KONTEN DILINDUNGI HAK CIPTA. DILARANG KERAS MENJIPLAK, MENGEDIT DAN MEMPERBANYAK SEBAGIAN ATAU SELURUH HALAMAN SITUS INI TANPA IJIN.

Cari Artikel

Showing posts with label KISAH INSPIRATIF. Show all posts
Showing posts with label KISAH INSPIRATIF. Show all posts

MELANGGAR SEBUAH ATURAN

Harus kuakui jika aku pernah melupakan peraturan yang tidak seharusnya dilanggar. Peristiwa ini terjadi beberapa tahun setelah berakhirnya Perang Pasifik.

Berumur sekitar delapan puluh tahunan saat itu, aku lebih aktif daripada yang sekarang, dan suatu hari aku pergi ke sebuah pesta membaca sajak di Tamagawa. Disana juga menjadi sebuah kesempatan yang baik untuk minum (untuk mendukung perayaan). Pesta itu berakhir larut malam, dan aku berhasil mengejar kereta pulang ke Tokyo tepat pada waktunya.

Saat itu Jepang masih dalam keadaan yang kacau sesudah perang, dan orang-orang telah diperingatkan akan bahayanya berjalan sendiri di malam hari. Tapi aku yakin tidak ada seorangpun yang mau mengganggu orang tua sepertiku. Karena itulah setelah turun dari kereta di Stasiun Otsuka aku langsung pulang ke rumah. Sebagian dari Tokyo telah hancur dan sepi. Sementara rumahku yang untungnya lolos dari serangan bom, jaraknya masih cukup jauh.

Hujan mulai turun, karena itu kutarik kerah mantelku, membuka payung dan mulai berjalan. Peristiwa yang ingin kuceritakan terjadi di sebuah tempat antara Otsuka dan Hikawashita. Kejadian itu bermula setelah seseorang yang berpakaian hitam tiba-tiba keluar dari balik sebuah tiang telepon. “Hei, Kakek!” dia berteriak sambil maju mendorong payungku.

Berpikir jika dia harus diajak berkenalan atau dihadapi dengan ramah, aku mundur dengan sopan sambil kubuka topiku dan membungkuk padanya. Tampaknya hal ini membuatnya heran. Kemudian, setelah hening beberapa saat, dia berkata dalam suara yang terdengar ragu-ragu, “Punya sebatang rokok, Kakek?” Sekarang aku baru sadar jika dia adalah seorang pencuri. Tapi aku juga bisa tahu dari nada suaranya dia masih sangat pemula – seorang pendatang baru, atau bisa dibilang mencoba berpura-pura agar terlihat kuat.

“Aku tidak merokok” aku menjawab.

Perlu kujelaskan jika aku tidak pernah membawa tas. Semuanya terbungkus dibalik furoshiki-ku yang berwarna polos gelap (admin: furoshiki adalah buntelan tradisional khas Jepang. Biasanya digunakan untuk bepergian atau membungkus hadiah). Tapi yang kupunya sekarang hanyalah kotak makan siangku yang telah kosong dan beberapa buku. 

“Kenapa harus bohong, Kakek? tanya laki-laki itu. “Kau punya beberapa batang rokok dalam furoshiki milikmu.”

“Sudah kukatakan padamu jika aku tidak merokok. Sekarang, bisakah kau ijinkan aku untuk lewat?”

“Lupakan saja!” laki-laki itu berteriak, “Buka furoshiki-mu dan tunjukkan apa isinya!”

“Tidak ada barang didalamnya yang berharga,” aku berkata.

“Itu menurutmu!” Dia langsung menyambar payung dari tanganku dan seolah ingin mencoba memukulku dengan benda itu.

Dia membuka lebar kuda-kudanya. Saat dia mengayunkan payung kearahku, aku merunduk kebawah dan tangan kananku meraih dengan kuat alat vitalnya. Aku yakin, itu sakit dan nyaris tidak tertahankan. Payung itu jatuh ke tanah dan laki-laki itu setelah menangis kesakitan, tampaknya dia pingsan.

Tidak lama setelah itu, seorang polisi patroli muncul di tempat kejadian, dan aku menyerahkan penyerangku untuk ditahan olehnya.

Saat melanjutkan perjalanan, aku baru mengetahui jika laki-laki yang berusaha merampok tadi adalah prajurit veteran yang baru kembali dari garis depan yang jauh. Tidak punya lagi pekerjaan, dia memutuskan untuk merampok aku pada saat itu. Dan aku juga saat itu telah melakukan apa yang sering kularang pada murid-muridku yang masih muda. Aku telah menyerang. Aku tidak merasa begitu bangga pada diriku sendiri. (Indoshotokan)

Artikel ini dikutip dan diterjemahkan dari buku “Karate-Do: My Way of Life” yang ditulis oleh Gichin Funakoshi dengan judul aslinya “Violating a Rule”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

BEHIND THE STORY OF AKB48: KISAH SUKSES GRUP IDOLA JEPANG (4 - TAMAT)


Solidaritas dan kekeluargaan yang tinggi. AKB48 bagaikan keluarga kedua bagi setiap membernya. Karena itu jika ada anggota yang terkena musibah atau mengundurkan diri, maka bisa dipastikan semua member akan menangis bersama saat upacara graduate (istilah bagi anggota yang mengundurkan diri).  Sebuah konser perpisahanpun akan diberikan khusus bagi member yang akan graduate. Konser itu dihadiri semua member AKB48 beserta managemen, dan sang chairman Yasushi Akimoto. Member yang graduate juga diberi sertifikat kelulusan layaknya sebuah sekolah. Para fans juga diberi kesempatan untuk bersalaman. Benar-benar sebuah momen yang tidak terlupakan.

Sombong adalah pantangan. Banyak member AKB48 yang sudah graduate. Sebut saja Atsuko Maeda dan Yuko Ohshima. Sebagai mantan generasi pertama, mereka berdua kini berkarir di dunia akting dan sudah bermain banyak dorama dan film. Tapi walaupun jadwal syuting tengah sibuk, ketika ada konser atau jumpa fans AKB48 mereka akan mendahulukannya. Mereka tidak pernah lupa jika keberhasilan mereka berasal dari AKB48. Sebuah sikap yang patut dipuji.


IMPRESI AKHIR

Ketika berkunjung ke Jakarta beberapa waktu lalu, Yasushi Akimoto mengatakan tidak ada member yang sempurna di AKB48. Dengan bijak Akimoto menambahkan jika semua prestasi dicapai lewat kerja keras, keringat, semangat, kemauan belajar dan air mata. Apa yang dikatakan Akimoto bukan sekedar omong kosong. Melihat member AKB48 bisa menari dengan kompak, atau mendengar lagu-lagunya yang enak di telinga, banyak fans yang tidak tahu bagaimana beratnya proses yang mereka jalani di balik panggung. Jika sobat pernah membaca atau melihat bagaimana latihan member JKT48 tentu akan paham hal ini.

JKT48 dalam sebuah konser di salah satu acara televisi.

Kebanyakan mereka yang mendaftar audisi mempunyai impian yang tinggi. Ingin terkenal, ingin punya banyak penggemar, ingin jadi artis, dsb. Tidak salah kok kalau punya impian, tapi sebelum mendaftar audisi pastikan perbaiki dulu mindset kamu. Apa itu? JKT48 adalah sebuah grup idola dan bukan selebriti. Apa sih bedanya? Selebriti adalah orang yang menghibur untuk alasan uang dan popularitas. That’s it. Tidak jarang untuk itu mereka mengumbar sensasi. Tidak peduli karya mereka jelek atau bahkan miskin karya sama sekali. Grup idola seperti JKT48 mirip dengan pekerja seni yang bergerak di entertainment. Mereka berdedikasi tinggi pada pekerjaannya sebagai entertainer, menghibur fans semata-mata karena mencintai pekerjaannya dan fans. Mereka mencari prestasi dan bukan sensasi.

Menjadi idola juga tidak semudah yang dibayangkan. Saat audisi awal saja pendaftar sudah harus bersaing dengan peserta lain yang pastinya berbakat. Pada audisi final, juri penguji adalah sang chairman sendiri, Yasushi Akimoto. Dialah yang menentukan peserta berhak menjadi trainee atau tidak. Ketika sudah masuk dan diterima di akademi, peserta juga harus melewati latihan yang berat setiap harinya. Sit-up ratusan kali sehari sudah menjadi hal biasa. Belum lagi latihan menari dan menyanyi berjam-jam dari sore hingga malam. Selain itu ada sebuah golden rule dimana seorang member dilarang untuk naksir apalagi sampai pacaran. Hmm.... Para cowok siap-siap gigit jari deh.

Tapi semua kerja keras itu sepadan dengan hasilnya. Itulah yang kini dirasakan JKT48, yang mengikuti kesuksesan AKB48. Selain iklan, beberapa membernya bahkan sudah ada yang merambah ke dunia film. Ingin mendaftar audisi? Well, mengapa tidak? Jika kamu adalah gadis remaja berusia 13 sampai 18 tahun, mempunyai niat kuat dan selalu optimis, maka siapa tahu akan beruntung. Jika tidak ada perubahan, audisi dibuka setiap tahunnya. Pastikan siapkan diri kamu, baca ketentuannya dan ikuti terus beritanya di situs resminya disini. (Tamat – Indoshotokan)

BEHIND THE STORY OF AKB48: KISAH SUKSES GRUP IDOLA JEPANG (3)


Popularitas AKB48 kian menanjak setelah mereka rajin merilis single-single barunya. Sering tampil di layar kaca dan live show, AKB48 kemudian juga mengadakan show di luar negeri. Tahun 2009 Tim A diundang sebagai tamu pada acara Japan Expo di Paris dan menyanyikan versi Inggris dari Ogoe Diamond. Masih di bulan yang sama Tim A melakoni debut mereka di Amerika. Setahun kemudian AKB48 menyanyi di Korea, Rusia dan Singapura. Tidak hanya itu, ketika Jepang dilanda gempa hebat tahun 2011 AKB48 memberikan sumbangan tidak hanya berupa uang. Sebagai kepedulian, seluruh show di teater dibatalkan dan mereka mulai menggalang dana. Para member juga pergi ke lokasi bencana dan menyanyi di sekolah dan teater mereka di sana. Keren. 


BUKAN GIRL BAND TAPI IDOL GROUP

Bagi kebanyakan orang awam, AKB48 sering disamakan dengan girl band. “Ah, mereka khan menyanyi, berkelompok, anggotanya cewek-cewek, menari di panggung....dst”. Beberapa waktu yang lalu Minami Takahashi, salah satu kapten AKB48, berkunjung ke Jakarta dan menjawab hal ini. Menurut keterangan Takahashi, AKB48 adalah sebuah idol group dan bukan girl band. Hmm... lantas dari mana ya, membedakannya? Ini dia jawabannya:

Jumlah member yang sangat banyak. Sebuah girl band biasanya terdiri antara 5 sampai 10 orang. Tapi AKB48 tercatat dalam Guinnes Book of Record sebagai idol group dengan member terbanyak yaitu 48 orang. Bagaimana cara Akimoto mengatur gadis-gadis remaja dengan kepribadian berbeda sebanyak itu? Ternyata cukup simpel. Akimoto hanya menekankan semangat, terus belajar dan pantang menyerah. Hanya dengan ketiga hal itu Akimoto bisa menyatukan semua membernya.

