KONTEN DILINDUNGI HAK CIPTA. DILARANG KERAS MENJIPLAK, MENGEDIT DAN MEMPERBANYAK SEBAGIAN ATAU SELURUH HALAMAN SITUS INI TANPA IJIN.
Rasa sakit menghantam manusia dengan berbagai cara. Kadang ada yang hanya mampir sebentar lalu pergi begitu saja. Kadang menyerang begitu kuatnya seperti pukulan yang menghujam ke tubuh. Sangat menyakitkan rasanya. Kadang tanpa disangka-sangka datang menghampiri saat kita tidak sadar. Ketika kita sedang berada di titik terbawah dalam kehidupan kita, rasa sakit akan menjadi teman akrab. Apa yang kita lakukan untuk menghadapi rasa sakit itu menunjukkan jati diri kita yang sebenarnya.
Shigeo Omori (diperankan Shubaru Shibutani) adalah mantan anggota gangster yang baru dibebaskan dari penjara setelah dihukum 18 bulan lamanya. Karena tidak punya tempat tujuan, yang ada di benaknya adalah kembali menemui teman-teman lamanya. Bukannya disambut baik, Shigeo malah dihajar telak sampai tidak sadarkan diri. Ketika siuman dia tidak ingat apa-apa. Ya, Shigeo yang malang menderita amnesia setelah menerima pukulan keras tongkat baseball di kepalanya. Beruntung dia masih selamat. Berjalan dalam kebingungan, langkah Shigeo membawanya ke tengah alun-alun di kota Osaka.
Kebetulan saat itu ada grup band amatir yang sedang manggung. Suara musik yang keras dari panggung pertunjukan menarik perhatian Shigeo. Walaupun amnesia, Shigeo masih ingat beberapa lagu kesukaannya. Entah apa yang terlintas di pikirannya, dengan spontan dia menyeruak kerumunan penonton, meraih mikrofon dan langsung menyanyi. Para penonton sejenak terpaku dan heran melihat aksinya, tapi itu tidak berlangsung lama. Tampaknya pria asing ini bisa menyanyi. Penontonpun bersorak sorai dengan aksi panggung dadakan Shigeo.
Sang manajer band, Kasumi Sato (diperankan Fumi Nikaido) tertarik dengan penampilan Shigeo. Bukan tanpa alasan Kasumi melakukannya, ini karena vokalis band itu sedang cedera karena kecelakaan. Karena tidak punya tempat tujuan, Kasumi bersedia menampung Shigeo di rumahnya. Di rumah itu Kasumi tinggal dengan kakeknya yang juga mempunyai studio rekaman kecil. Kasumi menyebut Shigeo dengan “Pochi” yang diambil dari nama anjing kesayangannya. Dan begitulah, Shigeo membantu Kasumi dan band-nya dengan menjadi vokalis. Tapi masalah timbul ketika ingatannya perlahan mulai pulih dan Kasumi yang diam-diam menyelidiki masa lalunya. Shigeo dihadapkan pada pilihan sulit; akankah dia kembali ke dunia lamanya, ataukah menjalani hidupnya yang baru dengan Kasumi?
Misono Yunibasu, dalam Bahasa Inggrisnya diterjemahkan La La La At Rock Bottom, adalah sebuah film drama apik garapan sutradara Nobuhiro Yamashita. Film yang mengambil tema dunia musik ini juga menampilkan grup band Akainu yang turut menyumbangkan aktingnya. Dalam Misono Yunibasu, dua tokoh utama yaitu Kasumi dan Shigeo bersama-sama menjalani hidup mereka yang pahit dengan menggunakan musik sebagai obatnya. Ingatan terbaik Shigeo adalah lagu berjudul “Old Diary.” Sementara di sisi lain, lagu itu mengingatkan Kasumi akan pengalaman hidupnya yang menyedihkan. Dua poin ini menjadikan hubungan antara Kasumi dan Shigeo unik, tapi ada ketulusan diantara mereka.
