mangaka pendatang baru Eiji Nizuma yang tak kalah serunya.


Untungnya, film tidak melulu berisi jatuh bangun kerja keras Mashiro saja. Film ini juga dibumbui adegan komedi yang fresh. Misalnya ketika Mashiro dan Akito bertengkar masalah ide, mereka dibawa masuk ke dunia komik dan bertarung antar frame dengan menggunakan pena ajaib. Lucu dan orisinil idenya. Bakugan menonjolkan cerita yang dikemas sederhana, menarik, tidak ada karakter super hero dan tidak ada adegan action yang membuat tipis kantong produser. Ini semua yang membuat film ini sukses. Takeru Satoh mengaku dia sangat senang bekerja untuk sebuah film yang luar biasa, terlepas dari jumlah penontonnya. Bakugan menjadi live action tersukses kedua yang pernah dibintanginya setelah trilogi Rurouni Kenshin.

Sukses memang butuh pengorbanan dan tidak semudah saat kita membolak-balik halaman komik. Apakah sobat pecinta sejati manga? Atau justru ingin menjadi mangaka profesional? Silahkan menonton Bakuman. (Indoshotokan)

REVIEW J-MOVIE: MISONO YUNIBASU

Rasa sakit menghantam manusia dengan berbagai cara. Kadang ada yang hanya mampir sebentar lalu pergi begitu saja. Kadang menyerang begitu kuatnya seperti pukulan yang menghujam ke tubuh. Sangat menyakitkan rasanya. Kadang tanpa disangka-sangka datang menghampiri saat kita tidak sadar. Ketika kita sedang berada di titik terbawah dalam kehidupan kita, rasa sakit akan menjadi teman akrab. Apa yang kita lakukan untuk menghadapi rasa sakit itu menunjukkan jati diri kita yang sebenarnya.

Shigeo Omori (diperankan Shubaru Shibutani) adalah mantan anggota gangster yang baru dibebaskan dari penjara setelah dihukum 18 bulan lamanya. Karena tidak punya tempat tujuan, yang ada di benaknya adalah kembali menemui teman-teman lamanya. Bukannya disambut baik, Shigeo malah dihajar telak sampai tidak sadarkan diri. Ketika siuman dia tidak ingat apa-apa. Ya, Shigeo yang malang menderita amnesia setelah menerima pukulan keras tongkat baseball di kepalanya. Beruntung dia masih selamat. Berjalan dalam kebingungan, langkah Shigeo membawanya ke tengah alun-alun di kota Osaka.

Kebetulan saat itu ada grup band amatir yang sedang manggung. Suara musik yang keras dari panggung pertunjukan menarik perhatian Shigeo. Walaupun amnesia, Shigeo masih ingat beberapa lagu kesukaannya. Entah apa yang terlintas di pikirannya, dengan spontan dia menyeruak kerumunan penonton, meraih mikrofon dan langsung menyanyi. Para penonton sejenak terpaku dan heran melihat aksinya, tapi itu tidak berlangsung lama. Tampaknya pria asing ini bisa menyanyi. Penontonpun bersorak sorai dengan aksi panggung dadakan Shigeo.


Sang manajer band, Kasumi Sato (diperankan Fumi Nikaido) tertarik dengan penampilan Shigeo. Bukan tanpa alasan Kasumi melakukannya, ini karena vokalis band itu sedang cedera karena kecelakaan. Karena tidak punya tempat tujuan, Kasumi bersedia menampung Shigeo di rumahnya. Di rumah itu Kasumi tinggal dengan kakeknya yang juga mempunyai studio rekaman kecil. Kasumi menyebut Shigeo dengan “Pochi” yang diambil dari nama anjing kesayangannya. Dan begitulah, Shigeo membantu Kasumi dan band-nya dengan menjadi vokalis. Tapi masalah timbul ketika ingatannya perlahan mulai pulih dan Kasumi yang diam-diam menyelidiki masa lalunya. Shigeo dihadapkan pada pilihan sulit; akankah dia kembali ke dunia lamanya, ataukah menjalani hidupnya yang baru dengan Kasumi?

Misono Yunibasu, dalam Bahasa Inggrisnya diterjemahkan La La La At Rock Bottom, adalah sebuah film drama apik garapan sutradara Nobuhiro Yamashita. Film yang mengambil tema dunia musik ini juga menampilkan grup band Akainu yang turut menyumbangkan aktingnya. Dalam Misono Yunibasu, dua tokoh utama yaitu Kasumi dan Shigeo bersama-sama menjalani hidup mereka yang pahit dengan menggunakan musik sebagai obatnya. Ingatan terbaik Shigeo adalah lagu berjudul “Old Diary.” Sementara di sisi lain, lagu itu mengingatkan Kasumi akan pengalaman hidupnya yang menyedihkan. Dua poin ini menjadikan hubungan antara Kasumi dan Shigeo unik, tapi ada ketulusan diantara mereka.


Menonton Misono Yunibasu mengingatkan kita film Jepang lain berjudul Linda Linda Linda (2005). Film yang juga digarap oleh Nobuhiro Yamashita itu ceritanya hampir sama. Bedanya di Misono Yunibasu ini sedikit lebih suram dan ditujukan untuk audiens dewasa. Melihat dari alurnya, bukan film yang ambisius memang, tapi tetap menyenangkan untuk ditonton. Jangan heran kalau melihat Shigeo bisa menyanyi, ini karena Shubaru Shibutani sang pemerannya adalah member dari boyband Kanjani Eight. Kakek Kasumi juga menyenangkan terutama ketika dia menganggap Shigeo adalah anaknya sendiri. Ada juga Noriko yang merupakan adik dari Shigeo yang dari dialah diketahui masa lalu Shigeo dan keluarganya yang pedih.

Overall, film ini cukup seimbang antara drama dan komedi. Tema amnesia dan bagaimana kita harus move-on memang bukan barang baru, tapi ketika dipadu dengan musik jelas membuatnya berbeda. Misono Yunibasu ini sudah tayang di bioskop Jepang Februari 2015 lalu dan bisa menjadi alternatif pilihan tontonan menarik. (Indoshotokan)

REVIEW J-MOVIE: HANA TO ARISU SATSUJIN JIKEN

Tetsuko Arisugawa (atau disingkat Alice) adalah gadis remaja 14 tahun yang pindah ke pedesaan mengikuti sang ibu yang baru bercerai dengan ayahnya. Tapi semua tidak berjalan mulus seperti yang dipikirkannya. Di sekolah dia dijauhi dan kadang disakiti oleh teman-temannya. Mengapa begitu? Ketika pertama masuk kelas, oleh gurunya Tetsuko diminta duduk di bangku bekas murid yang konon sekarang sudah mati. Dulunya bangku itu milik murid laki-laki bernama Yuda Kotaro (di film ini diplesetkan dengan Judas). Merasa penasaran, Tetsuko mencari tahu mengapa orang lain menjauhinya. Tetsuko menemukan bahwa Yuda dulunya menikah secara diam-diam dengan empat gadis di sekolah itu. Tapi setelah itu tiba-tiba Yuda menghilang begitu saja. Rumor yang beredar menyebut jika salah satu dari istri Yuda meracuninya sampai mati.

Orang-orang di desa itu masih percaya dengan takhayul. Mereka percaya jika arwah Yuda masih berkeliaran. Karena Tetsuko duduk di bangkunya, dia dianggap membawa sial. Tetsuko merasa ada yang janggal. Tapi murid lain sulit diminta keterangan karena mereka percaya ada roh jahat yang duduk di bangku itu. Tetsuko ingin mengakhiri kasus ini dan diapun melakukan penyelidikan. Setelah mencari tahu kesana kemari, penyelidikannya mengarah pada seorang teman sekolah bernama Hana Arai. Sama seperti anak lainnya, Hana juga percaya roh jahat. Dia begitu ketakutan dan sudah hampir setahun tidak masuk sekolah. Dulu di kelas Hana duduk persis di belakang Yuda, dan dia sebenarnya menyukainya. Butuh usaha yang tidak gampang untuk meyakinkan Hana. Akhirnya setelah mendengar cerita Tetsuko diapun setuju membantu penyelidikannya.


Merasa familiar dengan nama “Hana dan Alice?” Tebakan sobat bisa jadi benar. Film animasi ini masih disutradarai oleh Shunji Iwai dan menjadi prekuel dari live actionnya yang menjadi hit di tahun 2004 silam. Disini diceritakan bagaimana Tetsuko dan Hana, dua sahabat karib itu pertama kali bertemu. Anne Suzuki dan Yu Aoi yang dulu memerankan tokohnya di versi live action tetap dipertahankan. Hanya saja mereka kini menjadi seiyuu alias voice actor.

