KONTEN DILINDUNGI HAK CIPTA. DILARANG KERAS MENJIPLAK, MENGEDIT DAN MEMPERBANYAK SEBAGIAN ATAU SELURUH HALAMAN SITUS INI TANPA IJIN.

Cari Artikel

Showing posts with label MITOS DAN LEGENDA. Show all posts
Showing posts with label MITOS DAN LEGENDA. Show all posts

SANG GURU: KISAH ANKOH AZATO (4 - FINAL)

DUEL ANTAR AHLI PEDANG

Di masa itu masih ada ahli bela diri lain dengan kemampuan yang sepadan dengan Azato. Yoshin Kanna adalah laki-laki terpelajar tapi juga piawai ilmu bela diri. Bahkan Kanna juga menguasai ilmu pedang layaknya Azato. Semangat bertarung dan keberaniannya sudah tersohor dimana-mana. Karena banyak kemiripan, tidak heran jika banyak orang lantas membandingkan keduanya.

Dalam budaya lama Okinawa orang seperti Azato dan Kanna disebut dengan “bun bu ryo do.” Artinya agar pantas disebut sebagai ahli bela diri maka kekuatan harus didukung kecerdasan. Perbedaan Kanna dan Azato hanya pada ukuran tubuhnya. Kanna  lebih menonjol karena bahunya lebih besar dari orang Okinawa umumnya. Selain itu otot leher dan lengannya terlihat kekar sebagai bukti kesungguhannya dalam ilmu bela diri.

Kabar kehebatan ilmu pedang Azato akhirnya sampai juga ke telinga Kanna. Yakin dengan kemampuannya, Kanna menantang Azato dalam sebuah duel. Menurutnya dengan mengalahkan Azato maka reputasinya akan meningkat. Azato yang memang gemar ilmu pedang memenuhi tantangan itu. Tapi yang mengejutkan, walau musuhnya menantang dengan pedang, Azato memilih menghadapi dengan tangan kosong. Melihat Azato tidak mengeluarkan senjata tidak menyurutkan niat Kanna. Dia akan membuat Azato menyesal karena sudah meremehkannya.

Dengan sigap Kanna menyerang Azato dengan beberapa sabetan teknik pedangnya. Walau diserang berkali-kali Azato tetap tenang sambil menghindar dan membaca gerakan lawannya. Ketika sudah cukup bagi Azato melihat teknik musuh, tanpa basa-basi dia membanting Kanna dengan gerakan yang cepat. Ketika lawan telah roboh barulah Azato mencabut pedang miliknya dan membuat lawan tidak bergerak.

Kalah dari Azato agaknya tidak membuat Kanna merasa jera. Rasa penasaran membuatnya ingin kembali menantang Azato. Tapi sebanyak itu Kanna menantang Azato dan sebanyak itu pula dia selalu kalah. Azato tampaknya tidak begitu terkejut dengan keberhasilannya mengalahkan Kanna berkali-kali. Menurut Azato kekalahan itu karena musuhnya terlalu percaya diri. Merasa hebat, Kanna tidak mau mengambil pelajaran. Lebih jauh Azato menegaskan bahwa untuk menang, seorang petarung harus mengenali diri sendiri dan juga lawan.

Bagi Azato tujuan ilmu bela diri yang sebenarnya adalah membangun tubuh, jiwa, pikiran dan semangat yang sama baiknya. Walau kehebatannya sudah tidak diragukan lagi, Azato senantiasa mengingatkan Funakoshi agar tidak sembarangan mengeluarkan teknik kecuali memang terdesak. Azato mengingatkan lewat nasihatnya yang terkenal, “hito no te ashi wo ken to omoe” yang berarti, “pikirkan bahwa kedua tangan dan kakimu adalah pedang yang tajam.” Oleh Funakoshi nasihat itu diabadikan dalam salah satu Shoto Niju Kun.

Di usia tuanya Azato masih mempunyai sebuah keinginan. Dia ingin menulis sebuah buku tentang bela diri setelah pensiun sebagai pejabat pemerintah. Buku itu rencananya berisi petunjuk berlatih tode dari pengalamannya selama ini. Tidak banyak yang tahu jika Azato memang gemar menulis di masa mudanya. Di setiap akhir tulisannya Azato selalu membubuhkan tanda tangan “Rinkakusai”. Sebuah kebiasaan yang kemudian diikuti oleh Funakoshi yang selalu membubuhkan tanda tangan “Shoto” di akhir puisi karangannya.

Sayang sekali, niat Azato untuk menulis buku tidak sempat terlaksana karena tahun 1906 kematian telah menjemputnya. Walau Okinawa kehilangan salah satu legenda terbaiknya, namun cita-citanya masih hidup hingga kini. Adalah Gichin Funakoshi, sebagai murid satu-satunya yang mendirikan Shotokan yang dipengaruhi Shorei-ryu dan Shorin-ryu sebagai bukti teknik Azato ada di dalamnya. (Indoshotokan)

SANG GURU: KISAH ANKOH AZATO (3)

SANG POLITIKUS PEMBAWA PERUBAHAN

Sebagai salah satu ahli bela diri terbaik di Okinawa, Azato ternyata juga seorang politikus handal. Ilmu politik dipelajari Azato karena kedekatannya dengan politikus ternama yaitu Seiei Ishado. Perkenalan dengan Ishado juga membuka jalan Azato untuk lebih dekat dengan para pejabat pemerintahan. Karena dasarnya memang orang yang cerdas, Azato cepat belajar. Tidak butuh waktu lama baginya untuk menjadi politikus yang sejajar dengan Ishado. Ini adalah hal yang cukup langka karena saat itu sangat jarang seorang ahli bela diri yang masuk ke dunia politik.

Dalam karir politiknya Azato banyak memberi masukan pada pemerintah Okinawa. Saat Jepang berada dalam masa restorasi, Pemerintah Meiji banyak membangun jalan kereta api sebagai upaya modernisasi. Rel kereta api juga dipandang sebagai sebuah kebanggaan bagi pemerintahan saat itu karena mensejajarkan Jepang dengan negara barat. Funakoshi ingat Azato berkata padanya jika jalan lintas kereta api Siberia selesai dikerjakan, maka perang Rusia dan Jepang tidak bisa dihindari. Benar saja, tahun 1904 – 1905 perang besar antara dua negara itu terjadi dan dimenangkan oleh Jepang. Apa yang dikatakan Azato itu tidak berlebihan karena hanya berdasarkan ketajaman ilmu politiknya.

Restorasi Meiji yang disuarakan pemerintah Jepang di tahun 1868 membawa perubahan baru dalam masyarakat karena mengadopsi budaya barat. Sebagai langkah awal modernisasi budaya masa lalu yang dianggap kuno mulai dihapuskan. Akibatnya terjadilah kehebohan luar biasa baik di Jepang daratan maupun Okinawa. Salah satu kontroversi yang terkenal dalam sejarah adalah dihapuskannya “chonmage”. Model rambut ikat untuk laki-laki yang populer di jaman Edo itu menunjukkan kelas seseorang dan biasanya berhubungan dengan samurai.

Begitu dahsyatnya kontroversi dihapusnya chonmage hingga membuat masyarakat Okinawa terpecah menjadi dua golongan. Kelompok pertama yang mewakili para penentang mayoritas berasal dari golongan Shizoku yang sekelas bangsawan atau pejabat. Karena mereka mempunyai hak khusus yang menguntungkan, sudah jelas mereka menolak penghapusan. Jika aturan baru diberlakukan, mereka akan sama statusnya dengan rakyat biasa dan kehilangan hak khusus. Kelompok kedua adalah Kaika-to (berarti pencerahan) yang didukung golongan Heimin yang mayoritas berasal dari rakyat biasa. Kelompok ini mendukung aturan baru dan mendesak Menteri Pendidikan Jepang untuk menghapus chonmage selamanya.

Menteri Pendidikan berusaha menangani konflik itu namun tidak berhasil. Ternyata sangat sulit mengatasi masalah yang berhubungan dengan tradisi yang sudah berakar kuat. Dalam perkembangan selanjutnya konflik itu berimbas pada keadaan sosial masyarakat. Saat itu orang bisa ditolak bekerja di kantor pemerintah jika diketahui masih mempertahankan chonmage. Yang paling dirugikan adalah anak-anak Okinawa yang dilarang masuk ke sekolah dasar hanya karena chonmage.

Melihat situasi yang kian panas, Raja Okinawa meminta bantuan Azato dan Ishado. Mereka berperan sebagai penasihat politik raja yang membahas imbas dari kebijakan Restorasi Meiji. Azato ditunjuk sebagai penasihat karena peran pentingnya di Kodokai (sekarang menjadi lembaga parlemen). Salah satu keputusan Kodokai adalah mereka mendukung penghapusan chonmage. Tanpa peran Azato mustahil Kodokai mengeluarkan kebijakan yang seberani itu. Tidak hanya itu, jiwa pembaharu Azato diperlihatkan dengan keberaniannya memotong chonmage miliknya sendiri.

Tidak hanya masyarakat Okinawa, rekan politik Azato juga tak kalah kaget melihatnya. Seakan tidak mungkin melihat Azato sebagai golongan Shizoku berbuat senekad itu. Sebaliknya, meski sadar statusnya akan sama seperti orang biasa, Azato tampak tidak begitu mempersoalkannya. Bagi Azato perubahan pada kemajuan lebih penting ketimbang mempertahankan beberapa helai rambut. Lebih jauh Azato ingin menunjukkan bahwa sebuah negara rakyatnya tidak akan berubah manakala pemimpinnya tidak memberi contoh yang baik. Itulah sebabnya Azato memotong chonmage-nya berharap agar diikuti bangsawan Okinawa lainnya. Berkat aksinya yang pro rakyat itu membuat Azato dianggap sebagai figur pahlawan. (Bersambung – Indoshotokan)

SANG GURU: KISAH ANKOH AZATO (2)


Berhasil menimba ilmu dari Sokon Matsumura tidak lantas membuat Azato berpuas diri. Karena itulah Azato lalu memasang banyak peralatan bela diri di rumahnya. Funakoshi yang pernah berkunjung ke rumahnya menceritakan jika rumah Azato yang besar itu tak ubahnya seperti pusat latihan bela diri daripada tempat tinggal. Makiwara (sasaran pukulan dari kayu) dengan beragam bentuk terlihat di tiap sudut rumah. Ada juga boneka kayu yang biasa digunakan ahli bela diri Tiongkok. Di ruangan lain ada pedang lengkap dengan perisainya yang siap digunakan kapan saja. Alat latihan beban dari batu juga melengkapi koleksinya. Tapi yang paling menarik perhatian adalah replika kuda dari kayu untuk latihan memanah.

