KONTEN DILINDUNGI HAK CIPTA. DILARANG KERAS MENJIPLAK, MENGEDIT DAN MEMPERBANYAK SEBAGIAN ATAU SELURUH HALAMAN SITUS INI TANPA IJIN.

Cari Artikel

Showing posts with label PROFIL TOKOH. Show all posts
Showing posts with label PROFIL TOKOH. Show all posts

THE BULL FIGHTER: KISAH MASUTATSU OYAMA (3)

Bukan cuma belajar karate Shotokan dan mekanik pesawat terbang, Choi Young Eui juga mengambil nama Jepang untuk dirinya yaitu Masutatsu Oyama. Nama ini adalah alih bahasa Korea untuk “Baedal”, sebuah istana kuno di Korea. Nama Masutatsu Oyama sendiri berarti Gunung yang Besar. Tapi teman-temannya sering menyebutnya dengan Mas Oyama. Bukan tanpa alasan Choi Young Eui mengganti namanya. Bagi orang Jepang yang saat itu sedang ultra-nasionalis, mengetahui ada orang asing di wilayahnya adalah hal yang tidak nyaman.

Saat itu adalah sekitar tahun 1937 dan Jepang sedang berperang sengit melawan Tiongkok. Kebanyakan dojo karate milik Funakoshi tak ubahnya seperti kamp perang. Sebelumnya ada tiga dojo bela diri yang dilirik pemerintah; Goju-ryu, Shotokan dan Aikido. Pemerintah Jepang tertarik merekrut murid dari dojo milik Funakoshi karena dipandang lebih efektif di medan perang. Akibatnya latihan di dojo menjadi lebih keras dan melelahkan dari biasanya. Kumite dojo lebih condong ke bela diri yang kasar dan berdarah. Murid yang terpilih akan diberangkatkan sebagai prajurit. Oyama sebetulnya juga akan dikirim perang, tapi ternyata perang sudah lebih dulu berakhir tahun 1945.


MASA SULIT PASCA PERANG DUNIA II

Di masa-masa itulah Oyama bertemu dengan So Nei Chu, orang Korea lainnya yang juga tengah berada di Jepang. So Nei Chu adalah murid senior dari Chojun Miyagi, pendiri karate Goju-ryu. Lewat So Nei Chu, Oyama berkenalan dengan gaya Goju dan berlatih bersamanya beberapa tahun kemudian. Karena berasal dari propinsi yang sama, Oyama dan So Nei Chu berteman baik. Korea telah dikuasai oleh Jepang tahun 1910, dan pasca perang tahun 1945 kubu Korea Selatan dan Utara terlibat konflik ideologi. Oyama lalu bergabung dengan organisasi penyatuan Korea di Jepang. Tapi karena perbuatannya itu Oyama justru dihina dan menjadi target dari polisi Jepang karena dianggap mengikuti gerakan separatis.

Jepang yang kalah perang membuat wilayahnya dimasuki pasukan sekutu. Di Tokyo saat itu banyak polisi militer Amerika yang berseliweran disana-sini mencari wanita. Ada memang wanita yang sengaja menyerahkan dirinya pada pasukan penakluk itu. Tetapi sebagian besar sudah pasti menolak. Tidak jarang para pasukan sekutu itu menggoda dan mengganggu wanita. Jika Oyama kebetulan ada di tempat itu dia langsung menghajar mereka. Kemarahan Oyama juga dipicu kematian teman-temannya akibat perang. Bila dia sudah terjun dalam perkelahian, maka hanya polisi militer Jepang sajalah yang bisa melerainya.


Kadang-kadang pasukan sekutu yang lewat di sebuah kedai akan langsung mencomot makanan begitu saja tanpa membayar. Pemilik kedai terlalu takut untuk melawan. Di sebelah selatan Tokyo memang banyak kedai-kedai kecil dan Oyama sering terlihat disana di waktu malam. Walau pasukan sekutu itu membawa senjata api tapi tidak menggetarkan nyali Oyama. Manakala meletus kerusuhan, sudah pasti Oyama ada di tengah-tengahnya.

“Aku telah kehilangan begitu banyak teman selama perang. Di pagi hari saat mereka berangkat sebagai pilot Kamikaze (admin: bunuh diri), kami sarapan bersama dan di sore harinya bangku mereka telah kosong. Setelah perang berakhir, aku sangat marah. Karena itu aku berkelahi dengan pasukan Amerika sebanyak yang aku bisa, sampai fotoku ada di semua kantor polisi.”

Bagi sebagian orang, sosok Oyama adalah superman timur. Tapi bagi polisi dia tidak lebih dari sekedar pembuat onar. Beberapa teman Oyama yang masih hidup menasihatinya agar menyingkir saja dari kota itu jika masih ingin hidup lebih lama. Polisi yang sudah hafal dengannya selalu mempersulit urusannya. Belum lagi pasukan sekutu yang selalu mengincar dan ingin membunuhnya. Tubuh Oyama sudah banyak luka bekas sayatan pisau dan pedang Jepang hadiah dari perkelahian. Sudah tentu Oyama tidak ingin menambahnya dengan lubang dari peluru. Di tengah kebimbangan itu Oyama kembali pada gurunya, So Nei Chu. Oyama lalu dinasihati agar menyingkir untuk sementara waktu ke Yamanashi sampai semuanya kembali tenang. (Bersambung – Indoshotokan)

THE BULL FIGHTER: KISAH MASUTATSU OYAMA (2)

Tampaknya sudah tidak ada lagi pemuda yang berani melawan si raksasa itu. Dengan sombongnya laki-laki dari selatan itu tertawa lebar merayakan kemenangannya. Tidak disangka-sangka, Tuan Li dengan tenangnya melangkah maju ke arena. Sebagian penonton menahan napas karena melihat posturnya yang kecil, jelas tidak sebanding dengan lawannya. Sementara penonton lain mentertawakannya karena akan menjadi korban berikutnya.

Tanpa basa-basi raksasa dari selatan itu menubruk tubuh Tuan Li, berharap pertarungan akan berakhir singkat seperti lawan sebelumnya. Dengan sigap Tuan Li menghindar kesamping dan segera menyarangkan sebuah pukulan ke muka lawannya. Tampaknya pukulan itu cukup keras hingga membuat tubuhnya terhuyung-huyung. Hal ini membuat si raksasa terkejut dan kali ini dia lebih berhati-hati. Dengan perlahan-lahan, dia mencari celah untuk menyerang dan berpikir agar Tuan Li membayar pukulannya tadi.

Dalam sebuah serangan dia berhasil menangkap salah satu kaki Tuan Li. Banyak orang mengira duel akan segera usai, tapi ternyata mereka keliru. Dengan sigap Tuan Li menyarangkan lututnya yang bebas di alat vital si raksasa. Wajahnya terlihat kesakitan. Saat pegangan tangannya terlepas, sebuah pukulan deras kembali menghantam wajah si juara sombong itu. Dia tersungkur mencium tanah diikuti dengan salah satu giginya yang tanggal.

Walau begitu dia belum menyerah dan bangkit kembali dengan kemarahan tergambar jelas di wajahnya. Si raksasa tiba-tiba menyeruak maju dengan kedua tangannya berusaha meraih tubuh Tuan Li. Dalam gerakan yang sangat cepat Tuan Li menghindar, kemudian meraih salah satu lengan musuhnya dan langsung mematahkannya. Bahkan  penontonpun sulit mengikuti gerakannya dengan mata. Dan ketika mereka tersadar, raksasa juara itu sudah terkapar di tanah untuk kedua kalinya. Kali ini dia benar-benar kalah dan tidak bangun lagi. Para penonton berkerumun dan mencari tahu dari dekat apa yang sebenarnya terjadi. Sementara itu yang lain berusaha mencari Tuan Li, tapi dia sudah menghilang dari tempat itu.  

Melihat kehebatan Tuan Li membuat Choi Young Eui kagum padanya. Dia seakan menemukan figur pahlawan yang baru. Karena itulah dia setiap hari merajuk pada Tuan Li agar diajari gaya berkelahinya. Dan bisa ditebak, Tuan Li menolaknya. Menurutnya Choi Young Eui yang berumur sembilan tahun masih terlalu kecil untuk belajar bela diri. Akan tetapi Choi Young Eui tidak putus asa dan selalu mendesaknya. Akhirnya Tuan Li luluh juga dan bersedia menerima si anak bandel menjadi muridnya. Begitulah, setiap sore Choi Young Eui berlatih Chabee bersama Tuan Li. Chabee adalah bela diri campuran antara tinju Tiongkok dan Korea.

Tidak terasa empat tahun sudah Oyama berlatih. Pada usia 13 tahun dia terpaksa harus pergi ke rumah bibinya di Seoul demi melanjutkan sekolah di ibu kota. Masalah barupun muncul ketika Choi Young Eui sering terlibat perkelahian dengan anak-anak nakal di jalanan. Ayahnya yang biasanya sabarpun dibuat marah bukan kepalang akibat ulahnya itu. Tidak cukup sampai disitu, polisi di ibu kotapun sering dipusingkan dengan kenakalannya. Karena itulah setahun kemudian dia memutuskan pergi ke Jepang untuk masuk ke sekolah penerbangan di Yamanashi. Choi Young Eui ingin menjadi pahlawan sebenarnya dengan menjadi pilot pesawat tempur pertama dari Korea.


BERKENALAN DENGAN KARATE JEPANG

Ketika di Yamanashi, Oyama mulai belajar karate Shotokan. Sepertinya karate begitu menarik baginya, hingga dua tahun berlatih rasanya tidak cukup. Dia lalu melanjutkan latihannya di Universitas Takushoku di Tokyo. Walaupun universitas itu dianggap sebagai yang terkuat dalam hal bela diri, tampaknya judo lebih menonjol. Oyama kemudian pindah ke dojo Shotokan di Meijiro. Di sana, dua jam setiap harinya Oyama berlatih karate dibawah Gichin Funakoshi, sang Bapak Karate Jepang yang dibantu oleh anak laki-lakinya yaitu Yoshitaka. (Bersambung – Indoshotokan)

THE BULL FIGHTER: KISAH MASUTATSU OYAMA (1)


Di sebuah malam yang panas dan pengap di kota Bangkok penonton sudah berdesakan di pinggir ring tinju. Masyarakat lokal sudah tidak sabar ingin melihat jagoan kebanggaan mereka, Black Cobra, si petarung kick boxer. Lawan Black Cobra adalah seorang karateka Jepang yang sengaja datang ke Thailand. Penonton kian ribut dan mencemooh kala melihat pemuda Jepang itu tampil dan berjalan dengan tenangnya. Sebelumnya Black Cobra berhasil merobohkan seorang karateka Jepang dalam sebuah duel. Melihat lawannya kali ini kembali seorang karateka, membuatnya berpikir duel ini hasilnya akan sama saja. Nama besar karate Jepang tampaknya akan kembali terpuruk di ring tinju.