Menonton Misono Yunibasu mengingatkan kita film Jepang lain berjudul Linda Linda Linda (2005). Film yang juga digarap oleh Nobuhiro Yamashita itu ceritanya hampir sama. Bedanya di Misono Yunibasu ini sedikit lebih suram dan ditujukan untuk audiens dewasa. Melihat dari alurnya, bukan film yang ambisius memang, tapi tetap menyenangkan untuk ditonton. Jangan heran kalau melihat Shigeo bisa menyanyi, ini karena Shubaru Shibutani sang pemerannya adalah member dari boyband Kanjani Eight. Kakek Kasumi juga menyenangkan terutama ketika dia menganggap Shigeo adalah anaknya sendiri. Ada juga Noriko yang merupakan adik dari Shigeo yang dari dialah diketahui masa lalu Shigeo dan keluarganya yang pedih.
Overall, film ini cukup seimbang antara drama dan komedi. Tema amnesia dan bagaimana kita harus move-on memang bukan barang baru, tapi ketika dipadu dengan musik jelas membuatnya berbeda. Misono Yunibasu ini sudah tayang di bioskop Jepang Februari 2015 lalu dan bisa menjadi alternatif pilihan tontonan menarik. (Indoshotokan)
Tetsuko Arisugawa (atau disingkat Alice) adalah gadis remaja 14 tahun yang pindah ke pedesaan mengikuti sang ibu yang baru bercerai dengan ayahnya. Tapi semua tidak berjalan mulus seperti yang dipikirkannya. Di sekolah dia dijauhi dan kadang disakiti oleh teman-temannya. Mengapa begitu? Ketika pertama masuk kelas, oleh gurunya Tetsuko diminta duduk di bangku bekas murid yang konon sekarang sudah mati. Dulunya bangku itu milik murid laki-laki bernama Yuda Kotaro (di film ini diplesetkan dengan Judas). Merasa penasaran, Tetsuko mencari tahu mengapa orang lain menjauhinya. Tetsuko menemukan bahwa Yuda dulunya menikah secara diam-diam dengan empat gadis di sekolah itu. Tapi setelah itu tiba-tiba Yuda menghilang begitu saja. Rumor yang beredar menyebut jika salah satu dari istri Yuda meracuninya sampai mati.
Orang-orang di desa itu masih percaya dengan takhayul. Mereka percaya jika arwah Yuda masih berkeliaran. Karena Tetsuko duduk di bangkunya, dia dianggap membawa sial. Tetsuko merasa ada yang janggal. Tapi murid lain sulit diminta keterangan karena mereka percaya ada roh jahat yang duduk di bangku itu. Tetsuko ingin mengakhiri kasus ini dan diapun melakukan penyelidikan. Setelah mencari tahu kesana kemari, penyelidikannya mengarah pada seorang teman sekolah bernama Hana Arai. Sama seperti anak lainnya, Hana juga percaya roh jahat. Dia begitu ketakutan dan sudah hampir setahun tidak masuk sekolah. Dulu di kelas Hana duduk persis di belakang Yuda, dan dia sebenarnya menyukainya. Butuh usaha yang tidak gampang untuk meyakinkan Hana. Akhirnya setelah mendengar cerita Tetsuko diapun setuju membantu penyelidikannya.
Merasa familiar dengan nama “Hana dan Alice?” Tebakan sobat bisa jadi benar. Film animasi ini masih disutradarai oleh Shunji Iwai dan menjadi prekuel dari live actionnya yang menjadi hit di tahun 2004 silam. Disini diceritakan bagaimana Tetsuko dan Hana, dua sahabat karib itu pertama kali bertemu. Anne Suzuki dan Yu Aoi yang dulu memerankan tokohnya di versi live action tetap dipertahankan. Hanya saja mereka kini menjadi seiyuu alias voice actor.
Drama remaja yang diangkat ke layar animasi di Jepang bukanlah hal baru. Tapi produser film Jepang selalu melakukannya dengan baik karena ada yang ditonjolkan (kualitas visual, plot, dsb). Menonton Hana to Arisu Satsujin Jiken ini mengingatkan pada film kartun Amerika keluaran Nickelodeon tahun 90-an. Karakter yang digambar bergaya realis dengan warna pastel bisa menipu penonton seolah ini adalah anime lawas. Untuk cerita, petualangan Tetsuko dan Hana ini sebenarnya biasa saja. Tapi justru hal yang biasa itulah yang membuatnya istimewa. Misalnya ketika Tetsuko menguntit seorang pria paruh baya yang dikiranya ayah Yuda. Ternyata setelah mengintai berjam-jam tidak menghasilkan apapun. Ada lagi saat mereka ketinggalan kereta terakhir hingga harus menginap di tempat parkir dibawah mesin truk yang hangat.