AKB48 dekat dengan fansnya. AKB48 berbeda dengan selebriti pada umumnya yang serba eksklusif, tertutup, sulit dijamah penggemar, gaya hidupnya mewah, dsb. Dengan konsep “Idol You Can Meet Everyday”, penggemar bisa bertemu langsung dengan idola mereka di teater. Bahkan penggemar juga bisa bercakap-cakap, berjabat tangan atau berfoto bersama. Dari sini munculah hubungan baik antara idola dan penggemar. Sudah menjadi hal biasa jika member AKB48 menyalami penggemar sebelum konser. Mereka juga tidak lupa berterima kasih pada fans yang mau datang ke teater mereka. Bahkan tidak jarang member AKB48 menjaga pintu masuk dan merobek tiket fans yang mau nonton. Mereka benar-benar membuktikan slogan “tanpa fans mereka bukan apa-apa.”

Member AKB48 paling senior Atsuko Maeda mengumumkan niatnya untuk graduate dari grup di bulan Mei 2012.

Penggemarnya sopan. Mungkin kita pernah melihat fans yang antri di bandara, berdesak-desakan, menjerit histeris dan berusaha memegang idolanya ketika muncul. Ini tidak terjadi pada Wota AKB48 (sebutan bagi fans AKB48) yang seluruhnya sopan, terpelajar, bersikap dewasa dan tertib. Mereka tidak berusaha menarik-narik apalagi sampai menyakiti idolanya ketika lewat. Inilah efek “idola yang bisa kamu temui setiap hari” yang membuat penggemar tidak sulit menemui idola mereka. Sebuah konsep yang jenius menurut saya.

Kompak dan bertalenta. Inilah ciri utama dari sebuah idol group. Semua member AKB48 biasanya mempunyai bakat yang berhubungan dengan entertainment. Tidak hanya menyanyi atau menari saja, ada member yang pernah main film atau dorama. Ada yang menjadi model majalah, bintang iklan, model video clip dan MC dalam live show atau acara TV. Dan yang luar biasa, setiap member saling mendukung satu sama lain. Ibaratnya sebuah tim sepak bola yang mustahil mengandalkan skill individu, kekurangan satu member AKB48 akan didukung member lainnya. Tidak ada yang saling menjatuhkan. Oh, ya.. di AKB48 setiap member juga dibekali kemampuan public speaking, sehingga siapapun bisa menjadi pembawa acara di panggung. 

Adil dan setara. Tiap member AKB48 punya kesempatan yang sama untuk tampil di panggung. Nah, karena jumlah personilnya sangat banyak, maka dilakukan polling dari penggemar untuk menentukan siapa yang tampil. Sejak 2009 dilakukan kompetisi Jankenpon untuk menentukan siapa yang menjadi center dalam single berikutnya. Siapa yang menang maka namanya dimasukkan dalam single itu. Misalnya yang menang adalah Shinoda Mariko, maka single terbaru mereka akan berjudul “Ue Kara Mariko.” Selain itu fans juga bisa turut serta dalam Senbatsu, atau pemilihan anggota terfavorit untuk dimasukkan dalam single atau video klip. (Bersambung – Indoshotokan)

BEHIND THE STORY OF AKB48: KISAH SUKSES GRUP IDOLA JEPANG (2)


Demi mendapatkan penonton, para member AKB48 rela turun ke jalan. Mereka membagikan tiket pada pejalan kaki yang lalu lalang di Akihabara. Tapi orang hanya mengambil, melihat dan kemudian membuang tiket seharga 1.000 yen itu. Bahkan tidak sedikit yang membuang tiket di depan mata mereka. Ini jelas sebuah pukulan pahit bagi member AKB48. Tapi perjuangan mereka tidak hanya berhenti sampai disitu. Ketika natal tiba, mereka kembali turun ke jalan demi membagikan flyer pada pejalan kaki. Dengan wajah yang ceria para member AKB48 berusaha mendapatkan penonton. Tapi lagi-lagi mereka mendapat perlakuan yang menyakitkan. Para pejalan kaki tidak berminat dan bahkan tidak sedikit yang membuang flyer itu.

Kenyataan itu sontak membuat jiwa member AKB48 saat itu tertekan. Bahkan ada beberapa member yang menderita depresi. Ada yang kadang menangis atau berteriak di ruang make-up. Dalam kehidupan sekolah banyak teman mengejek dan kemudian menjauhi mereka. Karena tidak kuat lagi, ada beberapa member yang mengundurkan diri. Tapi itu semua bisa dimaklumi karena mereka masih remaja, pendatang baru yang mulai dari nol. Belum ada yang mengenal mereka. Ditambah lagi pasar entertainment Jepang adalah industri penuh persaingan ketat yang sulit ditembus.


SURAT DARI FANS: SEBUAH MOTIVASI

Belakangan ada beberapa fans yang tersentuh dengan kegigihan member AKB48 dan mengirim surat kepada mereka. Satu demi satu fans berdatangan ke teater dan lama kelamaan mereka mendapat pengunjung setia. Tapi hanya terkenal di teater saja jelas tidak cukup. Manajemen AKB48 lalu mempromosikan mereka di beberapa stasiun TV Jepang. Tapi semuanya tidak ada yang mau menerima mereka. Alasannya popularitas mereka belum cukup dan sulit mendapat rating yang bagus. Pil pahit ini membuat harapan para member kembali pupus. Di tengah kesulitan itu, berita bahagia datang di bulan Februari 2006 dimana tiket pertunjukan teater mereka habis terjual untuk pertama kalinya. Inilah momen awal yang merubah nasib mereka selanjutnya.

Masih di bulan yang sama AKB48 merilis single debut mereka yang berjudul “Sakura no Hanabiratachi”. Single itu berhasil menembus peringkat 10 Oricon dan terjual 22.011 keping dalam minggu pertama. Jumlah sebanyak itu sangat mengejutkan untuk artis di jalur indie. Sekitar dua minggu kemudian Akimoto berniat mengadakan audisi kedua untuk member baru. Para member lama sempat berpikir mereka telah gagal dan bakal diganti orang baru. Padahal tidak demikian. Akimoto ingin membentuk tim baru agar mereka dapat perform di tempat berbeda dalam waktu yang bersamaan.

 AKB48 dalam sebuah konser di acara Japan Expo 2009.

Sekitar 11.000 gadis remaja mendaftar untuk audisi kedua itu. Hanya 19 orang yang lolos dan mereka kemudian menjadi Tim K. Mereka mulai debut pertunjukan tanggal 1 April 2006 dengan teater yang dipenuhi oleh penonton. Tapi setelah itu pertunjukan mereka tidak seramai hari pertama. Ternyata banyak fans yang masih loyal dengan Tim A dan tidak tertarik dengan wajah baru. Walau kecewa, Tim K tidak putus asa dan berusaha lebih baik. Dengan masuknya generasi kedua, jumlah member AKB48 saat itu adalah 38 orang. Komplain muncul dari para fans yang tidak hafal dengan member-member baru. Akimoto lalu berpikir tentang seorang leader, seseorang yang menjadi ikon dari AKB48, dan yang terpilih adalah Atsuko Maeda.

Masih di tahun yang sama, tepatnya bulan Oktober 2006, Akimoto mengadakan audisi untuk generasi ketiga. Sebanyak 13 member baru akhirnya terpilih menjadi Tim B setelah menyisihkan lebih dari 12.800 peserta audisi. Dan semenjak itu Akimoto juga membentuk sister group dari AKB48. Mereka adalah SKE48 yang berbasis di Sakae, Nagoya; SDN48 sebuah group di Akihabara yang hanya tampil Sabtu dan Minggu, tapi grup ini sudah dibubarkan; NMB48 yang berbasis di Minami, Osaka; HKT48 yang berbasis di Fukuoka, Kyushu; dan yang paling membanggakan adalah JKT48 sebagai sister group pertama di luar Jepang yang berbasis di Jakarta. (Bersambung – Indoshotokan)

BEHIND THE STORY OF AKB48: KISAH SUKSES GRUP IDOLA JEPANG (1)


Tahun 2011 lalu di salah satu TV swasta lokal muncul iklan softdrink Pocari Sweat, dimana beberapa gadis remaja ala Japanese-style tengah menari di pantai. Melihat sekilas dari wajahnya saya sempat mengira mereka ini benar-benar dari negeri sakura. Apalagi background musiknya juga lagu Jepang yang kurang familiar tapi enak didengar. Sejak itu di TV lokal kadang-kadang para gadis manis itu kembali namun dengan iklan yang berbeda. Hmmmm....siapa ya, mereka? Oo...ternyata mereka adalah idol group baru bernama JKT48. Sebagai group yang sekilas mirip girl band, JKT48 adalah sister group dari AKB48 yang sudah lebih dulu populer di Jepang.

AKB48 adalah sebuah grup idola asal Jepang yang diproduseri Yasushi Akimoto. Nama AKB48 diambil dari Akihabara, sebuah lokasi di Tokyo dimana teater mereka berada. Sedangkan 48 menunjukkan jumlah membernya. Saat ini AKB48 sudah menjadi salah satu grup papan atas di Jepang dengan penjualan album yang fantastis. Tahun 2013 mereka membukukan keuntungan 128 juta dolar dan di bulan Mei 2014, grup idola ini telah menjual tidak kurang dari 28 juta keping single. Prestasi ini dimulai sejak 2010 setelah single “Beginner” dan “Heavy Rotation” masuk di urutan pertama dan kedua Oricon. Sejak saat itu single mereka berturut-turut selalu masuk daftar urutan lagu terbaik di Jepang. Beberapa single bahkan ada yang meraih penghargaan seperti “Manatsu no Sounds Good” yang memenangkan Japan Record Award.

Dengan member yang sangat banyak dan “kawaii”, lagu yang enak didengar dan fans (disebut “Wota”) yang jumlahnya ribuan, membuat AKB48 layak dinobatkan sebagai grup idola yang fenomenal. Tapi tidak banyak yang tahu jika grup ini sudah lama berdiri dan banyak melalui suka dan duka. Nah, catatan singkat ini akan mengajak pembaca menelusuri kembali semangat dan kerja keras mereka hingga menjadi idola di Jepang.


PERJALANAN MENGGAPAI MIMPI DIMULAI


Semuanya dimulai bulan Juli 2005. Saat itu Yasushi Akimoto, seorang produser rekaman dan sutradara terkenal di Jepang mempunyai sebuah proyek unik “idola yang bisa kamu temui setiap hari.” Akimoto kemudian meminta bantuan Tomonobu Togasaki (sekarang General Manager teater AKB48) untuk mencari lokasi yang cocok untuk audisi. Setelah mencari kesana kemari Togasaki akhirnya menemukan tempat yang cocok di lantai 8 gedung Don Quijote yang berlokasi di Akihabara Tokyo. Tidak lama kemudian poster undangan audisi pun disebar yang ditujukan untuk para gadis remaja di Jepang.