Melihat semua itu orang bisa saja menilai Azato terlalu berlebihan. Peralatan yang serba lengkap itu tentu saja mahal dan belum tentu semua ahli bela diri Okinawa bisa menyediakannya. Karena berasal dari keluarga terpandang, bukan hal aneh jika Azato bisa mendapatkannya. Tapi tujuan Azato yang sebenarnya adalah agar dia berlatih dimana saja dan kapan saja.

Rumah besar Azato itu agaknya juga tidak luput dari perhatian pencuri. Suatu malam seorang pencuri mengendap-endap masuk ke rumah Azato. Andai si pencuri tahu jika rumah yang dimasukinya itu milik seorang ahli bela diri mungkin dia akan mengurungkan niatnya. Azato yang sudah terlelap tiba-tiba bangun karena mendengar suara yang mencurigakan di ruangan sebelah. Sadar ada tamu tidak diundang, Azato bangun sambil menyiapkan diri.

Di satu sudut ruangan yang gelap Azato akhirnya berhasil menemukan sang pengganggu dan berusaha menangkapnya. Karena ketahuan oleh pemilik rumah, pencuri itu mengurungkan niatnya mengambil harta benda dan melarikan diri. Pencuri itu ternyata bertubuh kerdil tapi licin bagai belut. Dengan lincah dia bergerak kesana kemari menghindari tangkapan Azato. Setelah berhasil merepotkan si empunya rumah akhirnya dia berhasil kabur lewat atap rumah. Beberapa perabot rumahpun pecah akibat ulahnya. Meski kesal dan tidak percaya, Azato yakin jika orang itu tidak sekedar ingin mencuri tapi juga ingin menguji kemampuannya.


AHLI PEDANG DAN MEMANAH

Tidak berhenti sampai ilmu tangan kosong saja, Azato terus mengembangkan kemampuannya dengan ilmu-ilmu baru. Karena itu dia lalu belajar kenjutsu (ilmu pedang) pada Yashichiro Ishuin, seorang ahli pedang dari Jigen-ryu. Konon Jigen-ryu adalah teknik pedang yang digunakan kelompok Samurai Satsuma yang pernah menduduki Okinawa.

Yang jelas Azato tampak sangat puas dengan ilmu pedangnya itu. Funakoshi pernah bercerita jika Azato memang suka dengan tode, tapi ilmu pedang adalah hasrat terbesarnya. Sejak belajar Jigen-ryu Azato mengatakan selalu siap jika harus menghadapi lawan kapanpun dan dimanapun. Apa yang dikatakan Azato itu bukan bermaksud menyombongkan diri karena itu semua hanyalah keyakinannya semata. Dan itu bukanlah omong kosong karena kelak dia akan membuktikan sendiri perkataannya. 

Setelah mahir tode dan kenjutsu Azato masih ingin menambah keahliannya dengan belajar kyujutsu (ilmu memanah). Untuk itu dia lalu mendatangi ahli memanah terbaik saat itu yang bernama Sekiguchi. Di luar semua kepiawaiannya Azato ternyata juga mahir menunggang kuda. Ketika seorang ahli berkuda bernama Megata sedang memberi pelatihan bagi pasukan Kaisar Meiji, Azato berniat menemuinya. Kabarnya Megata mempunyai teknik berkuda yang unik karena belajar pada orang barat.

Sesampainya disana Azato tidak langsung memperkenalkan diri. Dari kejauhan dia mengamati Megata yang sedang memberikan instruksi pada murid-muridnya. Megata tampaknya sudah tahu sedang diperhatikan oleh Azato. Dia lalu mendekati Azato dengan dalih minta bantuan untuk mencoba pelana barunya. Permintaan itu sebetulnya hanya basa-basi saja karena Megata ingin melihat kebolehan Azato. Walau sempat menolak, setelah dibujuk Megata dan muridnya akhirnya Azato menerima permintaan itu. Demonstrasi berkuda dari Azato mendapat tepuk tangan dan pujian dari Megata dan murid-muridnya. (Bersambung - Indoshotokan)

SANG GURU: KISAH ANKOH AZATO (1)

Beberapa waktu yang lalu Indoshotokan telah mengupas kisah tokoh karate Okinawa yaitu Ankoh Itosu. Ada satu lagi legenda karate yang sering disebut namanya, tapi sangat sedikit orang yang tahu kisahnya. Orang itu tidak lain adalah Yasutsune Azato yang merupakan kawan dari Itosu sekaligus pasangan emas dalam sejarah karate Okinawa. Azato juga diakui sebagai salah satu ahli karate setelah era Sokon Matsumura berakhir. Sebagai buktinya, Azato juga diberi gelar “Bushi” yang menunjukkan ketangguhannya.

Selain ahli bela diri, Azato juga dikenal sebagai seorang politikus handal. Perannya yang besar dalam sejarah Okinawa tampak saat pergolakan akibat Restorasi Meiji. Sifat Azato yang mengutamakan kalangan akar rumput membuatnya begitu dihormati. Sayangnya tulisan yang menjelaskan figur Azato nyaris tidak ada. Apalagi untuk lukisan, gambar atau foto yang menerangkan sosoknya juga tidak pernah ditemukan. Sehingga petunjuk terbesar berasal dari kisah murid satu-satunya, yaitu Gichin Funakoshi.


SI BOCAH AJAIB

Yasutsune Azato, kadang disebut Ankoh Azato atau yang lainnya Anko Asato, lahir tahun 1827 di sebuah desa yang letaknya antara Shuri dan Naha. Keluarga Azato masih termasuk dalam golongan Tonichi, yaitu satu dari golongan Shizoku yang sekelas dengan bangsawan. Saat itu Tonochi juga menjabat sebagai pemimpin wilayah sebuah desa atau kota kecil.

Sejak anak-anak Azato sudah terkenal berkat kepandaiannya hingga dijuluki si bocah ajaib. Bukan hanya teman-temannya, bahkan gurunya sendiri juga kagum padanya. Ini sebetulnya tidak mengejutkan karena orang tua Azato berasal dari kalangan mampu yang bisa memberi pendidikan yang cukup. Banyak buku dari Tiongkok yang sengaja disediakan orang tuanya untuk mendukung pendidikan Azato. Biaya yang dibutuhkan jelas tidak sedikit dan hanya segelintir masyarakat Okinawa yang bisa melakukannya.   

Karena kecerdasannya itu Azato menerima beasiswa dari sekolahnya. Yang mengagumkan, biarpun sudah lulus dari sekolahnya Azato tetap gemar membaca. Azato memang tipikal anak yang suka belajar hal-hal baru. Tapi minat terbesar tampak pada bela diri dan filsafat Tiongkok. Ini bisa dilihat dari kebiasaannya membaca buku Tiongkok klasik seperti “Seni Perang” karya Sun Tzu, “Enam Taktik Perang” karya Lao Tsu, dan sederet buku filsafat lainnya.   

Tidak hanya otaknya yang cerdas, Azato juga mempunyai tubuh yang kuat. Ketika remaja Azato sudah mendemonstrasikan kekuatannya dalam sebuah “ujian”. Dalam buku “Karate-do Tanpeshu” Funakoshi menceritakan Azato harus berjalan kaki dari Kyozuka menuju rumahnya yang berjarak sekitar empat kilometer. Bukan cuma berjalan kaki, karena Azato harus memikul dua batu besar seberat masing-masing 30 kg di pundaknya. Masyarakat Okinawa saat itu memang mempunyai tradisi yang unik yaitu menguji fisik anak laki-laki yang akan beranjak dewasa.


BERLATIH DENGAN SOKON MATSUMURA

Pada masa itu Sokon Matsumura adalah ahli bela diri terbaik di Okinawa. Karena itu wajar jika banyak pemuda yang bermimpi bisa menjadi muridnya. Tapi tidak semuanya beruntung karena sang guru selalu memilih calon muridnya. Kenyataan ini bertolak belakang dengan jaman sekarang dimana orang bisa dengan bebas memilih bela diri manapun yang disukainya. Apa yang terjadi di Okinawa saat itu menyiratkan pesan bahwa sebuah bela diri layaknya sebilah pedang. Tidak sembarang orang boleh menguasainya, karena jika tidak justru membawa malapetaka.

Takdir sepertinya telah mempertemukan Azato dan Matsumura. Setelah mengamati dengan teliti, Matsumura bersedia menerima Azato. Tidak hanya itu, Azato juga bertemu dengan Itosu yang kelak menjadi teman terbaiknya. Setelah menjadi murid sang legenda, tiada hari dilewati Azato dan Itosu tanpa latihan berat. Funakoshi menceritakan jika keduanya harus bangun sebelum fajar dan baru berhenti latihan ketika matahari sudah tinggi. Yang mengagumkan, walau ditempa dalam keadaan seperti itu, Azato tidak pernah mengeluh dan menjalaninya dengan sabar. (Bersambung – Indoshotokan)

SANG GURU: KISAH ANKOH ITOSU (6 - FINAL)


Sukses mengangkat tode ke permukaan membuat Itosu mempunyai cita-cita yang lebih besar. Itosu berinisiatif memperkenalkan tode pada masyarakat Jepang. Memanfaatkan posisinya sebagai Sekretaris Raja Okinawa, di bulan Oktober 1908 Itosu mengirim sepucuk surat bertajuk “Tode Jukun” pada Menteri Pendidikan dan Menteri Pertahanan di Jepang. Tode Jukun yang berarti 10 Petunjuk Berlatih Tode pada pokoknya menjelaskan karakter, petunjuk latihan dan manfaat dari karate.

