KONTEN DILINDUNGI HAK CIPTA. DILARANG KERAS MENJIPLAK, MENGEDIT DAN MEMPERBANYAK SEBAGIAN ATAU SELURUH HALAMAN SITUS INI TANPA IJIN.

Cari Artikel

Showing posts with label TRANSLASI BUKU. Show all posts
Showing posts with label TRANSLASI BUKU. Show all posts

MENANG DENGAN MENGALAH (3)

“Baiklah,” salah satu dari mereka berbicara dengan nada yang sangat tidak sopan, “Jangan cuma berdiri disana saja seolah kau bisu dan tuli. Kau tahu apa yang kami inginkan. Katakanlah sesuatu! Misalnya, ‘Selamat malam, tuan’ dan beritahu kami betapa indahnya hari ini. Jangan buang waktu kami anak kecil, atau kau akan menyesal. Aku bersungguh-sungguh dengan hal itu.”

Semakin mereka marah, aku justru semakin merasa tenang. Melihat cara orang yang berbicara padaku mengepalkan tangannya, aku tahu dia bukanlah orang karate. Sedangkan orang satunya yang memegang tongkat pemukul jelas-jelas seorang amatir.
Aku menjawab pelan, “Apa kalian tidak salah orang. Mengira aku sebagai orang lain? Pasti ada salah paham. Kurasa jika kita membicarakannya...”

“Ah, diam kau, dasar udang kecil! Orang yang membawa pentungan itu geram, “Kau pikir sedang apa kita disini? Melawan dua orang seperti ini, tapi nasihatku untukmu sudah jelas. Tidak usah melawan. Kurasa itu tidak akan bagus untukmu, karena.....”

Orang kedua sekarang mengangkat pentungan berat yang dibawanya dari tadi.

Aku menjawab dengan cepat, “Karena jika aku belum tentu menang, aku tidak akan berkelahi. Aku tahu pasti kalah. Jadi untuk apa aku melawan. Bukankah itu masuk akal?

Setelah mendengar ucapanku itu, keduanya terlihat sedikit tenang. “Baiklah”, kata salah satu dari mereka, “Kelihatannya kau tidak ingin berkelahi. Kalau begitu berikan uangmu.”

“Aku tidak punya uang” Aku menjawab sambil menunjukkan pada mereka kantongku yang kosong.

“Kalau begitu berikan rokok saja!”

“Aku tidak merokok. Yang aku punya sekarang cuma beberapa manju. Kue ini kubawa untuk persembahan di altar rumah orang tua istriku.”
“Ini. Terimalah ini saja.” Aku berkata pada mereka.

“Hanya manju!” Nada suara mereka terdengar meremehkan. “Yah, lebih baik daripada tidak ada sama sekali.”

Seraya mengambil kue itu salah satu dari mereka berkata, “Pergilah segera, udang. Dan hati-hatilah karena jalanan ini berbahaya.” Setelah itu merekapun menghilang di balik pepohonan.

Beberapa hari kemudian aku bertemu dengan Azato dan Itosu, dan ditengah obrolan kuceritakan pada mereka kejadian tempo hari. Yang pertama memujiku adalah Master Itosu yang mengatakan bahwa aku telah bertindak dengan sangat pantas. Dia juga berkata jika waktu yang telah dihabiskannya untuk mengajariku karate tidaklah sia-sia.

Azato tersenyum sambil bertanya padaku, “Tapi, karena kau sudah tidak punya lagi kue manju, apa yang kau persembahkan di altar ayah mertuamu?”

Aku menjawab, “Karena sudah tidak punya apa-apa lagi, aku mempersembahkan sebuah doa yang tulus.”

“Ah, bagus, bagus!” begitu ucapnya. “Benar, selamat! Itulah semangat sejati dari karate. Sekarang kau mulai paham apa artinya.”

Kucoba menahan rasa banggaku. Walaupun kedua master ini tidak pernah memuji setiap kata yang aku kerjakan saat latihan, mereka memujiku sekarang. Dan bercampur dengan rasa bangga menjadi sebuah kegembiraan. (Tamat - Indoshotokan)

Artikel ini dikutip dan diterjemahkan dari buku “Karate-Do: My Way of Life” yang ditulis oleh Gichin Funakoshi dengan judul aslinya “Win by Losing”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

MENANG DENGAN MENGALAH (2)

Belum sempat seorangpun menjawab, kami berpapasan dengan sekelompok orang yang kelihatannya sedikit mabuk. Mereka menyanyi dengan gaduhnya ketika melalui tempat itu. Saat cukup dekat dan tahu sedang ada keributan, mereka mulai berteriak gembira karena mungkin bisa menonton perkelahian yang seru. Tapi salah satu dari mereka kemudian mengenali pemimpin kami.

“Anda Master Itosu, bukan? Dia berteriak. “Ini benar Anda, bukan? Tentu saja! Sedang ada masalah apa?” Dia lantas memutar tubuhnya menghadap ke kelompok yang akan menyerang kami.
“Apa kalian sudah gila?” dia berkata.
“Apa kalian tidak tahu siapa orang-orang ini? Itu adalah Itosu, sang master karate bersama murid-muridnya. Bahkan sepuluh atau dua puluh orang dari kalian belum tentu sanggup mengalahkan mereka semua. Sebaiknya kalian minta maaf dan lebih baik lakukanlah sekarang!”

Kenyataannya, tidak ada yang meminta maaf. Tapi untuk sesaat kelompok itu saling bergumam dengan temannya sebelum akhirnya menyingkir dengan tenang di kegelapan malam. Kemudian Itosu memberi perintah lain yang menurut kami agak aneh. Bukannya meneruskan lewat jalan yang seharusnya, dia memerintahkan kami untuk mengulangi perjalanan kembali ke Shuri melewati jalan yang lebih jauh. Sampai kami tiba di rumahnya, dia tidak berkata apapun tentang kejadian yang barusan kami alami. Dia lantas menyuruh kami berjanji untuk membicarakannya.

“Kalian sudah melakukan pekerjaan yang bagus malam ini, anak-anak.” Dia berkata. “Aku tidak ragu lagi kalian sudah menjadi karateka yang hebat. Tapi jangan menceritakan kejadian malam ini pada siapapun! Tidak seorangpun, kalian paham?”

Belakangan aku melihat anggota dari kelompok itu dengan wajah sedikit malu datang ke rumah Itosu untuk meminta maaf. Ternyata orang-orang yang tempo hari kami kira preman dan pencuri itu adalah Sanka – orang yang bekerja menyuling minuman keras Okinawa bernama Awamori. Mereka memang agak ribut, orang-orangnya keras dan kasar, bangga dengan kekuatan fisiknya. Mereka malam itu telah memilih kami sebagai sasaran untuk menguji kehebatan mereka.

Saat itu aku baru tahu betapa pandainya Master Itosu dengan menyuruh kami pulang ke Shuri melewati jalan berbeda demi menghindari pertikaian yang lebih banyak. Aku berpikir tentang arti dari karate. Aku merasa malu saat menyadari tempo hari akan menggunakan kemampuan dan kekuatanku melawan orang-orang yang tidak terlatih.

Kejadian kedua, yang sedikit mirip dengan yang pertama, berakhir dengan lebih memuaskan. Namun begitu, pertama-tama aku ingin menceritakan tentang keluarga istriku. Selama bertahun-tahun mereka telah bereksperimen dengan tanaman kentang manis, mencoba untuk mengubahnya menjadi makanan yang lebih baik. Mereka sebelumnya cukup makmur, tapi datangnya Restorasi Meiji telah membuat masa-masa menjadi sulit. Mereka lalu pindah ke sebuah desa pertanian kecil bernama Mawashi yang jauhnya dua setengah mil dari Naha.

Ayah dari istriku adalah pengikut partai garis keras dan itu membuat tingkah lakunya aneh. Ketika cuaca sedang cerah dia berada di ladang; dan ketika hujan dia berada di rumah sambil membaca; dan hanya itulah yang dikerjakannya.

Istriku sangat sayang pada ayahnya. Pada suatu festival dia pergi lebih awal dengan anak-anak demi mengunjunginya. Sore itu aku pergi meninggalkan desa, karena aku tidak ingin anak dan istriku berjalan sendirian didalam gelap.

Jalanan yang sepi menuju Mawashi harus dilalui menembus hutan cemara yang tebal. Dalam cahaya senja yang sudah memudar, aku dibuat cukup kaget ketika dua laki-laki tiba-tiba melompat dari rerimbunan pohon dan menghalangi jalanku. Seperti penjahat pada umumnya, mereka menutupi wajah dengan handuk. Itu sekaligus sudah menunjukkan bahwa mereka sengaja ingin membuat takut orang lain yang melintas. (Bersambung – Indoshotokan)

Artikel ini dikutip dan diterjemahkan dari buku “Karate-Do: My Way of Life” yang ditulis oleh Gichin Funakoshi dengan judul aslinya “Win by Losing”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

MENANG DENGAN MENGALAH (1)

Aku ingin mengingat kembali dua kejadian yang mungkin, bisa membantu para pembaca sekalian untuk memahami inti dari karate-do. Kedua peristiwa itu terjadi bertahun-tahun yang lalu di pedesaan Okinawa. Dan keduanya menunjukkan bagaimana seseorang bisa menang dengan cara mengalah.