Produksi filmnya cukup bagus dan berbeda dari anime Jepang umumnya. Visualnya indah karena menggunakan warna-warna pastel dipadu teknologi 3D cel-shaded dengan metode rotoscoping. Bagi sobat yang masih asing, 3D cel-shaded umumnya digunakan untuk membuat gambar kartun dua dimensi menjadi lebih hidup. Selain film, yang banyak memakainya adalah developer game yang mengadaptasi dari anime. Sedangkan rotoscoping adalah cara untuk mentransfer gerakan aktor dalam sebuah adegan film kedalam film animasi atau serentetan adegan lain. Sebagai contoh, di film ini ada adegan tokoh yang menari balet. Nah, agar lebih hidup dibutuhkan aktor yang bisa memperagakan gerakan balet. Selanjutnya gerakan aktor tadi direkam dalam komputer dan diubah dalam versi animasi. Bagaimana hasilnya? Lihat saja sendiri di filmnya.
Sebuah anime yang bagus tidak harus menonjolkan action, bukan? Hana to Arisu Satsujin Jiken ini salah satu buktinya. Cerita yang ringan, menghibur, dengan kualitas animasi setara film produksi Disney adalah poin lebihnya. Film ini ditayangkan di bioskop Jepang tanggal 20 Februari 2015 lalu. Sebuah film yang sayang untuk dilewatkan. (Indoshotokan)
Ketika masih SD Sayaka Kudo (diperankan Kasumi Arimura) adalah seorang anak yang penyendiri. Dia sulit menjalin pertemanan. Ketika masuk SMP barulah dia berhasil mendapatkan beberapa teman. Apakah sebuah kabar baik? Antara ya dan tidak. Kabar baiknya Sayaka tidak lagi dicap sebagai gadis kurang pergaulan. Kabar buruknya, Sayaka lebih suka kabur saat jam pelajaran, bermain dan pergi keluyuran bersama teman-teman sebayanya.
Saat masuk SMU Sayaka sering berpindah-pindah sekolah hingga akhirnya dia masuk ke SMU wanita. Walaupun sudah kelas dua SMU, nilai akademiknya hanya setara anak kelas 4 SD. Penampilan Sayaka juga lebih unik ketimbang anak SMU pada umumnya. Dia mengecat pirang rambutnya dan memakai rok lebih pendek daripada teman-teman sekolahnya. Itulah mengapa sebelumnya banyak sekolah lain menolaknya karena berpikir Sayaka adalah anak nakal. Pernah dia harus diskors karena kedapatan membawa rokok ke sekolah. Tapi sebenarnya Sayaka bukanlah anak nakal. Sifatnya justru periang, dan sang ibu sangat menyayanginya walaupun di sekolah nilainya jeblok.
Karena kebiasaan lamanya sulit hilang, masa depan Sayaka bisa jadi suram. Ibunya lalu berpikir untuk memasukkan anaknya ke sekolah khusus Seiho. Sekolah ini memang ditujukan bagi remaja yang mempunyai problem khusus. Ibu Sayaka juga ingin melihat anaknya lulus SMU dan ujian masuk universitas yang semakin dekat. Tapi rencana itu ditentang oleh suaminya yang menganggap sekolah khusus hanya menipu demi uang saja. Bahkan ayah Sayaka kerap menyebut anaknya sendiri tolol. Berbeda dengan ibunya, ayah Sayaka lebih memperhatikan Ryuta, kakak Sayaka, untuk menjadi pemain baseball profesional.