Drama remaja yang diangkat ke layar animasi di Jepang bukanlah hal baru. Tapi produser film Jepang selalu melakukannya dengan baik karena ada yang ditonjolkan (kualitas visual, plot, dsb). Menonton Hana to Arisu Satsujin Jiken ini mengingatkan pada film kartun Amerika keluaran Nickelodeon tahun 90-an. Karakter yang digambar bergaya realis dengan warna pastel bisa menipu penonton seolah ini adalah anime lawas. Untuk cerita, petualangan Tetsuko dan Hana ini sebenarnya biasa saja. Tapi justru hal yang biasa itulah yang membuatnya istimewa. Misalnya ketika Tetsuko menguntit seorang pria paruh baya yang dikiranya ayah Yuda. Ternyata setelah mengintai berjam-jam tidak menghasilkan apapun. Ada lagi saat mereka ketinggalan kereta terakhir hingga harus menginap di tempat parkir dibawah mesin truk yang hangat.


Produksi filmnya cukup bagus dan berbeda dari anime Jepang umumnya. Visualnya indah karena menggunakan warna-warna pastel dipadu teknologi 3D cel-shaded dengan metode rotoscoping. Bagi sobat yang masih asing, 3D cel-shaded umumnya digunakan untuk membuat gambar kartun dua dimensi menjadi lebih hidup. Selain film, yang banyak memakainya adalah developer game yang mengadaptasi dari anime. Sedangkan rotoscoping adalah cara untuk mentransfer gerakan aktor dalam sebuah adegan film kedalam film animasi atau serentetan adegan lain. Sebagai contoh, di film ini ada adegan tokoh yang menari balet. Nah, agar lebih hidup dibutuhkan aktor yang bisa memperagakan gerakan balet. Selanjutnya gerakan aktor tadi direkam dalam komputer dan diubah dalam versi animasi. Bagaimana hasilnya? Lihat saja sendiri di filmnya.

Sebuah anime yang bagus tidak harus menonjolkan action, bukan? Hana to Arisu Satsujin Jiken ini salah satu buktinya. Cerita yang ringan, menghibur, dengan kualitas animasi setara film produksi Disney adalah poin lebihnya. Film ini ditayangkan di bioskop Jepang tanggal 20 Februari 2015 lalu. Sebuah film yang sayang untuk dilewatkan. (Indoshotokan)

REVIEW J-MOVIE: FLYING COLORS

Ketika masih SD Sayaka Kudo (diperankan Kasumi Arimura) adalah seorang anak yang penyendiri. Dia sulit menjalin pertemanan. Ketika masuk SMP barulah dia berhasil mendapatkan beberapa teman. Apakah sebuah kabar baik? Antara ya dan tidak. Kabar baiknya Sayaka tidak lagi dicap sebagai gadis kurang pergaulan. Kabar buruknya, Sayaka lebih suka kabur saat jam pelajaran, bermain dan pergi keluyuran bersama teman-teman sebayanya.

Saat masuk SMU Sayaka sering berpindah-pindah sekolah hingga akhirnya dia masuk ke SMU wanita. Walaupun sudah kelas dua SMU, nilai akademiknya hanya setara anak kelas 4 SD. Penampilan Sayaka juga lebih unik ketimbang anak SMU pada umumnya. Dia mengecat pirang rambutnya dan memakai rok lebih pendek daripada teman-teman sekolahnya. Itulah mengapa sebelumnya banyak sekolah lain menolaknya karena berpikir Sayaka adalah anak nakal. Pernah dia harus diskors karena kedapatan membawa rokok ke sekolah. Tapi sebenarnya Sayaka bukanlah anak nakal. Sifatnya justru periang, dan sang ibu sangat menyayanginya walaupun di sekolah nilainya jeblok.

Karena kebiasaan lamanya sulit hilang, masa depan Sayaka bisa jadi suram. Ibunya lalu berpikir untuk memasukkan anaknya ke sekolah khusus Seiho. Sekolah ini memang ditujukan bagi remaja yang mempunyai problem khusus. Ibu Sayaka juga ingin melihat anaknya lulus SMU dan ujian masuk universitas yang semakin dekat. Tapi rencana itu ditentang oleh suaminya yang menganggap sekolah khusus hanya menipu demi uang saja. Bahkan ayah Sayaka kerap menyebut anaknya sendiri tolol. Berbeda dengan ibunya, ayah Sayaka lebih memperhatikan Ryuta, kakak Sayaka, untuk menjadi pemain baseball profesional.


Di Seiho sang kepala sekolah yaitu Yoshitaka Kubota mendengar kabar tentang Sayaka. Yoshitaka lalu mengambil keputusan bahwa dia sendiri yang akan membimbing Sayaka, agar muridnya itu berhasil masuk ke universitas favorit Jepang yaitu Keio. Yoshitaka adalah guru yang sangat sabar dan punya cara berbeda dalam mendidik muridnya. Memang tidak gampang pada awalnya. Tapi mereka berhasil melalui masa-masa sulit itu. Yang jelas Sayaka menjadi termotivasi dan fokus pada tujuannya. Dia bahkan mengembalikan warna rambutnya menjadi hitam. Sepanjang liburan musim panas hingga ujian akhir kelulusan, Sayaka belajar keras hingga kurang tidur. Dia ingin membuktikan bahwa ayahnya salah dan begitu juga teman-temannya yang mengejeknya.

Flying Colors adalah sebuah film apik adaptasi dari sebuah novel laris karya Nobutaka Tsubota berjudul “Gakunen Biri no Gyaru ga 1 nen de Hensachi o 40 Agete Keio Daigaku ni Geneki Gokaku Shita Hanashi”  (wow, panjang sekali judulnya, ya?), yang artinya, “Seorang Gadis Terbawah di Kelasnya Berhasil Menaikkan Standar Nilainya Menjadi 40 dalam Setahun dan Lulus Ujian Masuk Universitas Keio.” Novel itu berdasarkan kisah nyata yang dialami oleh penulisnya yang membimbing seorang gadis bernama Sayaka Kobayashi yang berhasil menaikkan nilainya dalam waktu 1.5 tahun. Sayaka yang nilai standarnya sama dengan anak kelas 4 SD itu berhasil lulus ke Universitas Keio yang prestisius.


Lalu bagaimana dengan Sayaka di versi film ini? Apakah dia berhasil masuk ke universitas pilihannya? Tentu saja! Tidak akan jadi novel laris jika penulisnya gagal, bukan? Sebagai film yang tidak diunggulkan, tema dan alurnya mudah ditebak. Tapi film ini menyuguhkan sisi lain disamping realita persaingan ketat antar murid di Jepang. Seolah enggan memilih tema serius, Flying Colors lebih menonjolkan unsur komedi. Nobuhiro Doi sang sutradara berhasil membuat film yang menginspirasi, tapi tetap menyenangkan dan menghibur penontonnya.

Kasumi Arimura yang sebelumnya tampil di Strobe Edge berakting bagus di film ini. Gayanya yang komikal tapi percaya diri menjadi memorable. Sementara itu Atsushi Ito sebagai Yoshitaka sang kepala sekolah culun tapi super sabar juga patut diacungi jempol. Bagaimana usahanya untuk membantu Sayaka menjadi momen terbaik. Secara keseluruhan Flying Colors terbilang memuaskan. Namun ada beberapa lelucon yang penontonnya butuh pengetahuan tentang Jepang agar bisa mengerti. Tapi toh itu bukan keharusan karena film tetap asyik ditonton. Flying Colors tayang di Jepang bulan Mei 2015 lalu, dan saya penasaran apa yang berikutnya akan dilakukan oleh Sayaka. (Indoshotokan)

REVIEW J-MOVIE: ORANGE

Drama remaja dengan kisah cinta menghanyutkan memang seru diangkat ke layar kaca. Di akhir tahun 2015 giliran manga remaja populer terbitan Shueisha berjudul Orange yang dibuatkan live actionnya. Manga yang ditulis oleh Ichigo Takano itu mulanya dibuat berseri di majalah bulanan Bessatsu Margaret dan Monthly Action sejak April 2012. Sedangkan versi live actionnya dirilis tanggal 12 Desember 2015 dan disutradarai oleh Kojiro Hashimoto. Sebelumnya Hashimoto juga sukses menggarap live action Kimi ni Todoke (2010) dan Saru the Lock Movie (2010).