“Aku ingin bertemu kalian yang berkepribadian kuat.”

Begitulah kira-kira isi kalimat yang tertera di poster itu. Akimoto yang sukses mengorbitkan artis berbakat menjadi daya tarik bagi para gadis mengikuti audisi itu. Di hari terakhir pendaftaran audisi terkumpul hampir 8.000 gadis yang ingin mencoba peruntungannya. Kebanyakan dari mereka bahkan tidak punya latar belakang menyanyi atau menari. Setelah melalui seleksi yang sangat ketat, terpilih 24 orang yang akan menjadi anggota AKB48. Akan tetapi 4 orang dari mereka keluar dan satu orang lagi dikeluarkan lantaran satu kali datang terlambat. Akhirnya 20 orang sisanya menjadi generasi pertama AKB48 yang disebut Tim A. Termasuk diantaranya Atsuko Maeda, Haruna Kojima dan Minami Takahashi yang pastinya sudah tidak asing lagi di telinga para penggemar.

Para member kemudian belajar menyanyi dan menari. Mereka hanya diberi waktu satu bulan berlatih sebelum tampil di hari pembukaan teater tanggal 1 Desember 2005. Tapi karena menurut pelatih tari kemampuan mereka masih belum cukup, penampilan merekapun diundur seminggu kemudian. Tanggal 8 Desember 2005 AKB48 akhirnya diperkenalkan secara resmi di sebuah teater kecil berkapasitas 250 orang di Akihabara. Hanya ada sedikit orang yang menonton pertunjukan perdana itu. Penonton sesungguhnya hanya ada 7 orang sementara sisanya adalah staf dan manajemen. Walau sepi mereka tetap memberikan pertunjukan setiap hari di teater. Hingga ada saat dimana tidak satupun penonton yang mau menonton pertunjukan mereka. (Bersambung – Indoshotokan)

SANG PANGLIMA MELAWAN SEEKOR LEMBU JANTAN (3)

Matsumura melangkah ke singgasana raja. Dia memeriksa para penjaga. Semuanya siap. Ketika Matsumura akan meninggalkan tempat itu sang raja melihat dan memanggilnya. Matsumura membungkuk dengan hormat. Sambil mengunyah buah pir yang menjadi camilannya, sang raja berkata,”Kukira kau sudah siap menghadapi lembu itu?”

“Tentu saja Yang Mulia.” Jawab Matsumura.

“Aku tahu kau pasti akan melakukannya.” Raja berkata sambil memetik anggur dari mangkuk. “Kau belum pernah mengecewakanku.”

“Semoga ini bukan menjadi yang pertama.” Matsumura bicara pada dirinya sendiri seiring dia memberi hormat dan meninggalkan tempat itu. Raja yang kecewa adalah sebuah kabar buruk untuk bawahannya.

Matsumura mendengar namanya dipanggil. Dia melangkah ke tengah arena disambut sorak sorai para penonton. Dia merasa ketakutan muncul dalam dirinya. Dia mengambil napas dalam-dalam dan membuang jauh-jauh ketakutan dari pikirannya. Dia ingin melawan lembu itu dengan emosi dan pikiran yang tenang. Dia sudah mendengar suara ribut dari lembu yang merasa bosan di dalam kandang, berusaha menggedor kurungan dengan bahunya. Matsumura melihat lembu jantan itu sambil berharap rencananya akan berjalan mulus. Jika gagal, maka dia akan menanggung malu seumur hidup. 

Matsumura mengangguk pada penjaga kandang, yang kemudian membuka ikatan tali yang menahan pintunya agar tertutup. Lembu itu seolah melemparkan badannya keluar dan menyeruak tiba-tiba yang membuat para penonton terkesiap. Matsumura mengambil posisi kuda-kuda bertarung. Lembu itu melihatnya dan mulai mendekatinya. Matsumura menunggu. Lembu jantan itu berderap mengambil ancang-ancang. Matsumura tetap menunggu. Lembu itu berjalan mendekat sambil mengawasi Matsumura.

Matsumura minggir dengan cepat untuk membiarkan binatang itu lewat. Ketika bergerak, Matsumura tiba-tiba berteriak. Kiai Matsumura bergema ke udara seperti suara petir yang mengagetkan. Penonton mendadak terdiam. Lembu jantan itu memutar badannya melihat Matsumura. Untuk sesaat tidak terjadi apapun. Para penonton menahan napas. Matsumura dan lembu jantan itu saling memandang satu sama lain. Matsumura kembali mengeluarkan kiai. Wajah binatang itu menunjukkan dia kenal suara itu. Lembu itu berlari menjauh ke sisi arena. Matsumura mengikutinya. Dia kiai dan binatang itu kembali melarikan diri. Matsumurapun mengejarnya. Sorak-sorai penontonpun memecah. “Bushi! Bushi! Bushi!” Mereka berteriak. “Sang pendekar! Sang pendekar! Sang pendekar!”

Sang raja akhirnya berdiri. Dia mengangkat tangannya dan penonton perlahan kembali tenang.
“Matsumura,” sang raja berteriak. “Berdirilah di hadapanku.

Matsumura berjalan menjauh dari lembu jantan itu bersamaan dengan penjaga kandang dan pembantunya mengulurkan tali untuk mengembalikan binatang itu ke kandang. Dia berjalan ke seberang arena dimana sang raja berdiri dan diikuti dengan memberi hormat padanya.

“Matsumura,” sang raja berkata, “Kekuatanmu sungguh luar biasa. Bahkan lembu paling tangguh di negeri ini takut bertarung melawanmu. Sejak hari ini dan seterusnya kau akan dikenal sebagai ‘Bushi Matsumura.’ Sebagai penghargaan karena kau benar-benar pendekar yang tangguh.” (Indoshotokan)

Artikel ini diterjemahkan dari buku “Legend of the Martial Arts Master” yang ditulis oleh Susan Lynn Peterson dengan judul aslinya”The General Fights a Bull”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

SANG PANGLIMA MELAWAN SEEKOR LEMBU JANTAN (2)

Berhenti sebentar untuk meluruskan seragamnya, Matsumura melangkah lewat pintu masuk kandang. Para pekerja sangat kaget melihat komandan para pengawal, Matsumura yang hebat tiba-tiba muncul di kandang.

“Aku penjaga kandang ini,” orang tua itu berkata.
“Apa yang bisa kubantu, tuan?”

“Antarkan aku ke lembu jantan itu,” Matsumura memerintahkan.
“Aku ingin melihat sendiri lawanku, belajar gaya bertarungnya sebelum aku menjadi lawannya.”

“Tentu saja, Tuan Matsumura,” Penjaga kandang itu menunjuk ke sebuah kurungan di kandang belakang.
“Silahkan, tuan.”

Matsumura berjalan ke kurungan, matanya tertuju pada lembu jantan itu. “Ikat dia,” Matsumura memberi perintah. “Ikat binatang itu supaya tidak bisa bergerak.”

“Baik, tuan.” Si penjaga membentangkan dua utas tali. Satu persatu dia lingkarkan di atas kepala binatang itu dan mengikatnya dengan kuat ke balok kayu di sisi kurungan.

“Sekarang pergilah,” Matsumura memerintahkan. “Kalian semua tinggalkan tempat ini.” Orang-orangpun bergegas keluar dari kandang.

Matsumura melompat masuk ke dalam kurungan. Lembu jantan itu terikat kuat dengan tali. “Tali itu sepertinya tidak terlalu kuat.” Matsumura bicara pada dirinya sendiri. “Jika binatang itu sampai lepas, dia akan menjebakku di dalam kurungan. Rasa takut muncul dalam dirinya, perutnya seolah diputar dan dicengkeram oleh tangan yang kuat. Matsumura mengambil napas dalam-dalam dan menghadapi lembu jantan itu, melawan rasa takutnya.

“Raja memintaku untuk mengalahkanmu. Tapi kau bukan musuhku.” Matsumura mengulurkan rambut ikatnya yang disisir rapi di atas kepalanya. Dia mencabut sebuah jepit rambut dan mencoba ujungnya di sebelah jarinya yang baru tertusuk duri. Sebuah titik berdarahpun muncul. Matsumura pernah mendengar para ahli bela diri yang bisa membunuh dengan sebuah jepit rambut. Tapi dia berharap bisa menyelamatkan satu nyawa dengan jepitnya.

Matsumura mengerjakan sebuah kuda-kuda siap bertarung di depan lembu jantan itu. Lembu itu melihatnya dengan penasaran. “Maafkan aku teman,” kata Matsumura. Kemudian dari dadanya, Matsumura mengeluarkan teriakan yang menakutkan, yang dikenal sebagai kiai, dan secepat kilat menusuk hidung lembu itu dengan jepit rambutnya.

Lembu itu berteriak, meronta dan menarik tali yang mengikatnya. Matanya liar. Kepala binatang itu memberontak berusaha menusuk Matsumura dengan tanduknya. Matsumura melihat tali yang mengikatnya. Masih kuat. Untung saja. Sebisa mungkin Matsumura menunggu dengan tenang. Akhirnya lembu itu tenang. Matsumura kembali melepaskan sebuah kiai yang kuat dan menusuk hidung lembu itu dengan jepitnya. Lembu itu kembali meronta dan mencoba untuk melawan. Matsumura menunggu binatang itu berhenti meronta. Lagi, dan lagi, dan lagi – kiai, tusuk, kiai, tusuk. Beberapa menit kemudian dia keluar dari kandang menghirup segarnya udara malam.

Hari berikutnya di festival, Matsumura sang kepala pengawal raja berjalan di sepanjang pinggir arena. Dia memeriksa penjagaan di pintu masuk dan menambah dua orang di belakang arena untuk mengawasi jika ada pengacau. Dengan matanya yang berpengalaman, dia mengawasi kerumunan penonton yang bisa saja menyakiti sang raja. Dia tidak melihat seorangpun. Orang-orang Okinawa sedang ingin berpesta. Bendera yang berwarna-warni menghiasi arena, dan bau sedap ikan panggang serta makanan lain memenuhi udara. Festival ini menjadi salah satu yang terbaik tahun ini. Orang-orang menyukai demonstrasi menunggang kuda, pertarungan dan kesempatan untuk makan dan bergembira. (Bersambung – Indoshotokan)

Artikel ini diterjemahkan dari buku “Legend of the Martial Arts Master” yang ditulis oleh Susan Lynn Peterson dengan judul aslinya”The General Fights a Bull”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

SANG PANGLIMA MELAWAN SEEKOR LEMBU JANTAN (1)

“Dia luar biasa, bukan?” Raja Sho bertanya pada Matsumura. “Dia terlalu liar dibanding lembu petarung pada umumnya. Dia sudah membunuh beberapa ekor lembu lain di arena.”

Di depan sang raja dan Matsumura, di dalam kandang istana berdiri dengan gagahnya seekor lembu jantan. Yang menarik perhatian Matsumura, otot-otot lengan lembu jantan itu sungguh menunjukkannya sebagai binatang yang kuat. Ukuran lengannya bahkan mengalahkan kepalanya yang besar. 