Kejadian pertama terjadi di jalan sebelah barat daya Istana Shuri yang arahnya ke bekas vila gubernur yang diujungnya berdiri rumah untuk minum teh bergaya Nara kuno. Dengan pemandangan mengarah ke Samudera Pasifik, setelah seharian bekerja gubernur biasanya akan datang kemari untuk bersantai bersama anak dan istrinya.

Jarak dari Shuri satu mil lebih sedikit, dan jalannya dilapisi batu dengan pohon-pohon cemara yang tinggi megah berbaris di sepanjang sisinya. Di luar vila itu sudah terbuka untuk umum dan bukan lagi bagian dari rumah pribadi sang gubernur. Pernah suatu malam aku bersama Master Itosu dan setengah lusin karateka pergi kesana untuk pesta melihat bulan. Kelompok kami berkumpul menjadi satu. Kami sampai lupa waktu dan hingga larut malam bicara tentang karate sambil membaca syair.

Akhirnya kami memutuskan sudah benar-benar waktunya untuk pulang dan bersama-sama menuju ke Shuri melalui jalanan yang ditumbuhi pepohonan cemara itu. Bulan sekarang sudah tertutup kabut tebal dan anak-anak yang lebih muda membawa lentera untuk menerangi jalan bagi para guru. Tiba-tiba pemimpin kelompok kami berteriak bahwa kami semua harus memadamkan lentera. Kami melakukannya karena tahu akan diserang. Jumlah penyerang kelihatannya sama dengan jumlah kelompok kami. Sehingga jika dilihat dari sudut pandang itu kami sebenarnya seimbang. Kecuali jika mereka juga pandai karate, maka mereka ditakdirkan untuk kalah memalukan. Malam itu sangat gelap hingga kami sulit melihat wajah siapapun.

Aku menunggu perintah Itosu, tapi dia hanya berkata, “berdirilah dengan punggung kalian menghadap ke bulan! Punggung kalian menghadap ke bulan!” Aku cukup terkejut karena sebelumnya aku yakin guru kami akan memberi kesempatan untuk menunjukkan karate kami. Dan tentu saja kami semua lebih dari sekedar siap mengatasi gerombolan penjahat ini. Tapi Itosu hanya menyuruh kami menghadapkan punggung ke arah bulan! Benar-benar tidak masuk akal.

Setelah beberapa saat, dia berbisik ke telingaku, “Funakoshi, kenapa tidak kau coba pergi kesana dan bicara dengan mereka? Mereka mungkin saja bukan orang-orang jahat. Dan jika kau katakan aku ada dalam kelompok ini, mungkin mereka akan berubah pikiran.”

Aku menerima perintah itu dan mulai berjalan mendekati gerombolan yang sedang menunggu itu. “Salah satu dari mereka datang!” Kudengar seseorang berteriak. “Satu dari mereka datang! Bersiap!” Atmosfernya kian terasa dan itu adalah awal dari mulainya sebuah pertarungan besar-besaran.

Ketika mendekat aku bisa melihat calon penyerang kami menutupi semua wajahnya dengan handuk. Sehingga mustahil untuk mengenali mereka. Seperti yang diperintahkan, aku berkata pada mereka dengan sopan jika Master Itosu ada dalam rombongan dan kami semua adalah muridnya. Aku menambahkan dengan berkata pelan pada mereka, “Mungkin kalian salah orang.”

“Itosu? Siapa dia? Salah satu dari mereka menggerutu. Aku tidak tahu siapa dia!”
Sementara yang lain begitu melihat tubuhku yang pendek lantas berteriak, “Hei, kau cuma anak-anak! Apa yang kau lakukan dengan ikut campur urusan orang dewasa! Cepat minggir sana!”
Dan bersamaan dengan itu dia menarik bajuku.

Aku menurunkan pinggulku ke kuda-kuda karate. Tapi bersamaan dengan itu kudengar suara Itosu: “Jangan bertarung, Funakoshi! Dengarkan apa yang mereka katakan. Bicaralah pada mereka.”
“Baiklah,” Aku berkata pada laki-laki di depanku, “Katakanlah, kenapa kau ingin melawan kami?” (Bersambung – Indoshotokan)

Artikel ini dikutip dan diterjemahkan dari buku “Karate-Do: My Way of Life” yang ditulis oleh Gichin Funakoshi dengan judul aslinya “Win by Losing”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

LATIHAN SELURUH TUBUH YANG IDEAL MENGGABUNGKAN PEREGANGAN OTOT DAN RELAKSASI

Orang yang mengerjakan latihan bela diri berlebih tidak hanya mengencangkan tubuh mereka. Kadang mereka menjadi keras kepala dan juga menjadi tidak terkendali. Karena itulah untuk membantu mengendurkan kondisi yang kaku ini diperlukan pemanasan yang sesuai sebelum latihan dan pendinginan sesudahnya. Di dojo, karena terbatasnya waktu, aku sungguh minta maaf karena latihan pendinginan seringkali dilupakan, yang mana hal itu benar-benar disayangkan. Idealnya, latihan didahului dengan lima belas menit pemanasan, dan diakhiri dengan tujuh sampai lima belas menit latihan pendinginan.

Bagi murid paruh baya dan yang berumur lebih tua, yang terbaik adalah berlatih dasar-dasar teknik karate di sebuah ruangan yang nyaman sekitar 30 sampai 40 menit. Ini akan memberikan latihan untuk hara (admin: perut). Dan sekalipun kita tidak punya banyak kesempatan untuk berlatih sampai berkeringat seiring kita lebih berumur, sebentar saja keringat akan mengalir dari kepala sampai kaki, dan perasaan akan lebih baik dari yang bisa dibayangkan. Rasanya lebih nikmat dibanding berendam di air panas atau masuk ke sauna.

Berbaring di atas bumi dan menyerahkan dirimu sepenuhnya ke alam mewakili bentuk keselarasan yang horizontal. Sementara berdiri tegak lurus dan menggambarkan tanaman tumbuh mewakili bentuk keselarasan yang vertikal; keduanya adalah keseimbangan. Karate menggunakan gerakan dan reaksi berdasarkan hukum fisika dan hukum alam tersebut. Itulah sebabnya hal yang terpenting diingat adalah ketika berlatih untuk memfokuskan perhatian pada titik pusat gravitasi tubuh.

Pada dasarnya, teknik karate dikerjakan dengan postur yang baik, bergerak sambil mempertahankan pandangan di lantai. Selama proses ini beragam gerakan ditambahkan; termasuk bergerak maju dan mundur, ke kiri dan ke kanan, membungkuk, berputar, memutar balik dan melompat. Namun demikian, ada sebuah aturan: posisi tubuh tegak lurus sebelum dan sesudah gerakan-gerakan tersebut dilakukan. Ini akan mengijinkanmu bergerak bebas dan sesuka hati ke sembarang arah bergantung keadaan. Hanya saat pusat gravitasimu tetap dibawah kendali, yang akan memungkinkanmu melakukan sembarang gerakan tanpa keraguan. (Indoshotokan)

Artikel ini diterjemahkan dari buku “Black Belt Karate – The Intensive Course” yang ditulis oleh Hirokazu Kanazawa dengan judul aslinya”The Ideal Full Body Workout Combining Muscle Tension and Relaxation”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

KATA

Tidak akan ada habisnya membedakan bermacam-macam perguruan dan aliran karate. Sama halnya seperti judo dan kendo di masa lampau, bermacam-macam perguruan dan aliran tersebut dikenal dari nama pemilik dojo masing-masing. Dalam budo, tidak hanya karate, penafsiran seni bela diri dari mereka yang mengerjakan berbeda mengikuti penafsiran dari instruktur mereka. Lebih jauh, tidak perlu dikatakan lagi bahwa variasi dalam menampilkannya adalah ciri khas dari tiap individu.

Namun demikian, jika kata akan dikelompokkan, maka akan terbagi pada Shorei-ryu dan Shorin-ryu. Orang-orang jaman dulu menekankan terutama pada pengembangan tenaga otot, fisik dan hasilnya menakjubkan dalam hal kekuatan. Sebaliknya, Shorin-ryu (Perguruan Shorin) sangat ringat dan cepat. Dengan gerakan cepat kedepan dan kebelakang bisa disamakan seperti lincahnya burung elang yang terbang. Kata Tekki, begitu juga dengan Jutte, Hangetsu, Jion, dan beberapa lainnya menjadi milik dari Shorei-ryu. Sementara Kata Heian, Bassai, Kanku, Enpi, Gankaku dan beberapa lainnya berhubungan dengan Shorin-ryu.

Benar-benar menakjubkan melihat orang berbadan besar dan berat mengerjakan kata Shorei-ryu. Memukau penonton dengan menampilkan kekuatan yang luar biasa. Namun demikian, kata Shorei-ryu sedikit mempunyai kekurangan dalam hal kecepatan. Hal yang serupa, orang tidak bisa berkata apapun kecuali sangat terkesan melihat orang berbadan ramping, dengan gerakan secepat burung terbang mengerjakan kata Shorin-ryu dengan kecepatan yang membutakan, yang mana merupakan hasil dari latihan yang intensif. Walau begitu, kedua gaya tersebut tentu saja mengembangkan pikiran dan tubuh, dan bukan berarti yang satu lebih baik dari yang lainnya.