Terjemahan dari Tode Jukun adalah sebagai berikut:
  • Tode tidak dikembangkan dari Budhisme dan Konfusianisme. Di masa lalu Perguruan Shorei dan Shorin dibawa dari Cina ke Okinawa. Kedua perguruan ini mempunyai nilai-nilai yang kuat yang sekarang akan kusebutkan sebelum terlalu banyak perubahan.
  • Tode dilatih tidak hanya demi keuntungan seseorang semata; tode bisa digunakan untuk menjaga keluarga atau majikan seseorang. Tode tidak ditujukan untuk melawan seseorang, tapi sebagai cara untuk menghindari pertarungan ketika seseorang harus menghadapi musuh atau penjahat.
  • Tujuan tode adalah membentuk tulang dan otot sekeras batu, dan menggunakan tangan dan kaki setajam tombak. Jika anak-anak sudah berlatih Tang Te (Teknik Cina) sejak di sekolah dasar, kelak mereka akan layak bertugas di militer. Ingatlah kutipan yang ditujukan pada Duke of Wellington setelah dia mengalahkan Napoleon; “Pertempuran di Waterloo telah dimenangkan sejak dari Eton”
(Admin: Ini adalah sebuah kutipan populer yang menyindir kekalahan Napoleon di Waterloo. Tidak seperti kakaknya yang pandai, Wellington bukanlah pelajar yang sukses di Eton. Satu-satunya kegiatan yang sering dilakukannya saat disana hanyalah melompati sungai dan berkelahi dengan temannya. Wellington mungkin bukan ahli siasat seperti Napoleon, tapi kekuatan fisiknya telah mengantarkannya pada kemenangan).
  • Tode tidak bisa dipelajari dengan cepat. Seperti seekor lembu yang berjalan lambat namun akhirnya bisa mencapai jarak yang jauh. Jika setiap hari orang berlatih dengan tekun, maka dalam tiga atau empat tahun dia akan memahami karate. Mereka yang berlatih dengan cara seperti ini akan menemukan karate.
  • Dalam tode sangat penting melatih tangan dan kaki, karena itu seseorang harus berlatih menggunakan makiwara. Untuk melakukannya turunkan bahumu, buka paru-parumu, tahan kekuatanmu, berpijak dengan kakimu dan salurkan tenaga ke bagian bawah perut. Berlatih setiap hari dengan masing-masing lengan seratus hingga dua ratus kali. 
  • Ketika berlatih Tang Te pastikan punggungmu tegap, bahu lebih rendah, tempatkan kekuatan di kaki, berdirilah dengan yakin dan posisikan tenaga dibawah perut.
  • Latihlah masing-masing teknik tode berulang kali, berikut aplikasinya seperti yang sudah dijelaskan jauh sebelumnya. Pelajari penjelasannya dengan baik, dan putuskan kapan dan dalam kondisi apa menggunakannya saat diperlukan. Menyerang, bertahan dan melepas adalah teknik dalam torite.
  • Kau harus memilih apakah tode demi kesehatanmu ataukah demi membantu tugasmu.
  • Saat kau berlatih kerjakan seolah ditengah medan perang. Matamu harus terbuka lebar, rendahkan bahu dan keraskan tubuh. Kau harus berlatih dengan semangat dan terus-menerus. Dengan cara ini kau akan senantiasa siap.  
  • Jangan berlatih berlebihan. Ini akan membuat kau kehilangan tenaga di bawah perut dan akan membahayakan tubuhmu. Wajah dan matamu akan memerah. Berlatihlah dengan bijak.
  • Di masa lalu para ahli tode berumur panjang. Tode membantu mengembangkan tulang dan otot. Tode membantu sirkulasi dan pencernaan. Jika tode diperkenalkan sejak awal ke sekolah dasar, maka kita bisa menghasilkan orang yang masing-masing dari mereka sanggup mengalahkan sepuluh penyerang. Lebih jauh aku percaya ini bisa dilakukan dengan mewajibkan semua murid di Sekolah Keguruan Okinawa berlatih tode. Dengan cara ini setelah lulus mereka bisa mengajar di sekolah dasar apa yang telah mereka pelajari. Aku yakin ini akan menjadi keuntungan besar untuk militer dan negara kita. Adalah harapanku jika Anda akan benar-benar mempertimbangkan saranku.

Surat Itosu membawa pengaruh yang besar dalam dunia karate. Sejak itu beberapa utusan pejabat dan angkatan perang Jepang datang ke Okinawa. Sebagian besar dari mereka adalah perwira yang ingin menyaksikan tode dari dekat. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang menetap untuk sementara untuk berlatih tode.

Tanggal 26 Januari 1915 menjadi hari yang menyedihkan bagi dunia karate Okinawa. Yasutsune Itosu yang legendaris meninggal dalam usia 85 tahun. Itosu meninggalkan banyak murid yang juga menjadi tokoh penting dalam dunia karate (terutama Shorin-ryu). Adalah Gichin Funakoshi, salah satu murid terbaiknya yang meneruskan mimpi Itosu membawa karate ke Jepang untuk pertama kalinya di tahun 1917. Funakoshi diundang dalam festival bela diri di Kyoto, sebuah acara yang menjadi awal perjuangannya di Jepang. (Tamat – Indoshotokan)

SANG GURU: KISAH ANKOH ITOSU (5)

Sementara itu seorang sejarawan dan instruktur karate senior bernama Hiroshi Kinjo menjelaskan hal yang berbeda. Dalam artikelnya di majalah Gekkan Karate-do yang muncul tahun 1950-an Kinjo menulis jika Pinan aslinya bernama Channan, namun dengan sedikit perbedaan teknik. Diluar banyaknya teori yang berkembang, Kata Channan diyakini berhubungan dengan Pinan. Sayangnya Channan sudah sangat langka dan kemungkinan besar tidak ada lagi yang mengetahui bentuk aslinya.

Bagi masyarakat Okinawa selama ini tode terkenal sebagai teknik untuk membunuh orang saja. Jiwa pembaharu Itosu ingin menghapus pandangan buruk ini. Itosu juga ingin menunjukkan manfaat membangun kepribadian dan karakter didalamnya. Namun ini bukan perkara mudah karena pola pikir masyarakat sudah tertanam kuat dan terlanjur menganggapnya demikian.

Kesempatan bagi Itosu baru datang tahun 1892 saat pejabat pendidikan Jepang bernama Shintaro Ogawa datang ke Okinawa. Ogawa saat itu tengah hadir dalam pertemuan para kepala sekolah di Okinawa. Nama Itosu disebut dalam acara itu dan membuat Ogawa ingin melihat kebolehannya. Undanganpun dikirimkan, dan oleh Itosu ditanggapi dengan membawa beberapa murid terbaiknya untuk membawakan acara demonstrasi. Eksibisi itu berjalan singkat tapi sukses.

Itosu berhasil meyakinkan para pejabat akan manfaat lain dari tode. Sekembalinya ke Jepang Ogawa melaporkan hasil pertemuannya kepada Menteri Pendidikan Jepang. Ogawa juga mengajukan permohonan agar tode dimasukkan sebagai materi pelajaran bagi seluruh murid di sekolah Okinawa. Menteri Pendidikan menerima usulan itu dan sejak itulah tode menjadi bagian dari pelajaran pendidikan jasmani.

Tahun 1901 Itosu dipilih sebagai instruktur tode di sekolah umum di Shuri. Saat itu yang diperkenalkan adalah kelima Kata Pinnan. Bergantung dari sekolahnya materi tingkat lanjut beragam pilihannya, tapi biasanya setelah menyelesaikan kelima kata dasar itu para murid akan belajar Passai atau Wanshu. Tahun 1905 Itosu diberi kepercayaan sebagai instruktur Sekolah Menengah Dai Ichi. Kali ini dia tidak sendiri karena dibantu beberapa murid terbaiknya.


TANGGUH DI MASA TUA

Walaupun usianya sudah lebih dari 70 tahun, Itosu masih menjabat sebagai Kepala Instruktur Tode di Okinawa. Pernah suatu ketika ada seorang kepala polisi dari Kagoshima ingin menggantikan posisinya. Pria yang sayangnya tidak diketahui namanya itu sangat percaya diri dengan kemampuan judonya. Konon dalam deretan murid Jigoro Kano (Bapak Judo Jepang) dia termasuk yang terbaik. Melihat tode diajarkan di Okinawa, pria ini terlihat tidak menyukainya. Dia mengusulkan agar judo menggantikan tode sebagai pelajaran wajib.  

Protespun bermunculan dari beberapa kalangan. Tapi pria ini sepertinya tidak begitu ambil pusing. Bahkan dia mengirimkan surat tantangan berduel pada Itosu. Masyarakat jelas menentang rencana itu karena umur Itosu sudah 75 tahun. Jelas sebuah pertarungan yang tidak seimbang. Bukannya membatalkan, dengan sombongnya pria itu justru membolehkan siapapun yang dianggap tangguh untuk menggantikan Itosu.

Makam Yasutsune Itosu di Shuri Okinawa

Itosu tua tidak berniat orang lain untuk menggantikannya. Dia lalu menemui dewan sekolah dan mengatakan akan menghadapi sendiri pria Jepang itu. Itosu kemudian mengirimkan surat pada seluruh ahli tode di Okinawa untuk menyaksikan pertarungannya. Dalam suratnya Itosu meminta mereka menonton dari dekat karena pertarungan akan berlangsung cepat.

Hari pertarungan akhirnya tiba. Semua orang sudah berkumpul di lapangan sekolah, begitu pula pria Jepang itu. Berpakaian judo lengkap, gambaran kemenangan terlihat jelas di wajahnya. Tidak berapa lama kemudian Itosu berjalan ke tengah lapangan dengan tenang dan tanpa rasa takut. Pria Jepang itu sepertinya yakin akan bisa membanting lawannya dengan mudah. Sebaliknya, Itosu sebenarnya khawatir akan membuat lawannya luka parah.

Tidak menunggu lama, pertarungan segera dimulai. Pria Jepang itu segera mencengkeram lengan Itosu. Tampaknya dia ingin segera menyudahi pertarungan dengan sebuah bantingan. Tanpa disadari, tiba-tiba saja sebuah pukulan Itosu mendarat keras di perut lawan. Hasilnya sungguh mengejutkan. Lawannya langsung tersungkur seketika. Wasit mengira Itosu menyembunyikan senjata dibalik bajunya. Tapi saat diperiksa ternyata tidak ditemukan apapun. Itosu berkata pada khalayak ramai jika dia baru saja melepaskan sebuah pukulan dengan ki (energi yang yang didapat dari mengolah nafas, tenaga dan pikiran dengan benar). Dengan tegas dia mengatakan agar praktisi tode tidak menggunakannya sembarangan.