Di Seiho sang kepala sekolah yaitu Yoshitaka Kubota mendengar kabar tentang Sayaka. Yoshitaka lalu mengambil keputusan bahwa dia sendiri yang akan membimbing Sayaka, agar muridnya itu berhasil masuk ke universitas favorit Jepang yaitu Keio. Yoshitaka adalah guru yang sangat sabar dan punya cara berbeda dalam mendidik muridnya. Memang tidak gampang pada awalnya. Tapi mereka berhasil melalui masa-masa sulit itu. Yang jelas Sayaka menjadi termotivasi dan fokus pada tujuannya. Dia bahkan mengembalikan warna rambutnya menjadi hitam. Sepanjang liburan musim panas hingga ujian akhir kelulusan, Sayaka belajar keras hingga kurang tidur. Dia ingin membuktikan bahwa ayahnya salah dan begitu juga teman-temannya yang mengejeknya.
Flying Colors adalah sebuah film apik adaptasi dari sebuah novel laris karya Nobutaka Tsubota berjudul “Gakunen Biri no Gyaru ga 1 nen de Hensachi o 40 Agete Keio Daigaku ni Geneki Gokaku Shita Hanashi” (wow, panjang sekali judulnya, ya?), yang artinya, “Seorang Gadis Terbawah di Kelasnya Berhasil Menaikkan Standar Nilainya Menjadi 40 dalam Setahun dan Lulus Ujian Masuk Universitas Keio.” Novel itu berdasarkan kisah nyata yang dialami oleh penulisnya yang membimbing seorang gadis bernama Sayaka Kobayashi yang berhasil menaikkan nilainya dalam waktu 1.5 tahun. Sayaka yang nilai standarnya sama dengan anak kelas 4 SD itu berhasil lulus ke Universitas Keio yang prestisius.
Lalu bagaimana dengan Sayaka di versi film ini? Apakah dia berhasil masuk ke universitas pilihannya? Tentu saja! Tidak akan jadi novel laris jika penulisnya gagal, bukan? Sebagai film yang tidak diunggulkan, tema dan alurnya mudah ditebak. Tapi film ini menyuguhkan sisi lain disamping realita persaingan ketat antar murid di Jepang. Seolah enggan memilih tema serius, Flying Colors lebih menonjolkan unsur komedi. Nobuhiro Doi sang sutradara berhasil membuat film yang menginspirasi, tapi tetap menyenangkan dan menghibur penontonnya.
Kasumi Arimura yang sebelumnya tampil di Strobe Edge berakting bagus di film ini. Gayanya yang komikal tapi percaya diri menjadi memorable. Sementara itu Atsushi Ito sebagai Yoshitaka sang kepala sekolah culun tapi super sabar juga patut diacungi jempol. Bagaimana usahanya untuk membantu Sayaka menjadi momen terbaik. Secara keseluruhan Flying Colors terbilang memuaskan. Namun ada beberapa lelucon yang penontonnya butuh pengetahuan tentang Jepang agar bisa mengerti. Tapi toh itu bukan keharusan karena film tetap asyik ditonton. Flying Colors tayang di Jepang bulan Mei 2015 lalu, dan saya penasaran apa yang berikutnya akan dilakukan oleh Sayaka. (Indoshotokan)
Orang yang mengerjakan latihan bela diri berlebih tidak hanya mengencangkan tubuh mereka. Kadang mereka menjadi keras kepala dan juga menjadi tidak terkendali. Karena itulah untuk membantu mengendurkan kondisi yang kaku ini diperlukan pemanasan yang sesuai sebelum latihan dan pendinginan sesudahnya. Di dojo, karena terbatasnya waktu, aku sungguh minta maaf karena latihan pendinginan seringkali dilupakan, yang mana hal itu benar-benar disayangkan. Idealnya, latihan didahului dengan lima belas menit pemanasan, dan diakhiri dengan tujuh sampai lima belas menit latihan pendinginan.
Bagi murid paruh baya dan yang berumur lebih tua, yang terbaik adalah berlatih dasar-dasar teknik karate di sebuah ruangan yang nyaman sekitar 30 sampai 40 menit. Ini akan memberikan latihan untuk hara (admin: perut). Dan sekalipun kita tidak punya banyak kesempatan untuk berlatih sampai berkeringat seiring kita lebih berumur, sebentar saja keringat akan mengalir dari kepala sampai kaki, dan perasaan akan lebih baik dari yang bisa dibayangkan. Rasanya lebih nikmat dibanding berendam di air panas atau masuk ke sauna.
