KONTEN DILINDUNGI HAK CIPTA. DILARANG KERAS MENJIPLAK, MENGEDIT DAN MEMPERBANYAK SEBAGIAN ATAU SELURUH HALAMAN SITUS INI TANPA IJIN.

Cari Artikel

Showing posts with label FILOSOFI KARATE. Show all posts
Showing posts with label FILOSOFI KARATE. Show all posts

MENANG DENGAN MENGALAH (3)

“Baiklah,” salah satu dari mereka berbicara dengan nada yang sangat tidak sopan, “Jangan cuma berdiri disana saja seolah kau bisu dan tuli. Kau tahu apa yang kami inginkan. Katakanlah sesuatu! Misalnya, ‘Selamat malam, tuan’ dan beritahu kami betapa indahnya hari ini. Jangan buang waktu kami anak kecil, atau kau akan menyesal. Aku bersungguh-sungguh dengan hal itu.”

Semakin mereka marah, aku justru semakin merasa tenang. Melihat cara orang yang berbicara padaku mengepalkan tangannya, aku tahu dia bukanlah orang karate. Sedangkan orang satunya yang memegang tongkat pemukul jelas-jelas seorang amatir.
Aku menjawab pelan, “Apa kalian tidak salah orang. Mengira aku sebagai orang lain? Pasti ada salah paham. Kurasa jika kita membicarakannya...”

“Ah, diam kau, dasar udang kecil! Orang yang membawa pentungan itu geram, “Kau pikir sedang apa kita disini? Melawan dua orang seperti ini, tapi nasihatku untukmu sudah jelas. Tidak usah melawan. Kurasa itu tidak akan bagus untukmu, karena.....”

Orang kedua sekarang mengangkat pentungan berat yang dibawanya dari tadi.

Aku menjawab dengan cepat, “Karena jika aku belum tentu menang, aku tidak akan berkelahi. Aku tahu pasti kalah. Jadi untuk apa aku melawan. Bukankah itu masuk akal?

Setelah mendengar ucapanku itu, keduanya terlihat sedikit tenang. “Baiklah”, kata salah satu dari mereka, “Kelihatannya kau tidak ingin berkelahi. Kalau begitu berikan uangmu.”

“Aku tidak punya uang” Aku menjawab sambil menunjukkan pada mereka kantongku yang kosong.

“Kalau begitu berikan rokok saja!”

“Aku tidak merokok. Yang aku punya sekarang cuma beberapa manju. Kue ini kubawa untuk persembahan di altar rumah orang tua istriku.”
“Ini. Terimalah ini saja.” Aku berkata pada mereka.

“Hanya manju!” Nada suara mereka terdengar meremehkan. “Yah, lebih baik daripada tidak ada sama sekali.”

Seraya mengambil kue itu salah satu dari mereka berkata, “Pergilah segera, udang. Dan hati-hatilah karena jalanan ini berbahaya.” Setelah itu merekapun menghilang di balik pepohonan.

Beberapa hari kemudian aku bertemu dengan Azato dan Itosu, dan ditengah obrolan kuceritakan pada mereka kejadian tempo hari. Yang pertama memujiku adalah Master Itosu yang mengatakan bahwa aku telah bertindak dengan sangat pantas. Dia juga berkata jika waktu yang telah dihabiskannya untuk mengajariku karate tidaklah sia-sia.

Azato tersenyum sambil bertanya padaku, “Tapi, karena kau sudah tidak punya lagi kue manju, apa yang kau persembahkan di altar ayah mertuamu?”

Aku menjawab, “Karena sudah tidak punya apa-apa lagi, aku mempersembahkan sebuah doa yang tulus.”

“Ah, bagus, bagus!” begitu ucapnya. “Benar, selamat! Itulah semangat sejati dari karate. Sekarang kau mulai paham apa artinya.”

Kucoba menahan rasa banggaku. Walaupun kedua master ini tidak pernah memuji setiap kata yang aku kerjakan saat latihan, mereka memujiku sekarang. Dan bercampur dengan rasa bangga menjadi sebuah kegembiraan. (Tamat - Indoshotokan)

Artikel ini dikutip dan diterjemahkan dari buku “Karate-Do: My Way of Life” yang ditulis oleh Gichin Funakoshi dengan judul aslinya “Win by Losing”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

MENANG DENGAN MENGALAH (2)

Belum sempat seorangpun menjawab, kami berpapasan dengan sekelompok orang yang kelihatannya sedikit mabuk. Mereka menyanyi dengan gaduhnya ketika melalui tempat itu. Saat cukup dekat dan tahu sedang ada keributan, mereka mulai berteriak gembira karena mungkin bisa menonton perkelahian yang seru. Tapi salah satu dari mereka kemudian mengenali pemimpin kami.

“Anda Master Itosu, bukan? Dia berteriak. “Ini benar Anda, bukan? Tentu saja! Sedang ada masalah apa?” Dia lantas memutar tubuhnya menghadap ke kelompok yang akan menyerang kami.
“Apa kalian sudah gila?” dia berkata.
“Apa kalian tidak tahu siapa orang-orang ini? Itu adalah Itosu, sang master karate bersama murid-muridnya. Bahkan sepuluh atau dua puluh orang dari kalian belum tentu sanggup mengalahkan mereka semua. Sebaiknya kalian minta maaf dan lebih baik lakukanlah sekarang!”

Kenyataannya, tidak ada yang meminta maaf. Tapi untuk sesaat kelompok itu saling bergumam dengan temannya sebelum akhirnya menyingkir dengan tenang di kegelapan malam. Kemudian Itosu memberi perintah lain yang menurut kami agak aneh. Bukannya meneruskan lewat jalan yang seharusnya, dia memerintahkan kami untuk mengulangi perjalanan kembali ke Shuri melewati jalan yang lebih jauh. Sampai kami tiba di rumahnya, dia tidak berkata apapun tentang kejadian yang barusan kami alami. Dia lantas menyuruh kami berjanji untuk membicarakannya.

“Kalian sudah melakukan pekerjaan yang bagus malam ini, anak-anak.” Dia berkata. “Aku tidak ragu lagi kalian sudah menjadi karateka yang hebat. Tapi jangan menceritakan kejadian malam ini pada siapapun! Tidak seorangpun, kalian paham?”

Belakangan aku melihat anggota dari kelompok itu dengan wajah sedikit malu datang ke rumah Itosu untuk meminta maaf. Ternyata orang-orang yang tempo hari kami kira preman dan pencuri itu adalah Sanka – orang yang bekerja menyuling minuman keras Okinawa bernama Awamori. Mereka memang agak ribut, orang-orangnya keras dan kasar, bangga dengan kekuatan fisiknya. Mereka malam itu telah memilih kami sebagai sasaran untuk menguji kehebatan mereka.

Saat itu aku baru tahu betapa pandainya Master Itosu dengan menyuruh kami pulang ke Shuri melewati jalan berbeda demi menghindari pertikaian yang lebih banyak. Aku berpikir tentang arti dari karate. Aku merasa malu saat menyadari tempo hari akan menggunakan kemampuan dan kekuatanku melawan orang-orang yang tidak terlatih.

Kejadian kedua, yang sedikit mirip dengan yang pertama, berakhir dengan lebih memuaskan. Namun begitu, pertama-tama aku ingin menceritakan tentang keluarga istriku. Selama bertahun-tahun mereka telah bereksperimen dengan tanaman kentang manis, mencoba untuk mengubahnya menjadi makanan yang lebih baik. Mereka sebelumnya cukup makmur, tapi datangnya Restorasi Meiji telah membuat masa-masa menjadi sulit. Mereka lalu pindah ke sebuah desa pertanian kecil bernama Mawashi yang jauhnya dua setengah mil dari Naha.

Ayah dari istriku adalah pengikut partai garis keras dan itu membuat tingkah lakunya aneh. Ketika cuaca sedang cerah dia berada di ladang; dan ketika hujan dia berada di rumah sambil membaca; dan hanya itulah yang dikerjakannya.

Istriku sangat sayang pada ayahnya. Pada suatu festival dia pergi lebih awal dengan anak-anak demi mengunjunginya. Sore itu aku pergi meninggalkan desa, karena aku tidak ingin anak dan istriku berjalan sendirian didalam gelap.

Jalanan yang sepi menuju Mawashi harus dilalui menembus hutan cemara yang tebal. Dalam cahaya senja yang sudah memudar, aku dibuat cukup kaget ketika dua laki-laki tiba-tiba melompat dari rerimbunan pohon dan menghalangi jalanku. Seperti penjahat pada umumnya, mereka menutupi wajah dengan handuk. Itu sekaligus sudah menunjukkan bahwa mereka sengaja ingin membuat takut orang lain yang melintas. (Bersambung – Indoshotokan)

Artikel ini dikutip dan diterjemahkan dari buku “Karate-Do: My Way of Life” yang ditulis oleh Gichin Funakoshi dengan judul aslinya “Win by Losing”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

MENANG DENGAN MENGALAH (1)

Aku ingin mengingat kembali dua kejadian yang mungkin, bisa membantu para pembaca sekalian untuk memahami inti dari karate-do. Kedua peristiwa itu terjadi bertahun-tahun yang lalu di pedesaan Okinawa. Dan keduanya menunjukkan bagaimana seseorang bisa menang dengan cara mengalah.

Kejadian pertama terjadi di jalan sebelah barat daya Istana Shuri yang arahnya ke bekas vila gubernur yang diujungnya berdiri rumah untuk minum teh bergaya Nara kuno. Dengan pemandangan mengarah ke Samudera Pasifik, setelah seharian bekerja gubernur biasanya akan datang kemari untuk bersantai bersama anak dan istrinya.

Jarak dari Shuri satu mil lebih sedikit, dan jalannya dilapisi batu dengan pohon-pohon cemara yang tinggi megah berbaris di sepanjang sisinya. Di luar vila itu sudah terbuka untuk umum dan bukan lagi bagian dari rumah pribadi sang gubernur. Pernah suatu malam aku bersama Master Itosu dan setengah lusin karateka pergi kesana untuk pesta melihat bulan. Kelompok kami berkumpul menjadi satu. Kami sampai lupa waktu dan hingga larut malam bicara tentang karate sambil membaca syair.