Keduanya mempunyai kelebihan dan kekurangan, dan bagi mereka yang belajar karate wajib menyadari hal-hal ini dan mempelajarinya dengan sesuai. Sebagai tambahan dari dua jenis kata diatas, sebagai hasil penelitian selama beberapa tahun pada hal yang umum, aku telah mengembangkan dua kata; Taikyoku no Kata untuk pemula, dan Ten no Kata, untuk digunakan sebagai bentuk bertanding (kumite). Aku juga menganjurkan agar kedua kata ini dipelajari dengan tekun.

Jika seluruh kata yang bermacam-macam itu dihitung, maka jumlahnya akan sangat banyak. Namun demikian, sejak belajar kata bukan sekedar untuk mengerjakan saja, melainkan untuk menempa dan mendispilinkan diri, maka tidak perlu belajar banyak kata tanpa pandang bulu. Sudah cukup bagi seseorang untuk mengenali dan mengikuti sembilan belas kata berikut ini dan terus melatihnya. Dari kata Shorin-ryu, pemula pertama-tama wajib belajar Taikyouku Shodan, Taikyouku Nidan, Taikyouku Sandan dan diikuti dengan Heian Shodan, Nidan, Sandan, Yondan, Godan, Bassai, Kanku, Enpi dan Gankaku. Dari kata Shorei-ryu, seseorang harus belajar Tekki Shodan, Tekki Nidan, Tekki Sandan, Jutte, Hangetsu dan Jion.

Yang termasuk dalam kata yang sudah disebutkan diatas adalah Ten no Kata, sebagai bentuk latihan kumite yang harus dipelajari. Aku percaya menggunakan bentuk dan manfaat terbaik dari bermacam-macam kata. Bentuk-bentuk yang lain, karena itu, tidak akan disebutkan disini. (Indoshotokan)

Artikel ini dikutip dan diterjemahkan dari buku “Karate-Do Kyohan” yang ditulis oleh Gichin Funakoshi dengan judul aslinya “Kata”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

KEMAMPUAN UNTUK MEMBACA PIKIRAN LAWANMU (2)

Kukatakan pada mereka, jika mereka tidak percaya dengan teori ini, maka mereka harus mencobanya sendiri. Bagi para pelajar di sekolah aku berkata, “Jika kau punya keinginan pada gurumu, atau sesuatu yag harus diurus di sekolahmu, maka berdirilah dengan posisi pusar menghadap gurumu ketika kau bicara.”

Aku berkata jika mereka lakukan itu, guru mereka akan mengerti perkataan mereka, menjawab, dan memberikan bantuan yang mereka butuhkan. Dan tentu saja, tidak lama kemudian beberapa anak datang padaku sambil berkata, “Sensei Kanazawa! Nasihatmu berhasil. Aku kerjakan apa yang kau katakan, bicara pada guruku dengan pusarku menghadap ke arahnya, dan semua berjalan dengan sempurna!”

Aku bukanlah penyebab dari fenomena ini, tapi aku yakin bahwa dengan mengarahkan pusarmu pada orang yang kau ajak bicara, pusat gravitasi dan bagian bawah perutmu ikut berselaras dengan orang tersebut, memungkinkan energi masing-masing untuk menyatu.

Masih banyak kejadian di luar sana yang bisa membuktikan hal ini. Banyak hal tentang tubuh manusia yang manusia sendiripun belum memahaminya. Sementara tiap individu manusia adalah alam semesta kecil bagi dirinya sendiri, dalam alam semesta yang lebih besar, dan dalam alam semesta antar manusia yang lebih kecil, masih banyak keajaiban yang tidak terhitung yang tidak bisa kita jelaskan lewat sains moderen.

Jika sebelumnya kusebutkan alam semesta adalah kosong, maka arti sesungguhnya tidaklah demikian; disinilah sebuah ruang dimana segala sesuatu yang tidak kelihatan berubah menjadi ada; sebuah ruang yang diisi apa saja dan segalanya; menghasilkan beragam energi yang terus memancar dan mengalir. Inilah arti filosofis yang terkandung pada huruf Cina yang digunakan untuk menulis karate, yang juga digunakan untuk menulis kata Jepang untuk ruang.

Galaksi Bima Sakti, satu dari 200 milyar lebih galaksi yang membentuk alam semesta, terdiri antara 200 sampai 400 milyar bintang. Sebuah planet kecil bernama bumi melintasi satu dari bintang-bintang ini dalam tata surya kita. Dan di planet inilah kita tinggal, bersama dengan lebih dari enam milyar manusia. Sementara keberadaan kita amatlah kecil jika dilihat dari luar angkasa, 60 triliun sel yang membentuk tubuh manusia, termasuk 14 miliar sel pembentuk otak, yang mampu mewakili alam semesta yang tidak terbatas ini memiliki kekuatan yang sungguh luar biasa.

Memikirkan hal-hal seperti ini, kita tidak bisa dengan mudahnya mengabaikan fenomena ini dengan berkata kita tidak mengerti, atau fenomena itu hanyalah omong kosong. Kenyataannya, ada banyak orang yang memahami hal itu adalah benar, karena mereka bisa merasakan kekuatan semacam itu pada tingkat jasmani. (Indoshotokan)

Artikel ini diterjemahkan dari buku “Black Belt Karate – The Intensive Course” yang ditulis oleh Hirokazu Kanazawa dengan judul aslinya”The Ability to Read Your Opponent’s Mind”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

KEMAMPUAN UNTUK MEMBACA PIKIRAN LAWANMU (1)

Ada beberapa murid yang sekalipun adalah pembuat onar di masa mudanya, terus berlatih karate sampai sekarang. Karena mereka juga tumbuh secara emosional, saat mereka bertemu seseorang yang sudah bertahun-tahun tidak dilihatnya, mereka sering menyapa dengan perkataan seperti, “Kau dulu benar-benar anak yang payah. Bagaimana bisa kau sekarang tumbuh menjadi orang yang hebat?” Ini adalah hal yang sangat baik. Sepanjang pengalamanku – dan tidak hanya selama mengajar karate langsung di dojo, tapi juga dalam perjalananku ketika mengajar di banyak negara – belum pernah kulihat anak-anak muda di sekitarku yang berlatih karate berubah menjadi tidak baik.

Diantara murid-muridku yang sudah dewasa, ada beberapa yang hanya bisa sesekali datang ke dojo karena jadwal kerja mereka yang sibuk. Mereka menghargai karate karena memberikan mereka kemampuan untuk bertahan pada situasi yang paling sulit sekalipun. Banyak dari mereka juga memberitahuku jika mereka bisa mengelola hubungan dengan orang lain secara lebih mudah. Atau bahkan ketika menghadapi banyak masalah sekaligus, mereka bisa mengatasinya tanpa panik.

Ketika “K”, seorang mahasiswa, akan berlaga di turnamen karate, dia sering ditegur wasit karena tidak sabaran dan menjadi agresif, akhirnya beradu pendapat dengan wasit. Ketika sudah lulus dari universitas, anak muda ini bekerja di perusahaan properti. Dia membuat pegawai lain terkesima dengan kemampuan menjualnya yang bagus. Secara kebetulan aku bertemu dengan direktur perusahaan yang menjelaskan kemampuan “K” dengan berkata, “Lebih dari siapapun, dia mempunyai karakter yang baik.”

Selain itu, aku yakin jika “K” pasti sudah mendapatkan apa yang disebut dengan kebiasaan, atau mungkin kemampuan yang membuatnya bisa membaca, atau mengukur pikiran lawannya. Itu karena dalam karate kau berlatih menselaraskan napas, gerakan, kekuatan dan kewaspadaan dengan lawanmu. Saat berlatih karate, pertama-tama kau gunakan waktumu dengan hati-hati untuk mengamati gerakan lawanmu. Segera ketika lawan mengencangkan ototnya, kau kencangkan juga ototmu; ketika dia membuang napas, kau juga membuang napas; dan ketika dia melonggarkan ototnya, kau melakukan gerakanmu dan menyerang. Proses ini dilakukan berulang kali, namun selama melakukannya, kau melihat mata lawan.

Beberapa bulan kemudian dilalui dengan cara bagaimana bergerak lebih dekat untuk menselaraskan diri dengan lawan. Dengan melakukan itu, adalah mungkin bagi kita untuk membaca pikiran lawan hanya dengan melihat matanya. Ini bukanlah sesuatu yang bisa dijelaskan lewat kata-kata, melainkan sesuatu yang hanya bisa dipahami dan diperoleh lewat latihan dan pengalaman dalam karate.

Aku ingin berbagi denganmu kebenaran lainnya yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah. Salah satu kebiasaanku dalam mengajar adalah ketika menghadapi orang pada level senior, pandanglah hanya salah satu matanya dengan kedua matamu. Karena dia lebih kuat dan punya pengalaman lebih banyak, jika kau memandang kedua matanya, kau akan mudah merasa kewalahan – seperti seekor katak yang ditantang seekor ular – yang membuat sulit mengambil manfaat dari latihan bersamanya. Tapi, dengan menggunakan kedua matamu untuk memandang hanya salah satu dari matanya, maka bisa memperkecil rasa takut. Ini bisa menjadi satu sumber energi psikologis yang bisa membuatmu berlatih dengan murid senior.