Berbaring di atas bumi dan menyerahkan dirimu sepenuhnya ke alam mewakili bentuk keselarasan yang horizontal. Sementara berdiri tegak lurus dan menggambarkan tanaman tumbuh mewakili bentuk keselarasan yang vertikal; keduanya adalah keseimbangan. Karate menggunakan gerakan dan reaksi berdasarkan hukum fisika dan hukum alam tersebut. Itulah sebabnya hal yang terpenting diingat adalah ketika berlatih untuk memfokuskan perhatian pada titik pusat gravitasi tubuh.
Pada dasarnya, teknik karate dikerjakan dengan postur yang baik, bergerak sambil mempertahankan pandangan di lantai. Selama proses ini beragam gerakan ditambahkan; termasuk bergerak maju dan mundur, ke kiri dan ke kanan, membungkuk, berputar, memutar balik dan melompat. Namun demikian, ada sebuah aturan: posisi tubuh tegak lurus sebelum dan sesudah gerakan-gerakan tersebut dilakukan. Ini akan mengijinkanmu bergerak bebas dan sesuka hati ke sembarang arah bergantung keadaan. Hanya saat pusat gravitasimu tetap dibawah kendali, yang akan memungkinkanmu melakukan sembarang gerakan tanpa keraguan. (Indoshotokan)
Artikel ini diterjemahkan dari buku “Black Belt Karate – The Intensive Course” yang ditulis oleh Hirokazu Kanazawa dengan judul aslinya”The Ideal Full Body Workout Combining Muscle Tension and Relaxation”. Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.
Tampaknya sudah tidak ada lagi pemuda yang berani melawan si raksasa itu. Dengan sombongnya laki-laki dari selatan itu tertawa lebar merayakan kemenangannya. Tidak disangka-sangka, Tuan Li dengan tenangnya melangkah maju ke arena. Sebagian penonton menahan napas karena melihat posturnya yang kecil, jelas tidak sebanding dengan lawannya. Sementara penonton lain mentertawakannya karena akan menjadi korban berikutnya.
Tanpa basa-basi raksasa dari selatan itu menubruk tubuh Tuan Li, berharap pertarungan akan berakhir singkat seperti lawan sebelumnya. Dengan sigap Tuan Li menghindar kesamping dan segera menyarangkan sebuah pukulan ke muka lawannya. Tampaknya pukulan itu cukup keras hingga membuat tubuhnya terhuyung-huyung. Hal ini membuat si raksasa terkejut dan kali ini dia lebih berhati-hati. Dengan perlahan-lahan, dia mencari celah untuk menyerang dan berpikir agar Tuan Li membayar pukulannya tadi.
Dalam sebuah serangan dia berhasil menangkap salah satu kaki Tuan Li. Banyak orang mengira duel akan segera usai, tapi ternyata mereka keliru. Dengan sigap Tuan Li menyarangkan lututnya yang bebas di alat vital si raksasa. Wajahnya terlihat kesakitan. Saat pegangan tangannya terlepas, sebuah pukulan deras kembali menghantam wajah si juara sombong itu. Dia tersungkur mencium tanah diikuti dengan salah satu giginya yang tanggal.
Walau begitu dia belum menyerah dan bangkit kembali dengan kemarahan tergambar jelas di wajahnya. Si raksasa tiba-tiba menyeruak maju dengan kedua tangannya berusaha meraih tubuh Tuan Li. Dalam gerakan yang sangat cepat Tuan Li menghindar, kemudian meraih salah satu lengan musuhnya dan langsung mematahkannya. Bahkan penontonpun sulit mengikuti gerakannya dengan mata. Dan ketika mereka tersadar, raksasa juara itu sudah terkapar di tanah untuk kedua kalinya. Kali ini dia benar-benar kalah dan tidak bangun lagi. Para penonton berkerumun dan mencari tahu dari dekat apa yang sebenarnya terjadi. Sementara itu yang lain berusaha mencari Tuan Li, tapi dia sudah menghilang dari tempat itu.