Akhirnya kami memutuskan sudah benar-benar waktunya untuk pulang dan bersama-sama menuju ke Shuri melalui jalanan yang ditumbuhi pepohonan cemara itu. Bulan sekarang sudah tertutup kabut tebal dan anak-anak yang lebih muda membawa lentera untuk menerangi jalan bagi para guru. Tiba-tiba pemimpin kelompok kami berteriak bahwa kami semua harus memadamkan lentera. Kami melakukannya karena tahu akan diserang. Jumlah penyerang kelihatannya sama dengan jumlah kelompok kami. Sehingga jika dilihat dari sudut pandang itu kami sebenarnya seimbang. Kecuali jika mereka juga pandai karate, maka mereka ditakdirkan untuk kalah memalukan. Malam itu sangat gelap hingga kami sulit melihat wajah siapapun.

Aku menunggu perintah Itosu, tapi dia hanya berkata, “berdirilah dengan punggung kalian menghadap ke bulan! Punggung kalian menghadap ke bulan!” Aku cukup terkejut karena sebelumnya aku yakin guru kami akan memberi kesempatan untuk menunjukkan karate kami. Dan tentu saja kami semua lebih dari sekedar siap mengatasi gerombolan penjahat ini. Tapi Itosu hanya menyuruh kami menghadapkan punggung ke arah bulan! Benar-benar tidak masuk akal.

Setelah beberapa saat, dia berbisik ke telingaku, “Funakoshi, kenapa tidak kau coba pergi kesana dan bicara dengan mereka? Mereka mungkin saja bukan orang-orang jahat. Dan jika kau katakan aku ada dalam kelompok ini, mungkin mereka akan berubah pikiran.”

Aku menerima perintah itu dan mulai berjalan mendekati gerombolan yang sedang menunggu itu. “Salah satu dari mereka datang!” Kudengar seseorang berteriak. “Satu dari mereka datang! Bersiap!” Atmosfernya kian terasa dan itu adalah awal dari mulainya sebuah pertarungan besar-besaran.

Ketika mendekat aku bisa melihat calon penyerang kami menutupi semua wajahnya dengan handuk. Sehingga mustahil untuk mengenali mereka. Seperti yang diperintahkan, aku berkata pada mereka dengan sopan jika Master Itosu ada dalam rombongan dan kami semua adalah muridnya. Aku menambahkan dengan berkata pelan pada mereka, “Mungkin kalian salah orang.”

“Itosu? Siapa dia? Salah satu dari mereka menggerutu. Aku tidak tahu siapa dia!”
Sementara yang lain begitu melihat tubuhku yang pendek lantas berteriak, “Hei, kau cuma anak-anak! Apa yang kau lakukan dengan ikut campur urusan orang dewasa! Cepat minggir sana!”
Dan bersamaan dengan itu dia menarik bajuku.

Aku menurunkan pinggulku ke kuda-kuda karate. Tapi bersamaan dengan itu kudengar suara Itosu: “Jangan bertarung, Funakoshi! Dengarkan apa yang mereka katakan. Bicaralah pada mereka.”
“Baiklah,” Aku berkata pada laki-laki di depanku, “Katakanlah, kenapa kau ingin melawan kami?” (Bersambung – Indoshotokan)

Artikel ini dikutip dan diterjemahkan dari buku “Karate-Do: My Way of Life” yang ditulis oleh Gichin Funakoshi dengan judul aslinya “Win by Losing”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

LATIHAN SELURUH TUBUH YANG IDEAL MENGGABUNGKAN PEREGANGAN OTOT DAN RELAKSASI

Orang yang mengerjakan latihan bela diri berlebih tidak hanya mengencangkan tubuh mereka. Kadang mereka menjadi keras kepala dan juga menjadi tidak terkendali. Karena itulah untuk membantu mengendurkan kondisi yang kaku ini diperlukan pemanasan yang sesuai sebelum latihan dan pendinginan sesudahnya. Di dojo, karena terbatasnya waktu, aku sungguh minta maaf karena latihan pendinginan seringkali dilupakan, yang mana hal itu benar-benar disayangkan. Idealnya, latihan didahului dengan lima belas menit pemanasan, dan diakhiri dengan tujuh sampai lima belas menit latihan pendinginan.

Bagi murid paruh baya dan yang berumur lebih tua, yang terbaik adalah berlatih dasar-dasar teknik karate di sebuah ruangan yang nyaman sekitar 30 sampai 40 menit. Ini akan memberikan latihan untuk hara (admin: perut). Dan sekalipun kita tidak punya banyak kesempatan untuk berlatih sampai berkeringat seiring kita lebih berumur, sebentar saja keringat akan mengalir dari kepala sampai kaki, dan perasaan akan lebih baik dari yang bisa dibayangkan. Rasanya lebih nikmat dibanding berendam di air panas atau masuk ke sauna.

Berbaring di atas bumi dan menyerahkan dirimu sepenuhnya ke alam mewakili bentuk keselarasan yang horizontal. Sementara berdiri tegak lurus dan menggambarkan tanaman tumbuh mewakili bentuk keselarasan yang vertikal; keduanya adalah keseimbangan. Karate menggunakan gerakan dan reaksi berdasarkan hukum fisika dan hukum alam tersebut. Itulah sebabnya hal yang terpenting diingat adalah ketika berlatih untuk memfokuskan perhatian pada titik pusat gravitasi tubuh.

Pada dasarnya, teknik karate dikerjakan dengan postur yang baik, bergerak sambil mempertahankan pandangan di lantai. Selama proses ini beragam gerakan ditambahkan; termasuk bergerak maju dan mundur, ke kiri dan ke kanan, membungkuk, berputar, memutar balik dan melompat. Namun demikian, ada sebuah aturan: posisi tubuh tegak lurus sebelum dan sesudah gerakan-gerakan tersebut dilakukan. Ini akan mengijinkanmu bergerak bebas dan sesuka hati ke sembarang arah bergantung keadaan. Hanya saat pusat gravitasimu tetap dibawah kendali, yang akan memungkinkanmu melakukan sembarang gerakan tanpa keraguan. (Indoshotokan)

Artikel ini diterjemahkan dari buku “Black Belt Karate – The Intensive Course” yang ditulis oleh Hirokazu Kanazawa dengan judul aslinya”The Ideal Full Body Workout Combining Muscle Tension and Relaxation”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

KEMAMPUAN UNTUK MEMBACA PIKIRAN LAWANMU (2)

Kukatakan pada mereka, jika mereka tidak percaya dengan teori ini, maka mereka harus mencobanya sendiri. Bagi para pelajar di sekolah aku berkata, “Jika kau punya keinginan pada gurumu, atau sesuatu yag harus diurus di sekolahmu, maka berdirilah dengan posisi pusar menghadap gurumu ketika kau bicara.”

Aku berkata jika mereka lakukan itu, guru mereka akan mengerti perkataan mereka, menjawab, dan memberikan bantuan yang mereka butuhkan. Dan tentu saja, tidak lama kemudian beberapa anak datang padaku sambil berkata, “Sensei Kanazawa! Nasihatmu berhasil. Aku kerjakan apa yang kau katakan, bicara pada guruku dengan pusarku menghadap ke arahnya, dan semua berjalan dengan sempurna!”

Aku bukanlah penyebab dari fenomena ini, tapi aku yakin bahwa dengan mengarahkan pusarmu pada orang yang kau ajak bicara, pusat gravitasi dan bagian bawah perutmu ikut berselaras dengan orang tersebut, memungkinkan energi masing-masing untuk menyatu.

Masih banyak kejadian di luar sana yang bisa membuktikan hal ini. Banyak hal tentang tubuh manusia yang manusia sendiripun belum memahaminya. Sementara tiap individu manusia adalah alam semesta kecil bagi dirinya sendiri, dalam alam semesta yang lebih besar, dan dalam alam semesta antar manusia yang lebih kecil, masih banyak keajaiban yang tidak terhitung yang tidak bisa kita jelaskan lewat sains moderen.

Jika sebelumnya kusebutkan alam semesta adalah kosong, maka arti sesungguhnya tidaklah demikian; disinilah sebuah ruang dimana segala sesuatu yang tidak kelihatan berubah menjadi ada; sebuah ruang yang diisi apa saja dan segalanya; menghasilkan beragam energi yang terus memancar dan mengalir. Inilah arti filosofis yang terkandung pada huruf Cina yang digunakan untuk menulis karate, yang juga digunakan untuk menulis kata Jepang untuk ruang.

Galaksi Bima Sakti, satu dari 200 milyar lebih galaksi yang membentuk alam semesta, terdiri antara 200 sampai 400 milyar bintang. Sebuah planet kecil bernama bumi melintasi satu dari bintang-bintang ini dalam tata surya kita. Dan di planet inilah kita tinggal, bersama dengan lebih dari enam milyar manusia. Sementara keberadaan kita amatlah kecil jika dilihat dari luar angkasa, 60 triliun sel yang membentuk tubuh manusia, termasuk 14 miliar sel pembentuk otak, yang mampu mewakili alam semesta yang tidak terbatas ini memiliki kekuatan yang sungguh luar biasa.

Memikirkan hal-hal seperti ini, kita tidak bisa dengan mudahnya mengabaikan fenomena ini dengan berkata kita tidak mengerti, atau fenomena itu hanyalah omong kosong. Kenyataannya, ada banyak orang yang memahami hal itu adalah benar, karena mereka bisa merasakan kekuatan semacam itu pada tingkat jasmani. (Indoshotokan)

Artikel ini diterjemahkan dari buku “Black Belt Karate – The Intensive Course” yang ditulis oleh Hirokazu Kanazawa dengan judul aslinya”The Ability to Read Your Opponent’s Mind”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

KEMAMPUAN UNTUK MEMBACA PIKIRAN LAWANMU (1)

Ada beberapa murid yang sekalipun adalah pembuat onar di masa mudanya, terus berlatih karate sampai sekarang. Karena mereka juga tumbuh secara emosional, saat mereka bertemu seseorang yang sudah bertahun-tahun tidak dilihatnya, mereka sering menyapa dengan perkataan seperti, “Kau dulu benar-benar anak yang payah. Bagaimana bisa kau sekarang tumbuh menjadi orang yang hebat?” Ini adalah hal yang sangat baik. Sepanjang pengalamanku – dan tidak hanya selama mengajar karate langsung di dojo, tapi juga dalam perjalananku ketika mengajar di banyak negara – belum pernah kulihat anak-anak muda di sekitarku yang berlatih karate berubah menjadi tidak baik.