Pria Jepang itu belum berhenti. Dia mencoba kembali membanting Itosu namun selalu gagal. Tubuh Itosu seakan menancap di tanah dan terlalu berat untuk digerakkan. Karena sudah tidak mampu lagi, si penantang akhirnya menyerah. Itosu dinyatakan sebagai pemenang diikuti dengan decak kagum dari penonton. (Bersambung – Indoshotokan)

SANG GURU: KISAH ANKOH ITOSU (4)

Sebaliknya, Tomoyose tampak semakin gusar karena tidak ada satupun serangannya yang berhasil. Tiba-tiba setelah sebuah pukulan Tomoyose yang meleset, Itosu segera meraih lengan lawan yang sudah kosong tenaganya. Dalam gerakan yang sangat cepat Itosu mematahkan kedua lengan Tomoyose. Tidak ayal lagi, Tomoyose ambruk dan berteriak kesakitan. Penonton yang tadinya ribut memasang taruhan mendadak terdiam. Mereka seakan tidak percaya melihat jagoan mereka dikalahkan orang Shuri yang bertubuh lebih kecil.  

Berhasil mengalahkan Tomoyose menjadikan Itosu sebagai salah satu pendekar terbaik di Okinawa. Tapi yang lebih penting adalah Itosu berhasil memulihkan nama baik Shuri-te. Sejak kemenangannya itu Itosu banyak ditantang oleh orang-orang yang ingin mencoba kebolehannya. Meski selalu meraih kemenangan dia tetap bersahaja dan tidak sombong. Berdua dengan sahabatnya Azato, Itosu disebut sebagai pasangan emas dalam sejarah karate Okinawa. Tidak hanya beraksi sendiri, karena keduanya juga pernah terlibat pertarungan melawan banyak orang sekaligus.  

Gichin Funakoshi juga pernah menceritakan aksi hebat kedua gurunya itu saat menghadapi perusuh di sebuah desa. Begitu mencekamnya suasana saat itu hingga mereka harus mengungsikan semua penduduk ke tempat yang aman. Para pembuat onar itu berjumlah sekitar 30 orang, merampas dan merusak apapun yang dilihatnya. Karena jumlah tidak seimbang, Azato dan Itosu berpencar dan masuk ke salah satu rumah. Itosu memancing lawan dari sisi sebaliknya. Saat perhatian lawan terpecah, Azato tiba-tiba melompat keluar dari jendela dan menghajar mereka.

Semua lawan akhirnya berhasil dikalahkan. Uniknya, Azato menggunakan satu teknik saja untuk satu lawan tapi meninggalkan banyak korban cedera. Sebaliknya, walau Itosu juga banyak merobohkan lawan, tidak satupun dari mereka yang cedera. Ini menunjukkan sebuah kombinasi teknik yang sangat baik dari dua gaya bela diri yang berbeda.   


JIWA SANG PEMBAHARU

Itosu adalah orang yang inovatif. Wajar jika dirinya dijuluki sebagai Bapak Karate Okinawa. Jika Azato banyak berperan mengatasi gejolak sosial akibat Restorasi Meiji, maka Itosu berperan dalam pembaharuan tode. Dulu orang yang menguasai empat atau lima gerakan kata saja sudah dianggap hebat. Tapi Itosu telah menguasai begitu banyak kata dan ini menjadi sebuah kelebihan. Dari sana Itosu memberikan modifikasi dan inovasi yang baru. 

Contoh kata yang dimodifikasi Itosu adalah versi asli dari Kushanku yang menghasilkan dua versi baru yaitu Shiho Kushanku dan Kuniyoshi Kushanku. Itosu merasa ada yang kurang dari kata Passai (Shotokan: Bassai), karena itulah dia membuat dua versi lagi yaitu Passai Dai dan Passai Sho. Ada juga dua variasi baru kata Rohai yang diperkenalkannya. Di kemudian hari seluruh kompilasi kata Rohai milik Itosu disatukan dalam Shotokan menjadi kata Meikyo.

Yasutsune Itosu (lingkaran) bersama murid-muridnya setelah sebuah acara demonstrasi.

Dari semua inovasi kata Itosu, barangkali yang terbaik adalah Kata Pinan. Penyederhanaan dari kata Kushanku ini ditujukan untuk para pemula dan berjumlah lima seri. Kata Pinan tekniknya lebih sederhana dan tingkat kesulitannya akan meningkat secara bertahap. Funakoshi sebagai murid Itosu telah mengganti nama Pinan menjadi Heian dengan sedikit perubahan gerakan. Penyesuaian itu dimaksudkan agar karate lebih mudah diterima orang Jepang yang saat itu sedang tinggi rasa nasionaslimenya. Saat ini untuk melihat bentuk asli kata Pinan dari Itosu bisa dilihat dalam Shorin-ryu atau Shito-ryu. 

Satu legenda yang masih misterius adalah Itosu menguasai sebuah kata bernama Channan. Ada sumber menyebutkan Channan berasal dari lafal penduduk Okinawa pada seorang ahli bela diri Tiongkok bernama Chiang Nan. Ada juga yang menyebut Kata Channan diperoleh Itosu dari Sokon Matsumura. Berdasarkan sebuah jurnal yang ditulis Nakasone Genwa berjudul “Karate no Kenkyu”, Choki Motobu pernah mendengar Itosu meminta muridnya menampilkan sebuah gerakan kata. Mulanya Motobu mengira itu adalah Channan, tapi karena berbeda gerakannya dia bertanya pada Itosu. Menurut Itosu kata yang baru diperagakan adalah hasil modifikasinya dan bernama Pinan. (Bersambung – Indoshotokan)

SANG GURU: KISAH ANKOH ITOSU (3)

DUEL MELAWAN TOMOYOSE
 

Keberhasilan Itosu mengalahkan banteng liar menjadi pembicaraan hangat di seantero negeri. Itosu yang sebelumnya tidak terkenal kini dibandingkan dengan jawara wilayah lain. Sejak berakhirnya penjajahan samurai Satsuma persaingan tode antara tiga wilayah besar di Okinawa kian mengemuka. Ini karena penduduk tidak menemukan musuh bersama lagi. Sehingga rumor adanya jagoan yang kuat biasanya akan cepat tersebar. Saat itu duel antar pendekar hanya untuk membuktikan siapa yang terkuat sudah menjadi hal yang lazim.

Dibanding dua wilayah lainnya, nama jagoan dari Naha lebih berkibar karena sering menjadi pemenang. Akibatnya orang-orang memandang miring pada jagoan Shuri dan Tomari. Dari sekian banyak juara dari Naha, nama Tomoyose sering diunggulkan. Kabarnya Tomoyose tidak hanya piawai bela diri tapi juga berbadan besar dan bertenaga kuat. Tapi tabiatnya yang buruk akibat mabuk kemenangan membuatnya menjadi sombong.

Nama besar Tomoyose akhirnya sampai juga ke telinga Itosu. Bukan kemampuannya yang menarik perhatian Itosu karena Itosu sendiri sebetulnya tidak suka mencari keributan. Mendengar Shuri-te sering diremehkan dan hanya dianggap tarian membuat Itosu tidak begitu senang. Mengetahui Tomoyose sebagai yang terbaik, Itosu lalu mengajukan sebuah tantangan resmi. Konon sebelum melayangkan surat tantangan Itosu sempat meminta ijin pada Matsumura. Sang guru menyetujui dengan alasan duel itu semata-mata hanya untuk menguji kemampuan dan tidak lebih. Kelanjutannya bisa ditebak, Tomoyose setuju dan menerima tantangan Itosu.

Di hari pertarungan yang sudah disepakati para penonton terlihat sangat ramai memadati pinggir panggung. Mereka sangat antusias melihat idola mereka akan merobohkan jagoan Shuri sekali lagi. Sebagai penantang, Itosu datang lebih awal ke arena duel. Karena sang jawara belum datang, ada tiga orang yang penasaran ingin mencoba kebolehan Itosu. Mereka tampaknya bisa bela diri tapi tidak tahu siapa yang ditantangnya itu.

Itosu tampaknya tidak keberatan dengan tantangan mereka dan mempersilakan ketiganya maju sekaligus. Hanya dalam beberapa jurus saja Itosu sudah membuat ketiga lawannya tersungkur. Penonton sepertinya tidak begitu antusias dengan duel pemanasan itu. Mereka hanya menganggap kemenangan Itosu sebagai kebetulan saja. Mengetahui hal itu Itosu kemudian berteriak pada penonton, “Apa-apan ini! Kukira di Naha ada petarung yang terbaik? Ternyata tak ada seorangpun disini yang layak!”  

“Kau bahkan belum bertarung melawanku!” Tiba-tiba sebuah suara keras bergema dari salah satu sudut arena. Ternyata dia adalah Tomoyose, sang jawara yang sedari tadi memperhatikan pertarungan Itosu. Melihat bintang idola mereka sudah muncul, para penonton bersorak lebih meriah. Mereka segera sibuk memasang taruhan untuk kemenangan Tomoyose dan kekalahan Itosu. Melihat orang-orang tidak mendukungnya tidak membuat nyali Itosu menjadi ciut. Dia lebih berkonsentrasi melihat lawan yang baru dilihatnya pertama kali itu. 

Apa yang menjadi buah bibir masyarakat Okinawa selama ini ternyata bukan isapan jempol. Postur Tomoyose memang tinggi besar dan sepertinya begitu pula tenaganya. Karena fisik lawan lebih unggul, Itosu sadar ini akan menjadi pertarungan yang sangat berbahaya. Itosu berpikir keras mencari cara untuk menyelesaikan pertarungan secepatnya. Dia tidak boleh kalah karena nama baik daerahnya juga ikut dipertaruhkan. Sebaliknya, Tomoyose tampaknya kian percaya diri melihat lawan lebih kecil darinya. Dengan dukungan penuh dari penonton, Tomoyose yakin akan meremukkan Itosu dalam beberapa gerakan saja.   

Begitu kedua petarung memasuki panggung, tidak berapa lama duelpun segera dimulai. Sebuah pukulan keras tiba-tiba mengarah deras ke tubuh Itosu. Sepertinya Tomoyose tidak ingin berbasa-basi untuk menghabisi penantangnya. Beruntung Itosu lebih sigap dan bisa menghindarinya. Orang biasa mungkin sudah cedera parah jika terkena langsung. Mengetahui kekuatan lawan yang hebat, Itosu berpikir tidak ada gunanya mengadu tenaga. Dengan sabar Itosu mengelak kesana kemari sambil sesekali menangkis. Dia berusaha mencari titik lemah lawannya dan menunggu kesempatan untuk menyerang balik. (Bersambung – Indoshotokan).