“Benar, Yang Mulia,” Matsumura menjawab. “Dia benar-benar binatang yang luar biasa.”
“Kau akan membunuhnya,” jawab sang raja.

Matsumura terdiam. Dia memandangi binatang itu, tanduknya yang besar meruncing, ukuran kepala yang besar. Kekuatannya. Kemegahannya.

“Maaf, Yang Mulia?” Dia menjawab, “Aku tidak mengerti apa yang Anda minta dariku.”
“Di acara festival besok,” sang raja menjawab, “Di arena, dalam festival kau akan membunuh lembu jantan itu dengan tangan kosong. Semua orang akan menyaksikan komandan dari pasukan pengawalku, Matsumura yang tangguh, adalah pria terkuat di negeri ini.”

“Tuan, aku tidak pernah menggunakan Te milikku melawan binatang sebelumnya. Te adalah seni untuk bertahan, Yang Mulia. Dan tidak digunakan untuk membantai binatang. Bisakah aku melayani Anda dengan cara yang lain?”

Sang raja memandangnya dengan sorot kemarahan, “Kau ingin memberitahuku bagaimana seharusnya kau melayaniku? Aku sudah membawa lembu jantan ini untukmu. Aku membawa lembu ini untuk menghormati kemampuanmu sebagai ahli bela diri sebelum festival. Kau akan bertarung melawan lembu ini. Kau paham?”

“Yang mulia.....” Matsumura baru akan menjawab.

“Kau akan bertarung melawan lembu jantan itu, dan kau akan menang, atau kulempar kau ke penjara. Kau paham?”

“Baik Yang Mulia. Aku akan bertarung melawan lembu jantan itu.”

Setelah matahari terbenam Matsumura duduk seorang diri di sudut halaman istana. Dia berpikir tentang lembu jantan itu. Seekor binatang yang cantik, kuat dan hebat. Tidak akan mudah mematahkan lehernya, tapi Matsumura bisa melakukannya. Dia bisa melakukan tapi tidak menginginkannya.

“Gunakan Te milikmu hanya untuk bertahan.” Guru Matsumura mengajarkannya demikian. “Gunakan Te untuk membela dirimu sendiri, keluargamu, rajamu dan negerimu. Gunakan untuk membela yang lemah dan jangan memancing keributan. Jangan gunakan seni bela diri hanya untuk pamer.”

Membunuh seekor lembu bagi Matsumura sepertinya hanya menjadi ajang pamer semata. Tapi dia tidak mau masuk penjara. Dia kemudian berjalan ke lapangan. Mungkin sang raja bersedia mengubah pikirannya. Tapi sepertinya tidak mungkin.

Matsumura berjalan ke kebun dengan masalah yang menyesaki pikirannya. Melamun, dia mengarahkan tangannya pada bunga tanaman rambat di sepanjang pinggiran jalan. Seiring berjalan dan berpikir, dia merasakan kelopak bunganya yang lembut menggesek jari-jarinya. Tiba-tiba rasa nyeri menusuk tangannya. Matsumura kaget. Jarinya tertusuk duri bunga asal Cina milik sang raja yang menjorok ke jalan. Dengan hati-hati Matsumura mencabut duri itu dari jarinya. Dia merasakan darah keluar dari jarinya ketika dia menghisap lukanya. Rasanya luar biasa sesuatu yang sangat kecil ternyata bisa menimbulkan nyeri. Tiba-tiba dia mempunyai ide. Matsumura segera berlari dari kebun menuju ke kandang. (Bersambung – Indoshotokan)

Artikel ini diterjemahkan dari buku “Legend of the Martial Arts Master” yang ditulis oleh Susan Lynn Peterson dengan judul aslinya”The General Fights a Bull”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

SELALU AWALI DENGAN PINGGUL

Banyak orang bertanya padaku mengapa dalam setiap teknik karate aku selalu menekankan perputaran pinggul yang sesuai. Ini karena gerakan yang baik selalu dimulai dari pinggul. Dulu di Jepang ketika aku masih berusia tiga belas tahun aku cukup beruntung mendapatkan pelajaran ini langsung dari guru kendo di sekolah menengah pertamaku.

Ketika aku masih duduk di bangku sekolah, semua murid wajib mengikuti kendo. Aku tidak menyukainya. Hal itu sangat membosankan! Kami harus memegang pedang bambu ringan bernama shinai dan selama bertahun-tahun naik turun lantai sambil menebas angin. Tentu saja, karena sangat bersemangat kami biasanya saling memukul satu sama lain sampai sang guru menyingkirkan pedang-pedang itu.

Beberapa tahun kemudian, guru kendo kami membawa kami keluar sehari untuk sebuah demonstrasi. Dia menyuruh kami semua duduk dan kemudian dia mencabut sebilah pedang sungguhan! Dia berdiri di depan sebuah pohon bambu, dan sangat tenang serta rileks ketika mengangkat pedangnya. Tiba-tiba pedang itu berdesing di udara dan memotong pohon bambu menjadi dua bagian. Benar-benar menakjubkan!

Tidak perlu dikatakan lagi, aku begitu bersemangat ketika menyaksikannya. Malamnya, ketika kedua orang tuaku sudah tidur aku mengendap-endap ke ruang kerja ayahku dan meminjam pedangnya, sehingga dengan begitu aku bisa memotong sebuah pohon mirip seperti guruku. Aku pergi ke hutan, mengambil sikap kuda-kuda dan menebas udara. Pedang itu menghantam batang pohon dan memantul kembali dengan tidak meninggalkan kerusakan apapun di pohon itu! Aku berpikir tidak cukup keras mengayun, sehingga kali ini aku mengayun sangat keras. Dan sekali lagi, pedang itu memantul dari pohon, hanya saja kali ini lebih keras.

Keesokan harinya aku menemui guru kendoku dan bertanya, “Maaf pak, tapi kemarin malam aku meminjam pedang ayahku dan mencoba menebas pohon bambu, tapi hal itu tidak berhasil. Apakah yang aku lakukan keliru?” Guruku mengangkat alisnya tinggi-tinggi dan berkata, “Kau meminjam pedang, apakah ayahmu tidak keberatan?” Aku menjawab, “Oh tidak. Tidak apa-apa. Sungguh.” Guruku berkata lagi, “Lain kali pertama-tama kau harus rileks, ambil napas dalam-dalam dan kemudian gunakan pinggul dan perut bagian bawah untuk menebas.” Aku merasa bingung dan bertanya, “Bagaimana caraku menggunakan pinggul?” Dia menjawab, “Cobalah, dan kau akan mengerti.”

Malam itu aku mengambil pedang dan kembali lagi ke hutan. Aku berdiri di depan sebuah pohon, rileks dan mencoba membayangkan menggunakan pinggul dan perut. Kututup mataku, mengangkat pedang dan kemudian wussh! Kubuka mataku dan pohon itu sudah terpotong dengan sempurna. Caraku berhasil! Belakangan kami belajar dari penelitian Master Nakayama bahwa pinggul dan perut bagian bawah (yang kami sebut seika tanden) jika bekerja bersama-sama akan memungkinkan tubuh menghasilkan kekuatan yang luar biasa. Hal itu sama dengan golf, baseball, tinju, dan lain-lain.

Adalah penting jika otot-otot di kedua bagian tubuh tersebut terhubung dan bekerja bersama-sama. Jika kau berhasil melakukannya, bagian lain dari tubuhmu akan menjadi sangat rileks dan gerakanmu lebih cepat dan kuat. Sekarang kau tahu mengapa dalam karate aku sangat menekankan penggunaan pinggul. (Indoshotokan)      

Artikel ini diterjemahkan dari tulisan Teruyuki Okazaki yang berjudul “Always Start with the Hips” yang diambil dari ISKF Newsletter. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

KARATE MENYELAMATKAN HIDUPKU

Kisah karate lainnya yang ingin kuingat terjadi di pelabuhan Naha, sebuah pelabuhan paling penting di Prefektur Okinawa yang sayangnya terlalu dangkal hingga kapal besar tidak mampu merapat ke dermaga. Pemerintah memasang jangkar di tengah pelabuhan, dan para penumpang yang akan berangkat diangkut menggunakan kapal yang lebih kecil.

Hari ketika aku meninggalkan Okinawa untuk berangkat ke Tokyo cukup berangin dan gelombang lautpun tinggi. Bersama sekelompok penumpang lain aku menaiki sebuah kapal kecil untuk selanjutnya diangkut oleh kapal yang lebih besar menuju ke pelabuhan di ibu kota. Ketika kami tiba laut sedang tenang hingga para penumpang dapat dengan mudah melangkah dari kapal yang lebih kecil. Namun demikian, tiba-tiba muncul gelombang besar, karena itulah aku menunggu sampai laut tenang kembali.

Ketika gelombang sudah lewat, aku melangkahkan satu kakiku di tangga dermaga. Tapi baru sebentar saja, gelombang besar lainnya datang menerjang yang membuat kapal kecil pengangkut bergoyang tidak karuan. Dan tepat ketika aku disana, satu kakiku ada di tangga dermaga, satu kaki lainnya ada di kapal pengangkut dan dua koper besar serta berat di kedua tanganku. Dibawahku adalah laut yang dalam. Yang membuat masalah makin buruk, harus kuakui, walau berasal dari pulau terpencil aku tidak pernah belajar berenang. Aku dibesarkan di ibu kota Shuri dan sangat jarang berjalan-jalan ke pelosok pantai Okinawa.

Saat aku berdiri mengangkang di atas laut, kudengar suara dari awak kapal utama yang berusaha memberikan semacam instruksi padaku. Namun petunjuk itu sungguh tidak kumengerti. Tanpa berpikir panjang, aku menggeser koper di tangan kiri ke tangan kanan, dan secara bersamaan koper yang lebih berat di tangan kanan kulempar ke tangga dermaga. Jika ragu-ragu lebih lama, aku pasti sudah terperosok dan mungkin saja tenggelam. Dan jika ditolongpun, aku sudah basah kuyup oleh air laut yang asin. Saat aku berhasil meraih tangga dermaga, aku membisikkan terima kasih pada karate-do untuk penyelamatan yang nyaris.

Beberapa tahun kemudian saat kembali ke Okinawa, tentu saja aku mengunjungi Master Azato. “Selamat datang!” dia berteriak. “Tapi sungguh! Kami sangat khawatir pada hari itu!” Master Azato dan keluarganya datang ke pelabuhan untuk mengantarku, dan mereka sempat takut pada apa yang akan terjadi padaku saat itu. “Kami semua kagum dengan kemampuan dan kecepatanmu. “ Dia menambahkan, “Dan betapa leganya kami.”

Tentu saja, bukan karate satu-satunya yang membuat seseorang mampu melakukan aksi luar biasa seperti itu; seni bela diri lain juga dapat melakukan hal serupa. Ahli judo misalnya, belajar untuk jatuh dalam cara tertentu yang membuat mereka dapat bangkit kembali tanpa cedera. Kemampuan ini sudah biasa dalam latihan judo mereka. Hal yang penting adalah berlatih bela diri setiap hari akan sangat berharga bagi seseorang di saat keadaan darurat (Indoshotokan).