Diantara murid-muridku yang sudah dewasa, ada beberapa yang hanya bisa sesekali datang ke dojo karena jadwal kerja mereka yang sibuk. Mereka menghargai karate karena memberikan mereka kemampuan untuk bertahan pada situasi yang paling sulit sekalipun. Banyak dari mereka juga memberitahuku jika mereka bisa mengelola hubungan dengan orang lain secara lebih mudah. Atau bahkan ketika menghadapi banyak masalah sekaligus, mereka bisa mengatasinya tanpa panik.

Ketika “K”, seorang mahasiswa, akan berlaga di turnamen karate, dia sering ditegur wasit karena tidak sabaran dan menjadi agresif, akhirnya beradu pendapat dengan wasit. Ketika sudah lulus dari universitas, anak muda ini bekerja di perusahaan properti. Dia membuat pegawai lain terkesima dengan kemampuan menjualnya yang bagus. Secara kebetulan aku bertemu dengan direktur perusahaan yang menjelaskan kemampuan “K” dengan berkata, “Lebih dari siapapun, dia mempunyai karakter yang baik.”

Selain itu, aku yakin jika “K” pasti sudah mendapatkan apa yang disebut dengan kebiasaan, atau mungkin kemampuan yang membuatnya bisa membaca, atau mengukur pikiran lawannya. Itu karena dalam karate kau berlatih menselaraskan napas, gerakan, kekuatan dan kewaspadaan dengan lawanmu. Saat berlatih karate, pertama-tama kau gunakan waktumu dengan hati-hati untuk mengamati gerakan lawanmu. Segera ketika lawan mengencangkan ototnya, kau kencangkan juga ototmu; ketika dia membuang napas, kau juga membuang napas; dan ketika dia melonggarkan ototnya, kau melakukan gerakanmu dan menyerang. Proses ini dilakukan berulang kali, namun selama melakukannya, kau melihat mata lawan.

Beberapa bulan kemudian dilalui dengan cara bagaimana bergerak lebih dekat untuk menselaraskan diri dengan lawan. Dengan melakukan itu, adalah mungkin bagi kita untuk membaca pikiran lawan hanya dengan melihat matanya. Ini bukanlah sesuatu yang bisa dijelaskan lewat kata-kata, melainkan sesuatu yang hanya bisa dipahami dan diperoleh lewat latihan dan pengalaman dalam karate.

Aku ingin berbagi denganmu kebenaran lainnya yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah. Salah satu kebiasaanku dalam mengajar adalah ketika menghadapi orang pada level senior, pandanglah hanya salah satu matanya dengan kedua matamu. Karena dia lebih kuat dan punya pengalaman lebih banyak, jika kau memandang kedua matanya, kau akan mudah merasa kewalahan – seperti seekor katak yang ditantang seekor ular – yang membuat sulit mengambil manfaat dari latihan bersamanya. Tapi, dengan menggunakan kedua matamu untuk memandang hanya salah satu dari matanya, maka bisa memperkecil rasa takut. Ini bisa menjadi satu sumber energi psikologis yang bisa membuatmu berlatih dengan murid senior.

Juga, sementara hal ini tidak bisa dijelaskan secara ilmiah, adalah teoriku ketika kita membicarakan hal penting dengan orang lain, kau harus selalu menghadap ke orang itu sehingga titik pusarmu berada di arahnya. Dengan melakukan itu akan membantu aliran energi spiritual mengarah padanya, dan jika energimu cukup kuat akan membuatmu bisa mengambil energinya. Pendekatan ini akan menghasilkan diskusi yang produktif dan negosiasi yang berhasil. (Bersambung – Indoshotokan)

Artikel ini diterjemahkan dari buku “Black Belt Karate – The Intensive Course” yang ditulis oleh Hirokazu Kanazawa dengan judul aslinya”The Ability to Read Your Opponent’s Mind”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

NILAI DARI KARATE-DO

Karate-do pada pokoknya adalah sebuah seni bela diri (budo), dan dengan demikian karate-do berusaha mencapai “jalan” (do) dengan “berlatih senjata” (bu). Sebagaimana seni bela diri lainnya, karate-do benar-benar membutuhkan sebuah kedisiplinan. Tubuh harus melewati latihan yang panjang dan berat selama bertahun-tahun. Hal ini tidak hanya mengembangkan badan yang kuat, tapi juga karakter yang tangguh.

Pengendalian diri tidak hanya dibutuhkan dalam hal teknik saja, tapi juga pada emosi seperti ketakutan, sakit dan kebencian. Sebagai sebuah seni untuk bertarung, karate-do melibatkan perseteruan antara dua keinginan (admin: keinginan baik dan jahat), yang mana masing-masing berusaha ingin menang. Pengendalian diri mengembangkan sifat seperti ketabahan, tapi juga rendah hati, menghargai diri sendiri dan orang lain.

Karate-do juga merupakan alat yang tangguh untuk membela diri karena tidak membutuhkan senjata khusus. Senjata yang dibutuhkan selalu tersedia. Satu hal yang cukup menguntungkan dari karate-do untuk membela diri adalah pertahanan bisa dicocokan tepat dengan serangan. Jika kau memakai senjata api untuk membela diri, kau tidak bisa melakukan apapun kecuali menembak lawanmu. Dengan karate-do kau bisa menyingkirkan lawan tanpa melukai atau bahkan membunuhnya. Sikap membela diri juga membantu seseorang untuk menghindari penyakit dan musibah dengan pendekatan yang lebih hati-hati dalam hidup sehari-hari.

Nilai fisik dari karate-do juga unik. Ini karena melibatkan aktivitas mengembangkan semua anggota badan tanpa harus cemas ada yang kurang berkembang, atau terlalu berkembang. Latihan bisa dikerjakan dimanapun. Tidak perlu kebutuhan khusus untuk tempat latihan. Latihan bisa dikerjakan sendiri tanpa seorang rekan. Ini menjadi kelebihan yang jelas dibanding kebanyakan olah raga. Setiap orang bisa berlatih karate-do dan mengambil manfaat darinya. Selalu ada cara menyesuaikan latihanmu dengan kondisi fisik maupun tujuanmu. Karate-do sekarang telah berkembang menjadi sebuah olah raga kompetisi yang sangat populer, dan hal itu bisa memenuhi kebutuhan anak-anak muda untuk menemukan jati diri mereka. (Indoshotokan)

Artikel ini diterjemahkan dari buku “Scientific Karatedo” yang ditulis oleh Masayuki Kukan Hisataka dengan judul aslinya”The Value of Karatedo”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

MELATIH BAGIAN BAWAH PERUT MEMPERBAIKI PIKIRAN

Ketika aku masih seorang pelajar, aku telah mendapatkan pengalaman sendiri tentang hara (admin: perut) dan melanjutkan penelitianku tentang hal ini. Berdasarkan pengalamanku, aku bisa memberitahu orang-orang di sekitarku bahwa melatih bagian bawah perut akan meningkatkan kecerdasan. Saat mendengar ideku itu, adikku yang baru saja menjadi seorang dokter medis berkata dengan sebuah kekhawatiran, “Kakak, sekalipun hal itu benar, orang-orang akan mentertawakanmu jika kau membuat pernyataan yang tidak didukung bukti ilmiah. Jika aku menjadi dirimu, aku tidak akan berkata pada yang lain tentang hal itu.”

Namun demikian baru-baru ini, adikku datang kembali padaku sambil menunjukkan sebuah jurnal kedokteran sambil berkata, ”Aku sungguh tidak percaya. Apa yang kau katakan dulu ternyata benar.” Dia menjelaskan padaku telah dibuktikan secara medis bahwa setelah kehidupan pertama muncul dan sepanjang evolusi manusia, sel-sel saraf usus dan sel-sel saraf otak awalnya berbagi hubungan yang sangat dekat.

Fungsi perut adalah mencerna makanan, dan usus menyerap nutrisi dari makanan yang kita makan. Usus sebagai organ imunologi terbesar di dunia, dikatakan ukurannya sekitar tujuh meter (23 kaki) dan jika diletakkan mendatar akan menutupi permukaan lapangan tenis. Ada sekitar 100 juta sel saraf di dalam usus, dan kira-kira setengah dari sel saraf berada di luar otak.

Melalui proses evolusi yang panjang manusia telah mencapai bentuknya seperti sekarang ini. Dan sel saraf di saluran usus dan batang otak (yang berfungsi mendukung kehidupan kita dan terdiri dari medulla oblongata, otak bagian tengah, penghubung medulla dan thalamus, thalamus dan hypothalamus) juga mengalami hal serupa. Sebagian sel saraf dari saluran usus bermigrasi ke atas dan berkembang lebih jauh di kepala, bergabung dengan cerebrum untuk membentuk otak yang mempermudah kecerdasan manusia.

Berkaitan dengan karate, aku telah menerima laporan yang sangat menarik dari banyak instruktur di luar negeri. Mereka memberitahuku jika para kepala sekolah di negara-negara tersebut menunjukkan ketertarikan yang besar pada karate. Alasan dibalik ini adalah kebanyakan murid dengan nilai terbaik ternyata berlatih karate.

Jauh sepuluh tahun sebelumnya, ada peningkatan yang jelas dari anak-anak yang berlatih karate. Dan tidak hanya di Jepang tapi juga di banyak negara di dunia, para pendidik penasaran mengapa anak-anak yang berlatih karate bisa mendapat nilai yang baik. Hal ini menyebabkan munculnya data yang menyoroti hubungan antara karate dan prestasi di kelas. Selama berlatih karate anak-anak belajar tentang hubungan hirarkis, sopan santun dan etika yang sesuai. Dan selama proses itu mereka belajar menghormati orang tua mereka. Yang tidak kalah pentingnya prestasi mereka di kelas juga meningkat.

Latihan karate yang berkelanjutan tidak hanya meningkatkan konsentrasi, tapi juga memperbaiki kecerdasan karena sel syaraf di saluran usus dan otak pada intinya adalah sama. Walaupun telah kudengar beberapa kepala sekolah meragukan logika ini, bagi para instruktur di luar negeri, aku menjelaskan hal ini demikian: melatih bagian bawah perut akan menghasilkan konsentrasi dan kesabaran yang lebih baik. Dan memperkuat hara juga memperkuat pikiran.