Takamiya Naho adalah gadis pelajar SMU yang mengalami kejadian tidak biasa. Suatu hari Takamiya mendapat kiriman surat dari seseorang yang mengaku dirinya dari masa depan. Mulanya Takamiya tidak mau percaya begitu saja dan mengabaikan isi surat itu. Akan tetapi surat itu bisa menguraikan dengan jelas kejadian yang akan dialami Takamiya di hari itu. Menurut surat itu Takamiya akan bertemu dan menyukai seorang murid pindahan dari Tokyo bernama Naruse Kakeru. Dalam surat itu Takamiya di masa depan berulang kali menyatakan penyesalannya karena tidak mampu menjaga Naruse. Dia meminta dirinya di masa lalu untuk mengambil keputusan tepat menyangkut Naruse. Ini karena sepuluh tahun kemudian Naruse sudah tidak lagi bersama dengannya.


Bagaimana itu bisa terjadi? Di kejadian aslinya, setelah pulang sekolah Naruse diminta langsung ke rumah oleh ibunya karena sang ibu meminta diantar ke dokter. Tetapi Naruse mengabaikan nasihat itu dan lebih memilih pergi bersama Takamiya dan teman-temannya. Ketika pulang ke rumah Naruse mendapati ibunya sudah meninggal akibat bunuh diri. Menyesal dan menyalahkan diri sendiri, Naruse lantas juga ikut bunuh diri. Teman-temannya banyak yang mengira kematian Naruse adalah kecelakaan. Inilah yang ingin dirubah oleh Takamiya di masa depan. Dia berharap agar dirinya di masa lalu bisa memperbaiki kesalahannya.

Sebuah film romance biasanya tidak akan seru tanpa dibumbui cinta segitiga. Nah begitu pula dengan film Orange ini. Diantara teman sekolah Takamiya ada Suwa Hiroto yang menyukainya. Suwa adalah tipikal remaja yang berpikiran dewasa. Dia selalu ada untuk Takamiya dan menolongnya ketika orang yang disukainya mendapat kesulitan. Setelah kematian Naruse di masa depan, Suwa menikah dengan Takamiya dan mereka mempunyai seorang anak. Suwa sadar jika dia bukanlah orang yang diinginkan oleh Takamiya. Melihat Takamiya yang selalu bersedih, Suwa mengirimkan surat untuk dirinya di masa lalu. Dalam surat itu Suwa meminta agar dirinya di masa lalu tetap membahagiakan Takamiya walaupun bukan kelak dia tidak bersamanya.


Alur cerita dalam Orange sebetulnya tidak istimewa. Cerita tokoh yang menyesal lantas berusaha memperbaiki masa lalu dengan manipulasi waktu juga bukan barang baru. Sebut saja Suteki na Sen TAXI, misalnya. Tapi di Jepang manga besutan Ichigo Takano itu ratingnya cukup tinggi. Dengan hanya 22 chapter yang dibagi dalam 5 volume, manga itu baru berakhir pertengahan Agustus 2015 lalu. Sedangkan versi live actionnya mulai digarap dua minggu setelah manganya berakhir. Ini terbilang sangat cepat untuk sebuah film adaptasi. Penggemar sebelumnya dibuat khawatir jika serial manga-nya tidak akan rampung. Ini karena Ichigo Takano sempat menyatakan berhenti dari pekerjaannya sebagai mangaka sebelum chapter terakhir ditulis. Tapi untunglah Takano bersedia menyelesaikan endingnya dan penggemarpun bernapas lega.

Ide dunia paralel yang dipadu dengan kisah romantis memang menarik untuk disimak. Secara keseluruhan, film berdurasi 139 menit ini cukup mengharukan dan menghibur. Apalagi akting Tao Tsuchiya sebagai Takamiya dan Kento Yamazaki sebagai Naruse Kakeru juga klop. Selamat menonton.(Indoshotokan)

REVIEW J-MOVIE: ANSATSU KYOSHITSU

Apa jadinya jika sobat harus masuk ke sebuah kelas dengan diberi dua tugas sekaligus; belajar keras untuk lulus dan membunuh guru wali kelas? “Nurufufufu.....” yap, itulah gaya tertawa khas dari Koro-sensei, sang guru alien yang meminta muridnya melakukan tugas aneh itu. Haaa...? Membunuh guru sendiri? Oops, jangan kaget dulu karena semuanya itu hanya ada di film berjudul Ansatsu Kyoshitsu (berarti: Kelas Pembunuhan). Diadaptasi dari manga/anime berjudul sama karya Yusei Matsui, film pertama dari versi live actionnya dirilis Maret 2015 lalu. Sekuelnya yang berjudul Ansatsu Kyoshitsu: Sotsugyo-hen (berarti: Kelas Pembunuhan: Kelulusan) direncanakan tayang pertengahan tahun 2016.

Entah darimana asalnya, seekor monster alien mengancam akan menghancurkan bumi. Sebelumnya monster aneh berbentuk gurita itu telah menghancurkan 70% bulan dan mengubahnya berbentuk bulan sabit selamanya. Tapi si monster menawarkan manusia untuk mengubah takdirnya. Dia memberi waktu satu tahun bagi manusia untuk membunuhnya. Jika gagal, maka bumi akan dihancurkan. Untuk mengisi waktu luangnya, monster itu mengambil pekerjaan sebagai guru wali kelas di SMP Kunugigaoka. Dia memilih kelas 3E yang dipenuhi murid-murid bandel dan bermasalah. Mengapa si monster memilih kelas 3E? Jawabannya masih misterius, tapi yang jelas pemerintah tidak bisa berkata apa-apa dan bersedia menuruti permintaannya.


Melihat kelasnya tiba-tiba didatangi monster aneh yang akan menghancurkan dunia kontan membuat seisi kelas panik. Sebagai guru, Koro-sensei (berarti “Guru monster yang tidak bisa dibunuh”), begitulah para murid menyebutnya, bersikap seperti guru yang baik. Dia rajin memotivasi muridnya dan berusaha keras membangkitkan potensi yang mereka punya. Walau sikapnya sangat perhatian, Koro-sensei mengingatkan murid-muridnya untuk berusaha membunuhnya di sela waktu pelajaran. Diam-diam pemerintah lalu meminta bantuan para murid untuk berusaha membunuh Koro-sensei. Tidak tanggung-tanggung, hadiah bagi yang berhasil adalah sepuluh juta yen.

Tapi itu bukanlah perkara mudah karena Koro-sensei punya kekuatan dan kecepatan yang luar biasa. Selain itu para murid terlanjur menganggap Koro-sensei sebagai guru terbaik mereka berkat sikapnya yang hangat dan ramah. Sejak permintaan dari pemerintah, para murid sering terlibat aksi kocak dan komikal ketika menyusun rencana dan beraksi untuk membunuh guru mereka.

Pada intinya, Ansatsu Kyoushitsu mirip dengan serial manga/anime/dorama lawas berjudul Great Teacher Onizuka (GTO). Sebuah serial yang menceritakan Eikichi Onizuka, seorang guru SMU mantan anggota geng yang peduli dengan muridnya dan mau bekerja keras dengan mereka. Walau terlihat lucu, Koro-sensei sebenarnya melatih satu persatu muridnya cara untuk membunuhnya. Lebih jauh, sementara murid-murid kian menyukai Koro-sensei, kenyataan bahwa mereka harus membunuh gurunya membuat alur cerita lucu, dramatis dan menyentuh.


Berseting di dunia yang sama dengan versi manganya, Ansatsu Kyoushitsu versi live action ini bisa mengadaptasi dengan baik 75 chapter manga kedalam film berdurasi 110 menit. Dari humor ke drama serius, film ini sukses menayangkan plot-plot penting dari manganya. Walau terkesan cepat, penonton tidak akan kesulitan mengikuti alur ceritanya. Di sepuluh menit pertama penonton diperkenalkan dengan tokoh-tokoh kunci. Tapi karena sebuah live action, tentunya ada beberapa perbedaan dengan versi originalnya. Misalnya ada tokoh bernama Ayaka yang eksklusif hanya ada di film ini. Ayaka merupakan teman masa kecil Nagisa, sang tokoh utama. Sebenarnya Ayaka bukanlah tokoh penting dan tanpa kemunculannya cerita masih bisa berjalan. Tapi entah mengapa sang sutradara harus memasukkan tokoh ini yang seharusnya bisa diganti dengan plot penting dari manganya saja.

Sesuai judulnya, adegan film diambil di sebuah sekolah yang kelihatannya bangunan lama yang telah ditinggalkan. Lokasinya yang terletak di tengah pegunungan terpencil pas memberi kesan bahwa sekolah ini adalah pilihan akhir bagi murid-murid bermasalah. Tapi sisi negatifnya, karena kebanyakan adegan dilakukan di ruang kelas, memberikan kesan monoton pada filmnya.