SANG GURU: KISAH ANKOH ITOSU (2)

DUEL YANG PERTAMA
 

Itosu mungkin bukan murid Matsumura yang terbaik, tapi dia sudah mendapatkan banyak pelajaran dari gurunya itu. Latihan yang berat telah membuat tubuhnya terlihat tegap dan kuat. Di masa mudanya Itosu terkenal berkat aksi-aksi heroiknya. Namanya dikenal banyak orang karena sering terlibat dalam pertarungan yang berbahaya. Pertarungan pertamanya terjadi saat Itosu dalam perjalanan menuju ke Naha. Tidak sengaja dia melihat orang-orang berlari ketakutan kesana-kemari. Karena penasaran, Itosu mencoba mendekat demi mencari tahu apa yang terjadi.

Rupanya seekor banteng liar yang sedianya disiapkan untuk acara duel sedang mengamuk. Banteng itu seolah tahu bahwa dia akan menghadapi kematian. Menolak untuk dibawa paksa oleh orang-orang, binatang itu berontak untuk meloloskan diri. Amukannya sungguh dahsyat karena sudah membuat beberapa orang terluka parah. Arena pertunjukan berupa pagar kayu seharusnya sudah cukup kokoh untuk menahannya. Tapi serudukan hebat binatang liar itu membuat pagar seolah tidak berarti apa-apa.

Saat panitia sudah tidak mampu lagi mengatasi tandukan liarnya, mata banteng itu tertuju pada Itosu yang berdiri di kejauhan. Melihat Itosu sebagai lawan terakhirnya, banteng marah itu mendengus keras disertai dengan ancang-ancang kearah calon korbannya. Orang-orangpun berteriak memperingatkan Itosu agar segera menyingkir. Itosu bisa saja menghindar, tapi dia berpikir jika banteng itu tidak segera dikalahkan akan semakin banyak korban berjatuhan. Dengan tenang Itosu melangkah maju sambil mempersiapkan diri menyambut tandukan lawannya.

Dengan gerakan mengelak kesamping, Itosu menghindari serudukan banteng liar itu. Tidak membuang waktu, Itosu segera meraih kedua tanduknya dan diikuti kuncian yang kuat di lehernya. Banteng itu semakin marah karena cekikan Itosu dan berusaha membebaskan diri dengan berlari tak tentu arah. Itosu memang sengaja mencekiknya agar binatang itu lemas kehabisan napas. Dan benar saja, setelah pergulatan yang menguras tenaga, akhirnya gerakan banteng itu mengendur karena kelelahan. Tidak berapa lama binatang liar itupun tersungkur ke tanah.

Agar tidak mengamuk lagi, Itosu menenangkan banteng itu dengan jalan menekan tubuhnya ke tanah. Beberapa orang kemudian segera membawa dan mengikatnya. Versi lain dari cerita ini adalah Itosu membunuh banteng itu dengan mematahkan tulang lehernya. Mana yang benar memang tidak bisa dipastikan. Yang jelas, setelah pertarungan itu Itosu melanjutkan perjalanannya ke Naha. Di kota pelabuhan itu dia bertemu dengan Nagahama Chikudon yang bersedia menerimanya sebagai murid.  

Siapa sebenarnya Nagahama Chikudon? Teknik apa yang dikuasainya? Sayangnya sangat sedikit catatan sejarah yang menceritakan sosoknya. Yang jelas, Nagahama juga diberikan gelar “Peichin” oleh masyarakat Okinawa. Sebuah gelar yang juga diberikan pada Sakugawa dan Takahara, dua legenda klasik karate Okinawa. “Peichin” adalah gelar bagi tokoh yang sudah tidak diragukan lagi kepandaian dan ketangguhannya.

Itosu sebenarnya sangat menikmati latihan bersama Nagahama, tapi tidak banyak hal baru yang diperolehnya. Nagahama ternyata hanya memfokuskan pada latihan fisik dan bukan bela diri. Sehingga walau tubuh Itosu menjadi semakin kuat, tetap saja teknik bela dirinya tidak ada kemajuan. Nagahama rupanya menyadari hal itu dan berkata pada Itosu jika saat ini teknik bela diri lebih penting. Sebelum kematiannya dia menasihati Itosu agar mencari guru lain yang lebih pantas.

Kematian gurunya menjadi pukulan berat bagi Itosu. Hatinya dipenuhi kebimbangan, menyesal dan putus asa. Dia tidak tahu harus kemana lagi. Itosu sempat berpikir untuk kembali pada Matsumura, tapi dia sudah terlanjur meninggalkannya. Mencari guru yang tepat bukanlah perkara yang mudah. Itosu lalu memutuskan untuk mencoba ujian bekerja sebagai pegawai pemerintah. Berkat bantuan dari sahabatnya yaitu Azato, dia berhasil lulus dalam ujian itu. (Bersambung – Indoshotokan)

SANG GURU: KISAH ANKOH ITOSU (1)


Dalam dunia karate, nama Yasutsune Itosu menjadi tokoh penting setelah era Sokon Matsumura berakhir. Yasutsune Itosu atau Ankoh Itosu melakukan banyak perubahan dalam dunia karate pada abad ke-19, hingga membuatnya dijuluki sebagai Bapak Karate Okinawa. Begitu besar jasanya hingga tidak ada anak-anak Okinawa yang tidak kenal siapa Itosu. Hampir semua aliran karate jika dilacak sejarah dan tekniknya masih berhubungan dengan Itosu.

Itosu mempunyai banyak murid dan kebanyakan dari mereka juga menjadi orang penting dalam karate di kemudian hari. Ada yang masih mempertahankan gaya Itosu seperti Shorin-ryu, tapi ada juga yang memodifikasinya seperti Gichin Funakoshi. Tulisan dan sumber yang menceritakan sosok Itosu sangat sedikit. Karena itulah sebagian kisahnya diperoleh dari mereka yang pernah berguru padanya.

Tempat kelahiran Itosu hingga kini tidak begitu pasti. Ada yang menyebutkan Itosu lahir di Yamakawa, salah satu bagian wilayah Shuri. Sementara itu sumber lain menyebut tempat kelahirannya di Gibo, salah satu desa di Shuri, dan kemudian Itosu pindah ke Yamakawa. Lahir tahun 1830 dalam lingkungan keluarga bangsawan yang terpelajar, Itosu mendapatkan pendidikan yang cukup dari orang tuanya. Banyak buku-buku pengetahuan dari Tiongkok yang diperolehnya. Tentu saja sebuah keberuntungan karena kesempatan itu terbilang langka bagi penduduk Okinawa saat itu.

Walau kelak menjadi tokoh hebat dalam karate, Itosu muda ternyata tidak begitu tertarik dengan bela diri. Sebaliknya, ayah Itosu ingin agar anaknya tidak hanya pandai pelajaran sekolah tapi juga tumbuh sebagai laki-laki yang tangguh. Untuk itulah ayah Itosu memberinya latihan fisik setiap hari. Dengan mengikat tubuh Itosu di sebuah pohon besar, sang ayah bertubi-tubi memukul tubuh anaknya dengan batang kayu. Walau Itosu menangis, ayahnya tidak berhenti. Baru ketika Itosu terlihat marah dan ingin berontak, ayahnya akan menghentikan latihan yang “kejam” itu.


MENGIKUTI SOKON MATSUMURA
 

Perkenalan pertama Itosu dengan bela diri terjadi setelah sang ayah memperkenalkannya pada Sokon Matsumura. Kesempatan itu datang saat Matsumura hadir dalam pertemuan ahli bela diri Okinawa. Ayah Itosu sebelumnya sudah mengenal Matsumura dan memohon agar sang legenda itu bersedia mengajari anaknya. Matsumura tidak banyak bicara. Dengan seksama dia hanya mengamati Itosu yang saat itu berusia 16 tahun. Melihat sikap Matsumura, ayah Itosu cemas jika anaknya gagal menjadi murid Matsumura. Saat melihat sorot mata Itosu yang memancarkan kesungguhan, Matsumura bersedia menerima Itosu.

Kekhawatiran ayah Itosu sebenarnya cukup beralasan. Saat itu seorang ahli bela diri sangat berhati-hati menerima murid. Mereka juga belum tentu mewariskan ilmu pada keturunan atau keluarganya sendiri. Fisik yang kuat saja tidak akan cukup karena sang guru akan mempertimbangkan hal lain. Calon muridnya harus mempunyai karakter yang baik agar kelak tidak membuat malu nama gurunya. Di luar itu semua, ahli bela diri Okinawa percaya jika pertemuan dengan muridnya terjadi karena kehendak langit atau takdir Tuhan. 

Sejak itu Itosu memulai latihannya dengan Matsumura. Dia juga berjumpa dengan Azato yang kelak menjadi sahabat terbaiknya. Dan seperti yang sudah diduga, latihan dibawah Matsumura benar-benar melelahkan dan tidak mudah. Bahkan tidak jarang latihan harus dijalani sehari penuh. Bukan Cuma bela diri, Matsumura juga menyuruh hal lain seperti mencuci baju, membersihkan rumah dan memasak. Saat malam tiba, Itosu yang lelah tidak bisa tidur nyenyak. Ini karena Matsumura bisa saja tiba-tiba menyerangnya dengan tongkat.

Ada pesan moral yang ingin disampaikan Matsumura. Dia ingin agar muridnya menjadi pribadi yang keras dan disiplin pada diri sendiri, pantang menyerah, mempunyai jiwa pejuang dan loyalitas. Mengapa Matsumura menyerangnya di malam hari? Ini agar Itosu mempunyai naluri yang kuat dan siap menerima serangan dari arah yang tidak terlihat. Bagi Matsumura seseorang tidak akan bisa lebih kuat jika hidupnya hanya dipenuhi kesenangan. Dan inilah mental seorang satria yang ingin ditanamkan Matsumura.

Walau demikian, Itosu sepertinya tidak cocok dengan Matsumura. Beberapa tahun setelah berlatih dengan Matsumura, gerakan dan kecepatan Itosu menurun. Hal ini membuat Matsumura kurang menyukainya. Merasa tidak nyaman lagi dan tidak ada kemajuan, Itosu kemudian memilih meninggalkan gurunya itu. Itosu kemudian menuju ke Naha berharap bisa menemukan guru yang lain. (Bersambung – Indoshotokan)

KARATE: ANTARA MITOS DAN LEGENDA (5 - FINAL)

Baru di tahun 1933 Dai Nippon Butokukai akhirnya resmi menerima karate sebagai anggota yang baru dan sejajar dengan bela diri tradisional Jepang lainnya. Hal ini tidak lepas dari kesepakatan para tokoh karate Okinawa untuk tidak lagi menggunakan ideogram karate yang lebih bermakna Cina. Tiga materi wajib ditentukan yaitu kihon, kumite dan kata. Baju seragam dan sistem peringkat juga telah diperbaharui dengan mengadopsi dari Judo.