Hubungan antara Yin (negatif, gelap, wanita) dan Yang (positif, terang, pria) hadir dalam semua hal. Dan ini juga berlaku untuk hara. Kita menerima dan menyerap nutrisi dan kalori dari makanan yang kita makan yang membuat kita tumbuh. Ini adalah peran luar dari hara, aspek fisik, mewakili sisi Yang. Namun demikian di sisi sebaliknya, mewakili sisi Yin, hara menjalankan fungsi yang tidak kelihatan. Sebuah peran yang berfungsi di tahap spiritual. Adalah penting untuk mendapatkan sebuah pemahaman tentang kedua hal ini, dan berlatih yang sesuai.

Pelajar, pegawai kantoran, dan kebanyakan masyarakat moderen, dari waktu ke waktu setiap hari memenuhi kepala mereka dengan begitu banyak informasi. Mereka menghabiskan waktunya memandangi layar komputer, dan biasanya terkena beragam masalah. Akibatnya mereka merasakan kaku di bahunya yang berujung pada gaya hidup penuh stress. Untuk orang-orang seperti ini, berlatih karate memberi mereka kesempatan untuk memperbaiki postur, meregangkan tangan dan kaki, meredakan tegang di bahu mereka, dan mengkonsentrasikan kekuatan di perut, yang membantu menghindari penyakit dan mengurangi stress.

Ketika orang lelah secara mental, mereka menjadi mudah marah dan tidak punya kemampuan untuk mengelola stress dengan efektif. Sementara peran perut untuk mencerna makanan, salah satu fungsi usus adalah mencerna semua stress emosional. Inilah sebabnya tidak mengejutkan jika berlatih karate membantu mengatasi penyakit. (Indoshotokan)

Artikel ini diterjemahkan dari buku “Black Belt Karate – The Intensive Course” yang ditulis oleh Hirokazu Kanazawa dengan judul aslinya”Training the Lower Abdomen Improves the Mind”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

TENANG DI LUAR, KUAT DI DALAM

“Dengarkan suara dari angin dan air” bermakna bahwa dari luar kau harus terlihat tenang, akan tetapi pikiranmu selalu waspada dan siap. Angin tidak bersuara, tapi akan menimbulkan bunyi ketika menghantam sesuatu. Saat angin berhembus kencang tetap saja terdengar tenang, tapi ketika angin itu turun dan menghantam pohon atau bambu, maka akan menimbulkan gerakan dan suara.

Sama halnya dengan air yang menetes tidak meninggalkan suara. Air hanya menimbulkan bunyi ketika menghantam suatu benda. “Dengarkan suara dari angin dan air” adalah sebuah ekspresi perumpaan bagi orang yang penampilannya dari luar selalu tenang, tapi pikirannya selalu aktif. Tubuh, lengan dan kakimu memang tidak seharusnya terlihat sibuk.

Sementara itu, kau harus berhati-hati menyeimbangkan hubungan antara menyerang dan bertahan, antara bagian dalam dan luar tubuh. Mempunyai pikiran yang tenang akan memudahkanmu beralih dari “yin” (negatif) ke “yang” (positif), dan begitu pula sebaliknya. Aksi adalah “yang” dan diam adalah “yin”.

Ketika dalam dirimu berubah menjadi “yang” atau aksi, maka jadikan bagian luar tubuhmu dalam keadaan “yin” atau tenang. Sebaliknya, ketika dalam dirimu berada dalam kondisi “yin”, maka jadikan bagian luar tubuhmu “yang”. Inilah yang disebut sebagai strategi. Hal ini berhubungan dengan sifat segala sesuatu. Saat tindakanmu cenderung ingin menyerang, kau harus menjaga pikiranmu tetap tenang dan tidak membiarkannya terbawa pada arus. Dengan menjaga pikiran tetap tenang, maka kau bisa mengendalikan tindakanmu dengan lebih baik.

Jika baik tubuh dan pikiranmu aktif, maka keduanya akan sulit dikendalikan. Mengacaukan menyerang dan bertahan, aksi dan ketenangan. Mirip dengan seekor bebek yang kelihatan tenang diatas air, tapi di dalam air kakinya yang berselaput sibuk berenang. Serupa dengan seorang ahli siasat perang yang dari luar terlihat tenang tapi pikirannya selalu tajam. Tujuan dari siasat adalah mencapai kondisi pikiran yang mampu menyeimbangkan menyerang dan bertahan; aksi dan ketenangan.

Berkaitan dengan ungkapan, “Dengarkan suara dari angin dan air” Yagyu Jubei Mitsuyoshi, anak tertua dari Yagyu Munemori (admin: samurai ternama yang mendirikan aliran Yagyu Shinkage-ryu yang populer di jaman Edo), mengajarkan bahkan pada saat pertarungan pikiranmu tidak boleh disibukkan dengan lawanmu yang membuatmu tidak bisa mendengar suara angin dan air. (Indoshotokan)

Artikel ini dikutip dan diterjemahkan dari buku “Secret Tactics” yang ditulis oleh Kazumi Tabata dengan judul aslinya “Be Calm Outside, Be Rigorous Inside”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

SOPAN SANTUN

Beberapa anak muda yang antusias dengan karate percaya bahwa karate hanya bisa dipelajari lewat instruktur di dojo. Tetapi orang-orang seperti itu hanya pandai teknik, dan bukan karateka sejati. Ada sebuah nasihat Buddhist mengatakan, “semua tempat bisa menjadi dojo,” dan ada pepatah berkata siapapun yang mengikuti jalan karate tidak boleh melupakan hal ini. Karate bukan sekedar memperoleh seninya saja, melainkan bagaimana menjadi anggota masyarakat yang baik dan jujur.

Kita menyapa teman-teman dengan berkata, “selamat pagi” atau “selamat sore” dan kita menyesuaikan dengan keadaan. Ini adalah hal yang biasa, dan daripada membicarakan masalah ini, bukankah kita lebih baik membicarakan hal lain yang jauh lebih penting?

Di jaman kita yang liberalisme dan demokrasi, aku tidak merasa keberatan jika dianggap kuno atau bahkan berlebihan jika menyarankan sopan santun yang ditunjukkan pada tetangga dan teman juga dilakukan pada anggota keluarga kita. Inilah yang aku yakini. Namun demikian, kita harus menunjukkan perhatian lebih pada orang tua, kakek-nenek, kepada kakak dan adik-adik kita. Ini adalah sesuatu yang seringkali kita lupakan.

Anak-anak muda harus menunjukkan perhatian lebih untuk keluarga mereka, dan ini sudah jelas hal yang penting bukan hanya bagi praktisi karate tapi juga seluruh umat manusia. Pikiran seorang karateka sejati harus dijiwai dengan hal semacam itu sebelum dia mengalihkan perhatiannya pada tubuhnya dan memperbaiki tekniknya. Mencintai karate, mencintai diri sendiri, mencintai keluarga dan teman-teman; semua pada akhirnya akan mencintai negaranya. Arti sebenarnya dari karate hanya bisa dipahami melalui cinta seperti itu.

Kita ambil saja contoh, satu kejadian yang umum sehari-hari; berkunjung ke pemandian umum. Aku yakin siapapun pernah mengalami hal yang tidak menyenangkan. Aku sering mendapati gayung kayu yang baru digunakan orang lain berisi air kotor. Ini berarti sebelum bisa memakainya, orang harus membersihkan bekas air kotor orang lain. Orang sebelumnya yang meninggalkan air kotor sudah jelas tidak mempunyai sopan santun.   

Sementara itu beberapa orang membawa handuk tangan mereka ke pemandian umum, kemudian melakukan hal yang menjengkelkan dengan membasuh badan mereka di air yang digunakan orang lain berendam. Beberapa laki-laki yang ingin bercukur mendapati ternyata cerminnya sedang digunakan orang lain. Bukannya menunggu, mereka memilih melakukan hal yang berbahaya. Bercukur tanpa memperoleh penglihatan yang jelas dari cermin. Siapapun yang tahu sopan santun setelah berpakaian akan mengembalikan keranjang bekas pakaian ke tempat asalnya daripada merepotkan penjaga pemandian. Pemandian umum adalah tempat terbaik di dunia yang menunjukkan bagaimana karakter orang sebenarnya.

Aku tidak begitu ingat sudah berapa lama sejak kubaca riwayat Seiji Noma, pendiri Kodansha (penerbit). Tapi aku tidak pernah lupa isinya dan aku menyadari belajar banyak hal dari buku itu.

Sebuah baris yang benar-benar kuingat, “Biasanya aku pergi ke pemandian umum setiap sore.” Demikian dia menulisnya. “Setiap kali aku masuk, si penjaga akan menyapaku dengan kalimat ‘Selamat datang’. Dan ketika aku akan meninggalkan tempat itu dia akan berkata ‘Terima kasih banyak’. Untuk waktu yang lama aku tidak pernah berpikir untuk membalas salamnya. Tapi tiba-tiba kusadari akan menjadi hal yang sopan jika melakukannya. “    

Dia lalu menggarisbawahi betapa pentingnya membalas ucapan salam seperti itu, dan kemudian aku menggunakan nasihatnya dalam latihan setiap hari. Saat masuk ke pemandian umum, kudengar salam selamat datang yang kemudian kubalas dengan senyuman dan ucapan "Selamat sore.” Penjaga pemandian sedikit terkejut dengan jawaban yang tidak biasa dariku, dan kemudian membalas senyumku. Ketika akan pulang aku berkata, “Selamat malam” untuk membalas ucapan “Terima kasih” darinya. Sejak itu penjaga pemandian menjadi lebih ramah padaku. Nada suaranya yang sebelumnya sedikit acuh, menjadi hangat dan lebih akrab. Dan berkunjung ke pemandian umum bagiku menjadi lebih dari sekedar rutinitas harian.  

Satu hal yang selalu kukatakan pada murid-murid baruku adalah orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri dan seenaknya pada orang lain tidak layak belajar karate-do. Aku menemukan bahwa mereka yang serius belajar karate-do selalu mempunyai perhatian pada orang lain. Mereka juga menunjukkan ketabahan yang luar biasa, karena tujuan seseorang untuk terus belajar karate-do membutuhkan waktu yang sangat lama.