Sebagai Nagisa Shiota sang tokoh utama diperankan oleh Ryosuke Yamada, anggota idol group Hey! Say! JUMP’s. Bicara soal wajah, Yamada versi live action sebetulnya tidak mirip dengan versi manganya karena terlalu imut. Tapi sutradara memilihnya karena aktingnya bisa mewakili tokoh aslinya yang bertubuh kecil, pemalu dan selalu penasaran. Masih ada pula Kang Ji Young yang berhasil memerankan Irina Jelavic, seorang guru Bahasa Inggris yang seksi tapi identitas aslinya adalah pembunuh asal Rusia. Yang paling keren justru Kazunari Ninomiya yang memerankan Koro-sensei meskipun hanya voice actingnya saja. Kebanyakan Koro-sensei berupa animasi CG, tapi lewat suaranya Ninomiya bisa menghidupkan karakternya dengan baik.

Secara keseluruhan, film ini cocok ditonton jika sobat punya waktu luang. Meskipun ada jarak di beberapa plotnya, Ansatsu Kyoshitsu menawarkan cerita yang kocak, penuh aksi dan menghangatkan hati. Walau bukan penggemar manga/animenya, seiring cerita berjalan bukan tidak mungkin sobat juga akan menyukai tokoh Koro-sensei. (Indoshotokan)

REVIEW J-MOVIE: BORUTO: NARUTO THE MOVIE

Penggemar anime Naruto mengira jika movie kesebelas yang berjudul The Last: Naruto the Movie akan menjadi penutup serial populer ini. Tapi Masashi Kishimoto selaku mangaka mengumumkan akan ada sekuel movie baru yang berjudul Boruto: Naruto the Movie. Jika pada movie sebelumnya berisi konklusi hubungan cinta Naruto dan Hinata, maka pada movie kedua belas ini lebih banyak pada shinobi generasi baru. Movie ini tayang di bioskop Jepang tanggal 7 Agustus 2015 lalu dan untuk pasar Amerika Eropa 10 Oktober 2015. Review ini berisi sinopsis berikut spoiler ending dari filmya. Jika sobat ingin lebih menikmati filmnya, boleh saja melewati artikel ini.

Jika ada pahlawan paling berpengaruh di Perang Dunia Ninja Keempat, maka Naruto Uzumaki-lah orangnya. Tidak terasa sudah beberapa tahun sejak perang besar itu berakhir. Dunia ninja kini menikmati masa damai dan begitu pula dengan Konohagakure. Tidak ada lagi perseteruan antar klan atau desa seperti yang terjadi sebelumnya.

Sejak awal perjalanan karir ninjanya, Naruto sudah bercita-cita menjadi Hokage. Berkat aksi heroiknya Naruto berhasil mencapai tujuannya itu. Sebagai Hokage ketujuh, Naruto berhasil membuat desanya lebih besar dan makmur. Bahkan sekarang desa ninja itu maju pesat teknologinya. Dalam waktu lima belas tahun saja komputer dan game portable sudah jadi barang umum. Diceritakan bahwa Naruto telah menikah dengan Hinata dan mempunyai seorang anak laki-laki bernama Boruto. Saat itu Boruto sudah menjadi genin dan satu tim dengan Sarada Uchiha dan Mitsuki. Sayangnya, sukses Naruto sebagai pemimpin berbanding terbalik dengan perannya sebagai seorang ayah.


Bahkan sebelum anaknya lahir Naruto adalah seorang workaholic, pekerja keras yang hanya memikirkan kemajuan desanya. Kini setelah anaknya berumur dua belas tahun, kebiasaan Naruto masih belum berubah. Karena sibuk, Naruto harus sering menggunakan Kage Bunshin no Jutsu (jurus klon bayangan) untuk membantu pekerjaannya dan berada di banyak tempat sekaligus. Masalahnya, ketika harus berkumpul di acara keluarga. Bukannya datang sendiri Naruto justru hanya mengirimkan klon bayangannya. Lebih buruknya lagi, jika kelewat sibuk dia tidak perlu repot-repot mengirimkan klon dan hanya mengirim e-mail saja pada anak istrinya.

Melihat dirinya, adiknya dan ibunya sering diabaikan seperti itu, membuat Boruto mulai membenci ayahnya. Karena hidup di jaman damai, Boruto juga tidak mengetahui jika ayahnya adalah seorang pahlawan. Tapi dibalik marahnya, Boruto ingin kemampuannya diakui sang ayah. Karena itu dia mulai melakukan banyak hal untuk lulus ujian ninja. Termasuk mendatangi Uchiha Sasuke demi mengetahui kelemahan ayahnya. Bagi Boruto, sosok Sasuke lebih mengagumkan ketimbang Naruto. Sasuke tidak terikat apapun atau siapapun. Dia juga tidak perlu mengirim klon bayangan seperti ayahnya. Setelah dibujuk oleh Sarada, Sasuke setuju menerima Boruto sebagai muridnya dan membantunya menguasai Rasengan, sebuah jurus yang Naruto sendiri berusaha keras untuk terus menyempurnakannya.


Masalah muncul ketika gadget canggih bernama Kote diperkenalkan di dunia ninja oleh ninja ilmuwa bernama Katasuke. Alat ini memungkinkan seorang ninja yang lemah sekalipun mengeluarkan kemampuan hebat layaknya ninja level tinggi. Sebagai Hokage, Naruto telah melarang alat itu dan jika ada yang menggunakannya dalam ujian ninja, maka dianggap tindakan curang dan didiskualifikasi. Menjelang ujian chunin Boruto menghadapi dua pilihan yang sulit; menggunakan alat itu di ujian, berlaku curang, tapi mungkin bisa mendapatkan perhatian ayahnya; Atau percaya pada teman-temannya, mengandalkan kekuatan sendiri, tapi mungkin akan gagal. Setidaknya begitu isi pikirannya.

Sementara itu di dimensi lain dua ninja jahat yaitu Momoshiki dan Kinshiki berhasil mengambil Gyuki (ekor delapan) dari Killer B. Saat ujian chunin memasuki ronde ketiga, keduanya tiba-tiba muncul di arena. Dengan membuat keributan, mereka ingin mengambil Kurama (ekor sembilan) dari Naruto. Boruto mencoba menolong ayahnya dengan menggunakan Kote. Tapi upayanya sia-sia karena semua serangannya diserap oleh Rinnegan dari Momoshiki. Melihat anak-anak dalam bahaya, Naruto dan Sasuke menggabungkan kekuatan mereka. Demi melindungi Boruto dan orang lain, Naruto sengaja membiarkan tubuhnya diserap oleh musuh.


Saat siuman Boruto mendapati ibunya tengah diobati oleh Sakura karena mencoba menolong Naruto. Boruto merasa bersalah karena tidak mengerti apa yang dilakukan ayahnya selama ini. Berkat kekuatan Rinnegan miliknya Sasuke bisa merasakan keberadaan Naruto di dimensi lain. Bersama keempat Kage lainnya, Sasuke melakukan teleportasi ke sarang musuh demi menyelamatkan Naruto. Untuk menebus kesalahannya, Boruto ingin mengikuti Sasuke. Dengan bijak Sasuke menghibur Boruto jika anak-anak akan selalu melakukan kesalahan. Sama halnya seperti ketika mereka masih kecil, dan tugas orang dewasalah untuk memaafkan dan membimbing mereka ke jalan yang benar.

Di dimensi lain mereka berhasil membebaskan Naruto. Untuk mengalahkan musuhnya, Momoshiki mengubah Kinshiki menjadi pil chakra dan menelannya. Kekuatan Momoshiki meningkat drastis dan membuat repot Naruto dan teman-temannya. Naruto menggabungkan kekuatan Kurama miliknya dengan Susanoo milik Sasuke dan berhasil mengalahkan Momoshiki. Namun semuanya belum berakhir. Ketika Katasuke ingin menggunakan alatnya pada Momoshiki, tiba-tiba dia menyerap semua kekuatannya. Momoshiki yang bangkit kembali menangkap para Kage dan Naruto untuk merebut Kurama miliknya.


Sasuke melindungi Boruto dan memintanya menggunakan Rasengan. Boruto ragu-ragu karena Rasengan miliknya terlalu kecil dan lemah, tapi Sasuke terus mendukungnya melakukan yang terbaik. Boruto melemparkan Rasengan dan berhasil membebaskan Naruto dari belenggu. Demi memusnahkan Momoshiki selamanya, Naruto meminjamkan chakranya pada Boruto untuk menciptakan Rasengan raksasa. Dengan jurus Kage Bunshin no Jutsu Boruto mengecoh Momoshiki untuk membereskan Rinnegan-nya. Saat musuhnya lengah, Boruto melemparkan Rasengan dan sukses menghancurkan Momoshiki untuk selamanya.

Usai pertarungan yang melelahkan itu Naruto dan Boruto memperbaiki hubungan mereka. Ketika kembali ke desa, Boruto berkata pada Sarada jika dia tidak ingin menjadi Hokage seperti ayahnya. Tapi Boruto berjanji akan menjaga Sarada jika kelak dia yang menjadi Hokage. Lebih jauh, Boruto ingin menjadi shinobi seperti Sasuke yang menjaga desa dan Hokage.