Morihei Ueshiba selaku pendiri aikido mengusulkan agar masing-masing instruktur karate memberikan nama pada aliran mereka. Hal ini supaya tiap perguruan karate di Jepang mempunyai identitas yang jelas. Koyu Konishi mengajukan nama Shindo Jinen-ryu Karate Jitsu, Ueshima mengajukan nama Kushin-ryu, Chojun Miyagi dengan Goju-ryu, Ohtsuka Hironori dengan Wado-ryu. Funakoshi dengan didukung murid-muridnya mengajukan nama Shotokan.


KARATE OKINAWA SAAT INI
 

Tidak hanya di Jepang saja, Dai Nippon Butokukai menyarankan agar tokoh karate Okinawa membentuk satu badan resmi yang membawahi semua aliran di wilayah itu. Usulan itu diterima dan pada bulan Mei 1957 dibentuklah Zen Okinawa Karate-do Renmei. Sekarang organisasi ini membawahi tiga aliran karate terbesar Okinawa, yaitu Shorin-ryu, Uechi-ryu dan Goju-ryu.
        
Shorin-ryu adalah perkembangan selanjutnya dari Shuri-te dan Tomari-te. Nama Shorin berasal dari dialek masyarakat Okinawa untuk Shaolin. Shorin-ryu mempunyai cabang yang sangat banyak dan tidak diketahui berapa jumlah pastinya. Nama cabang ini seringkali membingungkan karena sang pendiri menambahkan “Shorin-ryu” di belakang nama perguruannya. Misalnya Kobayashi-ryu kadang-kadang disebut Kobayashi Shorin-ryu. Walau banyak modifikasi disana-sini, seluruh cabang Shorin-ryu jika ditelusuri akan kembali pada Sokon Matsumura, sang pionir karate Okinawa.
 
Shoshin Nagamine, pendiri Matsubayashi-ryu memperagakan kata Kusanku. Sumber

Uechi-ryu adalah karate yang dipengaruhi Pangai-noon (setengah keras, setengah lembut) yang didirikan oleh Uechi Kanbun. Nama Uechi-ryu baru muncul tahun 1940-an (sebelumnya Pangai-noon-ryu Tode Jutsu) setelah pengikut Uechi Kanbun memberi usulan untuk nama dojo baru. Uechi Ryu adalah karate Okinawa yang masih mempertahankan elemen Cina. Elemen yang dimaksud adalah teknik menyerang dan bertahan yang diwakili tiga binatang yaitu naga, harimau dan bangau.

Goju-ryu adalah karate Okinawa (yang juga populer di Jepang) yang merupakan perkembangan dari Naha-te. Sejarah Goju-ryu berhubungan dengan Kanryo Higashionna yang sebelumnya lama berada di Cina. Sesuai namanya, teknik dalam Goju-ryu adalah kombinasi keras dan lembut, disertai dengan pernapasan. Selain banyak gerakan melingkar, poin utama Goju-ryu terletak pada kata Sanchin sebagai dasarnya. Diantara karate Jepang moderen lainnya, Goju-ryu masih menunjukkan pengaruh Cina yang kuat
.
Selain tiga besar karate diatas, di Okinawa masih ada pula aliran yang lain. Diantaranya adalah Isshin-ryu yang didirikan Tatsuo Shimabuku. Aliran ini dipengaruhi Shorin-ryu, Goju-ryu dan Kobudo. Uniknya, aliran ini tidak begitu populer di Okinawa namun banyak pengikutnya di Amerika dan Eropa. Ada pula Ryu-te yang didirikan Taika Oyata. Walau latihan kobudo dan kata disertakan, Ryu-te lebih fokus pada bela diri praktis.

 
KARATE JEPANG SAAT INI
 

Tahun 1965 Federation of All Japan Karate-do Organization dibentuk. Misinya adalah menyatukan seluruh aliran karate di Jepang. Ada 4 besar karate Jepang saat ini, yaitu Shotokan, Goju-ryu, Shito-ryu dan Wado-ryu.

Shotokan adalah karate yang didirikan oleh Bapak Karate Jepang Gichin Funakoshi. Shotokan dibangun diatas Shorin-ryu sebagai basisnya dan dipengaruhi Shorei-ryu. Di jaman moderen ini banyak perubahan yang terjadi pada Shotokan. Misalnya kuda-kuda cenderung lebih lebar dibanding tahun 1930-an. Walau ada teknik lembut, tapi teknik keras lebih mendominasi. Terkenal dengan gaya menyerangnya yang frontal. Saat ini Shotokan sudah menjadi salah satu aliran karate terbesar di dunia. Hal ini dipengaruhi banyaknya organisasi pecahan yang tersebar di banyak negara.

Shito-ryu adalah karate yang didirikan oleh Kenwa Mabuni, generasi ke-17 keluarga samurai ternama Onigusuki. Mabuni pernah belajar pada banyak guru, namun yang memberi kesan mendalam di hatinya adalah Yasutsune Itosu dan Kanryo Higashionna. Yang paling mengagumkan dari Shito-ryu adalah mempunyai lebih dari 50 kata. Jumlah ini tidak termasuk kata kobudo yang juga banyak dan ditambah teknik orisinil dari Mabuni sendiri.

Kenwa Mabuni (kanan) pendiri Shito-ryu sedang memperagakan henshu tsuki (pukulan ke dalam). Sumber

Wado-ryu, yang berarti “Jalan yang Damai” adalah karate yand didirikan oleh Ohtsuka Hironori. Sesuai latar belakang Ohtsuka yang pernah belajar jujitsu, Wado-ryu banyak menggunakan teknik lembut dengan tenaga minimal untuk menghadapi serangan yang kuat. Karena pernah belajar pada Gichin Funakoshi, beberapa kata dalam Wado-ryu mirip dengan Shotokan namun masih mempertahankan nama aslinya dan ada sedikit variasi gerakan.

Selain 4 besar aliran diatas, di Jepang masih ada pula aliran karate lain yang populer seperti Kyokushinkai yang dibentuk oleh Masutatsu Oyama, Chito-ryu yang didirikan dokter Chitose Tsuyoshi, Shudokan yang diperkenalkan oleh Kanken Toyama dan terakhir adalah Shotokai yang masih menjaga ajaran orisinil dari Gichin Funakoshi. Ada berapa aliran karate di dunia saat ini? Banyak sekali. Yang jelas ulasan lebih detil tentang aliran-aliran karate akan dibahas pada artikel-artikel berikutnya. Stay tuned. (Indoshotokan)

KARATE: ANTARA MITOS DAN LEGENDA (4)

Antara pertengahan tahun 1800 sampai awal 1900-an kembali terjadi perubahan dalam dunia bela diri di Ryukyu. Sebelumnya sesama ahli bela diri nyaris tidak bertukar pikiran, dan teknik hanya terbatas dikerjakan oleh satu keluarga atau wilayah saja. Di periode ini suasana lebih terbuka dan hasilnya suatu kata tidak lagi eksklusif milik segolongan orang. Sebagian dari mereka kemudian memodifikasi gerakan kata tadi agar sesuai dengan gaya alirannya. Contohnya adalah kata Kushanku dan Passai yang mempunyai banyak versi.









KARATE DI MASA RESTORASI MEIJI
 

Tahun 1853 seorang pelaut Amerika bernama Komodor Matthew Calbraith Perry datang ke Jepang. Sebelum merapat ke dermaga Jepang, Perry lebih dulu singgah di Ryukyu sebagai antisipasi jika Jepang enggan membuka dermaganya. Sayangnya kedatangan awal Perry ini tidak membawa kesan yang baik. Baru saja kapalnya berlabuh, awak kapal Perry menerobos rumah penduduk setempat. Jika ditemukan wanita di dalamnya, mereka akan segera memperkosanya.

Saat penduduk mendengar jeritan wanita, mereka akan segera mengejar pelaku dan membunuhnya. Untuk meluapkan amarah karena perbuatan awak kapal Perry, penduduk membakar dan menenggelamkan perahu milik pelaut Amerika itu.

Kedatangan Perry ke Jepang adalah untuk memaksa negara itu membuka wilayahnya bagi negara barat. Lewat Perjanjian Kanagawa dan ancaman sebuah meriam yang siap ditembakkan ke Edo (sekarang Tokyo), Jepang terpaksa menyetujuinya. Selain perdagangan, misi utama Perry adalah agar Amerika bisa menempatkan armada perangnya di perairan Jepang.

Jepang yang telah mengisolasi diri selama ratusan tahun menganggap kedatangan Perry sebagai ancaman. Para samurai menganggap pemerintah Shogunate lemah karena tunduk pada negara barat. Perjanjian Kanagawa akhirnya memicu pemberontakan dalam Perang Boshin (1867-1868). Merasa malu, pemerintah Shogunate mengundurkan diri dan mengembalikan kekuasaan penuh pada kaisar. Inilah awal Jepang memasuki Restorasi Meiji.

Untuk menyamai kekuatan negara barat, Jepang melakukan modernisasi di segala bidang. Untuk mengantisipasi ancaman berikutnya, Ryukyu didesak berintegrasi dengan Jepang. Pertimbangan ini muncul karena letak Ryukyu yang strategis dan berbatasan dengan Cina. Dan karena itulah mempertegas garis batas wilayah oleh Jepang mutlak diperlukan. Upaya itu berhasil dan sejak tahun 1879 Ryukyu resmi menjadi bagian dari Jepang dan berganti nama menjadi Okinawa.

Para gadis Okinawa sedang berdansa di halaman istana Shuri dengan pakaian dan model rambut ala barat. Foto ini diambil tahun 1907.

Kampanye modernisasi yang disuarakan Pemerintah Meiji juga terasa di Okinawa. Pemerintah berusaha menghapus budaya apapun yang dianggap kolot. Selain itu raja Okinawa tidak lagi memegang kekuasaan karena seluruhnya dikembalikan pada Kaisar Meiji. Status bangsawan juga tidak ada lagi di Okinawa, sehingga semuanya dianggap sama sebagai rakyat biasa. Akibatnya munculah gelombang protes dari masyarakat. Sebagian mendukung perubahan, sementara yang lain ingin bertahan dalam tradisi leluhur.