Melihat kehebatan Tuan Li membuat Choi Young Eui kagum padanya. Dia seakan menemukan figur pahlawan yang baru. Karena itulah dia setiap hari merajuk pada Tuan Li agar diajari gaya berkelahinya. Dan bisa ditebak, Tuan Li menolaknya. Menurutnya Choi Young Eui yang berumur sembilan tahun masih terlalu kecil untuk belajar bela diri. Akan tetapi Choi Young Eui tidak putus asa dan selalu mendesaknya. Akhirnya Tuan Li luluh juga dan bersedia menerima si anak bandel menjadi muridnya. Begitulah, setiap sore Choi Young Eui berlatih Chabee bersama Tuan Li. Chabee adalah bela diri campuran antara tinju Tiongkok dan Korea.
Tidak terasa empat tahun sudah Oyama berlatih. Pada usia 13 tahun dia terpaksa harus pergi ke rumah bibinya di Seoul demi melanjutkan sekolah di ibu kota. Masalah barupun muncul ketika Choi Young Eui sering terlibat perkelahian dengan anak-anak nakal di jalanan. Ayahnya yang biasanya sabarpun dibuat marah bukan kepalang akibat ulahnya itu. Tidak cukup sampai disitu, polisi di ibu kotapun sering dipusingkan dengan kenakalannya. Karena itulah setahun kemudian dia memutuskan pergi ke Jepang untuk masuk ke sekolah penerbangan di Yamanashi. Choi Young Eui ingin menjadi pahlawan sebenarnya dengan menjadi pilot pesawat tempur pertama dari Korea.
BERKENALAN DENGAN KARATE JEPANG
Ketika di Yamanashi, Oyama mulai belajar karate Shotokan. Sepertinya karate begitu menarik baginya, hingga dua tahun berlatih rasanya tidak cukup. Dia lalu melanjutkan latihannya di Universitas Takushoku di Tokyo. Walaupun universitas itu dianggap sebagai yang terkuat dalam hal bela diri, tampaknya judo lebih menonjol. Oyama kemudian pindah ke dojo Shotokan di Meijiro. Di sana, dua jam setiap harinya Oyama berlatih karate dibawah Gichin Funakoshi, sang Bapak Karate Jepang yang dibantu oleh anak laki-lakinya yaitu Yoshitaka. (Bersambung – Indoshotokan)
Drama remaja dengan kisah cinta menghanyutkan memang seru diangkat ke layar kaca. Di akhir tahun 2015 giliran manga remaja populer terbitan Shueisha berjudul Orange yang dibuatkan live actionnya. Manga yang ditulis oleh Ichigo Takano itu mulanya dibuat berseri di majalah bulanan Bessatsu Margaret dan Monthly Action sejak April 2012. Sedangkan versi live actionnya dirilis tanggal 12 Desember 2015 dan disutradarai oleh Kojiro Hashimoto. Sebelumnya Hashimoto juga sukses menggarap live action Kimi ni Todoke (2010) dan Saru the Lock Movie (2010).
Takamiya Naho adalah gadis pelajar SMU yang mengalami kejadian tidak biasa. Suatu hari Takamiya mendapat kiriman surat dari seseorang yang mengaku dirinya dari masa depan. Mulanya Takamiya tidak mau percaya begitu saja dan mengabaikan isi surat itu. Akan tetapi surat itu bisa menguraikan dengan jelas kejadian yang akan dialami Takamiya di hari itu. Menurut surat itu Takamiya akan bertemu dan menyukai seorang murid pindahan dari Tokyo bernama Naruse Kakeru. Dalam surat itu Takamiya di masa depan berulang kali menyatakan penyesalannya karena tidak mampu menjaga Naruse. Dia meminta dirinya di masa lalu untuk mengambil keputusan tepat menyangkut Naruse. Ini karena sepuluh tahun kemudian Naruse sudah tidak lagi bersama dengannya.