Sebuah film layar lebar Naruto yang cukup memuaskan walaupun alur ceritanya klise dan mudah ditebak. Yang paling bagus dari film ini adalah animasi pertarungan duo Naruto-Sasuke yang cepat dan penuh kilatan. Sayangnya kehadiran musuh disini terkesan sebagai pelengkap saja untuk memberikan klimaks pada alur cerita. Buruknya lagi, tokoh lama seperti Hatake Kakashi dan Yamato tidak muncul. Padahal jika ada mereka cerita akan lebih ramai. Lalu bagaimana dengan anak-anak dari Shinobi Konoha lainnya? Kecuali Sarada Uchiha, mereka tidak punya peran penting di film ini. Penonton bisa melihat mereka meskipun hanya di beberapa scene dan background saja. Ah, sayang sekali. (Indoshotokan)

REVIEW J-MOVIE: CORPSE PARTY

Corpse Party mulai debutnya sebagai sebuah game doujin yang dirilis oleh Team GrisGris pertama kali tahun 1996 untuk PC-9801. Dikembangkan dengan software RPG Maker, Corpse Party adalah game survival horror dengan pengalaman adventure yang mendalam bagi pemain. Game ini mendapatkan sekuelnya tahun 2008 dengan engine grafis yang lebih baik berjudul Corpse Party: Blood Covered untuk Windows. Setelah itu beberapa sekuel dan spin-off muncul di konsol dan PC. Hingga artikel ini ditulis serial game ini telah terjual lebih dari 100.000 kopi. Game populer ini lalu dibuatkan juga versi manga sebanyak empat volume dan dua OVA (Original Video Animation) berjudul Corpse Party: Missing Footage dan Corpse Party: Tortured Souls.

Kini giliran layar lebar yang akan kebagian kisah horror mencekam ini. Versi live action dari Corpse Party ini disutradarai oleh Masafumi Yamada (Hontou ni Atta Kowai Hanashi, Hitori Kakurenbo) dan dibintangi oleh Rina Ikoma, member Team B dari AKB48. Film berdurasi 90 menit ini diputar di bioskop Jepang tanggal 1 Agustus 2015. Sebuah versi “uncut” yang berisi adegan yang tidak disertakan di versi originalnya diputar tanggal 19 September 2015. Kisah dalam versi live action mengikuti game pertama dari serialnya.

Naomi Nakashima (diperankan Rina Ikoma) adalah pelajar kelas tiga SMU di Kisaragi Gakuen. Pada suatu malam Naomi bersama teman masa kecilnya, Satoshi Mochida, dan beberapa teman lain membersihkan aula setelah acara perayaan kelulusan mereka. Karena di luar masih hujan, salah satu teman dari klub penggemar horror yaitu Ayumi Shinozaki, mengajak mereka melakukan ritual “Shiawase no Sachiko-san” (berarti: Sachiko dari Kebahagiaan). Tujuannya adalah walaupun lulus dari SMU, kelak mereka tetap menjadi sahabat selamanya. Tanpa disadari, ritual itu membawa mereka ke sebuah dimensi lain. Mereka masuk ke sebuah sekolah angker bernama Tenjin Shougakko. Di sekolah ini hantu memburu dan membunuh anak-anak. Kini Naomi dan teman-temannya berupaya menguak misteri dan meloloskan diri dari pembunuhan mengerikan yang mengejar mereka.


Bagaimana semua itu bisa terjadi? Tidak banyak yang tahu jika Kisaragi Gakuen berdiri diatas tanah yang sama dengan Tenjin Shougakko. Sekolah dasar itu berdiri beberapa puluh tahun yang lalu dengan sebuah rahasia yang menyelimutinya. Kisah kelam itu bermula setelah seorang anak perempuan tujuh tahun bernama Sachiko Shinozaki terbunuh. Sachiko adalah seorang gadis pendiam yang tidak punya teman. Dia sering berada di sekolah walau jam pelajaran sudah berakhir. Kebiasaannya adalah melihat hujan seorang diri. Suatu ketika seorang guru memperkosanya. Shinozaki mengancam akan memberitahukan kelakuan guru itu pada orang-orang di sekolah. Bukannya takut, guru itu malah mengejek Shinozaki bahwa tidak akan ada yang percaya perkataan gadis yang tidak punya teman.

Shinozaki lalu mengancam akan menjatuhkan diri dari lantai tiga gedung sekolah jika guru itu berani mendekatinya. Guru itu mengabaikan ancamannya dan ketika melangkah mundur, Shinozaki kehilangan pijakannya dan jatuh ke halaman belakang. Diapun tewas. Karena panik, si guru tadi berusaha menyembunyikan mayatnya tapi ketahuan oleh Kepala Sekolah. Agar nama baik sekolah tidak jatuh, Kepala Sekolah membantu si guru tadi mengubur jasad Sachiko. Untuk menutupi kejadian itu Sachiko dilaporkan hilang. Karena jasadnya tidak pernah ditemukan, lambat laun orang mulai melupakan kejadian itu. Hal itu membuat roh Sachiko marah dan ingin balas dendam. Dia lalu membangun kembali Tenjin Shougakko di dimensi lain. Sachiko juga menculik dan membunuh anak-anak hingga tak terhitung jumlahnya.


Sedikit informasi, versi game dari Corpse Party mungkin tidak cocok bagi sebagian pemain. Walau menggunakan karakter yang imut dan lucu, gamenya banyak berisi darah, potongan tubuh, mayat hidup dan visual lain yang bisa membuat pemain tertentu merasa mual. Lalu bagaimana dengan live actionnya? Karena ditujukan untuk remaja, praktis film ini tampil lebih “kalem” dan adegan yang terbilang sadis lebih diminimalisir. Beberapa adegan akan sedikit berbeda dari versi gamenya. Corpse Party versi live action ini sebetulnya cukup lumayan. Hanya saja karena aktor dan aktrisnya kebanyakan pendatang baru, membuat tokoh yang diperankannya terasa datar.

Beberapa waktu lalu beberapa live action seperti Rurouni Kenshin dan Shingeki no Kyojin: End of the World ditayangkan di beberapa bioskop tanah air. Sehingga bukan tidak mungkin jika film ini akan mengikuti jejak yang sama. (Indoshotokan)

REVIEW J-MOVIE: SHINGEKI NO KYOJIN: ATTACK ON TITAN – END OF THE WORLD

Menyusul live action pertamanya, film kedua yang diadaptasi dari manga Hajime Isayama yang berjudul Shingeki no Kyojin: Attack on Titan – End of the World dirilis di Jepang tanggal 19 September 2015. Film berdurasi 87 menit ini masih menceritakan perjuangan tiga sahabat; Eren, Armin dan Mikasa yang mewakili umat manusia melawan para raksasa. Film pertamanya cukup sukses meskipun tidak begitu fenomenal. Banyak penggemar berharap ada misteri yang terkuak di film keduanya seperti; Siapa sebenarnya para Titan? Darimana mereka berasal? Bagaimana manusia bisa membangun dinding yang sangat tinggi? dsb. Review ini akan disertai spoiler ending kedua filmya. Bagi sobat Indoshotokan yang belum nonton dan ingin merasakan keseruan filmnya boleh saja melewatkan artikel ini.

Berjuang mati-matian dengan menggunakan Maneuver Gear miliknya, Eren Yeager akhirnya mengerti mengapa kelemahan para Titan berada di tengkuknya. Tapi aksi heroik Eren membabat monster tinggi menjulang itu tidak berlangsung lama. Dia berhasil ditangkap dan ditelan oleh salah satu Titan. Teman-temannya mengira Eren sudah tewas. Tapi ajaibnya dia bangkit kembali dalam bentuk Titan dan membunuh raksasa lainnya. Amukan Eren dalam wujud Titan berhasil membuat ciut nyali raksasa lainnya dan merekapun melarikan diri. Umat manusia merasa gembira karena mereka akhirnya mendapatkan sekutu yang tangguh.


Tapi tidak semua orang senang karena berpikir kemampuan Eren bisa menjadi ancaman bagi manusia. Setelah pingsan karena menggunakan tenaganya untuk mengendalikan Titan, Eren ditangkap oleh sekelompok polisi militer pimpinan Kubal (Jun Kunimura). Dia dijebloskan ke sebuah sel penjara dalam tubuh terikat kuat dan mulutnya dibungkam. Eren diinterogasi di pihak mana dia akan memilih. Ketika akan ditembak mati, tiba-tiba Armored Titan menyerang penjara dan menewaskan banyak polisi militer. Eren direnggut oleh Titan itu dan banyak orang yakin jika dia sudah menemui ajalnya.