Gong ronde pertama ditabuh. Kedua petarung keluar dari sudut dan mulai berkeliling sambil menyiapkan serangan. Saat pemuda Jepang itu berkonsentrasi mencari celah, tiba-tiba sebuah tendangan meluncur deras dari Black Cobra. Mendapat serangan mendadak, si pemuda Jepang tadi roboh dan penontonpun bersorak sorai. Wasit yang sigap segera memberikan sepuluh hitungan. Tapi alangkah terkejutnya orang-orang melihat pemuda Jepang itu bangkit kembali diatas kakinya yang goyah. Memang luar biasa tendangan Black Cobra tadi dan nama besarnya bukan isapan jempol. Pemuda Jepang itu kembali bersiap dan kali ini serangan Black Cobra tidak akan bisa menjatuhkannya.

Sobat Indoshotokan pastinya sudah pernah mendengar nama Masutatsu Oyama, bukan? Benar, sebagai salah satu maestro karate, Oyama adalah pionir dari full contact karate. Sebuah gaya karate yang mengijinkan praktisinya melancarkan serangan sekerasnya sampai mengenai lawan. Sebagai seorang Korea yang banyak menghabiskan hidupnya di Jepang, perjalanan hidup Oyama sungguh tidak mulus. Kehidupan pasca perang, ekonomi yang sulit, dan ancaman pembunuhan dari musuhnya kerap mengancam nyawa Oyama. Bagaimana perjalanan hidupnya dalam mencari pencerahan, pastinya sobat Indoshotokan penasaran, bukan? Silahkan simak terus artikel ini.


GURU YANG PERTAMA

Masutatsu Oyama, atau sering disebut Mas Oyama, lahir tanggal 27 Juli 1923 di sebuah desa di Gimje, yang jauhnya sekitar 180 mil barat daya Seoul. Terlahir dengan nama Choi Young Eui, dia adalah anak keempat dari tujuh bersaudara. Choi Young Eui terbilang beruntung dibanding anak-anak Korea lainnya karena ayahnya adalah tuan tanah yang kaya dan belakangan berhasil menjadi walikota.

Setiap hari Choi Young Eui harus pergi ke sekolah yang jaraknya lumayan jauh. Enam mil harus melewati sebuah bukit dengan jalanan yang sempit dan kotor. Di sekolah dasar tempatnya bersekolah kira-kira ada 400 anak yang hadir setiap harinya. Tapi Choi Young Eui bukanlah tipe kutu buku karena dia lebih suka berenang, memancing, dan mendaki gunung bersama teman-temannya. Dia tidak begitu suka dengan kehidupan sekolah. Sebaliknya, dia lebih bersemangat dengan sepak bola dan lintas alam.

Banyak orang yang bekerja sebagai buruh pada keluarga Choi Young Eui. Salah satunya adalah Tuan Li (sumber lain menyebutnya Yi). Tidak ada yang tahu nama lengkapnya. Tuan Li adalah seorang petani berdarah campuran setengah Korea dan Tiongkok. Tubuhnya kecil dan usianya sudah agak tua, kira-kira 40 tahun-an. Sosoknya sangat tenang dan tidak banyak bicara. Namun di mata Choi Young Eui yang saat itu berumur sembilan tahun, ada sesuatu yang menarik dalam diri Tuan Li.

Di Korea saat itu ada sebuah tradisi yaitu pertandingan gulat. Acara itu digelar setiap musim panas setelah para petani selesai menggarap lahan pertanian di musim gugur. Begitu juga dengan tahun ini dimana para lelaki kuat dari seantero negeri berbondong-bondong ke Gimje untuk memperebutkan gelar jawara untuk satu tahun. Gulat Korea ini hampir mirip dengan sumo Jepang, hanya saja pesertanya menggunakan cara memegang lawan yang berbeda.

Beberapa tahun belakangan ini pertandingan gulat selalu dijuarai oleh orang dari selatan. Tubuhnya yang besar layaknya raksasa membuatnya selalu mendominasi pertandingan. Kekuatannya yang luar biasa sanggup melibas peserta lain dengan mudahnya. Tampaknya dia akan menjadi juara lagi tahun ini. Ketika sudah tidak ada lagi pegulat yang sanggup menghalanginya, orang selatan itu mulai sombong. Dia menantang semua pemuda yang ada dihadapannya. Ketika dia menunjuk beberapa pemuda untuk melawannya, mereka segera mundur menyembunyikan dirinya di belakang orang lain. “Apakah di desa ini sudah tidak ada lagi laki-laki tangguh untuk melawanku?” (Bersambung – Indoshotokan)

SANG GURU: KISAH ANKOH AZATO (4 - FINAL)

DUEL ANTAR AHLI PEDANG

Di masa itu masih ada ahli bela diri lain dengan kemampuan yang sepadan dengan Azato. Yoshin Kanna adalah laki-laki terpelajar tapi juga piawai ilmu bela diri. Bahkan Kanna juga menguasai ilmu pedang layaknya Azato. Semangat bertarung dan keberaniannya sudah tersohor dimana-mana. Karena banyak kemiripan, tidak heran jika banyak orang lantas membandingkan keduanya.

Dalam budaya lama Okinawa orang seperti Azato dan Kanna disebut dengan “bun bu ryo do.” Artinya agar pantas disebut sebagai ahli bela diri maka kekuatan harus didukung kecerdasan. Perbedaan Kanna dan Azato hanya pada ukuran tubuhnya. Kanna  lebih menonjol karena bahunya lebih besar dari orang Okinawa umumnya. Selain itu otot leher dan lengannya terlihat kekar sebagai bukti kesungguhannya dalam ilmu bela diri.

Kabar kehebatan ilmu pedang Azato akhirnya sampai juga ke telinga Kanna. Yakin dengan kemampuannya, Kanna menantang Azato dalam sebuah duel. Menurutnya dengan mengalahkan Azato maka reputasinya akan meningkat. Azato yang memang gemar ilmu pedang memenuhi tantangan itu. Tapi yang mengejutkan, walau musuhnya menantang dengan pedang, Azato memilih menghadapi dengan tangan kosong. Melihat Azato tidak mengeluarkan senjata tidak menyurutkan niat Kanna. Dia akan membuat Azato menyesal karena sudah meremehkannya.

Dengan sigap Kanna menyerang Azato dengan beberapa sabetan teknik pedangnya. Walau diserang berkali-kali Azato tetap tenang sambil menghindar dan membaca gerakan lawannya. Ketika sudah cukup bagi Azato melihat teknik musuh, tanpa basa-basi dia membanting Kanna dengan gerakan yang cepat. Ketika lawan telah roboh barulah Azato mencabut pedang miliknya dan membuat lawan tidak bergerak.

Kalah dari Azato agaknya tidak membuat Kanna merasa jera. Rasa penasaran membuatnya ingin kembali menantang Azato. Tapi sebanyak itu Kanna menantang Azato dan sebanyak itu pula dia selalu kalah. Azato tampaknya tidak begitu terkejut dengan keberhasilannya mengalahkan Kanna berkali-kali. Menurut Azato kekalahan itu karena musuhnya terlalu percaya diri. Merasa hebat, Kanna tidak mau mengambil pelajaran. Lebih jauh Azato menegaskan bahwa untuk menang, seorang petarung harus mengenali diri sendiri dan juga lawan.

Bagi Azato tujuan ilmu bela diri yang sebenarnya adalah membangun tubuh, jiwa, pikiran dan semangat yang sama baiknya. Walau kehebatannya sudah tidak diragukan lagi, Azato senantiasa mengingatkan Funakoshi agar tidak sembarangan mengeluarkan teknik kecuali memang terdesak. Azato mengingatkan lewat nasihatnya yang terkenal, “hito no te ashi wo ken to omoe” yang berarti, “pikirkan bahwa kedua tangan dan kakimu adalah pedang yang tajam.” Oleh Funakoshi nasihat itu diabadikan dalam salah satu Shoto Niju Kun.

Di usia tuanya Azato masih mempunyai sebuah keinginan. Dia ingin menulis sebuah buku tentang bela diri setelah pensiun sebagai pejabat pemerintah. Buku itu rencananya berisi petunjuk berlatih tode dari pengalamannya selama ini. Tidak banyak yang tahu jika Azato memang gemar menulis di masa mudanya. Di setiap akhir tulisannya Azato selalu membubuhkan tanda tangan “Rinkakusai”. Sebuah kebiasaan yang kemudian diikuti oleh Funakoshi yang selalu membubuhkan tanda tangan “Shoto” di akhir puisi karangannya.

Sayang sekali, niat Azato untuk menulis buku tidak sempat terlaksana karena tahun 1906 kematian telah menjemputnya. Walau Okinawa kehilangan salah satu legenda terbaiknya, namun cita-citanya masih hidup hingga kini. Adalah Gichin Funakoshi, sebagai murid satu-satunya yang mendirikan Shotokan yang dipengaruhi Shorei-ryu dan Shorin-ryu sebagai bukti teknik Azato ada di dalamnya. (Indoshotokan)

SANG GURU: KISAH ANKOH AZATO (3)

SANG POLITIKUS PEMBAWA PERUBAHAN

Sebagai salah satu ahli bela diri terbaik di Okinawa, Azato ternyata juga seorang politikus handal. Ilmu politik dipelajari Azato karena kedekatannya dengan politikus ternama yaitu Seiei Ishado. Perkenalan dengan Ishado juga membuka jalan Azato untuk lebih dekat dengan para pejabat pemerintahan. Karena dasarnya memang orang yang cerdas, Azato cepat belajar. Tidak butuh waktu lama baginya untuk menjadi politikus yang sejajar dengan Ishado. Ini adalah hal yang cukup langka karena saat itu sangat jarang seorang ahli bela diri yang masuk ke dunia politik.

Dalam karir politiknya Azato banyak memberi masukan pada pemerintah Okinawa. Saat Jepang berada dalam masa restorasi, Pemerintah Meiji banyak membangun jalan kereta api sebagai upaya modernisasi. Rel kereta api juga dipandang sebagai sebuah kebanggaan bagi pemerintahan saat itu karena mensejajarkan Jepang dengan negara barat. Funakoshi ingat Azato berkata padanya jika jalan lintas kereta api Siberia selesai dikerjakan, maka perang Rusia dan Jepang tidak bisa dihindari. Benar saja, tahun 1904 – 1905 perang besar antara dua negara itu terjadi dan dimenangkan oleh Jepang. Apa yang dikatakan Azato itu tidak berlebihan karena hanya berdasarkan ketajaman ilmu politiknya.