Artikel ini berjudul asli “Karate Saves My Life” dari buku “Karate-do My Way of Life” yang ditulis Gichin Funakoshi. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

SEORANG PRIA SEDERHANA

Saat aku masih bekerja sebagai seorang asisten guru di sebuah sekolah di Naha, dalam sehari aku harus berjalan kaki dua setengah mil sebanyak dua kali, karena aku dan istriku tinggal di rumah orang tuanya di Shuri. Suatu hari ada pertemuan guru yang berlangsung cukup lama, karena itulah aku terlambat saat kembali pulang, dan tidak berapa lama hujanpun turun. Akupun memutuskan untuk “menghamburkan” uangku dengan menyewa sebuah jinrikisha (semacam becak seperti di Cina yang ditarik menggunakan tenaga manusia).


Untuk menghabiskan waktu, kubuka sebuah percakapan dengan penarik jinrikisha itu. Dan kutemukan hal yang cukup mengejutkan, bahwa ternyata dia memberikan jawaban yang sangat singkat dari semua pertanyaanku. Biasanya penarik jinrikisha sangat suka diajak bicara seperti layaknya tukang cukur. Lebih jauh, nada bicara dan suara penarik jinriksha ini terdengar sangat sopan, dan bahasanyapun menunjukkan orang yang cukup berpendidikan.

Saat itu di Okinawa saat itu ada dua macam jinrikisha, yaitu hiruguruma (jinrikisha yang berjalan di siang hari) dan yoruguruma (jinrikisha yang berjalan di malam hari). Aku cukup mengetahui bahwa beberapa penarik jinrikisha di malam hari adalah orang baik-baik.

Aku penasaran, mungkinkah laki-laki yang tengah menarikku malam ini menuju ke Shuri adalah seseorang yang kukenal? Jika benar demikian, tentu uangku akan ditolaknya. Namun demikian, masih ada pertanyaan yang ingin kucari jawabannya. Namun itu tidaklah mudah, karena pria itu mengenakan topi yang tepinya cukup lebar, yang membuat wajahnya selalu tersembunyi dariku.

Karena itulah, kubuat rencana dengan berpura-pura yang memungkinkanku dapat mengetahui siapa orang ini. Aku memintanya menghentikan jinrikisha sebentar dengan begitu aku mungkin mendapatkan jawabannya. Ketika dia menurunkan penarik roda ke tanah, aku mendapatkan kesan yang jelas bahwa dia bukanlah penarik jinrikisha biasa. Namun saat aku turun dan mencoba mengintip wajahnya, dengan cepat dia memutar kepalanya. Namun masih ada hal lain yang mengganjal, aku serasa begitu kenal dengan tinggi badan dan tubuhnya yang ramping.

Tidak berapa lama hujan berhenti, dan bulan yang berwarna pucatpun muncul dari balik awan. Setelah rasa lelah kupulihkan, akupun kembali ke jinrikisha sambil mencoba melihat lagi melihat ke wajah laki-laki itu, yang ternyata ditutupinya lagi.

Sedikit kesal dengan kegagalanku, aku mencoba rencana lain yang kuyakini akan berhasil. “Kita sudah menempuh jarak yang cukup jauh, mengapa kita kita tidak berjalan saja sebentar?”

Pria itu setuju, namun aku kembali tidak berhasil, karena dia menolak berjalan disampingku. Dia selalu berjalan tertinggal satu atau dua langkah dibelakangku. Tiba-tiba di sebuah persimpangan jalan aku berbalik arah sambil meraih gagang penarik dari jinrikisha itu, dan dalam waktu yang bersamaan kucoba melihat wajahnya. Namun demikian, secepat apapun aku, pria itu ternyata masih lebih cepat saat dia menarik topinya dalam-dalam.

Benar, begitu cepat, reaksinya membuatku sekarang benar-benar yakin bahwa dia bukanlah penarik jinrikisha biasa. Kenyataannya, aku sangat yakin mengenalnya. Kulepas topiku sambil berkata, “Maafkan jika aku bertanya, tapi bukankah Anda Tuan Sueyoshi?”

Dia tampak terkejut, namun menjawab dengan jelas, “Bukan.”

Kamipun berdiri selama beberapa saat dalam sebuah kebisuan. Aku meraih jinrikisha itu, dia menundukkan pandangannya ke tanah. Wajahnya tersebunyi dibalik topinya yang lebar dan turun hingga kelututnya.

Aku tahu ternyata tidak salah mengenalinya. Dia benar-benar Sueyoshi. Kuraih tangannya sambil membantu menegakkan tubuhnya. Akupun lalu berlutut sambil menyebutkan namaku, dan aku juga memohon maaf padanya atas penasaran dan ketidaksopananku.


Aku sangat mengetahui bahwa dia berasal dari sebuah keluarga golongan atas yang juga merupakan penerus dari pendekar, dan dia juga seniorku dalam karate-do. Lebih jauh, diapun tercatat sebagai ahli seni tongkat dan dikemudian hari mendirikan perguruan bojitsu-nya sendiri.

Namun sekarang ini, tentu saja, dia tengah menarik jinrikisha yang tengah kutumpangi. Berjalan sedikit demi sedikit ke Shuri, kami bercakap-cakap dengan akrab tentang karate dan seni tongkat.

Kemudian, karena sungguh merasa malu akibat telah kuketahui jati dirinya, dia memintaku untuk tidak mengatakan pada siapapun bahwa dia sedang bekerja sebagai penarik jinrikisha. Dia juga berkata padaku bahwa istrinya tengah sakit dan terbaring di tempat tidur. Dan untuk menghidupi istri, diri sendiri, dan membeli obat yang dibutuhkannya, dia bekerja sebagai petani di siang hari dan malamnya menarik jinrikisha.

Bicara masalah nama besar dan keberuntungan, sesungguhnya dia telah memilikinya. Tapi mungkin demi uang dia harus bekerja yang dirasakannya akan merendahkan martabatnya. Apa yang dilakukannya dalam hal ini serupa dengan ungkapan “setiap inci dari seorang samurai”. Dan caranya yang tangkas dalam menarik jinrikisha menunjukkan keahliannya dalam seni bela diri. Meskipun dia meninggal tidak lama setelah aku pindah ke Tokyo, aku tidak pernah lupa menghabiskan sore itu bersamanya. Bagiku dia telah menunjukkan perwujudan dari semangat samurai yang sempurna (Indoshotokan).

Artikel ini dikutip dan diterjemahkan dari buku “Karate-do: My Way of Life” yang ditulis oleh Gichin Funakoshi dengan judul aslinya “A Humble Man”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

LEGENDA 47 RONIN (3 - FINAL)

Oishi kemudian segera bergegas menuju kamar Kira dan memeriksa tempat tidurnya. Ternyata kasur itu masih hangat hingga Oishi dapat menyimpulkan bahwa Kira tentu bersembunyi di sebuah tempat yang tidak jauh dari istana. Dengan segera Oishi memerintahkan seluruh ronin agar kembali memeriksa setiap sudut istana dengan lebih teliti.

Dalam sebuah pencarian akhirnya ditemukanlah sebuah jalan rahasia yang menuju ke satu sudut halaman istana. Jalan itu ternyata tersembunyi dibalik sebuah gulungan lukisan besar di salah satu dinding. Penyusuran jalan itu berakhir di sebuah bangunan kecil mirip gudang yang digunakan menyimpan kayu bakar dan arang. 
 
Setelah berhasil mengatasi dua penjaga, para ronin segera merangsek ke dalam gudang kecil itu dan segera mendapati sesosok pria yang tengah bersembunyi dalam kegelapan. Sadar telah diusik, pria itu mendadak menyerang dengan sebilah pedang pendek, namun dengan mudah digagalkan para ronin.

Pria itu menolak mengatakan siapa dirinya, namun para ronin yakin bahwa dialah Kira yang menjadi buruan mereka selama ini. Salah satu ronin lalu membunyikan peluit yang menandakan pencarian telah berakhir. Setelah semua ronin berkumpul, dengan diterangi sebuah lentera, Oishi dapat memastikan pria itu adalah Kira. Luka bekas sayatan pedang di wajah Kira adalah sebagai buktinya yang sekaligus menjadi pesan kematian dari Asano.

Meski kemarahan Oishi dan para ronin pada Kira amatlah dalam, namun Oishi sadar bagaimanapun jahatnya Kira tetap saja mempunyai peringkat sebagai samurai yang lebih tinggi dari mereka. Oishi lalu berlutut dan menjelaskan pada Kira bahwa mereka adalah bekas pengikut Asano yang ingin menuntut balas atas kematian tuan mereka, sebuah hal yang selayaknya dilakukan seorang samurai. Dengan sopan dan penuh hormat Oishi lalu memohon pada Kira untuk mati sebagai samurai sejati dengan melakukan seppuku. Oishi tampak benar-benar menunjukkan diri sebagai seorang samurai loyal yang menyerahkan sebilah pedang pendek kepada Kira dengan penuh hormat.

Diminta segera melakukan seppuku membuat wajah Kira pucat pasi dan gemetar. Dengan kepala tertunduk Kira hanya terdiam dalam ketakutannya. Oishi yang menunggu jawaban Kira beberapa saat lalu memerintahkan salah satu ronin untuk menundukkan kepala Kira. Tampaknya sia-sia saja memberi pilihan bagi Kira untuk mati terhormat. Dengan sebuah tebasan yang sangat cepat, kepala Kira terpisah dari badannya. 
 
Akhirnya, di sebuah malam tanggal 14 Desember 1702 Kira tewas di ujung pedang yang sama dengan yang digunakan untuk seppuku Asano. Dengan demikian misi Oishi dan para ronin telah selesai. Mereka lalu merapikan seisi istana dan mematikan api yang dapat membakar istana dan membahayakan rumah tetangga sekitar. Setelah selesai mereka lalu memberi hormat pada penghuni rumah yang tersisa dan segera meninggalkan istana seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Para ronin kemudian kembali ke kuil Sengakuji dengan membawa potongan kepala Kira. Oishi lalu memerintahkan salah satu roninnya yaitu Terasaka Kichiemon untuk melaporkan kejadian itu pada Shogun di Edo. Hanya berselang sehari saja kabar kematian Kira sudah merebak dimana-mana. Sepanjang perjalanan banyak orang yang memuji keberanian para ronin yang berhasil menyelesaikan sebuah misi terhormat. Bahkan tidak jarang perjalanan Oishi dan para ronin terhambat di tengah jalan karena banyak orang yang menawari mereka untuk singgah dan melepas lelah sejenak.