Juga, sementara hal ini tidak bisa dijelaskan secara ilmiah, adalah teoriku ketika kita membicarakan hal penting dengan orang lain, kau harus selalu menghadap ke orang itu sehingga titik pusarmu berada di arahnya. Dengan melakukan itu akan membantu aliran energi spiritual mengarah padanya, dan jika energimu cukup kuat akan membuatmu bisa mengambil energinya. Pendekatan ini akan menghasilkan diskusi yang produktif dan negosiasi yang berhasil. (Bersambung – Indoshotokan)

Artikel ini diterjemahkan dari buku “Black Belt Karate – The Intensive Course” yang ditulis oleh Hirokazu Kanazawa dengan judul aslinya”The Ability to Read Your Opponent’s Mind”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

MELANGGAR SEBUAH ATURAN

Harus kuakui jika aku pernah melupakan peraturan yang tidak seharusnya dilanggar. Peristiwa ini terjadi beberapa tahun setelah berakhirnya Perang Pasifik.

Berumur sekitar delapan puluh tahunan saat itu, aku lebih aktif daripada yang sekarang, dan suatu hari aku pergi ke sebuah pesta membaca sajak di Tamagawa. Disana juga menjadi sebuah kesempatan yang baik untuk minum (untuk mendukung perayaan). Pesta itu berakhir larut malam, dan aku berhasil mengejar kereta pulang ke Tokyo tepat pada waktunya.

Saat itu Jepang masih dalam keadaan yang kacau sesudah perang, dan orang-orang telah diperingatkan akan bahayanya berjalan sendiri di malam hari. Tapi aku yakin tidak ada seorangpun yang mau mengganggu orang tua sepertiku. Karena itulah setelah turun dari kereta di Stasiun Otsuka aku langsung pulang ke rumah. Sebagian dari Tokyo telah hancur dan sepi. Sementara rumahku yang untungnya lolos dari serangan bom, jaraknya masih cukup jauh.

Hujan mulai turun, karena itu kutarik kerah mantelku, membuka payung dan mulai berjalan. Peristiwa yang ingin kuceritakan terjadi di sebuah tempat antara Otsuka dan Hikawashita. Kejadian itu bermula setelah seseorang yang berpakaian hitam tiba-tiba keluar dari balik sebuah tiang telepon. “Hei, Kakek!” dia berteriak sambil maju mendorong payungku.

Berpikir jika dia harus diajak berkenalan atau dihadapi dengan ramah, aku mundur dengan sopan sambil kubuka topiku dan membungkuk padanya. Tampaknya hal ini membuatnya heran. Kemudian, setelah hening beberapa saat, dia berkata dalam suara yang terdengar ragu-ragu, “Punya sebatang rokok, Kakek?” Sekarang aku baru sadar jika dia adalah seorang pencuri. Tapi aku juga bisa tahu dari nada suaranya dia masih sangat pemula – seorang pendatang baru, atau bisa dibilang mencoba berpura-pura agar terlihat kuat.

“Aku tidak merokok” aku menjawab.

Perlu kujelaskan jika aku tidak pernah membawa tas. Semuanya terbungkus dibalik furoshiki-ku yang berwarna polos gelap (admin: furoshiki adalah buntelan tradisional khas Jepang. Biasanya digunakan untuk bepergian atau membungkus hadiah). Tapi yang kupunya sekarang hanyalah kotak makan siangku yang telah kosong dan beberapa buku. 

“Kenapa harus bohong, Kakek? tanya laki-laki itu. “Kau punya beberapa batang rokok dalam furoshiki milikmu.”

“Sudah kukatakan padamu jika aku tidak merokok. Sekarang, bisakah kau ijinkan aku untuk lewat?”

“Lupakan saja!” laki-laki itu berteriak, “Buka furoshiki-mu dan tunjukkan apa isinya!”

“Tidak ada barang didalamnya yang berharga,” aku berkata.

“Itu menurutmu!” Dia langsung menyambar payung dari tanganku dan seolah ingin mencoba memukulku dengan benda itu.

Dia membuka lebar kuda-kudanya. Saat dia mengayunkan payung kearahku, aku merunduk kebawah dan tangan kananku meraih dengan kuat alat vitalnya. Aku yakin, itu sakit dan nyaris tidak tertahankan. Payung itu jatuh ke tanah dan laki-laki itu setelah menangis kesakitan, tampaknya dia pingsan.

Tidak lama setelah itu, seorang polisi patroli muncul di tempat kejadian, dan aku menyerahkan penyerangku untuk ditahan olehnya.

Saat melanjutkan perjalanan, aku baru mengetahui jika laki-laki yang berusaha merampok tadi adalah prajurit veteran yang baru kembali dari garis depan yang jauh. Tidak punya lagi pekerjaan, dia memutuskan untuk merampok aku pada saat itu. Dan aku juga saat itu telah melakukan apa yang sering kularang pada murid-muridku yang masih muda. Aku telah menyerang. Aku tidak merasa begitu bangga pada diriku sendiri. (Indoshotokan)

Artikel ini dikutip dan diterjemahkan dari buku “Karate-Do: My Way of Life” yang ditulis oleh Gichin Funakoshi dengan judul aslinya “Violating a Rule”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

NILAI DARI KARATE-DO

Karate-do pada pokoknya adalah sebuah seni bela diri (budo), dan dengan demikian karate-do berusaha mencapai “jalan” (do) dengan “berlatih senjata” (bu). Sebagaimana seni bela diri lainnya, karate-do benar-benar membutuhkan sebuah kedisiplinan. Tubuh harus melewati latihan yang panjang dan berat selama bertahun-tahun. Hal ini tidak hanya mengembangkan badan yang kuat, tapi juga karakter yang tangguh.

Pengendalian diri tidak hanya dibutuhkan dalam hal teknik saja, tapi juga pada emosi seperti ketakutan, sakit dan kebencian. Sebagai sebuah seni untuk bertarung, karate-do melibatkan perseteruan antara dua keinginan (admin: keinginan baik dan jahat), yang mana masing-masing berusaha ingin menang. Pengendalian diri mengembangkan sifat seperti ketabahan, tapi juga rendah hati, menghargai diri sendiri dan orang lain.

Karate-do juga merupakan alat yang tangguh untuk membela diri karena tidak membutuhkan senjata khusus. Senjata yang dibutuhkan selalu tersedia. Satu hal yang cukup menguntungkan dari karate-do untuk membela diri adalah pertahanan bisa dicocokan tepat dengan serangan. Jika kau memakai senjata api untuk membela diri, kau tidak bisa melakukan apapun kecuali menembak lawanmu. Dengan karate-do kau bisa menyingkirkan lawan tanpa melukai atau bahkan membunuhnya. Sikap membela diri juga membantu seseorang untuk menghindari penyakit dan musibah dengan pendekatan yang lebih hati-hati dalam hidup sehari-hari.

Nilai fisik dari karate-do juga unik. Ini karena melibatkan aktivitas mengembangkan semua anggota badan tanpa harus cemas ada yang kurang berkembang, atau terlalu berkembang. Latihan bisa dikerjakan dimanapun. Tidak perlu kebutuhan khusus untuk tempat latihan. Latihan bisa dikerjakan sendiri tanpa seorang rekan. Ini menjadi kelebihan yang jelas dibanding kebanyakan olah raga. Setiap orang bisa berlatih karate-do dan mengambil manfaat darinya. Selalu ada cara menyesuaikan latihanmu dengan kondisi fisik maupun tujuanmu. Karate-do sekarang telah berkembang menjadi sebuah olah raga kompetisi yang sangat populer, dan hal itu bisa memenuhi kebutuhan anak-anak muda untuk menemukan jati diri mereka. (Indoshotokan)

Artikel ini diterjemahkan dari buku “Scientific Karatedo” yang ditulis oleh Masayuki Kukan Hisataka dengan judul aslinya”The Value of Karatedo”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

MELATIH BAGIAN BAWAH PERUT MEMPERBAIKI PIKIRAN

Ketika aku masih seorang pelajar, aku telah mendapatkan pengalaman sendiri tentang hara (admin: perut) dan melanjutkan penelitianku tentang hal ini. Berdasarkan pengalamanku, aku bisa memberitahu orang-orang di sekitarku bahwa melatih bagian bawah perut akan meningkatkan kecerdasan. Saat mendengar ideku itu, adikku yang baru saja menjadi seorang dokter medis berkata dengan sebuah kekhawatiran, “Kakak, sekalipun hal itu benar, orang-orang akan mentertawakanmu jika kau membuat pernyataan yang tidak didukung bukti ilmiah. Jika aku menjadi dirimu, aku tidak akan berkata pada yang lain tentang hal itu.”

Namun demikian baru-baru ini, adikku datang kembali padaku sambil menunjukkan sebuah jurnal kedokteran sambil berkata, ”Aku sungguh tidak percaya. Apa yang kau katakan dulu ternyata benar.” Dia menjelaskan padaku telah dibuktikan secara medis bahwa setelah kehidupan pertama muncul dan sepanjang evolusi manusia, sel-sel saraf usus dan sel-sel saraf otak awalnya berbagi hubungan yang sangat dekat.

Fungsi perut adalah mencerna makanan, dan usus menyerap nutrisi dari makanan yang kita makan. Usus sebagai organ imunologi terbesar di dunia, dikatakan ukurannya sekitar tujuh meter (23 kaki) dan jika diletakkan mendatar akan menutupi permukaan lapangan tenis. Ada sekitar 100 juta sel saraf di dalam usus, dan kira-kira setengah dari sel saraf berada di luar otak.