Restorasi Meiji yang disuarakan pemerintah Jepang di tahun 1868 membawa perubahan baru dalam masyarakat karena mengadopsi budaya barat. Sebagai langkah awal modernisasi budaya masa lalu yang dianggap kuno mulai dihapuskan. Akibatnya terjadilah kehebohan luar biasa baik di Jepang daratan maupun Okinawa. Salah satu kontroversi yang terkenal dalam sejarah adalah dihapuskannya “chonmage”. Model rambut ikat untuk laki-laki yang populer di jaman Edo itu menunjukkan kelas seseorang dan biasanya berhubungan dengan samurai.

Begitu dahsyatnya kontroversi dihapusnya chonmage hingga membuat masyarakat Okinawa terpecah menjadi dua golongan. Kelompok pertama yang mewakili para penentang mayoritas berasal dari golongan Shizoku yang sekelas bangsawan atau pejabat. Karena mereka mempunyai hak khusus yang menguntungkan, sudah jelas mereka menolak penghapusan. Jika aturan baru diberlakukan, mereka akan sama statusnya dengan rakyat biasa dan kehilangan hak khusus. Kelompok kedua adalah Kaika-to (berarti pencerahan) yang didukung golongan Heimin yang mayoritas berasal dari rakyat biasa. Kelompok ini mendukung aturan baru dan mendesak Menteri Pendidikan Jepang untuk menghapus chonmage selamanya.

Menteri Pendidikan berusaha menangani konflik itu namun tidak berhasil. Ternyata sangat sulit mengatasi masalah yang berhubungan dengan tradisi yang sudah berakar kuat. Dalam perkembangan selanjutnya konflik itu berimbas pada keadaan sosial masyarakat. Saat itu orang bisa ditolak bekerja di kantor pemerintah jika diketahui masih mempertahankan chonmage. Yang paling dirugikan adalah anak-anak Okinawa yang dilarang masuk ke sekolah dasar hanya karena chonmage.

Melihat situasi yang kian panas, Raja Okinawa meminta bantuan Azato dan Ishado. Mereka berperan sebagai penasihat politik raja yang membahas imbas dari kebijakan Restorasi Meiji. Azato ditunjuk sebagai penasihat karena peran pentingnya di Kodokai (sekarang menjadi lembaga parlemen). Salah satu keputusan Kodokai adalah mereka mendukung penghapusan chonmage. Tanpa peran Azato mustahil Kodokai mengeluarkan kebijakan yang seberani itu. Tidak hanya itu, jiwa pembaharu Azato diperlihatkan dengan keberaniannya memotong chonmage miliknya sendiri.

Tidak hanya masyarakat Okinawa, rekan politik Azato juga tak kalah kaget melihatnya. Seakan tidak mungkin melihat Azato sebagai golongan Shizoku berbuat senekad itu. Sebaliknya, meski sadar statusnya akan sama seperti orang biasa, Azato tampak tidak begitu mempersoalkannya. Bagi Azato perubahan pada kemajuan lebih penting ketimbang mempertahankan beberapa helai rambut. Lebih jauh Azato ingin menunjukkan bahwa sebuah negara rakyatnya tidak akan berubah manakala pemimpinnya tidak memberi contoh yang baik. Itulah sebabnya Azato memotong chonmage-nya berharap agar diikuti bangsawan Okinawa lainnya. Berkat aksinya yang pro rakyat itu membuat Azato dianggap sebagai figur pahlawan. (Bersambung – Indoshotokan)

SANG GURU: KISAH ANKOH AZATO (2)


Berhasil menimba ilmu dari Sokon Matsumura tidak lantas membuat Azato berpuas diri. Karena itulah Azato lalu memasang banyak peralatan bela diri di rumahnya. Funakoshi yang pernah berkunjung ke rumahnya menceritakan jika rumah Azato yang besar itu tak ubahnya seperti pusat latihan bela diri daripada tempat tinggal. Makiwara (sasaran pukulan dari kayu) dengan beragam bentuk terlihat di tiap sudut rumah. Ada juga boneka kayu yang biasa digunakan ahli bela diri Tiongkok. Di ruangan lain ada pedang lengkap dengan perisainya yang siap digunakan kapan saja. Alat latihan beban dari batu juga melengkapi koleksinya. Tapi yang paling menarik perhatian adalah replika kuda dari kayu untuk latihan memanah.

Melihat semua itu orang bisa saja menilai Azato terlalu berlebihan. Peralatan yang serba lengkap itu tentu saja mahal dan belum tentu semua ahli bela diri Okinawa bisa menyediakannya. Karena berasal dari keluarga terpandang, bukan hal aneh jika Azato bisa mendapatkannya. Tapi tujuan Azato yang sebenarnya adalah agar dia berlatih dimana saja dan kapan saja.

Rumah besar Azato itu agaknya juga tidak luput dari perhatian pencuri. Suatu malam seorang pencuri mengendap-endap masuk ke rumah Azato. Andai si pencuri tahu jika rumah yang dimasukinya itu milik seorang ahli bela diri mungkin dia akan mengurungkan niatnya. Azato yang sudah terlelap tiba-tiba bangun karena mendengar suara yang mencurigakan di ruangan sebelah. Sadar ada tamu tidak diundang, Azato bangun sambil menyiapkan diri.

Di satu sudut ruangan yang gelap Azato akhirnya berhasil menemukan sang pengganggu dan berusaha menangkapnya. Karena ketahuan oleh pemilik rumah, pencuri itu mengurungkan niatnya mengambil harta benda dan melarikan diri. Pencuri itu ternyata bertubuh kerdil tapi licin bagai belut. Dengan lincah dia bergerak kesana kemari menghindari tangkapan Azato. Setelah berhasil merepotkan si empunya rumah akhirnya dia berhasil kabur lewat atap rumah. Beberapa perabot rumahpun pecah akibat ulahnya. Meski kesal dan tidak percaya, Azato yakin jika orang itu tidak sekedar ingin mencuri tapi juga ingin menguji kemampuannya.


AHLI PEDANG DAN MEMANAH

Tidak berhenti sampai ilmu tangan kosong saja, Azato terus mengembangkan kemampuannya dengan ilmu-ilmu baru. Karena itu dia lalu belajar kenjutsu (ilmu pedang) pada Yashichiro Ishuin, seorang ahli pedang dari Jigen-ryu. Konon Jigen-ryu adalah teknik pedang yang digunakan kelompok Samurai Satsuma yang pernah menduduki Okinawa.

Yang jelas Azato tampak sangat puas dengan ilmu pedangnya itu. Funakoshi pernah bercerita jika Azato memang suka dengan tode, tapi ilmu pedang adalah hasrat terbesarnya. Sejak belajar Jigen-ryu Azato mengatakan selalu siap jika harus menghadapi lawan kapanpun dan dimanapun. Apa yang dikatakan Azato itu bukan bermaksud menyombongkan diri karena itu semua hanyalah keyakinannya semata. Dan itu bukanlah omong kosong karena kelak dia akan membuktikan sendiri perkataannya. 

Setelah mahir tode dan kenjutsu Azato masih ingin menambah keahliannya dengan belajar kyujutsu (ilmu memanah). Untuk itu dia lalu mendatangi ahli memanah terbaik saat itu yang bernama Sekiguchi. Di luar semua kepiawaiannya Azato ternyata juga mahir menunggang kuda. Ketika seorang ahli berkuda bernama Megata sedang memberi pelatihan bagi pasukan Kaisar Meiji, Azato berniat menemuinya. Kabarnya Megata mempunyai teknik berkuda yang unik karena belajar pada orang barat.

Sesampainya disana Azato tidak langsung memperkenalkan diri. Dari kejauhan dia mengamati Megata yang sedang memberikan instruksi pada murid-muridnya. Megata tampaknya sudah tahu sedang diperhatikan oleh Azato. Dia lalu mendekati Azato dengan dalih minta bantuan untuk mencoba pelana barunya. Permintaan itu sebetulnya hanya basa-basi saja karena Megata ingin melihat kebolehan Azato. Walau sempat menolak, setelah dibujuk Megata dan muridnya akhirnya Azato menerima permintaan itu. Demonstrasi berkuda dari Azato mendapat tepuk tangan dan pujian dari Megata dan murid-muridnya. (Bersambung - Indoshotokan)

SANG GURU: KISAH ANKOH AZATO (1)

Beberapa waktu yang lalu Indoshotokan telah mengupas kisah tokoh karate Okinawa yaitu Ankoh Itosu. Ada satu lagi legenda karate yang sering disebut namanya, tapi sangat sedikit orang yang tahu kisahnya. Orang itu tidak lain adalah Yasutsune Azato yang merupakan kawan dari Itosu sekaligus pasangan emas dalam sejarah karate Okinawa. Azato juga diakui sebagai salah satu ahli karate setelah era Sokon Matsumura berakhir. Sebagai buktinya, Azato juga diberi gelar “Bushi” yang menunjukkan ketangguhannya.

Selain ahli bela diri, Azato juga dikenal sebagai seorang politikus handal. Perannya yang besar dalam sejarah Okinawa tampak saat pergolakan akibat Restorasi Meiji. Sifat Azato yang mengutamakan kalangan akar rumput membuatnya begitu dihormati. Sayangnya tulisan yang menjelaskan figur Azato nyaris tidak ada. Apalagi untuk lukisan, gambar atau foto yang menerangkan sosoknya juga tidak pernah ditemukan. Sehingga petunjuk terbesar berasal dari kisah murid satu-satunya, yaitu Gichin Funakoshi.


SI BOCAH AJAIB

Yasutsune Azato, kadang disebut Ankoh Azato atau yang lainnya Anko Asato, lahir tahun 1827 di sebuah desa yang letaknya antara Shuri dan Naha. Keluarga Azato masih termasuk dalam golongan Tonichi, yaitu satu dari golongan Shizoku yang sekelas dengan bangsawan. Saat itu Tonochi juga menjabat sebagai pemimpin wilayah sebuah desa atau kota kecil.

Sejak anak-anak Azato sudah terkenal berkat kepandaiannya hingga dijuluki si bocah ajaib. Bukan hanya teman-temannya, bahkan gurunya sendiri juga kagum padanya. Ini sebetulnya tidak mengejutkan karena orang tua Azato berasal dari kalangan mampu yang bisa memberi pendidikan yang cukup. Banyak buku dari Tiongkok yang sengaja disediakan orang tuanya untuk mendukung pendidikan Azato. Biaya yang dibutuhkan jelas tidak sedikit dan hanya segelintir masyarakat Okinawa yang bisa melakukannya.   