Setibanya di kuil Sengakuji Oishi bersama 45 ronin yang tersisa mencuci kepala Kira berikut pedang yang digunakan untuk menebasnya di sebuah sumur. Setelah itu baik kepala dan pedang itu lalu diletakkan di depan kuburan Asano sebagai bukti kesetiaan sekaligus terpenuhinya kewajiban mereka. Mereka lalu berdoa di kuil dan selanjutnya menyerahkan seluruh uang dan harta yang mereka punya kepada pengurus kuil agar dikuburkan. Setelah itu mereka membagi kelompoknya menjadi 4 bagian dan menyerahkan diri dibawah pengawasan 4 daimyo yang berbeda. Para ronin memilih menunggu keputusan dari Shogun dan tidak ingin melarikan diri.

Adapun Shogun Tsunayoshi yang mendengar berita kematian Kira tentu saja marah bukan main. Namun Shogun juga bingung karena para ronin juga telah mengikuti kode bushido sebagaimana mestinya. Di sisi lain mereka juga dianggap telah menentang shogun dengan melakukan aksi balas dendam. Shogun lalu banyak menerima saran dan petisi dari pejabat lain untuk menentukan nasib para ronin selanjutnya. Walaupun sebagian petisi menyatakan bahwa para ronin bersalah dan layak untuk mati, Shogun akhirnya mengambil keputusan yang bijaksana. Para ronin tetap dihukum untuk melakukan seppuku sebagai samurai terhormat dan bukan dipandang sebagai pembunuh.

Tanggal 4 Februari 1703 satu-persatu dari 46 ronin melakukan seppuku dengan penuh keyakinan, kebanggaan dan tanpa penyesalan. Hari itu sekaligus menjadi salah satu ritual seppuku terbanyak dalam sejarah samurai Jepang. Setelah kematian mereka seluruh senjata, baju perang berikut genderang dan peluit yang digunakan saat menyerang istana Kira dikumpulkan di kuil Sengakuji. Hingga sekarang seluruhnya masih tersimpan dan terawat dengan rapi. 
 
Adapun ronin ke-47 yaitu Terasaka Kichiemon yang mengirimkan pesan ke Edo akhirnya kembali. Namun oleh Shogun dipisahkan dari hukuman karena usianya yang masih muda. Ada yang menyatakan Kichiemon hidup sampai usia 78 tahun dan setelah meninggal jasadnya dikuburkan bersama 46 ronin lainnya.

Beberapa waktu kemudian seorang samurai dari klan Satsuma yang terlibat insiden dengan Oishi setahun sebelumnya datang ke kuil Sengakuji. Pria itu berdoa dan memohon maaf karena telah salah sangka pada seluruh ronin terutama pada Oishi. Untuk menebus rasa malunya karena telah menuduh Oishi bukan samurai terhormat, pria Satsuma itu kemudian melakukan seppuku di kuil Sengakuji. Jasadnya kemudian dikuburkan bersama-sama seluruh ronin.


Sebuah foto dari kuburan 47 ronin di Kuil Sengakuji yang ramai dikunjungi peziarah setiap tahunnya. Foto berasal dari Flickr.


Sebelum kematian Kira banyak samurai bekas pengikut Asano yang kehilangan pekerjaan. Kebanyakan dari mereka lalu bekerja sebagai petani dan pengrajin untuk bertahan hidup. Karena tidak mungkin bagi mereka melayani keluarga Asano yang dianggap telah melakukan aib. Namun setelah 47 ronin melakukan seppuku dan dianggap mati terhormat, nama baik mereka dan keluarga Asano akhirnya pulih kembali. Meski dikurangi sepersepuluhnya, harta benda berikut istana dan wilayah akhirnya dikembalikan pada adik laki-laki Asano sebagai penerusnya. Begitu pula dengan mantan samurai Asano yang kemudian mendapatkan pekerjaannya kembali.

Meski melegenda, aksi kepahlawanan para ronin tidak urung mendapat kritikan. Beberapa sastrawan ternama mengkritik tindakan para ronin yang harus menunggu sekian tahun untuk memuluskan rencana mereka. Belum lagi Oishi yang harus rela menyamar sebagai pemabuk yang tentu mempertaruhkan nama baik keluarga dan majikannya. 
 
Tidak heran banyak yang menganggap Oishi begitu terobsesi membunuh Kira hingga harus mengorbankan semua yang berharga dalam hidupnya. Dapat dibayangkan jika seandainya Kira tewas (karena penyakit misalnya) sebelum para ronin mengeksekusinya, tentu orang banyak terlanjur menilai pengikut Asano tidak lebih dari pemabuk dan samurai tidak terhormat.

Apapun kritikan yang muncul, legenda 47 ronin diakui sebagai salah satu yang terbaik dalam sejarah Jepang. Usaha keras dan sungguh-sungguh dari para ronin dalam mencapai tujuannya telah menunjukkan spirit sejati kode etik bushido. Apalagi dalam bushido suatu proses atau usaha untuk mencapai tujuan dipandang lebih penting ketimbang menang atau kalah yang dianggap hasil perjuangan. 
 
Tidak heran banyak kabuki (opera tradisional Jepang) dan bunraku (drama boneka) yang mengangkat kisah legendaris itu. Bahkan semasa Perang Dunia II dibuat pula film bertema 47 ronin dalam dua episode untuk menggelorakan semangat perang. Sayangnya film itu kurang begitu sukses karena ceritanya yang dianggap terlalu serius.

Hingga kini Sengakuji yang berarti kuil di musim gugur selalu ramai dikunjungi masyarakat Jepang setiap tahunnya. Sebagian besar dari mereka tidak hanya menyaksikan kuburan 47 ronin namun juga berdoa dengan khusyuk. Hal ini membuktikan bahwa legenda itu telah menginspirasi dan hidup dalam hati setiap masyarakat Jepang yang tidak ingin melupakannya begitu saja. (tamat) (Indoshotokan)

LEGENDA 47 RONIN (2)

Oishi kemudian pindah ke Kyoto dan mulai bertingkah aneh. Tiada hari dilewati Oishi tanpa bermabuk-mabukan dengan ditemani wanita penghibur di kedai sake. Apa yang dikerjakan Oishi lebih mirip dengan orang yang sudah putus asa. Tidak keinginan untuk melanjutkan hidup, apalagi rencana balas dendam. Namun demikian Kira yang menjadi sasaran balas dendam masih merasa terancam dan belum mengendurkan penjagaan. Kira juga masih menyebar banyak mata-mata untuk mengawasi semua bekas pengikut Asano.

Dalam satu insiden, Oishi yang saat itu baru pulang dari kedai sake langganannya terjatuh dan tertidur di jalanan dalam keadaan mabuk berat. Orang-orang yang melintasi jalan itu lalu menertawainya. Ulah Oishi itu kemudian diketahui seorang samurai dari klan Satsuma yang kebetulan juga melewati jalan itu. Merasa gusar dengan perbuatan yang memalukan itu, samurai Satsuma yang tidak diketahui namanya itu mendekatinya dan melontarkan berbagai cercaan. Samurai itu merasa malu karena Oishi tidak bertindak sebagai layaknya samurai terhormat dengan memilih mabuk dan bermain wanita daripada membalas kematian tuannya. Oishi yang tertidur tidak menghiraukan umpatan itu, hingga akhirnya membuat samurai Satsuma itu marah. Pria Satsuma itu kemudian menendang wajah pemabuk yang menyedihkan itu sambil terus mengumpatnya.

Tidak lama setelah kejadian itu Oishi menceraikan istrinya yang telah setia menemani selama 20 tahun lamanya. Tampaknya Oishi tidak ingin melibatkan keluarganya dalam rencana balas dendamnya itu. Oishi kemudian mengembalikan istrinya berikut anak-anak mereka ke rumah orang tua istrinya. Chikara, yang merupakan anak tertua Oishi mengambil keputusan yang mulia sekaligus berani dengan menyatakan tetap ingin menemani ayahnya menyerang istana Kira.

Apa yang dilakukan Oishi dan pengikut Asano lainnya ini kemudian diketahui oleh mata-mata Kira. Mereka kemudian kembali pada tuannya dan menyampaikan hasil pengintaiannya selama ini bahwa seluruh pengikut Asano telah berubah menjadi samurai jahat yang tidak perlu ditakuti. Mereka juga tidak ada keinginan untuk membalas dendam kematian tuannya. Apalagi mereka juga tidak punya uang sejak berhenti menjadi bawahan Asano. Kenyataan ini membuat Kira merasa aman dan merasa tidak perlu lagi memperketat penjagaan di istananya. Hal ini lalu diketahui oleh Oishi dari pengikutnya yang sebelumnya menyamar sebagai pedagang dan biksu. Kebanyakan dari mereka sudah masuk ke istana Kira dan benar-benar mengetahui seluk beluk istana itu. Mereka bahkan juga sudah hafal dengan karakter setiap penghuni rumah.

Tanggal 12 Desember 1702 seluruh ronin bekas pengikut Asano yang berjumlah 59 orang mengadakan sebuah pertemuan rahasia. Mereka berkumpul kembali di sebuah rumah di Edo untuk mengadakan makan malam bersama yang terakhir sekaligus mengingatkan kembali sumpah yang telah mereka buat setahun sebelumnya, yaitu membalas kematian Asano. Malam itu Oishi mengingatkan pengikutnya agar tidak membunuh wanita, anak-anak dan orang yang tidak bersalah dalam penyerbuannya. Mereka semua berharap berhasil memenggal kepala Kira untuk selanjutnya dibawa ke makam tuan mereka. Oishi sebagai pemimpin lalu memilih 46 orang samurai terbaik sedangkan 13 orang sisanya dipulangkan kembali pada keluarganya masing-masing. Mereka yang terpilih kemudian mengambil senjata dan baju perang yang sempat disembunyikan sebelumnya.

Satu lukisan yang menggambarkan penyerangan para ronin di istana Kira di Edo. Foto berasal dari Wikipedia

Tanggal 14 Desember 1702 aksi penyeranganpun dimulai. Oishi mengirimkan empat samurai untuk menyamar sebagai pedagang yang menyusup ke istana Kira. Setelah berhasil masuk mereka lalu menyekap penjaga pintu gerbang dan mengikatnya. Oishi juga mengirimkan orang-orangnya untuk memberitahu pada penghuni rumah di sekitar istana Kira dan menjelaskan bahwa mereka bukanlah perampok, melainkan hanya ingin membalas dendam atas kematian majikan mereka. 

Utusan Oishi berpesan bahwa seluruh tetangga Kira tidak perlu khawatir akan disakiti karena keselamatan mereka akan dijamin. Tetangga Kira yang semuanya membenci pejabat sombong itu menyatakan tidak akan menghalangi aksi penyerbuan itu. Mereka mempersilahkan Oishi beserta pengikutnya meneruskan rencananya.

Oishi kemudian menempatkan beberapa pemanah di sekitar atap istana untuk mencegah penghuni istana meminta bantuan. Setelah semua persiapan matang, Oishi menabuh genderang sebagai tanda penyerbuan telah dimulai. Pasukan dibagi dalam dua kelompok, pertama yang dipimpin Oishi berusaha menyerang dari depan istana dengan berusaha menjebol gerbang. Sedangkan pasukan kedua dipimpin Chikara yang menyerbu lewat gerbang belakang.