Bagaimana itu bisa terjadi? Di kejadian aslinya, setelah pulang sekolah Naruse diminta langsung ke rumah oleh ibunya karena sang ibu meminta diantar ke dokter. Tetapi Naruse mengabaikan nasihat itu dan lebih memilih pergi bersama Takamiya dan teman-temannya. Ketika pulang ke rumah Naruse mendapati ibunya sudah meninggal akibat bunuh diri. Menyesal dan menyalahkan diri sendiri, Naruse lantas juga ikut bunuh diri. Teman-temannya banyak yang mengira kematian Naruse adalah kecelakaan. Inilah yang ingin dirubah oleh Takamiya di masa depan. Dia berharap agar dirinya di masa lalu bisa memperbaiki kesalahannya.
Sebuah film romance biasanya tidak akan seru tanpa dibumbui cinta segitiga. Nah begitu pula dengan film Orange ini. Diantara teman sekolah Takamiya ada Suwa Hiroto yang menyukainya. Suwa adalah tipikal remaja yang berpikiran dewasa. Dia selalu ada untuk Takamiya dan menolongnya ketika orang yang disukainya mendapat kesulitan. Setelah kematian Naruse di masa depan, Suwa menikah dengan Takamiya dan mereka mempunyai seorang anak. Suwa sadar jika dia bukanlah orang yang diinginkan oleh Takamiya. Melihat Takamiya yang selalu bersedih, Suwa mengirimkan surat untuk dirinya di masa lalu. Dalam surat itu Suwa meminta agar dirinya di masa lalu tetap membahagiakan Takamiya walaupun bukan kelak dia tidak bersamanya.

Alur cerita dalam Orange sebetulnya tidak istimewa. Cerita tokoh yang menyesal lantas berusaha memperbaiki masa lalu dengan manipulasi waktu juga bukan barang baru. Sebut saja Suteki na Sen TAXI, misalnya. Tapi di Jepang manga besutan Ichigo Takano itu ratingnya cukup tinggi. Dengan hanya 22 chapter yang dibagi dalam 5 volume, manga itu baru berakhir pertengahan Agustus 2015 lalu. Sedangkan versi live actionnya mulai digarap dua minggu setelah manganya berakhir. Ini terbilang sangat cepat untuk sebuah film adaptasi. Penggemar sebelumnya dibuat khawatir jika serial manga-nya tidak akan rampung. Ini karena Ichigo Takano sempat menyatakan berhenti dari pekerjaannya sebagai mangaka sebelum chapter terakhir ditulis. Tapi untunglah Takano bersedia menyelesaikan endingnya dan penggemarpun bernapas lega.
Ide dunia paralel yang dipadu dengan kisah romantis memang menarik untuk disimak. Secara keseluruhan, film berdurasi 139 menit ini cukup mengharukan dan menghibur. Apalagi akting Tao Tsuchiya sebagai Takamiya dan Kento Yamazaki sebagai Naruse Kakeru juga klop. Selamat menonton.(Indoshotokan)
Di sebuah malam yang panas dan pengap di kota Bangkok penonton sudah berdesakan di pinggir ring tinju. Masyarakat lokal sudah tidak sabar ingin melihat jagoan kebanggaan mereka, Black Cobra, si petarung kick boxer. Lawan Black Cobra adalah seorang karateka Jepang yang sengaja datang ke Thailand. Penonton kian ribut dan mencemooh kala melihat pemuda Jepang itu tampil dan berjalan dengan tenangnya. Sebelumnya Black Cobra berhasil merobohkan seorang karateka Jepang dalam sebuah duel. Melihat lawannya kali ini kembali seorang karateka, membuatnya berpikir duel ini hasilnya akan sama saja. Nama besar karate Jepang tampaknya akan kembali terpuruk di ring tinju.
Gong ronde pertama ditabuh. Kedua petarung keluar dari sudut dan mulai berkeliling sambil menyiapkan serangan. Saat pemuda Jepang itu berkonsentrasi mencari celah, tiba-tiba sebuah tendangan meluncur deras dari Black Cobra. Mendapat serangan mendadak, si pemuda Jepang tadi roboh dan penontonpun bersorak sorai. Wasit yang sigap segera memberikan sepuluh hitungan. Tapi alangkah terkejutnya orang-orang melihat pemuda Jepang itu bangkit kembali diatas kakinya yang goyah. Memang luar biasa tendangan Black Cobra tadi dan nama besarnya bukan isapan jempol. Pemuda Jepang itu kembali bersiap dan kali ini serangan Black Cobra tidak akan bisa menjatuhkannya.