Tiap tahun di bulan April sangat banyak murid baru dari jurusan pendidikan jasmani universitas yang mengikuti kelas karate. Kebanyakan dari mereka, untungnya, mempunyai dua tujuan yaitu demi membentuk fisik dan mental sama baiknya. Namun demikian, selalu ada saja beberapa murid yang ingin menggunakan karate untuk berkelahi. Mereka hampir bisa dipastikan akan keluar dari latihan sebelum setengah tahun berlalu. Karena latihan tidak mungkin bagi anak-anak muda dengan tujuan bodoh seperti itu untuk bertahan dalam waktu yang lama dalam karate.

Hanya mereka dengan cita-cita yang tinggi yang menemukan karate layak dilakukan dan bertahan dalam latihan berat yang menyertainya. Mereka yang melakukannya akan menemukan bahwa semakin keras mereka berlatih, semakin menakjubkan seni itu jadinya. (Indoshotokan)

Artikel ini dikutip dan diterjemahkan dari buku “Karate-Do: My Way of Life” yang ditulis oleh Gichin Funakoshi dengan judul aslinya “Courtesy”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

NASIHAT BIJAK BAGI PARA SATRIA


Sahabat Indoshotokan, bela diri apapun di dunia ini (terutama dari timur dan termasuk karate) adalah lebih dari sekedar jalan untuk mengalahkan lawan. Para ahli bela diri jaman dulu sering memberikan nasihat untuk murid-muridnya sebagai petunjuk berlatih atau motivasi hidup. Ini dilakukan karena mereka sadar jika karate butuh waktu lama untuk mempelajari, lewat latihan yang sangat berat, namun praktisinya dilarang menggunakannya begitu mudah. Sebenarnya ada banyak sekali nasihat dari para master karate yang diucapkan atau ditulis dalam buku. Pada kesempatan kali ini Indoshotokan akan berbagi sedikit dari motivasi yang terbaik, semoga bisa menginspirasi.

  • Tujuan sebenarnya dari karate-do bukan terletak pada mengalahkan lawan atau kemenangan, namun lebih pada kesempurnaan karakter praktisinya.” – Gichin Funakoshi, Pendiri Shotokan

  • Karate bisa diumpamakan sebagai sebuah konflik dalam dirimu sendiri. Atau sebuah perjalanan hidup yang panjang yang hanya bisa dimenangkan lewat disiplin diri, latihan keras dan upaya kreatifmu sendiri.” – Shoshin Nagamine, Pendiri Matsubayashi-ryu

  • Ada saatnya seseorang berada di puncak, namun ada kalanya di titik terburuk dalam hidupnya. Namun kedua hal itu diperlukan agar hidup seseorang bisa lebih seimbang, agar seseorang bisa menjaga kepribadiannya.” – Hirokazu Kanazawa, Pendiri SKIF

  • Karate berusaha membentuk karakter, memperbaiki tingkah laku dan mendorong orang kepada sopan santun. Namun demikian, karate tidak menjamin setiap orang pasti berhasil melakukannya.” – Yasutsune Itosu, Legenda Shuri-te

  • Tidak ada hal yang mengotori dunia ini selain seni bela diri yang tidak bisa digunakan untuk membela diri.” – Choki Motobu, Pendiri Motobu-ryu Kempo

  • Jangan berpikir hanya karena gerakan sebuah kata dimulai dari kiri, maka lawanmu akan selalu di sebelah kiri.” – Kenwa Mabuni, Pendiri Shito-ryu

  • Bertarung selalu menjadi pilihan akhir dari setiap persoalan.” – Chojun Miyagi, Pendiri Goju-ryu

  • Sebuah tinju harus tetap tersembunyi layaknya harta karun dibalik lengan pakaian. Tinju tidak boleh digunakan tanpa pandang bulu.” – Chotoku Kyan, Pendiri Shorin-ryu

  • Sekarang ini beberapa orang dari karate memakai nama yang terdengar aneh dan lucu untuk aliran karate mereka. Orang-orang karate seperti ini sebenarnya tidak punya pengetahuan dan paham tentang karate ortodok, atau dia tidak punya rasa percaya diri sebagai orang karate. Mereka memakai nama yang terdengar lucu untuk aliran karatenya sebagai pengingkaran karena gagal melakukan teknik yang sangat sulit atau teknik lain yang tidak sempurna. Tidak ada aliran apapun dalam karate. Karate membentuk seseorang menjadi satu-satunya obyek untuk bertahan dan menyerang. Dan melalui ini karate mengajarkan konsep dasar perlindungan diri.” – Kanken Toyama. Pendiri Shudokan 

  • Pikirkan bahwa kedua tangan dan kakimu layaknya pedang yang tajam.” – Yasutsune Azato. Shorei-ryu

  • Kau boleh saja berlatih dalam waktu yang lama. Tapi jika kau hanya menggerakkan tangan, kaki dan melompat layaknya boneka, maka berlatih karate tak ubahnya seperti belajar menari. Kau tidak akan mencapai inti dari permasalahannya; kau akan gagal memahami intisari dari karate.” – Gichin Funakoshi. Pendiri Shotokan

  • Seseorang tidak perlu meninggalkan dojo untuk menemukan apa yang dicarinya.” – Sakugawa Akata. Legenda karate Okinawa

  • Orang yang benar-benar telah menguasai karate tidak akan berbuat kasar. Dia menempatkan kedamaian sebagai hal yang paling utama. – Shimabukuro Eizo. Pendiri Shobayashi-ryu  

  • Karate adalah belajar seumur hidup.” – Kenwa Mabuni. Pendiri Shito-ryu

  •  “Karate tidak mengenal serangan lebih dulu.” – Yasutsune Itosu. Legenda Shuri-te

JALAN YANG BERMULA DARI TEKNIK (2)

Penulis selalu berkata pada murid-muridnya, “Seni tidak membentuk manusia, tapi manusialah yang membentuk seni.” Mereka yang belajar seni apapun, tentu saja termasuk karate-do, tidak boleh lupa untuk memperkuat tubuh dan pikiran. Dalam karate-do, tujuan seseorang mungkin saja demi meningkatkan kesehatan atau melatih tubuhnya untuk berfungsi efisien. Yang jelas, orang boleh saja belajar karate-do agar menjadi rendah hati. Semua tujuan itu harus dikerjakan dengan dengan disiplin.

Sebaliknya, disaat seseorang menyalahgunakan teknik, sebagai contoh dalam perkelahian yang membuatnya melukai diri sendiri atau orang lain, atau membawa malu bagi dirinya, maka dia telah mengabaikan manfaat dan karakter dari karate-do. Penyalahgunaan seperti itu, yang timbul dari pemahaman yang dangkal, sebenarnya telah merugikan dirinya sendiri. Melalui manusia teknik akan berubah menjadi seni. Aku harus benar-benar mengulangi: jangan menyalahgunakan teknik karate-do.  

Karate yang sejati adalah karate-do. Berusaha dari dalam untuk melatih pikiran demi mengembangkan hati nurani yang jernih yang membuat seseorang sanggup menghadapi dunia dengan penuh kejujuran. Sementara itu dari luar mengembangkan kekuatan hingga seseorang bahkan bisa menaklukkan seekor binatang liar yang buas.
      
Mereka yang mengikuti karate-do harus menempatkan sopan santun sebagai hal yang paling utama. Tanpa sopan santun, esensi karate-do telah hilang. Sopan santun harus dilatih tidak hanya ketika latihan karate saja, tapi setiap saat dalam kehidupan sehari-hari. Murid yang belajar karate harus membuat dirinya rendah hati untuk menerima latihan. Bisa dikatakan bahwa orang yang sombong atau angkuh tidak layak untuk mengikuti karate-do. Para murid harus senantiasa sadar dan bersedia menerima kritikan dari yang lain. Dia harus selalu mawas diri dan siap mengakui kekurangannya, daripada berpura-pura mengetahui apa yang sebenarnya dia tidak tahu.

Mereka yang mengikuti karate-do tidak boleh mengabaikan berpikir rendah hati dan perilaku yang lembut. Hanya mereka yang berpikiran sempitlah yang gemar membual setelah baru mendapatkan sedikit ilmu. Dan hanya mereka yang bodoh sajalah yang berpura-pura sebagai seorang ahli tapi kenakak-kanakan. Di dunia ini banyak ahli bela diri palsu yang oleh masyarakat cenderung diabaikan akibat sikap liarnya. Karena itulah banyak seniman bela diri yang serius menjadi ikut malu karenanya. Para murid karate-do harus benar-benar ingat akan hal ini.

Mereka yang mengikuti karate-do harus mengembangkan sikap tabah dan keberanian. Dua hal ini tidak ada hubungannya dengan tindakan berani atau mengembangkan teknik yang hebat. Penekanan terletak pada mengembangkan pikiran lebih baik daripada teknik. Saat muncul masalah besar di masyarakat, seseorang harus berani jika diperlukan demi keadilan untuk menghadapi satu atau bahkan sejuta musuh. Untuk para murid karate-do, hal yang paling memalukan adalah ketidaktegasan.   

Selama bertahun-tahun, dengan segenap kerendahan hati telah kudedikasikan hidupku memperkenalkan karate pada orang banyak. Dalam waktu yang panjang itu aku telah menemukan teman-teman yang antusias dengan karate yang akan menjadi generasi penerus. Untungnya, pendapatku ini dapat mereka terima, dan berkat keramahannya mereka mendapat dukungan dari masyarakat. Aku percaya bahwa hasil yang baik ini adalah sebuah harta tak ternilai yang kami temukan lewat perjuangan yang baik bersama-sama.

Akhirnya, bagi mereka yang mencari karate tidak akan berhenti hanya sampai menyempurnakan teknik mereka saja. Bahkan aku berharap mereka akan mendedikasikan hidup mereka untuk mencari karate-do yang sejati. Ini karena hidup dalam karate-do adalah hidup yang sebenarnya itu sendiri, baik sendiri maupun bersama-sama. (Indoshotokan)

Artikel ini dikutip dan diterjemahkan dari buku “Karate-Do Kyohan: The Master Text” yang ditulis oleh Gichin Funakoshi dengan judul aslinya “The Way from Techniques”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

JALAN YANG BERMULA DARI TEKNIK (1)

Kekuatan menyerang dan bertahan dari karate-do sudah terkenal. Karate-do adalah seni yang mengijinkan seseorang untuk mengalahkan lawan dengan sebuah tinju atau tendangan, tanpa senjata. Seni dari karate-do tergantung dari orang yang menggunakannya. Jika digunakan untuk tujuan yang baik, maka karate-do akan bernilai besar. Tapi jika disalahgunakan, maka tidak ada lagi seni yang jahat dan merugikan selain karate.