Kira yang saat itu tengah asyik minum teh kaget bukan kepalang mendengar keributan di pintu gerbang. Sadar bahwa pengikut Asano benar-benar telah datang, Kira yang panik segera melarikan diri bersama istri dan beberapa pelayan wanita. Pengawal Kira yang saat itu tengah tidur di barak segera berlarian masuk ke dalam istana untuk menolong tuan mereka. Oishi yang berhasil menjebol gerbang depan akhirnya menerobos masuk dan segera disambut pertarungan sengit melawan pengawal Kira. Begitu pula dengan Chikara yang berhasil menerobos gerbang belakang harus menghadapi sejumlah penjaga. Akibatnya pertarungan berdarahpun tidak terelakkan lagi di dalam istana. Malam yang bersalju dan dingin semakin menambah mencekamnya drama balas dendam itu.

Api yang berkobar disertai jeritan kematian dari pengawal yang tewas membuat wanita dan anak-anak di dalam istana itu menangis histeris. Namun Oishi dan para ronin benar-benar menepati janji mereka dengan tidak menyakiti orang yang tidak bersalah dan hanya membantai pengawal yang bersenjata. Akhirnya setelah kurang lebih satu setengah jam pertempuran itupun berakhir. Oishi dan para ronin berhasil membunuh seluruh pengawal Kira yang berjumlah 61 orang tanpa kehilangan satu orangpun di pihaknya. 

Tanpa membuang waktu mereka segera menggeledah seisi istana untuk mencari buruan mereka. Namun selain wanita dan anak-anak yang menangis ketakutan, sosok Kira tidak ditemukan di manapun. Para ronin mulai resah karena takut telah gagal dalam usahanya kali ini. (bersambung) (Indoshotokan)

LEGENDA 47 RONIN (1)

Kisah 47 Ronin (Shiju Shichi-shi) diakui sebagai salah satu legenda terbaik dalam sejarah samurai Jepang. Sebuah epik berdasarkan kisah nyata pada abad ke-18 yang menunjukkan spirit bushido sejati. Kepahlawanan, pengorbanan dan kesetiaan yang terjadi saat itu bahkan masih hidup sampai kini dalam keseharian masyarakat Jepang. Ada yang menyebut legenda itu dengan “balas dendam dari Ako” (Genroku Ako Jiken).

Kisah bermula tahun 1701 dimana saat itu Shogun Tsunayoshi yang berdiam di Edo ingin memberikan hadiah pada kaisar di Kyoto sebagai rasa hormat. Untuk memenuhi tujuan itu Tsunayoshi memilih dua daimyo (setara gubernur), yaitu Naganori Asano dan Kamei sebagai wakilnya. Usia keduanya yang terbilang masih muda membuat Tsunayoshi merasa perlu membimbing dalam hal etika dan sopan santun penyambutan. Tsunayoshi kemudian menunjuk salah satu petinggi Istana Edo yang cukup berpengaruh, yaitu Yoshinaka Kira (1641-1702) untuk mengajari kedua daimyo itu.

Kira ternyata seorang pejabat yang rakus dan sombong, karena selalu meminta hadiah mahal sebagai balas jasa dan tanda hormat. Kira juga mengeluhkan uang dan hadiah yang diberikan Asano dan Kamei terlalu sedikit. Saat itu sebuah upeti umumnya memang diberikan pada senior sebagai ungkapan balas jasa dan terima kasih. Sayangnya sifat Kira yang tidak mampu menahan diri membuatnya selalu menghina dan mengejek kedua muridnya itu. Tentu saja Asano geram sering mendengar umpatan yang memerahkan telinga itu. Namun mengingat misi penting dari Shogun Tsunayoshi membuatnya terus bersabar.

Berbeda dengan Asano yang mampu bersabar, Kamei justru tidak mampu menahan amarahnya dan ingin segera menghabisi nyawa Kira. Namun tanpa sepengetahuan Kamei, salah satu orang bawahannya memberikan semacam uang sogokan pada Kira dalam jumlah yang tidak sedikit. Tujuannya tidak lain agar Kira tidak menghina tuannya, dan lebih jauh agar Kamei mengurungkan niatnya membunuh Kira yang tentu saja memicu masalah besar. Mendapat upeti sebanyak itu tentu saja Kira sangat gembira, sejak itulah Kira bersikap sangat akrab dengan Kamei seolah sebelumnya tidak terjadi apa-apa. Kamei yang mengetahui perubahan sikap Kira segera mereda amarahnya.

Sebaliknya, Asano yang tidak memberikan upeti lebih banyak harus menerima cercaan yang menyakitkan. Kira yang rakus berdalih seharusnya Asano berterima kasih padanya yang akan membuat namanya terkenal di depan kaisar. Dua bulan menerima umpatan agaknya membuat Asano tidak mampu lagi menahan kesabarannya. Setelah suatu insiden, Kira menyebut Asano sebagai orang tidak tahu adat dan sopan santun.

Saat itulah Asano diikuasai emosi dan segera mencabut sebilah wakizashi (pedang pendek) dan segera menyerang Kira. Sayangnya usaha itu gagal dan hanya melukai wajah Kira. Masih belum puas, Asano kembali menyerang Kira. Namun serangannya berhasil dihindari dan menghantam pilar. Penjaga yang mendengar ada keributan segera meringkus Asano yang dianggap bersalah karena mengacungkan pedang.

Hanya mengacungkan senjata di dalam istana Shogun adalah kejahatan besar, apalagi menyerang orang di istana sama saja menggali kubur sendiri, karena hukumannya sangatlah berat. Shogun Tsunayoshi yang mengetahui keributan itu kemudian menghukum Asano atas perbuatannya dengan segera menyuruhnya melakukan seppuku (ritual bunuh diri). Asano yang tidak mampu membela diri dianggap telah menghina perintah Shogun. Tidak ada banyak pilihan bagi Asano untuk lolos dari hukuman. Akhirnya dengan sebuah tusukan pisau ke perutnya Asano mengakhiri hidupnya. Sebaliknya, Kira sebagai penyebab insiden itu justru lolos dari hukuman.

Saat itu berlaku hukum bahwa jika seorang daimyo tewas akibat seppuku, maka seluruh harta benda berikut istananya akan dikembalikan pada Shogun. Selain itu keluarganya akan kehilangan hak waris dan seluruh samurai yang menjadi pengikutnya akan dibubarkan dan otomatis menjadi ronin (samurai tak bertuan). Berita itu kemudian disampaikan pada Oishi Kuronasuke, penasihat yang bekerja di istana Asano.

Pengikut Asano kebingungan menghadapi masalah yang tiba-tiba ini. Oishi yang bertindak sebagai pemimpin dengan sabar mendengarkan pendapat dari seluruh pengikut Asano. Dari seluruh pengikut Asano yang berjumlah sekitar 300 orang, 47 diantaranya (termasuk Oishi) sebenarnya tidak setuju dengan penyitaan istana itu. Tidak hanya itu, mereka juga ingin membalas kematian tuan mereka yang telah diperlakukan tidak adil. Sementara itu sebagian besar lainnya setuju dengan penyerahan istana milik Asano kepada Shogun. Sedangkan yang lain ingin menghormati hukum dan menyerah secara damai.

Setelah melalui banyak pertimbangan, akhirnya Oishi mengusulkan mengirim sebuah petisi pada Shogun yang meminta pergantian kekuasaan istana milik Asano agar diserahkan pada saudara laki-lakinya yaitu Daigaku. Jika petisi itu ditolak, Oishi dan para pengikut Asano akan menolak penyitaan istana itu dan memilih mempertahankannya sampai mati. Namun demikian Oishi dan seluruh pengikut Asano sadar bahwa upaya tidak akan membuahkan hasil dan hanya mengulur waktu saja.

Beberapa hari kemudian utusan shogun berangkat untuk menyita istana itu. Sebelum sampainya utusan itu, Oishi dan para pengikut Asano telah mengosongkan istana. Daigaku yang tidak ingin lagi melihat pertumpahan darah kemudian mengirimkan surat pada Oishi agar tidak menyerang utusan Shogun. Dengan patuh Oishi dan pengikut Asano menjalankan isi surat Daigaku dengan menganggapnya sebagai perintah yang sama dari tuannya yang telah mati. Meski demikian niat Oishi dan seluruh samurai Asano yang berniat membalas dendam pada Kira belumlah surut.

Kira yang menjadi incaran pengikut Asano sadar bahwa dirinya dalam bahaya. Karena itulah di sekitar istananya yang luas itu Kira menempatkan banyak penjaga dan samurai pengawal. Oishi dan pengikut Asano sadar bahwa menyerang Kira untuk saat ini hanya tindakan bunuh diri. Mereka kemudian menunda rencana itu dan mengumpulkan seluruh senjata yang dimiliki untuk selanjutnya disembunyikan di satu tempat. Sambil terus menyusun rencana, mereka menyamar sebagai pedagang keliling dan biksu demi mengorek informasi. Apapun mereka lakukan agar dapat selangkah lebih dekat ke istana Kira. (bersambung) (Indoshotokan)

BERLATIH HIDUP - MELAWAN TOPAN

Barangkali akan lebih rendah hati jika membiarkan orang lainlah yang menceritakan perbuatan kepahlawanan seorang anak muda ini daripada aku lakukan sendiri. Tetapi hasilnya aku menelan rasa malu, aku disini untuk menjelaskan kalimat dari Yukio Togawa, pengarang, yang tidak bertanggung jawab dengan menjamin kepada para pembaca bahwa kejadian yang diceritakannya memang benar-benar terjadi. Para pembaca dapat merasakan suatu hal yang gila, tetapi aku tidak menyesal.

"Langit yang diatas" tulis Tuan Togawa,"berwarna hitam, dan dari sana muncul angin melolong yang menyapu bersih apapun yang berdiri dijalannya. Gudang yang besar bagaikan ranting pohon yang ditarik, debu dan batu kerikil berterbangan ke udara, menyengat wajah seorang pemuda".

"Okinawa dikenal sebagai pulaunya angin topan, dan kekejaman badai tropis ini sulit untuk dijelaskan. Untuk melawan serangan angin ganas yang melanda pulau ini setiap tahunnya, selama musim badai rumah-rumah di Okinawa dibangun merendah dan sekuat mungkin. Rumah-rumah itu selain dikelilingi tembok batu yang tinggi, pada genting diatapnya juga masih dilindungi dengan batu. Tetapi angin yang berhembus memang sungguh luar biasa (kadang-kadang kecepatannya bisa mencapai seratus mil perjam) yang masih saja menggetarkan rumah-rumah, walaupun sudah ada tindakan pencegahan sebelumnya".

"Pada suatu angin topan aku ingat, semua orang di Shuri berkumpul bersama-sama dirumah mereka masing-masing. Berdoa agar angin topan itu segera lewat tanpa meninggalkan kerusakan yang besar. Tidak, ternyata aku salah ketika berkata semua orang-orang Shuri berkumpul dirumah ; ternyata ada seorang anak muda, diatas atap rumahnya di Yamakawa-cho, yang bermaksud melawan angin topan itu". "Setiap orang yang melihat anak muda yang sendirian ini pastilah akan menyimpulkan bahwa dia sudah kehilangan akal sehatnya. Hanya memakai pakaian hingga sebatas pinggangnya, dia berdiri diatas genting atap rumahnya yang licin dan dipegang oleh kedua tangannya sebuah tatami (tikar jepang dari jerami) untuk melindungi tubuhnya dari angin yang melolong. Pasti dia telah jatuh ketanah berkali-kali, hampir disekujur tubuhnya yang telanjang telah berlumuran lumpur".