Dalam hal karate Restorasi Meiji juga membawa efek yang positif. Karate mulai dimunculkan ke hadapan publik setelah Shintaro Ogawa, seorang pejabat bidang pendidikan mengundang ahli bela diri terbaik Okinawa. Ketika para tokoh pendidikan Jepang berkunjung ke Okinawa, Ogawa meminta sebuah acara demonstrasi. Yasutsune Itosu dengan dibantu beberapa murid terbaiknya terpilih mengisi acara itu.

Demonstrasi yang dilakukan Itosu menuai banyak pujian dan Ogawa melaporkan hal itu pada Menteri Pendidikan Jepang. Karate kemudian dimasukkan sebagai pelajaran wajib dalam pendidikan jasmani. Itosu diberi kepercayaan untuk mengajar di beberapa sekolah lokal Okinawa. Meski mulai banyak didemonstrasikan di muka umum, budaya merahasiakan teknik bela diri ini (bahkan hingga sekarang) masih belum hilang sepenuhnya.

Okinawa memang sudah resmi menjadi bagian dari Jepang. Tapi tetap saja karate belum diterima secara resmi. Saat itu bela diri tangan kosong yang populer di Jepang adalah judo dan aikido. Tahun 1908 Itosu mengirim surat pada Menteri Pendidikan Jepang. Surat yang disebut Tode Jukun (Sepuluh Petunjuk Berlatih Tode) itu berisi nilai-nilai positif dalam karate. Itosu berharap upayanya itu dapat membawa karate pada audiens yang lebih banyak.


KARATE MEMASUKI JEPANG
 

Harapan Itosu membuahkan hasil. Tahun 1917 Okinawa diundang oleh Dai Nippon Butokukai untuk acara festival bela diri di Kyoto. Dai Nippon Butokukai adalah sebuah badan resmi yang dibentuk di Kyoto tahun 1895 atas rekomendasi Menteri Pendidikan dan diakui oleh Kaisar Meiji. Tujuan organisasi ini adalah melakukan standarisasi dan menyatukan seluruh bela diri Jepang.
 
Hironori Ohtsuka menerima peringkat Shodan dari Gichin Funakoshi.

Tahun 1922 menjadi tahun yang baik setelah Gichin Funakoshi melakukan demonstrasi karatenya atas undangan Menteri Pendidikan Jepang. Memang penontonnya tidak begitu banyak, tapi untungnya banyak surat kabar lokal yang menulisnya. Yang jelas, sejak itu Jepang sering dikunjungi ahli karate Okinawa. Beberapa dari mereka juga teman baik Funakoshi. Bahkan ada yang sebagian menetap dan membuka dojo sendiri.

Jalan bagi karate untuk diterima sebagai bagian resmi bela diri Jepang ternyata tidak semulus itu. Ini karena Dai Nippon Butokukai ingin karate mempunyai kurikulum yang jelas, struktur peringkat, materi yang diajarkan, aturan kompetisi dsb. Organisasi ini juga menghendaki seorang instruktur karate benar-benar paham apa yang mereka ajarkan. Sayangnya, diluar sana masih banyak persaingan antar ahli karate Okinawa. Belum lagi penggunaan ideogram karate yang kental bermakna Cina, sementara Jepang sendiri tengah menggelorakan nasionalisme. Penggunaan istilah asing jelas bukan hal yang bisa diterima. (Bersambung – Indoshotokan)

KARATE: ANTARA MITOS DAN LEGENDA (3)

Mengetahui wilayahnya dikuasai penjajah, penduduk Ryukyu tidak tinggal diam. Karena senjata apapun dilarang, mereka mengembangkan bela diri yang mengandalkan tangan kaki. Untuk menghindari intaian, latihan biasanya dilakukan malam hari dan di tempat tertentu. Tidak seperti sekarang dimana sebuah perguruan mempunyai dojo tetap, di masa itu tempatnya berpindah-pindah. Bahkan karena sangat dirahasiakan, sesama ahli bela diri saat itu tidak akan bercakap-cakap tentang ilmunya di muka umum.

Di masa itu pula tidak jarang sesama ahli bela diri terlibat dalam pertarungan dengan resiko hidup dan mati. Sebuah prinsip lama yang berkembang dalam dunia bela diri Ryukyu adalah “isshi-soden” yang artinya teknik bela diri hanya akan diterima oleh ahli warisnya. Yang dimaksud ahli waris disini belum tentu keturunan atau keluarga dari sang ahli bela diri. Orang luar yang tidak ada hubungan darahpun bisa menerima teknik rahasia jika si ahli merasa calon muridnya itu memang layak.


SHURI-TE, NAHA-TE DAN TOMARI-TE
 

Tahun 1729 peran samurai Satsuma di Ryukyu berakhir dan membawa perubahan besar dalam kehidupan sosial masyarakat. Sementara itu dalam dunia bela diri sejak tidak ada lagi musuh bersama, muncullah persaingan antar wilayah. Biasanya setiap wilayah mempunyai jagoan terkuat yang mewakili daerahnya melawan juara dari wilayah lain dalam sebuah pertandingan terbuka.  Ada tiga kelompok terkuat yaitu Shuri-te, Naha-te dan Tomari-te.

Shuri-te, teknik ini berkembang di wilayah Shuri yang menjadi ibu kota Ryukyu saat itu. Di sana pula para raja dan bangsawan tinggal. Shuri-te mengandalkan kombinasi kecepatan dan kelincahan. Ada teori menyatakan jika Shuri-te dipengaruhi teknik dari Tiongkok utara terutama Shaolin. Gerakan kaki condong membentuk garis lurus dan gaya Shuri-te cenderung lebih menyerang. Pernapasan dilakukan secara alamiah dan tanpa variasi khusus. Di kemudian hari Shuri-te akan berkembang menjadi Shorin-ryu.


Naha-te, teknik ini berkembang di Naha yang merupakan kota pelabuhan yang ramai. Tekniknya sarat dengan pernapasan karena dipengaruhi Taoisme. Kebalikan dari Shuri-te, Naha-te dipengaruhi oleh teknik Tiongkok selatan. Ada juga gaya lain yang mempengaruhinya seperti Hsing-I dan Pakua.  Gerakan Naha-te cenderung lebih bertahan namun tetap fleksibel. Di kemudian hari Shuri-te akan berkembang menjadi Shorei-ryu dan Goju-ryu.

Tomari-te, teknik ini berkembang di Tomari, sebuah kota pelabuhan kecil yang dekat dengan Shuri. Mirip dengan Shuri-te, teknik dalam Tomari-te juga menonjolkan kecepatan. Ada juga teori lain menyebutkan jika Tomari-te dipengaruhi oleh Naha-te. Dasarnya adalah salah satu versi kata Seishan yang sarat pernapasan. Banyak yang menyimpulkan Tomari-te di kemudian hari bergabung dengan Shuri-te menjadi Shorin-ryu.


PARA TOKOH PERINTIS
 

Saat itu tersebutlah nama Sakugawa Kanga (1733 – 1815) dari Akata yang menurut legenda menjadi tokoh awal perkembangan karate. Tidak banyak memang, yang bisa diceritakan dari Sakugawa. Mulanya Sakugawa tidak berniat belajar bela diri hingga ayahnya mati dibunuh sekelompok penjahat. Dia lalu belajar pada Takahara Peichin (1683 – 1760) selama enam tahun. Takahara adalah seorang biksu, ahli perbintangan dan kartografer (pembuat peta). Sedangkan Peichin adalah semacam gelar yang membuktikan kepiawaiannya. Sebelum mati Takahara memberi nasihat pada Sakugawa agar meningkatkan ilmunya dengan belajar pada Kusanku.

Konon Kusanku (atau Kwang Shang Fu; Kung Hsiang Chung) adalah ahli Chuan Fa yang tengah bertugas sebagai atase militer di Ryukyu. Saat masa tugasnya usai, Kusanku kembali ke Tiongkok dan Sakugawapun mengikutinya selama enam tahun. Demi mengingat gurunya, Sakugawa menciptakan kata Kushanku yang sekarang banyak versinya. Sekembalinya ke Ryukyu, Sakugawa sudah menjadi seorang yang ahli bela diri. Masyarakat lokal memberinya julukan “Tode.” Bahkan sang raja memberi gelar “Satonushi” atau “Satonuku” (semacam peringkat) dan mengangkatnya sebagai kepala pasukan di Shuri. Sakugawa adalah orang yang menetapkan etika dojo (Dojo Kun), atau sikap yang wajib dilakukan praktisi karate sebelum dan sesudah latihan di dojo.

Salah satu murid Sakugawa yang paling terkenal adalah Sokon Matsumura (1797 – 1889) yang dianggap sebagai Miyamoto Musashinya Ryukyu. Selama 20 tahun lamanya Matsumura juga belajar bela diri di Tiongkok. Ada kisah unik ketika Matsumura ingin menikahi seorang gadis bernama Yonamine Chiru. Ketika itu Matsumura baru berumur 18 tahun dan si gadis berasal dari keluarga yang hebat seni bela dirinya. Yonamine menolak dinikahi jika Matsumura tidak mampu mengalahkannya. Pertarungan itu sebenarnya tradisi yang lazim dalam budaya lama. Meskipun akhirnya menang, Matsumura sendiri baru menikahi Yonamine tiga tahun kemudian. (Bersambung - Indoshotokan)

KARATE: ANTARA MITOS DAN LEGENDA (2)

Sebagai kerajaan yang bebas merdeka, Ryukyu banyak melakukan perdagangan dengan negara lain. Ketika itu banyak masyarakat Ryukyu yang berdagang ke wilayah tetangga seperti Taiwan, Tiongkok, Korea dan beberapa negara Asia Tenggara. Sekembalinya ke Ryukyu mereka membawa budaya baru yang bercampur dengan budaya lokal. Bahkan ada juga orang asing yang memilih menetap di sana.

Dari sekian banyak raja yang pernah memimpin Ryukyu, adalah Raja Satto (1350 – 1405) yang paling terkenal karena membuka hubungan diplomatik dengan Tiongkok di tahun 1372. Sejak itu banyak orang Tiongkok dengan beragam profesi seperti pengrajin, sastrawan, dan biksu yang datang ke Ryukyu. Tahun 1393 Kaisar Hung Wu di Tiongkok memerintahkan seniman dan pengrajin datang ke Ryukyu untuk memperagakan kebolehan dalam politik dan teknik perkapalan. Dipercaya mereka juga memperkenalkan Kenpo Cina pada penduduk lokal.