Pada suatu ketika, Departemen Kepolisian Okinawa berniat untuk memperkenalkan seni karate pada pegawainya. Namun karena khawatir akan bahayanya membuat rencana itu dibatalkan. Tidak berapa lama kemudian, Laksamana Rokurou Yashiro dan Norikazu Kanna meminta agar pasukan angkatan laut belajar karate. Tapi sekali lagi, takut jika karate akan digunakan para pelaut itu untuk berkelahi, membuat usulan itu tidak disetujui.

Menggunakan seni karate dengan sembarangan akan menimbulkan masalah di masyarakat, dan orangpun tidak akan menyangkal lagi kemungkinan bahayanya. Namun demikian, akan sangat disesalkan jika usaha untuk menguasai seni yang misterius ini, yang mana bisa membuat seseorang mempunyai kebanggaan, dijauhi hanya karena terlalu berbahaya. Sumber dari masalah itu terutama berasal dari pemikiran keliru para instruktur dengan karakter yang buruk, yang mengutamakan latihan teknik diatas aspek spiritual dari “do”. Dan kelakuan buruk serta sikap tidak terpuji dari murid-murid karate yang belajar seni ini semata-mata sebagai teknik untuk berkelahi.

Bahkan ada masalah yang sangat serius dimana murid-murid memang didorong memakai karatenya dalam perkelahian. Ucapan seperti, “Mustahil kau meningkatkan atau mengasah kemampuanmu tanpa menggunakannya dalam perkelahian sungguhan.” Atau, “Jika kau tidak bisa mengalahkan orang maka lebih kau berhenti saja latihan karate” adalah benar-benar sebuah ejekan pada nama baik karate-do. Walau demikian, perkataan semacam itu hanya menunjukkan orang-orang yang tidak tahu sama sekali tentang karate-do. Yang mesti dipahami, diajarkan, dan dipraktikkan dalam semangat sejati karate-do adalah seni ini tidak memberikan ancaman, tapi sebenarnya adalah sebuah seni bela diri yang mulia (budo).

Obat-obatan adalah berbahaya. Racun adalah menakutkan. Tapi tak ada seorangpun di dunia medis saat ini yang menyarankan untuk menjauhi obat-obatan. Bahaya dari obat dan racun bergantung dari penggunaannya. Dan ketika digunakan dengan benar, keduanya bisa memberikan manfaat yang besar. Karate-do yang digunakan tidak benar akan menjadikannya kejam dan berbahaya. Tapi untuk alasan yang sama, jika karate digunakan dengan benar maka bisa memperoleh hasil yang luar biasa.  

Ketika seorang pasien menerima resep obat, dia akan belajar memahami khasiatnya dan diajari untuk menggunakannya dengan sesuai. Hal yang sama, mereka yang akan belajar karate-do harus mengerti hal itu sejak awal dan diinstruksikan penggunaannya yang benar. Pemahaman yang benar dan penggunaan karate yang sesuai, itulah yang disebut dengan karate-do.

Seseorang yang benar-benar berlatih dalam “do” dan memahami karate-do tidak akan mudah terpancing dalam sebuah perkelahian. Satu serangan atau sebuah tendangan menentukan hidup atau mati. Karate hanya bisa digunakan pada situasi yang sangat langka dimana satu orang harus menjatuhkan atau dijatuhkan oleh lawan. Situasi seperti ini bagi orang biasa mungkin hanya dialami sekali seumur hidup. Dan karena itu mungkin ada kesempatan untuk menggunakan teknik karate hanya sekali atau tidak sama sekali. (Bersambung – Indoshotokan) 

Artikel ini dikutip dan diterjemahkan dari buku “Karate-Do Kyohan: The Master Text” yang ditulis oleh Gichin Funakoshi dengan judul aslinya “The Way from Techniques”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

PRINSIP RAHASIA

Tidak punya taktik adalah sumbernya cedera serius (baca: sedikit belajar adalah hal yang berbahaya) adalah pepatah yang sering diucapkan. Hal serupa dalam bela diri, jika orang hanya mempunyai sedikit pengetahuan, maka dia bertindak ceroboh dan bisa jadi mendapatkan cedera serius seumur hidup. Karena itulah orang harus senantiasa ingat untuk selalu berhati-hati.

Prinsip rahasia dari seni bela diri bukanlah untuk menaklukkan si penyerang, melainkan menghindari masalah sebelum itu terjadi. Menjadi sasaran kejahatan adalah tanda bahwa pertahanan seseorang terbuka, dan karena itu hal yang penting adalah waspada setiap saat. Sebisa mungkin orang harus menghindari berjalan seorang diri di malam hari, dan ketika hal itu mustahil dilakukan, seseorang harus mengambil jalan memutar untuk menghindari daerah yang berbahaya.

Bahkan jika sudah melakukan tindakan pencegahan seseorang masih bernasib sial dan diganggu orang jahat, maka lebih baik melarikan diri. Berlari sejauh mungkin mencari perlindungan di rumah orang lain atau berteriak minta tolong adalah cara terbaik untuk membela diri. Ketika diganggu, kebanyakan wanita merasa malu hingga tidak mau mencari perlindungan di rumah orang atau meminta bantuan orang lain. Tetapi terlalu malu di saat seperti itu hanya akan menjadi sasaran empuk dari para pengganggu.

Ketika tidak ada jalan meloloskan diri, atau seseorang sudah tertangkap sebelum berhasil melarikan diri, maka menggunakan teknik bela diri bisa menjadi pilihan pertama yang bisa dipertimbangkan. Bahkan pada situasi seperti itu jangan menunjukkan niat untuk menyerang, namun pertama-tama biarkan si penyerang menjadi tidak waspada. Pada saat itu seranglah dia, konsentrasikan semua tenaga pada satu serangan di titik vital. Dan saat penyerang terkejut segeralah lari dan cari tempat perlindungan atau pertolongan. Adalah penting untuk tetap waspada dan sadar saat kejadian itu dan bahkan ketika situasi sudah aman.

Saat melancarkan sebuah serangan pada si penyerang, menggunakan seluruh tenaga dan akurat bukanlah satu-satunya hal penting yang bisa diperhatikan. Jika serangan itu tidak berhasil, maka si penyerang akan semakin beringas, dan ini adalah sesuatu yang tidak boleh dilupakan. Menggunakan semua tenaga pada sasaran yang tepat dengan seluruh jiwa dan pikiran memang ditekankan. Tapi hal penting lainnya adalah membela diri hanya dilakukan setelah pertimbangan tidak ada lagi jalan keluar yang lain. (Indoshotokan)

Artikel ini dikutip dan diterjemahkan dari buku “Karate-Do Kyohan: The Master Text” yang ditulis oleh Gichin Funakoshi dengan judul aslinya “Secret Principles”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

‘OSS’

Dalam dunia karate Shotokan, kata “Oss” tidak lagi dipandang sebagai istilah yang berasal dari Jepang, namun telah berkembang menjadi sebuah salam universal yang diterima oleh orang dari segala kalangan di penjuru dunia. Kata ini digunakan dalam beragam situasi, tidak hanya sekedar salam sapa sehari-hari seperti, “halo,” “selamat tinggal,” “senang berjumpa denganmu,” tapi juga untuk menyampaikan “terima kasih” dan “saya mengerti.” Untuk menggunakan “Oss” dengan benar, kau harus mengucapkannya dari perut bagian bawah dengan gerakan membungkuk yang sesuai, menunjukkan hormat, menghargai dan kejujuran pada orang yang dituju.

Dalam bahasa Jepang “Oss” ditulis menggunakan dua huruf Cina yang masing-masing berarti “mendorong” dan “menahan.” Huruf yang pertama berarti semangat juang dan sikap yang memandang ke depan, kerelaan untuk terus maju apapun keadaannya. Huruf yang kedua menunjukkan gambaran bahwa melalui ketekunan segala kemalangan atau rintangan, bagaimanapun beratnya akan dapat diatasi.

Masa muda identik dengan kekuatan fisik dan mental yang bisa bertahan dari segala penderitaan atau tantangan apapun. Namun demikian, tanpa latihan setiap hari kedua hal ini tidak akan berkembang. Seperti yang ditunjukkan dalam peribahasa Jepang, “sebuah permata tidak akan berkilau kecuali sudah dipoles,” bakat tidak bisa disempurnakan tanpa usaha. Penggunaan “Oss” sebagai sebuah salam sapa membantu anak-anak muda mengingat pelajaran pentingnya dari hari ke hari, sementara itu juga mendukung untuk memperoleh sikap mental yang diperlukan oleh pelajaran-pelajaran ini. Aku telah mendengar jika “Oss” sudah digunakan untuk pertama kalinya di akademi angkatan laut.

Di Jepang ada beberapa kesalahpahaman tentang “Oss” yang membuat kata ini dilarang digunakan di beberapa tempat. Aku yakin ini terjadi karena beberapa praktisi karate mengganggu orang lain dengan berulang kali berteriak “Oss! Oss!” di turnamen dan tempat lain.

“Oss” bukanlah sebuah kata yang bisa digunakan dengan santai atau tanpa pandang bulu. Aku ingin orang yang mengucapkannya memberi perhatian khusus pada tingkah laku yang sesuai, suara dan pikiran yang tegas. Dengan dagu ditarik dan punggung yang lurus, “Oss” diucapkan dengan membungkuk sekali. Gerakan, cara bernapas dan pengucapan ikut membantu konsentrasi semangat dan kekuatan bagian bawah perut. Dilihat dari prinsip Yin (negatif, gelap, wanita) dan Yang (positif, terang, laki-laki), cara bernapas dan pengucapan dalam menggunakan “Oss” akan dikelompokkan sebagai Yin.     

Daripada menghilangkan arti “Oss,” Aku ingin mengajak memahami kata ini dengan jalan mengajari orang lain tentang nilai dari artinya, dan cara menggunakan yang sesuai dimana kata ini harus digunakan. 