Karena kecerdasannya itu Azato menerima beasiswa dari sekolahnya. Yang mengagumkan, biarpun sudah lulus dari sekolahnya Azato tetap gemar membaca. Azato memang tipikal anak yang suka belajar hal-hal baru. Tapi minat terbesar tampak pada bela diri dan filsafat Tiongkok. Ini bisa dilihat dari kebiasaannya membaca buku Tiongkok klasik seperti “Seni Perang” karya Sun Tzu, “Enam Taktik Perang” karya Lao Tsu, dan sederet buku filsafat lainnya.   

Tidak hanya otaknya yang cerdas, Azato juga mempunyai tubuh yang kuat. Ketika remaja Azato sudah mendemonstrasikan kekuatannya dalam sebuah “ujian”. Dalam buku “Karate-do Tanpeshu” Funakoshi menceritakan Azato harus berjalan kaki dari Kyozuka menuju rumahnya yang berjarak sekitar empat kilometer. Bukan cuma berjalan kaki, karena Azato harus memikul dua batu besar seberat masing-masing 30 kg di pundaknya. Masyarakat Okinawa saat itu memang mempunyai tradisi yang unik yaitu menguji fisik anak laki-laki yang akan beranjak dewasa.


BERLATIH DENGAN SOKON MATSUMURA

Pada masa itu Sokon Matsumura adalah ahli bela diri terbaik di Okinawa. Karena itu wajar jika banyak pemuda yang bermimpi bisa menjadi muridnya. Tapi tidak semuanya beruntung karena sang guru selalu memilih calon muridnya. Kenyataan ini bertolak belakang dengan jaman sekarang dimana orang bisa dengan bebas memilih bela diri manapun yang disukainya. Apa yang terjadi di Okinawa saat itu menyiratkan pesan bahwa sebuah bela diri layaknya sebilah pedang. Tidak sembarang orang boleh menguasainya, karena jika tidak justru membawa malapetaka.

Takdir sepertinya telah mempertemukan Azato dan Matsumura. Setelah mengamati dengan teliti, Matsumura bersedia menerima Azato. Tidak hanya itu, Azato juga bertemu dengan Itosu yang kelak menjadi teman terbaiknya. Setelah menjadi murid sang legenda, tiada hari dilewati Azato dan Itosu tanpa latihan berat. Funakoshi menceritakan jika keduanya harus bangun sebelum fajar dan baru berhenti latihan ketika matahari sudah tinggi. Yang mengagumkan, walau ditempa dalam keadaan seperti itu, Azato tidak pernah mengeluh dan menjalaninya dengan sabar. (Bersambung – Indoshotokan)

SANG GURU: KISAH ANKOH ITOSU (6 - FINAL)


Sukses mengangkat tode ke permukaan membuat Itosu mempunyai cita-cita yang lebih besar. Itosu berinisiatif memperkenalkan tode pada masyarakat Jepang. Memanfaatkan posisinya sebagai Sekretaris Raja Okinawa, di bulan Oktober 1908 Itosu mengirim sepucuk surat bertajuk “Tode Jukun” pada Menteri Pendidikan dan Menteri Pertahanan di Jepang. Tode Jukun yang berarti 10 Petunjuk Berlatih Tode pada pokoknya menjelaskan karakter, petunjuk latihan dan manfaat dari karate.

Terjemahan dari Tode Jukun adalah sebagai berikut:
  • Tode tidak dikembangkan dari Budhisme dan Konfusianisme. Di masa lalu Perguruan Shorei dan Shorin dibawa dari Cina ke Okinawa. Kedua perguruan ini mempunyai nilai-nilai yang kuat yang sekarang akan kusebutkan sebelum terlalu banyak perubahan.
  • Tode dilatih tidak hanya demi keuntungan seseorang semata; tode bisa digunakan untuk menjaga keluarga atau majikan seseorang. Tode tidak ditujukan untuk melawan seseorang, tapi sebagai cara untuk menghindari pertarungan ketika seseorang harus menghadapi musuh atau penjahat.
  • Tujuan tode adalah membentuk tulang dan otot sekeras batu, dan menggunakan tangan dan kaki setajam tombak. Jika anak-anak sudah berlatih Tang Te (Teknik Cina) sejak di sekolah dasar, kelak mereka akan layak bertugas di militer. Ingatlah kutipan yang ditujukan pada Duke of Wellington setelah dia mengalahkan Napoleon; “Pertempuran di Waterloo telah dimenangkan sejak dari Eton”
(Admin: Ini adalah sebuah kutipan populer yang menyindir kekalahan Napoleon di Waterloo. Tidak seperti kakaknya yang pandai, Wellington bukanlah pelajar yang sukses di Eton. Satu-satunya kegiatan yang sering dilakukannya saat disana hanyalah melompati sungai dan berkelahi dengan temannya. Wellington mungkin bukan ahli siasat seperti Napoleon, tapi kekuatan fisiknya telah mengantarkannya pada kemenangan).
  • Tode tidak bisa dipelajari dengan cepat. Seperti seekor lembu yang berjalan lambat namun akhirnya bisa mencapai jarak yang jauh. Jika setiap hari orang berlatih dengan tekun, maka dalam tiga atau empat tahun dia akan memahami karate. Mereka yang berlatih dengan cara seperti ini akan menemukan karate.
  • Dalam tode sangat penting melatih tangan dan kaki, karena itu seseorang harus berlatih menggunakan makiwara. Untuk melakukannya turunkan bahumu, buka paru-parumu, tahan kekuatanmu, berpijak dengan kakimu dan salurkan tenaga ke bagian bawah perut. Berlatih setiap hari dengan masing-masing lengan seratus hingga dua ratus kali. 
  • Ketika berlatih Tang Te pastikan punggungmu tegap, bahu lebih rendah, tempatkan kekuatan di kaki, berdirilah dengan yakin dan posisikan tenaga dibawah perut.
  • Latihlah masing-masing teknik tode berulang kali, berikut aplikasinya seperti yang sudah dijelaskan jauh sebelumnya. Pelajari penjelasannya dengan baik, dan putuskan kapan dan dalam kondisi apa menggunakannya saat diperlukan. Menyerang, bertahan dan melepas adalah teknik dalam torite.
  • Kau harus memilih apakah tode demi kesehatanmu ataukah demi membantu tugasmu.
  • Saat kau berlatih kerjakan seolah ditengah medan perang. Matamu harus terbuka lebar, rendahkan bahu dan keraskan tubuh. Kau harus berlatih dengan semangat dan terus-menerus. Dengan cara ini kau akan senantiasa siap.  
  • Jangan berlatih berlebihan. Ini akan membuat kau kehilangan tenaga di bawah perut dan akan membahayakan tubuhmu. Wajah dan matamu akan memerah. Berlatihlah dengan bijak.
  • Di masa lalu para ahli tode berumur panjang. Tode membantu mengembangkan tulang dan otot. Tode membantu sirkulasi dan pencernaan. Jika tode diperkenalkan sejak awal ke sekolah dasar, maka kita bisa menghasilkan orang yang masing-masing dari mereka sanggup mengalahkan sepuluh penyerang. Lebih jauh aku percaya ini bisa dilakukan dengan mewajibkan semua murid di Sekolah Keguruan Okinawa berlatih tode. Dengan cara ini setelah lulus mereka bisa mengajar di sekolah dasar apa yang telah mereka pelajari. Aku yakin ini akan menjadi keuntungan besar untuk militer dan negara kita. Adalah harapanku jika Anda akan benar-benar mempertimbangkan saranku.

Surat Itosu membawa pengaruh yang besar dalam dunia karate. Sejak itu beberapa utusan pejabat dan angkatan perang Jepang datang ke Okinawa. Sebagian besar dari mereka adalah perwira yang ingin menyaksikan tode dari dekat. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang menetap untuk sementara untuk berlatih tode.

Tanggal 26 Januari 1915 menjadi hari yang menyedihkan bagi dunia karate Okinawa. Yasutsune Itosu yang legendaris meninggal dalam usia 85 tahun. Itosu meninggalkan banyak murid yang juga menjadi tokoh penting dalam dunia karate (terutama Shorin-ryu). Adalah Gichin Funakoshi, salah satu murid terbaiknya yang meneruskan mimpi Itosu membawa karate ke Jepang untuk pertama kalinya di tahun 1917. Funakoshi diundang dalam festival bela diri di Kyoto, sebuah acara yang menjadi awal perjuangannya di Jepang. (Tamat – Indoshotokan)

SANG GURU: KISAH ANKOH ITOSU (5)

Sementara itu seorang sejarawan dan instruktur karate senior bernama Hiroshi Kinjo menjelaskan hal yang berbeda. Dalam artikelnya di majalah Gekkan Karate-do yang muncul tahun 1950-an Kinjo menulis jika Pinan aslinya bernama Channan, namun dengan sedikit perbedaan teknik. Diluar banyaknya teori yang berkembang, Kata Channan diyakini berhubungan dengan Pinan. Sayangnya Channan sudah sangat langka dan kemungkinan besar tidak ada lagi yang mengetahui bentuk aslinya.

Bagi masyarakat Okinawa selama ini tode terkenal sebagai teknik untuk membunuh orang saja. Jiwa pembaharu Itosu ingin menghapus pandangan buruk ini. Itosu juga ingin menunjukkan manfaat membangun kepribadian dan karakter didalamnya. Namun ini bukan perkara mudah karena pola pikir masyarakat sudah tertanam kuat dan terlanjur menganggapnya demikian.

Kesempatan bagi Itosu baru datang tahun 1892 saat pejabat pendidikan Jepang bernama Shintaro Ogawa datang ke Okinawa. Ogawa saat itu tengah hadir dalam pertemuan para kepala sekolah di Okinawa. Nama Itosu disebut dalam acara itu dan membuat Ogawa ingin melihat kebolehannya. Undanganpun dikirimkan, dan oleh Itosu ditanggapi dengan membawa beberapa murid terbaiknya untuk membawakan acara demonstrasi. Eksibisi itu berjalan singkat tapi sukses.

Itosu berhasil meyakinkan para pejabat akan manfaat lain dari tode. Sekembalinya ke Jepang Ogawa melaporkan hasil pertemuannya kepada Menteri Pendidikan Jepang. Ogawa juga mengajukan permohonan agar tode dimasukkan sebagai materi pelajaran bagi seluruh murid di sekolah Okinawa. Menteri Pendidikan menerima usulan itu dan sejak itulah tode menjadi bagian dari pelajaran pendidikan jasmani.

Tahun 1901 Itosu dipilih sebagai instruktur tode di sekolah umum di Shuri. Saat itu yang diperkenalkan adalah kelima Kata Pinnan. Bergantung dari sekolahnya materi tingkat lanjut beragam pilihannya, tapi biasanya setelah menyelesaikan kelima kata dasar itu para murid akan belajar Passai atau Wanshu. Tahun 1905 Itosu diberi kepercayaan sebagai instruktur Sekolah Menengah Dai Ichi. Kali ini dia tidak sendiri karena dibantu beberapa murid terbaiknya.