Melalui proses evolusi yang panjang manusia telah mencapai bentuknya seperti sekarang ini. Dan sel saraf di saluran usus dan batang otak (yang berfungsi mendukung kehidupan kita dan terdiri dari medulla oblongata, otak bagian tengah, penghubung medulla dan thalamus, thalamus dan hypothalamus) juga mengalami hal serupa. Sebagian sel saraf dari saluran usus bermigrasi ke atas dan berkembang lebih jauh di kepala, bergabung dengan cerebrum untuk membentuk otak yang mempermudah kecerdasan manusia.

Berkaitan dengan karate, aku telah menerima laporan yang sangat menarik dari banyak instruktur di luar negeri. Mereka memberitahuku jika para kepala sekolah di negara-negara tersebut menunjukkan ketertarikan yang besar pada karate. Alasan dibalik ini adalah kebanyakan murid dengan nilai terbaik ternyata berlatih karate.

Jauh sepuluh tahun sebelumnya, ada peningkatan yang jelas dari anak-anak yang berlatih karate. Dan tidak hanya di Jepang tapi juga di banyak negara di dunia, para pendidik penasaran mengapa anak-anak yang berlatih karate bisa mendapat nilai yang baik. Hal ini menyebabkan munculnya data yang menyoroti hubungan antara karate dan prestasi di kelas. Selama berlatih karate anak-anak belajar tentang hubungan hirarkis, sopan santun dan etika yang sesuai. Dan selama proses itu mereka belajar menghormati orang tua mereka. Yang tidak kalah pentingnya prestasi mereka di kelas juga meningkat.

Latihan karate yang berkelanjutan tidak hanya meningkatkan konsentrasi, tapi juga memperbaiki kecerdasan karena sel syaraf di saluran usus dan otak pada intinya adalah sama. Walaupun telah kudengar beberapa kepala sekolah meragukan logika ini, bagi para instruktur di luar negeri, aku menjelaskan hal ini demikian: melatih bagian bawah perut akan menghasilkan konsentrasi dan kesabaran yang lebih baik. Dan memperkuat hara juga memperkuat pikiran.

Hubungan antara Yin (negatif, gelap, wanita) dan Yang (positif, terang, pria) hadir dalam semua hal. Dan ini juga berlaku untuk hara. Kita menerima dan menyerap nutrisi dan kalori dari makanan yang kita makan yang membuat kita tumbuh. Ini adalah peran luar dari hara, aspek fisik, mewakili sisi Yang. Namun demikian di sisi sebaliknya, mewakili sisi Yin, hara menjalankan fungsi yang tidak kelihatan. Sebuah peran yang berfungsi di tahap spiritual. Adalah penting untuk mendapatkan sebuah pemahaman tentang kedua hal ini, dan berlatih yang sesuai.

Pelajar, pegawai kantoran, dan kebanyakan masyarakat moderen, dari waktu ke waktu setiap hari memenuhi kepala mereka dengan begitu banyak informasi. Mereka menghabiskan waktunya memandangi layar komputer, dan biasanya terkena beragam masalah. Akibatnya mereka merasakan kaku di bahunya yang berujung pada gaya hidup penuh stress. Untuk orang-orang seperti ini, berlatih karate memberi mereka kesempatan untuk memperbaiki postur, meregangkan tangan dan kaki, meredakan tegang di bahu mereka, dan mengkonsentrasikan kekuatan di perut, yang membantu menghindari penyakit dan mengurangi stress.

Ketika orang lelah secara mental, mereka menjadi mudah marah dan tidak punya kemampuan untuk mengelola stress dengan efektif. Sementara peran perut untuk mencerna makanan, salah satu fungsi usus adalah mencerna semua stress emosional. Inilah sebabnya tidak mengejutkan jika berlatih karate membantu mengatasi penyakit. (Indoshotokan)

Artikel ini diterjemahkan dari buku “Black Belt Karate – The Intensive Course” yang ditulis oleh Hirokazu Kanazawa dengan judul aslinya”Training the Lower Abdomen Improves the Mind”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

SANG PANGLIMA MELAWAN SEEKOR LEMBU JANTAN (3)

Matsumura melangkah ke singgasana raja. Dia memeriksa para penjaga. Semuanya siap. Ketika Matsumura akan meninggalkan tempat itu sang raja melihat dan memanggilnya. Matsumura membungkuk dengan hormat. Sambil mengunyah buah pir yang menjadi camilannya, sang raja berkata,”Kukira kau sudah siap menghadapi lembu itu?”

“Tentu saja Yang Mulia.” Jawab Matsumura.

“Aku tahu kau pasti akan melakukannya.” Raja berkata sambil memetik anggur dari mangkuk. “Kau belum pernah mengecewakanku.”

“Semoga ini bukan menjadi yang pertama.” Matsumura bicara pada dirinya sendiri seiring dia memberi hormat dan meninggalkan tempat itu. Raja yang kecewa adalah sebuah kabar buruk untuk bawahannya.

Matsumura mendengar namanya dipanggil. Dia melangkah ke tengah arena disambut sorak sorai para penonton. Dia merasa ketakutan muncul dalam dirinya. Dia mengambil napas dalam-dalam dan membuang jauh-jauh ketakutan dari pikirannya. Dia ingin melawan lembu itu dengan emosi dan pikiran yang tenang. Dia sudah mendengar suara ribut dari lembu yang merasa bosan di dalam kandang, berusaha menggedor kurungan dengan bahunya. Matsumura melihat lembu jantan itu sambil berharap rencananya akan berjalan mulus. Jika gagal, maka dia akan menanggung malu seumur hidup. 

Matsumura mengangguk pada penjaga kandang, yang kemudian membuka ikatan tali yang menahan pintunya agar tertutup. Lembu itu seolah melemparkan badannya keluar dan menyeruak tiba-tiba yang membuat para penonton terkesiap. Matsumura mengambil posisi kuda-kuda bertarung. Lembu itu melihatnya dan mulai mendekatinya. Matsumura menunggu. Lembu jantan itu berderap mengambil ancang-ancang. Matsumura tetap menunggu. Lembu itu berjalan mendekat sambil mengawasi Matsumura.

Matsumura minggir dengan cepat untuk membiarkan binatang itu lewat. Ketika bergerak, Matsumura tiba-tiba berteriak. Kiai Matsumura bergema ke udara seperti suara petir yang mengagetkan. Penonton mendadak terdiam. Lembu jantan itu memutar badannya melihat Matsumura. Untuk sesaat tidak terjadi apapun. Para penonton menahan napas. Matsumura dan lembu jantan itu saling memandang satu sama lain. Matsumura kembali mengeluarkan kiai. Wajah binatang itu menunjukkan dia kenal suara itu. Lembu itu berlari menjauh ke sisi arena. Matsumura mengikutinya. Dia kiai dan binatang itu kembali melarikan diri. Matsumurapun mengejarnya. Sorak-sorai penontonpun memecah. “Bushi! Bushi! Bushi!” Mereka berteriak. “Sang pendekar! Sang pendekar! Sang pendekar!”

Sang raja akhirnya berdiri. Dia mengangkat tangannya dan penonton perlahan kembali tenang.
“Matsumura,” sang raja berteriak. “Berdirilah di hadapanku.

Matsumura berjalan menjauh dari lembu jantan itu bersamaan dengan penjaga kandang dan pembantunya mengulurkan tali untuk mengembalikan binatang itu ke kandang. Dia berjalan ke seberang arena dimana sang raja berdiri dan diikuti dengan memberi hormat padanya.

“Matsumura,” sang raja berkata, “Kekuatanmu sungguh luar biasa. Bahkan lembu paling tangguh di negeri ini takut bertarung melawanmu. Sejak hari ini dan seterusnya kau akan dikenal sebagai ‘Bushi Matsumura.’ Sebagai penghargaan karena kau benar-benar pendekar yang tangguh.” (Indoshotokan)

Artikel ini diterjemahkan dari buku “Legend of the Martial Arts Master” yang ditulis oleh Susan Lynn Peterson dengan judul aslinya”The General Fights a Bull”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

KARATE SEBAGAI SEBUAH SENI BELA DIRI SPIRITUAL

Karate semakin berubah menjadi sebuah olah raga kompetisi. Ini satu alasan mengapa jumlah wanita yang berlatih karate terutama untuk membela diri kian berkurang. Namun disamping menjaga kesehatan, membela diri adalah tujuan yang sesungguhnya dan tetap menjadi sebuah hal terpenting dalam karate.

Ketika ayahku mengajar karate di Universitas Wanita Meijou, dia menemukan dua kata khusus bela diri untuk wanita. Kata yang pertama disebut Meijou yang merujuk pada nama sekolah itu yang berarti “Bintang yang Terang”. Kata yang lain disebut Aoyagi (berarti Pohon Willow Hijau) yang melambangkan keanggunan dan kelembutan. Kedua kata ini dibuat untuk pertarungan yang sesungguhnya. Keduanya mengandung teknik melawan serangan yang biasanya ditujukan pada wanita seperti merangkul dari depan atau belakang; dan pukulan yang menggunakan tenaga dari si penyerang. Tapi kedua kata ini sangat pendek dan tidak cocok untuk kompetisi, dan karena itulah sekarang tidak begitu populer.