Artikel ini dikutip dan diterjemahkan dari buku “Karate Fighting Techniques: The Complete Kumite” yang ditulis oleh Hirokazu Kanazawa dengan judul aslinya “Oss”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

JALAN YANG DISEBUT DENGAN KARATE

Secara tradisional, seni bela diri (dalam Bahasa Jepang disebut budo) di Jepang sebagaimana tempat kelahirannya di Okinawa, dibuat sebagai cara untuk memperkuat dan membangun tubuh dan pikiran. Dari sana, karate mulai berkembang dan mendapat adopsi yang lebih luas. Dengan kata lain, seni bela diri Jepang dimulai dengan kata (bentuk) dan etika. Ambil saja contoh seni Jepang upacara minum teh dan merangkai bunga. Sementara tidak masalah minum teh atau merangkai bunga sesuka hatimu, lewat memperkenalkan dengan gaya dan etika yang sesuai, kedua seni ini di Jepang disebut dengan akhiran “do”, yang berarti arah atau jalan; sa-do (dibaca cara untuk minum teh) dan ka-do (cara untuk merangkai bunga).

Lewat kata dan etika, dua hal ini dikenal sebagai “sebuah jalan” (dalam karate). Sebuah jalan yang didalamnya diperlukan untuk memahami sifat manusia, merefleksikan diri sendiri dan membangun pikiran yang selaras dengan bumi lewat mencintai bunga-bunga, alam, dsb. Seni Jepang lain yang juga telah ditetapkan sebagai jalan adalah sho-do (cara menulis kaligrafi) dan ko-do (cara menyajikan wewangian).

Belajar seni-seni tersebut tanpa merangkul jalan yang menyertainya, belajar tanpa etika dan tata cara yang sesuai, akan menghasilkan karakter yang miskin pengetahuan. Atas dasar inilah Master Gichin Funakoshi dianggap sebagai Bapak Karate Moderen, sebagai orang yang menambahkan akhiran “do” pada karate hingga menjadi kata karate-do.

Sementara banyak atlet olah raga yang dianugerahi fisik yang kuat, karakter sebagian dari mereka masih dipertanyakan. Para atlet ini, diluar kekuatan fisiknya, tidak mematuhi pelatihan yang tepat yang sesuai dengan regulasi dan aturan olah raga mereka masing-masing. Mereka hanya berpikir untuk menang, untuk mengalahkan lawan mereka. Hanya karena satu tujuan ini dalam pikiran mereka, mereka mengesampingkan berlatih yang benar. Secara fisik mereka memang semakin kuat, sementara secara emosi mereka tidak berkembang. Keadaan seperti itu sangat berbahaya.

Hal yang penting untuk diingat adalah tanpa kerangka berpikir yang benar dan metode berlatih menurut sistem yang yang sudah ditentukan, ada resiko murid tadi akan menuju ke arah yang salah. Bergantung pada jenis olah raganya, individu dengan fisik yang kuat tapi dengan sikap yang kurang, akan menimbulkan masalah untuk mereka yang lebih lemah. Tidak perlu dikatakan lagi, jika orang seperti ini turun ke jalanan dan mencari masalah, maka bisa menjadi bencana.

Hal yang benar adalah, orang-orang yang mempunyai kekuatan untuk mengalahkan diri sendiri – mereka inilah yang disebut mempunyai kekuatan hati yang luar biasa –, bertarung dalam kompetisi menumbuhkan kepercayaan diri dan jiwa besar mereka, dan lebih jauh kebaikan pada orang lain. Orang seperti inilah yang benar-benar tangguh, yang merasa tidak perlu untuk menonjolkan atau memamerkan kekuatannya.           

Berlatih karate menghasilkan pribadi yang berbeda, cara berpikir yang fleksibel dan kemampuan yang lebih kreatif. Memperkuat perut bagian bawah akan mengembangkan kebebasan emosional yang lebih besar, memperlancar energi kehidupan dan lebih dalam sebagai seorang individu. Ada yang bilang jika anak muda jaman sekarang lebih mudah terpancing kemarahannya. Ini karena lemahnya kontrol kepada emosi di daerah perut. Saat merasa tidak puas, kemarahan dan keinginan memberontak muncul dan sulit dibendung oleh hara (admin: perut). Selanjutnya tidak butuh waktu lama bagi kemarahan untuk mendorong orang tadi pada masalah yang lebih besar. 

Namun demikian, dengan emosi yang lebih fleksibel, ketika rasa tidak puas muncul, adalah mudah bagi orang tersebut untuk “melebarkan” perutnya – dalam kondisi ini boleh dipahami sebagai mengontrol pikiran – untuk memberikan ruang yang lebih lega. Segera ketika hara melebar dan orang itu bisa menahan diri, maka akan menghilangkan resiko kemarahan yang tiba-tiba.

Dengan karakter berjiwa besar membuat seseorang mudah melihat gambaran yang lebih besar tanpa disibukkan pada hal yang tidak penting. Hal ini akan mendorong pada pola pikir yang lebih fleksibel. Ambil saja contoh seorang seniman. Jiwa besar memungkinkannya membuat sebuah karya seni yang kaya akan kreatifitas. Seniman Hoan Kosugi, seorang pelukis tinta (sebelumnya melukis dengan minyak) dianggap sebagai “seniman kaligrafi Jepang moderen terbaik”, juga belajar karate pada master Gichin Funakoshi. (Indoshotokan)     

Artikel ini dikutip dan diterjemahkan dari buku “Black Belt Karate - The Intensive Course” yang ditulis oleh Hirokazu Kanazawa dari bagian pendahuluan dengan judul aslinya “The Path That is Karate”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

PETUNJUK BERLATIH KARATE-DO (3)

Kelima, yang perlu kau ingat adalah kau harus senantiasa menghargai sopan santun, dan kau harus patuh serta hormat pada seniormu. Tidak ada seni bela diri manapun yang tidak memperhatikan pentingnya kesopanan dan tata krama.
   
Sopan santun dan sikap hormat tidak hanya terbatas di dojo saja. Adakah orang yang memberi hormat ketika di depan dojo tapi tidak melakukan hal yang sama ketika berjalan di samping sebuah kuil? Aku harap tidak. Hal yang sama, adakah orang yang bersedia mengikuti perintah seniornya di dojo tapi mengabaikan kata-kata dari ayah dan saudara-saudaranya yang lebih tua? Aku harap tidak. Jika benar ada orang semacam itu, maka dia tidak berhak untuk berlatih seni bela diri.
   
Di rumah seseorang wajib mendengarkan ayah dan saudara yang lebih tua. Di sekolah seseorang wajib mematuhi guru dan kakak kelasnya. Di ketentaraan seseorang wajib mengikuti perintah dari atasan dan perwira. Di tempat kerja seseorang berbuat  tidak bertentangan atau berlawanan dengan kata-kata dari seniornya. Karena itulah, ada nilai-nilai dari orang yang berlatih karate.  


Keenam, kau harus mengambil hal yang baik dan membuang hal yang buruk. Ketika kau mengamati latihan orang lain dan menemukan sesuatu yang harus kau pelajari, maka kuasailah tanpa keraguan. Jika kau melihat orang yang jatuh pada kemalasan, maka periksalah kembali dirimu. Saat kau melihat orang yang bagus tendangannya, maka tanyalah dirimu mengapa tendangannya begitu bagus. Bagaimana caranya kau bisa belajar tendangan seperti itu; mengapa tendanganmu berbeda?  

Dengan demikian, kau harusnya bisa menemukan cara untuk memperbaiki tendanganmu. Ketika kau melihat orang yang tidak meningkat kemampuannya, sekali lagi, tanyalah dirimu. Mungkin saja dia tidak cukup berlatih, atau mungkin dia tidak mempunyai tekad. Tanyalah dirimu, apakah benar hal itu juga terjadi padamu?

Sikap seperti ini tidak hanya berlaku untuk meningkatkan kemampuan teknik seseorang. Kita semua punya kelebihan dan kelemahan masing-masing. Jika kita tulus untuk memperbaiki diri sendiri, tiap orang yang kita temui bisa menjadi contoh dan cerminan. Sebuah pepatah lama berkata, “Sannin okonaeba kanarazu waga shi ari.“ (Ketika aku berjalan dengan dua orang, mereka akan bertindak seperti layaknya guruku. Aku akan mengambil hal yang baik dan mengikutinya, sedangkan hal yang buruk aku akan menjauhinya).


Ketujuh, pikirkan hidup sehari-hari sebagai berlatih karate. Jangan berpikir karate hanya dilakukan di dojo atau sebagai cara untuk bertarung saja. Semangat berlatih karate dan elemen  latihannya dapat diterapkan dalam hidup sehari-hari. Semangat lahir dan muncul dari gemeretak gigimu menahan hawa dingin dalam latihan di musim dingin, atau keringat yang menetes keluar dari kedua matamu saat latihan di musim panas bisa membantu dalam pekerjaanmu. Dan tubuh yang ditempa oleh pukulan, tendangan dan latihan yang terus-menerus tidak akan menyerah pada ujian yang sulit atau menyelesaikan pekerjaan yang menjengkelkan.

Orang yang semangat dan mentalnya telah diperkuat melawan sifat pantang menyerah, akan mudah menghadapi tantangan yang berat sekalipun. Orang yang selama bertahun-tahun merasakan fisiknya sakit and tekanan mental untuk belajar satu pukulan, satu tendangan akan mampu menghadapi tugas apapun hingga akhir, tidak peduli betapapun sulitnya. Orang seperti inilah yang benar-benar bisa dikatakan telah mempelajari karate (Indoshotokan). 
 
Artikel ini dikutip dan diterjemahkan dari buku “Karate-do Nyumon” yang ditulis oleh Gichin Funakoshi dari Bab VII dengan judul aslinya “Training Precepts of Karate-do”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

PETUNJUK BERLATIH KARATE-DO (2)

Ada juga cerita lain yang mengisahkan tentang seorang ahli Gidayu (admin: seniman syair Jepang).  Ketika masih pemula dia belajar melantunkan cerita narasi yang panjang. Dia mempunyai seorang guru yang keras, yang selama bertahun-tahun menolak mengajarinya baris sajak dari Taikoki, sebuah drama yang menceritakan kehidupan Toyotomi Hideyoshi. Ratusan kali dalam sehari, hari demi hari, sang murid harus melantunkan baris yang sama. Dan tiap kali gurunya hanya menjawab, “Masih belum cukup,” dia tidak akan mengijinkan sang murid melanjutkan ke bagian berikutnya.