TANGGUH DI MASA TUA

Walaupun usianya sudah lebih dari 70 tahun, Itosu masih menjabat sebagai Kepala Instruktur Tode di Okinawa. Pernah suatu ketika ada seorang kepala polisi dari Kagoshima ingin menggantikan posisinya. Pria yang sayangnya tidak diketahui namanya itu sangat percaya diri dengan kemampuan judonya. Konon dalam deretan murid Jigoro Kano (Bapak Judo Jepang) dia termasuk yang terbaik. Melihat tode diajarkan di Okinawa, pria ini terlihat tidak menyukainya. Dia mengusulkan agar judo menggantikan tode sebagai pelajaran wajib.  

Protespun bermunculan dari beberapa kalangan. Tapi pria ini sepertinya tidak begitu ambil pusing. Bahkan dia mengirimkan surat tantangan berduel pada Itosu. Masyarakat jelas menentang rencana itu karena umur Itosu sudah 75 tahun. Jelas sebuah pertarungan yang tidak seimbang. Bukannya membatalkan, dengan sombongnya pria itu justru membolehkan siapapun yang dianggap tangguh untuk menggantikan Itosu.

Makam Yasutsune Itosu di Shuri Okinawa

Itosu tua tidak berniat orang lain untuk menggantikannya. Dia lalu menemui dewan sekolah dan mengatakan akan menghadapi sendiri pria Jepang itu. Itosu kemudian mengirimkan surat pada seluruh ahli tode di Okinawa untuk menyaksikan pertarungannya. Dalam suratnya Itosu meminta mereka menonton dari dekat karena pertarungan akan berlangsung cepat.

Hari pertarungan akhirnya tiba. Semua orang sudah berkumpul di lapangan sekolah, begitu pula pria Jepang itu. Berpakaian judo lengkap, gambaran kemenangan terlihat jelas di wajahnya. Tidak berapa lama kemudian Itosu berjalan ke tengah lapangan dengan tenang dan tanpa rasa takut. Pria Jepang itu sepertinya yakin akan bisa membanting lawannya dengan mudah. Sebaliknya, Itosu sebenarnya khawatir akan membuat lawannya luka parah.

Tidak menunggu lama, pertarungan segera dimulai. Pria Jepang itu segera mencengkeram lengan Itosu. Tampaknya dia ingin segera menyudahi pertarungan dengan sebuah bantingan. Tanpa disadari, tiba-tiba saja sebuah pukulan Itosu mendarat keras di perut lawan. Hasilnya sungguh mengejutkan. Lawannya langsung tersungkur seketika. Wasit mengira Itosu menyembunyikan senjata dibalik bajunya. Tapi saat diperiksa ternyata tidak ditemukan apapun. Itosu berkata pada khalayak ramai jika dia baru saja melepaskan sebuah pukulan dengan ki (energi yang yang didapat dari mengolah nafas, tenaga dan pikiran dengan benar). Dengan tegas dia mengatakan agar praktisi tode tidak menggunakannya sembarangan.

Pria Jepang itu belum berhenti. Dia mencoba kembali membanting Itosu namun selalu gagal. Tubuh Itosu seakan menancap di tanah dan terlalu berat untuk digerakkan. Karena sudah tidak mampu lagi, si penantang akhirnya menyerah. Itosu dinyatakan sebagai pemenang diikuti dengan decak kagum dari penonton. (Bersambung – Indoshotokan)

SANG GURU: KISAH ANKOH ITOSU (4)

Sebaliknya, Tomoyose tampak semakin gusar karena tidak ada satupun serangannya yang berhasil. Tiba-tiba setelah sebuah pukulan Tomoyose yang meleset, Itosu segera meraih lengan lawan yang sudah kosong tenaganya. Dalam gerakan yang sangat cepat Itosu mematahkan kedua lengan Tomoyose. Tidak ayal lagi, Tomoyose ambruk dan berteriak kesakitan. Penonton yang tadinya ribut memasang taruhan mendadak terdiam. Mereka seakan tidak percaya melihat jagoan mereka dikalahkan orang Shuri yang bertubuh lebih kecil.  

Berhasil mengalahkan Tomoyose menjadikan Itosu sebagai salah satu pendekar terbaik di Okinawa. Tapi yang lebih penting adalah Itosu berhasil memulihkan nama baik Shuri-te. Sejak kemenangannya itu Itosu banyak ditantang oleh orang-orang yang ingin mencoba kebolehannya. Meski selalu meraih kemenangan dia tetap bersahaja dan tidak sombong. Berdua dengan sahabatnya Azato, Itosu disebut sebagai pasangan emas dalam sejarah karate Okinawa. Tidak hanya beraksi sendiri, karena keduanya juga pernah terlibat pertarungan melawan banyak orang sekaligus.  

Gichin Funakoshi juga pernah menceritakan aksi hebat kedua gurunya itu saat menghadapi perusuh di sebuah desa. Begitu mencekamnya suasana saat itu hingga mereka harus mengungsikan semua penduduk ke tempat yang aman. Para pembuat onar itu berjumlah sekitar 30 orang, merampas dan merusak apapun yang dilihatnya. Karena jumlah tidak seimbang, Azato dan Itosu berpencar dan masuk ke salah satu rumah. Itosu memancing lawan dari sisi sebaliknya. Saat perhatian lawan terpecah, Azato tiba-tiba melompat keluar dari jendela dan menghajar mereka.

Semua lawan akhirnya berhasil dikalahkan. Uniknya, Azato menggunakan satu teknik saja untuk satu lawan tapi meninggalkan banyak korban cedera. Sebaliknya, walau Itosu juga banyak merobohkan lawan, tidak satupun dari mereka yang cedera. Ini menunjukkan sebuah kombinasi teknik yang sangat baik dari dua gaya bela diri yang berbeda.   


JIWA SANG PEMBAHARU

Itosu adalah orang yang inovatif. Wajar jika dirinya dijuluki sebagai Bapak Karate Okinawa. Jika Azato banyak berperan mengatasi gejolak sosial akibat Restorasi Meiji, maka Itosu berperan dalam pembaharuan tode. Dulu orang yang menguasai empat atau lima gerakan kata saja sudah dianggap hebat. Tapi Itosu telah menguasai begitu banyak kata dan ini menjadi sebuah kelebihan. Dari sana Itosu memberikan modifikasi dan inovasi yang baru. 

Contoh kata yang dimodifikasi Itosu adalah versi asli dari Kushanku yang menghasilkan dua versi baru yaitu Shiho Kushanku dan Kuniyoshi Kushanku. Itosu merasa ada yang kurang dari kata Passai (Shotokan: Bassai), karena itulah dia membuat dua versi lagi yaitu Passai Dai dan Passai Sho. Ada juga dua variasi baru kata Rohai yang diperkenalkannya. Di kemudian hari seluruh kompilasi kata Rohai milik Itosu disatukan dalam Shotokan menjadi kata Meikyo.

Yasutsune Itosu (lingkaran) bersama murid-muridnya setelah sebuah acara demonstrasi.

Dari semua inovasi kata Itosu, barangkali yang terbaik adalah Kata Pinan. Penyederhanaan dari kata Kushanku ini ditujukan untuk para pemula dan berjumlah lima seri. Kata Pinan tekniknya lebih sederhana dan tingkat kesulitannya akan meningkat secara bertahap. Funakoshi sebagai murid Itosu telah mengganti nama Pinan menjadi Heian dengan sedikit perubahan gerakan. Penyesuaian itu dimaksudkan agar karate lebih mudah diterima orang Jepang yang saat itu sedang tinggi rasa nasionaslimenya. Saat ini untuk melihat bentuk asli kata Pinan dari Itosu bisa dilihat dalam Shorin-ryu atau Shito-ryu. 

Satu legenda yang masih misterius adalah Itosu menguasai sebuah kata bernama Channan. Ada sumber menyebutkan Channan berasal dari lafal penduduk Okinawa pada seorang ahli bela diri Tiongkok bernama Chiang Nan. Ada juga yang menyebut Kata Channan diperoleh Itosu dari Sokon Matsumura. Berdasarkan sebuah jurnal yang ditulis Nakasone Genwa berjudul “Karate no Kenkyu”, Choki Motobu pernah mendengar Itosu meminta muridnya menampilkan sebuah gerakan kata. Mulanya Motobu mengira itu adalah Channan, tapi karena berbeda gerakannya dia bertanya pada Itosu. Menurut Itosu kata yang baru diperagakan adalah hasil modifikasinya dan bernama Pinan. (Bersambung – Indoshotokan)

SANG GURU: KISAH ANKOH ITOSU (3)

DUEL MELAWAN TOMOYOSE
 

Keberhasilan Itosu mengalahkan banteng liar menjadi pembicaraan hangat di seantero negeri. Itosu yang sebelumnya tidak terkenal kini dibandingkan dengan jawara wilayah lain. Sejak berakhirnya penjajahan samurai Satsuma persaingan tode antara tiga wilayah besar di Okinawa kian mengemuka. Ini karena penduduk tidak menemukan musuh bersama lagi. Sehingga rumor adanya jagoan yang kuat biasanya akan cepat tersebar. Saat itu duel antar pendekar hanya untuk membuktikan siapa yang terkuat sudah menjadi hal yang lazim.

Dibanding dua wilayah lainnya, nama jagoan dari Naha lebih berkibar karena sering menjadi pemenang. Akibatnya orang-orang memandang miring pada jagoan Shuri dan Tomari. Dari sekian banyak juara dari Naha, nama Tomoyose sering diunggulkan. Kabarnya Tomoyose tidak hanya piawai bela diri tapi juga berbadan besar dan bertenaga kuat. Tapi tabiatnya yang buruk akibat mabuk kemenangan membuatnya menjadi sombong.

Nama besar Tomoyose akhirnya sampai juga ke telinga Itosu. Bukan kemampuannya yang menarik perhatian Itosu karena Itosu sendiri sebetulnya tidak suka mencari keributan. Mendengar Shuri-te sering diremehkan dan hanya dianggap tarian membuat Itosu tidak begitu senang. Mengetahui Tomoyose sebagai yang terbaik, Itosu lalu mengajukan sebuah tantangan resmi. Konon sebelum melayangkan surat tantangan Itosu sempat meminta ijin pada Matsumura. Sang guru menyetujui dengan alasan duel itu semata-mata hanya untuk menguji kemampuan dan tidak lebih. Kelanjutannya bisa ditebak, Tomoyose setuju dan menerima tantangan Itosu.