"Anak muda itu tampaknya berumur sekitar dua puluh tahun, atau bahkan mungkin lebih muda. Ukuran tubuhnya kecil, tidak sampai lima kaki, tetapi bahunya besar dan otot-ototnya terlihat kekar. Rambutnya disisir seperti gaya seorang pegulat sumo, dengan sebuah jambul dan sebuah peniti perak, menandakan bahwa dia termasuk golongan shizoku". "Tetapi ini bukanlah hal yang penting. Yang menarik adalah ekspresi di wajahnya ; mata yang terbuka lebar, berkilau dengan sorot yang aneh, keningnya melebar, kulit yang memerah seperti tembaga.

Dia mengatupkankan giginya ketika angin itu bertiup kearahnya, dia mengeluarkan sebuah aura yang berkekuatan luar biasa. Ada yang bilang anak muda ini adalah salah satu pengawalnya raja-raja Deva". "Sekarang anak muda diatas atap itu menurunkan posisi badannya, mengangkat tikar jerami itu melawan angin yang mengamuk.

Kuda-kuda yang dilakukannya sangat mengesankan, dia berdiri mengangkang seolah-olah sedang menunggang kuda. Benar, setiap orang yang tahu karate dapat dengan cepat mengetahui anak muda itu sedang melakukan kuda-kuda menunggang kuda, kuda-kuda yang paling stabil diantara semua kuda-kuda karate. Dan dia menggunakan angin topan itu untuk memperbaiki tekniknya, dan lebih jauh lagi untuk memperkuat tubuh dan pikirannya. Angin menabrak tikar dan anak muda itu dengan kekuatan penuh, tetapi dia berdiri diatas pijakannya dan tidak menghindarinya."(Indoshotokan)

Artikel ini diterjemahkan dari buku Karate-do: My Way of Life yang ditulis Gichin Funakoshi. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

PERJUMPAAN DENGAN SEEKOR ULAR BERBISA

Di Okinawa, ada seekor ular ganas yang sangat beracun yang bernama habu. Syukurlah, gigitannya tidak lagi menjadi hal yang menakutkan daripada ketika masa mudaku, jika seseorang sampai digigit pada tangan atau kakinya, satu-satunya jalan untuk menyelamatkan hidupnya adalah segera memotongnya. Sekarang sebuah obat penawarnya yang mujarab tengah dikembangkan, tetapi harus langsung disuntikkan sesegera mungkin setelah gigitan. Habu dari Okinawa, yang panjangnya enam sampai tujuh kaki tetaplah seekor binatang buas yang harus dihindari.

Kembali ke masa lampau sebelum dikembangkannya obat penawar, pada suatu malam aku pergi ke rumah Master Azato untuk waktunya berlatih karate. Ini terjadi beberapa tahun sesudah pernikahanku, dan aku meminta anakku yang tertua yang masih disekolah dasar menemaniku dengan membawa lentera kecil yang akan menerangi jalan yang akan kami lalui di pulau ini pada malam hari.

Ketika kami berjalan melewati Sakashita, antara Naha dan Shuri, kami melewati sebuah kuil tua yang dibangun untuk menghormati dewa kuno dan untuk menyembah Dewi Pengampun, yang dalam Jepang moderen disebut Kannon. Baru saja kami melewati kuil, aku melihat samar-samar ditengah jalan sebuah benda yang pada mulanya aku kira kotoran kuda. Tetapi seiring kami berjalan semakin dekat aku sadar bahwa apa yang telah kulihat dalah sesuatu yang hidup, dan tidak sekedar hidup melainkan juga bersiap menyerang, menatap marah pada dua pengganggu.

Ketika anakku melihat dua mata yang tajam berkilau dimalam hari, dan lalu diterangi cahaya lentera, lidah merah yang tajam menjulur keluar, dia menjerit ketakutan dan melompat kearahku sambil memegang kakiku dalam ketakutannya. Dengan cepat kusembunyikan dia dibelakangku, kuambil lentera darinya dan mulai mengayunkannya pelan-pelan dari kanan ke kiri, menerangi mataku untuk mengawasi ular itu.

Aku tidak mampu, tentu saja, mengatakan berapa lama kejadian ini berlangsung, tetapi akhirnya ular itu tetap menatapku, berjalan menyusur ke kegelapan kebun kentang terdekat. Itulah saat satu-satunya aku dapat melihat betapa besar dan panjangnya habu itu.

Sebelumnya aku sudah sering melihat habu, tapi tidak hingga malam itu kulihat satu ekor yang bersiap menyerang. Sebagaimana yang diketahui orang-orang Okinawa tentang sifat ular yang berbahaya ini, aku sangat ragu jika ular ini akan menyingkir dengan begitu tenang, begitu tunduk tanpa membuat suatu serangan. Dengan sangat takut kupegang lentera didepanku saat aku berjalan mengendap-endap ke kebun mencari ular tadi.

Kemudian aku menemukan dua mata yang bersinar terkena cahaya lentera dan aku sadar ternyata habu tadi memang benar sedang menungguku. Dia sudah menyiapkan jebakannya dan sekarang menungguku untuk memasukinya. Untunglah begitu melihatku dengan lentera yang mengayun ini, ular itu membatalkan serangannya dan saat ini menyingkir demi kebaikannya kedalam kegelapan kebun itu.

Tampaknya aku telah mendapat pelajaran yang penting dari ular itu. Ketika kami melanjutkan perjalanan menuju rumah Master Azato, aku berkata pada anakku,"Kita semua tahu bahayanya habu. Tetapi saat ini hal itu tidak membahayakan. Habu yang telah kita jumpai tampaknya memahami taktik dari karate, dan ketika dia menyusur kedalam kebun itu bukanlah melarikan diri dari kita. Dia sedang menyiapkan sebuah serangan. Habu itu mengerti dengan sangat baik semangat karate" (Indoshotokan).

Artikel ini dikutip dari buku Karate-do Kyohan yang ditulis Gichin Funakoshi dari bagian "Meeting with a Viper. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

KISAH MATSUMURA & LEMBU JANTAN

Kisah ini terjadi pada masa pemerintahan Raja Sho Ko, dimana pada masa itu penuh dengan persekongkolan istana, korupsi dan kekuasaan pemerintah jatuh ketangan segolongan orang. Ini selalu terjadi jika kekuasaan jatuh ketangan raja yang lemah. Sekalipun rakyat dibebani dengan pajak yang tinggi, tetapi raja masa itu selalu mengadakan perayan tahunan yang menampilkan pertarungan antara seorang ahli bela diri melawan lembu jantan untuk menghibur rakyat jelata.

Pada suatu tahun, setelah sang raja telah menerima seekor lembu jantan yang bagus dari Kaisar Jepang, dia memutuskan untuk menggelar pertarungan melawan lembu jantan itu dengan Matsumura sebagai lawannya. Kabar ini dengan cepat tersebar diantara penduduk pulau itu. Orang-orang melupakan masalah mereka dan menunggu-nunggu pertarungan yang menghebohkan itu di Aizo Shuri.

Ketika didengarnya surat perintah raja, Matsumura memutuskan untuk menerima tantangan itu. Kemudian dia langsung menuju kekandang milik sang raja. Penjaga sapi yang dungu itu terlihat tercengang ketika melihat Matsumura berdiri di pintu, seorang laki-laki yang dianggap setengah dewa oleh orang-orang Okinawa.

"Boleh kulihat lembu itu ?" tanya Matsumura mencairkan suasana.

"Terserah kau saja", akhirnya dia menjawab dengan jawaban yang kurang menyenangkan dan membawa Matsumura mendekati kandang.

"Tolong jangan katakan kepada siapapun bahwa aku sudah melihat lembu ini, dan pastikan lembunya terikat dengan kuat" kata Matsumura.

Penjaga itu mengganggukkan kepalanya dan melihat Matsumura dengan penasaran, ketika dia melepas pakaian dan topi perangnya. Pertama-tama dia memeriksa ikatan lembu jantan itu, lalu perlahan-lahan dia masuk kekandang dan mulai mendekati hewan itu.


Ketika hari pertarungan tiba, orang-orang dari seluruh pulau (bahkan dari Hama Higa yang jauh sekalipun) berdatangan ke Aizo Shuri. Suasananya penuh kegembiraan dan merekapun sudah lupa dengan masalah pajak. Mereka semua sudah bersiap-siap menyaksikan pertunjukan yang paling hebat dimuka bumi ini : Matsumura bertarung melawan lembu jantan sang raja.

Ketika lembu jantan itu dilarikan kedalam arena, sebuah raungan yang keras keluar dari mulutnya, menanti calon lawannya. Memang benar-benar hewan yang luar biasa, hingga sang rajapun harus meminta secara pribadi kepada orang-orang yang akan bertarung melawan lembu jantan itu.

Lembu jantan itu mulai bersiap-siap diiringi dengusan yang liar seiring para penonton bertepuk tangan.

Dari salah satu sudut, Matsumura muncul lengkap dengan pakaian dan topi perangnya. Dengan pelan-pelan dia berjalan mendekati lembu jantan itu. Seluruh penonton membisu menunggu peristiwa selanjutnya. Berikutnya lembu jantan itu mulai bersiap menyerang dengan mata yang menyala. Tetapi ketika lembu jantan itu mencium bau Matsumura, memberikan rasa takut baginya, segera dia melarikan diri keluar dari arena.

Tidak ada seorangpun pernah melihat yang demikian dalam hidup mereka, atau mendengar yang seperti ini. Bahkan sang rajapun penasaran, dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri bagaimana Matsumura membuat lembu jantan itu lari ketakutan bahkan tanpa menyentuhnya sedikitpun. Ketika dia tersadar kembali, dia mengumumkan kepada rakyat :

"Hari ini berdasarkan surat perintah kerajaan, Matsumura dianugerahi gelar "Bushi" (gelar pendekar) sebagai pengakuan atas kemampuannya yang luar biasa dalam seni bela diri". Sejak saat itu dan seterusnya Sokon Matsumura juga dikenal sebagai Bushi Matsumura.

Tetapi bagaimana Matsumura melakukannya? Ternyata, ketika Matsumura dikandang bersama lembu jantan yang terikat kuat itu, dia mengeluarkan dari lengan bajunya sebuah jarum yang sangat panjang. Kemudian ditusukkannya dalam-dalam ke hidung sapi jantan itu. Reaksinya tentu saja sebuah teriakan kesakitan yang sangat keras. Matsumura sangat puas dengan hasilnya, dan mengulangi proses yang sama setiap hari sampai sapi itu belajar mengenali dan takut padanya. (Indoshotokan)