Polisi militer yang tersisa kemudian meneruskan misi awal mereka yang gagal yaitu menutup lubang besar di tembok distrik Maria. Di film sebelumnya Colossal Titan melubangi tembok itu dan membuka jalan bagi Titan lainnya. Armin tiba-tiba ingat dengan sebuah bom besar di kampung halaman mereka di Monzen. Yakin jika daya ledaknya bisa meruntuhkan tembok, Armin kembali ke Monzen demi mengambil bom peninggalan perang itu.

Sementara itu Eren siuman di sebuah ruangan aneh berwarna putih dengan diiringi alunan lagu lawas “The End of The World” dari Skeeter Davis. Kapten Shikishima yang eksentrik tiba-tiba muncul entah darimana. Dia menjelaskan pada Eren bagaimana pemerintah Amerika menciptakan Titan. Shikishima lalu mengutarakan ide gilanya pada Eren yaitu menggali bom peninggalan Amerika dan meledakkannya untuk memancing para Titan ke tengah distrik sehingga manusia bisa menyelamatkan diri. Eren tidak setuju dengan ide itu dan lebih memilih menggunakan bom untuk memperbaiki lubang besar di distrik Maria.


Sementara itu Hanji dan kelompoknya berhasil mendapatkan bom dari Monzen. Ketika mereka akan membawa bom itu ke distrik Maria, di tengah jalan mereka dihentikan Shikishima dan pasukannya. Demi melindungi bom itu Eren bertempur menghadapi Shikishima. Mereka berhasil lolos dari Shikishima dan pasukannya. Tapi masalah belum berhenti. Baru saja bom selesai ditanam di tembok, tiba-tiba Colossal Titan muncul dan mencoba menghentikan ledakan. Shikishima secara mengejutkan muncul kembali dan bertarung melawan Colossal Titan. Bom itu akhirnya meledak sekaligus melenyapkan Colossal Titan. Dinding kembali tertutup dan sekali lagi umat manusia bisa hidup dengan tenang.

Plot dalam End of the World sebenarnya mudah diikuti, tapi sutradara membuatnya terlalu cepat hingga terkesan terburu-buru dan justru tidak menjawab misteri yang ada. Misalnya; apa sebenarnya ruangan putih yang dimasuki Eren? Siapa sebenarnya Colossal Titan dan Armored Titan? Film ini juga berisi adegan-adegan yang tidak perlu. Di sepuluh menit pertama cerita akan flashback ke film sebelumnya. Buat yang belum nonton hal ini bukan masalah, tapi seharusnya ini bisa disingkat dengan narasi teks saja. Kemudian adegan “pertarungan” Eren dan Shikishima di ruangan aneh berwarna putih juga tidak ada di komiknya. Untuk sekelas live action, gaya koregrafi Shikishima juga terlihat kaku dan justru merusak film ini. Dengan memangkas adegan yang tidak perlu sutradara seharusnya bisa membuat dua film ini menjadi satu film saja. Dua jam lebih, alur cerita padat dan penontonpun puas.


Secara visual film ini juga tidak sebaik yang pertama. Jangan harap penonton melihat hujan darah dan potongan tubuh manusia karena dimangsa Titan. End of the World lebih pas disebut film action ketimbang film horror. Suasana mencekam film pertamanya tidak terasa lagi disini. Apa boleh buat, tapi paling tidak wajah cantik Satomi Ishihara sebagai Hans bisa menyegarkan. Setelah film ini dirilis banyak penggemar di Jepang yang merasa kecewa karenanya. Berkaitan dengan komentar negatif itu sang sutradara sepertinya sudah siap menerimanya. Karena dari awal dia sengaja membawa alur cerita sedikit melenceng dari versi aslinya. Untungnya lagu ending berjudul “SOS” dari Sekai no Owari bisa menjadi penolong film ini. (Indoshotokan)

REVIEW J-MOVIE: SHINGEKI NO KYOJIN: ATTACK ON TITAN

Lebih dari 100 tahun yang lalu sebelum kisah dalam filmnya dimulai, raksasa berbentuk manusia yang disebut Titan (Jepang: Kyojin) tiba-tiba muncul entah dari mana. Mereka nyaris menghancurkan peradaban dan memangsa manusia tanpa alasan yang jelas. Demi mencegah agar tragedi itu tidak terulang lagi, manusia yang tersisa kemudian membangun tembok raksasa yang tinggi menjulang demi melindungi keturunan mereka. Umat manusia hidup dalam damai 100 tahun kemudian dan banyak anak tumbuh dewasa tanpa pernah mengetahui kemunculan Titan. Akan tetapi, tidak ada seorangpun yang bisa menjamin tembok puluhan meter itu akan berdiri kokoh selamanya.

Kisah dalam film dimulai dengan Armin Arlert (diperankan Kanata Hongo), seorang remaja yang dikirim ke district Monzen untuk mencari teman masa kecilnya, Eren Yeager (diperankan Haruma Miura), yang baru diberhentikan dari pekerjaannya. Bersama dengan Armin adalah Mikasa Ackerman (diperankan Kiko Mizuhara), adik angkat angkat Eren. Saat berhasil menemukannya, Eren mengatakan niatnya untuk pergi keluar tembok demi melihat “dunia luar”. Apalagi setelah mengetahui bahwa laut memang benar-benar ada. Ketiga remaja itu kemudian sepakat untuk menyelinap lewat tembok penjagaan yang ketat. Mereka tertangkap dan oleh penjaga dituduh sebagai pemberontak, tapi untunglah ada Paman Souda, kapten pasukan pengintai yang bertugas disana yang membebaskan mereka.


Tidak berapa lama kemudian bumi tiba-tiba bergetar. Dari luar tembok muncul Titan raksasa yang menghancurkan tembok dan membuat sebuah lubang besar yang menjadi jalan masuk segerombolan Titan lainnya. Dalam kepanikan para penjaga berusaha menghancurkan salah satu Titan dengan meriam. Tapi upaya mereka gagal karena tubuh Titan yang hancur bisa pulih kembali dengan cepat. Para Titan mulai memangsa manusia yang mereka lihat. Situasi yang kacau balau memaksa Eren, Armir dan Mikasa menyelamatkan diri ke pusat distrik. Di tengah pelarian mereka terpisah karena Eren berusaha menolong bayi yang akan diinjak oleh Titan. Tapi bayi itu lepas dari tangan Eren dan Mikasa menyeruak untuk menyelamatkannya.

Eren berhasil masuk ke sebuah gereja bersama dengan ibu dan orang-orang lainnya. Eren ingin kembali menyelamatkan Mikasa di luar, tapi pintu gereja telah terkunci dan dari dalam dia hanya bisa melihat Mikasa dan bayi itu akan dimangsa oleh Titan di belakangnya. Eren berhasil keluar dari gereja tepat sesaat sebelum gerombolan Titan merusak atap gereja dan memakan orang-orang didalamnya. Mengetahui ibunya dimakan Titan dan mengira Mikasa sudah tewas, Eren hanya bisa berjalan lemas di sepanjang pusat distrik yang hancur.

Dua tahun kemudian Eren dan Armin kembali bertemu. Mereka kini bergabung dalam resimen pengintai dan mendapatkan teman-teman baru. Manusia juga telah menemukan cara untuk membunuh Titan yaitu dengan menebas bagian tengkuk sebagai satu-satunya kelemahan. Dalam sebuah misi Eren dan pasukan lainnya masuk ke sebuah distrik yang telah sepi. Di suatu malam mereka mendengar suara tangisan bayi. Ternyata tangisan itu berasal dari bayi Titan yang memancing kedatangan gerombolan Titan lainnya. Eren dan teman-temannya terdesak tapi diselamatkan oleh Mikasa dan Kapten Shikishima. Bertemu kembali dengan adik angkatnya tidak lantas membuat Eren merasa bahagia. Mikasa berubah dari yang dulu ceria menjadi seorang pemburu Titan yang berdarah dingin. Yang membuat kecewa lagi, Mikasa dan Kapten Shikishima terlihat saling menyukai.


Shingeki no Kyojin adalah versi live action dari serial manga populer berjudul sama karya Hajime Sayama. Film ini adalah bagian pertama dari dua film yang digarap oleh sutradara Shinji Higuchi yang juga tengah mengerjakan Godzila Reboot (2016). Bersetting di dunia post apocalytic dengan genre drama horror action, Shingeki no Kyojin mengambil konsep “bagaimana jika manusia bukan berada di puncak rantai makanan”. Raksasa sebagai musuh umat manusia terinspirasi dari film horror tradisional Jepang. Mereka tidak berpakaian alias telanjang dengan raut muka yang aneh, tapi masih mirip dengan manusia normal. Di Jepang sendiri serial manga dan animenya masih berlanjut dan darimana asal para Titan itu masih belum terjawab alias misterius.