Di hari pertarungan yang sudah disepakati para penonton terlihat sangat ramai memadati pinggir panggung. Mereka sangat antusias melihat idola mereka akan merobohkan jagoan Shuri sekali lagi. Sebagai penantang, Itosu datang lebih awal ke arena duel. Karena sang jawara belum datang, ada tiga orang yang penasaran ingin mencoba kebolehan Itosu. Mereka tampaknya bisa bela diri tapi tidak tahu siapa yang ditantangnya itu.

Itosu tampaknya tidak keberatan dengan tantangan mereka dan mempersilakan ketiganya maju sekaligus. Hanya dalam beberapa jurus saja Itosu sudah membuat ketiga lawannya tersungkur. Penonton sepertinya tidak begitu antusias dengan duel pemanasan itu. Mereka hanya menganggap kemenangan Itosu sebagai kebetulan saja. Mengetahui hal itu Itosu kemudian berteriak pada penonton, “Apa-apan ini! Kukira di Naha ada petarung yang terbaik? Ternyata tak ada seorangpun disini yang layak!”  

“Kau bahkan belum bertarung melawanku!” Tiba-tiba sebuah suara keras bergema dari salah satu sudut arena. Ternyata dia adalah Tomoyose, sang jawara yang sedari tadi memperhatikan pertarungan Itosu. Melihat bintang idola mereka sudah muncul, para penonton bersorak lebih meriah. Mereka segera sibuk memasang taruhan untuk kemenangan Tomoyose dan kekalahan Itosu. Melihat orang-orang tidak mendukungnya tidak membuat nyali Itosu menjadi ciut. Dia lebih berkonsentrasi melihat lawan yang baru dilihatnya pertama kali itu. 

Apa yang menjadi buah bibir masyarakat Okinawa selama ini ternyata bukan isapan jempol. Postur Tomoyose memang tinggi besar dan sepertinya begitu pula tenaganya. Karena fisik lawan lebih unggul, Itosu sadar ini akan menjadi pertarungan yang sangat berbahaya. Itosu berpikir keras mencari cara untuk menyelesaikan pertarungan secepatnya. Dia tidak boleh kalah karena nama baik daerahnya juga ikut dipertaruhkan. Sebaliknya, Tomoyose tampaknya kian percaya diri melihat lawan lebih kecil darinya. Dengan dukungan penuh dari penonton, Tomoyose yakin akan meremukkan Itosu dalam beberapa gerakan saja.   

Begitu kedua petarung memasuki panggung, tidak berapa lama duelpun segera dimulai. Sebuah pukulan keras tiba-tiba mengarah deras ke tubuh Itosu. Sepertinya Tomoyose tidak ingin berbasa-basi untuk menghabisi penantangnya. Beruntung Itosu lebih sigap dan bisa menghindarinya. Orang biasa mungkin sudah cedera parah jika terkena langsung. Mengetahui kekuatan lawan yang hebat, Itosu berpikir tidak ada gunanya mengadu tenaga. Dengan sabar Itosu mengelak kesana kemari sambil sesekali menangkis. Dia berusaha mencari titik lemah lawannya dan menunggu kesempatan untuk menyerang balik. (Bersambung – Indoshotokan).

SANG GURU: KISAH ANKOH ITOSU (2)

DUEL YANG PERTAMA
 

Itosu mungkin bukan murid Matsumura yang terbaik, tapi dia sudah mendapatkan banyak pelajaran dari gurunya itu. Latihan yang berat telah membuat tubuhnya terlihat tegap dan kuat. Di masa mudanya Itosu terkenal berkat aksi-aksi heroiknya. Namanya dikenal banyak orang karena sering terlibat dalam pertarungan yang berbahaya. Pertarungan pertamanya terjadi saat Itosu dalam perjalanan menuju ke Naha. Tidak sengaja dia melihat orang-orang berlari ketakutan kesana-kemari. Karena penasaran, Itosu mencoba mendekat demi mencari tahu apa yang terjadi.

Rupanya seekor banteng liar yang sedianya disiapkan untuk acara duel sedang mengamuk. Banteng itu seolah tahu bahwa dia akan menghadapi kematian. Menolak untuk dibawa paksa oleh orang-orang, binatang itu berontak untuk meloloskan diri. Amukannya sungguh dahsyat karena sudah membuat beberapa orang terluka parah. Arena pertunjukan berupa pagar kayu seharusnya sudah cukup kokoh untuk menahannya. Tapi serudukan hebat binatang liar itu membuat pagar seolah tidak berarti apa-apa.

Saat panitia sudah tidak mampu lagi mengatasi tandukan liarnya, mata banteng itu tertuju pada Itosu yang berdiri di kejauhan. Melihat Itosu sebagai lawan terakhirnya, banteng marah itu mendengus keras disertai dengan ancang-ancang kearah calon korbannya. Orang-orangpun berteriak memperingatkan Itosu agar segera menyingkir. Itosu bisa saja menghindar, tapi dia berpikir jika banteng itu tidak segera dikalahkan akan semakin banyak korban berjatuhan. Dengan tenang Itosu melangkah maju sambil mempersiapkan diri menyambut tandukan lawannya.

Dengan gerakan mengelak kesamping, Itosu menghindari serudukan banteng liar itu. Tidak membuang waktu, Itosu segera meraih kedua tanduknya dan diikuti kuncian yang kuat di lehernya. Banteng itu semakin marah karena cekikan Itosu dan berusaha membebaskan diri dengan berlari tak tentu arah. Itosu memang sengaja mencekiknya agar binatang itu lemas kehabisan napas. Dan benar saja, setelah pergulatan yang menguras tenaga, akhirnya gerakan banteng itu mengendur karena kelelahan. Tidak berapa lama binatang liar itupun tersungkur ke tanah.

Agar tidak mengamuk lagi, Itosu menenangkan banteng itu dengan jalan menekan tubuhnya ke tanah. Beberapa orang kemudian segera membawa dan mengikatnya. Versi lain dari cerita ini adalah Itosu membunuh banteng itu dengan mematahkan tulang lehernya. Mana yang benar memang tidak bisa dipastikan. Yang jelas, setelah pertarungan itu Itosu melanjutkan perjalanannya ke Naha. Di kota pelabuhan itu dia bertemu dengan Nagahama Chikudon yang bersedia menerimanya sebagai murid.  

Siapa sebenarnya Nagahama Chikudon? Teknik apa yang dikuasainya? Sayangnya sangat sedikit catatan sejarah yang menceritakan sosoknya. Yang jelas, Nagahama juga diberikan gelar “Peichin” oleh masyarakat Okinawa. Sebuah gelar yang juga diberikan pada Sakugawa dan Takahara, dua legenda klasik karate Okinawa. “Peichin” adalah gelar bagi tokoh yang sudah tidak diragukan lagi kepandaian dan ketangguhannya.

Itosu sebenarnya sangat menikmati latihan bersama Nagahama, tapi tidak banyak hal baru yang diperolehnya. Nagahama ternyata hanya memfokuskan pada latihan fisik dan bukan bela diri. Sehingga walau tubuh Itosu menjadi semakin kuat, tetap saja teknik bela dirinya tidak ada kemajuan. Nagahama rupanya menyadari hal itu dan berkata pada Itosu jika saat ini teknik bela diri lebih penting. Sebelum kematiannya dia menasihati Itosu agar mencari guru lain yang lebih pantas.

Kematian gurunya menjadi pukulan berat bagi Itosu. Hatinya dipenuhi kebimbangan, menyesal dan putus asa. Dia tidak tahu harus kemana lagi. Itosu sempat berpikir untuk kembali pada Matsumura, tapi dia sudah terlanjur meninggalkannya. Mencari guru yang tepat bukanlah perkara yang mudah. Itosu lalu memutuskan untuk mencoba ujian bekerja sebagai pegawai pemerintah. Berkat bantuan dari sahabatnya yaitu Azato, dia berhasil lulus dalam ujian itu. (Bersambung – Indoshotokan)

SANG GURU: KISAH ANKOH ITOSU (1)


Dalam dunia karate, nama Yasutsune Itosu menjadi tokoh penting setelah era Sokon Matsumura berakhir. Yasutsune Itosu atau Ankoh Itosu melakukan banyak perubahan dalam dunia karate pada abad ke-19, hingga membuatnya dijuluki sebagai Bapak Karate Okinawa. Begitu besar jasanya hingga tidak ada anak-anak Okinawa yang tidak kenal siapa Itosu. Hampir semua aliran karate jika dilacak sejarah dan tekniknya masih berhubungan dengan Itosu.

Itosu mempunyai banyak murid dan kebanyakan dari mereka juga menjadi orang penting dalam karate di kemudian hari. Ada yang masih mempertahankan gaya Itosu seperti Shorin-ryu, tapi ada juga yang memodifikasinya seperti Gichin Funakoshi. Tulisan dan sumber yang menceritakan sosok Itosu sangat sedikit. Karena itulah sebagian kisahnya diperoleh dari mereka yang pernah berguru padanya.

Tempat kelahiran Itosu hingga kini tidak begitu pasti. Ada yang menyebutkan Itosu lahir di Yamakawa, salah satu bagian wilayah Shuri. Sementara itu sumber lain menyebut tempat kelahirannya di Gibo, salah satu desa di Shuri, dan kemudian Itosu pindah ke Yamakawa. Lahir tahun 1830 dalam lingkungan keluarga bangsawan yang terpelajar, Itosu mendapatkan pendidikan yang cukup dari orang tuanya. Banyak buku-buku pengetahuan dari Tiongkok yang diperolehnya. Tentu saja sebuah keberuntungan karena kesempatan itu terbilang langka bagi penduduk Okinawa saat itu.

Walau kelak menjadi tokoh hebat dalam karate, Itosu muda ternyata tidak begitu tertarik dengan bela diri. Sebaliknya, ayah Itosu ingin agar anaknya tidak hanya pandai pelajaran sekolah tapi juga tumbuh sebagai laki-laki yang tangguh. Untuk itulah ayah Itosu memberinya latihan fisik setiap hari. Dengan mengikat tubuh Itosu di sebuah pohon besar, sang ayah bertubi-tubi memukul tubuh anaknya dengan batang kayu. Walau Itosu menangis, ayahnya tidak berhenti. Baru ketika Itosu terlihat marah dan ingin berontak, ayahnya akan menghentikan latihan yang “kejam” itu.


MENGIKUTI SOKON MATSUMURA
 

Perkenalan pertama Itosu dengan bela diri terjadi setelah sang ayah memperkenalkannya pada Sokon Matsumura. Kesempatan itu datang saat Matsumura hadir dalam pertemuan ahli bela diri Okinawa. Ayah Itosu sebelumnya sudah mengenal Matsumura dan memohon agar sang legenda itu bersedia mengajari anaknya. Matsumura tidak banyak bicara. Dengan seksama dia hanya mengamati Itosu yang saat itu berusia 16 tahun. Melihat sikap Matsumura, ayah Itosu cemas jika anaknya gagal menjadi murid Matsumura. Saat melihat sorot mata Itosu yang memancarkan kesungguhan, Matsumura bersedia menerima Itosu.