Baru-baru ini aku membaca sebuah artikel di surat kabar Asahi Shimbun. Beritanya tentang seorang remaja SMU yang sedang berada di rumah ketika seorang pencuri masuk dan menyerangnya dengan sebilah pisau. Tapi anak itu cukup pintar dengan menghindari serangan dan berhasil kabur. Setelah itu dia berkata pada wartawan, “ Saat aku melihat pisaunya, tubuhku bereaksi spontan. Jika aku tidak berlatih karate aku akan dilumpuhkan oleh rasa takut.”

Untuk menggunakan karate sebagai bela diri, tidak cukup hanya belajar banyak teknik. Seseorang harus mengembangkan sebuah energi mental “ki” yang penting untuk menggerakkan kemampuan di saat yang dibutuhkan. Hal itu adalah ketika seseorang menghadapi bahaya yang tiba-tiba. Tidak peduli seberapa sering seseorang berlatih teknik, tanpa energi ini seseorang tidak akan bisa menggunakannya. Itulah sebabnya mengapa pendidikan mental begitu penting.

Mengembangkan “ki” begitu penting untuk semua seni bela diri, seperti pada judo, kendo dan iaido. Pendidikan mental diperlukan untuk menyingkirkan rasa gugup dan takut, sehingga bisa memfokuskan seluruh energi mental pada satu titik. Karena karate ditujukan pada kemampuan mempertahankan diri dengan tangan kosong, maka energi mental yang fleksibel sangatlah penting. Berdasarkan alasan tersebut seseorang dapat memilih karate sebagai seni bela diri untuk membentuk jiwa (ki no budo).

Tentu saja kondisi fisik juga mempengaruhi perkembangan seseorang secara umum. Dengan kata lain orang yang tidak punya kepercayaan diri atas fisiknya, juga lemah secara mental dan psikologis. Karena latihan karate mengembangkan seluruh tubuh – bahkan orang dengan kondisi lemahpun bisa mendapat fisik yang kuat setelah beberapa waktu – dan membangun dasar bagi kekuatan mental dan psikologis. (Indoshotokan)

Artikel ini diterjemahkan dari buku “Empty Hand – The Essence of Budo Karate” yang ditulis oleh Kenei Mabuni dengan judul aslinya”Karate as a Spiritual Martial Art”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

SANG PANGLIMA MELAWAN SEEKOR LEMBU JANTAN (2)

Berhenti sebentar untuk meluruskan seragamnya, Matsumura melangkah lewat pintu masuk kandang. Para pekerja sangat kaget melihat komandan para pengawal, Matsumura yang hebat tiba-tiba muncul di kandang.

“Aku penjaga kandang ini,” orang tua itu berkata.
“Apa yang bisa kubantu, tuan?”

“Antarkan aku ke lembu jantan itu,” Matsumura memerintahkan.
“Aku ingin melihat sendiri lawanku, belajar gaya bertarungnya sebelum aku menjadi lawannya.”

“Tentu saja, Tuan Matsumura,” Penjaga kandang itu menunjuk ke sebuah kurungan di kandang belakang.
“Silahkan, tuan.”

Matsumura berjalan ke kurungan, matanya tertuju pada lembu jantan itu. “Ikat dia,” Matsumura memberi perintah. “Ikat binatang itu supaya tidak bisa bergerak.”

“Baik, tuan.” Si penjaga membentangkan dua utas tali. Satu persatu dia lingkarkan di atas kepala binatang itu dan mengikatnya dengan kuat ke balok kayu di sisi kurungan.

“Sekarang pergilah,” Matsumura memerintahkan. “Kalian semua tinggalkan tempat ini.” Orang-orangpun bergegas keluar dari kandang.

Matsumura melompat masuk ke dalam kurungan. Lembu jantan itu terikat kuat dengan tali. “Tali itu sepertinya tidak terlalu kuat.” Matsumura bicara pada dirinya sendiri. “Jika binatang itu sampai lepas, dia akan menjebakku di dalam kurungan. Rasa takut muncul dalam dirinya, perutnya seolah diputar dan dicengkeram oleh tangan yang kuat. Matsumura mengambil napas dalam-dalam dan menghadapi lembu jantan itu, melawan rasa takutnya.

“Raja memintaku untuk mengalahkanmu. Tapi kau bukan musuhku.” Matsumura mengulurkan rambut ikatnya yang disisir rapi di atas kepalanya. Dia mencabut sebuah jepit rambut dan mencoba ujungnya di sebelah jarinya yang baru tertusuk duri. Sebuah titik berdarahpun muncul. Matsumura pernah mendengar para ahli bela diri yang bisa membunuh dengan sebuah jepit rambut. Tapi dia berharap bisa menyelamatkan satu nyawa dengan jepitnya.

Matsumura mengerjakan sebuah kuda-kuda siap bertarung di depan lembu jantan itu. Lembu itu melihatnya dengan penasaran. “Maafkan aku teman,” kata Matsumura. Kemudian dari dadanya, Matsumura mengeluarkan teriakan yang menakutkan, yang dikenal sebagai kiai, dan secepat kilat menusuk hidung lembu itu dengan jepit rambutnya.

Lembu itu berteriak, meronta dan menarik tali yang mengikatnya. Matanya liar. Kepala binatang itu memberontak berusaha menusuk Matsumura dengan tanduknya. Matsumura melihat tali yang mengikatnya. Masih kuat. Untung saja. Sebisa mungkin Matsumura menunggu dengan tenang. Akhirnya lembu itu tenang. Matsumura kembali melepaskan sebuah kiai yang kuat dan menusuk hidung lembu itu dengan jepitnya. Lembu itu kembali meronta dan mencoba untuk melawan. Matsumura menunggu binatang itu berhenti meronta. Lagi, dan lagi, dan lagi – kiai, tusuk, kiai, tusuk. Beberapa menit kemudian dia keluar dari kandang menghirup segarnya udara malam.

Hari berikutnya di festival, Matsumura sang kepala pengawal raja berjalan di sepanjang pinggir arena. Dia memeriksa penjagaan di pintu masuk dan menambah dua orang di belakang arena untuk mengawasi jika ada pengacau. Dengan matanya yang berpengalaman, dia mengawasi kerumunan penonton yang bisa saja menyakiti sang raja. Dia tidak melihat seorangpun. Orang-orang Okinawa sedang ingin berpesta. Bendera yang berwarna-warni menghiasi arena, dan bau sedap ikan panggang serta makanan lain memenuhi udara. Festival ini menjadi salah satu yang terbaik tahun ini. Orang-orang menyukai demonstrasi menunggang kuda, pertarungan dan kesempatan untuk makan dan bergembira. (Bersambung – Indoshotokan)

Artikel ini diterjemahkan dari buku “Legend of the Martial Arts Master” yang ditulis oleh Susan Lynn Peterson dengan judul aslinya”The General Fights a Bull”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

SANG PANGLIMA MELAWAN SEEKOR LEMBU JANTAN (1)

“Dia luar biasa, bukan?” Raja Sho bertanya pada Matsumura. “Dia terlalu liar dibanding lembu petarung pada umumnya. Dia sudah membunuh beberapa ekor lembu lain di arena.”

Di depan sang raja dan Matsumura, di dalam kandang istana berdiri dengan gagahnya seekor lembu jantan. Yang menarik perhatian Matsumura, otot-otot lengan lembu jantan itu sungguh menunjukkannya sebagai binatang yang kuat. Ukuran lengannya bahkan mengalahkan kepalanya yang besar. 

“Benar, Yang Mulia,” Matsumura menjawab. “Dia benar-benar binatang yang luar biasa.”
“Kau akan membunuhnya,” jawab sang raja.

Matsumura terdiam. Dia memandangi binatang itu, tanduknya yang besar meruncing, ukuran kepala yang besar. Kekuatannya. Kemegahannya.

“Maaf, Yang Mulia?” Dia menjawab, “Aku tidak mengerti apa yang Anda minta dariku.”
“Di acara festival besok,” sang raja menjawab, “Di arena, dalam festival kau akan membunuh lembu jantan itu dengan tangan kosong. Semua orang akan menyaksikan komandan dari pasukan pengawalku, Matsumura yang tangguh, adalah pria terkuat di negeri ini.”

“Tuan, aku tidak pernah menggunakan Te milikku melawan binatang sebelumnya. Te adalah seni untuk bertahan, Yang Mulia. Dan tidak digunakan untuk membantai binatang. Bisakah aku melayani Anda dengan cara yang lain?”

Sang raja memandangnya dengan sorot kemarahan, “Kau ingin memberitahuku bagaimana seharusnya kau melayaniku? Aku sudah membawa lembu jantan ini untukmu. Aku membawa lembu ini untuk menghormati kemampuanmu sebagai ahli bela diri sebelum festival. Kau akan bertarung melawan lembu ini. Kau paham?”

“Yang mulia.....” Matsumura baru akan menjawab.

“Kau akan bertarung melawan lembu jantan itu, dan kau akan menang, atau kulempar kau ke penjara. Kau paham?”

“Baik Yang Mulia. Aku akan bertarung melawan lembu jantan itu.”

Setelah matahari terbenam Matsumura duduk seorang diri di sudut halaman istana. Dia berpikir tentang lembu jantan itu. Seekor binatang yang cantik, kuat dan hebat. Tidak akan mudah mematahkan lehernya, tapi Matsumura bisa melakukannya. Dia bisa melakukan tapi tidak menginginkannya.