Selanjutnya masyarakat Ryukyu mengembangkan teknik bela diri yang mereka sebut dengan istilah “te” yang secara harfiah berarti “tangan” atau “tote” (ada yang menyebutnya tode, toude, toudi) yang berarti “Teknik Cina”. Sebagai perwujudan dari Kenpo Cina, teknik dalam tote jelas kental dengan bela diri ala Tiongkok. Namun demikian para sejarawan meyakini bahwa tote menjadi pendahulu dari karate. 

Saat itu Ryukyu terbagi menjadi tiga kerajaan (sanzan) yang masing-masing berdiri sendiri yaitu; Chuzan di pusat, Nanzan di selatan dan Hokuzan di utara. Ketiganya saling bersaing dan ingin menunjukkan dominasinya. Hingga akhirnya Chuzan berhasil menang dari dua pesaingnya, seluruh wilayah Ryukyu kemudian diunifikasi/disatukan oleh Raja Shou Hashi (1406 – 1469) di tahun 1429.

Di masa pemerintahan Raja Shou Shin (1465 – 1526) diberlakukan kebijakan non militeristik. Tujuannya adalah menghindari persaingan antar kerajaan yang menjurus pada peperangan. Realisasinya adalah larangan bagi masyarakat untuk membawa atau menggunakan senjata. Untuk mempertegas larangan itu sang raja membuat semacam undang-undang. Hasilnya Ryukyu mengalami masa damai selama 200 tahun sejak larangan itu ditetapkan.


INVASI SAMURAI JEPANG
 

Tahun 1598 Tokugawa Ieyasu ingin memulihkan hubungan baik Jepang dengan Tiongkok. Ketegangan sempat terjadi antara dua wilayah itu setelah pasukan samurai Jepang di masa pemerintahan Toyotomi Hideyoshi memasuki semenanjung Korea. Hideyoshi memang gagal dan namanya menjadi tercemar dalam sejarah Jepang. Saat Ieyasu mengetahui hubungan baik antara Ryukyu dan Tiongkok, maka ia mengajukan permintaan pada Raja Ryukyu untuk bergabung menjadi bagian pemerintah Shogunate Jepang.

Demi memenuhi ambisinya, Ieyasu meminta bantuan samurai klan Satsuma dari Kyushu utara (sekarang Prefektur Kagoshima) sebagai wakil mediasinya. Karena dianggap menghina, proposal itu ditolak oleh Raja Ryukyu. Ketika sudah tidak mungkin lagi menundukkan Ryukyu tanpa kekerasan, Ieyasu mengijinkan kelompok Satsuma menjalankan upaya invasi di bulan Maret 1609.

 Makam keluarga Samurai Shimazu di Gunung Koya. Foto berasal dari Wikipedia

Dengan dipimpin oleh Shimazu Iehisa, kelompok Satsuma memasuki wilayah Ryukyu lewat dermaga Unten di pulau Amami dengan membawa tidak kurang dari 3.000 pasukan. Mereka mendapat perlawanan sengit di Naha yang menjadi pintu gerbang Ryukyu. Tapi perlawanan itu gagal karena penduduk lokal tidak punya pengalaman perang. Ditambah lagi larangan penggunaan senjata membuat Ryukyu tidak punya senjata yang cukup. Setelah dikepung selama 10 hari, Ryukyu akhirnya berhasil dikuasai oleh kelompok Satsuma.

Satsuma terkenal sebagai samurai kejam dan berhasil meraih banyak kemenangan. Konon Toyotomi Hideyoshi kesulitan mendirikan pemerintahan Shogunate juga karena keberadaan kelompok ini. Setelah berhasil menguasai Ryukyu, mereka berkeliling untuk mengumpulkan sumber dayanya. Mereka juga menarik pajak berupa beras dari penduduk lokal. Untuk mencegah perlawanan, kelompok Satsuma merampas semua senjata dari tangan penduduk. Mereka yang ketahuan membawa, menyimpan dan menggunakan senjata akan segera dihukum.

Akibat peraturan sepihak itu sangat sulit menemukan peralatan yang terbuat dari logam. Raja Ryukyu kemudian dipaksa menanda tangani semacam perjanjian kesetiaan dengan kelompok Satsuma. Sebagai gantinya, mereka akan mengembalikan pulau-pulau lain kecuali Pulau Amami. Dengan kata lain, Raja Ryukyu masih berkuasa meskipun tidak penuh. (Bersambung – Indoshotokan)

KARATE: ANTARA MITOS DAN LEGENDA (1)


Kemampuan untuk membela diri sebenarnya dimiliki oleh semua makhluk hidup. Bukan hanya manusia, bahkan binatang dan tumbuhan mempunyai cara masing-masing untuk membela diri. Hal itu diperlukan agar setiap makhluk dapat bertahan hidup, karena satu makhluk kadang menjadi ancaman bagi makhluk hidup lainnya. Meski sebenarnya binatang yang menyerang binatang lain adalah bagian dari usaha untuk bertahan hidup.

Manusia sebagai makhluk yang beradap mempunyai keunggulan dibanding makhluk hidup lainnya. Selain fisik, manusia mempunyai akal sehingga bisa berpikir dan mengambil keputusan. Karate sebagai salah satu seni bela diri adalah juga hasil olah pikir manusia. Bela diri yang sangat tua ini mempunyai sejarah yang unik dan misterius. Sampai sekarang menelusuri sejarah karate bukanlah perkara mudah. Karena catatan tertulis yang amat sangat sedikit, para peneliti banyak mengambil sumber dari kisah, legenda, mitos dan teknik dari perguruan karate yang ada.
  
Gichin Funakoshi dalam buku Karate-do Nyumon menyatakan:

“Sejak tidak adanya catatan tertulis, tidak diketahui siapa yang menciptakan karate dan bagaimana karate disebarkan. Apapun keterangan yang kita dapat dapat hari ini tentang latar belakang sejarahnya telah diceritakan dari mulut ke mulut. Dan karena kerahasiaan tradisi, melalui cerita ini seringkali membuatnya tidak jelas. Berusaha menelusurinya untuk menemukan fakta seperti memegang awan dengan tangan. Seperti yang telah kuceritakan sebelumnya, bahkan sejak aku dan teman-temanku masih anak-anak, segalanya tentang karate benar-benar dirahasiakan.”

Ada banyak teori  yang menyebutkan asal muasal karate. Tapi teori yang banyak diterima saat ini adalah asal karate berhubungan dengan India dan Tiongkok. Dasarnya adalah Bodhidarma dari India yang menyebarkan Budhisme di Tiongkok. Bukti lainnya adalah di Okinawa ada aliran karate Shorin-ryu yang masih menggunakan istilah Shaolin. Seperti diketahui Shaolin adalah biara Budhisme di Tiongkok yang kemunculannya berhubungan dengan Bodhidarma.


SEJARAH KARATE – INDIA DAN TIONGKOK

Konon sekitar 1500 tahun yang lalu Bodhidarma atau Tamo Laotsu (di Jepang Daruma Daishi) meninggalkan India demi menyebarkan Budhisme. Bodhidarma adalah anak ketiga dari Raja Suganda dari kasta ksatria. Demi menjalankan misinya, Bodhidarma singgah ke banyak tempat dan salah satunya adalah Tiongkok. Konon dalam perjalanannya itu Bodhidarma melintasi pegunungan Himalaya yang medannya luar biasa berat dengan hanya berjalan kaki.
  
Bodhidarma akhirnya tiba di kaki pegunungan Sung Shan yang terletak di propinsi Hennan, Tiongkok. Dipercaya dia lalu mendirikan sebuah biara bernama Shaolin (Jepang: Shorinji) dan mulai menyebarkan agama Budha. Penduduk setempat tertarik dengan ajaran kebajikan yang dibawanya. Mereka lalu menjadi biksu yang belajar Budhisme dibawah Bodhidarma.

 Sebuah patung yang menggambarkan figur Bodhidarma. Sumber

Bodhidarma mengajarkan prinsip meditasi yang menuntut kekuatan fisik dan mental. Ajaran itu agaknya terlalu berat hingga pengikutnya tidak sanggup bertahan.  Untuk mengatasinya, Bodhidarma kemudian menunjukkan jalan untuk mendapat kondisi fisik yang lebih baik. Latihan itu berupa kombinasi gerakan bela diri dan pernapasan yang dikemudian hari dipercaya menjadi dasar dari seluruh teknik bela diri Shaolin yang terkenal seperti yang terlihat saat ini. Hasilnya para biksu tadi mempunyai kekuatan fisik yang tangguh. Mereka tidak hanya belajar Budhisme karena juga pandai teknik pengobatan tradisional seperti akupuntur.

Dipercaya dalam perkembangan selanjutnya teknik yang diajarkan Bodhidarma mempengaruhi kemunculan “Chuan Fa”, yang kasarnya berarti “beragam seni Tiongkok” namun diterjemahkan sebagai “Kenpo Cina”. Oleh orang barat Chuan Fa sering disempitkan artinya sebagai Kungfu Cina. Teknik masing-masing Chuan Fa umumnya menyesuaikan dengan kondisi budaya, wilayah dan geografisnya. Kelak Chuan Fa yang beragam tadi akan masuk ke Okinawa dan mempengaruhi perkembangan karate.


SEJARAH KARATE - OKINAWA

Sebelum menjadi Prefektur Jepang ke-47 Okinawa bernama Ryukyu dan merupakan kerajaan yang bebas merdeka. Ryukyu mempunyai empat pulau utama yaitu Amami Oshima,  Okinawa, Miyako dan Yaeyama. Jumlah seluruh pulaunya saat ini adalah 161 pulau dan 44 diantaranya berpenghuni.

Di Samudera Pasifik Okinawa terlihat hanya seperti sebuah titik. Nama Okinawa sendiri berarti untaian pantai, karena banyaknya pantai yang terbentang indah layaknya zamrud. Ibu kotanya adalah Naha yang merupakan kota pelabuhan yang ramai karena sebagai transit kapal pendatang. Okinawa tidak hanya terkenal sebagai tempat asal karate namun juga pulaunya badai. Setiap tahun badai disertai hujan hebat rajin melanda wilayah ini dan meninggalkan kerusakan yang tidak sedikit. (Bersambung – Indoshotokan)