Akhirnya, sang murid yang jengkel tadi merasa jika dia tidak cocok untuk pekerjaan itu dan kemudian di tengah malam dia melarikan diri demi mencoba hal lain yang lebih menyenangkan di ibu kota Shogun di Edo. Di tengah perjalanan dia menginap di Propinsi Suruga (sekarang Prefektur Shizuoka) dimana sekelompok penggemar Gidayu tengah menggelar kontes amatir. Merasa masih lekat dengan seni yang telah lama dipelajarinya, sang murid tadi tidak bisa menahan diri untuk bergabung. Walaupun orang asing, dia naik ke panggung dan melantunkan satu-satunya bait yang dia tahu dengan sepenuh hati.

Ketika sudah selesai dia didekati oleh orang tua yang mensponsori kontes itu. “ Sungguh, benar-benar indah.” Kata pria tua itu. “Saya ingin tahu nama asli Anda. Kecuali mata dan telingaku yang salah, Anda pastilah seorang master yang ternama.”
  
Si mantan murid tadi merasa bingung untuk menjawab pujian itu. Sambil menggaruk-garuk kepala dia berkata, “Saya tidak bisa menyembunyikan apapun, tapi peringkat saya masih pemula.  Saya akui jika saya bahkan tidak tahu baris sebelum dan sesudah yang baru saja saya lantunkan.” Orang tua tadi terlihat sangat terkejut. “Benarkah itu? Tapi keahlianmu setara dengan para master Bunraku. Siapa sebenarnya gurumu?”

Sang murid kemudian bercerita tentang latihannya yang sangat berat dan bagaimana dia akhirnya menyerah dan melarikan diri. Sambil menghela napas, orang tua itu berkata, “Anda telah membuat kesalahan besar. Justru karena Anda telah diberkati oleh seorang guru yang keras yang membuat Anda bisa belajar banyak hal dalam waktu yang begitu singkat. Dengarkan nasihatku: segeralah kembali pada gurumu, minta maaflah padanya dan lanjutkan pelajaranmu.”

Mendengar nasihat orang tua tadi, sang murid tiba-tiba menyadari kesalahannya dan kembali pada gurunya. Pada akhirnya dia menjadi seorang master dalam seni yang dipelajarinya. Kurasa cerita ini tidak lain tentang Master Koshiji, namun siapapun itu, banyak hal dalam cerita ini yang patut untuk direnungkan.

 
Keempat, jangan berpura-pura untuk menjadi seorang master hebat dan jangan coba-coba memamerkan kekuatanmu. Hal yang menggelikan jika kebanyakan orang yang berlatih seni bela diri merasa harus menunjukkan diri sebagai seorang seniman bela diri. Bayangkan seorang laki-laki yang bahunya diangkat tinggi-tinggi, sikunya mengayun, berjalan dengan sombong di jalanan seolah dialah pemiliknya, dengan ekspresi di wajahnya, “Akulah pahlawan terhebat yang pernah ada.”

Seandainya hal itu memang benar adanya, orang lain akan menghormatinya hanya sesaat. Dan tentu saja, dia bukanlah orang yang hebat kemampuannya melainkan hanya pahlawan palsu. Situasi seperti itu sangat konyol untuk diucapkan dengan kata-kata.
  
Seorang pemula biasanya cenderung ingin tampil lebih besar atau lebih superior. Dengan bertingkah laku seperti ini mereka sudah menurunkan dan merusak nama baik mereka yang serius berlatih seni bela diri. Kemudian ada juga mereka yang hanya tahu satu atau dua teknik karate, mengepalkan tinjunya sedemikian rupa demi menarik perhatian di tengah kerumunan orang untuk mencari keributan. Benar-benar sebuah kebodohan yang sulit untuk diungkapkan.

“Senyumnya bahkan bisa memenangkan hati anak-anak kecil; kemarahannya bisa membuat seekor harimau menunduk ketakutan.” Inilah gambaran singkat seorang ahli bela diri yang sejati. (Bersambung – Indoshotokan).

Artikel ini dikutip dan diterjemahkan dari buku “Karate-do Nyumon” yang ditulis oleh Gichin Funakoshi dari Bab VII dengan judul aslinya “Training Precepts of Karate-do”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.

PETUNJUK BERLATIH KARATE-DO (1)

Sebelum memulai hal teknis dalam karate, aku ingin memberikan petunjuk yang umum pada para pembaca tentang bagaimana cara untuk berlatih sekaligus menjelaskan tentang sikap yang harus dimiliki seseorang dalam berlatih karate.

Pertama, karena karate adalah sebuah seni bela diri, kau harus berlatih dengan sangat serius sejak dari awal. Hal ini berarti lebih dari sekedar patuh atau jujur dalam berlatih. Dalam setiap langkah, dalam setiap gerakan tanganmu, Kau harus membayangkan diri sendiri sedang menghadapi lawan dengan sebuah pedang terhunus.

Setiap dan masing-masing pukulan harus dilancarkan dengan seluruh tenaga dari tubuhmu, dengan keinginan mengalahkan lawanmu dengan satu serangan. Kau harus yakin bahwa jika pukulanmu itu gagal, Kau akan kehilangan nyawa. Pikirkan hal ini, maka tenaga dan pikiranmu akan terkonsentrasi dan semangat akan mencapai maksimal. Tidak masalah berapa lama waktu yang kau curahkan untuk berlatih, tidak masalah berapa bulan dan tahun berlalu, jika latihanmu tidak lebih dari hanya menggerakkan tangan dan kaki,  maka kau tidak ubahnya seperti belajar menari. Kau tidak akan mengetahui makna sesungguhnya dari karate.

Kau akan menemukan bahwa sikap serius dalam berlatih tidak hanya akan menguntungkan latihan karate, namun juga juga aspek lain dalam hidup. Hidup itu sendiri sama seperti sebuah pertarungan melawan pedang yang tajam. Dengan sikap yang meremehkan – seperti asumsi bahwa setelah kegagalanmu pasti masih ada kesempatan kedua – apa yang bisa kau capai dalam hidup lima puluh tahun yang singkat ini?


Kedua, cobalah untuk melakukan persis seperti yang diajarkan tanpa mengeluh atau mengomel. Hanya merekalah yang tidak punya semangat dan niat yang hanya mengomel. Seringkali omelan konyol mereka terdengar menyedihkan. Sebagai contoh, ketika mengajari kuda-kuda belakang, aku menemukan orang-orang yang dengan mudahnya berkata tidak mampu belajar kuda-kuda itu, seberapa keraspun mereka mencoba.

Mereka bertanya kepadaku apa yang harus mereka lakukan – setelah berlatih kurang dari satu jam! Bahkan jika seseorang terus melakukan kuda-kuda belakang setiap hari, berdiri sampai kakinya menjadi sekeras batu karang, hal itu butuh enam bulan sampai dengan satu tahun untuk mempelajarinya. Sangat konyol mengatakan, “Sekeras apapun aku mencoba,”  tanpa mengeluarkan setetespun keringat. Seorang biksu Zen yang mendengar hal ini bisa jadi akan berteriak, memarahi dan memukuli orang itu dengan tongkatnya.

Gichin Funakoshi (paling kiri) dalam sebuah sesi latihan di salah satu dojo universitas di tahun 1930-an.

Kau tidak bisa berlatih hanya dengan bicara.. Kau harus belajar melalui tubuhmu. Bertahan dari rasa sakit dan penderitaan ketika kau berusaha untuk disiplin dan membentuk dirimu. Kau harus percaya jika orang lain mampu, maka begitu pula dengan dirimu. Tanyalah pada dirimu sendiri, “Apa yang menghentikanku? Apakah aku membuat kesalahan? Apa ada yang kurang dengan caraku?” Inilah cara berlatih seni bela diri.

Hal penting yang diajarkan orang lain pada kita mungkin saja akan cepat dilupakan.  Tapi esensi dari pengetahuan yang diperoleh dari kerja keras dan penderitaan tidak akan pernah dilupakan.  Aku percaya itulah sebabnya para ahli bela diri jaman dulu akan memberikan penghargaan dan membuka rahasia teknik hanya pada murid terpilih yang berlatih keras dan disiplin, yang akan mengarahkan mereka pada semangat budo yang sebenarnya.


Ketiga, ketika kau belajar teknik yang baru, pelajarilah dengan sepenuh hati hingga kau benar-benar memahaminya. Jangan berharap mengerti banyak hal sekaligus hingga berlatih susah payah. Karate mempunyai banyak teknik dan kata. Jangan terjebak pada pola pikir karena banyak yang harus dipelajari, maka kau harus mempelajari seluruhnya dengan cepat dengan cara yang biasa.  Akan sangat tidak mungkin bagi orang yang tidak berpengalaman untuk mengetahui arti dari kata atau teknik didalamnya, dan kemudian menyatukan seluruhnya dalam ingatan.
 
Bagi orang seperti ini, kata tidak akan berarti apa-apa kecuali deretan teknik yang kacau. Belajar tiap teknik dan gerakan terpisah, maka dia akan gagal melihat hubungan antara kata dengan kata, dan bagaimana kata menyatukan teknik dan gerakan. Belajar satu hal, melupakan yang lain, hasil akhir yang didapatnya adalah kebingungan saja.

Seorang murid yang pandai meski hanya satu teknik saja akan mampu melihat hubungan dalam teknik yang lain. Pukulan sasaran atas, pukulan sasaran bawah, pukulan depan dan pukulan kebelakang pada intinya semua sama. Melihat pada tiga puluh jenis kata, dia akan mengetahui jika semua intinya adalah variasi dari satu bentuk yang sederhana.  Jika kau benar-benar mengerti sebuah teknik, kau hanya perlu mengamati bentuknya dan membandingkannya dengan yang lain.  Kau akan bisa memahaminya dalam waktu yang singkat. (Bersambung - Indoshotokan)

Artikel ini dikutip dan diterjemahkan dari buku “Karate-do Nyumon” yang ditulis oleh Gichin Funakoshi dari Bab VII dengan judul aslinya “Training Precepts of Karate-do”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.