“Gunakan Te milikmu hanya untuk bertahan.” Guru Matsumura mengajarkannya demikian. “Gunakan Te untuk membela dirimu sendiri, keluargamu, rajamu dan negerimu. Gunakan untuk membela yang lemah dan jangan memancing keributan. Jangan gunakan seni bela diri hanya untuk pamer.”

Membunuh seekor lembu bagi Matsumura sepertinya hanya menjadi ajang pamer semata. Tapi dia tidak mau masuk penjara. Dia kemudian berjalan ke lapangan. Mungkin sang raja bersedia mengubah pikirannya. Tapi sepertinya tidak mungkin.

Matsumura berjalan ke kebun dengan masalah yang menyesaki pikirannya. Melamun, dia mengarahkan tangannya pada bunga tanaman rambat di sepanjang pinggiran jalan. Seiring berjalan dan berpikir, dia merasakan kelopak bunganya yang lembut menggesek jari-jarinya. Tiba-tiba rasa nyeri menusuk tangannya. Matsumura kaget. Jarinya tertusuk duri bunga asal Cina milik sang raja yang menjorok ke jalan. Dengan hati-hati Matsumura mencabut duri itu dari jarinya. Dia merasakan darah keluar dari jarinya ketika dia menghisap lukanya. Rasanya luar biasa sesuatu yang sangat kecil ternyata bisa menimbulkan nyeri. Tiba-tiba dia mempunyai ide. Matsumura segera berlari dari kebun menuju ke kandang. (Bersambung – Indoshotokan)

Artikel ini diterjemahkan dari buku “Legend of the Martial Arts Master” yang ditulis oleh Susan Lynn Peterson dengan judul aslinya”The General Fights a Bull”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

TENANG DI LUAR, KUAT DI DALAM

“Dengarkan suara dari angin dan air” bermakna bahwa dari luar kau harus terlihat tenang, akan tetapi pikiranmu selalu waspada dan siap. Angin tidak bersuara, tapi akan menimbulkan bunyi ketika menghantam sesuatu. Saat angin berhembus kencang tetap saja terdengar tenang, tapi ketika angin itu turun dan menghantam pohon atau bambu, maka akan menimbulkan gerakan dan suara.

Sama halnya dengan air yang menetes tidak meninggalkan suara. Air hanya menimbulkan bunyi ketika menghantam suatu benda. “Dengarkan suara dari angin dan air” adalah sebuah ekspresi perumpaan bagi orang yang penampilannya dari luar selalu tenang, tapi pikirannya selalu aktif. Tubuh, lengan dan kakimu memang tidak seharusnya terlihat sibuk.

Sementara itu, kau harus berhati-hati menyeimbangkan hubungan antara menyerang dan bertahan, antara bagian dalam dan luar tubuh. Mempunyai pikiran yang tenang akan memudahkanmu beralih dari “yin” (negatif) ke “yang” (positif), dan begitu pula sebaliknya. Aksi adalah “yang” dan diam adalah “yin”.

Ketika dalam dirimu berubah menjadi “yang” atau aksi, maka jadikan bagian luar tubuhmu dalam keadaan “yin” atau tenang. Sebaliknya, ketika dalam dirimu berada dalam kondisi “yin”, maka jadikan bagian luar tubuhmu “yang”. Inilah yang disebut sebagai strategi. Hal ini berhubungan dengan sifat segala sesuatu. Saat tindakanmu cenderung ingin menyerang, kau harus menjaga pikiranmu tetap tenang dan tidak membiarkannya terbawa pada arus. Dengan menjaga pikiran tetap tenang, maka kau bisa mengendalikan tindakanmu dengan lebih baik.

Jika baik tubuh dan pikiranmu aktif, maka keduanya akan sulit dikendalikan. Mengacaukan menyerang dan bertahan, aksi dan ketenangan. Mirip dengan seekor bebek yang kelihatan tenang diatas air, tapi di dalam air kakinya yang berselaput sibuk berenang. Serupa dengan seorang ahli siasat perang yang dari luar terlihat tenang tapi pikirannya selalu tajam. Tujuan dari siasat adalah mencapai kondisi pikiran yang mampu menyeimbangkan menyerang dan bertahan; aksi dan ketenangan.

Berkaitan dengan ungkapan, “Dengarkan suara dari angin dan air” Yagyu Jubei Mitsuyoshi, anak tertua dari Yagyu Munemori (admin: samurai ternama yang mendirikan aliran Yagyu Shinkage-ryu yang populer di jaman Edo), mengajarkan bahkan pada saat pertarungan pikiranmu tidak boleh disibukkan dengan lawanmu yang membuatmu tidak bisa mendengar suara angin dan air. (Indoshotokan)

Artikel ini dikutip dan diterjemahkan dari buku “Secret Tactics” yang ditulis oleh Kazumi Tabata dengan judul aslinya “Be Calm Outside, Be Rigorous Inside”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

FOKUS

Secara singkat, “fokus” dalam karate mengacu pada memusatkan semua tenaga dalam tubuh dengan cepat pada sebuah sasaran tertentu. Fokus tidak hanya memusatkan kekuatan fisik saja, tapi juga kekuatan mental seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Fokus hanya bisa dilakukan dalam waktu yang cepat. Karena karate yang berhasil semua bergantung pada memusatkan kekuatan tubuh, fokus sangatlah penting, dan tanpa itu karate tidak lebih dari sebuah bentuk tarian. Prinsip ini akan sering muncul pada halaman-halaman berikutnya, karena itu diperlukan pemahaman yang jelas pada prinsip tersebut. Untuk menganalisa lebih jauh tentang konsep fokus, sebagai contoh kerjakanlah sebuah teknik pukulan.

Pada pukulan yang berlawanan dengan kuda-kuda (admin: gyaku tsuki), tinju mendorong keluar dari badan bersamaan dengan pinggul yang memutar ke arah pukulan, sehingga memindahkan kekuatan dari pinggul dan tubuh bagian atas ke permukaan tinju, menambah kecepatan dan kekuatannya. Tentu saja, kecepatan dan keseimbangan harus diseimbangkan dengan hati-hati. Dengan kata lain, mengorbankan kecepatan dengan mengerahkan tenaga terlalu banyak ke tubuh dan lengan mesti dihindari. Juga, prinsip mengontrol pernapasan seperti yang dijelaskan sebelumnya berperan penting dalam usaha untuk fokus. Karena itu napas harus benar-benar dihembuskan pada momen terjadinya kontak.

Dan tentu saja, harus dilengkapi dengan sikap mental yang menunjukkan konsentrasi kekuatan tubuh yang total. Bersamaan dengan tinju yang mendekati sasaran, kecepatannya akan ditingkatkan ke titik maksimal, dan saat terjadi kontak otot di seluruh tubuh akan menegang. Efek dari hal ini adalah kecepatan diubah menjadi kekuatan, dan tenaga seluruh tubuh dipusatkan dengan cepat pada pukulan. Hal inilah, yang menjadi inti dari “fokus” dalam karate.

Yang tidak boleh dilupakan adalah pengerahan tenaga yang maksimum berlangsung cepat. Dan gerakan cepat selanjutnya adalah menarik pukulan sebagai persiapan gerakan berikutnya. Oleh karenanya otot-otot rileks, menghirup napas dan posisi tubuh disesuaikan untuk teknik yang berikutnya. Sebuah teknik karate yang tidak disertai fokus adalah tidak efektif dan membuang usaha percuma. (Indoshotokan)

Artikel ini dikutip dan diterjemahkan dari buku “Karate – The Art of Empty Hand Fighting” yang ditulis oleh Hidetaka Nishiyama dari Bagian I dengan judul aslinya “Focus (Kime)”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

HUBUNGAN SAI OKINAWA DENGAN KARATE

Sekitar 400 tahun yang lalu, Jepang dengan tegas menguasai Pulau Okinawa. Salah satu peraturannya adalah memaksa masyarakat Okinawa untuk menyerahkan senjata yang mereka miliki pada orang Jepang. Satu dari sekian banyak senjata tersebut adalah sai.

Sai adalah senjata dengan tiga ujung yang digunakan baik untuk menyerang maupun bertahan (mirip pedang) dan bisa juga dilemparkan (mirip tombak). Seorang yang ahli sai biasanya membawa tiga senjata ini. Dua dipegang di tangan, dimana batang senjata posisinya memanjang di lengan bawah dan inti senjata tersembunyi di tangan. Sai ketiga digantung di sabuk sebagai cadangan jika senjata yang lain hilang ketika sedang bertarung atau dilemparkan. Bahkan ada seorang master sai yang mampu menusuk kaki musuh di tanah dengan ujung lancipnya.

Sai sangat efektif melawan serangan tongkat pemukul atau pedang samurai. Batang dari senjata ini akan sanggup mengait pedang, dan dengan putaran kuat dari pergelangan tangan, seorang yang ahli bisa mematahkan pedang menjadi dua. Bagian tengah sai digunakan menusuk saat menyerang balik, atau menyerang ke sasaran bawah dengan batang senjata juga bisa dilakukan.

Bagian bawah dari lengan yang kuat, yang dibentuk lewat latihan, bahkan bisa menggantikan batang dari sai untuk membalikkan serangan dari sebuah tongkat. Tangkisan karate bisa menggantikan sisi yang tajam dari sai untuk mengunci atau menggagalkan serangan. Jari tangan yang diperkuat akan menggantikan ujung lancip dari sai, dan tinju tangan yang dikeraskan bisa menggantikan gagang sai.