Kekhawatiran ayah Itosu sebenarnya cukup beralasan. Saat itu seorang ahli bela diri sangat berhati-hati menerima murid. Mereka juga belum tentu mewariskan ilmu pada keturunan atau keluarganya sendiri. Fisik yang kuat saja tidak akan cukup karena sang guru akan mempertimbangkan hal lain. Calon muridnya harus mempunyai karakter yang baik agar kelak tidak membuat malu nama gurunya. Di luar itu semua, ahli bela diri Okinawa percaya jika pertemuan dengan muridnya terjadi karena kehendak langit atau takdir Tuhan. 

Sejak itu Itosu memulai latihannya dengan Matsumura. Dia juga berjumpa dengan Azato yang kelak menjadi sahabat terbaiknya. Dan seperti yang sudah diduga, latihan dibawah Matsumura benar-benar melelahkan dan tidak mudah. Bahkan tidak jarang latihan harus dijalani sehari penuh. Bukan Cuma bela diri, Matsumura juga menyuruh hal lain seperti mencuci baju, membersihkan rumah dan memasak. Saat malam tiba, Itosu yang lelah tidak bisa tidur nyenyak. Ini karena Matsumura bisa saja tiba-tiba menyerangnya dengan tongkat.

Ada pesan moral yang ingin disampaikan Matsumura. Dia ingin agar muridnya menjadi pribadi yang keras dan disiplin pada diri sendiri, pantang menyerah, mempunyai jiwa pejuang dan loyalitas. Mengapa Matsumura menyerangnya di malam hari? Ini agar Itosu mempunyai naluri yang kuat dan siap menerima serangan dari arah yang tidak terlihat. Bagi Matsumura seseorang tidak akan bisa lebih kuat jika hidupnya hanya dipenuhi kesenangan. Dan inilah mental seorang satria yang ingin ditanamkan Matsumura.

Walau demikian, Itosu sepertinya tidak cocok dengan Matsumura. Beberapa tahun setelah berlatih dengan Matsumura, gerakan dan kecepatan Itosu menurun. Hal ini membuat Matsumura kurang menyukainya. Merasa tidak nyaman lagi dan tidak ada kemajuan, Itosu kemudian memilih meninggalkan gurunya itu. Itosu kemudian menuju ke Naha berharap bisa menemukan guru yang lain. (Bersambung – Indoshotokan)

GICHIN FUNAKOSHI – LEBIH DEKAT DENGAN SANG MAESTRO (8 - FINAL)

Sejak awal Funakoshi tidak pernah menyetujui perpecahan apapun dalam karatenya. Jika lantas menyetujui dibentuknya JKA, itu karena semata-mata tujuan positif yang dibawa oleh organisasi ini. Dalam pandangannya para praktisi karate di Jepang seharusnya bersatu hingga bisa memberi manfaat pada orang banyak. Meski JKA telah dibentuk tahun 1949, namun baru tanggal 10 April 1957 Menteri Pendidikan Jepang memberikan legalitas pada JKA sebagai sebuah organisasi.

Menjawab banyaknya permintaan akan instruktur karate, maka di tahun 1953 Funakoshi mengirimkan beberapa murid terbaiknya ke Amerika. Mereka yang terpilih adalah Masatoshi Nakayama, Hidetaka Nishiyama dan Tsutomu Ohshima. Sebelumnya mereka juga sukses memberikan demonstrasi karate bagi pasukan Amerika saat masih di Jepang. Rencananya selama tiga bulan mereka akan menjadi instruktur di Amerika.

Tahun 1954 seluruh tokoh bela diri Jepang merasa perlu untuk kembali melakukan demonstrasi. Acara yang digelar di Tokyo itu ditujukan untuk memulihkan kembali semangat masyarakat Jepang pasca perang. Tiga nama yang terpilih dalam acara itu adalah Mifune dari judo, Nakayama dari kendo dan Funakoshi dari karate. Di usianya yang sudah 86 tahun, tidak menghalangi Funakoshi untuk tidak memenuhi undangan itu. Demonstrasi kata dari Funakoshi mendapat apresiasi luar biasa hingga semua penonton berdiri dan bertepuk tangan untuknya.

Tanggal 26 April 1957 dunia bela diri Jepang berduka. Dalam ketenangan tidurnya Gichin Funakoshi meninggal dunia di usia 89 tahun. Sebuah upacara penghormatan terakhir untuk Funakoshi dilakukan di Ryogoku Kokugikan dan dihadiri tidak kurang dari 20.000 orang. Sebagai ucapan terima kasih dan penghormatan bagi sang maestro, Pemerintah Jepang lalu membangun sebuah memorial di Kuil Enkakuji di Kamakura. Di monumen itu tertulis sebuah kalimat, “karate ni sente nashi” yang berarti, “karate tidak mengenal sikap menyerang lebih dulu.” 


IMPRESI AKHIR


Kisah hidup Funakoshi sebagai legenda karate memang jauh dari menyenangkan. Tapi di dunia ini manusia manapun tidak pernah tahu akan takdirnya. Siapa yang menyangka anak muda yang sakit-sakitan dan diperkirakan tidak berumur panjang ini akan menjadi orang ternama? Bahkan Funakoshi sendiri tidak pernah memilih menjadi orang terkenal. Ketika Funakoshi bertemu dengan gurunya, yang dipikirkannya hanya menyukai karate dan menjadikannya sebagai bagian dari hidupnya.

Tidak ada sambutan apalagi karpet merah bagi Funakoshi saat membawa misi besar dari Okinawa ke Jepang. Tiba di Jepang Funakoshi justru menjadi tukang kebun yang harus menyapu dan mengepel setiap sudut asrama. Yang mengagumkan, Funakoshi tidak mengeluh apalagi malu dengan pekerjaannya itu. Di tengah kesulitan hidup Funakoshi senantiasa bersyukur. Jika ada yang disesalinya adalah dirinya masih serba kekurangan hingga tidak mampu mengirimkan uang pada keluarganya. 

Gichin Funakoshi bersiap dalam salah satu rangkaian demonstrasi terakhirnya di Tokyo. Foto berasal dari Shotokanmag.

Bagi sebagian orang yang pernah mengenalnya, figur Funakoshi sangat mengagumkan. Sosoknya hangat, bersahaja, rendah hati dan menyukai kebersihan. Ketika disapa Funakoshi akan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dan kemudian dia merangkul lawan bicaranya. Ketika di dojo Funakoshi selalu tersenyum dan menyapa setiap muridnya. Gaya mengajarnya memang tegas dan disiplin, namun dia akan berubah menjadi orang tua yang ramah seusai latihan.  

Umumnya seorang ahli karate akan mendemonstrasikan kebolehannya berduel dengan binatang atau lawan yang lebih kuat. Funakoshi justru sebaliknya. Cara pandang Funakoshi ini dipengaruhi oleh gurunya yaitu Azato dan Itosu. Mereka sudah terkenal mahir karate, tidak terkalahkan, tapi tetap berhati-hati dengan tekniknya. Karate adalah sebuah pilihan terakhir ketika cara lain sudah tertutup.

Funakoshi lebih mementingkan kata daripada kumite. Baginya dalam kata tersimpan rahasia dari semua teknik karate. Kata juga merupakan filsafat, karena itu dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk menguasainya. Apa yang menjadi keyakinannya ini kemudian terbukti. Bahkan di usianya yang sudah lanjut Funakoshi masih mempunyai pertahanan yang hebat. Dan ini diketahui dari orang-orang yang pernah bertanding atau berlatih bersamanya.

Funakoshi menghargai apapun yang terjadi dalam hidupnya. Hancurnya dojo Shotokan, kematian murid-muridnya, kehilangan anak dan istri, tidak menyurutkan langkahnya untuk terus maju. Totalitasnya dalam karate tidak perlu diragukan lagi. Adalah hal yang wajar jika pemerintah Jepang memberikan penghormatan untuk tukang kebun yang sederhana ini. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dan manfaat dari perjalanan hidupnya. (tamat – Indoshotokan).  

GICHIN FUNAKOSHI – LEBIH DEKAT DENGAN SANG MAESTRO (7)

Yang jelas, metode berlatih karate mengalami perubahan besar. Jika sebelumnya hanya kata, maka dalam masa perang setiap harinya hanya diisi kihon dan kumite. Kihon dipilih karena gerakannya lebih sederhana sehingga dianggap lebih praktis. Yang sangat berbeda adalah kumite yang kali ini diperbolehkan kontak fisik. Latihan yang lebih pantas disebut berkelahi ini sangat keras dan menuntut semua prajurit mengeluarkan tenaga maksimal. Sehingga pemandangan pemuda yang berlatih masih dibalut perban saat itu adalah hal biasa

Karena banyak pemuda yang pergi demi mengangkat senjata, membuat dojo-dojo di universitas menjadi sepi. Funakoshi masih ingat betapa banyak muridnya yang berlutut dan berpamitan di hadapannya. Tentu saja banyak yang mati akibat perang, dan kenyataan pahit ini menyisakan kesedihan mendalam di hati Funakoshi. Masih terbayang di benak Funakoshi betapa ramai dan rajin murid-muridnya berlatih di dojo. Tapi kini hampir setiap hari Funakoshi menerima kabar kematian murid-muridnya.

Tahun 1941 menjadi awal berkobarnya Perang Dunia II. Saat itu kapal induk Amerika yaitu Pearl Harbour merapat ke perairan Jepang. Kehidupan di Jepang menjadi serba sulit, tidak terkecuali karate. Meski demikian, Funakoshi masih mampu menerbitkan bukunya yaitu “Karate-do Nyumon.” Dalam buku ini Funakoshi menulis bagian sejarah, sedangkan untuk teknik dibantu oleh Yoshitaka. Karate-do Nyumon memuat banyak kisah yang ditulis dengan gaya bahasa yang menarik dan masih dicetak ulang hingga kini.

Tahun 1945 menjadi puncak dari semua bencana akibat perang. Bulan April dojo Shotokan yang telah dibangun susah payah hancur akibat serangan bom pasukan sekutu. Banyak yang mengira latihan di dojo utama itu sudah tidak ada lagi dan karate Funakoshi sudah tamat. Belum usai satu masalah, di bulan Nopember Yoshitaka yang sudah mengidap tuberkolosis akut harus berakhir hidupnya. Yoshitaka sebelumnya telah dinyatakan dokter akan sulit bertahan dari penyakit mengerikan ini.