Sobat Indoshotokan pastinya sudah pernah mendengar nama Masutatsu Oyama, bukan? Benar, sebagai salah satu maestro karate, Oyama adalah pionir dari full contact karate. Sebuah gaya karate yang mengijinkan praktisinya melancarkan serangan sekerasnya sampai mengenai lawan. Sebagai seorang Korea yang banyak menghabiskan hidupnya di Jepang, perjalanan hidup Oyama sungguh tidak mulus. Kehidupan pasca perang, ekonomi yang sulit, dan ancaman pembunuhan dari musuhnya kerap mengancam nyawa Oyama. Bagaimana perjalanan hidupnya dalam mencari pencerahan, pastinya sobat Indoshotokan penasaran, bukan? Silahkan simak terus artikel ini.
GURU YANG PERTAMA
Masutatsu Oyama, atau sering disebut Mas Oyama, lahir tanggal 27 Juli 1923 di sebuah desa di Gimje, yang jauhnya sekitar 180 mil barat daya Seoul. Terlahir dengan nama Choi Young Eui, dia adalah anak keempat dari tujuh bersaudara. Choi Young Eui terbilang beruntung dibanding anak-anak Korea lainnya karena ayahnya adalah tuan tanah yang kaya dan belakangan berhasil menjadi walikota.
Setiap hari Choi Young Eui harus pergi ke sekolah yang jaraknya lumayan jauh. Enam mil harus melewati sebuah bukit dengan jalanan yang sempit dan kotor. Di sekolah dasar tempatnya bersekolah kira-kira ada 400 anak yang hadir setiap harinya. Tapi Choi Young Eui bukanlah tipe kutu buku karena dia lebih suka berenang, memancing, dan mendaki gunung bersama teman-temannya. Dia tidak begitu suka dengan kehidupan sekolah. Sebaliknya, dia lebih bersemangat dengan sepak bola dan lintas alam.
Banyak orang yang bekerja sebagai buruh pada keluarga Choi Young Eui. Salah satunya adalah Tuan Li (sumber lain menyebutnya Yi). Tidak ada yang tahu nama lengkapnya. Tuan Li adalah seorang petani berdarah campuran setengah Korea dan Tiongkok. Tubuhnya kecil dan usianya sudah agak tua, kira-kira 40 tahun-an. Sosoknya sangat tenang dan tidak banyak bicara. Namun di mata Choi Young Eui yang saat itu berumur sembilan tahun, ada sesuatu yang menarik dalam diri Tuan Li.
Di Korea saat itu ada sebuah tradisi yaitu pertandingan gulat. Acara itu digelar setiap musim panas setelah para petani selesai menggarap lahan pertanian di musim gugur. Begitu juga dengan tahun ini dimana para lelaki kuat dari seantero negeri berbondong-bondong ke Gimje untuk memperebutkan gelar jawara untuk satu tahun. Gulat Korea ini hampir mirip dengan sumo Jepang, hanya saja pesertanya menggunakan cara memegang lawan yang berbeda.
Beberapa tahun belakangan ini pertandingan gulat selalu dijuarai oleh orang dari selatan. Tubuhnya yang besar layaknya raksasa membuatnya selalu mendominasi pertandingan. Kekuatannya yang luar biasa sanggup melibas peserta lain dengan mudahnya. Tampaknya dia akan menjadi juara lagi tahun ini. Ketika sudah tidak ada lagi pegulat yang sanggup menghalanginya, orang selatan itu mulai sombong. Dia menantang semua pemuda yang ada dihadapannya. Ketika dia menunjuk beberapa pemuda untuk melawannya, mereka segera mundur menyembunyikan dirinya di belakang orang lain. “Apakah di desa ini sudah tidak ada lagi laki-laki tangguh untuk melawanku?” (Bersambung – Indoshotokan)