Di masa ketika sai masih digunakan di Okinawa, seorang murid yang menyempurnakan teknik sai-nya adalah dengan berlatih kata seperti yang biasa dilakukan murid karate lainnya. Sekarang, karate sudah benar-benar meninggalkan sai, tapi perguruan Uechi-ryu masih menggunakan sai yang menyilang sebagai simbol yang menunjukkan sejarah karate mereka yang unik.

Artikel ini diterjemahkan dari buku “The Way of Karate” yang ditulis oleh George E. Mattson dengan judul aslinya”The Okinawan Sai and it’s Connection with Karate”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

NILAI DARI KARATE: SEBAGAI JALAN UNTUK MELATIH JIWA

Karate tidak berbeda dengan seni bela diri lain dalam hal membentuk keberanian, sopan-santun, kejujuran, rasa kemanusiaan dan pengendalian diri bagi mereka yang telah menemukan intinya. Namun begitu, karena kebanyakan seni bela diri latihannya keras dari awal, tidaklah cocok bagi orang yang lemah badannya, berpostur buruk, wataknya tidak baik dan bagi murid-murid yang biasanya kehilangan semangat dan berhenti di awal latihan mereka. Lebih jauh, mustahil bagi seorang murid yang karena fisiknya lemah, berlatih begitu keras hingga melampaui batas dan justru mencederai atau menyakiti dirinya sendiri. Tubuhnya tidak sanggup mengikuti kemauannya, dan kegagalan seperti ini juga banyak ditemui.

Karena alasan inilah banyak orang yang fisiknya lemah kemudian menyerah berlatih bela diri. Meskipun latihan dan menumbuhkan keberanian seperti itu sebenarnya penting demi membentuk tubuh yang kuat bagi orang bertubuh lemah. Memang benar, karena itu dalam hal ini begitu juga karate bisa dikerjakan oleh tua dan muda, laki-laki dan perempuan. Karena tidak memerlukan tempat khusus, perlengkapan, atau lawan, latihan yang fleksibel seperti itu bagi orang yang bertubuh lemah bisa mengembangkan tubuh dan pikiran mereka secara bertahap. Dan bahkan dia sendiri mungkin tidak sadar akan kemajuannya yang pesat.

Latihan yang fleksibel seperti ini juga memungkinkan pencapaian besar dalam hal melatih spiritual. Bela diri apapun jika berhenti dikerjakan dalam waktu setengah atau satu tahun, maka kemajuan latihan spiritualnya nyaris tidak bisa diharapkan. Pemahaman lebih dalam pada karate, berusaha menguasai tekniknya, menempa nilai-nilai dari keberanian, sopan santun, keteguhan, kemanusiaan dan pengendalian diri untuk menggunakan semuanya sebagai petunjuk dalam keseharian seseorang. Hal-hal tersebut butuh waktu setidaknya sepuluh sampai dua puluh tahun, bahkan jika mungkin mengabdikan pada seni ini sepanjang hidup. Melihat dari sudut pandang latihan yang mudah diadaptasi, dari sekian banyak seni bela diri aku berpendapat karate sebagai yang terbaik untuk memenuhi kebutuhan melatih jiwa. (Indoshotokan)

Artikel ini dikutip dan diterjemahkan dari buku “Karate-Do Kyohan: The Master Text” yang ditulis oleh Gichin Funakoshi dengan judul aslinya “The Value of Karate – As Spiritual Training”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

NILAI DARI KARATE: SEBAGAI CARA UNTUK MEMBELA DIRI

Hampir semua makhluk hidup mempunyai cara untuk mempertahankan diri, karena jika hal ini tidak ada, maka yang lemah akan dihancurkan dan punah dalam usahanya untuk bertahan hidup. Gigi taring harimau dan singa, cakar burung elang dan garuda, sengatan beracun kalajengking dan lebah, duri mawar dan tanaman Benggala (admin: sejenis tanaman pir yang beracun); tidakkah semua ini adalah persiapan untuk mempertahankan diri? Jika mamalia yang lebih kecil, burung, serangga dan tanaman masing-masing punya kemampuan khusus, tidakkah manusia sebagai makhluk yang bisa berkarya juga mempunyai kemampuan serupa?

Jawaban atas pertanyaan ini ada pada perkataan: Kita tidak boleh bermaksud menyakiti orang lain, tapi kita juga harus menjauhkan diri dari bahaya. Untuk melindungi diri, seseorang harus menemukan cara kekuatan yang lemah bisa mempertahankan diri sendiri dari lawan yang lebih kuat. Kekuatan karate saat ini sudah terkenal keampuhannya untuk mematahkan papan atau meremukkan batu tanpa alat. Dan tidaklah berlebihan untuk menegaskan bahwa orang yang terlatih dengan baik dalam bela diri ini, telah mengubah semua tubuhnya menjadi senjata dengan daya serang yang menakjubkan.

Akhirnya, walaupun karate juga mempunyai teknik bantingan, hal itu masih bergantung pada teknik pukulan, tendangan dan dorongan. Gerakan-gerakan ini lebih cepat dan bisa luput dari mata yang tidak terlatih. Jika kombinasi menahan serangan dilakukan bersamaan, maka orang yang lebih lemah, wanita dan anak-anak muda punya cukup kekuatan menghadapi lawan yang lebih kuat. Singkatnya, keuntungan karate sebagai cara untuk membela diri adalah; tidak membutuhkan senjata; orang tua, orang sakit atau wanita bisa melakukannya; orang bisa efektif mempertahankan diri sendiri meski dengan sedikit kekuatan. Hal-hal inilah yang membuat karate sebagai sebuah bela diri yang tangguh. (Indoshotokan)

Artikel ini dikutip dan diterjemahkan dari buku “Karate-Do Kyohan: The Master Text” yang ditulis oleh Gichin Funakoshi dengan judul aslinya “The Value of Karate – As Self-Defense”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

BERKUNJUNG KE DOJO HONBU SKIF DI JEPANG

Dojo Honbu SKIF terletak di sebuah tempat bernama Kugahara yang menjadi bagian dari Tokyo Ota. Di Kugahara ada sebuah stasiun kereta api kecil yang dikelilingi oleh restoran, toko makanan dan bisnis kecil milik keluarga; dan disana ada juga rumah dan apartemen. Kugahara letaknya dekat dari Tokyo sama seperti lokasi lainnya yaitu Shinjuku, Shibuya atau Roppongi. Tetapi Kugahara masih lebih dekat dibanding destinasi hiburan yang sudah disebutkan tadi.

Dojo letaknya sangat dekat dari stasiun dan bahkan kau bisa melihatnya dari peron Stasiun Kugahara. Dojo berada di bawah turunan jalan dengan beberapa apartemen diatasnya. Saat kau sudah sampai di dojo, sebuah papan nama SKIF dapat dilihat. Sedikit menuruni anak tangga, kau akan melihat ruang latihan beserta kantornya. Saat kau masuk, kantor tepat berada di sebelah kiri dan ruang latihan di sebelah kanan. Genkan (jalan masuk) dilengkapi dengan rak alas kaki di dinding, dan ini sebuah budaya di Jepang. Kau harus melepas kaki sebelum masuk ke kantor maupun ruang latihan.

Di samping genkan ada ruang ganti berukuran kecil yang dilengkapi toilet, shower dan locker untuk menyimpan barang-barangmu. Kantornya berukuran cukup, yang meliputi bagian belakang sebagai gudang, ruang utama untuk sensei yang bekerja disana full time, serta ruang duduk untuk tamu dan pengunjung. Ruangan ini juga berfungsi sebagai tempat pertemuan.

Ruang latihannya cukup luas, sekitar 1.800 kaki atau 160 meter persegi, dan cukup memuat sekitar 40 orang dewasa sekaligus, walaupun cukup padat. Di Shomen (dinding utama), ada sebuah kuil kecil tempat untuk mempersembahkan beras dan sake untuk menghormati para master Shotokan yang sudah meninggal. Disana juga ada foto Gichin Funakoshi, pendiri karate Shotokan, dan disampingnya ada rak untuk menaruh bo (tongkat panjang) dan jo (tongkat pendek).  


Di pojok paling kiri ada dua buah makiwara (sasaran pukulan terbuat dari kayu), sedang di dinding sebelah kanan terdapat cermin. Di sisi kiri dojo ada tatami (tikar) kecil terbentang yang memajang memorabilia dojo, bingkai foto, ornamen, gulungan kaligrafi dan barang-barang penting lainnya seperti dojo-kun (petunjuk dan etika moral berlatih di dojo). Di dekat pintu masuk ada bangku untuk duduk dan melihat latihan.

Lantai dojo selalu kelihatan bersih, karena setiap murid wajib membersihkan sebelum dan sesudah latihan dengan cara mengepel dengan lap basah sebagai bentuk pemanasan. Sabuk hitam, juga tidak luput dari kegiatan ini. Hanya para instruktur yang tidak perlu ikut serta dalam ritual membersihkan tersebut.

Artikel ini dikutip dan diterjemahkan dari buku “Lesson With The Master – 27 Shotokan Karate Lessons With Master Hirokazu Kanazawa” yang ditulis oleh Paul A. Walker dengan judul aslinya “The Honbu Dojo”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.