Setelah kematian anaknya, Funakoshi memutuskan meninggalkan Tokyo dan kembali ke Oite di Kyushu. Funakoshi berharap masih bisa menemui istrinya kembali. Mereka berpisah saat Funakoshi memutuskan untuk mengembangkan karate di Tokyo karena istrinya memilih bertahan di Shuri. Hanya dalam waktu tiga bulan saja, perang besar itu telah menewaskan tidak kurang dari 260.000 penduduk Okinawa. Ini karena pemerintah Jepang menggunakan Okinawa sebagai garis depan sebelum pasukan sekutu menembus Jepang daratan.

Banyaknya wanita dan anak-anak yang menjadi korban membuat Funakoshi cemas akan keselamatan istrinya. Penduduk Okinawa yang masih hidup kemudian mengungsi ke pulau Kyushu. Di pengungsian itulah Funakoshi berhasil bertemu kembali dengan istrinya. Funakoshi lalu memutuskan untuk menemani istrinya hingga hari kematiannya di tahun 1947.

BANGKITNYA KEMBALI KARATE


Musibah yang beruntun membuat Funakoshi tidak kuasa menahan kesedihannya. Kehidupannnya berada di titik nadir terendah, tapi Funakoshi sadar putus asa dan menyesal bukanlah jawabannya. Masih banyak orang di Tokyo yang menunggunya kembali. Selalu masih ada harapan untuk diraih dan karena itu Funakoshi memutuskan untuk berjuang kembali di Tokyo.

Dalam perjalanannya ke Tokyo di tiap stasiun kereta Funakoshi telah ditunggu oleh bekas murid-muridnya. Sebagian dari mereka bahkan sudah tidak mampu diingat oleh Funakoshi. Mereka yang disangka telah mati dalam perang kini berdiri untuk menunggunya. Diantara mereka bahkan ada yang sudah berpisah dengan Funakoshi hampir dua puluh tahun lamanya. Saat menerima ucapan belasungkawa dari murid-muridnya, Funakoshi yang biasanya tegar tidak kuasa menahan haru hingga menitikkan air mata.

Bom atom yang dijatuhkan tentara sekutu di Hiroshima dan Nagasaki tahun 1945 membuat Jepang luluh lantak. Bangunan yang hancur memang tidak terhitung namun tidak sebanding dengan trauma mental para korbannya. Bom super dahsyat itu akhirnya sukses mengubur ambisi Jepang untuk menjadi negara terkuat di Asia.     

Gichin Funakoshi (paling kanan) tiba di Tokyo sekembalinya dari Okinawa bersama dengan Kenwa Mabuni (tengah) dan Sakio Ken (paling kiri).

Pasukan sekutu yang menduduki Jepang kemudian melarang segala bentuk latihan bela diri karena khawatir akan terjadi perlawanan lagi. Beruntung, karena hubungan baik antara Funakoshi dengan Menteri Pendidikan membuat latihan karate diijinkan. Apalagi sebelumnya karate telah dimasukkan dalam pendidikan jasmani. Sehingga latihan karate pasca perang dianggap sebagai bagian pelajaran olah raga.

Walau tidak seramai tahun-tahun sebelumnya, sedikit demi sedikit aktivitas karate mulai bergeliat. Bahkan ada juga prajurit Amerika yang ikut dalam latihan ini. Mereka sengaja mengundang beberapa instruktur bela diri Jepang yang terbaik ke Kodokan. Setelah para prajurit itu kembali ke negaranya, Funakoshi banyak menerima surat dari orang Amerika yang ingin menjadi muridnya. Hal ini kemudian mempermudah jalan bagi karate masuk ke benua Amerika dan Eropa di kemudian hari.

Tahun 1949 Isao Obata dan beberapa murid Funakoshi yang paling senior mengusulkan sebuah organisasi untuk menyatukan seluruh praktisi karate di Jepang. Asosiasi itu kemudian diberi nama Nippon Karate Kyokai (NKK) atau Japan Karate Karate Association (JKA). Dalam organisasi itu Funakoshi menjabat sebagai shuseki shihan atau guru besar. Tujuan lain JKA adalah mempromosikan semangat karate ke penjuru Jepang dan dunia. (bersambung – Indoshotokan).

GICHIN FUNAKOSHI – LEBIH DEKAT DENGAN SANG MAESTRO (6)

Dari sekian banyak orang yang membantu Funakoshi adalah Yoshitaka yang paling menonjol. Anak ketiga Funakoshi ini banyak memberikan inovasi baru dalam karate moderen. Yang paling kelihatan adalah penggunaan kuda-kuda rendah seperti apa yang terlihat dalam Shotokan pada hari ini. Selain itu adalah variasi tendangan seperti ushiro geri dan yoko geri kekomi yang sebelumnya tidak pernah ada dalam karate Okinawa. Yoshitaka juga memperkenalkan model kumite yang baru seperti kihon kumite dan jiyu kumite.   

Sebagai salah satu pendukung setia dari Funakoshi, nama Ohtsuka Hironori juga tidak bisa diabaikan. Anak muda berbakat ini sudah belajar jujitsu dan kendo sejak kecil. Sayangnya, setelah sekian lama mengikuti Funakoshi, akhirnya Ohtsuka memutuskan untuk meninggalkannya. Alasannya tidak begitu jelas, ada yang menyebut akibat pertentangan dengan cara mengajar Yoshitaka yang keras. Sementara sumber lain menyebut Ohtsuka terlalu banyak memasukkan jujitsu dalam karate.

Saat itu Ohtsuka bertindak sebagai asisten di dojo Meiseijuku. Konon karena tiap hari hanya diisi latihan kata, kebanyakan murid menjadi bosan. Untuk mengatasi masalah itu Ohtsuka memperkenalkan ippon kumite (satu teknik) dan sanbon kumite (tiga teknik). Alasan Ohtsuka adalah dia merasa ada yang hilang dari gaya karate Funakoshi dan latihan kata saja tidak cukup efektif. Sebelumnya Ohtsuka juga sempat membicarakan masalah itu dengan ahli karate lain seperti Choki Motobu dan Kenwa Mabuni.

Walau alasan dibalik mundurnya Ohtsuka masih spekulatif, yang jelas tahun 1934 dia mendirikan Wado-ryu (jalan yang selaras). Ada yang menyebut arti nama Wado-ryu menyindir perseteruan antara Ohtsuka dengan Yoshitaka. Ketika Funakoshi mengetahui keluarnya Ohtsuka, dalam salah satu bukunya dia menyatakan bahwa Ohtsuka terlalu banyak memasukkan unsur jujitsu hingga mengubah esensi dari karate. Di luar isu yang beredar, di kemudian hari Wado-ryu ternyata juga berhasil menjadi 4 besar karate Jepang.


HARAPAN BARU DARI DOJO SHOTOKAN


Meski karate telah populer di Jepang, Funakoshi masih belum mempunyai dojo sendiri. Padahal dojo utama sangat penting artinya untuk menyatukan seluruh dojo cabang. Tapi saat itu sangat sulit mengumpulkan dana bagi pembangunan dojo ini. Karena kesibukannya, tahun 1935 Funakoshi membentuk Shotokai. Panitia kecil ini bertugas mengumpulkan dana dan hal-hal lain yang berkaitan dengan rencana pembangunan dojo utama.

Di tengah kesibukan yang luar biasa, Funakoshi mampu menerbitkan bukunya yaitu “Karate-do Kyohan.” Buku yang menjadi bacaan wajib bagi praktisi Shotokan ini memuat 15 kata, teknik dasar dan bela diri. Di buku ini pula Funakoshi mengutarakan alasannya mengubah ideogram karate-do. Karate-do Kyohan adalah buku Funakoshi yang terbaik dan terlaris hingga saat ini. Funakoshi mempersembahkan buku ini juga sebagai ucapan selamat pada karate-do sebagai seni bela diri Jepang yang baru.

Setelah melalui perjuangan yang panjang dan melelahkan, tahun 1936 dojo utama itu akhirnya rampung. Funakoshi yang sudah berusia 68 tahun berdiri di depan dojo utama dan memberikan hormat. Setahun kemudian upacara peresmian dojo baru itu dilakukan. Dojo yang terletak di kawasan Zoshigaya Tokyo itu awalnya tidak mempunyai nama. Murid-murid Funakoshi kemudian menganugerahkan nama Shotokan sebagai penghargaan bagi Funakoshi.

Sebuah foto lama dari dojo Shotokan yang diambil sebelum Perang Dunia II.

Setelah dojo utama berdiri, Funakoshi menetapkan kihon, kata dan kumite sebagai materi standar dalam karate. Di luar dugaan, kumite ternyata mendapat antusias luar biasa dari anak muda. Kumite seakan menjadi angin segar bagi mereka yang sudah jenuh dengan latihan karate yang itu-itu saja. Saat itu sering diadakan latihan kumite antar universitas. Bahkan tidak jarang sesama dojo universitas saling mengunjungi satu sama lain dan saling menampilkan teknik kata dan kumite masing-masing.


BENCANA DI MASA PERANG


Tahun 1930-an Jepang tengah berusaha menginvasi negara-negara Asia. Tercatat Jepang berhasil menguasai Manchuria (1932) dan Cina (1936). Untuk memenuhi ambisinya itu pemerintah Jepang merekrut anak-anak muda sebagai prajurit. Menjadi prajurit tidak cukup hanya nasionalis dan berani mati saja. Mereka juga harus pandai bela diri karena dipandang sebagai senjata kedua setelah bubuk mesiu. Pemerintah Jepang kemudian mencari ke banyak dojo bela diri. Dari sekian banyak aliran, akhirnya yang terpilih adalah aikido dan karate.  

Morihei Ueshiba adalah tokoh aikido yang ternama saat itu. Teknik Ueshiba sebenarnya sangat baik, namun menjadi kendala ketika muridnya gagal mengeksekusi dalam situasi yang sebenarnya. Teknik aikido juga dianggap terlalu banyak dan mustahil diserap dalam waktu singkat. Oleh pemerintah Jepang aikido dianggap tidak cocok sehingga mereka memutuskan mengambil calon prajurit dari dojo karate.  

Tiga dojo karate yang menjadi kandidat kuat adalah Goju-ryu, Wado-ryu dan Shotokan. Goju-ryu sebetulnya mempunyai teknik yang baik, tapi menekankan pada pernapasan dan Sanchin, sehingga dinilai kurang praktis. Sebaliknya, teknik Wado-ryu dianggap terlalu “ringan.” Pilihan akhirnya jatuh pada dojo Shotokan karena tekniknya yang frontal, cenderung keras dan dinilai bisa menyelesaikan lawan dengan cepat. (bersambung – Indoshotokan)