Film berdurasi 98 menit ini sebenarnya cukup lumayan. Nilai minus barangkali terletak pada hubungan antar karakter yang tidak tersampaikan dengan baik pada penonton. Dari mana ketiga tokoh utama kita berasal dan tidak pernah diceritakan. Ini karena ketika tampil mereka sudah bukan anak-anak lagi. Wajar jika para penggemar serial ini lantas menilai versi live action ini terkesan terburu-buru dan tidak bisa mengimbangi versi manganya. Hal ini mirip dengan live action trilogi Rurouni Kenshin yang alurnya juga terkesan cepat. Beberapa tokoh kunci juga tidak diceritakan disini. Sebut saja Levi Ackerman yang disebut sebagai prajurit terkuat. Tokoh Mikasa Ackerman juga terlihat kalem dan feminim. Jauh dari versi manga dimana dia pendiam dan selalu melindungi Eren ketika masih anak-anak.


Dibandingkan dengan tokoh utamanya, akting para Titan justru patut diacungi jempol. Soal efek visual dan grafis sineas Jepang memang ahlinya. Para raksasa itu kebanyakan adalah aktor amatir yang diberi make up dan aksinya digabung dengan animasi CG. Hasilnya adalah penonton berhasil dibuat ngeri dengan aksi para monster yang di filmnya begitu bernafsu memangsa manusia. Sebelum syuting dimulai sempat diadakan audisi bagi pemeran Titan. Lucunya, walaupun sebagai Titan tidak perlu menghafalkan naskah, banyak juga pendaftar yang tidak lulus audisi.Pencahayaan yang pas juga tidak boleh dilupakan. Hampir di sepanjang film suasananya terlihat gelap dan suram yang menambah atmosfer mencekam.

Di Jepang live action Shingeki no Kyojin ini dirilis di teater tanggal 9 Agustus 2015 lalu. Dalam waktu seminggu sudah berhasil memuncaki box office dengan meraup untung 5,1 juta dolar. Sekuelnya yang berjudul Shingeki no Kyojin: End of the World dirilis tanggal 19 September 2015. Bagi sobat Indoshotokan penggemar genre horror alternatif, dua film ini bisa menjadi pilihan tepat. (Indoshotokan)

REVIEW J-MOVIE: STAND BY ME DORAEMON

Bagi orang Jepang tokoh Doraemon begitu dicintai tidak hanya oleh anak-anak namun juga orang dewasa. Tidak heran jika di tahun 2008 Doraemon ditunjuk sebagai duta besar anime yang pertama oleh Kementerian Luar Negeri Jepang. Ditulis oleh dua mangaka senior Fujiko F. Fujio - kependekan dari Hiroshi Fujimoto dan Motoo Abiko -, Doraemon mendapat tempat di hati pembaca berkat ceritanya yang sederhana, menghibur dan tidak membosankan. Memperingati ulang tahun ke 80 dari Fujiko F. Fujio sebuah film animasi 3D Doraemon berjudul “Stand by Me Doraemon” siap menyapa penggemarnya. Film itu juga menjadi film pertama dari franchise Doraemon yang dibuat dalam format CG dan diluncurkan di 59 negara sekaligus termasuk Indonesia bulan Agustus 2014 lalu.

Nobita Nobi adalah murid kelas empat SD yang sangat payah. Pemalas, bodoh, selalu datang terlambat, tidak pandai olah raga, lamban, penakut, cengeng dan sederet sifat buruk lainnya. Di kelas dia selalu diganggu oleh dua teman sekelasnya yang nakal, Suneo Honekawa dan Takeshi “Giant” Goda. Tanpa disadari oleh Nobita, cucunya dari abad ke 22 yaitu Sewashi selalu mengamatinya setiap hari. Dengan mesin waktunya Sewashi mendatangi Nobita. Bersama dengan Sewashi adalah sebuah robot kucing berwarna biru yaitu Doraemon. Sewashi memberikan gambaran masa depan Nobita yang jatuh miskin karena terlilit hutang perusahaannya yang bangkrut. Lebih parah lagi dia menikahi adik Giant yaitu Jaiko. Itu akan menjadi kenyataan jika Nobita tidak merubah sifatnya yang sekarang.


Untuk membantu Nobita yang manja Sewashi menitipkan Doraemon di rumahnya. Mulanya Doraemon enggan karena harus tinggal sekamar dengan Nobita. Tapi program yang ditanamkan Sewashi di hidung Doraemon membuatnya bisa kembali ke masa depan hanya jika Nobita sudah mendapatkan kebahagiaannya. Dan begitulah, Doraemon lalu memperkenalkan gadget-gadgetnya yang unik pada Nobita. Mulai dari pintu kemana saja yang membuat Nobita datang ke sekolah lebih awal yang membuat teman-temannya heran; Taplak Pembalik Waktu yang bisa memperbaiki kesalahan yang membuat Nobita batal dimarahi pak guru. Yang tidak ketinggalan tentu saja Baling-baling Bambu yang menerbangkan pemakainya. Dengan gadget super lengkap dan Doraemon yang siap membantu kapan saja justru membuat Nobita semakin malas.

Masalah muncul ketika Nobita salah menggunakan gadget Doraemon untuk membuat Shizuka jatuh cinta padanya. Yang terjadi justru Dekisugi, anak terpandai di kelas, yang disukai oleh Shizuka. Putus asa, Nobita lalu meminum Ramuan Pembenci agar Shizuka tidak mendekatinya lagi. Efek ramuan itu sungguh hebat hingga orang satu rumahpun tidak kuat berada dekat dengan Nobita. Walau Shizuka juga merasakan efek yang sama, dia tetap mendekati Nobita dan mau menolongnya. Melihat Shizuka yang peduli padanya, Nobita merasa senang. Apalagi Doraemon menunjukkan jika masa depan telah berubah karena Nobita menikah dengan Shizuka. Tapi Nobita lagi-lagi berkecil hati saat melihat Shizuka akrab dengan Dekisugi. Khawatir akan hubungannya dengan Shizuka, Nobita lalu pergi ke masa depan. Penasaran bagaimana kelanjutannya? Silahkan menonton sendiri filmnya.


Stand by Me Doraemon dibuat berdasarkan tujuh seri dari komik pertamanya, meskipun mengambil hanya sebagian dari beberapa chapternya. Orang Jepang suka dengan tangisan bahagia. Walau target manga dan anime Doraemon sebenarnya untuk anak pra-sekolah, banyak penonton berumur 40 tahun ke atas yang masih mencintai Doraemon. Inilah sebabnya di teaser poster filmnya bergambar Doraemon dengan air matanya. Ada pesan disana bahwa sudah ada kenangan selama 40 tahun lebih bersama si robot kucing ini. Dan film ini juga sebagai ungkapan terima kasih pada para penggemar setia. Tidak heran jika film ini meraih sukses di banyak negara. Indonesia termasuk negara penyumbang keuntungan terbesar, yaitu 3 juta dollar yang juga menunjukkan besarnya penggemar Doraemon di negara ini.

Melihat dari judulnya sempat beredar kabar jika Stand by Me Doraemon akan menjadi film terakhir alias perpisahan Tapi kabar itu ternyata tidak benar terbukti dengan sebuah film baru berjudul “Doraemon: Nobita’s Space Heroes” dirilis tanggal 7 Maret 2015 kemarin. Film yang mengambil dari salah satu chapter manga itu juga sebagai perayaan 35 tahun serial anime Doraemon (1979). Formatnya kembali pada anime standar dan diluncurkan pada musim liburan anak sekolah di Jepang seperti biasanya. Yah, Doraemon memang memorable. Sebagai salah satu penggemar serialnya, Indoshotokan sangat merekomendasikan film ini. (Indoshotokan)

REVIEW J-MOVIE: ALL-ROUND APPRAISER Q: THE EYES OF MONA LISA

Lukisan Monalisa karya seniman Renaissance Leonardo da Vinci memang fenomenal. Saking banyaknya misteri, banyak novel dan film yang mengambilnya sebagai background film. Sebut saja Monalisa Smile (2003) yang ingin menguak arti senyuman Monalisa dalam lukisan. Yang lebih gila barangkali adalah The Da Vinci Code (2006) yang kontroversial karena menduga ada kode rahasia di dalam lukisan itu. Karena dianggap memberikan banyak fakta yang berani tapi tidak akurat, The Da Vinci Code menuai kritikan tajam dari kalangan Kristiani dan gereja. Tapi toh, film dan novelnya tetap saja laris di pasaran.

Nah, di bulan Mei tahun 2014 lalu misteri lukisan Monalisa kembali diangkat ke layar kaca oleh sutradara Jepang Shinsuke Sato. Film berjudul All-Round Appraiser Q: Eyes of the Mona Lisa (Jepang: Bannou Kanteishi Q Monariza no Hitomi) ini memasang aktris cantik Haruka Ayase sebagai tokoh utamanya. Tidak tanggung-tanggung, film ini berdasarkan novel misteri laris karya Keisuke Matsuoka.  

Riko Rinda (diperankan Haruka Ayase) adalah seorang juru taksir barang-barang seni dengan kemampuan yang ajaib. Riko bukan anak yang pandai saat di sekolah, tapi dia mempunyai ingatan yang kuat. Julukannya adalah “Q sang juru taksir serba bisa” yang menawarkan jasa untuk menilai barang antik dan artifak. Berkat kekuatan analisa dan naluri yang tajam ala Sherlock Holmes membuatnya berhasil menggagalkan upaya perampokan berlian super mahal milik kliennya.


Sebagai ungkapan terima kasih, Asahina Naoyuki (diperankan Murakami Hiroaki) sang pemilik galeri mengundang Riko ke Paris untuk ambil bagian dalam kontes antar juru taksir internasional. Sang pemenang akan dipilih sebagai kurator sementara untuk mengawal lukisan Monalisa yang akan dipamerkan ke Jepang. Pameran itu sangat besar artinya karena bertepatan 40 tahun lukisan karya Leonardo da Vinci itu datang ke Jepang. Sementara itu seorang reporter bernama Yuto Ogasawara (diperankan Tori Matsuzaka) merasa kagum dengan kemampuan yang dimiliki Riko. Dia mengikuti Riko ke Paris untuk menulis cerita tentang dirinya.

Sampai di Paris, Riko harus bersaing dengan juru taksir lain yang tidak kalah hebatnya. Lewat ujian yang sangat sulit dan melelahkan, Riko akhirnya dinyatakan sebagai pemenangnya. Riko tidak sendiri karena ada pemenang lain yang juga menjadi rivalnya yaitu Ryusenji Mika (diperankan Hatsune Eriko). Misa adalah putri dari seorang pemilik galeri seni yang telah bangkrut. Walau sebagai pemenang mereka berdua tidak bisa bersantai karena harus menjalani serangkaian latihan dan ujian lanjutan di Tokyo bersama dengan kurator Museum Louvre Richard Bret.

Setelah berminggu-minggu dalam pelatihan, Riko dan rivalnya harus mengikuti ujian final yaitu menemukan lukisan asli Monalisa diantara 12 lukisan yang sama persis. Di tengah ujian Riko tiba-tiba pingsan dan menderita halusinasi. Belakangan Yuto mendapat kabar jika Riko didiskualifikasi. Dan tidak diketahui banyak orang, sebuah konspirasi besar tengah menunggu saat lukisan Monalisa tiba di Jepang. Sanggupkah Riko menggagalkan rencana jahat itu? Akankah lukisan Monalisa terselamatkan?


Sebagai film Jepang pertama yang mempunyai akses ke Museum Louvre yang terkenal ketat, All-Round Appraiser Q: Eyes of the Mona Lisa mempunyai jalan cerita yang apik. Film bergenre thriller-misteri ini banyak mengambil lokasi syuting di Paris. Tapi yang patut diacungi jempol adalah plotnya, karena tidak melulu mengandalkan investigasi ala Sherlock Holmes. Ada banyak misteri yang ingin diungkap, tapi yang paling menarik dan sesuai judul film ini adalah: adakah rahasia di dalam mata Monalisa di lukisan itu? Ataukah ada sesuatu yang lain?

Membuat film dengan cerita yang berat seperti ini jelas bukan perkara gampang. Tapi tim produksi berhasil melakukannya dengan baik. Pemilihan karakter yang tepat dan akting yang meyakinkan membuat film ini lebih dari sekedar misteri. Jika sobat bukan penggemar genre detektif juga tidak perlu khawatir, karena meski serius film tidak akan membosankan. (Indoshotokan)

REVIEW J-MOVIE: MAJO NO TAKKYUBIN

Dunia fantasi dan sihir memang cocok diangkat ke layar kaca. Jika Hollywood punya serial Harry Potter yang fenomenal, maka negeri sakura juga punya penyihir. Memang tidak seheboh film dari novel karangan penulis Inggris J. K. Rowling itu. Tapi film Jepang yang satu ini juga berdasarkan novel yang juga laris baik di Jepang dan luar negeri. Dengan genre seishun eiga (remaja), film ini cocok bagi penonton yang ingin mencari cerita yang ringan dan menghibur.

Majo no Takkyubin berarti “Layanan Antar Penyihir”, tapi di barat lebih populer disebut dengan “Kiki’s Delivery Service”. Mulanya Majo no Takkyubin adalah sebuah novel fantasi anak-anak karya Eiko Kadono. Novelnya sendiri berjumlah enam volume yang terbit tahun 1985-2009 dan telah diterjemahkan ke Bahasa Inggris, Korea, Cina, Italia dan Swedia. Popularitas novel ini membuat Studio Ghibli membuatkan seri animenya di tahun 1989. Sama dengan novelnya, animenya disukai banyak penonton dan menuai pujian. Walaupun sudah lawas, hingga kini serial animenya masih diputar di banyak stasiun TV Amerika dan Eropa.  


Bulan Maret 2014 lalu giliran live action-nya yang siap menyapa para penggemar. Sutradara movie ini adalah Takashi Shimizu yang sebelumnya terkenal berkat film horor Ju-on. Kisah dalam versi movie ini mengambil dari novel volume pertama dan kedua. Sebagai Kiki sang penyihir adalah aktris pendatang baru Koshiba Fuka yang lolos audisi dari 500 kandidat. Koshiba tepat berusia 16 tahun saat syuting film itu. Majo no Takkyubin juga menjadi debut pertamanya dalam dunia akting sekaligus sebagai peran utama. 

Kiki adalah gadis penyihir yang tinggal di sebuah desa bersama ibunya yang seorang tabib. Dalam tradisi keluarganya jika seorang penyihir sudah berumur 13 tahun maka dia harus meninggalkan rumah selama setahun untuk hidup mandiri. Di malam hari setelah pamit pada keluarga dan teman-temannya, Kiki berangkat bersama Jiji, kucing hitam kesayangannya yang bisa berbicara. Dengan menaiki sapu terbangnya Kiki menuju ke sebuah kota kecil di pesisir pantai. Setelah sedikit kesulitan akhirnya Kiki bertemu dengan Osono, pemilik toko roti yang mau menampungnya.


Sebelum bertemu Kiki, toko roti Osono selalu sepi pelanggan. Berkat kemampuan terbang Kiki dengan sapu terbangnya, Osono bisa mengantar pesanan ke banyak pembeli dengan mudah. Bisnis menjadi lancar dan pelanggan menyukainya karena mereka tidak perlu repot-repot pergi ke toko. Di tengah kesibukannya itu Kiki didatangi oleh Tombo, anak laki-laki di kota itu yang tergila-gila dengan dunia penerbangan. Tombo tertarik dengan Kiki setelah melihatnya naik sapu terbang.

Walaupun usil dan selalu mengejar Kiki, Tombo sebenarnya adalah anak yang baik. Selain kagum pada kemampuan Kiki dia sebenarnya juga menyukainya. Tapi teman-teman Tombo yang nakal membuat Kiki harus kehilangan kemampuan terbangnya. Tidak hanya itu, karena para penduduk kota memandang Kiki bukan anak yang normal. Mereka menganggap Kiki akan membawa masalah bagi anak-anak di kota itu. Kehilangan kekuatan dan dimusuhi banyak orang, bisakah Kiki keluar dari kesulitannya?


Berbeda dengan film live action yang biasanya kaya akan animasi CGI, Majo no Takkyubin justru sebaliknya. CGI memang digunakan namun sedikit sekali. Menurut Shimizu sang sutradara, yang paling menarik dari film ini adalah seorang gadis biasa yang bisa terbang. Kiki memang seorang penyihir tapi tidak bisa menyihir seperti penyihir pada umumnya. “Inilah hal baru bagi penonton di luar negeri.” Begitulah menurutnya.

Sementara itu Koshiba Fuka mengaku berperan sebagai Kiki adalah pengalaman baru baginya. “Ketika diberitahu lulus audisi, pikiranku tiba-tiba kosong dan aku menangis karena gembira. Kiki yang aku perankan berbeda dengan yang penonton bayangkan. Mungkin aku tidak pandai berekspresi, tapi aku akan berusaha yang terbaik memerankannya. Aku akan berusaha tidak mengecewakan penonton dan menghargai mereka yang telah mencintai Majo no Takkyubin.” (Indoshotokan)